Holding Perkebunan Nusantara Perluas Akses Minyak Goreng Terjangkau, 600 Kemasan Ludes dalam Sejam di Bazar PT INL

SURABAYA – Antusiasme masyarakat terhadap minyak goreng berkualitas dengan harga terjangkau terlihat dalam bazar yang digelar PT Industri Nabati Lestari (INL), anak usaha PTPN IV PalmCo, Sub Holding PTPN III (Persero), yang digelar di kawasan Kota Tua Surabaya, Minggu (7/6/2026). Ratusan kemasan minyak goreng yang disediakan habis terjual hanya dalam waktu sekitar satu jam.

Kegiatan bazar tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan memperluas akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok sekaligus memperkuat jaringan distribusi minyak goreng di Jawa Timur. Sebelumnya, PT Industri Nabati Lestari bersama PTPN IV PalmCo telah meresmikan fasilitas pengemasan minyak goreng (filling line) di kawasan Pelabuhan Kalimas, Tanjung Perak, Surabaya.

Dalam kegiatan tersebut, perusahaan menyediakan 600 kemasan minyak goreng ukuran 900 mililiter yang dijual dengan harga Rp15.000 per kemasan. Harga tersebut berada di bawah rata-rata harga minyak goreng premium di pasaran.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan keberadaan fasilitas pengemasan di Surabaya diharapkan dapat memperpendek rantai distribusi sekaligus meningkatkan efisiensi penyaluran produk ke wilayah Indonesia bagian tengah dan timur.

“Melalui kerja sama distribusi dan pengemasan di Surabaya, kami berupaya meningkatkan efisiensi rantai pasok sehingga pasokan minyak goreng lebih terjaga dan masyarakat dapat memperoleh produk berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau,” kata Jatmiko.

Menurutnya, Surabaya dipilih karena memiliki posisi strategis sebagai salah satu simpul distribusi logistik nasional. Dengan pengemasan yang lebih dekat ke pasar tujuan, biaya distribusi dapat ditekan sehingga berdampak positif terhadap stabilitas pasokan dan harga di tingkat konsumen.

Tingginya minat masyarakat terlihat sejak pagi hari. Antrean warga telah terbentuk sebelum bazar dimulai. Para pembeli berasal dari berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga, masyarakat yang berolahraga di kawasan Kota Tua, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Titi, warga Wonocolo, mengaku tertarik membeli karena harga yang ditawarkan lebih terjangkau dibandingkan produk sejenis yang biasa dibelinya.

“Saya sedang jogging, lalu melihat ada bazar minyak goreng. Kemasannya praktis dan harganya terjangkau, jadi saya ikut mengantre,” katanya.

Hal serupa disampaikan Ani, warga Surabaya yang datang bersama rombongan ibu-ibu PKK. Menurutnya, kualitas produk menjadi salah satu pertimbangan utama selain harga yang kompetitif.

“Saya melihat minyaknya jernih dan kemasannya bagus. Karena harganya juga terjangkau, banyak yang langsung membeli,” ujarnya.

Bagi pelaku UMKM, harga bahan baku yang lebih rendah dinilai dapat membantu menekan biaya produksi. Sari Siregar, pedagang makanan keliling asal Krembangan Selatan, mengatakan selisih harga minyak goreng memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap keuntungan usaha kecil.

“Kalau ada minyak goreng yang kualitasnya baik dan harganya lebih murah, tentu sangat membantu pedagang kecil seperti kami,” tuturnya.

PTPN IV PalmCo terus memperkuat hilirisasi produk sawit dan memperluas jaringan distribusi guna mendekatkan produk kepada konsumen. Langkah tersebut sejalan dengan strategi Holding Perkebunan Nusantara dalam meningkatkan nilai tambah industri sawit nasional sekaligus memastikan ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat dapat terpenuhi secara lebih merata.

Keberhasilan bazar di Surabaya juga menjadi indikasi tingginya kebutuhan masyarakat terhadap minyak goreng berkualitas dengan harga terjangkau. Di tengah dinamika harga bahan pangan, akses terhadap produk kebutuhan pokok yang mudah dijangkau dan berkualitas tetap menjadi perhatian utama konsumen.

Melalui penguatan jaringan distribusi dan hilirisasi industri sawit, PTPN IV PalmCo bersama Holding Perkebunan Nusantara terus berupaya menghadirkan produk yang lebih dekat dengan masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan dan stabilitas pasokan nasional.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Pelopor Pendidikan Accounting Berbasis Technology di Indonesia, School of Accounting BINUS University Raih Top 4 QS World University Rankings by Subject

JAKARTA, 19 Juni 2026 – Perkembangan Artificial Intelligence (AI), automation, dan digital transformation kini semakin mengubah cara industri keuangan dan akuntansi bekerja. Profesi akuntan yang sebelumnya identik dengan pembukuan dan administrasi keuangan kini berkembang menjadi mitra strategi bisnis yang dituntut memiliki kemampuan literasi teknologi, berpikir analitis, serta mendukung pengambilan keputusan bisnis.

Transformasi ini mendorong perusahaan untuk mencari lulusan akuntansi yang tidak hanya memahami laporan keuangan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan ekosistem digital dan perkembangan teknologi yang terus berubah. Perubahan tersebut juga mulai memengaruhi cara orang tua dan calon mahasiswa memandang pendidikan tinggi. Di tengah perubahan industri yang berlangsung cepat, muncul pertanyaan mengenai relevansi jurusan akuntansi di masa depan serta bagaimana institusi pendidikan dapat mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja yang semakin terdigitalisasi.

Kebutuhan terhadap talenta akuntansi yang memahami teknologi pun terus meningkat. Deloitte Center for Controllership mencatat lebih dari 80 persen profesional finance dan accounting percaya bahwa AI akan menjadi tools utama dalam profesi accounting dalam lima tahun ke depan. Sementara itu, studi KPMG Digitalization in Accounting 2025/2026 menunjukkan 53 persen perusahaan telah menggunakan AI dalam accounting atau sedang mempersiapkan implementasinya.

Sejalan dengan itu, adopsi teknologi di sektor ini juga terus meningkat secara signifikan. Data dari Intuit 2025 Technology Survey menunjukkan bahwa 64 persen accounting firms berencana meningkatkan investasi pada AI dalam satu tahun ke depan, sementara 95 persen telah mengotomatisasi setidaknya satu fungsi operasional mereka. Di sisi lain, penelitian “Future-Ready Digital Skills in the AI Era” menemukan adanya kesenjangan keterampilan yang cukup signifikan antara kebutuhan industri accounting dan kesiapan lulusan, terutama pada aspek digital capability, AI literacy, dan technology-related competencies.

Rangkaian temuan tersebut menunjukkan satu hal yang semakin jelas: transformasi di industri akuntansi tidak hanya terjadi pada level teknologi, tetapi juga pada kesiapan talenta yang akan mengisinya di masa depan.

Menjawab perubahan tersebut, BINUS University melalui School of Accounting menghadirkan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan accounting dan technology secara relevan dengan kebutuhan industri global saat ini, dengan fokus pada industry relevance dan future-ready capabilities.

Dekan School of Accounting BINUS University, Prof. Ang Swat Lin Lindawati, S.E., M.Com (Hons.), Ph.D., CSRS, CSRA., CMA., Cert.DA., menyampaikan bahwa perubahan industri ini menuntut perguruan tinggi untuk ikut beradaptasi dalam cara mendidik mahasiswa.

“Profesi akuntan tidak lagi terbatas pada fungsi administratif. Perkembangan AI dan digital finance membuat profesi akuntan berkembang menjadi strategic business partner yang membutuhkan kemampuan teknologi, analitis, dan business decision-making. Oleh karena itu, penting bagi perguruan tinggi untuk menghadirkan pembelajaran yang sesuai dengan perubahan industri,” ujarnya.

Lebih lanjut, sebanyak 61 persen perusahaan juga melihat AI sebagai faktor penting dalam masa depan keuangan dan akuntansi. Penggunaan machine learning dalam proses akuntansi juga terus meningkat, menunjukkan bahwa transformasi digital dalam industri ini berlangsung semakin cepat.

Kondisi ini menegaskan bahwa kemampuan literasi teknologi menjadi semakin penting bagi mahasiswa akuntansi, karena perusahaan kini membutuhkan individu yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu bekerja dalam data-driven business environment yang terus berkembang.

Sebagai pionir accounting berbasis teknologi di Indonesia, School of Accounting BINUS University menghadirkan kurikulum yang dirancang agar mahasiswa juga memperoleh pengalaman langsung terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan industri masa kini. Pendekatan experiential learning diterapkan melalui berbagai program pembelajaran yang membantu mahasiswa memahami implementasi akuntansi dalam konteks bisnis nyata.

Mahasiswa juga memperoleh akses terhadap berbagai tools dan sistem yang relevan dengan kebutuhan industri modern, termasuk akses SAP tanpa biaya tambahan. Selain itu, School of Accounting BINUS University didukung oleh lebih dari 100 partner industri yang membantu mahasiswa memperoleh pengalaman di industri dan pengalaman profesional sebelum lulus melalui Program Enrichment.

Program tersebut memungkinkan mahasiswa mendapatkan pengalaman nyata melalui internship, project-based learning, riset, entrepreneurship, hingga berbagai kegiatan yang terhubung langsung dengan dunia industri. Dalam implementasinya, pembelajaran juga dirancang agar mahasiswa memahami bagaimana akuntansi berkembang di era digital finance dan data-driven business environment. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi akuntan konvensional, tetapi juga future-ready professionals yang mampu beradaptasi dengan transformasi industri global.

Prof. Ang Swat Lin Lindawati menambahkan bahwa peran akuntan kini telah berevolusi secara signifikan. Di sisi lain, perubahan industri juga diikuti oleh peningkatan standar dan kualitas pendidikan yang harus selaras dengan kebutuhan global.

“School of Accounting BINUS University menjadi salah satu school accounting terbaik di Indonesia dengan pencapaian Top 4 di Indonesia berdasarkan QS World University Rankings by Subject: Accounting & Finance, serta berada di peringkat 301–375 dunia. Ini mencerminkan komitmen kami dalam menghadirkan pendidikan yang relevan dan berstandar global,” jelasnya.

School of Accounting BINUS University juga memiliki Akreditasi Unggul serta terakreditasi internasional oleh HEEACT (Higher Education Evaluation and Accreditation Council of Taiwan) dan EFMD (European Foundation for Management Development) untuk International Class, memperkuat kualitas pendidikan yang berstandar global. Adapun program studi yang berada di bawah School of Accounting BINUS University meliputi Accounting, Taxation, Accounting Technology, dan Finance.

Melalui pendekatan pembelajaran berbasis teknologi dan industry relevance, School of Accounting BINUS University terus berupaya mempersiapkan mahasiswa agar memiliki kesiapan karier global di tengah percepatan transformasi digital.

Bagi banyak orang tua dan calon mahasiswa, kesiapan menghadapi perubahan industri kini menjadi salah satu pertimbangan penting dalam memilih perguruan tinggi. Pendidikan tinggi tidak lagi hanya dipandang sebagai jalan untuk memperoleh gelar akademik, tetapi juga sebagai fondasi untuk membangun kemampuan adaptasi dan kesiapan menghadapi dunia kerja masa depan.

Di tengah perkembangan AI dan digital finance, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan industri menjadi semakin krusial bagi calon mahasiswa maupun orang tua dalam memilih institusi pendidikan. Informasi lebih lanjut mengenai School of Accounting BINUS University dapat diakses melalui: https://soa.binus.ac.id/

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES