Belajar dari Indonesia: Ketika Sebuah Negeri Mengubah Cara Pandang Hidup

Oleh Gunjan Prasad*

Jakarta — Salah satu konsekuensi tak terduga ketika membangun kehidupan di negara lain adalah tanpa disadari kita berubah menjadi seorang antropolog. Selama hampir dua belas tahun Indonesia menjadi rumah bagi keluarga kami, saya merasa cukup hanya dengan mengamati.

Baru ketika diminta menulis refleksi ini saya mulai mencari kata-kata untuk menjelaskan apa yang selama ini saya rasakan. Saya bertanya kepada teman-teman Indonesia, mencarinya di Google, bahkan bertanya kepada ChatGPT apakah bahasa Indonesia memiliki istilah untuk menggambarkan berbagai nilai yang diam-diam saya kagumi selama tinggal di sini. Sebagian memang memiliki padanan kata. Namun sebagian lainnya, seperti martabat yang tenang dalam cara masyarakat Indonesia menjalani hidup, terasa sulit diterjemahkan ke dalam bahasa lain.

Tulisan ini lahir dari berbagai pengalaman yang paling dekat dengan kehidupan saya di Indonesia: rumah, keluarga, lingkungan sekitar, sekolah anak-anak, spiritualitas, makanan, hingga kebudayaan.

Pelajaran pertama yang saya dapatkan dari Indonesia datang jauh sebelum saya mengetahui bahwa nilai itu memiliki sebuah nama.

Pelajaran itu saya temukan di rumah.

Apabila salah satu anggota staf rumah tangga kami menyelesaikan pekerjaannya lebih dahulu, ia akan membantu rekan lainnya tanpa diminta. Ketika ada yang sedang sakit, pekerjaan berpindah tangan begitu saja, hampir tanpa terlihat. Tidak pernah terdengar pertanyaan, “Itu tugas siapa?” Mereka hanya melihat apa yang perlu dilakukan, lalu mengerjakannya bersama. Rumah kami terasa berjalan bukan sebagai tempat kerja dengan pembagian tugas yang kaku, melainkan sebagai sebuah komunitas kecil.

Awalnya saya mengira kami hanya beruntung memiliki orang-orang yang luar biasa.

Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari bahwa yang saya saksikan sebenarnya adalah salah satu naluri budaya paling mendasar di Indonesia.

Gotong royong.

Dalam bahasa Inggris istilah ini sering diterjemahkan sebagai mutual cooperation. Namun terjemahan itu terasa terlalu kaku. Gotong royong bukan sekadar bekerja sama karena seseorang meminta bantuan. Nilai itu lahir dari keyakinan bahwa kesejahteraan saya dan kesejahteraan Anda saling berkaitan.

Begitu saya mulai memahami maknanya, saya melihat gotong royong hadir hampir di mana-mana.

Saya menemukannya kembali di sekolah internasional tempat anak-anak kami belajar. Seperti banyak keluarga ekspatriat lainnya, kami datang dengan harapan yang tidak jauh berbeda. Kami ingin anak-anak berprestasi, menemukan bakat mereka, dan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.

Sekolah tentu mendorong mereka untuk meraih prestasi. Namun pada saat yang sama, sekolah juga mengajarkan sesuatu yang lebih penting, yaitu bahwa keberhasilan tidak boleh diraih dengan mengorbankan orang lain. Di ruang kelas, lapangan olahraga, kegiatan seni, maupun proyek pelayanan masyarakat, anak-anak terus menerima pesan yang sama. Jika kita memiliki kesempatan untuk berhasil, maka kita juga memiliki tanggung jawab membantu orang lain berkembang bersama kita. Prestasi memang penting, tetapi memberikan ruang bagi orang lain untuk berhasil sama pentingnya.

Ada lagi satu kata yang menurut saya hampir mustahil diterjemahkan dengan tepat, yaitu ramah.

Bahasa Inggris biasanya menerjemahkannya sebagai friendliness. Namun bagi saya, ramah lebih merupakan cara menyambut seseorang. Sebuah kemampuan sederhana untuk membuat orang lain merasa diterima bahkan sebelum mereka melakukan apa pun.

Saya menemukannya di tempat-tempat yang paling biasa.

Saat mewawancarai narasumber ketika masih menjadi jurnalis lepas, berbincang dengan pengemudi Grab, bermain bridge, duduk di salon langganan, berbelanja di pasar tradisional, hingga dalam percakapan-percakapan kecil yang diawali dengan bahasa Indonesia saya yang masih terbata-bata.

Lebih sering daripada yang saya bayangkan, kesalahan saya dalam berbahasa tidak disambut dengan koreksi, melainkan dengan senyum dan kegembiraan yang tulus. Sebagai seorang ekspatriat, saya tidak pernah merasa harus “membuktikan diri” agar diterima. Keramahan di Indonesia bukan sekadar membuat orang merasa disambut, melainkan membuat mereka hampir tidak pernah merasa sebagai orang asing.

Kemudian saya mengenal makna ikhlas.

Selama tinggal di Indonesia, kami berkesempatan bekerja bersama banyak orang Indonesia yang luar biasa. Etos kerja mereka sangat tinggi, loyalitasnya tidak pernah diragukan, standar kerjanya sangat baik, dan semangat belajar mereka selalu menginspirasi.

Namun, yang paling membekas justru bukan semua itu.

Yang paling saya ingat adalah betapa kecilnya keinginan mereka untuk mencari pengakuan atas apa yang telah mereka lakukan. Kini saya memahami bahwa mungkin itulah makna ikhlas: melakukan sesuatu sepenuh hati tanpa terus-menerus berharap dipuji atau diakui.

Bersamaan dengan itu saya juga belajar mengenai harga diri.

Di balik kesopanan masyarakat Indonesia tersimpan rasa hormat terhadap diri sendiri yang sangat kuat. Ketika kepercayaan rusak atau rasa hormat hilang, jarang sekali saya melihat kemarahan yang meledak-ledak. Yang lebih sering terjadi justru seseorang memilih menjaga jarak dengan tenang. Ada hal-hal yang tidak dapat diperbaiki hanya melalui penjelasan atau negosiasi.

Indonesia juga memiliki satu kata yang sangat saya sukai: adem.

Kata ini bukan hanya berarti sejuk. Adem adalah perasaan ketika segala sesuatu terasa tenang dan berada pada tempatnya. Itulah yang selalu saya rasakan setiap kali duduk bermain bridge di Jakarta.

Indonesia melahirkan banyak pemain bridge terbaik yang pernah saya temui. Kemampuan teknis mereka luar biasa dan mereka selalu mengikuti perkembangan strategi terbaru. Namun yang paling mengesankan bukanlah kecerdasannya, melainkan ketenangannya. Mereka tidak pernah merasa perlu memamerkan kemampuan. Di Indonesia, rasa percaya diri dan kerendahan hati ternyata dapat berjalan berdampingan.

Saya juga mengira selama ini telah memahami arti sabar.

Ternyata Indonesia mengajarkan makna yang jauh lebih dalam.

Sabar bukan sekadar kemampuan menunggu, tetapi keyakinan bahwa proses tidak harus selalu dipercepat. Saat membesarkan dua putra kami hingga beranjak dewasa, saya sering mengingat pelajaran tersebut. Ada hal-hal dalam hidup yang memang tidak bisa dipaksa. Kita hanya bisa merawatnya dengan penuh kasih dan percaya bahwa semuanya akan berkembang pada waktunya sendiri.

Dan mungkin sabar selalu berjalan berdampingan dengan sahabatnya yang paling setia: syukur.

Sabar mengajarkan kita untuk percaya pada sesuatu yang masih berproses. Syukur mengingatkan kita untuk menghargai apa yang telah kita miliki hari ini.

Setiap kali kami memulai perjalanan, sopir kami selalu mengucapkan doa singkat. Ketika kami tiba di tujuan, doa lain kembali dipanjatkan. Tidak ada seremoni. Tidak ada penonton. Hanya ungkapan syukur yang sederhana.

Lama-kelamaan saya menyadari bahwa rasa syukur tidak harus menunggu peristiwa besar dalam hidup. Tiba di tujuan dengan selamat pun sudah cukup menjadi alasan untuk bersyukur. Pelajaran sederhana itu kini menjadi salah satu yang paling saya hargai.

Ada satu bagian yang sengaja tidak saya ceritakan di sini.

Hubungan saya dengan makanan Indonesia rasanya layak mendapat tulisan tersendiri.

Cukuplah saya katakan bahwa isi dapur kami pun perlahan berubah. Ketumbar dan jintan kini berbagi tempat dengan kemiri, terasi, daun jeruk, dan kecap manis. Berbagai resep yang dahulu saya coba karena rasa penasaran kini justru menjadi hidangan favorit keluarga, bahkan lebih sering diminta dibanding makanan yang kami nikmati sejak kecil. Tanpa saya sadari, perubahan isi dapur itu ternyata sedang menceritakan kisah yang jauh lebih besar.

Baru ketika menulis refleksi ini saya menyadari betapa dalam Indonesia telah menjadi bagian dari kehidupan keluarga kami.

Kami kini sedikit lebih lambat menghakimi orang lain, sedikit lebih cepat merangkul mereka, sedikit lebih sabar, dan jauh lebih mudah bersyukur.

Mungkin memang begitulah hidup di negara lain dalam waktu yang cukup lama.

Suatu hari kita menyadari bahwa negeri itu tidak lagi sekadar tempat tinggal sementara. Ia telah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita, dan perlahan ikut membentuk siapa diri kita sebenarnya.

*Gunjan Prasad adalah penulis asal India yang telah tinggal di Indonesia selama hampir 12 tahun. Melalui pengalaman hidup bersama keluarganya di Indonesia, ia banyak menulis tentang budaya, masyarakat, pendidikan, serta pengalaman lintas budaya yang memperkaya hubungan antara Indonesia dan India.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Ikatan Indonesia–India yang Tak Terpisahkan

Oleh Ashish Bharadwaj* dan Manjeet Kripalani**

Jakarta — India dan Indonesia dipisahkan oleh Samudra Hindia, tetapi dipersatukan oleh sejarah, budaya, perdagangan, dan nilai-nilai yang sama. Hubungan kedua negara tidak pernah semata-mata dibangun melalui perdagangan atau perjanjian diplomatik, melainkan tumbuh dari penghormatan terhadap keberagaman, toleransi, dan persahabatan yang telah terjalin selama berabad-abad. Kini, ada satu dimensi baru yang perlu mendapat perhatian lebih besar, yakni pendidikan tinggi dan riset sebagai jembatan strategis yang akan memperkuat hubungan kedua negara di masa depan.

Hal ini menjadi semakin penting di tengah perubahan geopolitik dan pesatnya perkembangan teknologi. India dan Indonesia merupakan dua negara berkembang yang tengah bertransformasi menjadi kekuatan menengah (middle powers) dengan potensi besar untuk memainkan peran yang lebih menentukan dalam tatanan global. Agar mampu memanfaatkan momentum tersebut, keduanya perlu berinvestasi bukan hanya pada infrastruktur fisik dan ekonomi, tetapi juga pada ilmu pengetahuan, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia.

Perjalanan pembangunan India dan Indonesia memiliki banyak kesamaan. Rata-rata usia penduduk India sekitar 29 tahun, sementara Indonesia 31 tahun. Secara bersama-sama, kedua negara mewakili hampir seperlima populasi dunia. Keduanya juga termasuk masyarakat yang sangat terkoneksi secara digital. Kawasan Asia-Pasifik merupakan pengguna media sosial terbesar di dunia, dengan India dan Indonesia menjadi dua negara yang paling aktif memanfaatkan berbagai platform seperti Facebook, WhatsApp, X, dan YouTube, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun dalam situasi darurat. Bonus demografi yang besar ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan, yakni bagaimana memastikan generasi mudanya memperoleh pendidikan yang lebih baik, kesempatan ekonomi yang lebih luas, dan kualitas hidup yang semakin tinggi sebelum momentum tersebut berlalu.

Selama bertahun-tahun, kedua negara mengandalkan sistem pendidikan tinggi dan model penelitian yang banyak mengacu pada Barat. Namun, model tersebut kini menghadapi berbagai keterbatasan, baik dari sisi pendanaan maupun relevansinya terhadap tantangan masa depan. Seiring semakin memudarnya warisan kolonial dan hadirnya generasi baru yang tumbuh bersama teknologi, menjadi wajar apabila pemerintah India dan Indonesia mulai memberikan perhatian yang jauh lebih besar pada pembangunan kapasitas riset dan inovasi di bidang-bidang yang mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Indonesia telah mengambil langkah penting melalui pembentukan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pada 2010 dengan dana abadi sekitar 10 miliar dolar AS untuk mendukung pendidikan tinggi, penelitian, dan beasiswa. Pada 2023, lebih dari 35.500 penerima manfaat memperoleh dukungan dari program tersebut. Di sisi lain, India melalui National Education Policy 2020 membentuk National Research Foundation (Anusandhan) yang mulai beroperasi pada 2023 dengan dana sekitar 14,5 miliar dolar AS untuk memperkuat riset dan inovasi di berbagai perguruan tinggi.

Salah satu mekanisme kerja sama yang telah terbukti efektif sepanjang sejarah adalah kemitraan antar lembaga pendidikan dan riset. Ilmu pengetahuan berkembang melalui kolaborasi, bukan kompetisi. Karena itu, hubungan akademik antara India dan Indonesia seharusnya menjadi salah satu prioritas utama dalam memperkuat kemitraan strategis kedua negara.

Sayangnya, kondisi saat ini masih jauh dari ideal. India mengalokasikan sekitar 56 miliar dolar AS untuk pendidikan tinggi pada 2025, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Indonesia sendiri menganggarkan sekitar 43 miliar dolar AS untuk sektor pendidikan, dengan sekitar 11 persen dialokasikan bagi program beasiswa, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia.

Namun, keterhubungan kedua sistem pendidikan masih sangat terbatas. Australia, Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman masih menjadi tujuan utama mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi ke luar negeri. India bahkan belum menjadi salah satu destinasi pilihan. Pada 2022, hanya sekitar 115 mahasiswa Indonesia yang belajar di India, sementara jumlah mahasiswa India yang menempuh pendidikan tinggi maupun riset di Indonesia bahkan kurang dari sepuluh orang.

Padahal, dari sudut pandang ekonomi, kerja sama pendidikan memberikan manfaat jangka panjang yang sangat besar. Investasi di bidang pendidikan menghasilkan peningkatan produktivitas, mendorong pertumbuhan pendapatan, memperbaiki distribusi kesejahteraan, serta menciptakan lingkungan sosial ekonomi yang lebih baik bagi kedua negara.

Apabila abad ke-21 benar-benar akan menjadi Abad Asia, maka dua demokrasi terbesar di kawasan ini harus memperbanyak kemitraan akademik, membangun lebih banyak jembatan riset, dan membuka kesempatan yang lebih luas bagi mahasiswa serta peneliti untuk belajar dan berinovasi bersama.

India dan Indonesia pernah menjadi pelopor Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955. Pada masa itu, kedua negara berupaya mencari model pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter negara-negara yang baru merdeka. Saat itu, keduanya masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi, politik, dan sosial. Kini, kondisinya telah jauh berbeda. India dan Indonesia telah berkembang menjadi negara dengan pengaruh ekonomi dan politik yang jauh lebih besar serta mulai memainkan peran aktif dalam membentuk tatanan geopolitik dan ekonomi internasional yang baru.

Untuk menjalankan peran tersebut, kedua negara perlu memperkuat kerja sama antara perguruan tinggi, lembaga riset, serta sektor swasta. Pemerintah India dan Indonesia telah menempatkan banyak tokoh terbaiknya untuk memimpin transformasi di bidang pendidikan dan penelitian. Momentum tersebut perlu dimanfaatkan melalui berbagai bentuk kolaborasi yang lebih konkret.

Universitas-universitas swasta terkemuka di India seperti BITS Pilani, yang dikenal memiliki keunggulan di bidang teknik, riset mutakhir, inovasi teknologi, dan kewirausahaan, dapat menjadi pelopor berbagai proyek penelitian bersama dengan perguruan tinggi di Indonesia. Kerja sama tersebut dapat diwujudkan melalui pertukaran mahasiswa, penyelenggaraan konferensi ilmiah, pengembangan kurikulum baru, hingga penelitian bersama mengenai berbagai isu yang menjadi kepentingan kedua negara.

Peluang kerja sama riset juga sangat luas. Keberhasilan Indonesia dalam menurunkan angka kemiskinan secara drastis selama empat dekade terakhir dapat menjadi bahan pembelajaran penting bagi para ekonom pembangunan dan pembuat kebijakan di negara-negara Global South. Empat puluh tahun lalu, sekitar 74 persen penduduk Indonesia hidup dalam kemiskinan ekstrem. Kini angkanya telah turun menjadi kurang dari dua persen.

Sebaliknya, India memiliki berbagai pengalaman yang dapat dibagikan kepada Indonesia. Industri farmasi India menjadikannya dikenal sebagai “apotek dunia”, sementara infrastruktur digitalnya yang digunakan lebih dari satu miliar orang setiap hari menjadi salah satu sistem digital publik terbesar dan paling canggih yang pernah dibangun. India juga termasuk kelompok kecil negara yang berhasil mengembangkan program antariksa dengan berbagai pencapaian penting.

Karena itu, bidang-bidang seperti farmasi, kesehatan masyarakat, pengentasan kemiskinan, transfer teknologi berbasis kekayaan intelektual, riset antariksa, telekomunikasi, rekayasa semikonduktor, komputasi kuantum, oseanografi, deep technology, perusahaan rintisan berbasis teknologi, hingga kemaritiman seharusnya menjadi bagian dari agenda riset bersama antara India dan Indonesia.

Kerja sama di bidang pendidikan tinggi merupakan awal yang sangat baik untuk mempererat hubungan kedua negara. Ketika perguruan tinggi, mahasiswa, peneliti, dan ilmuwan bekerja bersama pada bidang-bidang yang menjadi kepentingan bersama, hubungan India dan Indonesia akan berkembang jauh melampaui diplomasi dan perdagangan.

Visi baru kerja sama pendidikan dan riset kedua negara dapat dirangkum dalam konsep IND, yaitu Integration, Nimbleness, and Decisiveness atau integrasi, kelincahan, dan ketegasan. IND bukan sekadar singkatan dari India dan Indonesia. Lebih dari itu, IND menandai dimulainya babak baru hubungan kedua negara, ketika pendidikan, penelitian, dan inovasi menjadi fondasi utama bagi kemitraan strategis Indonesia dan India pada masa depan.

*Ashish Bharadwaj adalah Distinguished Fellow for Law and Education di Gateway House.

**Manjeet Kripalani adalah Executive Director Gateway House.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

India–Indonesia: Dua Sahabat Sejiwa di Era Baru

JakartaIndia-Indonesia Track 1.5 Dialogue merupakan inisiatif kerja sama selama dua tahun yang digagas oleh Gateway House: Indian Council on Global Relations di Mumbai dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia di Jakarta. Forum ini mempertemukan para pakar dari lembaga pemikir, pejabat pemerintah, serta pelaku usaha dari kedua negara setiap dua tahun sekali untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, inovasi, dan penguatan hubungan strategis India dan Indonesia.

India dan Indonesia memiliki hubungan strategis komprehensif yang dibangun di atas ikatan sejarah panjang, baik pada masa kuno maupun modern. Hubungan tersebut terus berkembang melalui perdagangan, kerja sama ekonomi, serta interaksi antar masyarakat yang semakin erat. Seiring kedua negara terus tumbuh sebagai kekuatan penting di kawasan, terbuka pula berbagai peluang baru untuk memperluas kerja sama yang saling menguntungkan, khususnya di bidang pertahanan dan keamanan, energi, serta kawasan Indo-Pasifik.

Dalam konteks tersebut, Track 1.5 Dialogue menjadi wadah yang tepat untuk mempertemukan pemangku kepentingan dari berbagai sektor. Forum ini bertujuan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang mendorong inovasi sekaligus membantu kedua negara merespons berbagai tantangan tata kelola yang terus berkembang melalui kerja sama bilateral maupun multilateral.

Sebagai langkah awal, pada 23–24 September 2024, Gateway House bersama CSIS Indonesia menyelenggarakan India-Indonesia Track 1.5 Dialogue perdana di Mumbai. Kegiatan ini digelar bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri India, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia di New Delhi, serta didukung oleh Pemerintah Negara Bagian Maharashtra, India, bersama Indorama dan Sinarmas dari Indonesia.

Selama dua hari penyelenggaraan, forum ini mengangkat gagasan untuk mentransformasikan hubungan India dan Indonesia dari konsep “companion souls” atau sahabat sejiwa yang pernah diperkenalkan oleh Rabindranath Tagore saat kunjungannya ke Indonesia pada 1927, menjadi kemitraan geopolitik, geostrategis, dan geoekonomi yang relevan dengan tantangan abad ke-21.

Semangat tersebut mencerminkan posisi India dan Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar dan ketiga terbesar di dunia yang memiliki peluang untuk semakin memperkuat peran di panggung global. Berbagai sesi diskusi dirancang untuk menyoroti keunggulan masing-masing negara sekaligus mengidentifikasi bidang-bidang kerja sama teknis yang dapat dikembangkan secara bersama.

Forum dialog diselenggarakan secara tatap muka di Mumbai dengan menghadirkan pejabat pemerintah, pelaku usaha, wirausahawan, akademisi, serta para pakar terkemuka dari India dan Indonesia.

Acara pembukaan dihadiri oleh Ashish Kumar Sinha, Joint Secretary (South), Kementerian Luar Negeri India; Y. Jatmiko Heru Prasetyo, Direktur Asia Selatan dan Tengah, Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia; Sandeep Chakravorty, Duta Besar India untuk Indonesia; serta Ina H. Krisnamurthi, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk India.

Laporan lengkap mengenai penyelenggaraan India-Indonesia Track 1.5 Dialogue dapat diakses melalui situs resmi Gateway House.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Makna Strategis Kunjungan Modi ke Indonesia bagi Asia

Oleh Rajiv Bhatia*

Jakarta — Setelah melewati perjalanan panjang yang diwarnai kedekatan, periode saling menjauh, hingga hubungan yang sempat berkembang di bawah potensi sebenarnya, India dan Indonesia kini memasuki babak baru dalam kemitraan strategis mereka. Sejak kedua negara meningkatkan hubungan menjadi Comprehensive Strategic Partnership pada 2018, berbagai upaya terus dilakukan untuk memberikan makna yang lebih besar bagi hubungan bilateral tersebut. Momentum itu semakin menguat setelah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025 yang dinilai sukses membuka babak baru kerjasama kedua negara.

Sejauh mana kemajuan yang telah dicapai dalam 18 bulan terakhir dan bagaimana hubungan tersebut akan berkembang ke depan akan semakin terlihat ketika Perdana Menteri India Narendra Modi mengunjungi Jakarta pada pekan pertama Juli. Indonesia menjadi salah satu tujuan dalam lawatan tiga negaranya, bersama Australia dan Selandia Baru.

Kunjungan ini juga berlangsung pada saat penting dalam dinamika kawasan. Sebelumnya, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi lebih dahulu melakukan kunjungan ke India. Rangkaian diplomasi tersebut menunjukkan semakin besarnya perhatian India terhadap kawasan Indo-Pasifik. Di tengah munculnya tanda-tanda melemahnya komitmen Amerika Serikat terhadap Indo-Pasifik maupun Quadrilateral Security Dialogue (Quad), dialog Modi dengan para pemimpin empat negara demokrasi utama di kawasan memiliki arti strategis yang jauh melampaui hubungan bilateral semata.

Saat ini, hubungan India dan Indonesia berada pada kondisi yang sangat kondusif. Tidak terdapat sengketa besar ataupun isu yang berpotensi mengganggu hubungan kedua negara. Hubungan personal antara Perdana Menteri Modi dan Presiden Prabowo juga terjalin dengan baik. Prabowo dikenal mengapresiasi berbagai kebijakan pembangunan yang dijalankan Modi di India, sementara Modi melihat Presiden Prabowo memiliki pendekatan yang lebih seimbang dan realistis dalam memandang peran Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik.

Kedekatan tersebut memberikan ruang bagi kedua pemimpin untuk mendorong para pejabat pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya agar mempercepat implementasi berbagai agenda kerja sama yang telah disepakati.

Semangat tersebut tercermin dalam Pertemuan Komisi Bersama (Joint Commission Meeting) India–Indonesia ke-8 yang digelar pada 7 Juni lalu dan dipimpin bersama oleh Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar dan Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono. Setelah melakukan peninjauan menyeluruh terhadap hubungan bilateral, kedua menteri mengidentifikasi berbagai peluang baru untuk memperkuat kerja sama di berbagai bidang, mulai dari politik, pertahanan dan keamanan, kemaritiman, perdagangan dan investasi, farmasi dan kesehatan, ekonomi digital, energi, konektivitas, antariksa, pendidikan, pelayanan konsuler, kebudayaan, hingga hubungan antar masyarakat.

Dari hasil pertemuan tersebut, besar kemungkinan kunjungan Modi ke Jakarta akan menghasilkan sejumlah nota kesepahaman baru sekaligus peta jalan yang lebih jelas untuk memperdalam hubungan kedua negara dalam beberapa tahun mendatang.

Namun, arti penting kunjungan ini sesungguhnya jauh melampaui penandatanganan berbagai kesepakatan.

India dan Indonesia diperkirakan akan semakin menyelaraskan pandangan mereka terhadap berbagai perkembangan global, terutama setelah perang di Ukraina dan Timur Tengah, serta munculnya kemungkinan membaiknya hubungan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Jika dinamika tersebut benar-benar berkembang, dampaknya akan sangat besar bagi kawasan Indo-Pasifik, tempat India dan Indonesia sama-sama memainkan peran penting.

Indo-Pasifik merupakan rumah bersama bagi India dan Indonesia, sebagaimana juga bagi Jepang, Australia, Filipina, dan Korea Selatan. Keenam negara tersebut memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga stabilitas dan keamanan kawasan sebagai fondasi bagi kesejahteraan ekonomi masyarakatnya.

Dalam situasi ketika sejumlah forum kerja sama seperti Quad mulai menghadapi tantangan internal akibat berkurangnya perhatian Amerika Serikat, muncul kebutuhan akan wadah konsultasi politik dan diplomatik baru yang lebih inklusif bagi negara-negara demokrasi utama di kawasan. Inilah salah satu dimensi strategis yang layak dicermati selama kunjungan Modi ke Jakarta.

Di bidang pertahanan, terdapat harapan baru bahwa kedua negara akhirnya akan mencapai kesepakatan mengenai rencana pembelian rudal jelajah supersonik BrahMos oleh Indonesia. Menteri Pertahanan India Rajesh Kumar Singh sebelumnya mengungkapkan dalam forum Shangri-La Dialogue bahwa negosiasi mengenai transaksi tersebut telah mendekati tahap final.

Apabila terealisasi, kerja sama tersebut berpotensi menjadi tonggak penting dalam hubungan pertahanan kedua negara dan membuka jalan bagi peningkatan kerja sama industri pertahanan di masa mendatang.

Di bidang ekonomi, target peningkatan perdagangan bilateral dari 30 miliar dolar AS menjadi 50 miliar dolar AS memang belum tercapai sesuai jadwal. Meski demikian, target tersebut tetap menjadi agenda penting karena akan memperkuat keterkaitan ekonomi kedua negara melalui perdagangan dan investasi yang lebih produktif.

Kerja sama dalam pengembangan mineral kritis serta perdagangan digital juga diperkirakan akan menjadi salah satu fokus utama pembahasan kedua pemimpin. Pernyataan bersama yang akan dikeluarkan setelah pertemuan diperkirakan akan memberikan gambaran mengenai strategi kedua pemerintah dalam mewujudkan target-target tersebut.

Di era diplomasi plurilateral yang semakin berkembang, India dan Indonesia juga dipastikan akan membahas cara memperkuat koordinasi dalam berbagai forum internasional seperti G20, BRICS, maupun Indian Ocean Rim Association (IORA).

Keanggotaan Indonesia sebagai anggota baru BRICS membuka peluang besar untuk memperdalam kerja sama dengan India sebagai salah satu anggota pendiri organisasi tersebut. Di sisi lain, India juga memerlukan dukungan Indonesia dalam menyukseskan penyelenggaraan KTT BRICS mendatang di New Delhi.

Dalam konteks kawasan, India juga diperkirakan akan menyoroti semakin eratnya hubungan dengan ASEAN, di mana Indonesia selama ini memainkan peran sentral. Kedua pemimpin kemungkinan juga akan bertukar pandangan mengenai perkembangan situasi di Myanmar.

Perbedaan pendekatan masih terlihat antara ASEAN yang tetap mengedepankan implementasi Konsensus Lima Poin dan kebijakan India yang mulai beradaptasi dengan realitas politik baru di Myanmar, sebagaimana tercermin dari kunjungan resmi pemimpin Myanmar Min Aung Hlaing ke New Delhi beberapa waktu lalu.

Sementara itu, pengumuman India mengenai Great Nicobar Project pada 1 Mei lalu juga memberikan dimensi baru bagi hubungan kedua negara. Proyek yang bertujuan menjadikan Kepulauan Andaman dan Nicobar sebagai pusat maritim dan ekonomi strategis tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan Indonesia mengingat kedekatan geografis kedua wilayah.

Dalam konteks yang sama, kedua negara juga memiliki kepentingan bersama untuk memperkuat konektivitas kawasan dan mendorong pengembangan Bay of Bengal Initiative for Multi-Sectoral Technical and Economic Cooperation (BIMSTEC). Indonesia dapat memainkan peran yang lebih besar dalam mewujudkan visi terbentuknya komunitas ekonomi Teluk Benggala yang lebih terintegrasi.

Berbagai isu tersebut sesungguhnya telah menjadi pembahasan dalam dua putaran Dialog Track 1.5 antara Gateway House: Indian Council on Global Relations dari Mumbai dan Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia yang diselenggarakan di Mumbai dan Jakarta pada September 2024 dan September 2025.

Rekomendasi yang dihasilkan dari dialog tersebut bahkan mendapat pengakuan resmi dan dicantumkan dalam pernyataan bersama India dan Indonesia pada Januari 2025.

Kini, kedua ibu kota telah memiliki berbagai gagasan kebijakan yang bersifat visioner sekaligus pragmatis. Tantangan berikutnya bukan lagi mencari ide baru, melainkan menerjemahkan berbagai gagasan tersebut menjadi langkah nyata yang mampu mempererat hubungan India dan Indonesia, sekaligus memperkuat keterhubungan antara Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Bagi kedua negara, kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Jakarta bukan sekadar agenda diplomatik. Kunjungan ini berpotensi menjadi momentum untuk membentuk konfigurasi baru kerja sama strategis di Indo-Pasifik dan memperkuat peran India maupun Indonesia sebagai dua kekuatan demokrasi yang semakin menentukan arah masa depan Asia.

*Rajiv Bhatia adalah Mantan diplomat India, Distinguished Fellow di Gateway House, serta pernah menjabat sebagai Deputy Chief of Mission di Jakarta dan Duta Besar India untuk Myanmar.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Polda NTT Pecahkan Rekor MURI, 11.663 Orang Ikut Terapi Kesehatan Mental

Kupang, NTT, 4 Juli
2026
– Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu
kesehatan mental, Polda Nusa Tenggara Timur menghadirkan langkah yang berbeda.
Melalui terapi USEFT (Ultimate The Source Body, Mind, Soul Emotional
Freedom Technique)
, Polda NTT memperkuat kesehatan mental
anggota Polri sekaligus membuka akses terapi bagi masyarakat. Inovasi yang
telah menjangkau ribuan orang ini mengantarkan Polda NTT meraih dua Rekor MURI.

Program tersebut lahir dari kepedulian terhadap tingginya
tekanan psikologis yang dihadapi anggota Polri dalam menjalankan tugas,
sekaligus meningkatnya kebutuhan masyarakat akan pendampingan kesehatan mental.
Polda NTT meyakini, anggota yang sehat secara mental akan mampu menghadirkan
pelayanan yang lebih humanis, penuh empati, dan semakin dipercaya masyarakat.

Direktur Operasional MURI, Yusuf Ngadri, mengatakan, hasil verifikasi menunjukkan terapi USEFT yang
digelar sejak 12 Juni 2026 telah menjangkau 11.663 anggota Polri dan masyarakat
di 22 satuan kerja Polda NTT. “MURI menetapkan dua rekor kepada Polda NTT
bukan semata karena jumlah pesertanya, tetapi karena keberaniannya menjadi
pelopor terapi kesehatan mental bagi anggota Polri dan masyarakat. Ini adalah
inovasi yang manfaatnya benar-benar dirasakan.”

Metode USEFT dikembangkan bersama tim riset SBMS
Institute
dengan pendekatan Psikologi Energi yang menyelaraskan Body
(tubuh), Mind (pikiran), dan Soul (jiwa dan spiritual)
.
Pendekatan ini dirancang untuk membantu seseorang mengelola tekanan emosional
sehingga lebih siap menghadapi tantangan, baik dalam menjalankan tugas maupun
kehidupan sehari-hari.

Kapolda NTT, Irjen
Pol Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si,
menegaskan bahwa Rekor MURI menjadi pengingat bahwa setiap inovasi harus
memberi manfaat nyata bagi masyarakat. “Bagi kami, Rekor MURI bukan soal
pencapaian, tetapi tentang kebermanfaatan. Jika anggota Polri sehat secara
mental, mereka akan hadir melayani dengan hati, penuh empati, dan mampu memberi
rasa aman yang lebih nyata bagi masyarakat.”

Kapolda NTT berharap
capaian tersebut menjadi awal lahirnya budaya kepedulian terhadap kesehatan
mental di lingkungan Polri. Semakin banyak anggota yang berperan sebagai
pendengar, penolong, dan penguat bagi sesama, semakin kuat pula fondasi
pelayanan Polri yang humanis. Menjaga kesehatan mental, menurutnya, merupakan
tanggung jawab bersama.

Kepala Bidang
Hubungan Masyarakat Polda NTT, Kombes Pol Henry Novika Chandra, S.I.K., M.H.
, menilai terapi USEFT menjadi
bukti bahwa transformasi Polri tidak hanya diwujudkan melalui modernisasi
pelayanan, tetapi juga melalui penguatan kualitas sumber daya manusia.
“Pelayanan yang profesional selalu berawal dari manusia yang sehat, baik
secara fisik maupun mental. Program ini menjadi investasi jangka panjang bagi
institusi sekaligus bentuk kepedulian nyata kepada masyarakat.”

Penghargaan Rekor MURI
diserahkan langsung kepada Kapolda NTT dalam rangkaian Hari Bhayangkara ke-80
di Mapolda NTT. Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakapolda NTT Brigjen Pol. Faizal, S.I.K., M.H., Ketua Bhayangkari Daerah NTT beserta
jajaran pengurus, para Pejabat Utama Polda NTT, Direktur SBMS sekaligus
Praktisi USEFT Coach Agus E.H. beserta istri, para terapis, dan tamu undangan lainnya.

Lebih dari sekadar
mencatatkan Rekor MURI, langkah Polda NTT menunjukkan bahwa menjaga keamanan
tidak selalu dimulai dari tindakan represif, tetapi juga dari kepedulian
terhadap kesehatan mental. Ketika anggota Polri dan masyarakat sama-sama
memiliki ruang untuk pulih, yang terbangun bukan hanya individu yang lebih
tangguh, melainkan kepercayaan publik terhadap Polri yang semakin kuat. Itulah
makna sesungguhnya dari rekor ini, bukan tentang siapa yang mencatat sejarah,
tetapi tentang siapa yang menghadirkan manfaat bagi sesama.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Pemenang SOYJOY Nutrition Award 2026 Berbagi Inovasi Gizi di Forum Temu Ilmiah Nasional II PERSAGI

Surabaya, 4 Juli
2026
– PT Amerta Indah Otsuka melalui SOYJOY
melanjutkan dukungannya bagi para ahli gizi dengan membawa semangat inovasi
para pemenang SOYJOY Nutrition Award (SNA) 2026 pada acara Temu Ilmiah Nasional
II PERSAGI yang dihadiri lebih dari 515 ahli gizi di Surabaya.

Kehadiran SOYJOY
dalam forum TIN II PERSAGI menjadi kelanjutan dari The 4th SOYJOY Nutrition
Award 2026 yang sebelumnya digelar di Jakarta dan menghimpun 213 program gizi
dari 96 kota di Indonesia. Dari ratusan program tersebut, SOYJOY memberikan
apresiasi kepada tiga program terbaik melalui kategori Best Impact Award,
Best Innovation Award, dan Most Inspiring Award.

 

Tiga pemenang SNA
2026 hadir dengan pendekatan berbeda dalam menjawab tantangan gizi. Wiranto,
S.Gz., Dietisien meraih Best Innovation Award melalui NUTRITOOLS, sebuah
inovasi digital untuk mendukung pembelajaran dan praktik gizi. Tim Gizi RSUPN
Dr. Cipto Mangunkusumo diwakili oleh Ervita Widiarsanti ,S.Gz meraih Best Impact Award melalui
FEEDCYCLE, inovasi reuse feeding buret untuk meningkatkan efisiensi
layanan rumah sakit dan mengurangi limbah medis. Sementara itu, Ihsan Abdul
Aziz, S.Gz. meraih Most Inspiring Award melalui pendekatan circular
economy
dalam pengelolaan food waste dengan inovasi PANGAN LESTARI
(pemanfaatan sisa pangan untuk lingkungan dan ekonomi sirkular) dalam rangka
penurunan stunting.

 

Ketiga program ini
menunjukkan bahwa inovasi gizi dapat hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari
pemanfaatan teknologi, efisiensi layanan kesehatan, hingga pengelolaan pangan
berkelanjutan. Melalui sesi talk show di TIN II PERSAGI, para pemenang berbagi
pengalaman tentang bagaimana solusi yang berangkat dari kebutuhan sehari-hari
dapat memberikan dampak bagi masyarakat.

 

Ihsan Abdul Aziz
sebagai pemenang Most Inspiring Award menjelaskan pada acara sesi
talkshow tersebut bahwa suatu masalah bisa menjadi solusi bagi masalah lain.
Melalui programnya, ia membawa pendekatan circular economy dalam
pengelolaan food waste dan berhasil mengolah lebih dari 100 Kg sampah
makanan menjadi pakan ternak untuk ikan lele dengan nilai gizi yang meningkat
dan diberikan kepada balita stunting dalam bentuk pemberian makanan tambahan.

 

“Banyak solusi gizi
sebenarnya bisa dimulai dari hal yang sangat dekat dengan masyarakat, termasuk
bagaimana kita melihat kembali sisa pangan agar tidak berhenti sebagai limbah.
Melalui PANGAN LESTARI, kami ingin menunjukkan bahwa pengelolaan food waste
dapat menjadi bagian dari upaya mendukung pemenuhan gizi dan penurunan
stunting. Saya berharap program ini bisa menginspirasi lebih banyak ahli gizi
untuk melihat potensi solusi dari lingkungan terdekat mereka.” ujar Ihsan Abdul
Aziz.

 

Sementara itu,
Wiranto menilai kesempatan berbagi di hadapan para ahli gizi menjadi momentum
penting untuk menunjukkan bagaimana transformasi digital dapat memperluas akses
pembelajaran dan praktik gizi melalui NUTRITOOLS. Tim Gizi RSUPN DR. Cipto
Mangunkusumo yang diwakili oleh Ervita Widiarsanti menambahkan bahwa inovasi
gizi juga dapat lahir dari perbaikan sistem kerja di fasilitas layanan
kesehatan. Melalui FEEDCYCLE, ia menunjukkan bahwa inovasi teknis di rumah
sakit dapat meningkatkan efisiensi layanan sekaligus mengurangi limbah medis.

 

Menurut Kenny
Aridy, Digital & New Product Development Manager SOYJOY, kisah para
pemenang SNA 2026 menunjukkan bahwa inovasi gizi dapat lahir dari kebutuhan
yang dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari praktik edukasi, layanan
kesehatan, hingga pengelolaan pangan yang lebih berkelanjutan. Melalui
kehadiran para pemenang di TIN II PERSAGI, SOYJOY ingin membawa cerita dan
pembelajaran tersebut ke ruang yang lebih luas agar dapat memperkuat semangat
kolaborasi di antara para ahli gizi.

 

“Bagi SOYJOY,
mendukung inovasi di bidang gizi merupakan bagian dari misi besar kami untuk
membantu meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia. Melalui SOYJOY
Nutrition Award, kami ingin memberikan ruang apresiasi bagi para ahli gizi yang
terus menghadirkan solusi nyata dari praktik sehari-hari, sekaligus mendorong
agar inovasi tersebut dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk bersama-sama
membangun ekosistem gizi yang lebih baik,” ujar Kenny.

 

Selain menghadirkan
para pemenang di TIN II PERSAGI, SOYJOY juga mengajak mereka mengunjungi pabrik
SOYJOY di Pasuruan, Jawa Timur. Dalam kunjungan tersebut, para pemenang melihat
langsung proses produksi SOYJOY, mulai dari pengolahan bahan, penerapan standar
kualitas, hingga sistem keamanan pangan. Pengalaman ini menjadi bagian dari
upaya SOYJOY untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat mengenai proses
produksi pangan yang berkualitas, sekaligus memperkuat pemahaman tentang
pentingnya pilihan konsumsi yang lebih baik.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Strategi Laddering Deposito yang Jarang Diketahui

Laddering adalah strategi membagi dana ke beberapa deposito dengan tenor yang berbeda agar pencairan dana lebih fleksibel. Cara ini sering digunakan oleh orang yang ingin menyimpan dana dalam deposito, tetapi tetap memiliki akses terhadap sebagian dana secara berkala.

Meski cukup populer dalam perencanaan keuangan, masih banyak orang yang belum mengenal laddering technique adalah salah satu cara mengatur penempatan deposito sesuai kebutuhan jangka pendek maupun menengah.

Lalu, bagaimana cara kerja strategi ini?

Laddering Adalah Apa?

Secara sederhana, laddering adalah metode membagi dana ke dalam beberapa deposito dengan jangka waktu atau tenor yang berbeda.

Tujuannya bukan untuk mengejar keuntungan yang lebih tinggi, melainkan membantu mengatur jadwal pencairan dana agar tidak seluruhnya jatuh tempo di waktu yang sama.

Strategi ini dapat menjadi pilihan bagi orang yang memiliki beberapa rencana keuangan dalam periode yang berbeda.

Bagaimana Cara Kerja Laddering?

Misalnya, kamu memiliki dana sebesar Rp40 juta.

Daripada menempatkan seluruh dana dalam satu deposito dengan tenor 12 bulan, dana tersebut bisa dibagi menjadi beberapa bagian.

Contohnya: 

– Deposito Rp10 juta dengan tenor 3 bulan.

– Deposito Rp10 juta dengan tenor 6 bulan.

– Deposito Rp10 juta dengan tenor 9 bulan.

– Deposito Rp10 juta dengan tenor 12 bulan.

Saat deposito tenor 3 bulan jatuh tempo, kamu memiliki beberapa pilihan, seperti menggunakan dana tersebut sesuai kebutuhan atau menempatkannya kembali ke deposito sesuai rencana keuangan.

Cara ini membuat jadwal pencairan dana menjadi lebih bertahap.

Kenapa Banyak Orang Menggunakan Strategi Laddering?

Ada beberapa alasan mengapa strategi ini cukup dikenal dalam perencanaan keuangan.

1. Jadwal Pencairan Lebih Fleksibel

Seluruh dana tidak terkunci dalam satu waktu jatuh tempo.

Setiap beberapa bulan, ada deposito yang selesai sesuai tenor yang dipilih.

2. Memudahkan Menyesuaikan Kebutuhan Keuangan

Setiap orang memiliki tujuan keuangan yang berbeda.

Misalnya:

– Dana liburan enam bulan lagi.

– Dana renovasi rumah tahun depan.

– Dana pendidikan yang dibutuhkan secara bertahap.

Laddering membantu menyusun penempatan dana sesuai rencana tersebut.

3. Membantu Mengelola Dana Secara Bertahap

Saat salah satu deposito jatuh tempo, kamu memiliki kesempatan untuk mengevaluasi kembali kebutuhan keuangan.

Kalau dana belum diperlukan, kamu bisa mempertimbangkan untuk menempatkannya kembali pada deposito dengan tenor yang sesuai.

Apakah Laddering Cocok untuk Semua Orang?

Belum tentu. Strategi ini umumnya lebih sesuai bagi orang yang:

– Sudah memiliki dana darurat.

– Memiliki dana yang belum akan digunakan dalam waktu dekat.

– Ingin menyusun beberapa target keuangan dengan jadwal yang berbeda.

Kalau dana masih berpotensi digunakan sewaktu-waktu, sebaiknya pastikan kebutuhan likuiditas tetap terpenuhi sebelum menempatkannya pada deposito.

Cara Memulai Strategi Laddering

Kalau ingin mencoba strategi ini, kamu bisa mengikuti langkah sederhana berikut.

– Tentukan total dana yang ingin disimpan.

– Buat daftar tujuan keuangan beserta perkiraan waktunya.

– Bagi dana ke beberapa nominal sesuai kebutuhan.

– Pilih tenor yang sesuai dengan rencana penggunaan dana.

– Evaluasi kembali setiap kali ada deposito yang jatuh tempo.

Tidak ada jumlah maupun tenor yang wajib digunakan. Strategi laddering dapat disesuaikan dengan kondisi dan tujuan keuangan masing-masing.

Atur Strategi Laddering Lebih Mudah dengan Deposito WOW

Kalau ingin menerapkan strategi laddering, Deposito WOW di neobank dari Bank Neo Commerce dapat menjadi salah satu pilihan yang bisa dipertimbangkan.

Deposito WOW menyediakan pilihan tenor mulai dari 7 hari hingga 12 bulan, sehingga kamu dapat menyesuaikan penempatan dana dengan berbagai target keuangan. Proses pembukaannya juga dilakukan secara digital melalui aplikasi neobank tanpa perlu datang ke kantor cabang.

Beberapa keunggulan Deposito WOW:

– Pilihan tenor 7 hari hingga 12 bulan.

– Pembukaan deposito langsung melalui aplikasi neobank.

– Proses pemantauan deposito dapat dilakukan kapan saja melalui aplikasi.

– Bunga kompetitif* sesuai ketentuan yang berlaku.

Sebelum membuka deposito, pastikan kamu memahami fitur produk, tingkat bunga, biaya, risiko, serta syarat dan ketentuan yang berlaku.

***

Fitur, biaya, dan ketentuan produk dapat berubah sesuai kebijakan masing-masing penyedia layanan. Nasabah disarankan membaca Ringkasan Informasi Produk dan Layanan (RIPLAY) sebelum membuka deposito. 

*)Perhatikan tingkat bunga penjaminan yang ditetapkan LPS. Simpanan dengan bunga melebihi tingkat bunga penjaminan tidak dijamin oleh LPS. Tingkat bunga penjaminan LPS sampai 30 September 2026 adalah 3,50% per tahun.

Jika ingin mulai menggunakan Deposito WOW, unduh aplikasi neobank melalui PlayStore atau App Store. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi halaman Deposito WOW di website resmi Bank Neo Commerce.  

PT Bank Neo Commerce Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), serta merupakan peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Lebih dari Sekadar Sebuah Ruang: CURATED LIVING Hadir di ASHTA District 8

ASHTA District 8 menghadirkan CURATED LIVING, sebuah karya yang mengeksplorasi bagaimana seni, desain, dan gaya hidup dapat saling terhubung dalam menciptakan pengalaman ruang yang lebih bermakna

Sebuah ruang tidak hanya dibentuk oleh dinding dan furnitur, tetapi juga oleh cerita, perasaan, dan pengalaman yang hadir di dalamnya. Berangkat dari pemikiran tersebut, ASHTA District 8 menghadirkan CURATED LIVING, sebuah karya yang mengeksplorasi bagaimana seni, desain, dan gaya hidup dapat saling terhubung dalam menciptakan pengalaman ruang yang lebih bermakna. Berlangsung pada 3–26 Juli 2026, CURATED LIVING mengajak pengunjung menemukan perspektif baru tentang cara melihat, merasakan, dan menjalani keseharian melalui pengalaman yang dikurasi secara menyeluruh.

Dengan membawa tema Where Design Meets Lifestyle, CURATED LIVING menghadirkan rangkaian pengalaman yang memperlihatkan bahwa seni tidak hanya hadir di dalam galeri, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ruang hidup dan aktivitas sehari-hari. Melalui kolaborasi bersama praktisi seni, desain, dan interior, ruang ini menghubungkan karya artistik dengan fungsi ruang itu sendiri, menghadirkan pengalaman yang menginspirasi sekaligus relevan dengan kehidupan urban masa kini.

Alaya Kala: Seni, Desain, dan Cara Baru Melihat Ruang 

Sebagai bagian utama dari CURATED LIVING, Alaya Kala hadir di Melting Pot, Ground Floor sebagai sebuah pameran imersif yang mempertemukan karya-karya pematung Indonesia Adi Gunawan dengan pendekatan interior yang dikurasi secara harmonis. Dipersembahkan oleh SANKHARA bersama POLA Studio EST. 2016, Theory of Living, dan Quatro Design Studio, Alaya Kala menghadirkan sebuah living space di mana karya seni dan desain interior berpadu secara harmonis, memperlihatkan bagaimana keduanya mampu membangun koneksi berkesinambungan dan sekaligus menghadirkan makna baru dalam sebuah ruang.Diambil dari bahasa Sanskerta, Alaya berarti tempat bernaung dan Kala berarti waktu, yang bersama-sama merepresentasikan sebuah ruang yang menyimpan perjalanan, jejak, dan ingatan. Gagasan tersebut berangkat dari akar budaya yang melekat dalam perjalanan berkarya Adi Gunawan di Yogyakarta, kemudian diterjemahkan ke dalam pengalaman ruang yang lebih kontemporer melalui interpretasi elemen-elemen arsitektur rumah Jawa, khususnya Joglo. Alaya Kala mengangkat esensi nilai, memori, dan warisan budaya ke dalam sebuah ruang yang relevan dengan kehidupan masa kini.

Melalui kolaborasi lintas disiplin tersebut, Alaya Kala menjadi ruang pertemuan antara seni, desain, dan warisan budaya, menghadirkan interpretasi kontemporer tentang bagaimana memori kolektif dapat diterjemahkan menjadi pengalaman yang menginspirasi. Pengunjung diajak mengeksplorasi bagaimana ruang yang dikurasi dengan penuh perhatian mampu mempengaruhi cara kita melihat, merasakan, dan berinteraksi dengan lingkungan di sekitar. Setiap elemen dihadirkan sebagai bagian dari sebuah komposisi yang menghubungkan estetika, fungsi, dan pengalaman hidup dalam satu kesatuan.

Beyond The Walls: Seni di Antara Setiap Ruang

Melengkapi rangkaian CURATED LIVING, Beyond The Walls memperluas pengalaman seni hingga ke area Connecting Langham. Mengusung gagasan bahwa seni tidak berhenti di dalam ruang pamer, instalasi ini menghadirkan lima karya patung kontemporer yang ditempatkan di berbagai titik untuk menciptakan perjumpaan-perjumpaan yang tidak terduga. Di sela perjalanan pengunjung, karya-karya tersebut menjadi ruang untuk berhenti sejenak, mengamati, refleksi, dan menemukan koneksi baru dengan seni dalam konteks keseharian.

Melalui CURATED LIVING, ASHTA District 8 kembali memperkuat komitmennya sebagai destinasi gaya hidup yang menghadirkan pengalaman terkurasi melalui seni, desain, dan komunitas. Lebih dari sekadar menghadirkan pameran, kampanye ini menjadi sebuah undangan untuk melihat bagaimana ruang yang dirancang dengan penuh perhatian mampu mengubah momen-momen sederhana menjadi pengalaman yang lebih bermakna, sekaligus menginspirasi cara baru dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

CURATED LIVING berlangsung di ASHTA District 8 pada 3–26 Juli 2026 dan terbuka untuk publik.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Memperkuat Kualitas Layanan, IPCC Lakukan Management Walkthrough Terminal Satelit Banjarmasin

Banjarmasin, Juli 2026 – Dalam rangka mengevaluasi kinerja operasional dan keuangan secara menyeluruh, Manajemen PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IDX:IPCC) melaksanakan kunjungan kerja ke Terminal Satelit Banjarmasin pada Kamis (2/7) . Melalui kunjungan ini, Manajemen menggali langsung berbagai tantangan dan hambatan yang dihadapi di lapangan untuk kemudian merumuskan solusi serta strategi pengembangan sebagai langkah konkret peningkatan kinerja perusahaan ke depan. Hadir dalam kesempatan tersebut jajaran Dewan Komisaris, M. Said Bakhri selaku Komisaris Utama, Tri Hidayat dan Herry Ardianto selaku Komisaris Independen, Bagus Dwipoyono selaku Direktur Operasi dan Teknik merangkap Plt. Direktur Utama, beserta jajaran manajemen IPCC.

M. Said Bakhri selaku Komisaris Utama IPCC menegaskan pentingnya pengawasan aktif Dewan Komisaris terhadap kinerja perusahaan khususnya pada Terminal Satelit di Banjarmasin. “Kunjungan ini menjadi momentum bagi kami untuk melakukan evaluasi secara langsung, tidak hanya dari sisi laporan, tetapi juga kondisi secara langsung di lapangan. Kami mendorong Manajemen untuk terus memperkuat sinergi antar unit kerja, mempercepat penyelesaian hambatan operasional, serta menyusun langkah strategis yang terukur agar Terminal Satelit Banjarmasin dapat tumbuh lebih baik dan memberikan kontribusi optimal bagi perusahaan,” ujar Said Bakhri.

Sebagai bentuk komitmen IPCC kepada para pengguna jasa dalam mengimplementasikan nilai Danantara yaitu melayani sepenuh hati, IPCC terus berupaya untuk meningkatkan kualitas SDM dengan melakukan sharing session, workshop sehingga akan terbentuk budaya excellent services yang diiimbangi dengan penguatan dari sisi fasilitas serta produktivitas kinerja operasional. Melengkapi evaluasi kinerja operasional dan keuangan secara data, Dewan Komisaris, Direksi dan Manajemen IPCC melakukan kunjungan lapangan guna mengevaluasi secara menyeluruh. Hingga Mei 2026, Satelit Banjarmasin berhasil melayani bongkar muat kargo dengan rincian arus mobil (CBU) sebanyak 28.436 unit, truk/bus sejumlah 34.760 unit, alat berat tercatat 2.663 unit, dan 349 kunjungan kapal.

Pada Manajemen Walkthrough kali ini, Bagus Dwipoyono selaku Direktur Operasi dan Teknik merangkap Plt. Direktur Utama IPCC menyampaikan bahwa kunjungan kerja ini merupakan bagian dari upaya evaluasi menyeluruh terhadap kinerja operasional dan keuangan Terminal Satelit Banjarmasin.

“Kami ingin memastikan setiap proses bongkar muat kargo dari para pengguna jasa berjalan optimal dan dapat memberikan nilai tambah bagi seluruh pihak. Melalui kunjungan ini, kami dapat melihat langsung kondisi di lapangan, mengidentifikasi kendala yang dihadapi tim operasional, sekaligus merumuskan langkah perbaikan agar target kinerja ke depan dapat tercapai dengan lebih baik,” ucap Bagus.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Daya Saing Global, Tembakau Premium PTPN I Jadi Andalan Industri Cerutu Dunia

JAKARTA – Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) terus memperkuat daya saing komoditas tembakau nasional melalui PTPN I (Persero). Berbekal pengalaman panjang dalam pengelolaan perkebunan tembakau premium, dua produk unggulan perusahaan, yakni Tembakau Besuki Bawah Naungan (TBBN) dan Tembakau Deli, semakin diminati pasar internasional sebagai bahan baku pembungkus (wrapper) cerutu premium.

Karakter daun yang elastis, bertekstur halus, memiliki stabilitas pembakaran yang baik, warna premium, serta cita rasa dan aroma khas menjadi keunggulan yang menarik minat pembeli dari Eropa, Amerika Latin, dan berbagai kawasan lainnya.

Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, menyampaikan bahwa prospek pasar tembakau premium terus menunjukkan perkembangan positif. Dalam rapat gabungan di Jakarta, Kamis (25/6/2026), ia menegaskan komitmen perusahaan untuk meningkatkan produksi melalui perluasan areal tanam sekaligus menjaga kualitas produk yang selama ini menjadi keunggulan utama PTPN I.

“Kami yakin bisa mengembalikan kejayaan produk tembakau premium yang punya sejarah keemasan sejak lama. Optimisme kami lebih yakin karena progres permintaan pasar ekspor, terutama dari Eropa dan negara-negara makmur lainnya meningkat signifikan. Lebih dari itu, tembakau kita adalah produk eksklusif yang tak kenal krisis. Artinya, tingkat influence-nya sangat rendah,” kata Teddy.

Menurut Teddy, Tembakau Besuki Bawah Naungan (TBBN) dan Tembakau Deli telah lama diakui secara global sebagai bahan baku pembungkus (wrapper) cerutu premium terbaik di dunia. Perkembangan transaksi ekspor kedua varietas tersebut dalam beberapa tahun terakhir semakin memperkuat reputasi Indonesia sebagai salah satu produsen tembakau premium dunia.

“Tembakau premium kita memiliki karakteristik khas yang berbeda dengan produk Kuba maupun Amerika Latin. Keunggulan kami terletak pada tingkat elastisitas daun yang baik, struktur daun yang halus, kemampuan pembakaran yang stabil, serta warna yang menarik,” ujarnya.

Ia menambahkan, konsistensi kualitas tersebut menjadikan produk PTPN I sebagai pilihan utama industri cerutu premium dunia. Kinerja operasional komoditas tembakau PTPN I juga menunjukkan tren yang positif. Berdasarkan data perusahaan, volume produksi tembakau premium meningkat secara konsisten dalam lima tahun terakhir. Produksi tercatat sebesar 748.638 kilogram pada 2021, kemudian mencapai 729.544 kilogram pada 2022, meningkat menjadi 932.837 kilogram pada 2023, naik lagi menjadi 974.489 kilogram pada 2024, dan tetap terjaga pada level 972.243 kilogram sepanjang 2025.

Sejalan dengan pertumbuhan produksi, produktivitas lahan juga terus mengalami peningkatan. Produktivitas tercatat sebesar 1.238 kilogram per hektare pada 2021, 1.090 kilogram per hektare pada 2022, meningkat menjadi 1.372 kilogram per hektare pada 2023, mencapai 1.382 kilogram per hektare pada 2024, dan mencatatkan capaian tertinggi sebesar 1.397 kilogram per hektare pada 2025.

Untuk menjawab meningkatnya permintaan pasar global, PTPN I melalui Divisi Komoditi Kopi dan Aneka Tanaman melakukan langkah strategis dengan memperluas areal tanam tembakau hingga 500 hektare pada musim tanam 2026. Langkah tersebut dilakukan guna memastikan keberlanjutan pasokan dalam memenuhi berbagai kontrak ekspor.

Menurut Teddy, segmen cerutu premium tetap memiliki prospek yang menjanjikan meskipun industri tembakau global menghadapi berbagai regulasi yang semakin ketat. Permintaan terhadap produk premium terus tumbuh, terutama dari pasar luxury products, premium lifestyle, kolektor, hingga sektor high-end hospitality. Selain itu, meningkatnya tren produk berbasis asal-usul (origin-based products) semakin membuka peluang bagi Tembakau Besuki dan Deli untuk memperkuat posisinya di pasar internasional.

Meski demikian, PTPN I tetap mewaspadai tantangan perubahan iklim yang berpotensi memengaruhi produktivitas komoditas tembakau. Untuk menjaga konsistensi mutu, perusahaan menerapkan strategi mitigasi secara menyeluruh mulai dari penyesuaian kalender tanam, penguatan pemantauan kondisi cuaca secara real-time, penggunaan varietas yang adaptif, penerapan praktik budidaya berkelanjutan (sustainable farming), hingga penguatan sistem pengendalian mutu dan traceability sejak proses pembibitan hingga pascapanen.

Melalui pengelolaan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN I optimistis tembakau premium Indonesia akan terus mempertahankan reputasinya sebagai salah satu standar mutu utama dalam industri cerutu premium dunia, sekaligus memperkuat daya saing komoditas perkebunan nasional di pasar global.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES