Menyiapkan Kuota e-Meterai Perusahaan Sebelum Musim Kontrak Menumpuk

Persiapan kuota e-Meterai sejak awal membantu perusahaan menghindari kekurangan saat volume kontrak meningkat. Dengan perencanaan yang tepat, proses legalisasi dokumen tetap lancar dan tidak menghambat operasional.

Menjelang tutup kuartal, meja legal biasanya penuh perjanjian yang menunggu pengesahan. Tim baru sadar stok meterai menipis saat dokumen sudah antre. Kuota e-Meterai Perusahaan sering dianggap urusan teknis kecil, padahal menahan laju kontrak.

Dampaknya menjalar ke banyak divisi. Penagihan tertunda karena berita acara belum lengkap pengesahannya. Vendor menunggu kepastian, sementara jadwal proyek terus berjalan. Dokumen yang belum bermeterai juga berisiko dikenai pemeteraian kemudian beserta sanksi administratif.

Perencanaan kuota menutup risiko tersebut sejak awal. Perusahaan dapat beli meterai elektronik dalam jumlah terukur sebelum musim kontrak tiba. Langkahnya sederhana, asalkan pemetaan dokumennya dilakukan lebih dulu.

Memetakan Dokumen yang Wajib Bermeterai Sebelum Menghitung Kebutuhan

Tidak semua berkas perusahaan menjadi objek bea meterai. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2020 tentang Bea Meterai menetapkan tarif tunggal sepuluh ribu rupiah. Aturan itu berlaku sejak 1 Januari 2021, termasuk untuk dokumen dalam bentuk elektronik.

Jenis Dokumen yang Umum Ditemui

Beberapa dokumen berikut termasuk objek bea meterai:

● Surat perjanjian, surat keterangan, surat pernyataan, dan surat sejenis beserta rangkapnya

● Akta notaris serta akta pejabat pembuat akta tanah beserta salinannya

● Surat berharga dan dokumen transaksi surat berharga

● Dokumen bernilai lebih dari lima juta rupiah yang menyebutkan penerimaan uang

● Dokumen yang digunakan sebagai alat bukti di pengadilan

Menghitung Kebutuhan e-Meterai Perusahaan dalam Satu Periode

Perhitungan paling akurat berangkat dari data tahun sebelumnya. Hitung jumlah perjanjian, kuitansi, dan berita acara yang terbit tiap bulan. Tambahkan margin untuk dokumen revisi yang harus diterbitkan ulang. Angka itu menjadi dasar pengisian kuota ematerai untuk satu periode.

Pola Musiman yang Perlu Diantisipasi

Volume dokumen jarang merata sepanjang tahun. Penutupan tahun buku dan awal tahun anggaran biasanya menjadi puncaknya. Perusahaan konstruksi dan pengadaan sering mengalami lonjakan menjelang tenggat tender.

Alur Pengisian Kuota melalui Akun Korporat

Pengisian kuota di ezSign dikelola melalui akun sysadmin korporat. Prosesnya dilakukan tanpa perlu mengurus berkas fisik ke mana pun. Untuk pembelian meterai elektronik, koordinasinya melalui admin korporat atau tim sales.

Tahapan Top Up Kuota

Alur pengisian saldo pada akun korporat berjalan seperti ini:

1. Masuk ke akun sysadmin, lalu buka menu Services.

2. Pilih opsi Top Up pada menu tersebut.

3. Tentukan jumlah kuota yang dibutuhkan.

4. Pilih metode pembayaran, kemudian klik Create Order.

5. Selesaikan pembayaran dalam waktu maksimal 1×24 jam.

Metode pembayaran yang tersedia mencakup transfer bank dan QRIS. Sysadmin sebaiknya menyimpan bukti transaksi untuk keperluan rekonsiliasi internal.

Kesalahan Pengelolaan e-Meterai Perusahaan yang Sering Terjadi

Kendala terbesar biasanya bukan pada teknologinya. Kesalahan justru muncul dari kebiasaan administrasi yang belum tertata rapi. Beberapa pola berikut paling sering ditemui di lapangan:

● Menempatkan tanda tangan hingga menimpa kode QR pada meterai

● Membeli kuota mendadak saat dokumen sudah menunggu pengesahan

● Membubuhkan meterai pada dokumen yang sebenarnya tidak wajib bermeterai

● Tidak menunjuk pengganti sysadmin ketika pemegang akun sedang cuti

Penempatan dan Kondisi Dokumen

Satu hal teknis layak digarisbawahi oleh tim legal. Posisi ematerai dan tanda tangan sebaiknya berdampingan agar kode QR tetap terbaca. Pastikan isi dokumen sudah final sebelum pembubuhan dilakukan. Pengeditan atau kompresi setelahnya berisiko menggugurkan hasil verifikasi.

Kesiapan Administrasi yang Menentukan Kelancaran Kontrak

Pengelolaan meterai digital menuntut perencanaan, bukan reaksi mendadak. Pemetaan dokumen, perhitungan volume, dan penunjukan pengelola akun perlu disiapkan bersamaan. Perusahaan yang rutin meninjau kuotanya jarang kehilangan momentum saat kontrak menumpuk.

ezSign menyediakan fitur pembubuhan meterai elektronik terbitan Peruri pada dokumen digital. Fitur ini tersedia untuk pengguna akun bisnis dan berjalan dalam satu aplikasi dengan tanda tangan elektronik. Perusahaan yang sedang menata alur dokumennya dapat berdiskusi lebih dulu melalui kanal resmi ezSign.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Siapa pihak yang menerbitkan meterai elektronik?

Meterai elektronik diterbitkan oleh Peruri, sedangkan penyedia layanan menyediakan fasilitas pembubuhannya pada dokumen digital.

2. Berapa tarif bea meterai yang berlaku saat ini?

Tarifnya tunggal sebesar sepuluh ribu rupiah sesuai Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2020 tentang Bea Meterai.

3. Apakah kuota e-Meterai Perusahaan bisa ditambah sewaktu-waktu?

Bisa, penambahan dilakukan melalui akun sysadmin korporat atau dengan menghubungi tim sales penyedia layanan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Kemitraan Indonesia–India: Saatnya Mengubah Komitmen Menjadi Hasil Nyata

Jakarta — Kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia menjadi kesempatan penting untuk mengangkat salah satu kemitraan strategis yang paling besar potensinya di Asia, namun hingga kini masih belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagai dua negara demokrasi besar, kekuatan maritim, anggota G20, serta suara penting bagi negara-negara Global South, Indonesia dan India sesungguhnya memiliki modal yang sangat kuat untuk membangun hubungan yang jauh lebih erat. Namun, berbagai capaian kerja sama selama ini masih belum sepenuhnya mencerminkan potensi yang dimiliki kedua negara. Karena itu, kunjungan ini dapat menjadi titik balik yang penting—apabila Indonesia dan India mampu melampaui simbolisme diplomatik dan mulai melembagakan kerja sama di bidang perdagangan, teknologi, konektivitas, keamanan maritim, serta hubungan antarmasyarakat secara lebih konkret dan berkelanjutan.

Dari Kemitraan Strategis Menuju Konvergensi Strategis

Hubungan kedua negara memperoleh momentum yang sangat kuat ketika Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kenegaraan ke India pada Januari 2025, bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–India. Dalam kunjungan tersebut, kedua negara menandatangani lima kesepakatan yang mencakup kerja sama di bidang kesehatan, pengobatan tradisional, transformasi digital, keamanan maritim, serta pertukaran budaya. Kehadiran Presiden Prabowo sebagai Tamu Kehormatan pada peringatan Hari Republik India semakin menegaskan pentingnya posisi Indonesia dalam strategi Indo-Pasifik India.

Namun demikian, pertanyaan yang lebih besar adalah apakah berbagai capaian tersebut mampu menghasilkan lompatan besar (quantum leap) dalam hubungan bilateral. Jawabannya bergantung pada kemampuan kedua negara mengubah hubungan yang selama ini banyak ditopang oleh kedekatan diplomatik menjadi kemitraan yang berakar pada saling ketergantungan ekonomi, teknologi, dan inovasi.

Secara historis, Indonesia dan India memiliki hubungan peradaban yang sangat kuat serta saling memahami dalam berbagai isu politik internasional. Kerja sama selama masa perjuangan antikolonial, keterlibatan dalam semangat Konferensi Asia-Afrika Bandung, serta dukungan terhadap terciptanya tatanan dunia yang lebih multipolar telah membangun fondasi yang kokoh bagi hubungan kedua negara. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan tersebut terus berkembang melalui peningkatan kerja sama maritim dan pertahanan, bertambahnya minat terhadap produk pertahanan India, perluasan pertukaran budaya dan pendidikan, dukungan India terhadap konservasi Candi Prambanan, meningkatnya investasi India di Indonesia, penjajakan mekanisme perdagangan menggunakan mata uang lokal, hingga kerja sama antara Indian Coast Guard dan Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (BAKAMLA).

Meski demikian, berbagai tantangan masih membatasi perkembangan hubungan bilateral. Nilai perdagangan kedua negara masih jauh di bawah potensi yang sebenarnya, sementara investasi India di Indonesia masih tertinggal dibandingkan investasi dari Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, maupun Singapura. Karena itu, hubungan Indonesia–India selama ini sering dipandang memiliki arti strategis yang besar, tetapi belum berkembang secara optimal dari sisi ekonomi.

Mengapa Momentum Saat Ini Berbeda?

Terdapat sejumlah perkembangan global yang membuat situasi saat ini jauh lebih menguntungkan dibandingkan sebelumnya.

Salah satunya adalah semakin kuatnya peran Indonesia dan India sebagai pemimpin negara-negara Global South. Sebagai dua negara berkembang dengan perekonomian besar, keduanya memiliki kepentingan yang sama dalam mendorong reformasi tata kelola global, memperjuangkan pembiayaan iklim yang lebih adil, meningkatkan akses terhadap pendanaan pembangunan, memperkuat ketahanan pangan, serta memperluas akses terhadap teknologi. Ketika globalisasi menghadapi tekanan akibat rivalitas geopolitik, fragmentasi rantai pasok, dan meningkatnya proteksionisme, Indonesia dan India memiliki peluang untuk bersama-sama memperjuangkan tatanan ekonomi global yang lebih inklusif. Berbeda dengan banyak kemitraan Global South lainnya yang sering berhenti pada tataran retorika, Indonesia dan India memiliki skala ekonomi serta pengaruh diplomatik yang cukup besar untuk benar-benar memengaruhi arah berbagai forum internasional seperti G20BRICS, maupun ASEAN.

Bidang lain yang memiliki prospek besar adalah ketahanan pangan dan energi. Kedua negara sama-sama menghadapi tantangan berupa inflasi pangan, fluktuasi harga energi, serta dampak perubahan iklim. Indonesia merupakan produsen utama minyak sawit, nikel, batu bara, dan berbagai komoditas strategis lainnya, sementara India merupakan salah satu pasar konsumen terbesar di dunia. Investasi bersama di bidang pengolahan pangan, pupuk, energi terbarukan, biofuel, hingga pembangunan cadangan strategis akan memperkuat ketahanan kedua negara terhadap berbagai guncangan global. Justru karena didorong oleh kepentingan jangka panjang, sektor pangan dan energi berpotensi menjadi salah satu pilar kerja sama yang paling kokoh dalam hubungan Indonesia–India di masa depan.

Baik, berikut Bagian 2 dengan gaya yang tetap mengalir seperti artikel asli, tanpa memecah paragraf menjadi banyak bagian pendek.

Keamanan Maritim dan Industri Pertahanan

Dimensi maritim menawarkan salah satu peluang paling strategis dalam hubungan Indonesia dan India. Berada di jalur masuk Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok, Indonesia menempati posisi yang sangat penting dalam geopolitik Indo-Pasifik. Di sisi lain, India terus memperluas keterlibatan maritimnya ke arah timur melalui kebijakan Act East Policy dan strategi Indo-Pasifiknya. Kedua negara memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga kebebasan bernavigasi, meningkatkan kesadaran situasional maritim (maritime domain awareness), memberantas penangkapan ikan ilegal, memerangi pembajakan dan kejahatan lintas negara, memperkuat ketahanan rantai pasok, serta meningkatkan kemampuan penanggulangan bencana. Tahap berikutnya dari kerja sama ini seharusnya tidak lagi terbatas pada latihan militer bersama, tetapi berkembang menuju kolaborasi industri pertahanan, pembangunan fasilitas pemeliharaan bersama, produksi bersama, serta alih teknologi. Keinginan Indonesia untuk mendiversifikasi sumber pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) juga membuka peluang baru bagi berbagai platform dan teknologi pertahanan dari India.

Kemitraan Digital yang Berpotensi Mengubah Permainan

Bidang yang mungkin paling menjanjikan dalam hubungan Indonesia–India saat ini adalah kerja sama digital. Peluncuran Indonesia Open Network (ION) yang terinspirasi dari Open Network for Digital Commerce (ONDC) di India merupakan salah satu contoh nyata transfer pengetahuan mengenai Digital Public Infrastructure (DPI). Keberhasilan India membangun berbagai layanan publik digital, mulai dari sistem identitas hingga infrastruktur pembayaran, telah menarik perhatian banyak negara. Dengan ekonomi digital yang terus berkembang pesat, Indonesia menjadi mitra yang sangat tepat untuk mengadaptasi berbagai inovasi tersebut sesuai kebutuhan nasional. Agenda kerja sama ke depan dapat diperluas mencakup pengembangan Digital Public Infrastructure, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), keamanan siber, teknologi finansial (fintech), digitalisasi UMKM, hingga pengembangan keterampilan digital. Di tengah semakin ketatnya persaingan teknologi global, keberhasilan kemitraan digital Indonesia–India bahkan berpotensi menjadi model kolaborasi bagi negara-negara Global South.

Tantangan yang Masih Harus Diatasi

Meski prospeknya sangat besar, terdapat sejumlah hambatan yang masih membatasi perkembangan hubungan kedua negara.

Tantangan pertama adalah masih rendahnya pemahaman masyarakat dan dunia usaha mengenai satu sama lain. Banyak pelaku bisnis India yang justru lebih mengenal pasar Eropa, Amerika Utara, atau kawasan Teluk dibandingkan Indonesia. Sebaliknya, tidak sedikit masyarakat Indonesia yang masih memandang India hanya melalui perspektif sejarah dan budaya, tanpa memahami perkembangan ekonomi, teknologi, dan industrinya saat ini. Oleh karena itu, kedua negara memerlukan lebih banyak lembaga yang mampu menjembatani pertukaran gagasan secara berkelanjutan, seperti think tank, pusat kajian, maupun kemitraan akademik.

Tantangan berikutnya berkaitan dengan persepsi. Sejumlah pemangku kepentingan di Indonesia masih memandang bahwa sebagian pihak di India terkadang melihat hubungan bilateral melalui perspektif “keunggulan peradaban”, dengan terlalu menonjolkan pengaruh sejarah India terhadap budaya Indonesia. Narasi semacam ini, meskipun tidak selalu disengaja, dapat menimbulkan kesan yang kurang setara. Indonesia modern adalah negara yang berdaulat dengan identitas dan pencapaiannya sendiri. Karena itu, hubungan Indonesia–India di masa depan harus dibangun sebagai kemitraan antara dua negara yang setara, bukan berdasarkan hubungan pewaris dan penerima warisan budaya.

Dari sisi dunia usaha, perusahaan-perusahaan India juga masih menghadapi berbagai kendala dalam memahami dinamika regulasi dan lingkungan bisnis di Indonesia. Dibandingkan perusahaan dari Jepang maupun Tiongkok, jaringan bisnis India di Indonesia dinilai masih relatif terbatas. Berbagai tantangan yang sering disampaikan antara lain proses administrasi yang lambat, dukungan fasilitasi bisnis yang belum optimal, hambatan dalam pengadaan pemerintah, ketentuan tender tertentu yang berkaitan dengan standar OECD, hingga masih terbatasnya informasi pasar yang tersedia. Selain itu, terdapat pula pandangan bahwa kapasitas diplomasi ekonomi dan promosi bisnis India masih memerlukan penguatan agar mampu bersaing dengan negara-negara lain yang telah lebih dahulu aktif di Indonesia.

Mobilitas manusia juga masih menjadi pekerjaan rumah. Interaksi bisnis selama ini masih didominasi oleh jajaran eksekutif senior. Padahal, hubungan jangka panjang akan jauh lebih kuat apabila diikuti oleh semakin banyak perpindahan mahasiswa, peneliti, profesional muda, pendiri startup, serta tenaga kerja terampil antara kedua negara. Interaksi yang lebih luas akan membangun pemahaman yang lebih mendalam sekaligus menciptakan kelompok masyarakat yang memiliki kepentingan langsung terhadap keberhasilan hubungan Indonesia–India.

Selain itu, hubungan bilateral masih membutuhkan lebih banyak proyek unggulan (flagship projects) yang mampu menunjukkan manfaat nyata bagi masyarakat. Tiongkok dikenal melalui pembangunan infrastrukturnya, Jepang melalui kawasan industri, dan Korea Selatan melalui ekosistem manufakturnya. India juga memerlukan proyek-proyek berskala besar yang mudah dikenali publik, seperti taman teknologi, pusat layanan kesehatan unggulan, laboratorium kecerdasan buatan bersama, kemitraan universitas bergaya Indian Institutes of Technology (IIT), maupun pusat manufaktur farmasi. Tanpa proyek-proyek yang nyata dan mudah terlihat, persepsi publik akan selalu tertinggal dibandingkan kemajuan diplomasi yang sebenarnya telah dicapai.

Dapatkah Kunjungan Modi Menghasilkan Lompatan Besar?

Lompatan besar (quantum leap) dalam hubungan Indonesia–India sangat mungkin terjadi, tetapi tidak akan terwujud secara otomatis. Keberhasilannya bergantung pada kemampuan kedua negara mengubah hubungan yang selama ini bertumpu pada niat baik diplomatik menjadi kemitraan yang menghasilkan capaian nyata. Setidaknya terdapat tiga prioritas utama yang perlu diwujudkan. Pertama, membangun kemitraan komprehensif di bidang teknologi dan ekonomi digital yang berfokus pada kecerdasan buatan, Digital Public Infrastructure, dan inovasi. Kedua, menghadirkan proyek-proyek unggulan di bidang kesehatan, pendidikan, dan teknologi yang mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus menunjukkan komitmen India terhadap Indonesia. Ketiga, memperdalam kerja sama maritim dan industri pertahanan sehingga hubungan kedua negara menjadi salah satu pilar utama stabilitas kawasan Indo-Pasifik.

Indonesia dan India saat ini memiliki konvergensi kepentingan yang sangat kuat, mulai dari kepemimpinan di Global South, kepentingan menjaga keamanan maritim, kebutuhan memperkuat ketahanan pangan dan energi, hingga ambisi menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi masa depan. Kunjungan Presiden Prabowo ke India pada 2025 telah menciptakan momentum yang positif. Kini, kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi memberikan kesempatan untuk mengubah momentum tersebut menjadi transformasi strategis yang nyata. Keberhasilan hubungan kedua negara pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh banyaknya deklarasi yang dibuat, melainkan oleh kemampuan mengatasi kesenjjangan pengetahuan, hambatan birokrasi, dan berbagai kesalahpahaman, sambil menghadirkan proyek-proyek nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Apabila hal tersebut dapat diwujudkan, kemitraan Indonesia–India berpotensi berkembang menjadi salah satu hubungan bilateral paling penting di kawasan Indo-Pasifik sekaligus menjadi contoh nyata kerja sama praktis antarnegara Global South pada dekade mendatang.

*Gurjit Singh adalah mantan Duta Besar India untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN. Sebagai diplomat karier dan penulis, ia dikenal sebagai salah satu pengamat terkemuka mengenai kawasan Indo-Pasifik, kebijakan luar negeri India, serta kerja sama strategis regional. Ia juga merupakan penulis buku The Mango Flavour: India, ASEAN and the Act East Policy.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Bandhan Melampaui Batas: Apa yang Harus Indonesia dan India Bangun Bersama Selanjutnya?

Jakarta — Jauh sebelum rantai pasok menghubungkan pabrik-pabrik kita dan investasi mempererat hubungan ekonomi kedua negara, Samudra Hindia telah membawa sesuatu yang jauh lebih berharga antara Indonesia dan India, yaitu kepercayaan. Kapal-kapal dagang yang memanfaatkan angin muson memang mengangkut rempah-rempah, tekstil, dan berbagai kisah peradaban, tetapi pada saat yang sama juga membawa sebuah gagasan yang mampu bertahan melampaui pergantian zaman: bahwa kemakmuran akan tumbuh jauh lebih kuat apabila dibangun bersama melintasi batas negara, bukan ketika dinikmati secara eksklusif oleh masing-masing pihak.

Semangat tersebut kemudian memperoleh makna politik ketika India menjadi salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia dan memberikan dukungan kepada republik muda yang tengah mencari tempatnya di tengah masyarakat internasional. Sejarah mengenang peristiwa tersebut sebagai diplomasi. Namun bagi dunia usaha, momen itu memiliki arti yang berbeda: sebuah investasi awal dalam membangun kepercayaan, aset paling penting yang selalu menjadi fondasi setiap kemitraan ekonomi yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

Kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia, setelah lawatan bersejarah Presiden Prabowo Subianto ke India pada awal tahun ini, memberikan kesempatan untuk memperbarui kepercayaan tersebut agar tetap relevan dengan tantangan zaman yang baru. Perdagangan, investasi, dan arus modal tentu akan selalu menjadi bagian penting dari hubungan kedua negara. Namun, kemitraan ekonomi yang paling kuat pada akhirnya tidak dibangun hanya melalui transaksi, melainkan melalui aturan yang disepakati bersama, infrastruktur yang dipercaya, serta ekosistem yang memungkinkan seluruh pelaku usaha—bukan hanya perusahaan-perusahaan besar—untuk berinovasi, bersaing, dan berkembang secara bersama-sama. Menurut saya, inilah visi yang seharusnya menjadi arah utama hubungan Indonesia–India pada masa mendatang.

Kisah yang Jauh Lebih Besar dari Angka Statistik

Jika pasar merupakan cerminan paling nyata dari tingkat kepercayaan, maka Indonesia dan India sesungguhnya telah memiliki fondasi yang sangat kuat. India kini menjadi tujuan ekspor terbesar ketiga bagi Indonesia. Sepanjang 2025, nilai ekspor Indonesia ke India mencapai sekitar US$18,3 miliar, sementara impor dari India mencapai US$4,7 miliar, menjadikan India sebagai salah satu dari sepuluh sumber impor terbesar bagi Indonesia. Hubungan dagang kedua negara terus berkembang seiring semakin saling melengkapinya struktur ekonomi masing-masing, didukung pula oleh keberadaan ASEAN–India Free Trade Area yang telah berlaku sejak 2010.

Namun, terdapat satu angka yang justru lebih menarik untuk diperhatikan. Pada 2025, total perdagangan Indonesia–India masih menyumbang kurang dari 5 persen terhadap keseluruhan perdagangan internasional Indonesia. Angka tersebut bukan menunjukkan lemahnya hubungan ekonomi kedua negara. Sebaliknya, angka itu memperlihatkan betapa besarnya ruang yang masih tersedia untuk memperdalam integrasi ekonomi di masa depan.

Karakter ekonomi kedua negara juga semakin menunjukkan sifat yang saling melengkapi. Indonesia memasok berbagai komoditas strategis yang menopang ekspansi industri India, mulai dari bahan bakar mineral, minyak nabati, besi dan baja, bahan kimia anorganik, hingga berbagai bahan baku industri lainnya. Sebaliknya, India memasok mesin industri, komponen otomotif, peralatan listrik, bahan kimia organik, serta berbagai teknologi manufaktur yang mendukung transformasi industri Indonesia. Hubungan tersebut tidak lagi sekadar berupa pertukaran barang, melainkan mulai membentuk rantai pasok dan rantai nilai yang saling menguntungkan bagi kedua negara.

Pola yang sama juga terlihat pada sektor investasi. Investasi langsung asing (FDI) dari India ke Indonesia mencapai sekitar US$3,8 miliar pada 2025, meningkat lebih dari 358 persen dalam lima tahun terakhir. Perusahaan-perusahaan India kini semakin aktif berinvestasi di berbagai sektor seperti pertambangan, mineral kritis, pembangkit energi, industri logam, manufaktur otomotif, rekayasa teknik, industri kimia, jasa keuangan, hingga barang konsumsi. Ragam sektor tersebut menunjukkan bahwa hubungan Indonesia–India tidak hanya semakin luas, tetapi juga semakin dalam dan berorientasi pada kolaborasi industri jangka panjang.

Meningkatkan nilai perdagangan tentu tetap penting. Namun, tantangan yang jauh lebih besar adalah membangun arsitektur yang memungkinkan perdagangan, investasi, inovasi, dan berbagai peluang ekonomi berkembang jauh melampaui capaian yang tercermin dalam statistik saat ini.

Bagaimana Jika Terobosan Berikutnya Bukan Berasal dari Perjanjian Dagang?

Ketika Presiden Prabowo Subianto berkunjung ke New Delhi pada Januari 2025, Indonesia dan India menandatangani Nota Kesepahaman tentang Kerja Sama Pengembangan Digital. Cakupan kerja sama tersebut jauh melampaui aspek teknologi semata, meliputi Digital Public Infrastructure (DPI), kemitraan bisnis digital, keamanan siber, pengembangan kapasitas digital, hingga berbagai teknologi baru yang sedang berkembang. Di balik kesepakatan tersebut terdapat sebuah pemikiran yang sederhana namun sangat penting: bahwa fase berikutnya dari kerja sama ekonomi akan semakin ditentukan oleh kualitas infrastruktur digital yang menghubungkan pelaku usaha, masyarakat, dan pasar di era ekonomi digital.

Gagasan tersebut kini mulai diwujudkan melalui Indonesia Open Network (ION). Terinspirasi oleh keberhasilan Open Network for Digital Commerce (ONDC) di India, ION dikembangkan sebagai Digital Public Infrastructure (DPI) yang terbuka dan interoperabel untuk perdagangan digital di Indonesia. Alih-alih membangun sebuah marketplace baru, ION menghadirkan sebuah jaringan terbuka yang memungkinkan UMKM, koperasi, pedagang, perusahaan teknologi, lembaga keuangan, penyedia logistik, dan berbagai platform digital saling terhubung melalui standar bersama, bukan lagi bekerja di dalam ekosistem yang terpisah-pisah.

Makna dari inisiatif ini jauh melampaui persoalan teknologi. Bagi jutaan pelaku UMKM di Indonesia, partisipasi dalam ekonomi digital selama ini masih sangat bergantung pada batasan-batasan yang ditetapkan oleh masing-masing platform digital. ION menawarkan pendekatan yang berbeda, yaitu sebuah jaringan terbuka yang memberikan kebebasan lebih besar bagi pelaku usaha dalam memilih cara mereka menjangkau pelanggan, menggunakan layanan logistik, maupun mengakses pembiayaan dan layanan keuangan. Dengan pendekatan seperti ini, koperasi kopi di Aceh, pelaku usaha perikanan di Maluku, atau pengrajin mebel di Jepara dapat berpartisipasi dalam ekonomi digital tanpa harus bergantung pada satu ekosistem komersial tertentu. Inilah bentuk inklusi digital yang menurut saya perlu menjadi arah transformasi ekonomi digital Indonesia.

Atas dasar pemikiran tersebut, APINDO memutuskan untuk ikut menjadi bagian dari perjalanan ION. Indonesia tidak dapat menjadi negara yang semakin kompetitif hanya dengan mendorong pertumbuhan perusahaan-perusahaan besar. Daya saing nasional juga sangat ditentukan oleh kemampuan jutaan UMKM memperoleh kesempatan digital yang sama seperti yang telah dinikmati perusahaan besar. Keyakinan inilah yang selama ini menjadi dasar berbagai program APINDO, termasuk UMKM Merdeka, sebuah inisiatif unggulan yang berfokus pada peningkatan kapasitas, daya saing, serta akses pasar bagi pelaku UMKM Indonesia. Melalui ION, semangat tersebut diperluas ke dalam ekonomi digital dengan menciptakan jaringan terbuka yang memungkinkan lebih banyak pelaku usaha kecil untuk berpartisipasi, terhubung, dan berkembang.

Sejak akhir 2025, APINDO bekerja sama dengan Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan MenengahKementerian Komunikasi dan Digital, serta berbagai mitra teknologi dari Indonesia dan India untuk mempersiapkan peluncuran ION. Inisiatif ini menunjukkan apa yang dapat dicapai ketika kebijakan publik, inovasi sektor swasta, dan kolaborasi lintas negara berjalan ke arah yang sama. Sebagai anggota Dewan Penasihat ION, saya semakin meyakini bahwa nilai terbesar ION bukan terletak pada teknologinya semata. Nilai sesungguhnya berada pada apa yang sedang dibangun bersama oleh Indonesia dan India, yaitu mengadaptasi pengalaman India dalam mengembangkan jaringan digital terbuka ke dalam sebuah ekosistem Indonesia yang disesuaikan dengan kebutuhan, institusi, dan struktur ekonomi nasional kita sendiri. Di sinilah, menurut saya, hubungan Indonesia dan India diam-diam memasuki babak baru yang jauh lebih strategis.

Melampaui Bandhan

Dalam bahasa Sanskerta, Bandhan berarti ikatan yang dipelihara oleh rasa saling percaya, bukan sekadar oleh kepentingan sesaat. Makna tersebut sangat tepat menggambarkan hubungan Indonesia dan India, yang telah berkembang dari solidaritas diplomatik menjadi kemitraan ekonomi, dan kini bergerak menuju kolaborasi inovasi. Setiap generasi memiliki tanggung jawab yang berbeda. Tanggung jawab generasi kita bukan hanya menjaga hubungan baik yang telah diwariskan, tetapi juga menjadikannya semakin relevan bagi masa depan. Perdagangan akan terus tumbuh. Investasi akan tetap penting. Namun, kemitraan yang benar-benar bertahan adalah kemitraan yang meninggalkan institusi dan sistem yang mampu menciptakan peluang jauh setelah transaksi hari ini selesai.

Inilah alasan mengapa inisiatif seperti ION memiliki arti yang sangat penting. ION memperluas partisipasi, memperkuat ketahanan ekonomi, dan menempatkan UMKM sebagai bagian utama dari pertumbuhan ekonomi digital. Bagi APINDO, mendukung inisiatif ini sepenuhnya sejalan dengan keyakinan bahwa daya saing Indonesia pada akhirnya akan diukur bukan dari seberapa banyak perusahaan besar yang berkembang, melainkan dari seberapa banyak pelaku usaha—terutama UMKM—yang mampu menikmati manfaat kemakmuran nasional.

Kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi berlangsung pada saat yang sangat penting bagi kedua negara. Hubungan Indonesia dan India telah mencapai tahap ketika peluang terbesarnya mungkin tidak lagi terletak pada apa yang diperdagangkan satu sama lain, melainkan pada apa yang dapat dibangun bersama. Lebih dari tujuh puluh tahun lalu, Samudra Hindia membawa semangat solidaritas yang membantu Indonesia menemukan tempatnya di dunia. Kini, lautan yang sama menghubungkan dua negara yang siap meninggalkan warisan baru: sebuah kemitraan yang dibangun atas dasar kepercayaan, inovasi, dan kemakmuran bersama.

*Shinta Kamdani adalah Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) sekaligus CEO Sintesa Group. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh terkemuka dunia usaha Indonesia yang aktif mendorong peningkatan daya saing nasional, pengembangan UMKM, keberlanjutan, serta penguatan kerja sama ekonomi internasional, termasuk kemitraan strategis antara Indonesia dan India.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

ERP Odoo Membantu Distributor Mengelola Multi Gudang Secara Terpusat

Odoo ERP membantu distributor mengelola stok dan operasional multi gudang secara terpusat dalam satu sistem. Data persediaan lebih mudah dipantau sehingga proses distribusi menjadi lebih cepat dan terkontrol.

Sistem mencatat stok tersedia, tetapi barangnya tidak ditemukan di gudang cabang. Situasi ini akrab bagi distributor yang mengelola lebih dari dua lokasi. Pengiriman tertunda, pelanggan menunggu, dan tim gudang saling menyalahkan. Persoalan inilah yang membuat topik ERP Odoo Membantu Distributor semakin sering dibahas.

Kerugiannya tidak selalu terlihat dalam laporan bulanan. Stok menumpuk di satu gudang, sementara gudang lain kehabisan barang sama. Pembelian baru pun dilakukan padahal barangnya sudah ada di kota sebelah. Biaya penyimpanan naik, sedangkan perputaran persediaan justru melambat.

Akar masalahnya bukan kurang gudang, melainkan data yang tidak menyatu. Setiap lokasi perlu tercatat dalam satu basis data yang sama. Karena itu, pendampingan Konsultan Odoo sejak tahap pemetaan lokasi sangat berpengaruh. Struktur gudang yang keliru sejak awal akan sulit diperbaiki setelah berjalan.

Ketika Stok Tercatat Ada tetapi Barang Tidak Ditemukan

Kebutuhan distribusi nasional memang sedang tumbuh. Badan Pusat Statistik mencatat sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04 persen pada triwulan I-2026. Pertumbuhan itu menuntut kesiapan pencatatan di setiap titik penyimpanan. Tanpa itu, penambahan gudang justru menambah titik buta.

Gejala yang Muncul di Gudang Cabang

Beberapa tanda berikut biasanya terasa lebih dulu:

● Barang dikirim antar gudang, tetapi tidak tercatat sampai fisik tiba.

● Stok opname tahunan memaksa operasional berhenti selama beberapa hari.

● Setiap cabang memakai kode barang berbeda untuk produk yang sama.

● Laporan stok gabungan baru tersedia setelah rekap manual antar cabang.

Tanda semacam itu sering dianggap risiko biasa dalam distribusi. Padahal, selisih catatan membuat harga jual dan janji pengiriman ikut meleset.

Cara ERP Odoo Membantu Distributor Menyatukan Data Antar Gudang

Sentralisasi dimulai dari struktur lokasi, bukan dari tampilan dashboard. Satu perusahaan bisa memiliki banyak gudang dengan hierarki lokasi di dalamnya. Setiap zona, rak, dan area karantina layak diberi kode tersendiri. Kedalaman struktur inilah yang membuat ERP Odoo Membantu Distributor menekan selisih stok.

Lokasi Transit untuk Barang dalam Perjalanan

Pengiriman antar gudang sering memakan waktu dua sampai tiga hari. Tanpa lokasi transit, barang seolah menghilang selama masa perjalanan. Pencatatan transit membuat stok tetap terlihat sebelum diterima gudang tujuan. Pendekatan ini juga memperjelas tanggung jawab bila barang rusak di jalan.

Aturan Pengisian Ulang yang Berbeda di Tiap Gudang

Kesalahan klasik distributor adalah menetapkan stok minimum secara nasional. Padahal, pola permintaan gudang Surabaya jelas berbeda dengan gudang Medan. Aturan pengisian ulang sebaiknya disetel per lokasi, bukan per perusahaan. Di titik ini, ERP Odoo Membantu Distributor menjaga stok tetap proporsional.

Rute Pasokan Antar Gudang

Gudang cabang bisa disetel memesan ke gudang pusat, bukan ke pemasok. Skema ini menekan biaya kirim karena pembelian dikonsolidasi di satu titik. Sistem ERP Odoo juga mencatat nilai persediaan terpisah untuk tiap gudang. Dengan begitu, kontribusi laba setiap cabang dapat dinilai lebih adil.

Menandai Stok yang Lambat Bergerak

Laporan umur persediaan per gudang membantu menemukan barang yang mengendap. Stok lambat bergerak bisa dipindahkan ke cabang dengan permintaan lebih tinggi. Langkah kecil ini kerap menghemat biaya lebih besar daripada menambah rak baru.

Urutan Penataan Sebelum ERP Odoo Membantu Distributor Bekerja Optimal

Penataan biasanya berjalan efektif bila mengikuti urutan berikut:

1. Penyeragaman kode barang dan satuan ukur di seluruh cabang.

2. Pemetaan struktur gudang beserta zona penyimpanan dan area transit.

3. Penetapan aturan pasokan serta batas stok minimum tiap lokasi.

4. Pendampingan go-live disertai penghitungan siklus pada bulan pertama.

Urutan ini sebaiknya tidak dipangkas. Kode barang yang belum seragam akan merusak seluruh laporan gabungan.

Bagian yang Sering Terlewat

Penghitungan stok bergilir jauh lebih berguna daripada stok opname tahunan. Tiga hal berikut sebaiknya disiapkan sebelum sistem dijalankan penuh:

● Jadwal penghitungan bergilir per zona agar operasional tetap berjalan.

● Metode pengeluaran barang, misalnya kedaluwarsa terdekat keluar lebih dulu.

● Wewenang persetujuan untuk penyesuaian stok di setiap cabang.

Konsultan Odoo berpengalaman biasanya meminta ketiganya beres sebelum go-live. Persiapan itu memperkecil peluang selisih muncul kembali setelah sistem berjalan.

Menjadikan Data Gudang sebagai Dasar Keputusan Harian

Intinya sederhana: banyak gudang bukan masalah, data terpisah baru masalah. Satu sumber data membuat pembelian, pengiriman, dan penagihan berpijak pada angka sama. Manfaat ERP Odoo Membantu Distributor terasa saat keputusan tidak lagi menunggu rekap. Hasilnya bertahap dan sangat bergantung pada disiplin pencatatan di lapangan.

i2C Studio sebagai partner Odoo resmi mendampingi penataan gudang sampai tahap go-live. Pendekatannya menyesuaikan sistem ERP Odoo dengan alur kerja distribusi yang sudah berjalan. Diskusi awal membantu memetakan kesiapan data sebelum investasi dilakukan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan Pelaku Distribusi

1. Berapa jumlah gudang yang bisa dikelola dalam satu sistem?
Tidak ada batas teknis khusus, selama struktur lokasi dan hak akses disusun rapi.

2. Apakah stok opname tahunan masih diperlukan?

Masih, tetapi bebannya jauh lebih ringan bila penghitungan bergilir berjalan rutin.

3. Bisakah tiap cabang hanya melihat stok gudangnya sendiri?

Bisa, karena hak akses dapat dibatasi per gudang sesuai peran penggunanya.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Kemitraan Indonesia–India: Pengembangan Sumber Daya Manusia Perlu Mendapat Perhatian Lebih Besar

Jakarta — Persahabatan yang semakin erat tengah terjalin antara dua pemimpin politik paling berpengaruh di Asia. Sejak kunjungan kenegaraan pertama Presiden Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025 atas undangan Perdana Menteri India Narendra Modi, kedua pemimpin berhasil membangun hubungan yang hangat dan saling percaya. Persahabatan tersebut akan semakin diperkuat melalui kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Modi ke Indonesia pada 6–8 Juli atas undangan Presiden Prabowo. Kunjungan ini merupakan lawatan resmi pertama Modi ke Indonesia sejak Presiden Prabowo menjabat, sekaligus kunjungan keempatnya secara keseluruhan ke Indonesia.

Namun, arti penting kunjungan ini jauh melampaui penandatanganan berbagai kesepakatan bilateral. Kunjungan tersebut mencerminkan semakin strategisnya hubungan Indonesia–India di tengah perubahan lanskap geopolitik dan ekonomi kawasan Indo-Pasifik. Pada saat Presiden Prabowo berkunjung ke India pada Januari 2025, kedua pemimpin telah menyepakati sejumlah agenda prioritas, antara lain memperdalam kerja sama pertahanan, memperluas perdagangan dan investasi, memperkuat keamanan maritim, meningkatkan kolaborasi di bidang teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), serta mempererat kemitraan di sektor kesehatan dan pendidikan. Pertemuan di Jakarta diharapkan menjadi momentum untuk mengubah berbagai komitmen politik tersebut menjadi implementasi yang nyata.

Dari Look East Menuju Act East

Kunjungan Perdana Menteri Modi juga mencerminkan semakin kuatnya keterlibatan India di Asia Tenggara. Dalam satu dekade terakhir, hubungan India dengan kawasan ini telah mengalami perubahan mendasar. Jika sebelumnya lebih banyak berorientasi pada diplomasi melalui kebijakan Look East Policy, kini India mengembangkan pendekatan yang jauh lebih ambisius melalui Act East Policy. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa India tidak lagi sekadar ingin menjalin hubungan dengan Asia Tenggara, tetapi juga menjadi bagian penting dari arsitektur ekonomi kawasan.

Bagi Asia Tenggara, India merupakan salah satu ekonomi besar dengan pertumbuhan tercepat di dunia sekaligus pasar yang dihuni lebih dari 1,4 miliar penduduk. Sebaliknya, bagi India, Asia Tenggara merupakan pintu gerbang menuju kawasan Indo-Pasifik, pusat manufaktur yang semakin penting, serta mitra strategis dalam menghadapi dinamika geopolitik global. Hubungan ekonomi kedua belah pihak pun berkembang sangat pesat. Nilai perdagangan antara India dan Asia Tenggara hampir dua kali lipat dalam satu dekade terakhir, meningkat dari sekitar US$76 miliar pada 2014 menjadi US$140 miliar pada 2024. ASEAN kini menjadi salah satu mitra dagang terbesar India dengan kontribusi sekitar 11 persen terhadap total perdagangan global negara tersebut. Sebagai ekonomi terbesar di ASEAN, Indonesia menjadi jangkar utama dalam hubungan ekonomi yang terus berkembang ini.

Jika satu dekade terakhir ditandai oleh pertumbuhan perdagangan yang sangat pesat, maka satu dekade mendatang berpotensi menjadi periode yang jauh lebih penting. Pergeseran rantai pasok global mendorong banyak perusahaan untuk meninjau kembali strategi investasinya. Berbagai perubahan struktural yang sedang berlangsung menciptakan peluang baru bagi negara-negara yang mampu menawarkan ekosistem manufaktur yang saling melengkapi. Dalam konteks inilah Indonesia dan India memiliki peluang menjadi penggerak utama perubahan, ketika kedua pemimpin negara merumuskan arah baru bagi kemitraan bilateral.

Seiring semakin banyak perusahaan global mengurangi ketergantungan pada satu basis produksi melalui strategi China+1 maupun China+Many, India dan Asia Tenggara tidak lagi dipandang sebagai pesaing, melainkan sebagai ekosistem manufaktur yang saling melengkapi di berbagai sektor seperti elektronik, otomotif, farmasi, semikonduktor, dan industri kimia. India mengembangkan berbagai kebijakan seperti Make in India dan National Logistics Policy, sementara negara-negara Asia Tenggara memiliki keunggulan masing-masing. Vietnam menjadi kekuatan utama dalam ekspor elektronik, Indonesia tengah membangun industri kendaraan listrik, Thailand mempertahankan posisinya sebagai pusat otomotif regional, sedangkan Malaysia memainkan peran penting dalam pengemasan dan pengujian semikonduktor. Bila dipadukan dengan peran Singapura sebagai pusat konektivitas global dan layanan keuangan kelas dunia, seluruh negara tersebut berpotensi membentuk rantai nilai regional yang semakin kuat dan terintegrasi.

Pengembangan Sumber Daya Manusia sebagai Kunci

Ketika Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Modi bertemu di Jakarta, pembahasan mereka seharusnya juga memberikan perhatian besar pada perkembangan teknologi paling revolusioner saat ini, yaitu kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). AI akan mengubah secara mendasar cara manusia bekerja, belajar, berinteraksi, dan menjalani kehidupan di masa depan. Karena itu, kunci utama untuk memaksimalkan manfaat AI bukan semata-mata terletak pada teknologinya, melainkan pada kualitas sumber daya manusia yang mampu memanfaatkannya. Inilah salah satu bidang kerja sama Indonesia–India yang paling menjanjikan, namun hingga kini masih belum banyak mendapatkan perhatian. Kedua negara sama-sama memiliki populasi muda yang produktif dan membutuhkan lebih banyak lapangan kerja berkualitas serta peluang karier yang menjanjikan. Di tengah berbagai pembahasan mengenai perdagangan, pertahanan, dan teknologi digital, investasi pada pengembangan sumber daya manusia justru berpotensi memberikan dampak ekonomi jangka panjang yang paling besar bagi kedua negara.

Membangun Talenta untuk Masa Depan

Indonesia memiliki jumlah tenaga kerja yang besar dan produktif, tetapi masih menghadapi tantangan dalam memperluas ketersediaan talenta, terutama pada tingkat manajemen dan kepemimpinan. Di sisi lain, kekuatan terbesar India bukan hanya terletak pada besarnya jumlah penduduk, melainkan pada kedalaman ekosistem ekonomi berbasis pengetahuan yang telah dibangunnya selama puluhan tahun. Meski demikian, hubungan akademik antara kedua negara masih belum berkembang seoptimal potensi yang dimiliki. Hingga kini, hanya sedikit perguruan tinggi India yang secara aktif membangun kemitraan strategis dengan universitas-universitas di Indonesia melalui pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen, maupun penelitian bersama.

Beberapa universitas Indonesia seperti Universitas IndonesiaUniversitas Gadjah MadaInstitut Teknologi Bandung, dan Institut Pertanian Bogor memang telah menjalin Nota Kesepahaman (MoU) dengan berbagai institusi pendidikan tinggi terkemuka di India, termasuk Indian Institutes of Technology (IIT)Indian Institutes of Management (IIM)University of Delhi, dan Jawaharlal Nehru University. Namun, hingga kini belum banyak kemitraan berskala besar dan berdampak strategis seperti yang telah dibangun Indonesia bersama berbagai universitas di Australia, Jepang, Tiongkok, Singapura, maupun Amerika Serikat. Padahal, ruang untuk memperkuat kerja sama pendidikan tinggi antara Indonesia dan India masih sangat terbuka.

Potensi terbesar justru tidak terletak pada program pertukaran mahasiswa konvensional. Yang lebih dibutuhkan adalah kolaborasi yang bersifat strategis, seperti penyelenggaraan pendidikan eksekutif, akademi bersama di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan keterampilan digital, pusat riset bersama, serta program pendidikan yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri. Bahkan, terbuka peluang membangun kemitraan segitiga antara perguruan tinggi Indonesia, India, dan Singapura untuk menghadirkan program pendidikan yang dapat melayani kebutuhan kawasan Asia Tenggara secara lebih luas.

Apabila dipandang dari perspektif pembangunan ekonomi, kerja sama antarpendidikan tinggi dapat berkembang menjadi salah satu pilar utama hubungan Indonesia–India. India memiliki kapasitas yang sangat besar dalam mencetak insinyur, manajer, dan tenaga ahli teknologi, sementara Indonesia membutuhkan semakin banyak talenta di bidang-bidang tersebut untuk mendukung transformasi industrinya. Melalui kemitraan kelembagaan yang dirancang secara baik, Indonesia dapat mempercepat pengembangan sumber daya manusianya, sementara India memperluas pengaruh pendidikan tingginya di Asia Tenggara. Hasilnya bukan hanya menguntungkan sektor pendidikan, tetapi juga memperkuat daya saing ekonomi kedua negara dalam jangka panjang.

Kemitraan semacam ini juga akan mempererat hubungan antarmasyarakat (people-to-people connections) sekaligus memperkuat hubungan antarlembaga. Ketika India semakin memperluas perannya di Asia Tenggara melalui kebijakan Act East, dan Indonesia terus mendorong transformasi menuju industri bernilai tambah tinggi di bawah agenda ekonomi Presiden Prabowo Subianto, investasi pada pengembangan sumber daya manusia berpotensi menjadi fondasi utama fase berikutnya dalam hubungan bilateral kedua negara. Bagi berbagai institusi yang bergerak di bidang pendidikan eksekutif dan pengembangan kepemimpinan, momentum ini menghadirkan peluang yang sangat besar. Ke depan, pengembangan kepemimpinan kemungkinan akan menjadi sama pentingnya dengan perdagangan, investasi, maupun kerja sama pertahanan dalam memperkuat hubungan Indonesia–India.

*Shoeb Kagda adalah Country Director Singapore Management University (SMU) Indonesia Office sekaligus Co-Founder Indonesia Economic Forum. Selama lebih dari tiga dekade, ia aktif mendorong kolaborasi antara dunia pendidikan, bisnis, dan kebijakan publik, dengan fokus pada pengembangan kepemimpinan, pendidikan eksekutif, investasi, dan hubungan ekonomi Indonesia dengan kawasan Asia.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

“DNA” Presiden Menandai Bangkitnya Diplomasi Peradaban

Oleh Satish Chandra Mishra*

Jakarta — Ketika Perdana Menteri India Manmohan Singh dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meningkatkan hubungan bilateral Indonesia–India menjadi Kemitraan Strategis pada tahun 2005, mereka sesungguhnya melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar menandatangani sebuah dokumen kerja sama. Keduanya sedang menghidupkan kembali ikatan yang telah terjalin selama berabad-abad untuk menegaskan bahwa Indonesia dan India bukan sekadar negara bertetangga secara geografis, melainkan juga memiliki hubungan sebagai sesama pewaris sejarah dan peradaban. Sejak saat itu, istilah “diplomasi peradaban” (civilizational diplomacy) semakin sering bergema, baik di Jakarta maupun New Delhi, terutama setelah Presiden Prabowo Subianto menghadiri peringatan Hari Republik India pada 26 Januari 2025 dan menyampaikan pernyataan bahwa dirinya juga memiliki “DNA India.” Pernyataan tersebut bukan sekadar simbolik, melainkan mencerminkan pendekatan diplomasi yang bertumpu bukan hanya pada kedekatan geografis, tetapi juga pada kesamaan akar peradaban, pengakuan budaya, dan kepentingan strategis yang terus berkembang. Menariknya, berbagai kesamaan sejarah, bahasa, dan budaya yang selama ini terlupakan kini kembali ditemukan dan diangkat, termasuk melalui kajian mengenai kejayaan Sriwijaya, sehingga semakin memperkuat kesadaran bersama di Indonesia maupun India mengenai akar historis yang mereka miliki.

Alasan di balik kedekatan tersebut sesungguhnya sudah sangat jelas. Selama lebih dari dua milenium, kepulauan Nusantara dan anak benua India dihubungkan oleh jalur perdagangan muson yang menjadi nadi perdagangan maritim pada masanya. Jalur tersebut tidak hanya mengangkut rempah-rempah dan kain, tetapi juga membawa gagasan, pengetahuan, sistem aksara, agama, filsafat politik, hingga tradisi istana yang menyebar melintasi Teluk Benggala. Kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Mataram banyak dipengaruhi oleh tradisi Brahmanisme dan kemudian Buddhisme yang berasal dari India. Jejak pengaruh tersebut bahkan masih dapat ditemukan hingga kini melalui berbagai nama tempat di Jawa dan Sumatra yang berasal dari bahasa Sanskerta. Bali pun tetap menjadi salah satu contoh paling nyata dari peradaban yang mempertahankan warisan budaya pra-Islam yang berakar kuat pada tradisi India. Begitu pula kisah Ramayana dan Mahabharata, yang di Indonesia tidak lagi dipandang sebagai kisah asing, melainkan telah menyatu dengan identitas budaya lokal sebagai bagian dari warisan bersama kedua bangsa.

Meski demikian, kedekatan sejarah dan budaya saja tidak cukup untuk membangun hubungan strategis yang berkelanjutan. Setelah masing-masing negara meraih kemerdekaan, kebijakan luar negeri India lebih banyak difokuskan pada kawasan Asia Selatan serta dinamika Perang Dingin, sementara Indonesia pada era Orde Baru lebih berkonsentrasi pada konsolidasi politik dalam negeri dan integrasi kawasan ASEAN. Semangat Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955 memang sempat menjadi simbol tujuan bersama yang mempererat hubungan Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Jawaharlal Nehru. Konferensi tersebut memberikan dorongan besar bagi semangat dekolonisasi sekaligus membuka ruang bagi Indonesia dan India untuk memainkan peran yang lebih aktif dalam percaturan global. Sayangnya, momentum Bandung kemudian meredup di tengah berbagai tantangan politik dan pembangunan ekonomi yang dihadapi kedua negara pada masa-masa awal kemerdekaan.

Memasuki abad ke-21, hubungan Indonesia dan India kembali memperoleh momentum baru. Kebangkitan ini didorong oleh sejumlah perubahan struktural yang saling memperkuat. Faktor pertama adalah ekonomi. Reformasi ekonomi India sejak tahun 1991 menjadikan negara tersebut sebagai salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia sekaligus mendorong kebutuhan untuk mempererat hubungan dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, yaitu Indonesia. Nilai perdagangan bilateral yang pada tahun 2004 baru mencapai sekitar US$3,5 miliar meningkat menjadi hampir US$38 miliar pada 2022, sebelum kemudian turun menjadi sekitar US$29 miliar akibat fluktuasi harga komoditas global, bukan karena melemahnya hubungan ekonomi kedua negara. Struktur perdagangan Indonesia dan India menunjukkan tingkat saling melengkapi yang sangat kuat. Indonesia memasok batu bara, minyak sawit, dan nikel—komoditas yang permintaannya terus meningkat di India. Sebaliknya, India mengekspor produk farmasi, mesin industri, produk minyak olahan, layanan teknologi informasi, serta tekstil ke Indonesia. Di masa depan, salah satu peluang terbesar terletak pada pengembangan rantai pasok kendaraan listrik dan baterai. Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, sementara India tengah mempercepat ambisinya menjadi pemain utama dalam industri kendaraan listrik. Kombinasi tersebut menjadikan kedua negara sebagai mitra yang sangat ideal.

Perubahan kedua datang dari dinamika kawasan Indo-Pasifik yang melahirkan kebutuhan strategis baru bagi Indonesia dan India, terlepas dari siapa pun yang sedang memimpin pemerintahan di masing-masing negara. Kedua negara memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga tatanan internasional yang berbasis aturan, menjamin kebebasan navigasi, serta mempertahankan sentralitas ASEAN. Indonesia maupun India sama-sama mempromosikan visi Indo-Pasifik yang bebas, terbuka, dan inklusif. Pilihan Indonesia untuk mempertahankan otonomi strategis sejalan dengan pendekatan India yang dikenal sebagai multi-alignment, yakni menjalin hubungan dengan berbagai kekuatan dunia tanpa terikat pada satu blok tertentu. Dalam konteks inilah diplomasi peradaban menjadi sangat relevan, karena menyediakan bahasa diplomasi yang tidak bersifat konfrontatif maupun berpihak, melainkan berakar pada pemahaman bersama sebagai dua peradaban besar yang memiliki tradisi strategisnya masing-masing.

Perkembangan hubungan pertahanan juga menjadi salah satu pilar penting yang memperkuat kemitraan Indonesia dan India. Jika sebelum tahun 2001 hampir tidak terdapat kerja sama pertahanan yang berarti, kini kedua negara telah membangun berbagai bentuk kolaborasi, mulai dari latihan angkatan laut bersama, pertukaran intelijen, hingga kerja sama industri pertahanan. Patroli maritim terkoordinasi antara Angkatan Laut India dan TNI Angkatan Laut telah berlangsung sejak 2012 dan terus berkembang, termasuk melalui latihan antikapal selam. Di sisi lain, rudal jelajah BrahMos buatan India juga menarik perhatian Indonesia sebagai salah satu opsi untuk memperkuat kemampuan pertahanannya. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa hubungan bilateral kini telah bergerak jauh melampaui diplomasi tradisional dan semakin menyentuh kepentingan strategis kedua negara.

Hal lain yang patut dicermati adalah konsistensi komitmen Indonesia terhadap hubungan dengan India di bawah tiga pemerintahan yang berbeda. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi pemimpin yang pertama kali meningkatkan hubungan kedua negara menjadi Kemitraan Strategis pada 2005. Selanjutnya, Presiden Joko Widodo bersama Perdana Menteri Narendra Modi memperkuat fondasi tersebut melalui pembentukan Kemitraan Strategis Komprehensif (Comprehensive Strategic Partnership) pada 2018. Kini, Presiden Prabowo Subianto melanjutkan momentum tersebut setelah kunjungannya ke India pada 2025 dengan memperluas ruang kerja sama ke bidang pembiayaan pertahanan, ketahanan pangan, dan berbagai sektor strategis lainnya. Keberlanjutan kebijakan ini menunjukkan bahwa diplomasi peradaban bukanlah agenda yang bergantung pada satu pemerintahan atau koalisi politik tertentu, melainkan telah berkembang menjadi orientasi strategis Indonesia dalam menjalin hubungan dengan India.

Lingkungan strategis global pada 2025 semakin memperkuat alasan bagi kedua negara untuk mempererat kemitraan. Tatanan dunia pasca-Perang Dingin yang sebelumnya ditandai oleh globalisasi dan stabilitas keamanan kini bergeser menuju dunia yang lebih multipolar, kompetitif, dan transaksional. Berkurangnya intensitas globalisasi mendorong negara-negara menengah seperti Indonesia dan India untuk mengurangi ketergantungan pada satu kekuatan besar melalui diversifikasi kemitraan ekonomi maupun strategis. Dalam konteks ini, kebijakan hilirisasi industri Indonesia dan upaya India menjadi pusat manufaktur global yang baru justru saling melengkapi, sehingga masing-masing negara dapat menjadi mitra strategis yang memperkuat ketahanan ekonomi satu sama lain.

Selain kepentingan ekonomi dan keamanan, hubungan Indonesia dan India juga memiliki dimensi normatif yang sangat kuat. India merupakan negara demokrasi terbesar di dunia, sedangkan Indonesia adalah demokrasi terbesar ketiga sekaligus negara dengan populasi Muslim terbesar yang menerapkan sistem demokrasi. Bersama-sama, kedua negara menaungi lebih dari 1,75 miliar penduduk, atau lebih dari seperlima populasi dunia. Jumlah tersebut bahkan sudah mendekati total populasi seluruh negara demokrasi lainnya jika digabungkan. Lebih menarik lagi, ketika banyak negara demokrasi menghadapi penuaan penduduk atau pertumbuhan populasi yang melambat, Indonesia dan India justru masih menikmati bonus demografi. Jika tren tersebut berlanjut, pada 2040—kecuali terjadi gelombang demokratisasi besar di berbagai belahan dunia—jumlah penduduk Indonesia dan India saja diperkirakan dapat melampaui total populasi seluruh negara demokrasi lainnya.

Di titik inilah cita-cita nasional kedua negara bertemu secara sangat jelas. India mengusung visi Viksit Bharat 2047, yaitu tekad menjadi negara maju tepat pada satu abad kemerdekaannya. Indonesia memiliki visi Indonesia Emas 2045, yang menargetkan Indonesia menjadi negara maju pada peringatan 100 tahun kemerdekaan. Meski hanya terpaut dua tahun, kedua visi tersebut bertumpu pada keyakinan yang sama, yaitu memanfaatkan bonus demografi dan tenaga kerja muda sebagai mesin pertumbuhan sebelum jendela peluang tersebut tertutup akibat penuaan penduduk. Indonesia dan India sama-sama menghadapi perlombaan melawan waktu, sekaligus memiliki alasan yang kuat untuk saling mendukung agar visi besar masing-masing dapat terwujud.

Namun, seluruh potensi tersebut tidak akan terwujud secara otomatis. Semangat diplomasi peradaban hanya akan memiliki arti apabila dibarengi dengan penguatan kelembagaan yang melampaui pertemuan-pertemuan tingkat tinggi, peningkatan investasi yang nyata, serta hubungan antarmasyarakat yang semakin erat melalui pertukaran mahasiswa, pariwisata, diaspora, dan berbagai bentuk interaksi lainnya. Warisan sejarah harus diterjemahkan menjadi pengalaman yang hidup dan dirasakan oleh masyarakat kedua negara dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, sejarah, budaya, dan rasa saling percaya merupakan fondasi hubungan Indonesia dan India. Perdagangan menjadi penggerak utamanya. Kerja sama pertahanan menyediakan arah strategisnya. Sementara demokrasi menjadi kerangka nilai yang menyatukan kedua negara. Ketika kawasan Indo-Pasifik semakin menjadi pusat dinamika geopolitik abad ke-21, hubungan antara demokrasi terbesar di dunia dan negara demokrasi dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia memiliki potensi untuk menjadi salah satu kemitraan paling menentukan di kawasan. Ini bukan lagi sekadar sebuah gagasan yang menarik, melainkan sebuah momentum yang waktunya telah tiba—dan hampir tidak mungkin untuk diputar kembali.

*Dr. Satish Chandra Mishra adalah Pendiri The Arthashastra Institute serta akademisi yang berfokus pada hubungan peradaban antara India dan Indonesia. Ia banyak menulis mengenai isu-isu strategis, diplomasi ekonomi, serta perkembangan kemitraan Indonesia–India. The Arthashastra Institute Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang berdedikasi memperkuat hubungan historis dan kemitraan strategis antara India, Indonesia, dan Asia Tenggara. Seluruh pandangan yang disampaikan dalam artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

3 Solusi Deteksi Kebocoran Gas Berbasis Drone untuk Industri Migas di Indonesia

Kebocoran gas kini bisa dideteksi dari udara. Tiga solusi drone, dua berbasis dock otomatis dan satu misi manual, memindai fasilitas dari jarak aman, memetakan sebaran gas, lalu mempercepat penanganan kebocoran di sektor migas, petrokimia, dan LNG.

Kebocoran gas sering tidak terlihat sampai menjadi bahaya. Untuk industri berisiko tinggi seperti minyak dan gas, keterlambatan mendeteksi kebocoran bisa berujung pada insiden keselamatan sekaligus emisi yang lolos begitu saja. Pendekatan berbasis drone menutup celah itu. Sensor gas dibawa terbang untuk memindai fasilitas dari jarak aman, tanpa menempatkan petugas di dekat sumber.

Melalui AIRINS yang tersedia di Indonesia lewat Halo Robotics, ada tiga solusi utama:

DJI Dock 3 + Sniffer4D Multi-Gas mendeteksi hingga 9 gas sekaligus (termasuk CH4, H2S, CO2, CO, SO2, dan VOCs) dan berjalan otomatis 24/7 dari dock. Cocok untuk pemantauan rutin area luas tanpa operator di lokasi.

DJI Dock 3 + Sniffer4D TDLAS fokus pada metana dengan sensor TDLAS bersensitivitas 1 ppm, juga otomatis 24/7. Pas untuk deteksi metana berkala dari jarak aman.

DJI Matrice 400 + MetScan V1 memakai sensor metana TDLAS dengan jangkauan 200 meter untuk misi manual atau terjadwal, dan menghasilkan peta metana 3D tergeoreferensi untuk melokalisasi titik bocor.

Memilih yang tepat bergantung pada tiga hal: jenis gas yang dipantau, kebutuhan otomatis 24/7 atau misi terjadwal, dan apakah tujuannya memetakan area luas atau melokalisasi hotspot. Ketiganya mendukung program leak detection and repair (LDAR) dan pelaporan emisi seperti OGMP 2.0.

Selengkapnya: Alat Deteksi Kebocoran Gas: Panduan Solusi Berbasis Drone

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Barantum Bersanding dengan Vendor CRM Global di Pasar Indonesia

Barantum adalah solusi aplikasi all in one CRM terbaik untuk bisnis yang menyediakan WhatsApp CRM, broadcast, chatbot, AI Agent, omnichannel, dan call center dalam satu platform terintegrasi. Kelola dan optimalkan seluruh perjalanan customer, mulai dari customer masuk, closing, dan repeat order.

Pasar CRM Indonesia semakin ramai. Kebutuhan bisnis untuk mengelola pelanggan, penjualan, dan layanan secara digital membuat semakin banyak penyedia CRM hadir di Indonesia.

Persaingan tersebut tidak hanya melibatkan perusahaan teknologi global. Provider CRM lokal juga mulai mendapat perhatian karena menawarkan solusi yang lebih dekat dan sesuai dengan kebutuhan bisnis di Indonesia.

Pasar CRM Indonesia Semakin Kompetitif

Menurut Mordor Intelligence, pasar CRM Indonesia diperkirakan mencapai USD 205,47 juta pada 2026 dan diproyeksikan mencapai USD 346,58 juta pada 2031. Pasar tersebut diperkirakan tumbuh dengan CAGR 11,02% selama periode 2026–2031.

Penggunaan teknologi cloud juga menjadi bagian penting dari perkembangan tersebut. Solusi CRM berbasis cloud menguasai 61,30% pangsa pasar CRM Indonesia pada 2025. Pada periode yang sama, bisnis kecil dan menengah menyumbang 57,40% dari ukuran pasar.

Pertumbuhan ini membuat persaingan antara provider CRM semakin terbuka. Vendor global tetap memiliki posisi kuat, tetapi provider lokal juga memiliki ruang untuk menawarkan solusi yang lebih sesuai dengan kebutuhan bisnis Indonesia.

Barantum CRM Masuk dalam Laporan Mordor Intelligence

Dalam laporan Indonesia CRM Software Market, Mordor Intelligence mencantumkan Barantum dalam daftar Indonesia CRM Software Industry Leaders. Barantum tercantum bersama sejumlah nama besar seperti Salesforce, Pipedrive, Oracle, Zoho, Microsoft Dynamics 365, HubSpot, dan Mekari Qontak.

Barantum juga masuk dalam bagian competitive landscape yang membahas perusahaan-perusahaan yang bersaing di pasar CRM Indonesia. Daftar tersebut mencakup berbagai pemain global dan lokal yang menawarkan solusi CRM untuk kebutuhan bisnis.

Pencantuman Barantum dalam laporan tersebut menunjukkan bahwa provider CRM lokal juga menjadi bagian dari lanskap industri yang dianalisis. Barantum hadir dalam ruang persaingan yang sama dengan berbagai perusahaan teknologi yang telah memiliki pasar secara global.

Mordor Intelligence juga mencatat adanya perbedaan pendekatan antara pemain global dan lokal. Vendor global memiliki keunggulan dari sisi skala dan ekosistem teknologi, sedangkan pemain lokal seperti Barantum memiliki pendekatan yang lebih dekat dengan kebutuhan bisnis Indonesia.

Yang jelas, Barantum telah menjadi bagian dari lanskap CRM Indonesia yang mencakup berbagai pemain global dan lokal. Lalu, solusi seperti apa yang ditawarkan Barantum untuk memenuhi kebutuhan bisnis di pasar tersebut?

Barantum Hadirkan Solusi CRM untuk Bisnis Indonesia

Barantum merupakan platform berbasis cloud yang menggabungkan CRM, Omnichannel, Broadcast, AI Agent, dan Call Center dalam satu platform. Solusi ini membantu bisnis mengelola penjualan, komunikasi, dan layanan pelanggan secara lebih terintegrasi.

Dengan Barantum CRM, bisnis dapat mengelola data pelanggan, pipeline penjualan, aktivitas tim, dan follow-up. Sementara itu, Omnichannel, Broadcast, AI Agent, dan Call Center membantu mengelola komunikasi, otomatisasi, serta layanan pelanggan melalui berbagai channel.

Pendekatan ini membuat Barantum tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan data pelanggan. Bisnis dapat menghubungkan aktivitas penjualan dengan komunikasi dan layanan pelanggan dalam satu sistem.

Dengan kebutuhan CRM yang terus berkembang, bisnis membutuhkan platform yang dapat mengikuti perubahan cara pelanggan berinteraksi. Barantum hadir sebagai solusi CRM terintegrasi untuk membantu bisnis Indonesia mengelola penjualan, komunikasi, dan layanan pelanggan dalam satu platform.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Jadwal Turnamen Esports Indonesia 2026: MLBB, PUBG Mobile, Valorant, Free Fire & Honor of Kings

Panduan lengkap kalender event & tournament esports 2026 — jadwal MPL ID, Valorant, PUBG Mobile, Honor of Kings, Free Fire, dan sorotan prestasi tim Indonesia di kancah global.

Tahun 2026 menjadi salah satu musim esports terbesar bagi Indonesia. Mulai dari MPL Indonesia, PMPL PUBG Mobile, Valorant Challengers, Honor of Kings, hingga Asian Games 2026, banyak tim Indonesia bersaing di panggung nasional maupun internasional.

Artikel ini merangkum jadwal turnamen esports 2026 yang paling dinantikan sekaligus perkembangan terbaru tim-tim Indonesia.

Turnamen Esports Terbesar 2026

Beberapa kompetisi yang menjadi sorotan sepanjang tahun antara lain:

– MPL Indonesia Season 17 telah selesai dengan Bigetron by Vitality keluar sebagai juara.
– MSC 2026 berlangsung sebagai bagian dari Esports World Cup (EWC) dengan wakil Indonesia Bigetron by Vitality dan ONIC Esports.
– PMPL Indonesia Fall 2026 kembali menghadirkan tim-tim PUBG Mobile terbaik Indonesia.
– Asian Games 2026 menjadi momen bersejarah karena Mobile Legends dan Honor of Kings resmi dipertandingkan sebagai cabang esports.
– Honor of Kings World Cup dan Valorant Challengers SEA juga menjadi ajang penting bagi tim Indonesia di level internasional.

Sorotan Tim Indonesia

Indonesia kembali mengirimkan banyak wakil di berbagai game esports populer.

Di Mobile Legends, Bigetron by Vitality tampil sebagai juara MPL ID Season 17 dan bersama ONIC Esports mewakili Indonesia di MSC 2026. Untuk PUBG Mobile, tim seperti Team Pandum, RRQ RYU, Bigetron by Vitality, dan VOIN menjadi wakil Indonesia di berbagai kompetisi regional.

Sementara itu, BOOM Esports terus menunjukkan performa konsisten di skena Valorant Asia Tenggara, sedangkan tim nasional Honor of Kings berhasil mengamankan tiket menuju Asian Games 2026.

Turnamen Lokal vs Internasional

Turnamen lokal seperti MPL Indonesia dan PMPL Indonesia menjadi jalur utama menuju kompetisi dunia seperti MSC, Esports World Cup, maupun Asian Games. Performa tim di liga domestik menjadi penentu siapa yang akan membawa nama Indonesia di panggung internasional.

Cara Mengikuti Turnamen

Sebagian besar turnamen dapat disaksikan secara gratis melalui kanal YouTube resmi masing-masing penyelenggara. Untuk babak playoff atau grand final, beberapa kompetisi juga menyediakan tiket bagi penonton yang ingin hadir langsung di arena pertandingan.

Selalu pantau jadwal terbaru melalui kanal resmi penyelenggara karena waktu pertandingan dapat berubah mengikuti perkembangan kompetisi.

Siapkan Akun Sebelum Musim Kompetitif

Musim turnamen biasanya membuat aktivitas ranked ikut meningkat. Banyak pemain mempersiapkan hero, skin, maupun battle pass sebelum kompetisi dimulai agar pengalaman bermain semakin maksimal.

Jika kamu ingin melakukan top up Mobile Legends, Free Fire, PUBG Mobile, Honor of Kings, Valorant, dan berbagai game populer lainnya, kamu bisa langsung menggunakan Gamezi Top Up yang menyediakan berbagai metode pembayaran seperti QRIS, GoPay, DANA, OVO, ShopeePay, transfer bank, hingga virtual account dengan proses cepat dan harga transparan.

Untuk melihat daftar game dan promo terbaru, kunjungi juga Gamezi.id.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Krisis Akan Selalu Ada, Menunggu Kondisi Ideal Justru Bisa Membuat Investor Kehilangan Peluang

Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi berbagai ketidakpastian, banyak calon investor masih bertanya: apakah sekarang waktu yang tepat untuk mulai berinvestasi? Ketika pasar bergerak fluktuatif, suku bunga berubah, dan sentimen geopolitik memengaruhi ekonomi dunia, tidak sedikit yang memilih menunggu hingga kondisi dianggap lebih aman sebelum mengambil keputusan investasi.

Padahal, jika melihat perjalanan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir, ketidakpastian bukanlah sesuatu yang bersifat sementara. Mulai dari pandemi COVID-19 pada 2020, penyebaran varian Delta dan Omicron pada 2021, lonjakan inflasi dan kenaikan suku bunga global pada 2022, konflik Rusia-Ukraina pada 2023, kekhawatiran resesi serta perkembangan artificial intelligence yang memicu volatilitas pasar pada 2024, perang tarif Amerika Serikat pada 2025, hingga memanasnya konflik di Timur Tengah sepanjang 2026. Berbagai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa selalu ada faktor baru yang memengaruhi pasar dan membentuk sentimen investor.

Bagi Chief Marketing Officer (CMO) Nanovest, Jovita Widjaja, kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk terus menunda investasi. Menurutnya, ketidakpastian merupakan bagian dari siklus pasar yang akan selalu ada. Karena itu, keputusan investasi tidak seharusnya didasarkan pada ada atau tidaknya krisis, melainkan pada tujuan keuangan dan strategi investasi yang konsisten.

“Kalau melihat perjalanan ekonomi global, hampir setiap tahun selalu ada peristiwa yang memicu kekhawatiran pasar. Artinya, krisis akan selalu ada dalam berbagai bentuk. Kalau kita terus menjadikan krisis sebagai alasan untuk menunda investasi, kemungkinan besar kita tidak akan pernah mulai. Ketakutan pasar akan selalu muncul, tetapi jika melihat sejarahnya, pasar selalu mampu pulih dan kembali bertumbuh. Yang berisiko bukan hanya menghadapi volatilitas, tetapi juga kehilangan peluang pertumbuhan karena terlalu lama menunggu,” ujar Jovita.

Mengubah Cara Pandang Terhadap Krisis

Menurut Jovita, salah satu tantangan terbesar yang masih dihadapi investor adalah belum memahami profil risiko masing-masing. Akibatnya, banyak investor mudah panik ketika pasar mengalami volatilitas dan mengambil keputusan berdasarkan emosi, seperti menjual aset saat harga sedang turun. Padahal, sebelum mulai berinvestasi, langkah pertama yang perlu dilakukan bukan hanya memilih produk investasi, tetapi juga memahami diri sendiri dan mengenali tingkat risiko yang mampu dihadapi.

Berbekal pengalaman lebih dari 14 tahun di industri investasi dan sekuritas, Jovita telah melewati berbagai siklus pasar, mulai dari periode pertumbuhan hingga berbagai krisis global yang memicu koreksi signifikan.

Selama 14 tahun terakhir saya bekerja di bidang ini, sudah banyak krisis yang terjadi. Namun tidak lama setelah krisis apapun itu, pasar kembali pulih bahkan mencatatkan kenaikan yang lebih tinggi dari penurunannya. Pengalaman itu mengajarkan bahwa pertanyaannya bukan lagi if the market will rebound, melainkan when. Yang terpenting adalah memiliki strategi investasi dan tetap disiplin menjalaninya.

Menurutnya, volatilitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan investasi. Investor yang memahami profil risikonya akan lebih siap menghadapi fluktuasi pasar tanpa mudah terbawa kepanikan, karena mereka telah memilih instrumen yang sesuai dengan tujuan keuangan dan tingkat toleransi risikonya.

Tidak ada yang bisa secara konsisten menentukan kapan pasar berada di titik terendah atau tertinggi. Karena itu, membangun kebiasaan berinvestasi secara rutin jauh lebih realistis dibanding terus menunggu momentum yang dianggap sempurna. Ketika kita memahami profil risiko sendiri, kita juga akan lebih tenang menghadapi pergerakan pasar karena sudah mengetahui strategi investasi yang paling sesuai dengan diri kita.

Untuk mendukung kebutuhan investor dengan karakter yang berbeda-beda, Nanovest menyediakan berbagai pilihan produk investasi sesuai profil risiko masing-masing. Investor dengan profil yang lebih konservatif dapat memilih Earn Program Nanovest atau Digital Gold sebagai alternatif yang lebih stabil, sementara investor dengan toleransi risiko yang lebih tinggi dapat berinvestasi di saham Amerika Serikat maupun aset kripto. Dengan memahami profil risiko sejak awal, investor dapat membangun portofolio yang lebih sesuai dengan kebutuhannya dan tetap konsisten menjalankan strategi investasi, meskipun pasar sedang bergejolak.

Konsistensi Lebih Penting daripada Menunggu Momentum

Meningkatnya jumlah investor Indonesia menjadi sinyal positif bagi perkembangan industri keuangan. Namun, di tengah derasnya arus informasi dan perubahan kondisi ekonomi global, investor membutuhkan lebih dari sekadar akses transaksi. Mereka membutuhkan pemahaman yang tepat agar tidak mudah dipengaruhi ketakutan jangka pendek.

Jovita menilai kepercayaan dibangun melalui edukasi yang berkelanjutan, transparansi, serta kemampuan membantu masyarakat memahami bahwa fluktuasi pasar merupakan bagian alami dari perjalanan investasi.

Pada akhirnya, investasi bukan tentang menunggu waktu yang benar-benar sempurna untuk mulai, karena kondisi tersebut mungkin tidak akan pernah datang. Krisis akan selalu menjadi bagian dari perjalanan pasar, tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa pasar memiliki kemampuan untuk pulih dan terus bertumbuh. Karena itu, yang paling penting bukan menghindari setiap gejolak, melainkan membangun kebiasaan berinvestasi yang konsisten agar tidak kehilangan peluang pertumbuhan dalam jangka panjang.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES