Ibu Hamil, Lansia, dan Pasien Penyakit Kronis Lebih Rentan terhadap Polusi Udara Indonesia
Dua orang yang berada di lokasi sama belum tentu mengalami dampak polusi dengan tingkat keparahan serupa. Usia, kondisi kesehatan, kehamilan, pekerjaan, durasi paparan, dan akses terhadap layanan medis menentukan tingkat kerentanan.
Ibu hamil, bayi, lansia, serta penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis, penyakit jantung, hipertensi, dan diabetes membutuhkan perlindungan lebih besar ketika kualitas udara memburuk.
WHO menjelaskan hubungan polusi udara dengan penyakit pernapasan dan kardiovaskular melalui lembar fakta Ambient Air Pollution and Health: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/ambient-(outdoor)-air-quality-and-health.
Mengapa Ibu Hamil Perlu Lebih Waspada?
Kehamilan membuat tubuh mengalami berbagai perubahan fisiologis, termasuk peningkatan kebutuhan oksigen. Paparan polutan yang memicu peradangan dan stres oksidatif menjadi perhatian karena kesehatan ibu berkaitan erat dengan perkembangan janin.
Ibu hamil tidak perlu menghentikan seluruh aktivitas, tetapi sebaiknya memantau kualitas udara, membatasi kegiatan berat di luar ruangan saat polusi tinggi, dan membicarakan risiko lingkungan dengan tenaga kesehatan.
Rumah yang berada di tepi jalan padat juga perlu mendapatkan perhatian. Waktu membuka jendela dapat disesuaikan agar tidak bertepatan dengan jam lalu lintas tersibuk.
Lansia Lebih Mudah Mengalami Komplikasi
Seiring bertambahnya usia, kapasitas paru-paru dan kemampuan tubuh menghadapi peradangan dapat menurun. Banyak lansia juga memiliki lebih dari satu penyakit kronis.
Paparan polusi dapat memperburuk sesak, nyeri dada, batuk, atau kelelahan. Perubahan gejala yang tampak kecil tidak boleh diabaikan, terutama apabila terjadi bersamaan dengan kualitas udara yang buruk.
Pasien Penyakit Jantung dan Paru-Paru
PM2.5 dapat mencapai bagian dalam paru-paru dan memicu respons peradangan. Bagi pasien dengan asma atau penyakit paru, kondisi ini dapat mempersempit saluran napas dan memperberat gejala.
Pada penderita penyakit jantung, peradangan dan perubahan pada pembuluh darah dapat meningkatkan beban sistem kardiovaskular. Risiko tidak hanya muncul ketika seseorang berada di luar ruangan karena polutan dapat masuk ke dalam rumah.
Rencana Perlindungan Keluarga
Keluarga dapat membuat protokol sederhana berdasarkan indeks kualitas udara. Ketika udara memburuk, aktivitas luar ruang dikurangi, pintu dan jendela yang menghadap sumber polusi ditutup sementara, serta obat rutin dipastikan tersedia sesuai resep.
Masker respirator perlu digunakan dengan pemasangan yang benar. Namun, orang dengan gangguan pernapasan tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis mengenai jenis masker yang aman dan nyaman.
Alat penyaring udara dapat membantu di ruangan tertutup apabila kapasitasnya sesuai dengan ukuran ruangan dan filternya dirawat secara teratur. Asap rokok, obat nyamuk bakar, pembakaran sampah, dan asap memasak tanpa ventilasi juga perlu dikurangi.
Perlindungan kelompok rentan tidak boleh berhenti di rumah. Fasilitas kesehatan, panti lansia, sekolah, tempat kerja, dan pemerintah daerah membutuhkan prosedur respons ketika polusi mencapai tingkat berbahaya.
Kualitas udara adalah faktor kesehatan yang perlu dipertimbangkan seperti cuaca. Bagi kelompok rentan, keputusan sederhana mengenai waktu beraktivitas dapat membantu mencegah gejala yang lebih berat.
