Dupoin Futures Resmikan Head Office Baru di Centennial Tower

PT Dupoin Futures Indonesia resmi meresmikan Head Office baru di Centennial Tower Lantai 27, Jakarta Selatan, pada Kamis (9/7/2026). Peresmian ini menjadi bagian dari langkah perusahaan untuk memperkuat operasional sekaligus meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah. Sebelumnya, kantor pusat Dupoin Futures. berlokasi di Noble House Lantai 38, Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Acara peresmian dihadiri oleh perwakilan Bank Indonesia (BI), Jakarta Futures Exchange (JFX), Kliring Berjangka Indonesia (KBI), Asosiasi Perdagangan Berjangka Komoditi Indonesia (ASPEBTINDO), dan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH).

PT Dupoin Futures Indonesia merupakan perusahaan pialang berjangka yang beroperasi secara resmi di bawah pengawasan BAPPEBTI, serta berada dalam pengawasan OJK dan Bank Indonesia sesuai kewenangan masing-masing. Perusahaan juga tercatat sebagai anggota resmi JFX, KBI, ASPEBTINDO, dan AFTECH.

Direktur Utama PT Dupoin Futures Indonesia, Gunawan, mengatakan peresmian kantor baru menjadi momentum penting bagi perusahaan untuk memperkuat layanan dan memperluas kontribusi terhadap perkembangan industri perdagangan berjangka di Indonesia.

“Kantor baru ini menjadi simbol komitmen PT Dupoin Futures Indonesia untuk terus bertumbuh secara berkelanjutan. Kami akan terus memperkuat tata kelola perusahaan, meningkatkan kualitas layanan, serta menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat bagi nasabah dan seluruh pemangku kepentingan. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada para pemegang saham, regulator, asosiasi, mitra bisnis, dan seluruh karyawan atas kepercayaan serta dukungan yang menjadi fondasi pertumbuhan perusahaan,” ujar Gunawan.

Apresiasi terhadap perkembangan PT Dupoin Futures Indonesia juga disampaikan oleh Direktur Utama Bursa Berjangka Jakarta (JFX), Yazid Kanca Surya. Menurutnya, transformasi yang dilakukan Dupoin Futures disertai komitmen yang konsisten dalam menghadirkan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat menjadi langkah positif bagi perkembangan industri perdagangan berjangka di Indonesia.

“Kami melihat PT Dupoin Futures Indonesia menunjukkan perkembangan yang sangat positif dalam beberapa tahun terakhir. Transformasi yang dilakukan perusahaan, disertai komitmen yang konsisten dalam memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, menjadi langkah penting dalam mendorong pertumbuhan industri perdagangan berjangka di Indonesia. Kami mengucapkan selamat atas peresmian head office baru Dupoin Futures. Semoga momentum ini semakin memperkuat semangat perusahaan untuk terus berinovasi, meningkatkan kualitas layanan, dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi kemajuan industri perdagangan berjangka di Indonesia,” ujar Yazid.

Dukungan terhadap langkah Dupoin Futures juga disampaikan Kepala Departemen Grup Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia, Rudianto Setiawan. Menurutnya, peresmian head office baru diharapkan menjadi momentum bagi perusahaan untuk memperkuat kolaborasi dengan seluruh ekosistem keuangan nasional.

“Kami berharap kehadiran head office baru ini tidak hanya menjadi simbol pertumbuhan perusahaan, tetapi juga mendorong PT Dupoin Futures Indonesia untuk semakin proaktif memperkuat sinergi dengan seluruh ekosistem keuangan di Indonesia. Bank Indonesia senantiasa terbuka untuk mempererat koordinasi dan kerja sama dengan pelaku industri dalam mendukung regulasi yang taat dan berkeadilan. Kami berharap Dupoin Futures dapat terus menjadi mitra yang berkontribusi positif dalam mendorong industri perdagangan berjangka yang transparan, efisien, dan memberikan perlindungan bagi nasabah,” ujar Rudianto.

Kehadiran kantor baru ini diharapkan semakin memperkuat posisi Dupoin Futures sebagai perusahaan pialang berjangka yang mengedepankan kepatuhan terhadap regulasi, pemanfaatan teknologi, dan pelayanan yang berorientasi pada kebutuhan nasabah. Masyarakat yang ingin mengenal lebih lanjut mengenai layanan, edukasi, dan peluang investasi di perdagangan berjangka dapat mengunjungi situs resmi Dupoin Futures atau menghubungi layanan pelanggan perusahaan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Indonesia dan India: Membangun Mesin Pertumbuhan Baru Asia

Oleh Dr. (HC) Setyono Djuandi Darmono*

Jakarta — Kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia bukan sekadar agenda diplomatik biasa. Kunjungan ini merupakan momentum penting untuk membawa salah satu hubungan tertua di Asia menuju kemitraan strategis yang lebih kuat dan relevan bagi abad ke-21.

Indonesia dan India telah terhubung selama lebih dari dua ribu tahun. Jauh sebelum lahirnya negara-bangsa modern, para pedagang, cendekiawan, dan pelaut telah melintasi Samudra Hindia, membawa perdagangan, kebudayaan, filsafat, ilmu pengetahuan, serta berbagai gagasan yang ikut membentuk peradaban kedua bangsa. Ikatan sejarah tersebut kini menjadi fondasi yang kokoh untuk membangun kemitraan baru yang berfokus pada inovasi, investasi, pendidikan, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan.

Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025 telah membuka babak baru dalam hubungan bilateral kedua negara. Kunjungan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis sekaligus menunjukkan komitmen kuat dari kedua pemerintah untuk memperluas kerja sama di berbagai sektor. Kini, kunjungan balasan Perdana Menteri Modi memberikan kesempatan untuk menerjemahkan berbagai kesepakatan tersebut menjadi langkah-langkah nyata yang memberikan manfaat bagi kedua negara.

Saat ini, perekonomian global tengah mengalami perubahan struktural yang sangat mendasar. Rantai pasok dunia sedang mengalami penataan ulang, teknologi digital mengubah berbagai sektor industri, perubahan demografi menciptakan peluang ekonomi baru, sementara dinamika geopolitik mendorong banyak negara untuk mendiversifikasi kemitraan ekonominya. Dalam situasi seperti ini, Indonesia dan India justru memiliki keunggulan yang saling melengkapi.

India telah berkembang menjadi salah satu ekonomi besar dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Keberhasilannya dalam bidang teknologi informasi, infrastruktur publik digital (Digital Public Infrastructure), industri farmasi, rekayasa teknik, teknologi antariksa, serta kewirausahaan telah mendapat pengakuan dunia. Pada saat yang sama, India juga berhasil menunjukkan bahwa inovasi dapat tumbuh berdampingan dengan sistem demokrasi yang kuat serta sektor swasta yang dinamis.

Sementara itu, Indonesia merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara yang dianugerahi sumber daya alam melimpah, posisi geografis maritim yang sangat strategis, stabilitas politik, serta populasi muda yang besar. Yang lebih penting lagi, Indonesia kini memasuki fase transformasi industri dengan beralih dari ketergantungan pada ekspor komoditas menuju pengembangan industri hilirisasi, manufaktur berteknologi maju, energi terbarukan, layanan kesehatan, ekonomi digital, dan berbagai sektor ekonomi berbasis pengetahuan.

Dalam konteks tersebut, hubungan ekonomi Indonesia dan India seharusnya tidak dipandang sebagai hubungan yang saling bersaing. Sebaliknya, kedua negara memiliki karakteristik ekonomi yang secara alami saling melengkapi. Indonesia menawarkan kawasan industri, infrastruktur logistik, akses strategis menuju pasar ASEAN, sumber daya energi yang melimpah, serta peluang investasi jangka panjang. Di sisi lain, India memiliki sumber daya manusia kelas dunia, kemampuan teknologi yang unggul, keahlian rekayasa, inovasi digital, sektor kesehatan yang berkembang pesat, serta talenta kewirausahaan yang telah terbukti di tingkat global. Ketika seluruh keunggulan tersebut dipadukan, Indonesia dan India akan tumbuh jauh lebih kuat bersama dibandingkan berjalan sendiri-sendiri.

Berdasarkan pengalaman saya membangun Kota Jababeka selama lebih dari tiga dekade, saya belajar bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur fisik. Yang jauh lebih penting adalah membangun sebuah ekosistem yang utuh, di mana kawasan industri, perguruan tinggi, lembaga penelitian, fasilitas kesehatan, kawasan hunian, dan masyarakat dapat berkembang secara bersama-sama. Pendekatan ekosistem inilah yang menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Karena itu, tahap berikutnya dalam kerja sama Indonesia dan India perlu bergerak melampaui perdagangan tradisional. Kedua negara perlu bersama-sama membangun ekosistem inovasi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Terdapat sejumlah bidang yang sangat menjanjikan untuk segera dipercepat melalui kerja sama yang lebih konkret.

Pertama adalah pengembangan industri. Perusahaan-perusahaan manufaktur India yang ingin memperluas operasinya ke Asia Tenggara dapat menjadikan Indonesia sebagai basis produksi yang strategis. Pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan Indonesia juga dapat memanfaatkan keunggulan India dalam bidang rekayasa teknik serta jaringan bisnis global yang dimilikinya.

Kedua adalah layanan kesehatan dan ilmu hayati (life sciences). Indonesia saat ini terus meningkatkan investasi di bidang pendidikan kedokteran dan penelitian kesehatan. Kerja sama dengan berbagai institusi medis terkemuka di India dapat mempercepat pengembangan riset bersama, teknologi kesehatan, industri farmasi, telemedisin, hingga inovasi layanan kesehatan yang terjangkau dan dapat memberikan manfaat bagi jutaan masyarakat.

Ketiga adalah pendidikan tinggi dan pengembangan talenta. Perguruan tinggi perlu menjadi jembatan strategis yang memperkuat hubungan kedua negara. Program pertukaran mahasiswa, pusat riset bersama, program gelar ganda (dual degree), kolaborasi antar-dosen, penelitian kecerdasan buatan, bioteknologi, hingga pendidikan kewirausahaan akan menghasilkan sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh berbagai industri masa depan.

Keempat adalah ekonomi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Ekosistem digital India yang telah diakui secara global, dipadukan dengan pesatnya pertumbuhan pasar digital Indonesia, membuka peluang kerja sama yang sangat besar dalam pengembangan aplikasi AI, teknologi finansial (fintech), keamanan siber, manufaktur cerdas (smart manufacturing), tata kelola digital (digital governance), hingga pengembangan perusahaan rintisan (startup).

Kelima adalah energi terbarukan dan keberlanjutan. Indonesia dan India sama-sama berkomitmen menjalankan transisi energi menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Investasi bersama pada energi surya, hidrogen hijau, teknologi baterai, kendaraan listrik, serta kawasan industri berkelanjutan tidak hanya akan mendukung pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat komitmen kedua negara terhadap pelestarian lingkungan.

Seiring Indonesia mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, kemitraan internasional akan memainkan peran yang semakin penting. Namun, kemitraan tersebut tidak seharusnya hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar yang lebih besar bagi produk-produk asing. Sebaliknya, kemitraan harus mampu mendorong Indonesia menjadi produsen barang bernilai tambah tinggi, pengembang teknologi baru, pencetak tenaga profesional yang unggul, pusat lahirnya penemuan ilmiah, serta rumah bagi perusahaan-perusahaan yang mampu bersaing di tingkat global. Dengan kata lain, kerja sama internasional harus menjadi katalis bagi peningkatan kapasitas nasional, bukan sekadar memperluas konsumsi.

Di sisi lain, keterlibatan India dengan Indonesia juga tidak seharusnya dipandang semata-mata melalui besarnya nilai perdagangan bilateral. Hubungan kedua negara perlu dilihat sebagai investasi jangka panjang untuk membangun kawasan Indo-Pasifik yang lebih kuat, yang bertumpu pada kemakmuran bersama, saling menghormati, nilai-nilai demokrasi, serta ketahanan ekonomi. Kemitraan yang dibangun di atas fondasi tersebut akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan hubungan yang hanya berorientasi pada transaksi perdagangan.

Dalam mewujudkan visi tersebut, sektor swasta memiliki peran yang sama pentingnya dengan pemerintah. Pemerintah dapat menyediakan arah kebijakan dan menciptakan kerangka regulasi yang kondusif, tetapi dunia usaha yang menghadirkan investasi, perguruan tinggi yang menyiapkan talenta, lembaga penelitian yang menghasilkan inovasi, dan para wirausahawan yang mengubah ide menjadi nilai ekonomi nyata. Model kolaborasi seperti inilah yang telah menjadi salah satu pelajaran utama dari berbagai negara dengan perekonomian yang berhasil berkembang secara berkelanjutan.

Ke depan, saya meyakini bahwa Indonesia dan India perlu memiliki ambisi yang lebih besar, yaitu menjadi mitra strategis dalam membangun generasi baru ekosistem industri dan inovasi di Asia. Bersama-sama, kedua negara memiliki populasi lebih dari 1,7 miliar jiwa, menjadikannya salah satu kekuatan demografi terbesar di dunia. Indonesia dan India juga merupakan dua demokrasi terbesar di dunia yang memiliki sumber daya manusia melimpah, kemampuan teknologi yang terus berkembang, kelas menengah yang semakin besar, serta struktur ekonomi yang saling melengkapi. Sangat sedikit kemitraan bilateral di dunia yang memiliki kombinasi potensi sebesar ini.

Oleh karena itu, kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia seharusnya tidak hanya dikenang sebagai satu lagi kunjungan kenegaraan. Kunjungan ini semestinya menjadi titik balik ketika dua peradaban besar memutuskan untuk membangun masa depan bersama—masa depan yang tidak hanya bertumpu pada sejarah panjang hubungan kedua bangsa, tetapi juga pada inovasi, kemitraan yang saling menguntungkan, serta kemakmuran bersama.

Apabila kita mampu memanfaatkan momentum ini dengan baik, manfaatnya tidak hanya akan dirasakan oleh Indonesia dan India. Kerja sama tersebut juga akan memberikan kontribusi nyata bagi terciptanya Asia yang lebih kuat, lebih tangguh, dan lebih sejahtera bagi generasi-generasi yang akan datang.

*Dr. (HC) Setyono Djuandi Darmono adalah Pendiri Jababeka Group sekaligus Ketua Yayasan President University. Sebagai salah satu pengusaha dan pengembang kawasan terpadu terkemuka di Indonesia, ia telah lama menjadi pendukung pengembangan industri, pendidikan, layanan kesehatan, serta penguatan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan India.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Para Insinyur Akan Membangun Babak Baru Kemitraan Indonesia–India: Dari Peradaban Bersama Menuju Inovasi Bersama

Oleh Dr. Ilham A. Habibie*

Jakarta — Ketika berbicara mengenai Indonesia dan India, kebanyakan orang akan memulai dari sejarah. Mereka mengingat jalur perdagangan kuno, peradaban yang saling terhubung, kisah Ramayana, kerajaan-kerajaan maritim, serta pertukaran budaya yang telah menyatukan kedua bangsa selama lebih dari dua milenium. Kisah-kisah tersebut memang layak untuk terus dikenang karena mengingatkan kita bahwa kerja sama Indonesia dan India bukanlah sesuatu yang baru, melainkan telah menjadi bagian dari warisan peradaban yang kita miliki bersama.

Namun, sejarah saja tidak cukup untuk membangun masa depan. Hubungan Indonesia dan India dalam dua dekade mendatang tidak akan ditentukan terutama oleh para sejarawan ataupun diplomat. Hubungan tersebut akan dibangun oleh para insinyur. Berbagai tantangan besar yang kini dihadapi kedua negara—mulai dari daya saing industri, ketahanan energi, layanan kesehatan, ketahanan pangan, kedirgantaraan, hingga kecerdasan buatan—pada dasarnya merupakan tantangan rekayasa (engineering). Demikian pula setiap peluang yang terbuka di hadapan kita akan membutuhkan kolaborasi para insinyur, ilmuwan, wirausahawan, dan inovator lintas negara. Karena itulah saya memandang kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar kunjungan kenegaraan. Momentum ini membuka kesempatan untuk membangun kemitraan rekayasa (engineering partnership) antara dua negara yang semakin berperan dalam membentuk masa depan Asia.

Dua Bangsa dengan Kekuatan Rekayasa yang Saling Melengkapi

Indonesia dan India sering disebut sebagai dua ekonomi yang saling melengkapi. Pernyataan tersebut memang benar, tetapi sesungguhnya belum menggambarkan keseluruhan potensi yang dimiliki kedua negara. Yang lebih penting, Indonesia dan India juga merupakan dua bangsa dengan kemampuan rekayasa yang saling melengkapi, yang berkembang melalui pengalaman geografis, perjalanan industrialisasi, prioritas pembangunan nasional, serta investasi panjang dalam pengembangan sumber daya manusia.

Keunggulan Indonesia jauh melampaui kekayaan sumber daya alamnya. Indonesia memiliki salah satu lokasi geografis paling strategis di dunia yang menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, bonus demografi yang besar, keanekaragaman hayati yang luar biasa, serta cadangan mineral kritis yang akan menjadi fondasi transisi energi global. Di samping itu, Indonesia juga telah membangun kapasitas yang diakui secara internasional di bidang teknik kedirgantaraan, manufaktur maju, telekomunikasi, sistem energi, pengoperasian satelit, hingga inovasi digital. Ambisi Indonesia saat ini bukan lagi sekadar menjadi bagian dari rantai nilai global, melainkan naik ke tingkat yang lebih tinggi melalui penguasaan teknologi, keunggulan rekayasa, dan inovasi industri.

India memiliki kekuatan yang sama besarnya. Dengan pasar domestik yang sangat besar, bonus demografi yang kuat, institusi pendidikan teknik yang diakui dunia, kepemimpinan dalam pengembangan perangkat lunak, Digital Public Infrastructure, industri farmasi, teknologi antariksa, serta salah satu ekosistem inovasi paling dinamis di dunia, India berhasil menunjukkan bagaimana kemampuan rekayasa, kewirausahaan, dan kebijakan publik dapat saling memperkuat untuk melahirkan industri yang mampu bersaing di tingkat global.

Karena itu, tidak tepat apabila salah satu negara diposisikan sebagai guru sementara negara lainnya menjadi murid. Dalam beberapa bidang, Indonesia memiliki pengalaman yang layak dibagikan. Dalam bidang lain, India memang telah melangkah lebih jauh. Peluang terbesar justru terletak pada kemampuan kedua negara untuk menciptakan pengetahuan baru secara bersama-sama, bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari satu pihak ke pihak lainnya. Inilah makna sesungguhnya dari kemitraan rekayasa yang strategis.

Lima Industri yang Dapat Membentuk Masa Depan Asia

Daripada mencoba bekerja sama di seluruh sektor sekaligus, saya meyakini terdapat lima industri yang menawarkan peluang paling nyata, praktis, sekaligus berpotensi membawa perubahan besar bagi Indonesia dan India.

Mobilitas Listrik

Indonesia telah menetapkan target yang sangat ambisius, yaitu bukan hanya menjadi perakit kendaraan listrik, tetapi berkembang menjadi salah satu pusat unggulan dunia dalam keseluruhan ekosistem baterai kendaraan listrik. Mulai dari penambangan dan pemurnian nikel, produksi sel baterai, sistem manajemen baterai, elektronika daya, hingga sistem penggerak kendaraan listrik, Indonesia memiliki seluruh prasyarat untuk membangun rantai nilai yang terintegrasi.

Di sisi lain, India memiliki pasar kendaraan listrik yang berkembang sangat pesat sehingga mendorong lahirnya berbagai inovasi dalam rekayasa kendaraan berbiaya terjangkau, integrasi perangkat lunak, platform mobilitas, serta manufaktur berskala besar. Seluruh kemampuan tersebut sangat melengkapi ambisi industri Indonesia. Alih-alih saling bersaing, kedua negara justru memiliki peluang membangun rantai pasok regional yang tangguh, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga melayani kawasan Indo-Pasifik yang lebih luas.

Kedirgantaraan dan Antariksa

Bidang kedirgantaraan selalu memiliki tempat yang istimewa bagi saya karena di sinilah rekayasa (engineering) mencapai tingkat paling tinggi. Indonesia dan India menempuh perjalanan yang berbeda, namun keduanya sama-sama berhasil membangun kapabilitas yang bernilai strategis. India mencatat berbagai pencapaian luar biasa di bidang dirgantara pertahanan, sistem peluncuran, dan eksplorasi antariksa. Sementara itu, Indonesia mengembangkan keahlian yang diakui secara internasional dalam manufaktur pesawat sipil serta pengembangan pesawat regional. Tidak ada satu pendekatan yang lebih unggul daripada yang lain. Justru ketika kedua kemampuan tersebut dipadukan, Indonesia dan India memiliki fondasi yang saling melengkapi untuk membangun masa depan industri dirgantara Asia.

Hal yang sama berlaku di sektor antariksa. India telah menunjukkan kepada dunia bahwa program antariksa yang ambisius dapat diwujudkan secara efisien dan ekonomis. Indonesia menawarkan keunggulan yang berbeda, yaitu letak geografisnya. Pulau Biak yang berada hampir tepat di garis khatulistiwa merupakan salah satu lokasi peluncuran satelit paling ideal di dunia karena kecepatan rotasi bumi di wilayah tersebut membantu mengurangi energi yang dibutuhkan untuk menempatkan satelit ke orbit. Dalam industri yang setiap kilogram muatannya sangat berharga, keunggulan alamiah tersebut merupakan aset rekayasa yang luar biasa. Sangat mungkin babak baru kerja sama antariksa Asia justru dimulai dari sana.

Infrastruktur Digital

Infrastruktur digital kini telah menjadi sistem saraf bagi setiap perekonomian modern. India layak memperoleh pengakuan dunia atas keberhasilannya membangun Digital Public Infrastructure, sistem identitas digital, sistem pembayaran, serta berbagai platform digital publik berskala nasional. Indonesia pun telah menunjukkan kemajuan yang signifikan melalui pengembangan telekomunikasi, teknologi finansial (fintech), adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), layanan digital pemerintah, serta ekosistem kewirausahaan digital yang terus berkembang.

Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar digitalisasi, melainkan kedaulatan teknologi. Indonesia bercita-cita tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang canggih, tetapi juga produsen, inovator, dan pengekspor solusi digital berteknologi tinggi. Oleh sebab itu, kecerdasan buatan, industri semikonduktor, pusat data (data center), dan Digital Public Infrastructure harus menjadi pilar utama kerja sama Indonesia–India di masa depan. Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap ketahanan rantai pasok global, kolaborasi kedua negara tidak hanya akan memperkuat perekonomian nasional masing-masing, tetapi juga meningkatkan ketahanan ekosistem teknologi di kawasan.

Farmasi dan Ilmu Hayati

Layanan kesehatan kini memasuki era baru ketika biologi, rekayasa, dan kecerdasan buatan semakin terintegrasi. Indonesia dan India sama-sama memiliki warisan pengobatan tradisional yang layak memperoleh perhatian ilmiah yang lebih besar. India memiliki Ayurveda, sementara Indonesia memiliki jamu. Keduanya bukanlah pendekatan yang saling bersaing, melainkan dua kekayaan pengetahuan yang dapat divalidasi, disempurnakan, dan dikembangkan secara bertanggung jawab melalui pendekatan ilmiah modern.

Di luar pengobatan tradisional, kedua negara juga memiliki kekuatan penting dalam industri kesehatan modern. India telah berkembang menjadi pemimpin dunia dalam produksi obat generik, sedangkan Indonesia memperoleh pengakuan internasional dalam pengembangan dan produksi vaksin. Dengan menggabungkan keunggulan tersebut, Indonesia dan India memiliki peluang besar untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih berkualitas, terjangkau, dan mudah diakses oleh masyarakat di seluruh Asia.

Pertanian

Ketahanan pangan akan menjadi salah satu isu strategis paling penting bagi Asia dalam beberapa dekade mendatang. Indonesia dan India membudidayakan komoditas pertanian yang berbeda di bawah kondisi iklim yang berbeda pula. Perbedaan tersebut seharusnya dipandang sebagai keunggulan, bukan sebagai hambatan. India telah mengembangkan teknologi mesin pertanian, sistem irigasi modern, serta teknologi pengolahan pangan yang sangat maju. Indonesia memiliki kekuatan pada sektor pertanian tropis, perikanan, dan komoditas perkebunan. Oleh karena itu, kerja sama di masa depan seharusnya tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi pangan, tetapi juga pada pengembangan sistem pangan yang lebih cerdas, lebih tangguh, mampu meningkatkan produktivitas, mengurangi kehilangan hasil panen, serta memperkuat kesejahteraan masyarakat pedesaan.

Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Proyek

Keberhasilan kerja sama industri tidak pernah ditentukan oleh banyaknya proyek yang dijalankan secara terpisah, melainkan oleh kemampuan membangun sebuah ekosistem yang utuh. Apa pun sektor yang dipilih, terdapat enam fondasi yang harus mendapat perhatian yang sama besar, yaitu pendidikan melalui kemitraan antara universitas dan pelatihan vokasi, pengembangan ilmu data (data science), pertukaran praktik terbaik secara sistematis, kolaborasi antara BUMN dan sektor swasta, investasi yang berkelanjutan dalam penelitian dan pengembangan, serta penguatan ekosistem startup. Saya percaya bahwa banyak terobosan industri pada masa depan tidak akan lahir dari perusahaan-perusahaan besar, melainkan dari para insinyur muda dan wirausahawan yang mampu menyelesaikan persoalan nyata melalui solusi yang inovatif.

Melampaui Penandatanganan Nota Kesepahaman

Pemerintah memang membuka peluang melalui penandatanganan berbagai perjanjian kerja sama. Namun, para insinyurlah yang mengubah peluang tersebut menjadi kenyataan. Pesawat tidak dapat terbang hanya karena para menteri menandatangani nota kesepahaman. Pesawat terbang karena para insinyur merancangnya. Satelit mencapai orbit karena para insinyur menghitung lintasan peluncurannya. Platform digital mampu mentransformasi ekonomi karena para insinyur membangun sistem yang tangguh. Demikian pula teknologi baterai, kecerdasan buatan, jembatan, rumah sakit, fasilitas fabrikasi semikonduktor, hingga kawasan industri—semuanya berawal dari rekayasa.

Karena itu, keberhasilan hubungan Indonesia dan India seharusnya tidak diukur dari berapa banyak nota kesepahaman yang ditandatangani. Ukuran yang jauh lebih penting adalah berapa banyak insinyur yang saling bertukar pengalaman, berapa banyak laboratorium yang dibangun bersama, berapa banyak paten yang dihasilkan, berapa banyak startup yang berhasil dibina, serta berapa banyak industri baru yang mampu dikembangkan secara bersama.

Sejarah telah menghubungkan kedua peradaban kita. Kini, rekayasa dapat menghubungkan masa depan kita. Ketika Perdana Menteri Narendra Modi berkunjung ke Indonesia, kita patut mengingat bahwa diplomasi memang membuka pintu, tetapi para insinyurlah yang akan membangun apa yang ada di balik pintu tersebut. Sebab, masa depan Asia tidak hanya akan dirundingkan.

Masa depan Asia akan direkayasa dan dibangun oleh para insinyur.

*Dr. Ilham Akbar Habibie adalah Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) sekaligus Ketua Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Wantiknas). Sebagai insinyur kedirgantaraan dan pemimpin di bidang teknologi, ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang aktif mendorong inovasi industri, keunggulan rekayasa, transformasi digital, serta penguatan kapasitas teknologi nasional Indonesia.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Membangun Babak Baru Hubungan Indonesia–India

Oleh Ina H. Krisnamurthi*

Jakarta — Langit New Delhi tampak cerah pada 26 Januari 2025 ketika India merayakan Hari Republik ke-76 dengan mengusung tema “Swarnim Bharat: Virasat aur Vikas” (India Emas: Warisan dan Kemajuan). Pada kesempatan bersejarah tersebut, Presiden Prabowo Subianto hadir sebagai Tamu Kehormatan dalam kunjungan kenegaraan pertamanya ke India sekaligus untuk memperingati 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan India. Kehadiran Presiden Prabowo mengirimkan pesan yang sangat kuat mengenai kepercayaan politik, keselarasan kepentingan strategis, serta komitmen jangka panjang kedua negara. Banyak orang mengenang bahwa Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno, juga pernah menjadi Tamu Kehormatan pada peringatan Hari Republik India yang pertama pada 26 Januari 1950. Momen-momen tersebut menjadi simbol eratnya hubungan yang telah terjalin selama puluhan tahun.

Selama hampir empat setengah tahun bertugas di India, saya menyaksikan secara langsung bagaimana hubungan Indonesia dan India berkembang dari sebuah persahabatan yang dibangun atas dasar niat baik dan sejarah bersama menjadi kemitraan yang semakin luas, konkret, dan berorientasi pada hasil. Saat ini kedua negara bekerja sama di berbagai bidang, mulai dari perdagangan, investasi, pertahanan, kesehatan, pendidikan, teknologi, hingga kerja sama maritim. Kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia pada awal Juli 2026 menjadi momentum penting yang melanjutkan keberhasilan kunjungan Presiden Prabowo ke New Delhi pada Januari 2025, ketika kedua pemimpin menyepakati berbagai inisiatif strategis untuk memperkuat Kemitraan Strategis Komprehensif yang telah dibangun sejak 2018.

Namun, makna kunjungan tersebut bukan terletak pada seremoni semata. Ukuran keberhasilan diplomasi sesungguhnya adalah kemampuan menerjemahkan berbagai komitmen yang telah disepakati di tingkat tertinggi menjadi manfaat nyata yang dapat dirasakan masyarakat kedua negara. Indonesia dan India memang memiliki hubungan sejarah yang sangat panjang. Selama berabad-abad, kedua bangsa saling terhubung melalui perdagangan, pertukaran gagasan, agama, budaya, dan jalur maritim. Akan tetapi, sejarah saja tidak cukup. Dunia terus berubah dengan sangat cepat. Ketidakpastian ekonomi global, perubahan iklim, gangguan rantai pasok, serta pesatnya perkembangan teknologi kini menjadi tantangan bersama yang tidak dapat dihadapi secara sendiri-sendiri. Dalam konteks tersebut, mempererat kerja sama Indonesia dan India bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan.

Hubungan ekonomi menjadi salah satu bidang yang masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar. Pada 2025, nilai perdagangan bilateral mencapai sekitar US$23 miliar. Capaian tersebut menunjukkan perkembangan yang positif, namun masih relatif kecil jika dibandingkan dengan ukuran ekonomi kedua negara. Indonesia dan India memiliki struktur ekonomi yang saling melengkapi. Indonesia memasok berbagai komoditas strategis seperti batu bara, minyak sawit, nikel, dan mineral lainnya yang mendukung pertumbuhan industri India. Sebaliknya, India memiliki keunggulan di bidang farmasi, teknologi informasi, rekayasa teknik, manufaktur, dan layanan digital. Seiring terus berkembangnya kedua perekonomian, peluang kerja sama di sektor energi terbarukan, layanan kesehatan, pengolahan pangan, industri digital, hingga mineral kritis akan semakin terbuka lebar.

Dalam konteks tersebut, pembahasan mengenai Perjanjian Perdagangan Preferensial (Preferential Trade Agreement/PTA) menjadi sangat penting. Apabila berhasil diselesaikan, perjanjian tersebut akan membantu mengurangi berbagai hambatan perdagangan, meningkatkan arus investasi, sekaligus memperkuat hubungan ekonomi kedua negara. Selain itu, Indonesia dan India juga perlu mempercepat implementasi transaksi menggunakan mata uang lokal (Local Currency Transactions/LCT) serta membangun integrasi sistem pembayaran digital yang lebih mulus. Langkah tersebut akan meningkatkan efisiensi perdagangan bilateral, menekan biaya transaksi, sekaligus memperkuat ketahanan sistem keuangan kedua negara.

Konektivitas juga merupakan elemen penting dalam hubungan Indonesia–India, khususnya melalui pengembangan Pelabuhan Sabang di Aceh. Terletak di dekat salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, Sabang memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai pusat perdagangan dan layanan maritim. Apabila dikelola secara optimal, Sabang tidak hanya akan memperlancar jalur pelayaran internasional, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, menarik investasi baru, membuka lapangan kerja, serta memperkuat keterhubungan antara wilayah barat Indonesia dengan Kepulauan Andaman dan Nicobar di India. Dengan demikian, Sabang tidak hanya menjadi titik geografis di peta, melainkan simbol nyata kerja sama Indonesia–India yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat kedua negara.

Kerja sama maritim tetap menjadi salah satu pilar utama hubungan Indonesia dan India. Sebagai dua negara maritim besar, keduanya memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga kawasan Indo-Pasifik tetap damai, terbuka, dan stabil. Kolaborasi di bidang keamanan maritim, penanggulangan bencana, perikanan berkelanjutan, serta pengembangan ekonomi berbasis kelautan tidak hanya akan memperkuat stabilitas kawasan, tetapi juga mendukung tujuan pembangunan nasional masing-masing negara. Kemitraan maritim yang semakin erat akan memberikan manfaat nyata bagi keamanan jalur perdagangan sekaligus kesejahteraan masyarakat pesisir di kedua negara.

Teknologi dan inovasi juga menjadi frontier baru dalam hubungan Indonesia–India. India telah berkembang menjadi salah satu kekuatan dunia di bidang sistem digital, teknologi finansial (fintech), dan teknologi antariksa. Di sisi lain, Indonesia sedang menjalani transformasi digital yang sangat pesat. Kolaborasi di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), layanan publik digital, perusahaan rintisan (startup), penelitian bersama, serta pengembangan keterampilan digital akan membantu kedua negara bergerak lebih cepat dalam memanfaatkan peluang ekonomi digital. Kerja sama tersebut bukan hanya mempercepat inovasi, tetapi juga memperkuat daya saing kawasan di tengah perubahan teknologi global yang semakin cepat.

Sektor kesehatan juga semakin penting dalam hubungan bilateral. Pandemi COVID-19 membuktikan bahwa tidak ada satu negara pun yang mampu menghadapi tantangan kesehatan global sendirian. Indonesia dan India telah memperkuat kerja sama di bidang farmasi dan vaksin, namun peluangnya masih jauh lebih besar. Ke depan, kemitraan dapat diperluas ke bidang penelitian medis, bioteknologi, sistem kesehatan digital, hingga pengembangan inovasi kesehatan yang mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas dan terjangkau.

Pada tingkat regional, Indonesia dan India juga memiliki kesamaan cara pandang terhadap masa depan Indo-Pasifik. Indonesia mengusung ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP), sementara India mengembangkan Indo-Pacific Oceans Initiative (IPOI). Kedua pendekatan tersebut bukanlah visi yang saling bersaing, melainkan saling melengkapi. Keduanya sama-sama menekankan pentingnya keterbukaan, kerja sama, penghormatan terhadap hukum internasional, serta sentralitas ASEAN. Kesamaan perspektif ini memberikan landasan yang kokoh bagi Indonesia dan India untuk bersama-sama menciptakan kawasan Indo-Pasifik yang aman, stabil, dan sejahtera.

Di luar hubungan antarpemerintah, hubungan antar masyarakat (people-to-people relations) juga memiliki arti yang tidak kalah penting. Semakin banyak warga Indonesia yang belajar maupun berkunjung ke India, sementara jumlah wisatawan dan pelaku bisnis India yang datang ke Indonesia juga terus meningkat. Namun, jika dibandingkan dengan besarnya populasi kedua negara, interaksi tersebut masih relatif terbatas. Karena itu, pertukaran mahasiswa, peneliti, pelaku usaha, komunitas budaya, dan generasi muda perlu terus diperluas agar tercipta pemahaman yang lebih mendalam, rasa saling percaya yang lebih kuat, serta hubungan jangka panjang yang berakar pada masyarakat kedua negara.

Melihat ke depan, arah hubungan Indonesia–India sangat menjanjikan. Kedua negara merupakan demokrasi besar dengan ekonomi yang terus bertumbuh, populasi muda yang produktif, serta komitmen terhadap politik luar negeri yang independen dan mengutamakan dialog dibandingkan konfrontasi. Kesamaan nilai tersebut menjadi fondasi yang kokoh bagi kemitraan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi seharusnya dipandang sebagai bagian dari perjalanan panjang kedua negara, bukan sekadar agenda diplomatik sesaat. Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kemajuan, memperkuat kerja sama, serta memastikan bahwa berbagai kesepakatan yang telah dicapai benar-benar menghasilkan manfaat nyata. Nilai sebuah kunjungan kenegaraan pada akhirnya tidak diukur dari banyaknya dokumen yang ditandatangani, melainkan dari seberapa besar perubahan yang berhasil diwujudkan melalui implementasinya.

Filsuf India Swami Vivekananda pernah mengatakan, “Keberagaman dalam cara berpikir. Kesatuan dalam tujuan. Kekuatan dalam kolaborasi. Peran yang berbeda, tetapi tujuan yang sama.” Kutipan tersebut sangat tepat menggambarkan hubungan Indonesia dan India saat ini. Kedua negara telah membangun fondasi yang kuat selama puluhan tahun. Langkah berikutnya adalah memperdalam fondasi tersebut secara bertahap, konsisten, dan dengan tujuan yang jelas. Apabila komitmen itu terus dijaga, tidak ada alasan mengapa kemitraan Indonesia–India tidak dapat berkembang menjadi salah satu hubungan paling strategis di kawasan Indo-Pasifik. Peluangnya sudah sangat jelas. Kini saatnya mengubah peluang tersebut menjadi kenyataan.

*Ina H. Krisnamurthi adalah Duta Besar Republik Indonesia untuk India dan Bhutan periode 2022–2026. Sebagai diplomat karier, ia telah menduduki berbagai posisi strategis di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan berperan penting dalam memperkuat hubungan strategis serta kerja sama komprehensif antara Indonesia dan India.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Aplikasi Investasi untuk Pemula: Apa Saja yang Harus Dimiliki?

Minat masyarakat Indonesia terhadap investasi terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Semakin banyak orang mulai menyadari pentingnya mengelola keuangan dan membangun aset sejak dini. Namun, tidak sedikit calon investor yang masih ragu untuk memulai karena menganggap investasi itu rumit, membutuhkan modal besar, atau hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sudah berpengalaman.

Kini, anggapan tersebut mulai berubah berkat hadirnya berbagai platform investasi digital. Salah satu yang banyak digunakan adalah Nanovest, aplikasi investasi yang dirancang agar mudah digunakan oleh investor pemula sekaligus menyediakan pilihan aset yang lengkap dalam satu platform.

Investasi Lebih Mudah dalam Satu Aplikasi

Salah satu tantangan terbesar bagi pemula adalah harus menggunakan beberapa aplikasi untuk berinvestasi di berbagai instrumen. Melalui Nanovest, pengguna dapat mengakses Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, dan Emas Digital hanya melalui satu aplikasi.

Dengan konsep all-in-one investment app, pengguna tidak perlu berpindah platform untuk memantau berbagai aset investasi. Hal ini membuat proses investasi menjadi lebih praktis dan efisien, terutama bagi mereka yang baru mulai membangun portofolio.

Selain itu, tampilan aplikasi yang sederhana dan intuitif memudahkan pengguna memahami berbagai fitur yang tersedia. Informasi harga aset, grafik pergerakan pasar, hingga perkembangan investasi dapat dipantau secara real-time sehingga membantu pengguna mengambil keputusan dengan lebih percaya diri.

Cocok untuk Investor Pemula

Banyak orang menunda investasi karena merasa belum memiliki pengetahuan yang cukup. Padahal, langkah pertama yang paling penting adalah mulai mengenal pasar dan membangun kebiasaan berinvestasi secara konsisten.

Nanovest hadir dengan pengalaman pengguna yang ramah bagi pemula. Proses registrasi dapat dilakukan secara online, sementara transaksi investasi dapat dilakukan langsung melalui smartphone. Dengan demikian, siapa pun dapat memulai perjalanan investasinya tanpa prosedur yang rumit.

Bagi investor yang ingin memiliki eksposur terhadap perusahaan-perusahaan global, Nanovest menyediakan akses ke berbagai Saham Amerika Serikat. Pengguna dapat mengikuti perkembangan emiten teknologi, kesehatan, keuangan, hingga perusahaan global lainnya yang tercatat di bursa saham AS.

Sementara itu, bagi pengguna yang ingin berinvestasi pada aset digital, tersedia berbagai pilihan Aset Kripto yang dapat diperdagangkan dengan mudah. Tidak hanya itu, Nanovest juga menyediakan Emas Digital sebagai salah satu alternatif investasi yang sering dipilih untuk tujuan diversifikasi portofolio.

Keamanan Menjadi Prioritas

Selain kemudahan, keamanan merupakan faktor penting dalam memilih aplikasi investasi. Oleh karena itu, Nanovest menghadirkan perlindungan tambahan bagi para penggunanya.

Pengguna mendapatkan perlindungan dari risiko cybercrime melalui Asuransi Sinarmas, sehingga memberikan rasa aman ketika melakukan aktivitas investasi secara digital.

Di sisi regulasi, Nanovest juga telah resmi berizin dan berlisensi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Status perizinan ini menjadi salah satu bentuk komitmen perusahaan dalam menyediakan layanan investasi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Indonesia.

Solusi Investasi di Era Digital

Perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat berinvestasi. Kini, investor tidak lagi harus datang ke kantor sekuritas atau menggunakan banyak platform berbeda untuk mengelola asetnya.

Melalui Nanovest, pengguna dapat memantau pergerakan Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, dan Emas Digital secara praktis dalam satu aplikasi. Fitur ini memudahkan investor untuk mengikuti perkembangan pasar kapan saja dan di mana saja.

Bagi investor yang ingin membangun portofolio jangka panjang, memiliki akses terhadap berbagai jenis aset dalam satu platform juga dapat membantu proses diversifikasi investasi.

Mulai Investasi Bersama Nanovest

Memulai investasi tidak harus menunggu menjadi ahli di bidang keuangan. Yang terpenting adalah memiliki platform yang mudah digunakan, aman, dan menyediakan pilihan aset yang sesuai dengan kebutuhan.

Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, maupun Emas Digital, Nanovest dapat menjadi pilihan untuk memulai perjalanan investasimu. Dengan antarmuka yang mudah dipahami, pilihan aset yang lengkap, perlindungan Asuransi Sinarmas terhadap risiko cybercrime, serta status sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital yang telah berlisensi OJK, Nanovest memberikan pengalaman investasi yang praktis dan nyaman bagi investor Indonesia.

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut, kunjungi www.nanovest.io. Aplikasi Nanovest juga telah tersedia dan dapat diunduh melalui Google Play Store maupun Apple App Store.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Indonesia–India: Membangun Kemitraan Ekonomi Hijau, Pariwisata, dan Kewirausahaan untuk Masa Depan Berkelanjutan

Oleh Sandiaga S. Uno*

Jakarta – Hubungan Indonesia dan India selalu terasa sangat personal bagi saya. Semasa kecil, beberapa komik favorit saya adalah trilogi MahabharataBaratayudha, dan Pandawa Sedha. Di antara semuanya, Bhagavad Gita memberikan kesan yang paling mendalam. Melalui kisah-kisah tersebut saya belajar mengenai kepemimpinan, integritas, dan tanggung jawab, sekaligus semakin memahami betapa eratnya hubungan budaya yang telah menghubungkan Indonesia dan India selama berabad-abad.

Bertahun-tahun kemudian, ketika berkunjung ke Goa sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, saya kembali merasakan dimensi lain dari kedekatan tersebut. Berdiri di pesisir barat India, saya menyadari bahwa hubungan kedua negara tidak pernah dibatasi oleh garis geografis semata. Selama berabad-abad, lautan justru menjadi penghubung peradaban kita melalui perdagangan, pertukaran budaya, dan penyebaran berbagai gagasan. Kini, jalur maritim yang sama memiliki potensi untuk menjadi jembatan baru bagi inovasi, kewirausahaan, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dunia kini memasuki era pembangunan yang baru. Keberhasilan ekonomi tidak lagi hanya diukur dari tingginya pertumbuhan, tetapi juga dari sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu menciptakan pemerataan, memperkuat ketahanan, dan menjaga keberlanjutan. Di tengah tantangan perubahan iklim, transformasi digital, serta dinamika geopolitik global, Indonesia dan India—dengan jumlah penduduk lebih dari 1,7 miliar jiwa, sistem demokrasi yang dinamis, dan semangat kewirausahaan yang kuat—memiliki posisi yang sangat strategis untuk memimpin kawasan Indo-Pasifik menuju masa depan yang lebih hijau dan lebih sejahtera.

Saya menyaksikan langsung potensi tersebut ketika mengunjungi India pada 2024. Dalam berbagai diskusi bersama para pengusaha, investor, komunitas kreatif, dan pemimpin pemerintahan, saya menemukan keyakinan yang sama bahwa masa depan bukan lagi ditentukan oleh kompetisi semata, melainkan oleh kolaborasi, inovasi, dan kewirausahaan.

Hubungan Indonesia dan India jauh melampaui perdagangan. Fondasinya dibangun di atas kesamaan nilai, kedekatan budaya, dan cita-cita bersama untuk mewujudkan kemakmuran yang inklusif. Nilai ekspor Indonesia ke India memang telah mencapai sekitar US$18 miliar pada 2025, namun saya meyakini bahwa peluang terbesar justru masih berada di depan kita.

Sepanjang perjalanan saya sebagai pengusaha maupun pelayan publik, saya selalu percaya bahwa pembangunan yang berkelanjutan harus dimulai dari pemberdayaan manusia. Keyakinan tersebut melahirkan berbagai inisiatif seperti OK OCE, yang mendorong tumbuhnya kewirausahaan; Yayasan Indonesia Setara (YIS), yang berfokus pada pendidikan dan kepemimpinan generasi muda; INOTEK (Innovation and Technology Foundation), yang mengembangkan inovasi di wilayah pedesaan; serta Surplus Indonesia, sebuah perusahaan sosial berbasis teknologi yang berupaya mengurangi limbah pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan. Seluruh inisiatif tersebut mempertegas bahwa ukuran kemajuan sesungguhnya bukan hanya pertumbuhan ekonomi, melainkan seberapa besar peluang yang mampu kita ciptakan, berapa banyak wirausahawan yang berhasil kita lahirkan, dan seberapa banyak kehidupan masyarakat yang dapat kita tingkatkan.

Sektor swasta telah lebih dahulu membuktikan apa yang dapat dicapai Indonesia dan India ketika bekerja sama. Perusahaan-perusahaan global seperti ArcelorMittal, yang dipimpin Lakshmi Mittal, maupun Indorama Corporation, yang didirikan Sri Prakash Lohia, menunjukkan bahwa talenta Indonesia dan India mampu membangun perusahaan kelas dunia. Tantangan berikutnya adalah memastikan keberhasilan tersebut juga dapat dirasakan oleh jutaan pelaku UMKM melalui pemanfaatan teknologi, investasi, pertukaran pengetahuan, dan perluasan akses pasar, sehingga mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif sekaligus membuka lapangan kerja yang berkualitas.

Ekonomi hijau menjadi salah satu bidang yang menawarkan peluang kerja sama paling besar. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa, potensi energi panas bumi, serta cadangan mineral kritis yang sangat dibutuhkan dalam transisi energi global. Di sisi lain, India telah berkembang menjadi salah satu pemimpin dunia dalam bidang energi terbarukan, inovasi digital, dan industri manufaktur hijau. Dengan memadukan berbagai keunggulan tersebut, kedua negara dapat memperluas kerja sama di bidang energi bersih, pembiayaan berkelanjutan, ekonomi sirkular, teknologi iklim, serta investasi yang bertanggung jawab, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru dan menjaga kelestarian lingkungan.

UMKM tetap menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia, sementara India berhasil membangun salah satu ekosistem kewirausahaan paling dinamis di dunia. Melalui program business matching, inkubasi startup, transformasi digital, perluasan akses pembiayaan, serta integrasi yang lebih kuat ke dalam rantai nilai global, para pelaku usaha di kedua negara memiliki peluang untuk menciptakan manfaat ekonomi bagi jutaan masyarakat.

Ekonomi kreatif menjadi jembatan kerja sama lain yang sangat menjanjikan. Keberagaman budaya Indonesia telah melahirkan berbagai karya kelas dunia, mulai dari fesyen, kuliner, musik, kerajinan tangan, film, hingga konten digital. Di sisi lain, India berhasil mengubah kreativitas menjadi kekuatan ekonomi global melalui Bollywood, industri desain, teknologi, serta ekosistem startup yang sangat berkembang. Saya percaya babak berikutnya dalam hubungan Indonesia–India harus ditulis bersama melalui kolaborasi yang lebih erat di sektor kreatif. Bayangkan apabila Bollywood berkolaborasi dengan industri film horor Indonesia yang telah mendapat pengakuan internasional, memadukan kekuatan penceritaan India dengan karakter sinema Indonesia yang khas. Bayangkan pula musik India berpadu dengan dangdut, melahirkan warna baru yang dapat diterima oleh masyarakat Asia bahkan dunia. Melalui produksi bersama, pertukaran talenta, pengembangan pusat-pusat kreatif, penyelenggaraan festival budaya, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) secara bertanggung jawab, industri kreatif kedua negara memiliki peluang untuk menjangkau pasar global yang jauh lebih luas.

Pariwisata juga merupakan penghubung yang sangat kuat antara Indonesia dan India. Bali telah lama menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan India. Namun saya selalu mengatakan bahwa Bali adalah pintu gerbang, bukan tujuan akhir. Indonesia memiliki begitu banyak destinasi kelas dunia lain yang menawarkan pengalaman luar biasa, mulai dari Danau Toba, Candi Borobudur, Labuan Bajo, Raja Ampat, Lombok, Sulawesi, hingga Kalimantan. Dengan mendorong wisatawan India menjelajahi lebih banyak destinasi di seluruh Nusantara, manfaat ekonomi pariwisata akan tersebar lebih merata kepada masyarakat lokal, pelaku UMKM, industri kreatif, dan para pekerja sektor pariwisata di berbagai daerah.

Saya menyambut dengan penuh sukacita kunjungan Yang Mulia Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia. Saya berharap kunjungan ini membuka babak baru hubungan bilateral yang tidak hanya memperkuat kerja sama antarpemerintah, tetapi juga memperluas kemitraan di antara para pengusaha, perguruan tinggi, investor, startup, pelaku industri kreatif, serta generasi muda kedua negara. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Narendra Modi, saya optimistis persahabatan Indonesia dan India akan semakin erat sekaligus membuka peluang yang jauh lebih besar bagi masyarakat kedua negara.

Pada akhirnya, masa depan hubungan Indonesia–India tidak hanya akan ditentukan oleh pemerintah. Masa depan tersebut akan dibentuk oleh para wirausahawan, inovator, akademisi, mahasiswa, dan komunitas kreatif yang bersedia bekerja sama melampaui batas-batas negara. Keberhasilan kemitraan kedua negara tidak semestinya diukur hanya dari besarnya nilai perdagangan atau investasi, tetapi juga dari semakin banyaknya UMKM yang mampu menembus pasar global, lahirnya berbagai inovasi yang meningkatkan kualitas hidup masyarakat, serta terciptanya lapangan kerja yang berkualitas dan peluang kewirausahaan bagi generasi mendatang.

Keberlanjutan pada hakikatnya bukan hanya tentang menjaga lingkungan. Keberlanjutan juga berarti menghadirkan harapan, memperluas kesempatan, dan memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal. Melalui persahabatan, inovasi, kewirausahaan, dan kolaborasi, Indonesia dan India memiliki kesempatan untuk menunjukkan kepada dunia bagaimana dua negara demokrasi besar dapat bersama-sama membangun masa depan yang lebih hijau, lebih inklusif, dan lebih sejahtera bagi seluruh masyarakat.

*Sandiaga Uno adalah pengusaha, investor, serta mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (2020–2024). Selama bertahun-tahun ia aktif mendorong pengembangan kewirausahaan, inovasi, UMKM, ekonomi kreatif, dan transformasi ekonomi digital Indonesia melalui berbagai inisiatif di sektor publik maupun swasta

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES