Perkembangan Teknologi Mengubah Cara Bank Melayani Nasabah

BNC: Perkembangan AI Membuka Peluang Baru bagi Industri Perbankan untuk Menghadirkan Layanan yang Semakin Relevan

Jakarta, 09 Oktober 2026 — Perkembangan artificial intelligence (AI) terus menjadi bagian dari diskusi mengenai masa depan industri perbankan. Setelah transformasi digital membuat berbagai layanan perbankan semakin mudah diakses melalui kanal digital, perkembangan teknologi AI membuka berbagai kemungkinan baru dalam cara bank memberikan layanan, memahami kebutuhan nasabah, mengelola risiko, dan meningkatkan efisiensi.

PT Bank Neo Commerce Tbk (“Bank Neo Commerce”, “BNC”, “Perseroan”, “Bank”) melihat perkembangan tersebut sebagai bagian dari dinamika teknologi yang perlu terus diikuti oleh industri perbankan. Bagi BNC, pemahaman terhadap perkembangan teknologi menjadi penting agar setiap inovasi yang dikembangkan ke depan tetap relevan dengan kebutuhan nasabah dan perkembangan industri.

Adrian Soewardjo, Direktur Operasional & Teknologi Informasi PT Bank Neo Commerce Tbk, mengatakan “Perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat, termasuk AI. Bagi kami, penting untuk terus mengikuti dan memahami perkembangan tersebut, termasuk melihat bagaimana teknologi ini dapat memberikan manfaat bagi industri perbankan dan masyarakat. Namun, penerapannya tentu perlu mempertimbangkan kesiapan teknologi, keamanan, tata kelola, serta kebutuhan nasabah.”

Salah satu perkembangan yang menarik untuk diperhatikan adalah potensi pergeseran dari  layanan yang bersifat responsive menuju layanan yang semakin predictive. Dengan perkembangan teknologi dan pemanfaatan data yang tepat, bank di masa depan memiliki peluang untuk memberikan layanan dan informasi yang semakin relevan dengan kebutuhan dan konteks nasabah, dengan tetap memperhatikan privasi, keamanan, persetujuan nasabah, dan prinsip kehati-hatian.

AI juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam berbagai area perbankan, antara lain customer service, fraud detection, risk management, credit assessment, compliance, data analytics, hingga pengembangan produk dan layanan. Perkembangan di berbagai area tersebut menjadi bagian dari tren teknologi yang terus diamati oleh industri keuangan.

Bukan Sekadar Generative AI

Perkembangan AI di sektor perbankan juga tidak terbatas pada penggunaan generative AI atau chatbot. Berbagai teknologi AI dapat memiliki fungsi yang lebih luas, termasuk membantu mengenali pola, mendukung analisis, mengidentifikasi potensi risiko, hingga membantu proses tertentu menjadi lebih efisien.

Perkembangan agentic AI, misalnya, mulai membuka diskusi mengenai sistem AI yang tidak hanya memberikan informasi atau rekomendasi, tetapi juga dapat membantu menjalankan serangkaian proses berdasarkan parameter dan kewenangan tertentu. Perkembangan tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya pengawasan, keamanan, auditability, dan batasan kewenangan dalam penggunaan AI di sektor keuangan.

“Semakin besar kemampuan teknologi, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan teknologi tersebut digunakan secara tepat. Dalam industri perbankan, aspek trust menjadi sangat penting. Data yang berkualitas, keamanan, governance, dan human oversight akan tetap menjadi bagian penting ketika industri mengeksplorasi berbagai kemungkinan pemanfaatan AI,” jelas Adrian kemudian.

BNC menilai bahwa perkembangan AI di perbankan pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan kecanggihan teknologi. Kualitas data, infrastruktur, cybersecurity, kompetensi sumber daya manusia, tata kelola, serta kemampuan mengelola risiko juga menjadi faktor penting dalam menentukan manfaat dan keberlanjutan pemanfaatan teknologi tersebut.

Kerangka Tata Kelola Kecerdasan Artifisial Perbankan Indonesia yang diterbitkan OJK pada 2025 juga menunjukkan pentingnya aspek tata kelola dan manajemen risiko dalam pemanfaatan AI di sektor perbankan.

Di sisi lain, perkembangan teknologi juga akan membawa perubahan terhadap peran manusia di industri perbankan. Seiring semakin banyaknya proses yang dapat dibantu oleh teknologi, manusia tetap memiliki peran penting dalam hal judgement, empati, pengambilan keputusan, pengawasan, dan pemahaman terhadap konteks nasabah.

Mengikuti Perkembangan Teknologi Perbankan

BNC tidak menampik kemungkinan bahwa perkembangan AI akan menjadi salah satu bagian dari perjalanan transformasi teknologi di industri perbankan. Setelah hadirnya berbagai layanan digital, perkembangan teknologi selanjutnya dapat membuka peluang bagi layanan perbankan yang semakin personal, relevan, dan kontekstual.

Karena itu, BNC terus mengikuti perkembangan teknologi, termasuk AI, serta mengamati berbagai peluang dan tantangan yang muncul bagi industri perbankan. Setiap pengembangan teknologi tentunya perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan,kebutuhan, keamanan, tata kelola, dan manfaat yang dapat diberikan kepada nasabah.

“Kami percaya bahwa teknologi seharusnya menjadi sarana untuk memberikan manfaat yang nyata. Karena itu, perkembangan AI akan terus kami ikuti dan pelajari seiring dengan perkembangan industri. Ketika suatu teknologi benar-benar relevan, memberikan manfaat, dan telah didukung kesiapan yang memadai, tentu akan ada ruang untuk mempertimbangkan pemanfaatannya secara bertahap dan bertanggung jawab,” tutup Adrian.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Tokenized Stocks Tembus US$3 Miliar, Akses Saham AS Makin Diminati Investor Indonesia

Jakarta, 7 Oktober 2026 — Tokenisasi aset mulai mengubah cara investor mengakses pasar keuangan global. Salah satu segmen yang tumbuh paling cepat adalah tokenized stocks, aset digital yang merepresentasikan eksposur terhadap saham maupun produk pasar modal seperti exchange-traded fund (ETF).

Laporan terbaru Binance Research bertajuk Rewriting the On-Chain Economy mencatat kapitalisasi pasar tokenized stocks telah menembus US$3 miliar pada September 2026, meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan sekitar US$700 juta pada awal tahun.

Pertumbuhan tersebut menjadikan tokenized stocks sebagai kategori Real World Asset (RWA) dengan pertumbuhan tercepat sepanjang 2026. Pada periode yang sama, total pasar RWA on-chain telah mencapai sekitar US$38 miliar atau tumbuh 50 persen sejak awal tahun.

Aktivitasnya juga tidak lagi sebatas menyimpan aset. Binance Research mencatat nilai transfer tokenized stocks secara on-chain telah melampaui US$100 miliar pada kuartal III 2026, naik lebih dari 16 kali lipat dibandingkan US$6 miliar pada kuartal I.

Data tersebut menunjukkan perubahan perilaku investor. Tokenized stocks mulai digunakan dalam aktivitas perdagangan dan bahkan masuk ke ekosistem decentralized finance (DeFi), antara lain sebagai aset yang dapat digunakan sebagai agunan maupun dalam liquidity pool. Rasio nilai tokenized stocks yang digunakan dalam DeFi juga meningkat dari 1,8 persen menjadi 6,3 persen sepanjang 2026.

Tren Global Mulai Masuk Indonesia

Perkembangan tersebut mulai terlihat di pasar Indonesia. Sejumlah platform aset digital lokal, termasuk FLOQ telah menghadirkan produk yang memberikan eksposur terhadap saham dan ETF Amerika Serikat melalui aset berbasis blockchain.

FLOQ mencatat pada kuartal II 2026 jumlah trader aktif pada kategori US Stocks Tokenized Assets meningkat 18 persen secara kuartalan, sementara jumlah transaksi tumbuh 17 persen dan volume perdagangan naik 11 persen. Pertumbuhan tersebut turut didorong meningkatnya minat terhadap produk berbasis indeks atau ETF.

FLOQ juga menyediakan token yang memberikan eksposur terhadap ETF Amerika Serikat, termasuk produk yang mengikuti indeks seperti S&P 500 dan Nasdaq. Produk tersebut memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap pasar saham AS melalui infrastruktur aset digital tanpa harus membeli saham satu per satu.

Langkah serupa dilakukan sejumlah pemain domestik lainnya yang menghadirkan tokenized stocks yang merepresentasikan saham perusahaan global seperti Tesla, Alphabet, NVIDIA, Circle, Apple, Amazon, dan Coinbase.

Dengan demikian, perkembangan tokenized stocks di Indonesia tidak hanya terlihat dari bertambahnya pilihan produk, tetapi juga dari meningkatnya minat investor terhadap eksposur aset global melalui platform digital.

Eksposur Saham Global Jadi Jembatan Menuju Tokenisasi

CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis menilai pertumbuhan tokenized stocks menunjukkan bahwa batas antara pasar aset digital dan pasar keuangan tradisional semakin tipis.

“Tokenisasi saham menunjukkan bahwa blockchain mulai bergerak dari sekadar infrastruktur untuk aset kripto menjadi bagian dari infrastruktur pasar keuangan yang lebih luas. Investor tidak lagi hanya melihat blockchain sebagai tempat memperdagangkan aset digital native, tetapi juga sebagai teknologi untuk memperoleh eksposur terhadap aset dunia nyata seperti saham dan ETF,” ujar Yudhono.

Menurut Yudhono, perkembangan tersebut relevan bagi Indonesia karena minat investor domestik terhadap aset global terus berkembang. Kehadiran produk berbasis saham AS dan ETF di platform digital juga menunjukkan adanya permintaan terhadap instrumen yang memungkinkan diversifikasi portofolio dengan akses yang lebih sederhana.

“Bagi Indonesia, peluangnya bukan hanya menghadirkan lebih banyak aset global. Yang lebih penting adalah membangun ekosistem yang membuat akses tersebut dilakukan secara transparan, memiliki underlying yang jelas, memahami perbedaan antara kepemilikan saham dan eksposur ekonomi, serta tetap mengikuti kerangka regulasi yang berlaku,” katanya.

Regulasi Menjadi Faktor Penting

Perkembangan tokenized stocks global juga mulai mendapatkan perhatian regulator. Di Amerika Serikat, Securities and Exchange Commission (SEC) pada September 2026 memberikan temporary, conditional exemptive relief bagi platform tertentu untuk memperdagangkan saham NMS yang ditokenisasi melalui mekanisme on-chain.

SEC menegaskan bahwa tokenized stocks yang masuk dalam skema tersebut harus memenuhi persyaratan tertentu, termasuk memberikan hak dan keistimewaan yang sama seperti sekuritas tradisional yang mendasarinya.

Perkembangan di AS tersebut menunjukkan bahwa tokenisasi mulai bergerak dari tahap eksperimen menuju pembahasan mengenai infrastruktur pasar keuangan.

Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga tengah mengembangkan kerangka untuk tokenisasi Real World Asset. Hingga September 2026, OJK mencatat sejumlah model bisnis tokenisasi telah menyelesaikan proses regulatory sandbox, termasuk tokenisasi emas, tokenisasi surat berharga dengan skema Kontrak Pengelolaan Dana (KPD), dan tokenisasi manfaat kepemilikan properti.

OJK juga mencatat ekosistem aset keuangan digital domestik terus berkembang. Pada Agustus 2026 terdapat 23,21 juta akun konsumen pada pedagang aset keuangan digital, seperti BItcoin dan lainnya naik 1,23 persen secara bulanan. Nilai transaksi aset kripto mencapai Rp23,16 triliun, meningkat 12,87 persen dibandingkan Juli.

Menurut Yudho, perkembangan tersebut dapat menjadi fondasi bagi Indonesia untuk ikut mengambil bagian dalam ekonomi on-chain yang semakin luas.

“Indonesia memiliki basis pengguna aset digital yang besar dan pasar investor yang semakin terbuka terhadap aset global. Tantangannya sekarang adalah bagaimana pertumbuhan tersebut dapat diikuti dengan inovasi produk, edukasi, infrastruktur, dan regulasi yang berjalan beriringan. Tokenisasi dapat menjadi salah satu jembatan antara pasar modal tradisional dan ekosistem digital,” kata Yudhono.

Bukan Sekadar Memindahkan Saham ke Blockchain

Yudho menambahkan, pertumbuhan tokenized stocks sebaiknya tidak dipahami hanya sebagai proses “memindahkan saham ke blockchain”. Nilai utama tokenisasi justru terletak pada kemungkinan membangun infrastruktur pasar yang lebih fleksibel.

“Hal menarik dari tokenisasi bukan hanya bentuk tokennya, tetapi apa yang bisa dilakukan setelah aset berada di jaringan blockchain. Ada peluang untuk menghadirkan perdagangan 24/7, settlement yang lebih efisien, interoperabilitas dengan aplikasi keuangan digital, hingga penggunaan aset sebagai bagian dari ekosistem finansial on-chain,” ujarnya.

Tren tersebut mulai terlihat secara global. Binance Research mencatat rasio perdagangan tokenized stocks di decentralized exchange (DEX) yang sebelumnya hampir nol sepanjang 2025 dan paruh pertama 2026 meningkat menjadi rata-rata 11 persen pada September 2026. Angka tersebut mulai mendekati rasio memecoin yang berada di sekitar 17 persen.

Bagi industri aset digital Indonesia, perkembangan ini membuka peluang baru. Jika tahap awal tokenisasi di dalam negeri banyak berfokus pada emas, surat berharga, properti, dan aset lainnya, meningkatnya permintaan terhadap saham serta ETF global dapat menjadi tahap berikutnya dalam perkembangan RWA.

Dengan semakin banyaknya investor Indonesia yang mencari diversifikasi ke aset global, tokenized stocks berpotensi menjadi salah satu titik temu antara pasar modal, aset digital, dan teknologi blockchain.

Namun, pemahaman terhadap produk tetap menjadi faktor penting. Tokenized stock tidak selalu berarti kepemilikan langsung atas saham yang tercatat di bursa. Struktur produk, penerbit, underlying asset, hak investor, kustodian, mekanisme penebusan, serta aspek regulasi dapat berbeda pada masing-masing produk.

Karena itu, pertumbuhan tokenized stocks perlu diikuti dengan transparansi dan edukasi agar inovasi akses aset global tetap berkembang sejalan dengan prinsip perlindungan investor.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Investasi Pertama di Usia 20-an: Hal yang Perlu Dipahami Sebelum Mulai

Memulai investasi di usia 20-an bisa menjadi salah satu cara untuk mulai mengenal pengelolaan keuangan jangka panjang. Namun, investasi sebaiknya tidak dilakukan hanya karena mengikuti tren. Sebelum menempatkan dana, penting untuk memahami tujuan, jangka waktu, kondisi keuangan, dan risiko dari instrumen yang dipilih.

Usia 20-an juga biasanya menjadi periode ketika seseorang mulai memiliki penghasilan sendiri dan belajar mengatur berbagai kebutuhan. Karena itu, langkah pertama dalam berinvestasi bukan menentukan produk, melainkan memastikan kondisi keuangan sudah cukup siap.

Tentukan Tujuan Investasi

Sebelum membeli instrumen investasi, tentukan terlebih dahulu untuk apa dana tersebut akan digunakan. Tujuan investasi bisa berkaitan dengan kebutuhan jangka menengah maupun jangka panjang.

Misalnya, kamu ingin menyiapkan dana untuk pendidikan lanjutan, membeli kendaraan, memiliki rumah, atau kebutuhan lain di masa mendatang. Tujuan tersebut akan membantu menentukan jangka waktu investasi dan tingkat risiko yang dapat dipertimbangkan.

Jangan menggunakan dana yang memang diperlukan untuk kebutuhan sehari-hari atau kewajiban rutin sebagai dana investasi. Pisahkan terlebih dahulu kebutuhan tersebut agar perubahan nilai investasi tidak mengganggu kondisi keuangan.

Siapkan Dana Darurat

Investasi sebaiknya dilakukan setelah kebutuhan dasar dan dana darurat mulai diperhatikan. Dana darurat berfungsi sebagai cadangan ketika muncul kebutuhan yang tidak direncanakan.

Salah satu acuan dalam materi literasi keuangan OJK adalah dana darurat sebesar 3 sampai 6 kali pengeluaran bulanan. Besaran yang dibutuhkan tetap dapat berbeda berdasarkan kondisi, tanggungan, dan kebutuhan masing-masing orang.

Dengan adanya dana darurat, dana investasi tidak perlu dicairkan hanya karena ada kebutuhan mendadak.

Kenali Profil Risiko

Setiap instrumen investasi memiliki karakteristik dan risiko yang berbeda. Karena itu, jangan memilih produk hanya berdasarkan potensi keuntungan yang ditawarkan.

Kenali terlebih dahulu seberapa besar perubahan nilai investasi yang dapat kamu terima dan berapa lama dana tersebut dapat ditempatkan. Profil risiko dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih instrumen yang sesuai dengan kondisi dan tujuan investasi.

Untuk investor pemula, memahami risiko menjadi bagian penting sebelum melakukan transaksi. Nilai investasi dapat naik maupun turun, sehingga tidak ada instrumen investasi yang memberikan hasil pasti.

Kenali Reksa Dana sebagai Salah Satu Pilihan Investasi

Reksa dana merupakan salah satu instrumen investasi yang dapat dipertimbangkan sesuai tujuan dan profil risiko masing-masing investor. Dalam reksa dana, dana dari sejumlah investor dikelola dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi sesuai kebijakan investasi produk.

Jenis reksa dana juga memiliki karakteristik berbeda. Reksa Dana Pasar Uang, misalnya, memiliki kebijakan investasi yang berbeda dengan Reksa Dana Pendapatan Tetap, Reksa Dana Campuran, maupun Reksa Dana Saham.

Karena itu, sebelum membeli reksa dana, baca prospektus dan fund fact sheet serta pahami kebijakan investasi, risiko, biaya, dan ketentuan transaksi produk.

Mulai dari Nominal yang Sesuai Kemampuan

Investasi tidak harus dimulai dengan nominal besar. Yang lebih penting adalah memastikan dana yang digunakan memang dialokasikan untuk investasi dan tidak mengganggu kebutuhan utama.

Kamu juga dapat menentukan jumlah investasi secara berkala berdasarkan kemampuan keuangan. Misalnya, menyisihkan sebagian penghasilan setelah kebutuhan rutin dan dana darurat diperhitungkan.

Cara ini dapat membantu membangun kebiasaan investasi sekaligus membuat kamu lebih terbiasa memantau perkembangan portofolio.

Jangan Mengabaikan Risiko Investasi

Salah satu hal yang perlu dipahami investor pemula adalah investasi tidak sama dengan menabung. Nilai investasi dapat berubah mengikuti kondisi pasar dan karakteristik instrumennya.

Karena itu, hindari mengambil keputusan hanya berdasarkan kinerja masa lalu atau janji imbal hasil tertentu. Baca informasi produk dan pahami risiko sebelum melakukan transaksi.

Jika tujuan investasi berubah atau kondisi keuangan berubah, evaluasi kembali portofolio secara berkala. Penyesuaian investasi sebaiknya tetap mempertimbangkan tujuan, jangka waktu, dan profil risiko.

Reksa Dana Online di neobank

Perkembangan layanan digital membuat transaksi reksa dana dapat dilakukan secara online. Namun, kemudahan akses tetap perlu diikuti dengan pemahaman terhadap produk yang dibeli.

Melalui reksa dana online di neobank, pengguna dapat mengakses pilihan produk reksa dana yang tersedia melalui aplikasi. Produk reksa dana tersedia melalui mitra yang bekerja sama dengan Bank Neo Commerce. Reksa dana di neobank bisa mulai dari Rp10.000 dan dikelola oleh manajer investasi. 

Sebelum melakukan transaksi, pengguna perlu membaca informasi produk, memahami risiko, serta memastikan produk yang dipilih sesuai dengan tujuan dan profil risiko.

***

Investasi reksa dana mengandung risiko. Calon investor wajib membaca dan memahami prospektus serta Ringkasan Informasi Produk dan Layanan sebelum melakukan investasi. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. 

Jika ingin mulai investasi reksa dana, unduh aplikasi neobank melalui PlayStore atau App Store. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi halaman Reksa Dana di website resmi Bank Neo Commerce. 

PT Bank Neo Commerce Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), serta merupakan peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES