Lebih dari Sekadar Tempat Menginap: Bagaimana Hotel dan Komunitas Lokal Dapat Menciptakan Pengalaman Wisata yang Lebih Bermakna

Indonesia, 5 June 2026 – Seiring Indonesia terus mencatat pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara, preferensi wisatawan juga mengalami perubahan. Kini, semakin banyak pelancong yang tidak hanya tertarik mengunjungi destinasi populer atau ikon wisata terkenal, tetapi juga mencari pengalaman yang lebih autentik, personal, dan dekat dengan budaya lokal.

Perubahan ini menghadirkan peluang baru bagi industri hospitality. Hotel tidak lagi hanya berperan sebagai tempat menginap, tetapi juga dapat menjadi jembatan yang menghubungkan wisatawan dengan masyarakat, tradisi, dan budaya yang menjadi identitas sebuah destinasi.

Koneksi Dengan Komunitas Lokal Semakin Bernilai

Meningkatnya minat terhadap wisata berbasis pengalaman mendorong banyak wisatawan untuk mengenal destinasi secara lebih mendalam. Kuliner khas daerah, tradisi budaya, kerajinan lokal, hingga interaksi langsung dengan masyarakat setempat kini menjadi bagian penting dalam pengalaman berwisata.

Di tengah persaingan yang semakin ketat untuk menarik wisatawan internasional, destinasi yang mampu menawarkan pengalaman yang autentik dan bermakna berpotensi memiliki daya tarik yang lebih kuat. Bagi hotel, kondisi ini membuka peluang untuk memperluas peran mereka, tidak hanya sebagai penyedia akomodasi tetapi juga sebagai penghubung antara wisatawan dan pengalaman lokal.

“Banyak destinasi saat ini bersaing untuk menarik wisatawan internasional yang sama. Yang membedakan sebuah pengalaman menginap sering kali bukan hanya hotelnya, melainkan pengalaman yang diperoleh tamu di luar properti. Kami melihat semakin besarnya peluang bagi hotel untuk berkolaborasi dengan komunitas lokal dalam menghadirkan pengalaman yang berkesan, autentik, dan memberikan manfaat bagi wisatawan maupun masyarakat setempat,” ujar Chandra Himawan, Head of Marketing & Communications, Marclan International. 

Dari Penyedia Akomodasi Menjadi Penghubing Destinasi

Hotel sering kali menjadi titik interaksi pertama wisatawan ketika tiba di sebuah destinasi. Posisi ini memberikan kesempatan bagi hotel untuk memperkenalkan berbagai pengalaman yang mungkin tidak ditemukan wisatawan melalui jalur wisata konvensional.

Beragam aktivitas seperti wisata kuliner, lokakarya kerajinan tradisional, pertunjukan budaya, kunjungan ke pasar lokal, tur sejarah, hingga eksplorasi desa wisata dapat memperkaya pengalaman tamu sekaligus membantu mereka memahami budaya dan kehidupan masyarakat setempat secara lebih mendalam.

Seiring meningkatnya minat terhadap pengalaman yang autentik, kemampuan hotel untuk menghubungkan tamu dengan karakter unik sebuah destinasi dapat menjadi salah satu nilai pembeda yang semakin penting.

Menciptakan Nilai Bersama bagi Komunitas dan Destinasi

Kolaborasi antara hotel dan komunitas lokal juga dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi perkembangan destinasi. Kemitraan dengan pemandu wisata lokal, pengrajin, pelaku UMKM, komunitas budaya, maupun desa wisata dapat membuka peluang ekonomi tambahan sekaligus meningkatkan eksposur terhadap budaya dan tradisi setempat.

Di sisi lain, wisatawan memperoleh pengalaman yang lebih personal dan berkesan, sehingga mampu membangun hubungan yang lebih kuat dengan destinasi yang mereka kunjungi.

Pendekatan ini mencerminkan semakin berkembangnya pemahaman bahwa keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari kualitas pengalaman yang tercipta dan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat lokal.

Menatap Masa Depan Pariwisata yang Lebih Bermakna

Seiring pertumbuhan industri pariwisata Indonesia, ekspektasi wisatawan diperkirakan akan terus berkembang. Semakin banyak pelancong yang mencari pengalaman yang menghadirkan koneksi budaya, keaslian, dan pemahaman yang lebih mendalam terhadap suatu destinasi.

Dalam konteks ini, peluang terbesar bagi industri hospitality mungkin tidak hanya terletak pada kemampuan memberikan layanan yang berkualitas, tetapi juga pada perannya dalam membantu wisatawan menjelajahi destinasi secara lebih bermakna. Dengan memperkuat kemitraan bersama komunitas lokal, hotel dapat berkontribusi pada terciptanya pengalaman wisata yang lebih kaya sekaligus mendukung pertumbuhan pariwisata yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Harga Emas Masih Dibayangi Tekanan Jual, Peluang Pelemahan Jangka Pendek Tetap Terbuka

Pergerakan harga emas dunia masih menunjukkan kecenderungan melemah pada perdagangan hari Jumat (5/6). Meskipun sempat mengalami kenaikan dalam beberapa sesi sebelumnya, tren utama yang terbentuk di pasar masih mengarah ke bawah. Analisis Dupoin Futures oleh Geraldo Kofit menunjukkan bahwa XAU/USD pada timeframe H4 masih berada dalam tekanan bearish, sehingga peluang penurunan lanjutan masih perlu diantisipasi oleh pelaku pasar.

Dari sisi teknikal, harga emas saat ini belum mampu keluar dari tekanan yang muncul setelah fase koreksi naik atau secondary trend berakhir. Kondisi tersebut terlihat dari pergerakan harga yang kembali tertahan di area Moving Average (MA) 21 dan MA 50. Kedua indikator tersebut masih berfungsi sebagai resistance dinamis yang membatasi ruang kenaikan harga.

Ketidakmampuan emas menembus area resistance tersebut menjadi sinyal bahwa kekuatan pembeli masih belum cukup besar untuk mengubah arah tren yang sedang berlangsung. Sebaliknya, tekanan dari pihak penjual masih terlihat dominan dan membuat harga kembali bergerak turun setelah sempat mencoba menguat.

Menurut analisis Dupoin Futures, kondisi ini diperkuat oleh terbentuknya swing high baru pada grafik H4. Dalam analisis teknikal, terbentuknya swing high setelah fase kenaikan biasanya menjadi tanda bahwa pasar masih berada dalam tren turun. Artinya, setiap kenaikan yang terjadi sejauh ini masih lebih banyak dimanfaatkan sebagai momentum jual dibandingkan awal terbentuknya tren naik baru.

Tekanan bearish tersebut terlihat semakin jelas pada sesi perdagangan pagi ketika harga bergerak turun dengan cukup cepat. Pergerakan ini menunjukkan bahwa minat jual masih mendominasi pasar dan belum ada sinyal kuat yang mengindikasikan perubahan tren dalam waktu dekat.

Sementara itu, indikator stochastic juga masih memberikan sinyal yang sejalan dengan pergerakan harga. Indikator ini bergerak turun menuju area oversold atau jenuh jual. Walaupun area oversold sering dianggap sebagai wilayah yang berpotensi memicu rebound, kondisi saat ini menunjukkan bahwa momentum penurunan masih cukup kuat dan belum memberikan konfirmasi pembalikan arah yang signifikan.

Selama harga tetap bergerak di bawah area resistance yang dibentuk oleh MA 21 dan MA 50, skenario pelemahan masih menjadi fokus utama pasar. Oleh karena itu, pelaku pasar cenderung akan tetap berhati-hati dan menunggu sinyal teknikal yang lebih kuat sebelum mempertimbangkan peluang pembalikan tren.

Selain faktor teknikal, sentimen fundamental juga masih memberikan tekanan terhadap harga emas. Investor global saat ini masih mencermati berbagai perkembangan ekonomi yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter dan pergerakan pasar keuangan secara keseluruhan.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah ketidakpastian terkait prospek pertumbuhan ekonomi global. Meskipun sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perbaikan, pasar masih menilai terdapat berbagai risiko yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi ini membuat investor cenderung bersikap selektif dalam mengambil keputusan investasi.

Di sisi lain, ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga juga masih menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan harga emas. Pasar masih memperkirakan bahwa bank sentral akan mempertahankan kebijakan moneter yang relatif ketat untuk menjaga stabilitas inflasi. Harapan tersebut membuat instrumen berbasis imbal hasil tetap menarik di mata investor.

Dalam kondisi suku bunga yang tinggi, emas sering kali menghadapi tantangan karena tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen pendapatan tetap lainnya. Akibatnya, sebagian investor memilih mengalihkan dana ke aset yang menawarkan potensi return lebih tinggi, sehingga permintaan terhadap emas menjadi lebih terbatas.

Pelaku pasar juga menaruh perhatian besar terhadap berbagai data ekonomi yang akan dirilis dalam waktu dekat. Data terkait inflasi, tenaga kerja, hingga pertumbuhan ekonomi akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan bank sentral selanjutnya. Jika data-data tersebut menunjukkan kondisi ekonomi yang masih kuat, maka peluang suku bunga bertahan di level tinggi akan semakin besar dan dapat memberikan tekanan tambahan bagi harga emas.

Secara keseluruhan, kombinasi antara sinyal teknikal yang masih negatif dan sentimen fundamental yang belum sepenuhnya mendukung membuat prospek emas dalam jangka pendek masih cenderung bearish. Dominasi tekanan jual, posisi harga yang masih berada di bawah MA 21 dan MA 50, serta belum munculnya sinyal pembalikan arah yang kuat menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan investor.

Dengan kondisi tersebut, pergerakan harga emas masih berisiko melanjutkan pelemahan dalam beberapa sesi mendatang. Pelaku pasar disarankan untuk tetap memantau perkembangan ekonomi global, arah kebijakan bank sentral, serta dinamika pasar keuangan yang dapat memengaruhi sentimen terhadap logam mulia. Selama belum ada katalis baru yang cukup kuat untuk mengubah arah pergerakan, tekanan bearish diperkirakan masih akan menjadi tema utama dalam perdagangan emas.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

ITSM Perkuat Posisi sebagai Kampus Inovatif melalui Kemitraan Strategis dengan Positive Technologies pada Kazan Forum 2026

Institut Teknologi dan Sains Mandala (ITSM) resmi menjalin kemitraan strategis dengan Positive Technologies, perusahaan keamanan siber terkemuka asal Rusia, dalam rangkaian Forum Ekonomi Internasional Russia–Islamic World: Kazan Forum 2026. Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) ini menjadi tonggak penting dalam upaya ITSM memperluas jejaring akademik internasional sekaligus memperkuat perannya dalam pengembangan teknologi digital, keamanan siber, ekonomi digital, dan inovasi berbasis keberlanjutan di Indonesia.

Kerja sama tersebut merupakan bagian dari penguatan kolaborasi
pendidikan dan teknologi antara Rusia dan sejumlah perguruan tinggi Indonesia.
Selain ITSM, program kemitraan ini juga melibatkan beberapa institusi
pendidikan tinggi nasional, antara lain Universitas Padjadjaran, Universitas
Pendidikan Indonesia, Politeknik Manufaktur Bandung, dan Universitas Darul Ma’arif.
Kehadiran berbagai perguruan tinggi dalam kolaborasi ini menunjukkan semakin
besarnya perhatian terhadap pengembangan ekosistem pendidikan cybersecurity
yang mampu menjawab kebutuhan industri dan tantangan global yang terus
berkembang.

Melalui kemitraan ini, ITSM berupaya memperkuat kapasitas pendidikan,
penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia di bidang teknologi informasi
dan keamanan digital. Di tengah meningkatnya ancaman terhadap infrastruktur
digital, kebutuhan akan tenaga profesional yang memiliki kompetensi cybersecurity
menjadi semakin mendesak. Oleh karena itu, kerja sama dengan Positive
Technologies diharapkan membuka akses yang lebih luas bagi mahasiswa dan dosen
untuk memperoleh pengalaman internasional, peningkatan kompetensi teknis, serta
pemahaman mengenai praktik terbaik dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan
digital modern.

Ketua Yayasan Institut Teknologi dan Sains Mandala
(ITSM) Jember, Prof. Dr. Kahar Muzakhar
, menyampaikan bahwa kemitraan ini merupakan langkah strategis dalam
meningkatkan kualitas pendidikan berbasis teknologi sekaligus memperluas
kolaborasi internasional.

“ITSM Jember menyambut baik kerja sama strategis
dengan Positive Technologies. Kolaborasi ini menjadi peluang penting bagi kami
untuk memperkuat pendidikan, riset, dan pengembangan talenta digital, khususnya
di bidang cybersecurity. Kami
berharap kerja sama ini dapat memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa, dosen,
serta ekosistem akademik ITSM dalam menghadapi kebutuhan industri yang terus
berkembang,”
ujarnya.

Sementara itu, Direktur Regional
Asia Tenggara Positive Technologies, Elena Grishaeva
, menegaskan bahwa
Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan sumber daya manusia di
bidang keamanan siber.

“Kami melihat Indonesia memiliki peluang yang sangat
besar untuk menjadi salah satu pusat pengembangan talenta cybersecurity di
kawasan. Melalui kemitraan dengan ITSM Jember, kami berharap dapat berbagi
pengalaman, pengetahuan, serta praktik industri yang mampu mendukung lahirnya
generasi profesional keamanan siber yang siap menghadapi tantangan transformasi
digital global,”
ungkapnya.

Lebih dari sekadar penguatan bidang keamanan digital, kerja sama ini
juga mendukung visi ITSM sebagai perguruan tinggi yang berorientasi pada
pengembangan teknologi, sains terapan, digital economy, kecerdasan buatan (Artificial
Intelligence
), teknologi biomasa, energi terbarukan, smart agriculture,
ketahanan pangan, dan pembangunan berkelanjutan. Melalui integrasi berbagai
bidang tersebut, ITSM berkomitmen menghasilkan inovasi yang mampu menjawab
tantangan masa depan sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Dalam era ekonomi digital yang semakin terhubung, keamanan siber menjadi
fondasi penting yang menjamin keandalan sistem, perlindungan data,
keberlangsungan transaksi, serta stabilitas berbagai aktivitas ekonomi berbasis
teknologi. Oleh karena itu, cybersecurity tidak lagi dipandang sebagai
isu teknis semata, melainkan sebagai salah satu faktor strategis yang mendukung
daya saing bangsa dalam menghadapi transformasi ekonomi global.

Keterkaitan tersebut semakin relevan dengan fokus ITSM dalam
pengembangan riset biomasa, energi terbarukan, dan teknologi pertanian modern.
Saat ini, pengelolaan biomasa tidak hanya mengandalkan pendekatan konvensional,
tetapi juga memanfaatkan berbagai teknologi digital seperti Internet of
Things
(IoT), sensor pintar, komputasi awan, kecerdasan buatan, dan
analisis data untuk meningkatkan efisiensi proses produksi serta pengambilan
keputusan. Keamanan sistem dan data menjadi aspek penting untuk memastikan
bahwa inovasi tersebut dapat berkembang secara aman, andal, dan berkelanjutan.

Penguatan kapasitas cybersecurity juga membuka peluang bagi
percepatan hilirisasi riset dan inovasi berbasis biomasa. Pengelolaan data
penelitian, pengembangan teknologi proses, hingga integrasi rantai pasok
industri biomasa memerlukan infrastruktur digital yang aman dan terpercaya.
Dengan dukungan sistem keamanan yang kuat, hasil-hasil penelitian memiliki
peluang lebih besar untuk ditransformasikan menjadi produk dan layanan bernilai
tambah yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat maupun dunia usaha.

Di sektor pertanian, penerapan teknologi digital telah mendorong
lahirnya konsep smart and precise agriculture yang memungkinkan
pengelolaan lahan secara lebih efektif dan efisien. Pemanfaatan sensor
lapangan, drone, citra satelit, dan analitik berbasis kecerdasan buatan
membantu meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi penggunaan sumber daya.
Integrasi teknologi tersebut tidak hanya mendukung modernisasi sektor
pertanian, tetapi juga berkontribusi terhadap penguatan ketahanan pangan
nasional melalui pengambilan keputusan yang lebih cepat, tepat, dan berbasis
data.

Selain mendukung hilirisasi biomasa, penguatan keamanan digital juga
dapat meningkatkan kepercayaan industri dan investor terhadap pengembangan
teknologi berbasis energi terbarukan dan ekonomi digital. Perlindungan data,
keamanan kekayaan intelektual, serta keandalan sistem operasional menjadi
faktor penting dalam menciptakan ekosistem inovasi yang kompetitif dan
berkelanjutan.

ITSM memandang bahwa cybersecurity, digital economy, biomasa,
ketahanan pangan, dan kemandirian energi merupakan elemen yang saling terhubung
dalam membangun ekosistem pembangunan masa depan. Integrasi berbagai bidang
tersebut diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang tidak hanya memberikan
manfaat akademik, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi dan sosial yang nyata
bagi masyarakat.

Partisipasi ITSM dalam Kazan Forum 2026 juga memberikan kesempatan untuk
memperluas wawasan global, membangun jejaring akademik dan industri
internasional, serta menjajaki peluang kolaborasi multidisiplin antara
Indonesia dan Rusia. Forum ini menjadi sarana strategis bagi ITSM untuk
mempelajari perkembangan terkini di bidang cybersecurity, digital economy,
energi terbarukan, teknologi biomasa, kecerdasan buatan, dan pertanian modern
yang saat ini menjadi fokus pembangunan berbagai negara.

Melalui kemitraan dengan Positive Technologies, ITSM menegaskan
komitmennya untuk menjadi pusat unggulan pengembangan cybersecurity, digital
economy
, biomasa, dan teknologi berkelanjutan. Sinergi ini diharapkan tidak
hanya menghasilkan sumber daya manusia yang kompetitif di tingkat global,
tetapi juga melahirkan inovasi yang mampu memperkuat ketahanan pangan,
mendorong kemandirian energi berbasis biomasa, serta meningkatkan daya saing
Indonesia dalam menghadapi tantangan ekonomi dan teknologi masa depan.
Kolaborasi ini sekaligus menegaskan peran ITSM sebagai institusi pendidikan
yang aktif berkontribusi dalam pembangunan nasional melalui integrasi ilmu
pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang berkelanjutan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Membangun Bisnis Sejak Kuliah: Kisah Mahasiswa BINUS @Bandung Kembangkan Potensi sebagai Entrepreneur

Bandung, 5 Juni 2026 – Perjalanan karier seseorang sering kali dimulai dari pengalaman yang dibangun selama masa perkuliahan. Tidak hanya melalui pembelajaran akademik di kelas, tetapi juga lewat keterlibatan langsung dalam aktivitas bisnis, pengembangan soft skills, serta pengalaman praktis yang relevan dengan dunia industri. Dalam konteks ini, pendidikan tinggi memegang peran penting dalam menyiapkan mahasiswa agar memiliki kesiapan yang matang sebelum memasuki dunia profesional.

Hal tersebut tercermin dalam perjalanan Rachel Monica, mahasiswa Program Studi Creativepreneurship BINUS @Bandung (B26), menunjukkan bagaimana pengalaman selama masa kuliah dapat menjadi titik awal yang menentukan dalam membangun karier sebagai entrepreneur. Sejak awal, Rachel telah memiliki ketertarikan pada dunia kewirausahaan dan aktif mengembangkan potensinya di bidang bisnis. Ketertarikan ini kemudian diperkuat melalui berbagai kesempatan yang ia ambil selama perkuliahan, hingga akhirnya mengantarkannya pada peran sebagai Chief Financial Officer (CFO) di bisnis yang ia jalankan, yaitu PT Divija Raya Ambareesha, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang arsitektur, desain interior, dan konstruksi.

Keberhasilan tersebut tidak terjadi secara instan, melainkan berawal dari pengalaman yang ia peroleh melalui Enrichment Program BINUS @Bandung pada Track Entrepreneur. Melalui track ini, Rachel tidak hanya mempelajari teori bisnis, tetapi juga langsung terlibat dalam proses membangun dan menjalankan usaha. Pengalaman tersebut menjadi fondasi utama yang membentuk pemahamannya terhadap dinamika industri, melatih kemampuan pengambilan keputusan, serta membangun kepercayaan diri dalam mengelola bisnis secara nyata. Dari proses inilah Rachel mampu mengembangkan bisnisnya secara bertahap hingga mencapai posisinya saat ini. Dengan kata lain, keterlibatannya dalam Track Entrepreneur menjadi salah satu faktor kunci yang membuka jalan dan mendorong keberhasilannya dalam membangun bisnis secara profesional.

Lebih dari sekadar memperoleh pengetahuan akademik, Rachel merasakan bahwa lingkungan belajar di BINUS @Bandung memberikan ruang untuk berkembang secara menyeluruh. Dukungan dari dosen, pengalaman belajar yang aplikatif, serta kesempatan untuk mengembangkan bisnis sejak dini menjadi faktor penting dalam membentuk karakter profesionalnya.

Rachel pun menilai bahwa proses pembelajaran yang dijalani selama kuliah memberikan dampak nyata terhadap pengembangan dirinya, baik secara keterampilan maupun pola pikir. “Selama menjalani perkuliahan di BINUS @Bandung, saya tidak hanya belajar mengenai teori, tetapi juga memahami bagaimana mengaplikasikan ilmu tersebut dalam situasi nyata. Saya diajarkan pentingnya time management dalam mengatur berbagai tanggung jawab, bagaimana mengelola keuangan dengan lebih bijak, serta mengembangkan berbagai soft skills seperti komunikasi, problem solving. Semua pembelajaran tersebut menjadi bekal yang sangat relevan dalam menghadapi dinamika dunia kerja saat ini.” ujar Rachel.

Peran Rachel di dunia industri saat ini tidak terlepas dari pembelajaran yang ia dapatkan selama menempuh pendidikan di Program Studi Creativepreneurship BINUS @Bandung. Sebagai salah satu program studi unggulan, Creativepreneurship dirancang untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai bisnis, kreativitas, dan strategi pengembangan usaha di era modern. Selama masa studi, mahasiswa tidak hanya dibekali wawasan teori, tetapi juga dikenalkan pada potensi diri serta peluang yang paling relevan dengan kebutuhan industri. Pendekatan ini membantu mahasiswa memahami arah pengembangan karier sejak dini, sekaligus membangun kesiapan untuk terjun langsung ke dunia profesional.

Hal tersebut mencerminkan peran BINUS @Bandung sebagai Creative Technology & Entrepreneurship Campus sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Kota Bandung, yang secara konsisten menghadirkan pengalaman belajar yang mengintegrasikan kreativitas, teknologi, dan kewirausahaan. Lingkungan pembelajaran yang adaptif dan berbasis praktik mendorong mahasiswa untuk mengembangkan potensi secara optimal, tidak hanya sebagai profesional, tetapi juga sebagai individu yang mampu menciptakan nilai dan peluang. Melalui pendekatan ini, BINUS @Bandung terus berkomitmen untuk mencetak generasi yang siap berkontribusi di industri, sekaligus mendorong lahirnya talenta yang berdaya saing di tingkat nasional maupun global.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Melalui PT RPN, Holding Perkebunan Nusantara Hidupkan Kembali Kawasan Heritage P3GI sebagai Pusat Edukasi dan Ekonomi

PASURUAN – PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN), entitas dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), terus menghidupkan kembali kawasan bersejarah Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) sebagai pusat edukasi dan penggerak ekonomi berbasis heritage.

Melalui penataan kawasan cagar budaya dan pengembangan museum gula, PT RPN mendorong pemanfaatan warisan sejarah tidak hanya sebagai objek pelestarian, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran publik dan sumber nilai tambah bagi masyarakat.

Upaya tersebut diperkuat melalui kegiatan bertema “Adaptif Bangunan Gedung Cagar Budaya untuk Mendukung Kesejahteraan Masyarakat” yang diselenggarakan melalui sinergi dan kolaborasi bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur di kompleks P3GI, Pasuruan.

Kegiatan tersebut melibatkan pemerintah daerah, akademisi, serta pegiat pelestarian budaya dalam membahas strategi pemanfaatan kawasan heritage secara berkelanjutan.

Kepala P3GI, Aris Lukito, mengatakan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari peran strategis PT RPN sebagai holding knowledge di sektor perkebunan.

“Kami ingin P3GI tidak hanya menjadi pusat penelitian, tetapi juga tempat edukasi sejarah dan teknologi gula,” ujar Aris.

Sejak ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Pasuruan pada 2020 dan meningkat menjadi cagar budaya tingkat provinsi pada 2021, kawasan P3GI terus dikembangkan secara bertahap. Sejak 2023, revitalisasi difokuskan pada penguatan fungsi edukasi melalui museum gula serta pengelolaan kawasan berbasis pelestarian.

Pengakuan terhadap nilai historis dan intelektual P3GI juga semakin menguat, ditandai dengan arsip sejarahnya yang telah memperoleh pengakuan Memory of the World (MoW) tingkat provinsi dan tengah diajukan ke UNESCO.

Pemerintah daerah turut mengapresiasi langkah tersebut. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan, Agus Budi Darmawan, menyebut P3GI sebagai model pemanfaatan cagar budaya yang produktif. “P3GI menjadi contoh bagaimana bangunan cagar budaya dapat dirawat dan dimanfaatkan untuk edukasi masyarakat serta generasi muda,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Cagar Budaya dan Sejarah Disbudpar Jawa Timur, Satria Devi Kurniawan, menegaskan bahwa keberhasilan pelestarian terletak pada kemampuannya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. “Cagar budaya bukan hanya tentang menjaga bangunan lama, tetapi bagaimana kawasan tersebut bisa hidup, bermanfaat, dan mendukung kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.

Melalui sinergi antara PT RPN, pemerintah, dan para pemangku kepentingan lainnya, kawasan P3GI diharapkan dapat menjadi model nasional dalam pengelolaan heritage yang adaptif, produktif, dan berkelanjutan, sekaligus menghubungkan warisan masa lalu dengan kebutuhan masa depan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

PetroSync Supports Continuous Learning for Energy and Oil & Gas Professionals

PetroSync supports continuous learning for energy and oil & gas professionals through practical technical training programs that improve competency, operational performance, and industry adaptability.

Workforce Development Challenges Continue to Affect Energy Operations

Rapid Industry Changes Create New Competency Gaps

The energy sector continues to move through major operational and regulatory changes. New sustainability targets, digital monitoring systems, and carbon reduction initiatives now affect daily engineering decisions across many oil and gas projects.

Unfortunately, workforce competency does not always grow at the same pace. Many companies still rely on internal knowledge transfers that often vary between teams and locations. As experienced personnel retire or move into new roles, technical gaps become harder to close quickly.

For engineering teams, this situation creates real pressure in the field. Professionals are expected to understand new operational standards while still handling existing production responsibilities safely and efficiently.

Limited Technical Updates Reduce Operational Readiness

In many operations, engineers work under tight schedules with limited opportunities for structured learning. Training often becomes secondary when projects face deadlines, shutdown schedules, or operational disruptions.

Over time, this creates a visible gap between industry developments and workforce readiness. Teams may continue using outdated approaches simply because they rarely receive updated exposure from industry practitioners or external specialists.

This challenge becomes more noticeable during audits, project transitions, or implementation of newer technologies. Small misunderstandings in procedures or operational concepts can eventually slow decision-making and affect overall coordination between departments.

Companies Face Pressure to Build More Adaptive Engineering Teams

Today’s engineering workforce is expected to be more adaptive than ever before. Companies no longer look only for technical experience, but also for professionals who can quickly respond to operational changes and emerging industry trends.

HR and talent development teams now face growing pressure to prepare employees for long-term industry transformation. This is especially relevant as energy companies continue investing in sustainability-focused projects and operational improvements.

Without continuous competency development, organizations risk building teams that struggle to keep up with changing operational expectations. In highly competitive industries, delayed adaptation often affects both workforce confidence and long-term project readiness.

Continuous Learning Helps Strengthen Workforce Competency

Practical Training Supports Faster Adaptation to Industry Changes

Practical learning environments often help engineers understand industry changes faster compared to self-learning alone. Discussions with instructors and fellow professionals also provide broader perspectives from real operational cases.

Programs like Carbon Capture and Storage Training give professionals opportunities to understand emerging energy initiatives within practical industry contexts. Instead of learning only from reports or online summaries, participants can explore how these developments may affect operational planning and workforce requirements directly.

For many professionals, structured training also becomes a valuable space to reconnect technical knowledge with actual field situations.

Standardized Learning Helps Reduce Technical Knowledge Gaps

One of the common challenges inside engineering teams is inconsistent technical understanding between departments or locations. Different operational backgrounds often lead to varying interpretations of procedures and standards.

Standardized learning programs help reduce this gap by creating more aligned technical discussions among professionals. When teams receive updated information through structured training, communication during projects usually becomes more efficient and practical.

This alignment becomes especially important during cross-functional collaboration where operations, maintenance, inspection, and engineering departments must work closely together.

Continuous Development Supports Modern Carbon Capture and Storage Initiatives

Many companies have started discussing sustainability initiatives more seriously, especially in relation to emissions reduction and long-term operational transition. One topic receiving growing attention is Carbon Capture and Storage, particularly as global energy industries continue balancing operational performance with environmental responsibilities.

However, adopting newer initiatives requires more than infrastructure investment alone. Workforce understanding also plays a major role in supporting implementation readiness.

Professionals who regularly participate in industry learning programs often adapt faster when companies introduce newer operational frameworks or sustainability-focused projects.

Stronger Competency Helps Teams Respond to Evolving Operational Demands

Continuous learning does not only support technical understanding. It also improves confidence when professionals face operational changes, project discussions, or unfamiliar industry requirements.

Engineers who actively update their competencies usually contribute more effectively during problem-solving situations. They can connect industry trends with operational realities more clearly and communicate recommendations with stronger reasoning.

For companies, this creates a more adaptive workforce that is better prepared for long-term operational challenges and industry transitions.

PetroSync Supports Long-Term Learning for Energy Professionals

Training Programs Are Designed Around Current Industry Challenges

As industry requirements continue evolving, training providers also need to stay aligned with operational realities. Professionals today prefer learning environments that are practical, relevant, and connected to actual industry conditions.

Many training programs now focus on helping participants understand both technical updates and broader operational impacts. Real case discussions, industry examples, and collaborative learning environments often create stronger engagement compared to purely theoretical sessions.

This approach becomes increasingly valuable for professionals balancing operational responsibilities with continuous competency development.

Flexible Learning Solutions Help Professionals Improve Technical Readiness

One common obstacle for workforce development is scheduling flexibility. Engineering professionals often manage demanding workloads, making it difficult to attend long-term academic programs.

Flexible industry-focused training solutions help bridge this gap by providing shorter and more focused learning opportunities. Professionals can improve technical readiness without significantly disrupting operational responsibilities.

For many participants, these programs also become opportunities to exchange experiences with peers facing similar operational challenges across different energy sectors.

PetroSync Supports Sustainable Workforce Development Across Energy Industries

As energy industries continue adapting to operational and sustainability demands, workforce development remains one of the most important long-term investments. Companies increasingly recognize that strong operational performance depends heavily on how quickly teams can learn and adapt.

Through industry-focused training programs, PetroSync continues supporting professionals who want to strengthen their competency and stay relevant within evolving energy operations. Rather than focusing only on technical theory, the learning approach emphasizes practical industry relevance that professionals can connect directly to workplace situations.

For organizations and individuals alike, continuous learning is no longer optional. It has become part of maintaining operational readiness in an industry that continues changing year after year.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES