Sanggabiz Pimpin Transformasi Digital Dthree Melalui Implementasi AI dalam Program SFI 2026 Kemenperin RI

PT Sangga Bisnis Anda (Sanggabiz) mengukuhkan posisinya sebagai inovator teknologi industri dengan terpilih menjadi penyedia teknologi (tech provider) utama bagi PT Dthree Sukses Mulia (Dthree). Penunjukan ini merupakan bagian dari program Startup for Industry (SFI) 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin RI), di mana Sanggabiz dipercaya untuk mengimplementasikan ekosistem kecerdasan buatan (AI) guna menyelesaikan kendala operasional sistem manual IKM.

Jakarta, 12 September 2026 — Sanggabiz, startup penyedia solusi teknologi dan konsultan bisnis asal Sleman, resmi menjadi motor penggerak digitalisasi operasional PT Dthree Sukses Mulia (Dthree). Kemitraan strategis ini merupakan hasil matchmaking (penjodohan berpasangan) dari program bergengsi Kemenperin RI, Startup for Industry (SFI) 2026, yang secara khusus mempertemukan satu startup teknologi dengan satu pelaku IKM di sektor busana muslim.

Dalam kemitraan proyek implementasi yang didukung penuh oleh dana hibah Kemenperin ini, Sanggabiz bertindak penuh sebagai arsitek teknologi. Perusahaan tidak melakukan akuisisi, melainkan mendemonstrasikan kapabilitasnya dengan menyuntikkan infrastruktur operasional cerdas untuk mengatasi tantangan kritis yang selama ini menghambat pertumbuhan eskalasi Dthree.

Berbekal keahlian di bidang otomasi bisnis, Sanggabiz merancang solusi komprehensif untuk membantu sistem manajemen Dthree. Permasalahan utama yang ditangani Sanggabiz meliputi perencanaan volume lintas merek yang masih berjalan manual, pengelolaan prospek (leads) WhatsApp yang belum efisien, serta konsolidasi proyeksi finansial yang belum terotomatisasi.

Untuk mewujudkan transformasi tersebut, Sanggabiz menggelar kekuatan teknologinya yang mencakup pendekatan Data-Driven, AI-Powered Solution, serta Virtual Department & Outsourcing Solution. Ekosistem teknologi yang dimiliki oleh Sanggabiz ini secara khusus didesain untuk menciptakan alur kerja yang terotomatisasi, menyatukan data secara real-time, dan memberikan fondasi skalabilitas bisnis yang kokoh bagi Dthree untuk bersaing di pasar yang lebih luas.

“Proyek implementasi SFI 2026 ini membuktikan bahwa teknologi AI milik Sanggabiz sangat adaptif dan solutif terhadap permasalahan real di lapangan. Kami tidak sekadar memberikan perangkat lunak, tetapi kami mentransformasi cara kerja Dthree. Kami memastikan bahwa infrastruktur data dan otomasi yang kami bangun mampu membuat tim internal Dthree bekerja jauh lebih efisien, memangkas proses manual, dan siap melakukan eskalasi pasar kapan pun.”
— Yoga Samsugiharja, Technical Consultant, Sanggabiz

“Terpilihnya Sanggabiz sebagai penyedia teknologi dalam SFI 2026 adalah pembuktian atas ketangguhan ekosistem operasional berbasis AI yang kami kembangkan. Fokus utama Sanggabiz adalah memastikan teknologi cerdas menjadi mesin pendorong nyata bagi eskalasi IKM. Melalui implementasi sistem kami, Dthree akan beralih secara fundamental dari operasional manual menuju manajemen bisnis berbasis data yang presisi, terorganisir, dan efisien.”
— Dwi Andi Rohmatika (DA), Founder Sanggabiz

Melalui keberhasilan proyek implementasi strategis ini, Sanggabiz menargetkan untuk terus memperluas jangkauan layanan teknologinya dan memantapkan posisi sebagai mitra andalan bagi industri di seluruh Indonesia yang siap menyambut era digitalisasi terintegrasi.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

BINUS UNIVERSITY Rayakan 30th Creative Digital English, Teguhkan Komitmen Ciptakan Generasi Muda Bertalenta

Jakarta, 12 September 2026 — Di tengah berkembangnya digitalisasi dan industri kreatif, kemampuan berbahasa kini tidak lagi berhenti pada kecakapan berkomunikasi. Transformasi kebutuhan inilah yang menjadi bagian dari perjalanan BINUS University melalui program Creative Digital English di bawah naungan Faculty of Humanities selama tiga dekade dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia profesional yang terus berubah.

Creative Digital English merupakan program yang memadukan bahasa Inggris, linguistik, sastra, budaya, dan creative writing dengan komunikasi digital, media, dan teknologi. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mengembangkan kemampuan berbahasa, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, memahami lintas budaya, serta menghasilkan karya dan gagasan kreatif yang relevan dengan perkembangan dunia digital.

Memasuki usia ke-30, Creative Digital English BINUS University mengusung tema “Echoes of ’96, Visions of 2030” sebagai refleksi atas perjalanan program sejak 1996 sekaligus pandangan terhadap kompetensi yang akan semakin dibutuhkan di masa depan. Momentum tersebut dirayakan melalui rangkaian kegiatan pada Sabtu, 29 Agustus 2026 di BINUS University Kijang Campus.

Tema “Echoes of ’96” merefleksikan berbagai pengalaman dan pencapaian yang telah membentuk Creative Digital English selama tiga dekade, sementara “Visions of 2030” menggambarkan komitmen untuk terus melihat ke depan dan merespons perubahan kebutuhan dunia kerja.

Dean of Faculty of Humanities BINUS University, Dr. Elisa Carolina Marion, S.S., M.Si., mengatakan bahwa perkembangan teknologi justru semakin menegaskan pentingnya kemampuan yang berpusat pada manusia, termasuk komunikasi, empati, pemikiran kritis, dan pemahaman lintas budaya.

“Perkembangan teknologi dan AI membuat kita perlu melihat kembali kompetensi apa yang akan tetap relevan bagi talenta masa depan. Kemampuan manusia untuk berkomunikasi, memahami konteks, berkolaborasi lintas budaya, serta berpikir kritis menjadi semakin penting. Karena itu, pendidikan di bidang Humanities perlu terus berkembang tanpa kehilangan fokus pada kemampuan manusia yang menjadi fondasinya,” ujar Dr. Elisa Carolina Marion, S.S., M.Si.

Sejalan dengan hal tersebut, Creative Digital English mengembangkan pembelajaran yang memadukan bahasa Inggris, sastra, linguistik, budaya, dan creative writing dengan komunikasi digital, media, serta teknologi. Pendekatan ini mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan ekspresi kreatif yang relevan dengan perkembangan industri.

Head of English Department BINUS University, Irfan Rifai, S.Pd., M.Ed., Ph.D., menambahkan bahwa perjalanan tiga dekade Creative Digital English menunjukkan bagaimana pembelajaran bahasa terus beradaptasi dengan perubahan medium dan kebutuhan profesi.

“Selama 30 tahun, Creative Digital English terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Pembelajaran bahasa saat ini tidak hanya tentang bagaimana seseorang menggunakan bahasa dengan baik, tetapi juga bagaimana mereka dapat menggunakan bahasa untuk menciptakan gagasan, membangun narasi, memahami budaya, dan menghasilkan karya melalui berbagai medium. Karena itu, kami ingin mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna bahasa yang baik, tetapi juga menjadi individu yang mampu berpikir, menciptakan, dan berkomunikasi secara bermakna,” tutur Irfan Rifai, S.Pd., M.Ed., Ph.D. Semangat tersebut turut tercermin dalam perayaan tiga dekade Creative Digital English yang tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga ruang untuk mempertemukan seni, pengalaman akademik, perspektif industri, dan jejaring antargenerasi. 

Rangkaian acara diawali dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol perayaan 30 tahun, kemudian dilanjutkan dengan penampilan ELATE (English Literature Arts & Theatre Ensemble), talkshow inspiratif bersama Vera dan Karel, serta pertunjukan live band Diosdu. Perayaan ini turut menghadirkan sejumlah alumni sebagai pengisi acara, yang kembali berkontribusi melalui pengalaman dan karya mereka di tengah keluarga besar Creative Digital English. 

Peserta juga dapat mengeksplorasi pameran dan stand booth Creative Digital English. Memasuki sesi yang berfokus pada perspektif profesional, talkshow bersama Alessandro Leung selaku Founder Alessandro’s English Academy, dengan Irfan Rifai, S.Pd., M.Ed., Ph.D. sebagai moderator, membahas relevansi kemampuan bahasa dan komunikasi dalam menghadapi dinamika serta kebutuhan dunia profesional yang terus berkembang.

Perspektif mengenai kesiapan karier kemudian diperkuat melalui keynote speech dari Vice Rector Global Employability and Entrepreneurship, Bapak Dr. Johan, S.Kom., M.M., CDMS yang menyoroti pentingnya employability dan entrepreneurship dalam mempersiapkan mahasiswa menuju dunia profesional.

Rangkaian perayaan juga mempertemukan alumni dan mahasiswa melalui Alumni Networking. Sesi ini menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, membangun koneksi, sekaligus memberikan gambaran mengenai beragam perjalanan karier yang telah ditempuh oleh lulusan Creative Digital English.

Pertemuan antara dunia akademik, industri, dan alumni tersebut menjadi bagian dari upaya untuk memastikan pendidikan tetap terhubung dengan perkembangan profesional. Bagi Creative Digital English, perjalanan tiga dekade menjadi momentum untuk melihat bagaimana kompetensi yang dibangun selama masa studi dapat terus berkembang mengikuti perubahan kebutuhan industri.

Memasuki 2030, talenta masa depan akan menghadapi dunia kerja yang semakin dipengaruhi oleh teknologi dan perubahan cara manusia berkomunikasi. Kondisi tersebut membutuhkan individu yang tidak hanya menguasai kompetensi teknis, tetapi juga mampu menggabungkan komunikasi, kreativitas, pemikiran kritis, pemahaman lintas budaya, dan kemampuan beradaptasi.

Dalam konteks tersebut, perjalanan Creative Digital English BINUS University menunjukkan bagaimana pendidikan bahasa dapat berkembang dari kemampuan berbahasa sebagai fondasi menuju kompetensi yang dapat diterapkan dalam ekosistem kreatif, komunikasi, dan digital. Lulusan dipersiapkan untuk memiliki peluang karier di berbagai bidang, termasuk industri kreatif dan publishing, media dan journalism, public relations, advertising, serta profesi yang berkaitan dengan penulisan dan komunikasi.

Tiga puluh tahun perjalanan Creative Digital English bukan hanya menjadi penanda atas apa yang telah dicapai sejak 1996, tetapi juga momentum untuk menghubungkan pengalaman masa lalu dengan kebutuhan masa depan. Melalui “Echoes of ’96, Visions of 2030,” Creative Digital English BINUS University menatap tiga dekade berikutnya dengan semangat untuk terus mengembangkan talenta yang mampu berkomunikasi, berpikir kritis, menciptakan gagasan, dan beradaptasi di tengah dunia profesional yang semakin dinamis.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

India dan Indonesia Perkuat Kerja Sama Pertambangan, Bidik Mineral Kritis dan Peluang Hilirisasi

Jakarta — India dan Indonesia mendorong penguatan kerja sama di sektor pertambangan dan batu bara dengan memperluas kolaborasi dari perdagangan komoditas menuju investasi, teknologi, mineral kritis, industri hilir, dan keamanan rantai pasok. Peluang tersebut dibahas dalam roundtable “Boosting India-Indonesia Collaboration in Mining and Coal Sectors” di Tagore Hall, New Chancery, Kedutaan Besar India di Jakarta, 11 September 2026.

Pertemuan mempertemukan pejabat pemerintah, perusahaan pertambangan, asosiasi industri, investor, kontraktor, dan pemangku kepentingan dari kedua negara. Indonesia menawarkan sumber daya mineral yang besar, sementara India memiliki kemampuan industri, teknologi, investasi, dan kebutuhan pasar yang terus berkembang.

India Ingin Menjadi Mitra, Bukan Sekadar Pembeli Bahan Mentah

Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menegaskan bahwa India tidak tertarik hanya mendapatkan akses bahan baku. “Kami tidak tertarik hanya mengambil bahan mentah. Kami ingin bermitra dengan Anda, dan kami ingin menjadi mitra dalam kemajuan Anda.”

Menurutnya, kebijakan hilirisasi Indonesia telah mengubah lanskap investasi. Perusahaan India perlu melihat Indonesia bukan hanya sebagai sumber mineral, tetapi juga sebagai tempat membangun fasilitas pengolahan, manufaktur, dan industri bernilai tambah.

Mineral Kritis Jadi Area Strategis Baru

Vivek Kumar Bajpai, Joint Secretary, Ministry of Mines, Government of India, menjelaskan transformasi sektor pertambangan India melalui eksplorasi, pengelolaan data geologi, keterlibatan swasta, dan pengembangan pengolahan mineral.

India juga memberikan perhatian besar terhadap National Critical Mineral Mission (NCMM), yang mencakup eksplorasi, lelang blok, akuisisi aset luar negeri, fasilitas pengolahan, daur ulang, serta penelitian dan pengembangan.

“Perusahaan-perusahaan India sangat tertarik untuk datang ke Indonesia dan melakukan investasi di sini,” kata Bajpai. Langkah berikutnya, menurutnya, adalah mempertemukan perusahaan India dengan proyek dan mitra yang tepat di Indonesia.

Batu Bara Tetap Strategis, India Dorong Modernisasi

Bhuvaneshwari S., Deputy Secretary, Ministry of Coal, Government of India, menjelaskan bahwa batu bara masih berperan penting dalam sistem energi India. Namun, pemerintah mendorong reformasi kebijakan, modernisasi teknologi, serta pemanfaatan batu bara untuk menghasilkan nilai tambah.

India membuka sektor pertambangan batu bara melalui commercial mining dan mendorong penggunaan AI, GPS, GIS, serta sistem pemantauan terintegrasi. Melalui National Coal Gasification Mission, India juga mengembangkan teknologi untuk mengubah batu bara menjadi produk dan bahan baku industri, dengan tetap memperhatikan lingkungan dan keselamatan.

Indonesia Punya Potensi Besar Mineral Kritis

Debdutta Ganguly, President Director PT HDJ Consultant Indonesia, menilai Indonesia memiliki posisi strategis dalam industri pertambangan global, termasuk batu bara, nikel, tembaga, emas, bauksit, dan timah.

Indonesia telah mengidentifikasi 47 mineral kritis, sementara India memiliki sekitar 30. Nikel, kobalt, tembaga, grafit, timah, dan rare earth elements menjadi sejumlah mineral yang memiliki kepentingan bagi kedua negara.

Ganguly mendorong kedua negara segera menentukan proyek prioritas. “Identifikasi beberapa proyek prioritas. Kita cocokkan kemampuan India dengan proyek-proyek di Indonesia. Kemudian kita dapat meluncurkan dua atau tiga proyek percontohan.”

APNI Buka Peluang bagi Perusahaan India

Meidy Katrin Lengkey, Secretary General Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), memaparkan pesatnya perkembangan industri nikel Indonesia. Menurutnya, sekitar 450 perusahaan tambang nikel aktif berproduksi, sementara hilirisasi telah mendorong pembangunan berbagai fasilitas pengolahan dan pemurnian.

Indonesia kini memasok sekitar 65 persen kebutuhan nikel dunia. Namun, Meidy menyoroti dominasi investor China di sektor hilir. “Sayangnya, sejak program hilirisasi dimulai, kita dapat melihat bahwa sekitar 90 persen sektor hilir berasal dari China.”

Kondisi tersebut membuka ruang bagi India untuk menjadi mitra baru Indonesia, tidak hanya di nikel tetapi juga 47 mineral kritis yang telah diidentifikasi Indonesia.

Dari Nikel Menuju Produk Bernilai Tambah

Kamlesh Kumar, COO Tata Power Indonesia, menilai peluang nikel seharusnya tidak hanya diarahkan untuk menambah kapasitas produksi. Sejumlah segmen telah menghadapi oversupply, sehingga peluang lebih menarik dapat berada pada tahapan lebih tinggi dalam rantai nilai.

Selain nickel pig iron (NPI), perusahaan dapat mempertimbangkan bahan kimia dan material yang digunakan dalam rantai nilai baterai. Tembaga, timah, bauksit, dan coal gasification juga dinilai memiliki peluang kerja sama.

Ashok Mitra, mantan CEO Kaltim Prima Coal (KPC), menambahkan bahwa gasifikasi batu bara bukan konsep baru di Indonesia, tetapi masih menghadapi tantangan ekonomi proyek, kebutuhan investasi, serta ketersediaan batu bara yang sesuai.

Adani Dorong Perusahaan India Lebih Agresif

Siddharth Taparia, Country Head Adani Indonesia, mengatakan perusahaan India perlu melihat peluang lebih luas dan tidak hanya berfokus pada batu bara. Nikel, tembaga, dan bauksit dapat menjadi pintu masuk baru.

Ia menilai perusahaan China telah bergerak sangat agresif dengan membawa modal, teknologi, peralatan, dan kemampuan engineering. “Kita harus lebih agresif.” Namun, perusahaan yang masuk ke Indonesia juga harus memahami ekosistem lokal dan memberikan nilai tambah.

Danantara Melihat Peluang dari Tambang hingga Baterai

Suryadi Wijaya, Director Investment Danantara, mengatakan peluang investasi dapat dikembangkan melalui co-investment dan kemitraan dengan investor strategis, dengan tetap berorientasi pada commercial return.

Rantai nilai tersebut mencakup pengolahan mineral, material baterai, anode, cathode, battery cell, hingga kendaraan listrik. Indonesia juga membutuhkan diversifikasi teknologi agar tidak bergantung pada satu pendekatan atau sumber teknologi.

Mineral Kritis Bukan Sekadar “Dig and Sell”

Naveen Chandralal, Director PT Amman, menekankan bahwa mineral kritis membutuhkan perspektif jangka panjang. “Mineral kritis bukan sekadar dig and sell.”

Pengembangan mineral kritis membutuhkan fasilitas pengolahan, modal besar, teknologi, dan kepastian pasar. Tembaga, misalnya, semakin penting bagi India seiring meningkatnya kebutuhan industri. Indonesia dapat menjadi mitra strategis karena memiliki sumber daya dan pengalaman dalam operasi pertambangan berskala besar.

Tantangan Pasokan Nikel

Arief Perdana Kusumah, Chairman Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), menyoroti konsentrasi pasar nikel Indonesia ke China. Ia menyebut sekitar 93 persen produksi logam nikel Indonesia mengalir ke China.

Arief juga menyoroti kebutuhan impor bijih nikel dari Filipina, terutama karena Maluku Utara menghadapi defisit bijih di tengah terkonsentrasinya kapasitas pengolahan nikel di wilayah tersebut.

Salah satu opsi yang dibahas untuk menjamin pasokan adalah long-term offtake agreement dengan produsen yang telah beroperasi. Pilihan lainnya adalah kepemilikan saham atau akuisisi fasilitas yang sudah beroperasi.

Meidy menjelaskan bahwa impor bijih dari Filipina berkaitan dengan karakteristik bijih yang dibutuhkan fasilitas pengolahan dan dapat dicampur dengan bijih domestik. Di tengah oversupply pada sejumlah segmen, Indonesia dinilai perlu semakin berfokus pada nilai tambah.

Peluang bagi Kontraktor Pertambangan India

Roundtable juga membahas peluang bagi perusahaan India untuk masuk sebagai kontraktor pertambangan maupun melalui model Mine Developer and Operator (MDO).

Kuhan Selvaretnam, Director Sumbar Mitra Jaya, memberikan perspektif dari sisi kontraktor pertambangan Indonesia. Menurutnya, Indonesia telah berkembang pesat dari sisi teknologi pertambangan.

“Dari perspektif pertambangan, Indonesia sudah cukup maju. Kita memiliki akses terhadap teknologi terbaru, baik untuk alat berat, pengawasan tambang, pengembangan tambang dan sebagainya.”

Ia juga melihat perbedaan model kontraktor Indonesia dan MDO di India sebagai peluang untuk saling belajar. Kuhan turut mengapresiasi perkembangan regulasi pertambangan India dan upaya menuju praktik pertambangan batu bara yang lebih ramah lingkungan.

Saatnya Mengubah Dialog Menjadi Aksi

Bijay Selvaraj, Deputy Chief of Mission Kedutaan Besar India di Jakarta, menilai forum tersebut mempertemukan keahlian dari pembuat kebijakan, perusahaan, investor, perbankan, dan Danantara.

“Sudah menjadi sangat jelas bahwa Indonesia adalah tempat di mana hampir segala sesuatu terjadi dalam hal pertambangan. Anda dapat menyebut mineral apa pun, dan mineral itu ada di sini.”

Menurutnya, peluang tersebut harus berjalan bersama kebijakan hilirisasi dan transisi menuju industri yang lebih bersih. “Kita tidak bisa hanya berada di apa yang disebut sebagai ruang kotor. Kita harus masuk ke ruang yang bersih dan juga menunjukkannya.”

India Mining Week Jadi Forum Lanjutan

Selvaraj mengundang pelaku industri Indonesia untuk melanjutkan pembicaraan melalui India Mining Week pada 15–17 November 2026. Forum tersebut diharapkan menjadi kesempatan untuk mengidentifikasi peluang investasi dan kemitraan yang lebih konkret.

Pertemuan di Jakarta menunjukkan bahwa kerja sama pertambangan India dan Indonesia mulai bergerak melampaui perdagangan komoditas. Batu bara tetap menjadi bagian penting, tetapi peluang masa depan semakin mengarah pada mineral kritis, hilirisasi, teknologi, pengolahan, manufaktur, investasi bersama, dan keamanan rantai pasok.

Tantangan berikutnya adalah mengubah komplementaritas kedua negara menjadi proyek nyata dengan menentukan proyek prioritas, mempertemukan perusahaan yang tepat, dan membangun proyek percontohan sebagai dasar kemitraan industri jangka panjang.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

5 Tips yang Harus Kamu Tahu Sebelum Membayar Tagihan BPJS Kesehatan

Membayar iuran BPJS Kesehatan secara rutin menjadi bagian penting untuk menjaga status kepesertaan tetap aktif. Namun, sebelum melakukan pembayaran, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, mulai dari mengetahui waktu pembayaran, mengecek jumlah tagihan, hingga memilih metode pembayaran yang praktis.

Kalau kamu masih bertanya tagihan BPJS muncul tanggal berapa, sebenarnya yang lebih penting untuk diperhatikan adalah batas waktu pembayarannya. Untuk peserta mandiri atau PBPU dan BP, iuran BPJS Kesehatan perlu dibayarkan paling lambat tanggal 10 setiap bulan. 

Berikut lima tips yang bisa kamu perhatikan sebelum membayar tagihan BPJS Kesehatan.

1. Ketahui Batas Waktu Pembayaran BPJS Kesehatan

Pertanyaan tagihan BPJS muncul tanggal berapa cukup sering dicari karena peserta ingin mengetahui kapan harus mulai mengecek dan membayar iuran.

Untuk peserta PBPU dan BP, pembayaran iuran dilakukan paling lambat tanggal 10 setiap bulan. Karena itu, sebaiknya jangan menunggu mendekati tanggal jatuh tempo untuk mengecek tagihan. 

Dengan mengecek lebih awal, kamu punya waktu untuk memastikan jumlah tagihan dan menyiapkan dana yang diperlukan.

2. Pastikan Jumlah Tagihan Sebelum Membayar

Sebelum melakukan pembayaran, pastikan data peserta dan nominal yang muncul sudah sesuai.

Jumlah yang perlu dibayarkan dapat bergantung pada kepesertaan dan jumlah anggota keluarga yang terdaftar. Karena itu, jangan langsung melakukan pembayaran sebelum melihat rincian tagihannya.

3. Manfaatkan Cara Melihat Tagihan BPJS Secara Online

Sekarang kamu tidak harus datang ke kantor BPJS Kesehatan hanya untuk mengecek status pembayaran. Salah satu cara melihat tagihan BPJS secara online adalah melalui aplikasi Mobile JKN.

Peserta dapat menggunakan menu informasi iuran untuk mengetahui tagihan yang perlu dibayarkan. Pengecekan juga dapat dilakukan melalui layanan informasi BPJS Kesehatan lainnya sesuai kanal yang tersedia. 

Dengan begitu, kamu bisa mengetahui kondisi tagihan terlebih dahulu sebelum memilih metode pembayaran.

4. Pilih Metode Pembayaran yang Praktis

Setelah mengetahui nominal tagihan, kamu bisa memilih metode pembayaran yang paling praktis. Saat ini, pembayaran tagihan BPJS Kesehatan juga bisa dilakukan secara online, sehingga kamu tidak perlu datang langsung ke lokasi pembayaran. 

Dengan layanan digital, proses pengecekan hingga pembayaran dapat dilakukan melalui aplikasi yang menyediakan fitur pembayaran tagihan. Pastikan nomor peserta atau virtual account yang dimasukkan sudah benar, lalu cek kembali detail tagihan sebelum mengonfirmasi pembayaran. 

5. Simpan Bukti Pembayaran

Setelah pembayaran berhasil, jangan lupa menyimpan bukti transaksi. Bukti tersebut dapat membantu jika suatu saat kamu perlu melakukan pengecekan kembali terhadap pembayaran yang sudah dilakukan.

Bayar Tagihan BPJS Kesehatan di neobank

Membayar iuran secara rutin akan lebih mudah jika kamu sudah mengetahui kapan harus membayar, berapa nominal tagihannya, dan metode pembayaran yang akan digunakan.

Salah satu pilihannya adalah Bayar tagihan BPJS Kesehatan di aplikasi neobank dari Bank Neo Commerce. Fitur Pembayaran Tagihan BPJS Kesehatan tersedia di aplikasi neobank dan dapat digunakan untuk membayar tagihan BPJS secara digital. Melalui aplikasi neobank, pembayaran tagihan BPJS Kesehatan bisa dilakukan di menu Tagihan & Isi Ulang. 

Dengan Fitur Pembayaran Tagihan BPJS Kesehatan di aplikasi neobank dari Bank Neo Commerce, pembayaran tagihan BPJS dapat dilakukan secara digital. Selain BPJS, neobank juga menyediakan berbagai layanan pembayaran tagihan lainnya dalam satu aplikasi.

Jadi, mulai sekarang biasakan mengecek tagihan lebih awal dan menyelesaikan pembayaran sebelum batas waktu agar pengelolaan kebutuhan bulanan menjadi lebih teratur.

***

Jika ingin membayar tagihan BPJS Kesehatan, unduh aplikasi neobank melalui PlayStore atau App Store. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi halaman Tagihan dan Isi Ulang di website resmi Bank Neo Commerce. 

PT Bank Neo Commerce Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), serta merupakan peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Bitcoin Hadapi Tekanan Baru, Mampukah Kembali ke US$80 Ribu?

Jakarta, 12 September 2026 – Harga Bitcoin (BTC) kembali bergerak di kisaran US$77.000 setelah sempat menembus US$80.000 pada pekan sebelumnya. Koreksi terjadi ketika pasar menghadapi tekanan makro yang meningkat menjelang keputusan suku bunga The Fed pada 16 September.

Di tengah pelemahan tersebut, Bitcoin baru saja membentuk golden cross pada 8 September, ketika rata-rata pergerakan 50 hari menembus ke atas rata-rata 200 hari. Pola ini secara historis sering dipandang sebagai sinyal momentum positif dalam jangka menengah, meski tidak menjamin harga akan langsung melanjutkan kenaikan.

CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai kondisi pasar saat ini menunjukkan tarik-menarik yang cukup kuat antara sinyal teknikal positif dan tekanan makro global.

“Golden cross menunjukkan struktur teknikal Bitcoin mulai membaik, tetapi pasar saat ini masih sangat dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga dan likuiditas global. Karena itu, sinyal teknikal ini tetap membutuhkan konfirmasi dari pergerakan harga setelah keputusan The Fed,” ujar Yudho.

Faktor Penekan BItcoin

Tekanan terhadap Bitcoin meningkat setelah data tenaga kerja AS menunjukkan nonfarm payroll bertambah 162.000 pada Agustus, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,1%. Data tersebut kembali memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.

Ekspektasi kenaikan suku bunga juga mengalami perubahan cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Dalam laporan Market Outlook FLOQ, probabilitas kenaikan suku bunga pada FOMC September berada di kisaran 56–59%, berbalik naik setelah sebelumnya sempat turun ke sekitar 31,6% pada akhir Agustus.

Menurut Yudho, perubahan ekspektasi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Bitcoin belum mampu mempertahankan momentum kenaikannya meski secara teknikal menunjukkan sinyal yang lebih positif.

“Bitcoin masih sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi kebijakan moneter. Ketika pasar mulai memperkirakan suku bunga akan bertahan tinggi atau bahkan naik, investor cenderung lebih berhati-hati terhadap aset berisiko. Namun, selama permintaan spot masih bertahan, tekanan seperti ini juga bisa menjadi fase konsolidasi sebelum pasar menemukan arah baru,” jelasnya.

Permintaan Institusi

Di sisi lain, permintaan institusional masih memberikan sinyal konstruktif. ETF Bitcoin dan Ethereum di AS mencatat inflow gabungan sekitar US$3,8 miliar dalam tiga pekan berturut-turut hingga awal September. Pada pekan yang berakhir 4 September saja, spot Bitcoin ETF membukukan inflow sekitar US$986,7 juta, dengan BlackRock IBIT menjadi kontributor terbesar.

Arus dana tersebut menjadi faktor penting karena menunjukkan bahwa minat investor institusional masih bertahan di tengah ketidakpastian makro. Namun, FLOQ menilai tren inflow masih perlu berlanjut untuk memberikan konfirmasi bahwa pasar benar-benar memasuki fase akumulasi yang lebih kuat.

“Kalau inflow ETF tetap bertahan ketika harga Bitcoin bergerak sideways atau bahkan terkoreksi, itu akan menjadi sinyal yang lebih kuat bahwa investor institusional tidak hanya mengejar momentum, tetapi mulai melakukan alokasi dengan horizon yang lebih panjang,” kata Yudho.

Pasar kini akan fokus pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September 2026. Selain keputusan suku bunga, investor juga akan mencermati proyeksi ekonomi serta arah kebijakan Federal Reserve untuk beberapa bulan berikutnya.

Bagi Bitcoin, hasil FOMC berpotensi menjadi katalis penting untuk menentukan apakah momentum golden cross dapat berlanjut atau justru tertahan lebih lama. Sinyal kebijakan yang lebih hawkish berpotensi menjaga tekanan terhadap aset berisiko, sedangkan nada yang lebih moderat dapat membuka ruang bagi pemulihan.

Menurut Yudho, kemampuan Bitcoin untuk kembali merebut area US$79.000–US$80.000 akan menjadi salah satu indikator awal pemulihan. Jika momentum semakin kuat, area di atas US$80.000 dapat kembali diuji. Sebaliknya, tekanan makro yang meningkat dapat membuat Bitcoin tetap berada dalam fase konsolidasi.

“Beberapa hari ke depan akan menjadi periode penting. Bitcoin sudah memiliki sinyal teknikal positif dari golden cross, tetapi konfirmasi sesungguhnya akan terlihat setelah pasar mengetahui arah kebijakan The Fed. Jika Bitcoin mampu bertahan dan permintaan institusional tetap kuat, peluang pemulihan jangka menengah masih terbuka,” tutupnya.

Prospek Bitcoin dalam jangka pendek masih cenderung netral dengan volatilitas tinggi. Golden cross menjadi sinyal positif dari sisi teknikal, tetapi arah suku bunga, likuiditas global, serta keberlanjutan arus dana institusional akan tetap menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan Bitcoin selanjutnya.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

IPCC Raih Tiga Penghargaan di TOP GRC Awards 2026

Jakarta, September 2026 – PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) meraih tiga penghargaan dalam ajang TOP GRC Awards 2026 yang diselenggarakan Majalah TopBusiness di Hotel Raffles Jakarta, Rabu (9/9). IPCC memperoleh TOP GRC Awards 2026 #5 Star (Excellence) atas penerapan Governance, Risk, and Compliance (GRC) yang dinilai unggul dari sisi sistem, infrastruktur, dan implementasinya dalam mendukung keberlanjutan usaha.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan, SDM & Manajemen Risiko IPCC, Bagus Dwipoyono, menerima penghargaan The Most Committed GRC Leader 2026. Jajaran Komisaris IPCC juga meraih The High Performing Board of Commissioner on GRC 2026, yang diterima oleh Komisaris Independen IPCC, Herry Ardianto.

Direktur Utama IPCC, Wing Megantoro, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil komitmen seluruh insan perusahaan dalam memperkuat tata kelola, pengelolaan risiko, dan budaya kepatuhan sebagai bagian dari pengelolaan bisnis yang berkelanjutan.

“Pengakuan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus memperkuat implementasi GRC di seluruh proses bisnis. Bagi IPCC, GRC bukan sekadar kepatuhan, tetapi menjadi fondasi dalam menjaga kepercayaan pemangku kepentingan serta mendukung pertumbuhan perusahaan yang berkelanjutan,” ujar Wing.

Sementara itu, Bagus Dwipoyono menegaskan bahwa penerapan GRC terus diperkuat agar terintegrasi dalam proses kerja dan pengambilan keputusan perusahaan. “Kami terus mendorong penguatan tata kelola, pengelolaan risiko, dan budaya kepatuhan secara konsisten. Penghargaan ini menjadi dorongan bagi IPCC untuk terus meningkatkan kualitas penerapan GRC dalam mendukung kinerja perusahaan yang sehat dan berkelanjutan,” kata Bagus.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Bittime Soroti Pengaruh Data Ekonomi AS terhadap Pergerakan Harga Kripto

Bittime menyoroti pengaruh data ekonomi Amerika Serikat dan ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed terhadap pergerakan pasar kripto. Bittime juga mengingatkan pentingnya memahami karakteristik, leverage, dan risiko produk aset digital, terutama di tengah tingginya aktivitas perdagangan derivatif global.

Bittime, sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menilai perkembangan ekonomi global menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor untuk memahami pergerakan pasar aset kripto.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada 11 September 2026 pagi, Bitcoin berada di kisaran US$76.695, melemah 1,88% dalam 24 jam terakhir dan 5,00% dalam sepekan. Sementara itu, Ethereum berada di sekitar US$2.452, terkoreksi 0,51% dalam 24 jam dan 2,16% dalam sepekan.

Pergerakan tersebut berlangsung ketika investor masih mencermati berbagai perkembangan ekonomi global, termasuk arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Mengapa Data Makro Diperhatikan Investor?

Data seperti Consumer Price Index (CPI), Non-Farm Payrolls (NFP), dan keputusan Federal Reserve (The Fed) menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap arah suku bunga. Ketika data ekonomi berbeda dari perkiraan pasar, investor dapat menyesuaikan kembali pandangan mereka terhadap kebijakan moneter.

Perubahan ekspektasi tersebut kemudian dapat memengaruhi imbal hasil obligasi, nilai dolar AS, dan minat investor terhadap aset berisiko. Riset International Monetary Fund (IMF) pada 2023 yang berjudul “The Crypto Cycle and US Monetary Policy” menunjukkan bahwa pengetatan kebijakan moneter AS dapat memengaruhi pasar kripto melalui perubahan risk appetite investor. IMF juga menemukan bahwa meningkatnya keterkaitan pasar kripto dengan pasar saham terjadi seiring masuknya investor institusional ke pasar kripto.

Dengan demikian, reaksi pasar terhadap suatu data tidak selalu bergantung pada apakah angkanya naik atau turun. Investor juga melihat bagaimana data tersebut dibandingkan dengan ekspektasi sebelumnya serta apa dampaknya terhadap kebijakan moneter ke depan.

“Investor perlu memahami bahwa pasar tidak hanya bereaksi terhadap apakah suatu data ekonomi naik atau turun, tetapi juga bagaimana data tersebut dibandingkan dengan ekspektasi dan apa artinya terhadap kebijakan moneter ke depan. Karena itu, data makro juga menjadi salah satu pertimbangan, bukan satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan investasi,” ujar Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn.

Pergerakan Pasar Kripto

Investor dan trader global tidak hanya mencermati data makroekonomi Amerika Serikat, tetapi juga perkembangan aktivitas perdagangan aset kripto di pasar spot dan derivatif. Pasar derivatif merupakan salah satu bagian dari aktivitas perdagangan aset kripto global.

Berdasarkan laporan CoinMarketCap berjudul August Exchange Monthly Report, 11 bursa yang dipantau mencatat total volume perdagangan spot dan derivatif sekitar US$4,23 triliun pada Agustus 2026, meningkat 12,3% dibandingkan Juli 2026. Dari total tersebut, perdagangan spot menyumbang sekitar 13,8%, sedangkan perdagangan derivatif mencapai sekitar 86,2%, atau setara dengan US$3,65 triliun.

Laporan tersebut juga mencatat volume perdagangan derivatif sekitar 6,25 kali dari volume perdagangan spot pada Agustus 2026. Angka tersebut memberikan gambaran mengenai komposisi aktivitas perdagangan aset kripto pada bursa yang dipantau CoinMarketCap selama periode tersebut.

Data tersebut menggambarkan bahwa pasar derivatif memiliki aktivitas perdagangan yang besar sekaligus memiliki risiko yang perlu dipahami oleh pelaku pasar. Perubahan harga yang cepat dapat memengaruhi posisi futures, terutama pada transaksi yang menggunakan leverage. Karena itu, pemahaman terhadap mekanisme produk dan manajemen risiko menjadi bagian penting sebelum melakukan transaksi.

“Setiap produk aset digital memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda. Karena itu, investor perlu memahami cara kerja produk, termasuk penggunaan leverage dan pengelolaan posisi, sebelum melakukan transaksi. Pemahaman tersebut dapat membantu investor menyesuaikan penggunaan produk dengan kebutuhan dan tingkat pemahamannya,” pungkas Ryan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Hisense Hadirkan True-to-Life Color, Kenyamanan Mata, dan Hiburan Imersif di IFA 2026

Hisense sebagai merek elektronik konsumen dan peralatan rumah tangga global, menampilkan inovasi terbaru dalam teknologi layar, laser, dan audio di IFA 2026. Mengusung tema “Innovating a Brighter Life”, berbagai inovasi tersebut memadukan kualitas gambar yang hidup, kenyamanan menonton, dan suara imersif untuk menghadirkan pengalaman hiburan di rumah yang lebih menyenangkan

BERLIN,
Jerman, 4 September 2026
— Hisense sebagai merek
elektronik konsumen dan peralatan rumah tangga global, menampilkan inovasi
terbaru dalam teknologi layar, laser, dan audio di IFA 2026. Mengusung tema
“Innovating a Brighter Life”, berbagai inovasi tersebut memadukan kualitas gambar
yang hidup, kenyamanan menonton, dan suara imersif untuk menghadirkan
pengalaman hiburan di rumah yang lebih menyenangkan.

 

Di IFA 2026,
produk-produk Hisense juga meraih penghargaan dalam berbagai kategori pada
ajang IFA Innovation Awards. Hisense Soundbar UX1 dinobatkan sebagai pemenang,
sementara TV MiniLED 116UXS, TV UR8, dan Proyektor Laser XR10 memperoleh
penghargaan sebagai Honorees.

 

 

Tampil untuk pertama
kalinya di Eropa, Hisense 116UXS memperkenalkan evolusi terbaru teknologi
RGB-MiniLED yang didukung oleh Chromagic 2.0 Technology. Sistem lampu latar
empat warnanya menambahkan sumber Cahaya warna cyan untuk melengkapi
warna merah, hijau, dan biru sehingga mampu mencapai 110% cakupan ruang warna
BT.2020. Hisense 116UXS juga telah memperoleh sertifikasi Pantone Validated
RGB-MiniLED dan Pantone Color, yang semakin memperkuat pengakuan terhadap
performa warnanya. Dipadukan dengan tingkat kecerahan puncak 10.000nit, Hi-View
AI Engine RGB, dan Obsidian Panel, Hisense 116UXS menghadirkan akurasi warna,
kontras, dan kedalaman gambar yang lebih baik untuk pengalaman menonton yang
tampak nyata.

 

Hisense 116UXS juga
memadukan performa warna canggih dengan teknologi kenyamanan mata pada hardware-nya.
Solusi rendah cahaya biru memungkinkan pengguna menikmati tayangan dalam durasi
yang lebih lama secara nyaman tanpa mengurangi kualitas gambar. Teknologi ini
telah memperoleh sertifikasi TÜV Rheinland Low Blue Light (Hardware Solution).
Selain model flagship tersebut, seluruh jajaran RGB MiniLED Hisense
2026—termasuk UR9S dan UR8S—telah memperoleh sertifikasi TÜV Rheinland Eye
Comfort. Dengan demikian, teknologi layar yang nyaman bagi mata menjadi standar
di seluruh rangkaian produk, bukan hanya fitur eksklusif pada model flagship.

 

 

Hisense dan TÜV
Rheinland merayakan pencapaian sertifikasi tersebut melalui acara bersama di
IFA 2026. Acara ini dihadiri oleh Henk Pieters, Senior Vice President of Global
Sales, Marketing & Communication, Business Stream Products, TÜV Rheinland
Group, serta Sonny Ming, General Manager of TV Product Marketing di Hisense
Global Commercial Center.

 

Sonny Ming mengatakan,
“Sertifikasi dari TÜV Rheinland ini secara objektif membuktikan bahwa TV
RGB-MiniLED Hisense mampu menghadirkan pengalaman menonton yang lebih nyaman.
Hisense akan terus mengembangkan inovasi teknologi layar untuk menghadirkan
kualitas gambar premium yang memadukan warna cemerlang dengan kenyamanan mata
yang lebih baik bagi konsumen.”

 

Fokus terhadap
kenyamanan menonton tersebut juga diterapkan pada berbagai produk Laser
Hisense. Proyektor Laser XR10, Laser Cinema PX4 Pro, dan Laser TV L9Q Pro telah
memperoleh sertifikasi TÜV Rheinland Eye Comfort. Sementara itu, seri C3 dan
berbagai model lainnya semakin memperluas jajaran produk Hisense untuk
menghadirkan pengalaman hiburan layar besar yang imersif.

 

Selain teknologi layar
dan proyeksi, Hisense juga menampilkan rangkaian soundbar, speaker, dan
headphone. Soundbar UX1 menggabungkan sistem 11.2.6 channel sound, Dolby
Atmos, DTS, serta integrasi Hi-Concerto dengan sejumlah TV Hisense pilihan
untuk menghadirkan pengalaman audiovisual yang imersif dan terintegrasi.
Sementara itu, earbud nirkabel open-ear Hisense HiClips hanya memiliki bobot
5,5 gram untuk setiap earbud serta dilengkapi desain fleksibel yang nyaman
digunakan sepanjang hari.

 

Secara keseluruhan,
berbagai inovasi tersebut mencerminkan visi Hisense untuk menghadirkan
ekosistem hiburan rumah yang lebih nyaman, hidup, dan imersif sehingga setiap
pengalaman sehari-hari menjadi lebih cerah dan menyenangkan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES