XAUUSD Gagal Tembus 4.355, Harga Emas Berisiko Lanjut Melemah

Harga emas dunia atau XAUUSD masih menghadapi tekanan pada perdagangan hari Selasa (15/9). Berdasarkan analisis Dupoin Futures, pergerakan harga emas pada time frame Daily menunjukkan kecenderungan bearish yang masih cukup kuat. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai tekanan jual berpotensi berlanjut apabila harga belum mampu menembus sekaligus bertahan di atas level resistance penting 4.355.

Menurut analisis Dupoin Futures, level 4.355 menjadi area yang perlu diperhatikan pelaku pasar karena dapat menjadi penentu arah pergerakan XAUUSD selanjutnya. Selama harga emas masih bergerak di bawah resistance tersebut, peluang terjadinya pelemahan masih terbuka. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan bearish masih mendominasi struktur pergerakan harga emas pada time frame Daily.

Geraldo Kofit dari Dupoin Futures menjelaskan, apabila XAUUSD kembali mendapatkan tekanan jual dan tidak mampu melakukan breakout terhadap resistance 4.355, harga emas berpotensi melanjutkan penurunan menuju area support berikutnya. Dalam analisis Dupoin Futures, level 4.223 menjadi target support yang perlu diperhatikan karena berada di sekitar area Order Block dan Unfilled Order.

Dengan demikian, prediksi harga emas hari ini menurut Dupoin Futures masih cenderung bearish. Selama tidak terdapat penguatan signifikan yang mampu membawa XAUUSD melewati resistance 4.355, peluang harga untuk menguji area 4.223 tetap terbuka. Pergerakan di sekitar kedua level tersebut menjadi penting untuk melihat apakah tekanan jual akan semakin kuat atau justru mulai kehilangan momentum.

Dupoin Futures juga menilai reaksi harga ketika mendekati area 4.223 perlu menjadi perhatian. Jika support tersebut mampu menahan tekanan jual, XAUUSD berpotensi mengalami rebound atau konsolidasi. Sebaliknya, apabila harga emas berhasil menembus support tersebut, tekanan bearish dapat semakin terkonfirmasi dan membuka peluang pelemahan ke area yang lebih rendah.

Selain faktor teknikal, pergerakan emas juga masih dipengaruhi oleh perkembangan fundamental global. Analisis Dupoin Futures menunjukkan bahwa penguatan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve menjadi salah satu faktor yang membebani harga emas. Ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi atau mengambil langkah yang lebih ketat dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS dan memberikan tekanan terhadap emas.

Kondisi tersebut semakin diperhatikan karena harga emas tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika tingkat suku bunga dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat meningkat, opportunity cost dalam memegang emas menjadi lebih tinggi. Oleh sebab itu, menurut Dupoin Futures, pergerakan dolar AS dan Treasury yield akan menjadi dua indikator penting yang dapat memengaruhi arah XAUUSD dalam jangka pendek.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah masih menjadi faktor yang berpotensi memberikan dukungan terhadap emas. Situasi geopolitik yang meningkat biasanya mendorong investor untuk mencari aset safe haven, termasuk emas. Namun, menurut analisis Dupoin Futures, dukungan dari faktor safe haven tersebut masih harus berhadapan dengan tekanan dari ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.

Kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah juga menjadi perhatian pasar. Harga minyak yang meningkat dapat menambah risiko inflasi global. Kondisi tersebut berpotensi membuat bank sentral, khususnya The Fed, lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya. Bagi harga emas, situasi tersebut dapat menjadi tekanan apabila pasar kembali meningkatkan ekspektasi terhadap suku bunga yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama.

Karena itu, Dupoin Futures melihat arah pergerakan XAUUSD akan sangat bergantung pada keseimbangan antara sentimen safe haven dan tekanan dari dolar AS serta imbal hasil obligasi. Jika USD dan Treasury yield tetap tinggi, ruang penguatan emas dapat menjadi lebih terbatas. Sebaliknya, peningkatan ketidakpastian geopolitik yang signifikan dapat memberikan dorongan terhadap permintaan emas sebagai aset perlindungan.

Secara keseluruhan, prediksi harga emas hari ini dari Dupoin Futures masih mengarah pada potensi pelemahan. Level 4.355 menjadi resistance utama yang perlu ditembus untuk mengurangi dominasi tekanan bearish. Selama XAUUSD belum mampu breakout dan bertahan di atas area tersebut, Dupoin Futures memperkirakan harga emas masih berpeluang melanjutkan penurunan menuju support 4.223.

Pelaku pasar juga disarankan mencermati perkembangan keputusan dan komunikasi The Fed, pergerakan dolar AS, serta Treasury yield sebagai katalis utama. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan dinamika inflasi, Dupoin Futures menilai kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut akan menjadi penentu penting bagi arah harga emas berikutnya.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Ekspor Harusnya Tidak Serumit Ini, Dua Anak Muda Indonesia Coba Sederhanakan Prosesnya

Jakarta, September 2026 — Bagi banyak pelaku usaha Indonesia, keinginan untuk mulai ekspor sering kali berhenti bukan karena tidak memiliki produk, tetapi karena tidak tahu harus mulai dari mana.

Bagaimana menentukan negara tujuan? Dokumen apa yang dibutuhkan? Bagaimana mengetahui HS Code? Di mana mencari buyer? Bagaimana menghitung harga ekspor? Hingga bagaimana memastikan barang benar-benar dapat dikirim ke luar negeri?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tetapi jawabannya sering tersebar di banyak tempat.

Kondisi inilah yang mendorong dua anak muda, Steven Magnus dan Demas Pratama, membangun FUTRA Export, sebuah ekosistem yang mencoba membuat perjalanan ekspor lebih terstruktur dan mudah dipahami oleh masyarakat Indonesia.

Alih-alih hanya mengajarkan cara mencari buyer, keduanya melihat ekspor sebagai rangkaian proses yang saling terhubung.

Mulai dari memahami produk dan pasar, memeriksa kesiapan serta regulasi, menghitung harga jual, menemukan dan berkomunikasi dengan calon buyer, melakukan negosiasi, hingga akhirnya menjalankan shipment.

“Kami melihat banyak orang sebenarnya punya produk yang potensial, tapi bingung karena informasi ekspor ada di mana-mana. Satu informasi ada di website pemerintah, yang lain dari forwarder, buyer, komunitas, atau pengalaman eksportir. Masalahnya bukan tidak ada informasi, tapi bagaimana menghubungkan semuanya menjadi langkah yang bisa dijalankan,” ujar Steven Magnus.

Namun setelah bertahun-tahun berada di lapangan, Steven melihat ada persoalan lain yang menurutnya mulai menjadi semakin penting.

Menurutnya, tantangan eksportir Indonesia ke depan bukan lagi sekadar memahami cara melakukan ekspor atau cara mencari buyer.

Masalah berikutnya adalah bagaimana ketika pembeli dari luar negeri datang mencari supplier Indonesia, pelaku usaha Indonesia tersebut bisa ditemukan, dikenal, dan dipercaya.

“Kita terlalu sering bertanya bagaimana cara mencari buyer. Tapi kita jarang bertanya, ketika buyer mencari supplier Indonesia, apakah mereka bisa menemukan kita? Dan kalau mereka menemukan kita, apakah mereka cukup percaya untuk menghubungi dan bertransaksi dengan kita?” ujar Steven.

Hal tersebut membuat FUTRA mulai mendorong UMKM dan calon eksportir untuk tidak hanya mempersiapkan produk, tetapi juga mulai berani naik ke permukaan.

Salah satu caranya adalah melalui digital presence dan personal branding.

Menurut Steven, banyak pelaku usaha Indonesia sebenarnya memiliki produk, pengalaman, kapasitas produksi, bahkan kualitas yang mampu bersaing di pasar internasional. Namun informasi mengenai siapa mereka, apa yang mereka kerjakan, dan mengapa buyer harus mempercayai mereka sering kali sulit ditemukan secara online.

“Personal branding yang kami maksud bukan berarti semua pengusaha harus menjadi influencer. Yang kami dorong sederhana: jangan sampai bisnis yang sebenarnya bagus justru tidak terlihat. Buyer hari ini bisa mengecek siapa kita, melihat website, LinkedIn, media sosial, aktivitas perusahaan, sampai jejak digital sebelum mereka memutuskan untuk percaya,” jelas Steven.

Karena itu, menurutnya edukasi ekspor tidak cukup berhenti pada dokumen dan transaksi.

Eksportir Indonesia juga perlu belajar bagaimana membangun kredibilitas dan menunjukkan kompetensinya kepada pasar internasional.

Steven sendiri telah menjalankan bisnis ekspor sejak usia muda dan aktif membagikan pengalaman mengenai perdagangan internasional kepada mahasiswa, UMKM, dan calon eksportir.

Dalam perjalanannya, ia kemudian bersama Demas Pratama mengembangkan FUTRA bukan sekadar sebagai tempat belajar, melainkan sebagai sebuah ekosistem yang mencoba menghubungkan edukasi dengan praktik di lapangan.

Menurut Demas, salah satu kesalahan yang sering terjadi pada eksportir pemula adalah terlalu cepat berfokus pada buyer.

“Semua orang ingin tahu cara mendapatkan buyer. Padahal ketika buyer datang, pertanyaan berikutnya justru lebih berat: produknya siap atau tidak, harganya sudah benar atau belum, dokumennya bagaimana, kapasitas produksinya cukup atau tidak, dan barangnya bisa masuk ke negara tujuan atau tidak. Itu yang ingin kami bantu rapikan,” jelas Demas.

Dari pemikiran tersebut, FUTRA mulai mengembangkan futraexport.com sebagai platform yang menggabungkan informasi, tools, pembelajaran, hingga sistem pendampingan perjalanan ekspor.

Ekosistem tersebut diarahkan untuk membantu pengguna memahami perjalanan ekspor mulai dari validasi produk, kesiapan regulasi dan compliance, pengembangan pasar, komunikasi dengan buyer, hingga shipment.

Namun bagi Steven dan Demas, teknologi bukan tujuan akhirnya.

Mereka ingin mengubah persepsi bahwa ekspor hanya dapat dilakukan perusahaan besar atau orang dengan koneksi internasional.

“Kami ingin suatu hari orang yang baru punya ide untuk ekspor tidak harus membuka puluhan sumber dan bertanya ke mana-mana hanya untuk mengetahui langkah pertamanya. Harapannya, dia bisa memahami posisi bisnisnya, apa yang kurang, lalu tahu harus bergerak ke mana,” kata Steven.

Perjalanan tersebut juga mulai membawa FUTRA berinteraksi dengan berbagai institusi dan pemangku kepentingan dalam ekosistem perdagangan Indonesia.

FUTRA juga berkesempatan melakukan audiensi dengan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, membahas pengembangan ekspor, pendampingan UMKM, business matching, serta peningkatan kapasitas pelaku usaha agar lebih siap memasuki pasar global. 

Bagi keduanya, pertemuan-pertemuan tersebut bukan menjadi tujuan akhir.

Tantangan yang lebih besar justru terletak pada bagaimana membuat pengetahuan ekspor yang kompleks menjadi sesuatu yang dapat dipahami, digunakan, dan akhirnya membantu lebih banyak pelaku usaha Indonesia berani tampil ke pasar internasional.

Karena pada akhirnya, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan produk untuk dijual ke dunia.

Indonesia juga tidak kekurangan orang yang ingin belajar ekspor.

Yang masih perlu diperbanyak adalah pelaku usaha yang siap, terlihat, dikenal, dan dipercaya oleh pasar internasional.

Dan mungkin, Steven Magnus dan Demas Pratama memang layak menjadi “terduga” yang membuat ekspor sedikit lebih mudah bagi generasi berikutnya.

Informasi mengenai ekosistem dan tools FUTRA dapat diakses melalui futraexport.com.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

100 Chat WhatsApp per Hari Bisa Tambah Biaya hingga Rp5 Juta per Bulan?

Barantum adalah solusi aplikasi all in one CRM terbaik untuk bisnis yang menyediakan WhatsApp CRM, broadcast, chatbot, AI Agent, omnichannel, dan call center dalam satu platform terintegrasi. Kelola dan optimalkan seluruh perjalanan customer, mulai dari customer masuk, closing, dan repeat order.

Seratus percakapan pelanggan per hari terdengar seperti angka yang masih mudah dikelola. Namun, ketika setiap chat membutuhkan beberapa balasan dari bisnis, volumenya dapat berubah menjadi puluhan ribu pesan keluar dalam satu bulan. Mulai 1 Oktober 2026, pola tersebut perlu dihitung lebih serius.

Simulasi berikut bukan tagihan pasti untuk setiap perusahaan. Angkanya digunakan untuk menunjukkan bagaimana jumlah percakapan, panjang alur, dan kuota gratis memengaruhi biaya.

Dari 100 Percakapan Menjadi 14.000 Pesan Berbayar

Asumsinya sederhana: 100 percakapan per hari, 30 hari, dan rata-rata lima balasan bisnis untuk setiap percakapan. Perhitungannya adalah 100 × 30 × 5, sehingga menghasilkan 15.000 pesan keluar per bulan.

Setelah kuota 1.000 pesan service gratis dikurangi, tersisa sekitar 14.000 pesan yang perlu diperhitungkan. Dengan biaya publik di kisaran Rp350-an per pesan, estimasinya sekitar Rp4,9 juta. Karena kategori dan ketentuan dapat berbeda, angka yang aman adalah tambahan biaya dapat mendekati Rp5 juta per bulan.

Setiap bisnis dapat mengganti tiga asumsi tadi dengan data aktual: jumlah chat per hari, rata-rata balasan per chat, dan jumlah hari operasional. Rumus yang sama membuat proyeksi lebih relevan untuk tim kecil maupun operasi layanan berjumlah besar.

Mengapa Lima Balasan Mudah Membengkak

Lima balasan bukan angka yang sulit terlampaui. Agent sering memulai dengan salam, meminta identitas, menanyakan nomor transaksi, meminta penjelasan masalah, lalu mengirim solusi. Jika pelanggan berpindah agent atau mengulang informasi, satu kasus membutuhkan jauh lebih banyak pesan.

Pola lain muncul ketika jawaban dasar belum tersedia di FAQ, data awal dikumpulkan satu per satu, atau kasus kompleks tetap dipaksakan melalui chat. Pesan pendek belum tentu efisien apabila jumlahnya banyak dan tidak segera membawa pelanggan ke penyelesaian.

Karena pesan masuk pelanggan tidak berbayar, pusat pengendalian berada pada respons bisnis. Mengurangi rata-rata dari lima menjadi empat balasan pada skenario yang sama berarti 3.000 pesan keluar lebih sedikit sebelum kuota diperhitungkan.

Sensitivitasnya cukup besar. Dengan 100 percakapan per hari, rata-rata tiga balasan menghasilkan 9.000 pesan keluar per bulan, sedangkan delapan balasan menghasilkan 24.000. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa desain percakapan sering lebih menentukan daripada pertumbuhan jumlah pelanggan semata.

Turunkan Volume Tanpa Mengurangi Akses

Langkah pertama adalah memisahkan kebutuhan yang dapat selesai tanpa chat, kebutuhan yang perlu data terstruktur, dan kasus yang memang membutuhkan percakapan manusia. Dari sana, bisnis dapat memilih FAQ, Form, Live Chat, atau panggilan berdasarkan jenis masalah.

Untuk percakapan yang tetap ditangani melalui WhatsApp, WhatsApp Business API Barantum dapat digunakan untuk mengelola pesan pelanggan. Dari alur tersebut, tim dapat meninjau tahapan yang membutuhkan terlalu banyak balasan sebelum satu kasus selesai.

FAQ dan Form dapat mengurangi pertanyaan bertahap, sedangkan Live Chat atau panggilan dipakai hanya ketika jenis kasusnya memang lebih cocok dipindahkan. Pilihan ini harus mengikuti data, bukan sekadar keinginan menekan jumlah pesan.

Pisahkan laporan berdasarkan tujuan percakapan, seperti informasi, komplain, penjualan, atau dukungan teknis. Masing-masing memiliki rata-rata balasan dan nilai akhir berbeda, sehingga target pengurangan yang sama tidak selalu cocok untuk seluruh kategori.

Ketika layanan melibatkan beberapa kanal, Omnichannel Barantum membantu tim mengelola percakapan dalam satu inbox. Histori yang tersedia menjadi acuan saat melanjutkan penanganan, sehingga pelanggan tidak perlu mengulang informasi yang sudah tercatat.

Pantau juga waktu agent, penyelesaian, dan kualitas jawaban. Pengurangan pesan yang tetap menghasilkan solusi menunjukkan alur yang sehat; pesan yang turun karena pelanggan berhenti merespons bukan efisiensi.

Perbarui simulasi menggunakan volume aktual setiap bulan dan sesuaikan kategori pesan dengan dokumentasi resmi Meta. Dengan data itu, bisnis dapat menilai bagian mana dari alur yang paling mahal dan paling layak diperbaiki lebih dulu.

Selain efisiensi layanan, evaluasi juga hasil percakapan penjualan. Melalui CRM Barantum, tim dapat menelusuri perkembangan lead, pipeline, dan deal hingga closing. Dengan begitu, berkurangnya pesan dapat dinilai bersama hasil bisnis, bukan dijadikan satu-satunya tolok ukur keberhasilan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

PT ASA Serahkan Beasiswa Pendidikan bagi 14 Mahasiswa di Bolaang Mongondow Timur

PT
Arafura Surya Alam (ASA) menyerahkan beasiswa pendidikan kepada 14 mahasiswa
yang berasal dari Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Penyerahan beasiswa
berlangsung di Kantor Bupati Bolaang Mongondow Timur, Selasa (8/9), mencakup
penerima dari jenjang Sarjana (S1), Magister (S2), hingga Doktor (S3).

Program
beasiswa ini merupakan bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan
Masyarakat (PPM) PT ASA pada pilar pendidikan yang ditujukan untuk mendukung
peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur,
khususnya bagi masyarakat di wilayah lingkar tambang.

External
Relations Manager PT ASA Reginald Pontoh mengatakan bahwa pendidikan merupakan
investasi jangka panjang yang menjadi fondasi penting bagi kemajuan daerah.

“Program
beasiswa ini adalah komitmen kami dalam menjalankan Program PPM pada pilar
pendidikan. Kami percaya bahwa pendidikan adalah fondasi penting untuk
membangun daerah. Kami berharap adik-adik mahasiswa yang mendapat beasiswa
dapat menjadi agen perubahan yang membawa Kabupaten Bolaang Mongondow Timur
menjadi semakin maju,” ujarnya.

Senada
dengan hal tersebut, Bupati Bolaang Mongondow Timur Oskar Manoppo dalam
sambutannya mengapresiasi kontribusi PT ASA yang secara konsisten mendukung
pengembangan sumber daya manusia melalui program pendidikan.

Menurutnya,
kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat merupakan
faktor penting dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Ia menilai
program beasiswa memiliki nilai strategis karena menjadi investasi jangka
panjang dalam menciptakan generasi yang unggul dan berdaya saing.

“Pemberian
beasiswa bagi jenjang Sarjana, S2, maupun Doktor merupakan investasi jangka
panjang untuk menciptakan sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing, dan
mampu menjadi motor penggerak pembangunan masyarakat,” kata Bupati.

Ketua
DPRD Bolaang Mongondow Timur Samsudin Dama juga menyampaikan apresiasi atas
sinergi antara pemerintah daerah dan PT ASA dalam menghadirkan program yang
memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, khususnya di tengah kebutuhan
dukungan pendidikan bagi generasi muda daerah.

Salah
satu penerima beasiswa jenjang S1, Siti Sarah Modeong dari Desa Bulawan Satu,
Kecamatan Kotabunan, menyampaikan rasa syukur atas bantuan pendidikan yang
diterimanya.

Menurut
Siti, program beasiswa tersebut turut membantu meringankan beban ekonomi
keluarga sekaligus membuka kesempatan yang lebih besar bagi generasi muda untuk
mengakses pendidikan tinggi.

Apresiasi
serupa disampaikan oleh penerima beasiswa jenjang S2, Hanif Paputungan dari
Kotabunan. Menurutnya, beasiswa ini sangat berarti karena membantu meringankan
beban biaya pendidikan sekaligus menjadi motivasi untuk belajar lebih giat,
menyelesaikan perkuliahan dengan baik, dan meraih cita-cita. Hanif berharap
program beasiswa PT ASA dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak
mahasiswa yang membutuhkan di wilayah lingkar tambang.

Sebelumnya,
PT ASA juga telah memberikan beasiswa kepada 4 mahasiswa kedokteran asal
Kabupaten Bolaang Mongondow Timur.

Melalui
program ini, PT ASA menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam
peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia sebagai
bagian dari upaya mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan di
Kabupaten Bolaang Mongondow Timur.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Sanct, Sosial Media yang Pertemanannya Dimulai dari Bertemu Langsung, Rilis Film Pendek tentang Perantau yang Belum Bisa Pulang

Sanct, sosial media untuk sahabat dekat dan keluarga yang didirikan founder asal Indonesia, merilis episode ketiga dari seri film pendeknya di YouTube. Film ini bercerita tentang Keisha, perantau yang bekerja di Singapura, yang harus mengabari keluarganya di Jakarta bahwa ia belum bisa pulang, dan tentang cara keluarga itu tetap menghabiskan malam bersama. Film ini membuka pekan peluncuran Sanct: pada 15–16 September Sanct membuka booth di Tech in Asia Conference 2026 di Singapura, dan pada 15 September meluncur di Product Hunt.

Jakarta, 14 September 2026 — Di banyak keluarga Indonesia, ada satu kursi di meja makan yang lebih sering kosong: kursi milik anggota keluarga yang merantau. Film pendek terbaru Sanct, yang kini tayang di YouTube, bercerita tentang keluarga seperti itu.

Keisha bekerja di Singapura. Di film sebelumnya, ia berjanji kepada adiknya, Clarissa, akan segera pulang. Film ketiga dibuka pada malam hari. Sebelum tidur, Clarissa menulis kepada kakaknya: “Nggak sabar nunggu kamu pulang.” Keesokan paginya, lewat grup keluarga di Sanct, Keisha harus menyampaikan kabar yang berat: “Maaf, aku belum bisa pulang. Aku dapat proyek baru dari bos.” Clarissa membacanya di bus menuju kantor dan menangis.

Clarissa membalas, “Kapan pulang? Kami kangen.” Keisha belum bisa memberi tanggal. Tetapi ia tidak berhenti di kata maaf. Ia menawarkan janji yang lebih kecil, janji yang bisa ia tepati hari itu juga: “Belum pasti, tapi kita tetap bisa ketemu, kan? Malam ini, di Sanctum?”

Clarissa langsung setuju dan meminta Mama dan Papa ikut juga. Pukul enam sore, Mama dan Papa di rumah, Clarissa di kantornya di Jakarta, dan Keisha di Singapura membuka Sanctum di ponsel masing-masing. Keisha memang belum pulang, tetapi malam itu keluarganya tetap berkumpul.

Ketiga film Sanct mengikuti keluarga yang sama. Film pertama lahir dari kisah nyata seorang pengguna beta yang dibagikan dengan izinnya: Clarissa tidak bercerita kepada siapa pun tentang harinya yang berat, tetapi teman-temannya menyadarinya dan membalas. Di film kedua, pertanyaan soal makan malam berubah menjadi janji Keisha untuk segera pulang. Film ketiga bercerita tentang apa yang dilakukan sebuah keluarga ketika janji itu harus menunggu.

Berteman dimulai dari bertemu langsung

Yang membuat Sanct berbeda adalah cara pertemanannya dimulai. Teman pertama di Sanct ditambahkan dengan bertemu langsung dan saling memindai kode QR. Setelah pengguna punya lima teman, fitur pencarian dan saran pertemanan terbuka, tetapi hanya menjangkau teman dari teman. Pengguna juga memilih siapa yang bisa melihat setiap momen yang dibagikan: semua orang di lingkarannya, teman tertentu yang ia pilih, atau hanya dirinya sendiri.

Fitur yang tampil di film sudah ada di aplikasi: grup obrolan keluarga dengan reaksi, check-in tidur yang memberi tahu teman bahwa seseorang sedang tidur, serta Sanctum, pantai kecil di dalam aplikasi yang buka setiap hari pukul 18.00, tempat pengguna bisa menghabiskan waktu bersama siapa pun yang datang.

Bagaimana data pengguna diperlakukan

Sanct tidak memiliki iklan maupun linimasa publik, dan tidak menjual data pengguna ke pihak ketiga. Momen, check-in, dan obrolan hanya bisa dilihat oleh orang yang dipilih penggunanya. Sancty, teman kecil di dalam aplikasi, memproses data hanya di dalam akun pengguna itu sendiri untuk merespons, dan data tersebut tidak digunakan untuk melatih model AI publik. Kebijakan privasi Sanct dapat dibaca di https://sanctsocial.app/privacy

“Banyak keluarga di Indonesia punya anggota keluarga yang merantau, ke kota lain atau ke luar negeri,” ujar Sion Abednego, pendiri Sanct. “Kami tidak bisa memperpendek jarak itu. Sanct hanya jembatannya, supaya yang jauh di mata tetap dekat di hati. Saat belum bisa pulang, keluarga tetap bisa menghabiskan malam bersama.”

Traction dan rencana

Sanct membuka closed beta pada 23 Agustus di Car Free Day kawasan Senayan; 147 orang mendaftar di hari pertama. Sepekan kemudian, Sanct memiliki lebih dari 150 pengguna aktif dan lebih dari 1.600 orang di daftar tunggu. Kini masa beta berakhir. Sanct meluncur di Product Hunt pada Selasa (15/9) pukul 14.01 WIB, membuka booth di Tech in Asia Conference 2026 di Sands Expo and Convention Centre, Singapura, pada 15–16 September, dan akan hadir pertama kali di Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Sanct berjalan dengan model freemium: fitur inti tetap gratis, sementara fitur premium yang bersifat opsional menyusul kemudian, tanpa iklan di kedua versi.

Detail booth Sanct di Tech in Asia Conference 2026, termasuk swag yang bisa dibawa pulang pengunjung, akan diumumkan dalam rilis terpisah. Sion Abednego bisa diwawancarai di booth Sanct selama konferensi berlangsung.

Pendaftaran Sanct terbuka di https://sanct.social

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES