Pulau Cubadak dan Sabu: Astrowisata Berbasis Komunitas di Ujung Langit Indonesia
Dua Pulau, Dua Kualitas Langit
Di Sumatera Barat, Pulau Cubadak di Kawasan Mandeh menjadi sasaran peninjauan Komunitas Astronomi Sumbar pada 14–15 Agustus 2026. Data Light Pollution Map menunjukkan kawasan Cubadak Beach berada pada skala Bortle 3,9 dengan Sky Quality Meter (SQM) 21,72. Angka ini menandakan langit yang masih cukup gelap untuk menampilkan Bima Sakti dengan jelas.
Jauh di timur, Pulau Sabu di Nusa Tenggara Timur mencatat kualitas langit yang lebih ekstrem. Observasi lapangan dan pengolahan data ITB menunjukkan rata-rata fraksi langit cerah mencapai 71,45 persen, dengan tingkat polusi cahaya buatan yang sangat rendah. Kawasan ini bahkan terklasifikasi Bortle 1, tingkat langit malam paling gelap.
Ketika Lampu Kapal Menjadi Musuh
Cubadak menghadapi tantangan yang khas wilayah pesisir: deretan kapal bagan yang berlabuh di sebelah timur pulau memancarkan cahaya terang. Lampu penangkap ikan itu menjadi sumber polusi cahaya lokal yang mengganggu pengamatan dan astrofotografi. Pengelola kawasan perlu mengantisipasi gangguan ini tanpa mematikan mata pencaharian nelayan.
Di Sabu, tantangannya lebih pada kapasitas lokal. Tim ITB tidak hanya melakukan observasi, tetapi juga melatih warga tentang ekowisata bahari dan astrowisata. Mereka menyerahkan jaket pelampung dan alat pancing, lalu mempraktikkan program “Starfishing”: memancing tradisional dari atas perahu sambil memandu peserta mengenali rasi bintang.
Starfishing sebagai Inovasi Sosial
Starfishing adalah contoh bagaimana astrotourism dapat menyatu dengan ekonomi lokal. Alih-alih mendatangkan teleskop mahal dan operator dari luar, program ini menggunakan perahu dan keterampilan nelayan sebagai bagian dari pengalaman. Peserta belajar navigasi bintang sambil merasakan kehidupan maritim.
Evaluasi lapangan menunjukkan perlunya pembagian tugas yang lebih jelas. Pendamping saat ini merangkap sebagai pemandu operasional dan pemateri navigasi. Ke depan, minimal dua orang diperlukan: satu untuk kapal, satu untuk astronomi. Ini adalah detail kecil yang menunjukkan bahwa astrowisata kepulauan bukan sekadar konsep, tetapi praktik yang sedang diuji dan diperbaiki.
Potensi yang Belum Tergarap
Indonesia memiliki ribuan pulau kecil dengan langit gelap alami. Namun, aksesibilitas dan infrastruktur sering menjadi penghalang. Model Cubadak dan Sabu menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas dapat menjadi jalan tengah: tidak menunggu investor besar, tetapi membangun kapasitas lokal secara bertahap.
Kuncinya adalah keseimbangan. Astrotourism tidak boleh menjadi alasan untuk membangun resor besar dengan pencahayaan berlebihan. Justru sebaliknya, nilai jual utama kawasan ini adalah kegelapan. Menjaga langit tetap gelap berarti menjaga keberlanjutan destinasi itu sendiri.
