Membangun Bersama Indonesia: Apa yang Diungkap Komitmen Jangka Panjang Google tentang Kemitraan Teknologi yang Dibutuhkan Negara

Oleh Sachin V. Gopalan, CEO Indonesia Economic Forum

Jakarta — Kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada 6–8 Juli 2026 menandai momentum baru dalam hubungan Indonesia-India, termasuk dalam kerja sama di bidang teknologi dan ekonomi digital. Dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto, kedua negara membahas penguatan kerja sama di berbagai bidang, termasuk ekonomi digital, kecerdasan buatan, dan Digital Public Infrastructure. Salah satu pengumuman penting dalam kunjungan tersebut adalah peluncuran Indonesia Open Network (ION), jaringan digital terbuka Indonesia yang dikembangkan dengan mengadopsi arsitektur Open Network for Digital Commerce (ONDC) dari India.

Peluncuran ION menjadi bagian dari percakapan yang lebih besar mengenai bagaimana teknologi dapat digunakan bukan hanya untuk melayani konsumen, tetapi juga untuk membangun kemampuan dan ekosistem digital suatu negara. Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika Indonesia memasuki fase baru transformasi digital, ketika kebutuhan akan infrastruktur terbuka, talenta digital, kecerdasan buatan, dan kemampuan nasional untuk berinovasi semakin besar.

Di tengah momentum tersebut, penting untuk melihat kembali bagaimana kemitraan teknologi jangka panjang dapat membantu membentuk ekosistem digital Indonesia. Dalam konteks inilah pengalaman Google di Indonesia menawarkan sebuah perspektif yang menarik tentang apa yang seharusnya diberikan oleh perusahaan teknologi global kepada negara tempat mereka beroperasi.

Setiap hari, jutaan masyarakat Indonesia menyalakan ponsel Android, melakukan pencarian melalui Google, menggunakan Maps untuk bernavigasi, berkolaborasi melalui Google Docs, belajar melalui YouTube, mengikuti pertemuan melalui Google Meet, dan berkomunikasi menggunakan Gmail.

Bagi sebagian besar masyarakat, berbagai produk tersebut telah begitu melekat dalam kehidupan sehari-hari hingga keberadaannya hampir tidak lagi terasa. Semuanya menjadi bagian dari rutinitas digital, membantu pelajar menyelesaikan tugas, pengusaha menjalankan bisnis, keluarga tetap terhubung, serta pekerja beraktivitas di tengah dunia yang semakin terkoneksi secara digital.

Namun, di balik aplikasi-aplikasi yang begitu familiar tersebut terdapat sebuah cerita yang jauh lebih besar.

Selama dua dekade terakhir, Google secara perlahan telah membantu menurunkan biaya untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital. Hal tersebut tidak dicapai semata-mata dengan membangun produk-produk yang sukses. Sebaliknya, Google menciptakan berbagai platform yang dapat menjadi fondasi bagi jutaan orang, bisnis, dan pengembang untuk membangun sesuatu di atasnya, sehingga kemampuan digital yang kuat dapat diakses oleh siapa pun yang memiliki koneksi internet, terlepas dari lokasi geografis maupun tingkat pendapatan.

Pada saat Indonesia memasuki fase berikutnya dalam transformasi digital, perbedaan tersebut layak mendapat perhatian lebih dekat. Masa depan tidak hanya akan ditentukan oleh perusahaan yang memperkenalkan teknologi terbaru atau model kecerdasan buatan paling canggih. Masa depan juga akan semakin ditentukan oleh pihak-pihak yang bersedia membantu negara membangun kemampuan digitalnya sendiri, memperkuat ekosistem lokal, serta meninggalkan pengetahuan yang mampu terus menciptakan nilai jauh setelah produk tertentu mengalami perubahan.

Bagi Indonesia, hal tersebut memunculkan sebuah pertanyaan penting. Di era ketika perusahaan teknologi global bersaing secara agresif untuk mendapatkan pengguna, beban kerja cloud, dan kepemimpinan di bidang kecerdasan buatan, apa yang seharusnya diharapkan sebuah negara dari mitra teknologinya? Apakah keberhasilan hanya diukur dari jumlah pengguna Indonesia yang berhasil dijangkau sebuah platform, atau juga dari seberapa besar kemampuan yang dibantu perusahaan tersebut untuk dibangun Indonesia bagi dirinya sendiri?

Perbedaan inilah yang mungkin akan menentukan babak berikutnya dari ekonomi digital Indonesia.

Lebih dari Sekedar Portofolio Produk

Ketika memikirkan Google, masyarakat tentu akan mengingat berbagai produk yang digunakan setiap hari. Google Search mengubah cara manusia mengakses informasi. Google Maps mengubah cara masyarakat bernavigasi di kota, menemukan bisnis, dan merencanakan perjalanan. YouTube mendemokratisasi publikasi dengan memberikan kesempatan kepada siapa pun yang memiliki smartphone untuk mengedukasi, menghibur, atau membangun audiens tanpa harus memiliki stasiun televisi atau perusahaan penerbitan. Android secara fundamental mengubah industri seluler dengan memungkinkan produsen di berbagai belahan dunia membangun smartphone yang terjangkau, sehingga internet dapat dijangkau oleh miliaran orang yang sebelumnya mungkin tidak memiliki akses terhadap ekonomi digital.

Filosofi yang sama juga terlihat dalam ekosistem teknologi Google yang lebih luas. Gmail membuat komunikasi kelas dunia dapat diakses secara gratis. Chrome mempercepat akses ke internet. Google Docs, Sheets, Drive, dan Meet menghadirkan perangkat kolaborasi berkualitas bagi perusahaan kepada pelajar, startup, dan usaha kecil tanpa memerlukan lisensi perangkat lunak yang mahal. Google Translate menurunkan hambatan bahasa yang selama ini memisahkan pasar dan budaya. Google Classroom memperluas akses terhadap pendidikan, sementara Google Play menciptakan sebuah pasar yang memungkinkan pengembang dari berbagai penjuru dunia menjangkau audiens global.

Secara individual, masing-masing produk tersebut menyelesaikan persoalan praktis. Namun secara kolektif, semuanya menunjukkan sesuatu yang jauh lebih signifikan. Kontribusi terbesar Google bukanlah satu aplikasi tertentu, melainkan filosofi yang konsisten untuk menurunkan berbagai hambatan yang sebelumnya menghalangi masyarakat biasa berpartisipasi dalam ekonomi digital. Google mengurangi biaya untuk mencari informasi, menyampaikan gagasan, berkolaborasi dengan rekan kerja, mempelajari keterampilan baru, dan membangun bisnis. Dengan demikian, Google turut mendemokratisasi akses terhadap teknologi itu sendiri.

Filosofi tersebut telah begitu melekat dalam kehidupan digital modern sehingga sering kali luput dari perhatian. Padahal, filosofi ini merupakan salah satu karakteristik penting dari kontribusi Google terhadap internet global, bukan sekadar menciptakan produk yang sukses, tetapi memperluas akses terhadap peluang digital dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Membangun Platform yang Dapat Dikembangkan oleh Pihak Lain

Mungkin kontribusi Google yang paling bertahan lama adalah kesediaannya untuk membangun platform, bukan sekadar produk.

Keberhasilan Android, misalnya, tidak pernah hanya berkaitan dengan smartphone. Melalui Android Open Source Project, Google memungkinkan ratusan produsen berinovasi di atas fondasi teknologi yang sama, alih-alih mengunci industri dalam satu ekosistem proprietary. Perangkat Android yang terjangkau menjadi pintu masuk bagi miliaran orang, termasuk jutaan masyarakat Indonesia, untuk pertama kalinya terhubung dengan internet.

Filosofi yang sama juga terlihat dalam portofolio teknologi Google yang lebih luas. TensorFlow mempercepat penelitian kecerdasan buatan dengan menyediakan perangkat machine learning canggih secara terbuka bagi peneliti dan pengembang di seluruh dunia. Kubernetes secara fundamental mengubah komputasi cloud dengan menjadi standar global untuk orkestrasi container. Flutter menyederhanakan pengembangan aplikasi di berbagai sistem operasi. Firebase memungkinkan startup meluncurkan layanan digital canggih tanpa harus terlebih dahulu berinvestasi besar dalam infrastruktur backend. Chromium turut membentuk perkembangan browser modern, sementara bahasa pemrograman Go menjadi salah satu perangkat yang banyak digunakan untuk membangun sistem digital berskala besar.

Masing-masing teknologi tersebut mengikuti pola yang sama. Alih-alih memusatkan inovasi hanya di dalam produk Google sendiri, teknologi-teknologi tersebut memungkinkan inovasi berkembang di seluruh ekosistem. Pengembang, universitas, startup, dan perusahaan dapat menciptakan nilai dengan lebih cepat karena teknologi dasar yang dibutuhkan telah tersedia.

Pendekatan ini secara fundamental mengubah ekonomi inovasi. Daripada setiap perusahaan harus menciptakan kembali infrastruktur dasar yang sama, para pengusaha dapat berfokus pada penyelesaian persoalan nyata. Daripada mengalokasikan sumber daya yang terbatas untuk membangun infrastruktur dasar, startup dapat mengarahkan perhatian pada pelanggan dan pengembangan gagasan baru.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, hal ini sangat penting. Inovasi menjadi semakin tidak bergantung pada akses terhadap modal dalam jumlah besar dan semakin bergantung pada akses terhadap pengetahuan, talenta, dan fondasi teknologi yang terbuka. Dalam konteks tersebut, kontribusi terbesar Google mungkin bukan hanya teknologi yang dibangunnya sendiri, tetapi berbagai inovasi yang dimungkinkan oleh teknologi tersebut.

Babak Digital Indonesia Berikutnya

Transformasi digital Indonesia kini memasuki tahap yang secara fundamental berbeda.

Babak pertama berfokus pada menghubungkan masyarakat dengan internet. Babak kedua ditandai dengan pertumbuhan pesat e-commerce, pembayaran digital, fintech, dan aplikasi seluler yang mengubah cara masyarakat Indonesia berkomunikasi, berbelanja, dan menjalankan bisnis. Namun, babak berikutnya jauh lebih ambisius. Fokusnya adalah membangun kapasitas nasional dalam kecerdasan buatan, Digital Public Infrastructure (DPI), komputasi cloud, keamanan siber, identitas digital, semikonduktor, serta keterampilan tingkat lanjut yang dibutuhkan untuk bersaing dalam ekonomi global yang berubah dengan cepat.

Hal-hal tersebut kini bukan lagi sekadar inisiatif teknologi. Semuanya telah menjadi prioritas pembangunan nasional.

Negara-negara yang menguasai kemampuan tersebut akan semakin mampu menentukan masa depan ekonominya sendiri. Sebaliknya, negara yang hanya menjadi konsumen teknologi yang dikembangkan di tempat lain berisiko menjadi bergantung pada ekosistem digital yang tidak mereka kendalikan.

Karena itu, visi Indonesia Emas 2045 tidak hanya berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi. Visi tersebut juga berbicara tentang membangun bangsa yang tangguh, inovatif, dan memiliki kemampuan teknologi untuk bersaing secara global, sekaligus memastikan manfaat transformasi digital dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.

Di sinilah peran mitra teknologi menjadi sangat penting. Pertanyaannya tidak lagi sekadar perusahaan mana yang menawarkan produk paling menarik. Pertanyaannya adalah perusahaan mana yang bersedia membantu Indonesia memperkuat kapasitasnya sendiri untuk berinovasi, mendidik, membangun institusi, dan menciptakan peluang bagi generasi mendatang.

Dari Platform Terbuka Menuju Jaringan Terbuka

Dalam konteks tersebut, dukungan Google terhadap ekosistem digital terbuka bukanlah perubahan strategi yang baru terjadi. Hal tersebut merupakan kelanjutan alami dari filosofi yang telah membentuk perusahaan sejak awal: teknologi menciptakan nilai terbesar ketika mampu menurunkan hambatan, memperluas partisipasi, dan memungkinkan pihak lain untuk berinovasi.

Filosofi yang sama kini menjadi dasar bagi generasi baru Digital Public Infrastructure (DPI). Di berbagai belahan dunia, pemerintah semakin menyadari bahwa tahap berikutnya dari transformasi digital tidak dapat sepenuhnya bergantung pada platform proprietary yang beroperasi secara terpisah. Sebaliknya, negara-negara mulai berinvestasi dalam infrastruktur digital bersama yang memungkinkan bisnis, pemerintah, dan masyarakat berinteraksi melalui standar yang sama, sebagaimana jalan, pelabuhan, dan jaringan telekomunikasi mendorong pertumbuhan ekonomi pada generasi sebelumnya.

Open Network for Digital Commerce (ONDC) India merupakan salah satu contoh paling ambisius dari pendekatan ini. Alih-alih menciptakan marketplace e-commerce lainnya, ONDC membangun jaringan terbuka tempat pembeli, penjual, perusahaan logistik, penyedia pembayaran, dan platform teknologi dapat saling terhubung dan berinteroperabilitas, terlepas dari aplikasi yang mereka gunakan. Persaingan pun bergeser, dari sekadar menguasai pelanggan menjadi menghadirkan produk, layanan, dan inovasi yang lebih baik.

Indonesia kini mengambil jalur serupa melalui Indonesia Open Network (ION). Terinspirasi oleh ONDC dan dibangun di atas arsitektur Beckn 2.0, ION berupaya membangun jaringan perdagangan yang terbuka dan interoperabel, tempat UMKM, koperasi, penyedia logistik, lembaga keuangan, dan aplikasi digital dapat berpartisipasi melalui standar bersama, bukan melalui silo digital yang terpisah. Tujuannya bukan menggantikan marketplace atau aplikasi yang sudah ada, melainkan menciptakan infrastruktur digital yang memungkinkan seluruh pihak tersebut terhubung secara lebih efisien sekaligus memberikan kebebasan lebih besar kepada pelaku usaha dalam menentukan cara mereka menjangkau pelanggan.

Bagi lebih dari 30 juta usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia, implikasinya sangat besar. Partisipasi digital tidak seharusnya lagi bergantung pada keharusan bergabung dengan satu platform dominan. Koperasi kopi di Aceh, produsen furnitur di Jepara, pelaku usaha perikanan di Maluku, maupun produsen batik di Pekalongan seharusnya dapat mengakses pembeli, logistik, pembayaran, pembiayaan, dan layanan digital melalui jaringan terbuka yang mendorong persaingan, bukan ketergantungan.

Visi tersebut sejalan dengan tujuan Indonesia yang lebih luas untuk memastikan transformasi digital tidak hanya memberikan manfaat kepada korporasi besar dan pusat-pusat perkotaan, tetapi juga kepada para pengusaha dan masyarakat di seluruh penjuru nusantara.

Kesediaan Google untuk mendukung berbagai ekosistem terbuka seperti ini karena itu sepenuhnya konsisten dengan pendekatan teknologi yang telah dijalankannya selama ini. Hal tersebut mencerminkan pemahaman bahwa infrastruktur digital menjadi semakin bernilai ketika mampu memberdayakan sebuah ekosistem, bukan hanya satu platform. Dalam ekonomi digital yang semakin terhubung, memungkinkan kolaborasi pada akhirnya dapat terbukti lebih bernilai daripada mengendalikannya.

Perbedaan antara Kehadiran dan Partisipasi

Indonesia telah menjadi salah satu ekonomi digital dengan pertumbuhan tercepat di dunia, menjadikannya pasar prioritas bagi hampir setiap perusahaan teknologi global. Jutaan masyarakat Indonesia menggunakan mesin pencari internasional, platform media sosial, layanan cloud, dan perangkat kecerdasan buatan setiap hari. Dari perspektif komersial, Indonesia merupakan salah satu pasar digital paling menarik di Asia.

Namun, terdapat perbedaan penting antara melayani sebuah pasar dan berpartisipasi dalam pembangunannya.

Banyak perusahaan teknologi global menghadirkan produk unggulan kepada pengguna Indonesia melalui layanan digital lintas batas. Platform mereka digunakan secara luas, teknologi mereka sangat inovatif, dan pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari tidak dapat disangkal. Namun, tahap berikutnya dari perjalanan digital Indonesia membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar produk. Indonesia membutuhkan kemitraan jangka panjang yang berkontribusi pada kemampuan negara untuk berinovasi, mendidik, membangun institusi, dan mengembangkan talenta.

Selama dua dekade terakhir, Google semakin menunjukkan komitmen yang lebih luas tersebut. Di luar produk komersialnya, perusahaan ini telah membangun kehadiran jangka panjang di Indonesia, berinvestasi dalam tim lokal, mengembangkan komunitas pengembang, bermitra dengan universitas, serta bekerja sama dengan lembaga pemerintah dalam bidang literasi digital, keamanan daring, dan pengembangan tenaga kerja. Melalui Google.org, Google juga mendukung pendidikan, organisasi nonprofit, ketahanan digital, serta berbagai inisiatif yang membantu masyarakat beradaptasi dengan lanskap teknologi yang berubah dengan cepat.

Investasi semacam ini jarang mendapatkan perhatian sebesar peluncuran produk baru atau kemajuan dalam kecerdasan buatan. Investasi tersebut tidak selalu menghasilkan berita utama secara langsung dan juga tidak mudah diukur melalui hasil keuangan kuartalan. Nilainya baru terlihat seiring waktu, ketika semakin banyak pengembang membangun bisnis yang sukses, semakin banyak pelajar memperoleh keterampilan digital, semakin banyak startup muncul, dan semakin banyak institusi memperkuat kemampuan teknologinya.

Inilah perbedaan antara kehadiran perusahaan dan partisipasi yang sesungguhnya. Yang pertama terutama berfokus pada melayani pelanggan. Yang kedua berkontribusi pada penguatan ekosistem tempat para pelanggan tersebut hidup dan bekerja.

Seiring Indonesia terus membangun ekonomi digitalnya, perbedaan ini akan menjadi semakin penting. Negara-negara yang menginginkan daya saing teknologi jangka panjang secara alami akan memilih mitra yang bersedia berinvestasi bukan hanya dalam pertumbuhan pasar, tetapi juga dalam membangun kapasitas nasional.

Membangun Menuju Indonesia Emas 2045

Ambisi Indonesia untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi terkemuka di dunia pada 2045 tidak akan tercapai hanya melalui peningkatan PDB atau koneksi internet yang lebih cepat. Keberhasilan akan bergantung pada kemampuan negara dalam membangun institusi, talenta, kapasitas riset, dan infrastruktur digital yang dibutuhkan untuk bersaing dalam ekonomi global yang semakin berbasis pengetahuan.

Kecerdasan buatan, Digital Public Infrastructure, manufaktur semikonduktor, komputasi cloud, keamanan siber, dan keterampilan digital tingkat lanjut dengan cepat menjadi fondasi penting bagi daya saing nasional. Sebagaimana jalan, pelabuhan, dan listrik menjadi penentu pembangunan industri pada abad ke-20, infrastruktur digital akan semakin menentukan peluang ekonomi pada abad ke-21.

Pemerintah tidak dapat membangun masa depan ini sendirian. Begitu pula sektor swasta, universitas, maupun startup jika bergerak secara independen. Untuk mewujudkan ambisi Indonesia Emas 2045, dibutuhkan sebuah ekosistem tempat kebijakan publik, dunia usaha, akademisi, dan mitra teknologi bekerja bersama untuk memperluas peluang dan memperkuat kapasitas nasional.

Mungkin inilah pelajaran yang lebih luas dari keterlibatan Google selama bertahun-tahun di Indonesia. Kontribusi terbesarnya mungkin bukan satu produk, platform, atau terobosan teknologi tertentu, melainkan filosofi yang konsisten dalam menurunkan hambatan, memperluas akses, dan memungkinkan pihak lain untuk berinovasi.

Filosofi tersebut sejalan dengan ambisi digital Indonesia sendiri: menciptakan ekonomi di mana teknologi memberdayakan semua orang, bukan hanya mereka yang memiliki neraca keuangan terbesar, kekuatan pasar terbesar, atau keahlian teknis paling mendalam.

Perusahaan teknologi sering kali menggambarkan negara sebagai pasar. Indonesia seharusnya mengharapkan sesuatu yang lebih. Indonesia perlu mencari mitra yang memandang negara ini sebagai tempat untuk membangun, berinvestasi, dan berinovasi bersama dalam jangka panjang. Perusahaan yang memberikan kontribusi terbesar terhadap masa depan Indonesia belum tentu merupakan perusahaan dengan pangsa pasar terbesar, melainkan perusahaan yang investasinya meninggalkan fondasi paling kuat untuk terus dikembangkan oleh pihak lain.

Jika Indonesia berhasil mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, sejarah kemungkinan tidak akan mengingat aplikasi mana yang paling banyak diunduh atau model kecerdasan buatan mana yang paling banyak menjadi berita utama. Sejarah justru akan mengingat kemitraan yang membantu memperkuat kapasitas Indonesia untuk berinovasi, bersaing, dan berkembang dengan caranya sendiri.

Pada akhirnya, ukuran keberlanjutan sebuah mitra teknologi bukanlah seberapa besar nilai yang diambilnya dari sebuah negara, melainkan seberapa besar kemampuan yang ditinggalkannya bagi negara tersebut.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Bittime: Minat RWA di Indonesia Meningkat, Ondo Finance Beberkan Faktor Pendorongnya

Bittime mencatat transaksi Tokenized US Stocks tumbuh 2,5 kali lipat pada Juli 2026, seiring meningkatnya minat investor Indonesia terhadap Real World Assets (RWA) dan aset digital global. Ondo Finance menilai pertumbuhan RWA didorong kebutuhan investor terhadap aset yang transparan, aman, dan berkualitas, sementara kepastian regulasi menjadi faktor penting bagi perkembangan RWA di Indonesia.

Bittime, sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mencatat peningkatan transaksi Tokenized US Stocks pada Juli 2026. Peningkatan tersebut sebesar 2,5 kali lipat dibandingkan Juni 2026.

Tren tersebut mencerminkan meningkatnya minat investor Indonesia terhadap instrumen investasi global berbasis blockchain dan sejalan dengan perkembangan pasar Real World Assets (RWA) yang terus bertumbuh di tingkat global.

Senior Director Asia Pacific Ondo Finance, Rania Rahardja, mengatakan nilai pasokan stablecoin global kini telah mencapai sekitar US$300 miliar, sementara nilai pasar RWA telah menyentuh US$30 miliar. Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan aset yang ditokenisasi, termasuk Tokenized US Stock.

Minat Investor Indonesia terhadap RWA Terus Meningkat

Menurut Rania, pertumbuhan RWA didorong oleh perubahan perilaku investor yang kini semakin selektif dalam memilih instrumen investasi. Investor tidak lagi hanya mengejar imbal hasil tinggi, tetapi juga mulai memperhatikan transparansi, keamanan, serta kualitas aset yang menjadi dasar investasinya.

“Investor kini semakin memahami dari mana imbal hasil berasal dan bagaimana aset tersebut dikelola. Perkembangan stablecoin juga membuka jalan bagi tokenisasi aset lain seperti US Treasury dan saham Amerika Serikat,” ujar Rania.

Rania menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu pasar penting bagi perkembangan RWA di Asia Tenggara. Menurutnya, kepastian regulasi menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan investor sekaligus membuka ruang bagi inovasi di industri aset digital.

“Indonesia memiliki pendekatan regulasi yang cukup progresif dibandingkan beberapa negara lain di Asia Tenggara. Kehadiran platform aset digital yang telah berizin menunjukkan komitmen regulator dalam membangun ekosistem yang sehat sekaligus memberikan kepercayaan bagi masyarakat untuk mengakses inovasi seperti Tokenized US Stock,” katanya.

Bittime Perluas Akses Tokenized US Stock

Bittime menilai pandangan Ondo Finance tersebut menunjukkan Indonesia semakin diperhitungkan dalam perkembangan industri aset digital global. Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, mengatakan kepastian regulasi dan meningkatnya minat investor menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan RWA di Indonesia.

“Kami sependapat bahwa kepastian regulasi menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan industri. Dengan ekosistem yang semakin matang serta regulasi dan pengawasan yang semakin kuat, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pasar utama RWA di kawasan,” ujar Ryan.

Ryan mengatakan tren global tersebut juga mulai tercermin pada aktivitas pengguna Bittime. Transaksi Tokenized US Stocks di Bittime tumbuh 2,5 kali lipat pada Juli 2026 dibandingkan Juni 2026, menunjukkan meningkatnya minat investor lokal terhadap aset global.

Sejalan dengan meningkatnya minat tersebut, kolaborasi Bittime dan Ondo Finance saat ini telah menghadirkan 20 Tokenized US Stocks di Bittime. Beberapa di antaranya mencakup SpaceX (SPCXON), Coinbase (COINON), AMD (AMDON), Amazon (AMZNON), dan Microsoft (MSFTON).

“Pertumbuhan transaksi Tokenized US Stocks sebesar 2,5 kali lipat menunjukkan meningkatnya minat investor lokal terhadap aset global. Lima Tokenized US Stocks yang paling banyak diminati di Bittime adalah SPCX, NVDA, CRCL, MSTR, dan AAPL,” kata Ryan.

Ryan menambahkan, meningkatnya aktivitas perdagangan tersebut juga didukung fitur Flexible Earn dengan hadiah hingga 7% untuk Tokenized AI Stocks. 

Ryan mengatakan Bittime akan terus mengembangkan ekosistem investasi digital agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan investasi melalui aset digital, seperti Tokenized US Stock, serta fitur spot, futures, dan staking dalam satu platform yang terdaftar dan diawasi OJK.

“Kami ingin semakin banyak masyarakat Indonesia dapat mengakses peluang investasi global secara lebih mudah, aman, dan bertanggung jawab,” tutup Ryan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Dulu Diajarkan Menabung, Kini Saatnya Belajar Membuat Uang Bertumbuh

Selama puluhan tahun, banyak keluarga Indonesia tumbuh dengan satu nasihat yang hampir selalu sama: rajin menabung dan hidup hemat. Prinsip tersebut menjadi fondasi pengelolaan keuangan lintas generasi. Bahkan, gerakan “Ayo Menabung” yang diperkenalkan sejak era Orde Baru ikut membentuk budaya bahwa menyimpan uang di bank merupakan langkah utama untuk mempersiapkan masa depan.

Namun, memasuki 2026, cara pandang generasi muda terhadap uang mulai berubah. Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya mental health, work-life balance, dan menikmati hasil kerja, banyak anak muda memilih menyeimbangkan kebutuhan masa kini dengan pengalaman hidup yang mereka anggap bermakna. Tren seperti self-reward, healing, hingga soft life yang ramai di media sosial pun turut memengaruhi cara generasi muda memaknai kesuksesan dan kebahagiaan.

Menurut Chief Marketing Officer (CMO) Nanovest, Jovita Widjaja, perubahan tersebut bukanlah sesuatu yang salah. Setiap generasi memiliki tantangan ekonomi yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda pula dalam mengelola keuangan.

“Saya setuju bahwa menjaga kesehatan mental dan menikmati hasil kerja itu penting. Kita bekerja bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk menikmati hidup. Namun di saat yang sama, kita juga perlu memastikan bahwa keputusan finansial hari ini tidak mengorbankan masa depan kita.”

Sebagai profesional yang telah berkecimpung di industri investasi dan sekuritas selama lebih dari 14 tahun, sekaligus ibu dari dua anak perempuan, Jovita melihat bahwa financial literacy kini bukan lagi sekadar memahami produk investasi. Lebih dari itu, literasi finansial telah menjadi life skill yang membantu seseorang mengambil keputusan keuangan secara lebih bijak di setiap fase kehidupan.

Menabung Tetap Penting, Tetapi Perlu Diimbangi dengan Investasi

Menurut Jovita, kebiasaan menabung tetap menjadi fondasi pengelolaan keuangan. Namun, di tengah kenaikan biaya hidup dan inflasi, tabungan saja sering kali belum cukup untuk membantu seseorang mencapai tujuan finansial jangka panjang.

“Menabung adalah langkah pertama yang sangat penting. Tetapi jika tujuan kita adalah mempersiapkan pendidikan anak, membeli rumah, atau mencapai kebebasan finansial, maka kita juga perlu memahami bagaimana uang dapat bertumbuh melalui investasi yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan masing-masing.”

Ia menilai masih banyak masyarakat yang terlalu fokus mencari instrumen investasi terbaik, tetapi belum memahami kondisi keuangan mereka sendiri. Padahal, investasi yang sehat selalu dimulai dari pengelolaan cash flow yang baik.

Mulai dari Memahami Kondisi Keuangan hingga Menentukan Profil Risiko

Bagi Jovita, investasi tidak selalu dimulai dari modal besar, melainkan dari pemahaman terhadap kondisi keuangan dan kemampuan mengenali profil risiko masing-masing.

Karena itu, edukasi finansial perlu dibuat lebih sederhana dan relevan dengan kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda yang baru memulai karier. Salah satu upaya tersebut dilakukan Nanovest melalui Kalkulator Gaji Bersih & Rencana Investasi. Melalui fitur ini, pengguna dapat menghitung estimasi gaji bersih setelah berbagai potongan, kemudian memperoleh rekomendasi alokasi dana yang lebih proporsional untuk kebutuhan harian, dana darurat, hingga investasi.

Lebih dari itu, pengguna juga dapat langsung mengeksplorasi pilihan produk investasi yang sesuai dengan profil risikonya, mulai dari konservatif, moderat, hingga agresif, lengkap dengan simulasi potensi hasil investasi berdasarkan jangka waktu yang dipilih.

“Banyak orang ingin mulai berinvestasi, tetapi bingung memilih produk yang sesuai dengan kondisi keuangan dan tingkat kenyamanan mereka terhadap risiko. Karena itu, langkah pertama bukan hanya memahami berapa penghasilan bersih yang dimiliki, tetapi juga mengenali profil risiko. Dengan begitu, masyarakat dapat memilih instrumen investasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan tujuan finansialnya, bukan sekadar mengikuti tren,” jelas Jovita.

Menurutnya, pendekatan yang praktis seperti ini membantu masyarakat mengambil keputusan investasi dengan lebih percaya diri karena didasarkan pada kondisi finansial dan profil risiko masing-masing, sehingga kebiasaan berinvestasi dapat dibangun secara lebih realistis dan berkelanjutan.

Menjadi Perempuan yang Mandiri Secara Finansial

Di luar perannya sebagai eksekutif, Jovita juga membawa nilai yang sama dalam mendidik kedua anak perempuannya. Ia percaya perempuan perlu memiliki kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri, termasuk dalam hal mengelola keuangan.

“Saya ingin anak-anak saya tumbuh menjadi perempuan yang mandiri dan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Salah satu bekal terpenting adalah memahami cara mengelola uang dan mulai mengenal investasi sejak dini.”

Meski demikian, ia menegaskan bahwa menikmati hidup dan mempersiapkan masa depan bukanlah dua pilihan yang saling bertentangan.

“Menurut saya, work-life balance dan perencanaan keuangan bisa berjalan beriringan. Kita tetap bisa menikmati hidup hari ini, selama kita juga disiplin menyisihkan sebagian penghasilan untuk masa depan.”

Financial Literacy Adalah Bekal untuk Semua Generasi

Bagi Jovita, tujuan financial literacy bukan menjadikan semua orang investor profesional, melainkan membantu masyarakat mengambil keputusan keuangan yang lebih baik dalam setiap fase kehidupan.

“Kalau dulu orang tua mengajarkan kita untuk rajin menabung, maka tantangan generasi sekarang adalah belajar membuat uang ikut bertumbuh. Dengan begitu, kita tidak hanya siap menghadapi kebutuhan hari ini, tetapi juga lebih siap mewujudkan impian di masa depan.”

Menurutnya, perubahan zaman menuntut perubahan cara berpikir. Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, kemampuan mengelola uang dengan bijak bukan lagi sekadar pengetahuan tambahan, melainkan keterampilan hidup yang akan menentukan kualitas hidup seseorang di masa depan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

KAI BANDARA CATAT 1,56 JUTA PENUMPANG KA BANDARA YIA HINGGA JULI 2026

PT Railink atau KAI Bandara mencatat kinerja positif layanan KA Bandara YIA sepanjang Januari hingga Juli 2026. Dalam periode tersebut, sebanyak 1,56 juta penumpang telah menggunakan layanan KA Bandara YIA untuk mendukung mobilitas masyarakat dari dan menuju Bandara Internasional Yogyakarta (YIA).

Dari total tersebut, sebanyak 1 juta penumpang merupakan pengguna layanan KA Bandara YIA PSO, sementara 506 ribu penumpang menggunakan layanan KA Bandara YIA Xpress. Tingginya jumlah pengguna menunjukkan bahwa layanan KA Bandara YIA terus menjadi salah satu pilihan transportasi masyarakat yang mengutamakan kemudahan, kenyamanan, serta kepastian waktu perjalanan menuju dan dari Bandara YIA.

“Capaian lebih dari 1,5 juta penumpang hingga Juli 2026 menunjukkan bahwa masyarakat terus memberikan kepercayaan terhadap layanan KA Bandara YIA. Kami akan terus memastikan kualitas layanan, ketepatan waktu, keamanan, dan kenyamanan perjalanan agar KA Bandara dapat menjadi pilihan utama masyarakat dalam mendukung mobilitas menuju dan dari Bandara Internasional Yogyakarta,” ujar Porwanto Handry Nugroho – Direktur Utama PT Railink.

Untuk memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat, KAI Bandara secara konsisten menyediakan perjalanan dengan frekuensi yang cukup tinggi. Saat ini, KAI Bandara mengoperasikan sebanyak 50 perjalanan KA Bandara YIA setiap hari, yang terdiri dari 26 perjalanan KA Bandara YIA Xpress dan 24 perjalanan KA Bandara YIA PSO.

KA Bandara YIA Xpress hadir sebagai pilihan bagi masyarakat yang membutuhkan waktu tempuh lebih cepat, sementara KA Bandara YIA PSO memberikan alternatif transportasi publik yang terjangkau bagi masyarakat. Dengan pilihan layanan tersebut, KAI Bandara berupaya menghadirkan layanan transportasi yang dapat mengakomodasi beragam kebutuhan pelanggan.

KAI Bandara juga terus melakukan evaluasi dan peningkatan kualitas pelayanan di seluruh aspek operasional. Hal ini dilakukan untuk memastikan perjalanan pelanggan berlangsung dengan aman, nyaman, tepat waktu, dan memberikan pengalaman perjalanan yang semakin baik.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal, tarif, dan pemesanan tiket KAI Bandara, masyarakat dapat mengakses situs resmi PT Railink di www.railink.co.id, atau melalui media sosial resmi di Instagram @kabandararailink, Facebook @KABandaraRailink, Twitter @KAIBandara, serta melalui email di humas@railink.co.id

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Dari YIA ke Pusat Kota Yogyakarta, Kini Makin Mudah Naik KAI Bandara

PT Railink (KAI Bandara) terus meningkatkan layanan transportasi publik di Yogyakarta melalui penyesuaian jadwal dan pilihan tarif KA Bandara YIA. Penyesuaian layanan yang berlaku sejak 1 Juli 2026 ini memberikan lebih banyak pilihan waktu perjalanan bagi masyarakat dan wisatawan yang menuju maupun dari Yogyakarta International Airport (YIA).

KA Bandara YIA melayani dua pilihan layanan, yaitu KA Bandara YIA Reguler dan KA Bandara YIA Xpress. Layanan Reguler melayani perjalanan dengan pemberhentian di Stasiun Wates, sedangkan KA Bandara YIA Xpress melayani perjalanan langsung dari Stasiun Yogyakarta menuju YIA tanpa berhenti di Stasiun Wates.

Untuk keberangkatan dari Stasiun Yogyakarta menuju Bandara YIA, layanan tersedia mulai pukul 04.20 WIB hingga 20.12 WIB. Sementara itu, perjalanan dari Bandara YIA menuju Stasiun Yogyakarta tersedia mulai pukul 05.16 WIB hingga 21.30 WIB. Dengan rentang waktu operasional tersebut, masyarakat memiliki lebih banyak alternatif untuk menyesuaikan perjalanan kereta dengan jadwal penerbangan maupun aktivitas lainnya.

Dari sisi tarif, KA Bandara YIA Reguler ditawarkan dengan tarif Rp10.000 untuk relasi Yogyakarta–Wates dan Rp20.000 untuk perjalanan menuju atau dari Bandara YIA. Sementara itu, KA Bandara YIA Xpress tersedia dengan tarif mulai Rp50.000. KAI Bandara juga menyediakan YIA Xpress Flexi dengan tarif mulai Rp80.000, yang dilengkapi akses khusus ke VIP Lounge.

Direktur Utama PT Railink, Porwanto Handry Nugroho, mengatakan bahwa penyesuaian jadwal dan pilihan tarif tersebut merupakan bagian dari komitmen KAI Bandara untuk menghadirkan layanan yang semakin adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.

“KAI Bandara terus berupaya menghadirkan layanan yang memberikan kemudahan, kenyamanan, dan kepastian waktu bagi masyarakat. Dengan jadwal perjalanan yang semakin fleksibel sejak dini hari hingga malam hari serta pilihan tarif yang beragam, kami berharap KA Bandara YIA dapat menjadi moda transportasi utama bagi masyarakat dan wisatawan dalam mendukung perjalanan menuju maupun dari Bandara YIA.”

Ia menambahkan, peningkatan layanan KA Bandara YIA juga menjadi bagian dari upaya memperkuat konektivitas antarmoda sekaligus mendukung mobilitas masyarakat, pariwisata, dan pertumbuhan ekonomi di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dengan waktu tempuh yang efisien dan perjalanan yang bebas dari kepadatan lalu lintas, KA Bandara YIA menjadi salah satu pilihan transportasi bagi masyarakat yang membutuhkan akses antara pusat Kota Yogyakarta dan Bandara YIA.

Masyarakat dapat melakukan pemesanan tiket melalui aplikasi Access by KAI, aplikasi KA Bandara, laman reservasi resmi KAI Bandara, serta kanal penjualan resmi lainnya. Penumpang diimbau untuk selalu mengecek jadwal dan ketersediaan tiket sebelum melakukan perjalanan, terutama dengan menyesuaikan waktu keberangkatan kereta dengan jadwal penerbangan.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal, tarif, dan pemesanan tiket KAI Bandara, masyarakat dapat mengakses situs resmi PT Railink di www.railink.co.id, atau melalui media sosial resmi di Instagram @kabandararailink, Facebook @KABandaraRailink, Twitter @KAIBandara, serta melalui email di humas@railink.co.id

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

IFG Life Bukukan Laba Bersih Rp482 Miliar, Catatkan Pertumbuhan Kinerja Operasional pada 2025

Jakarta, 12 Agustus 2026 – PT Asuransi Jiwa IFG (IFG Life), anggota IFG, BUMN holding asuransi, penjaminan, dan investasi, mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun 2025. Secara konsolidasi, IFG Life membukukan laba bersih Rp482,12 miliar, meningkat 162,9% dibanding tahun 2024. Pendapatan jasa asuransi juga tumbuh 11,7% menjadi Rp6,56 triliun, dengan total aset mencapai Rp32,84 triliun serta Risk-Based Capital (RBC) sebesar 180,16%, jauh di atas ketentuan minimum yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pencapaian tersebut mencerminkan fundamental perusahaan yang semakin kuat, didukung oleh pertumbuhan bisnis yang sehat, pengelolaan investasi yang prudent, serta penerapan manajemen risiko dan tata kelola perusahaan yang baik. Kinerja positif ini juga menjadi wujud komitmen IFG Life dalam menjaga keberlanjutan perusahaan sekaligus memastikan seluruh kewajiban kepada pemegang polis dipenuhi secara bertanggung jawab.

Direktur Keuangan Merangkap Plt. Direktur Utama IFG Life, Ryan Diastana Firman, menyatakan bahwa kinerja positif sepanjang 2025 merupakan hasil dari konsistensi IFG Life dalam memperkuat fondasi bisnis dan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan usaha dengan pengelolaan risiko.

“Kami meyakini bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui fundamental perusahaan yang kuat. Karena itu, kami terus memperkuat kualitas bisnis, menerapkan tata kelola yang baik, serta mengelola investasi dan risiko secara prudent. Kinerja 2025 menjadi cerminan dari upaya tersebut, sekaligus memperkuat kemampuan perusahaan untuk terus memenuhi komitmen kepada seluruh pemegang polis dan menghadirkan perlindungan yang relevan di setiap tahap kehidupan masyarakat Indonesia,” ujar Ryan.

Kualitas kinerja operasional IFG Life tetap terjaga melalui pengelolaan portofolio bisnis yang disiplin, strategi investasi yang terukur, serta fokus perusahaan dalam menciptakan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. Penerapan PSAK 117 bagi industri asuransi jiwa pada 2025 juga menjadi momentum bagi IFG Life untuk terus meningkatkan transparansi dan kualitas pelaporan keuangan perusahaan.

IFG Life akan terus memperkuat fundamental bisnis melalui inovasi produk dan layanan, kolaborasi strategis dengan berbagai mitra, serta pengelolaan investasi yang prudent. IFG Life percaya bahwa kinerja perusahaan yang sehat mencerminkan pertumbuhan bisnis dan menjadi fondasi untuk membangun kepercayaan masyarakat.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Menuju Model Pembiayaan Baru Jalan Tol, Kepastian Investasi Perlu Diperkuat

ATI Tekankan Pentingnya Penyempurnaan Regulasi untuk Menjaga Keseimbangan antara Kualitas Pelayanan, Kepastian Investasi, dan Keberlanjutan Infrastruktur.

Jakarta (12/08), Upaya mengurangi ketergantungan pembangunan jalan tol terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan memperbesar peran swasta membutuhkan dukungan ekosistem investasi yang sehat dan berkelanjutan. Kepastian regulasi menjadi salah satu faktor kunci agar investasi di sektor jalan tol tetap menarik, sekaligus memberikan kepastian dalam perencanaan dan pengambilan investasi jangka panjang bagi investor.

Hal tersebut yang menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) yang bertemakan “Penyelarasan Ekosistem Infrastruktur Jalan Tol untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan” yang diselenggarakan Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI), Rabu (12/8). FGD ini membahas berbagai isu strategis dalam pengusahaan jalan tol sekaligus membuka ruang dialog konstruktif, strategis dan solutif antara lintas pemangku kepentingan untuk menyelaraskan kebijakan regulasi, menjaga kelayakan iklim investasi, termasuk kebutuhan untuk mendorong model pembiayaan yang lebih berkelanjutan dengan memperbesar peran investasi swasta serta meningkatkan kualitas pelayanan jalan tol yang optimal bagi masyarakat.

Menteri Pekerjaan Umum Ir. Dody Hanggodo menyampaikan pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam membangun infrastruktur jalan tol yang berkelanjutan.

“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Pemerintah, Badan Usaha Jalan Tol, dunia usaha, asosiasi, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan harus bergerak dalam arah yang sama. FGD ini adalah ruang untuk menyatukan langkah, bukan sekadar menyamakan pandangan. Karena yang kita sambungkan bukan hanya jalan, tetapi menyambungkan produksi dengan pasar, investasi dengan pekerjaan, dan pertumbuhan dengan kesejahteraan,” ujar Dody.

Pembahasan dalam FGD mencakup berbagai topik termasuk investasi jalan tol yang bankable dan sustainable, kepastian dalam pengusahaan, konsistensi terhadap Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT), mekanisme penyesuaian tarif, penerapan prinsip fair risk sharing, serta pengelolaan berbagai perubahan dan dinamika usaha yang menjadi bagian dari upaya bersama untuk menjaga kepercayaan investor dan lembaga pembiayaan. Berbagai isu seperti integrasi jalan tol, pemanfaatan ruang milik jalan tol, TIP, hingga penerapan MLFF juga dibahas secara kolaboratif dengan mempertimbangkan kondisi jaringan, kebutuhan pelayanan, struktur pembiayaan, dan keberlanjutan investasi.

Mantan Kepala BAPPENAS dan Menteri Keuangan Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, S.E., M.U.P., Ph.D., yang sekarang menjabat sebagai Dean & CEO ADB Institute mengatakan bahwa pembangunan jalan tol memiliki manfaat ekonomi yang jauh lebih luas dari sekadar penyediaan infrastruktur transportasi.

“Di tengah kebutuhan pembangunan yang besar dan ruang fiskal yang perlu dikelola secara optimal, keterlibatan swasta menjadi semakin penting. Karena itu, kita perlu membangun model pembiayaan dan ekosistem pengusahaan yang mampu menarik investasi jangka panjang, sekaligus memastikan manfaat pembangunan jalan tol dapat dirasakan oleh masyarakat dan perekonomian secara luas,” ucap Bambang.

Sementara itu, Mantan Menteri Keuangan Dr. M. Chatib Basri, Visiting Scholar di Harvard CID dan Visiting Professor in Practice di London School of Economics memberikan tanggapannya. Menurutnya di tengah kondisi APBN yang sangat ketat saat ini, partisipasi swasta dalam pembangunan dan pembiayaan infrastruktur akan menjadi sangat penting.

“Sangat boleh jadi, APBN kita tidak memiliki ruang, bukan saja untuk membiayai infrastruktur, tetapi juga untuk memberikan insentif fiskal bagi pelaku usaha. Oleh karena itu, untuk menarik minat dan partisipasi swasta, yang dapat dilakukan adalah melakukan deregulasi, kemudahan perizinan dan yang sangat penting adalah memastikan bahwa pemerintah dan otoritas terkait senantiasa memenuhi komitmen yang telah disepakati dan mengikat dalam kontrak yang telah ditandatangani dengan pemegang konsesi. Terlebih lagi, untuk menarik investor asing yang punya kebebasan memilih untuk menempatkan modalnya di mana saja, tentunya kita harus dapat memberikan penawaran yang lebih menarik dibandingkan negara lain,” jelas Chatib Basri.

Di sisi lain, Kepala Kajian Transportasi, Real Estate, dan Studi Perkotaan, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Muhammad Halley Yudhistira, Ph.D., juga turut memberikan pandangannya dalam FGD ini.

“Pengembangan jaringan jalan tol memberikan manfaat ekonomi yang besar, dan manfaat tersebut meningkat sebanding dengan skala jaringan yang terbangun. Namun laju realisasi pembangunan saat ini masih jauh dibawah kebutuhan untuk mencapai target tersebut. Karena kebutuhan modalnya melampaui kapasitas pembiayaan publik, percepatan pembangunan bergantung pada peran swasta. Karena itu, mendorong ekosistem jalan tol yang sehat menjadi penting agar peran swasta dapat dioptimalkan secara berkesinambungan” ujar Yudhistira.

Saat ini, panjang jaringan tol beroperasi melebihi 3.115 km dengan nilai akumulasi investasi yang menembus Rp668 triliun hingga diproyeksikan mendekati Rp1.000 triliun, oleh karenanya industri jalan tol memegang peran vital sebagai tulang punggung konektivitas dan pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan demikian, pengembangan industri jalan tol perlu berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pelayanan dan keselamatan bagi masyarakat.

Ketua Umum ATI Rivan A. Purwantono menyampaikan bahwa industri jalan tol kini telah bertransformasi dari sekadar penyedia infrastruktur fisik menjadi bagian dari ekosistem transportasi dan pembangunan nasional yang berperan dalam mobilitas masyarakat, distribusi logistik, pertumbuhan ekonomi, serta pengembangan wilayah. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pelayanan dan keselamatan pengguna jalan harus berjalan selaras dengan keberlanjutan iklim investasi melalui penyelarasan arah kebijakan bersama.

“Orientasi kami di ATI adalah mewujudkan industri jalan tol yang terus meningkatkan kualitas pelayanan publik, memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi, serta didukung oleh iklim investasi yang sehat dan tata kelola yang efektif. Pada akhirnya, dengan dukungan Pemerintah dan kolaborasi yang baik, kita ingin membangun ekosistem jalan tol yang menciptakan nilai secara berkelanjutan bagi pengguna jalan, negara, maupun pelaku industri. Forum hari ini merupakan langkah awal yang perlu kita tindak lanjuti secara konkret, baik melalui pembentukan working group maupun penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) secara berkala. Berbagai perspektif dan masukan berharga hari ini menjadi modal penting untuk menyelaraskan langkah serta memperkuat ekosistem jalan tol nasional yang berkelanjutan,” ujar Rivan.

Pelaksanaan FGD ini mempertegas peran ATI sebagai mitra strategis Pemerintah dalam membangun iklim investasi jalan tol yang sehat dan transparan. ATI berkomitmen menciptakan ekosistem jalan tol yang mampu menciptakan nilai berkelanjutan bagi pengguna jalan, negara, maupun industri sebagai bagian dari pembangunan nasional.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Jaga Kedaulatan Mineral Nasional, Tata Kelola Emas Jadi Kunci Peningkatan Nilai Tambah

JAKARTA – Indonesia memiliki cadangan emas yang besar dan menempati posisi keempat dunia menurut Bank Sentral. Posisi strategis ini mampu menjadi tonggak kedaulatan mineral nasional dengan tata kelola yang optimal.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat kebutuhan emas domestik mencapai sekitar 190-200 ton per tahun. Namun, besarnya potensi cadangan emas saat ini belum sepenuhnya diimbangi dengan pasokan emas yang masuk melalui jalur formal. Pasokan emas dari jalur formal baru berada di kisaran 53,5-86,2 ton per tahun.
Kesenjangan tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk memperkuat tata kelola dan mengintegrasikan rantai pasok emas nasional ke dalam sistem yang formal, transparan, dan terstandardisasi.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno mengatakan, salah satu persoalan yang masih ditemukan dalam tata kelola emas nasional adalah adanya penjualan emas yang terindikasi ilegal.
“Jadi memang ada beberapa catatan untuk emas ini memang yang mungkin teridentifikasi ada beberapa penjualan yang tanda petik ilegal gitu ya,” kata Tri dalam dalam forum MINDialogue: Komoditas untuk Negeri, Strategi Penguatan Cadangan Mineral untuk Stabilitas dan Kedaulatan Ekonomi RI, di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Di sisi lain, sektor Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) dan pertambangan rakyat memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap pasokan emas nasional. Produksi dari sektor tersebut diperkirakan mencapai 50-120 ton per tahun, atau mendekati volume pasokan yang berasal dari jalur formal.
Tri mengatakan pemerintah tengah berupaya memperbaiki tata kelola pertambangan rakyat dengan memfasilitasi penambang yang selama ini teridentifikasi sebagai penambang liar untuk memperoleh izin melalui mekanisme Izin Pertambangan Rakyat (IPR).
“Nah untuk ke depan seperti apa, untuk perbaikan tata kelola dan lain sebagainya sebetulnya untuk kementerian ESDM mencoba untuk memfasilitasi adanya penambang yang teridentifikasi sebagai penambang liar untuk diberikan izin melalui mekanisme IPR,” tambah Tri.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu mengatakan, tantangan Indonesia bukan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan kekayaan sumber daya alam mampu memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi bangsa.
“Hampir semua diversifikasi sumber daya kita ada, sumber daya alam ya. Kita punya gas, kita punya minyak, di apa sektor maritim, agrikultur, hampir semua range ada dan kita juga punya apa namanya kekuatan stok cadangan yang sangat mumpuni. Tetapi persoalannya adalah bagaimana kita bisa menciptakan value yang lebih besar terhadap kekuatan sumber daya alam yang kita miliki,” kata Todotua.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menilai pengelolaan cadangan mineral, khususnya emas, bukan sekadar persoalan ekonomi. Menurut dia, pengelolaan mineral juga berkaitan dengan kepentingan nasional dalam menjaga keamanan, kedaulatan, ketahanan ekonomi, dan kesejahteraan rakyat.
“Sumber daya mineral harus dikelola secara strategis, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945, yakni demi kemandirian dan kedaulatan pengelolaannya,” terang Maroef.
Menurut Maroef, masih terdapat sejumlah aspek yang perlu diperkuat dalam tata kelola emas nasional. Hal itu mencakup pengelolaan pertambangan rakyat, keterlacakan (traceability) rantai pasok bijih, hingga penguatan ekosistem perdagangan hasil tambang agar terhubung dengan jalur formal.
MIND ID menilai pembenahan tersebut perlu dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan sinergi lintas institusi, mulai dari pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat.
Transformasi tata kelola cadangan mineral, kata Maroef, perlu dilakukan di setiap simpul utama proses bisnis pertambangan, mulai dari sektor hulu, menengah (midstream), hingga hilir.
Di sektor hulu, MIND ID mendorong formalisasi pertambangan rakyat melalui IPR yang didukung harmonisasi regulasi dan pembinaan teknis secara berkelanjutan.
Langkah tersebut diharapkan membuat aktivitas pertambangan rakyat berjalan lebih tertib dan aman sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Sementara di sektor menengah (midstream), pengolahan bijih perlu diperkuat melalui kehadiran lembaga agregator berbadan hukum yang mampu menjamin keterlacakan rantai pasok menuju sistem formal.
Melalui skema tersebut, perusahaan yang ditunjuk dapat berperan sebagai pembina teknis sekaligus pembeli siaga (offtaker) untuk memastikan hasil tambang memenuhi standar yang dipersyaratkan.
Penguatan tata kelola dari hulu hingga midstream selanjutnya diharapkan meningkatkan pasokan bahan baku yang masuk ke rantai pasok formal. Hal ini akan memperkuat produktivitas industri pengolahan dan pemurnian emas nasional, memperluas akses masyarakat terhadap produk emas yang terstandardisasi, serta mendukung penguatan ekosistem bullion nasional.
MIND ID meyakini perbaikan tata kelola emas tidak hanya akan meningkatkan nilai tambah dan efisiensi rantai pasok, tetapi juga memastikan kekayaan emas Indonesia memberikan manfaat yang lebih besar bagi negara dan masyarakat.
Pada akhirnya, penguatan tata kelola emas nasional menjadi bagian dari upaya membangun kedaulatan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan rantai pasok yang terhubung secara legal, transparan, dan terintegrasi dari hulu hingga hilir, Indonesia dapat meningkatkan aktivitas ekonomi sekaligus memperkuat kemampuan dalam menjaga nilai strategis kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan kedaulatan negara.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Aplikasi Kasir POST Bantu Tingkatkan Efisiensi Operasional Bisnis

Aplikasi POS yang tepat membantu UMKM mengelola transaksi, stok, dan laporan secara lebih efisien. Pilih sistem yang mudah digunakan, fleksibel, dan mampu mendukung pertumbuhan bisnis.

Digitalisasi mendorong semakin banyak pelaku UMKM beralih dari pencatatan manual ke aplikasi POS (Point of Sale) untuk mengelola operasional bisnis. Tidak hanya membantu mencatat transaksi, sistem POS kini mampu mengelola stok, menerima pembayaran digital, hingga menyajikan laporan penjualan secara real-time dalam satu platform.

Bagi UMKM, penggunaan aplikasi POS membantu mengurangi kesalahan pencatatan, mempercepat proses transaksi, serta memudahkan pemilik usaha memantau kondisi bisnis tanpa harus selalu berada di lokasi.

Efisiensi Operasional Jadi Alasan Utama Adopsi POS

Kebutuhan bisnis yang terus berkembang membuat sistem manual semakin sulit dipertahankan, terutama ketika jumlah transaksi meningkat atau usaha mulai membuka cabang baru. Dengan aplikasi POS berbasis cloud, data transaksi, stok, dan laporan dapat terhubung dalam satu dashboard sehingga operasional menjadi lebih efisien.

Selain itu, dukungan pembayaran digital seperti QRIS, laporan otomatis, serta kemampuan berjalan secara offline menjadi fitur yang semakin dibutuhkan pelaku usaha di berbagai sektor, mulai dari retail, kuliner, salon, hingga laundry.

Memilih POS yang Sesuai Kebutuhan Bisnis

Selain fitur, pelaku UMKM juga perlu mempertimbangkan model harga dan kemudahan penggunaan. Sistem yang mudah dioperasikan, fleksibel mengikuti pertumbuhan bisnis, serta memiliki dukungan pelanggan yang responsif akan membantu proses digitalisasi berjalan lebih lancar.

Bagi bisnis yang berencana melakukan ekspansi, model harga berbasis paket (tier) juga dinilai lebih efisien dibanding biaya tambahan untuk setiap outlet baru.

Teknologi yang Mendukung Pertumbuhan UMKM

Pemanfaatan aplikasi POS bukan lagi sekadar mengikuti tren digitalisasi, tetapi menjadi investasi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha. Dengan data yang lebih akurat dan operasional yang terintegrasi, pelaku UMKM dapat mengambil keputusan bisnis dengan lebih cepat.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, POST menghadirkan aplikasi POS yang dirancang untuk UMKM, retail, dan bisnis F&B. Melalui satu platform, pelaku usaha dapat mengelola transaksi, stok, pembayaran QRIS, hingga laporan penjualan secara real-time dengan sistem yang mudah digunakan dan siap mendukung bisnis bertumbuh.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Dupoin Futures Soroti Potensi Pelemahan Harga Emas (XAUUSD) Setelah Reli Dua Bulan

Pergerakan harga emas (XAUUSD) diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas tinggi pada perdagangan hari Kamis (13/8). Berdasarkan analisis terbaru dari Dupoin Futures, peluang koreksi jangka pendek mulai terlihat setelah harga gagal mempertahankan momentum kenaikan di area resistance penting. Meski demikian, prospek emas (XAUUSD) secara fundamental masih relatif positif karena permintaan terhadap aset safe haven tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

Menurut analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, pelaku pasar perlu mencermati sinyal teknikal yang mulai menunjukkan pelemahan, sembari tetap memperhatikan perkembangan faktor fundamental yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan harga.

Dalam kajian teknikal Dupoin Futures, emas (XAUUSD) pada time frame H4 memperlihatkan indikasi bahwa momentum bullish mulai kehilangan tenaga. Salah satu sinyal yang menjadi perhatian adalah terjadinya false break pada area resistance 4.433. Harga sempat menembus level tersebut, tetapi tidak mampu bertahan dan akhirnya kembali bergerak di bawah resistance. Pola seperti ini sering diartikan sebagai indikasi bahwa tekanan beli mulai melemah dan pasar belum memiliki kekuatan yang cukup untuk melanjutkan reli dalam waktu dekat.

Menurut Geraldo Kofit, kegagalan harga mempertahankan posisi di atas resistance membuka peluang terbentuknya pola Double Top, yaitu salah satu pola pembalikan arah yang cukup sering digunakan dalam analisis teknikal. Pola tersebut muncul ketika harga dua kali gagal melewati level puncak yang sama, sehingga mengindikasikan mulai berkurangnya dominasi buyer. Apabila pola ini terkonfirmasi melalui pergerakan harga berikutnya, maka peluang koreksi diperkirakan akan semakin besar.

Selain pola harga, indikator Stochastic juga memberikan sinyal yang mendukung skenario pelemahan. Dalam analisis Dupoin Futures, indikator tersebut menunjukkan potensi Bearish Divergence, yakni kondisi ketika harga masih berada di area tinggi tetapi momentum pada indikator justru mulai menurun. Perbedaan arah antara harga dan indikator tersebut umumnya menjadi tanda bahwa tren naik mulai kehilangan kekuatan sehingga risiko koreksi dalam jangka pendek meningkat.

Dengan mempertimbangkan beberapa sinyal teknikal tersebut, Dupoin Futures memproyeksikan bahwa harga emas (XAUUSD) berpeluang bergerak turun menuju area support 4.359 hingga 4.313. Zona tersebut dipandang sebagai area penting yang berpotensi menjadi tempat munculnya kembali minat beli apabila tekanan jual mulai mereda. Oleh karena itu, pelaku pasar disarankan untuk memperhatikan respons harga ketika memasuki area support tersebut sebelum menentukan strategi transaksi berikutnya.

Meskipun peluang koreksi mulai terbuka, Dupoin Futures menilai bahwa pelemahan yang berpotensi terjadi masih bersifat teknikal dan belum menjadi sinyal perubahan tren utama. Koreksi seperti ini merupakan bagian yang wajar setelah harga mengalami kenaikan yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Selama tidak terjadi perubahan besar pada sentimen pasar maupun struktur teknikal jangka menengah, peluang tren bullish untuk kembali berlanjut masih tetap ada.

Dari sisi fundamental, prospek harga emas (XAUUSD) masih memperoleh dukungan dari perkembangan ekonomi global. Salah satu sentimen positif datang dari data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat yang dirilis sesuai dengan ekspektasi pasar. Hasil tersebut mengurangi kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Berkurangnya ekspektasi pengetatan kebijakan moneter menjadi kabar baik bagi emas karena dapat mengurangi tekanan terhadap aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Selain faktor inflasi, kondisi geopolitik juga masih menjadi pendorong utama permintaan terhadap aset safe haven. Ketidakpastian yang berkaitan dengan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia, masih menjadi perhatian investor internasional. Risiko terhadap kelancaran distribusi energi global membuat sebagian pelaku pasar tetap memilih menempatkan dana pada instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk emas (XAUUSD).

Dupoin Futures juga menyoroti bahwa harga emas (XAUUSD) masih berada di level tertinggi dalam lebih dari dua bulan terakhir. Posisi tersebut menunjukkan bahwa tren jangka menengah masih memiliki fondasi yang cukup kuat meskipun dalam jangka pendek muncul peluang aksi ambil untung atau profit taking. Kondisi seperti ini lazim terjadi setelah harga mengalami reli yang cukup panjang dan mencapai area resistance penting.

Ke depan, perhatian pasar diperkirakan masih akan tertuju pada perkembangan kebijakan The Fed, arah pergerakan dolar AS, serta dinamika geopolitik global. Ketiga faktor tersebut diperkirakan akan menjadi penentu utama apakah koreksi yang terjadi hanya bersifat sementara atau berkembang menjadi pelemahan yang lebih dalam. Selain itu, perubahan pada imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga tetap menjadi indikator penting yang dapat memengaruhi minat investor terhadap emas.

Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai bahwa harga emas (XAUUSD) masih didukung oleh fundamental yang relatif positif berkat meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga dan tetap tingginya permintaan terhadap aset safe haven. Namun, dari sisi teknikal, munculnya false break di area 4.433, potensi pola Double Top, serta sinyal Bearish Divergence pada indikator Stochastic menunjukkan bahwa ruang koreksi dalam jangka pendek semakin terbuka. Oleh karena itu, Dupoin Futures memproyeksikan emas (XAUUSD) berpotensi menguji area support 4.359 hingga 4.313 sebelum pasar kembali menentukan arah tren berikutnya. Trader dan investor disarankan tetap disiplin dalam menerapkan manajemen risiko serta mencermati konfirmasi pergerakan harga agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih terukur.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES