Dapur Rumahan yang Menjadi Pusat Ekonomi Baru

Di sebuah rumah kontrakan di Jakarta, Ratna bergerak cepat sejak sebelum pukul tujuh pagi. Tortila dipanggang, daging disusun, kebab dibungkus, lalu dimasukkan ke dalam kemasan. Telepon genggamnya tidak pernah diam: pesan dari reseller masuk menanyakan stok kebab frozen. Sebagian paket diantar kurir, sebagian lagi diambil langsung oleh tetangga yang menjadi reseller. Dari luar, rumah itu tampak biasa. Tidak ada papan nama, tidak ada etalase. Namun di balik pintunya, roda usaha berputar setiap hari.

Dari Kebab Siap Santap ke Produk Frozen

Usaha Ratna bermula dari penjualan kebab siap makan dalam jumlah terbatas untuk tetangga dan orang terdekat. Promosinya sederhana, mengandalkan mulut ke mulut dan status WhatsApp. Ketika lingkaran pelanggan meluas, ia melihat peluang baru: mengembangkan kebab frozen yang dapat disimpan lebih lama. Keputusan ini mengubah arah usaha. Jika sebelumnya pembeli adalah konsumen akhir, kini pesanan justru datang dari jaringan reseller yang setiap hari mengambil stok untuk dijual kembali di lingkungan tempat tinggal mereka. Tanpa membuka toko atau menyewa ruko, rumah kontrakan itu berubah menjadi pusat produksi kecil yang melibatkan anggota keluarga.

Ekonomi Digital dan Skala Mikro

Kisah Ratna bukan anomali. Pada semester I-2026, jumlah pesanan produk F&B meningkat hampir 95% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara jumlah pelaku usaha yang menjual produk F&B meningkat 184%. Platform digital memungkinkan dapur rumahan menjangkau pasar yang jauh lebih luas tanpa infrastruktur fisik yang mahal. Konten makanan di TikTok sendiri tumbuh 52% pada 2026, menciptakan ekosistem di mana cerita di balik sajian menjadi bagian dari strategi penjualan.

Tantangan Kapasitas dan Pembiayaan

Di balik pertumbuhan, ada batas yang nyata. Ratna mengaku ruang produksi di rumah kontrakannya tidak lagi memadai ketika pesanan melonjak. Ia ingin meningkatkan kapasitas, tetapi terbentur keterbatasan modal untuk memiliki rumah produksi yang lebih layak. Kisah ini mencerminkan dilema banyak pelaku usaha rumahan: permintaan tumbuh, tetapi ruang dan akses pembiayaan tidak tumbuh secepat itu.

Comfort Food 2.0 dari Sisi Produksi

Selama ini, narasi Comfort Food 2.0 sering berpusat pada restoran dan chef. Padahal, transformasi paling masif justru terjadi di dapur-dapur rumahan yang mengemas kembali hidangan akrab menjadi produk yang dapat dipesan kapan saja, dari mana saja. Di sinilah comfort food benar-benar menjadi bagian dari ekonomi sehari-hari, bukan sekadar estetika di atas piring.

Melalui Program Jaga Air Bersih untuk Desa, SUCOFINDO Perkuat Kontribusi Sosial dan Lingkungan di Cirebon

Cirebon, (26/10) – Memperingati 70 tahun pengabdiannya, PT SUCOFINDO (PERSERO) Cabang Cirebon terus menunjukkan komitmen dalam meningkatkan akses air bersih bagi masyarakat melalui peresmian fasilitas sumur bor di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Hadi dan Pondok Pesantren Az-Ziyaadah, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Inisiatif ini menjadi bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) SUCOFINDO bertajuk “Jaga Air Bersih untuk Desa”, sekaligus wujud dukungan terhadap Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan air nasional serta pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak.

Direktur Utama PT SUCOFINDO (PERSERO), Sandry Pasambuna, menyampaikan bahwa perjalanan tujuh dekade SUCOFINDO tidak hanya ditandai oleh kontribusi perusahaan terhadap kemajuan industri dan perekonomian nasional, tetapi juga melalui upaya menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan.

“Keberhasilan SUCOFINDO tidak hanya diukur dari pencapaian kinerja dan pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat kami berikan bagi masyarakat dan lingkungan. Melalui program TJSL, termasuk pembangunan 70 titik sumur air bersih di berbagai wilayah Indonesia, kami ingin memastikan bahwa perjalanan tujuh dekade SUCOFINDO juga diwarnai dengan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala PT SUCOFINDO (PERSERO) Cabang Cirebon, Supardiyanto, berharap bantuan tersebut dapat menunjang aktivitas sehari-hari di lingkungan pondok pesantren dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

“Kami berharap fasilitas sumur bor ini dapat membantu memenuhi kebutuhan air bersih para santri serta mendukung aktivitas di pondok pesantren. Kami juga mengajak seluruh penerima manfaat untuk bersama-sama menjaga fasilitas ini agar dapat digunakan dalam jangka panjang,” tuturnya.

Melalui program TJSL, PT SUCOFINDO (PERSERO) terus memperluas kontribusinya dalam mendukung kebutuhan masyarakat dan mendorong pembangunan yang inklusif. Memasuki usia ke-70, perusahaan berupaya menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan melalui penguatan layanan Testing, Inspection, and Certification (TIC) serta kontribusi nyata bagi masyarakat, demi mendukung kemajuan Indonesia.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

AsetKu Perkuat Transformasi Digital HR dan Pengembangan Talenta untuk Dukung Pertumbuhan Bisnis

Jakarta, 23 Oktober 2026. Transformasi digital di industri teknologi finansial (fintech) tidak hanya berkaitan dengan pengembangan produk dan layanan keuangan, tetapi juga dengan kesiapan sumber daya manusia di baliknya. Seiring dengan perubahan kebutuhan bisnis dan perkembangan teknologi, pengelolaan talenta menjadi salah satu aspek penting dalam membangun organisasi yang adaptif dan berkelanjutan.

AsetKu, platform fintech lending yang dioperasikan oleh PT Pintar Inovasi Digital (PID) dan merupakan bagian dari ekosistem Akulaku Group, terus memperkuat strategi human capital melalui digitalisasi proses pengelolaan sumber daya manusia (SDM), pengembangan kompetensi karyawan, serta peningkatan pengalaman kerja untuk mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang.

Pendekatan tersebut menempatkan fungsi human capital tidak lagi sebatas pengelolaan administrasi kepegawaian, tetapi juga sebagai bagian dari upaya perusahaan untuk membangun organisasi yang lebih efisien, responsif, dan siap menghadapi perubahan industri.

Dalam implementasinya, AsetKu memfokuskan pengembangan human capital pada tiga pilar utama, yakni digitalisasi proses HR, pengembangan kompetensi karyawan berbasis kebutuhan, serta penciptaan lingkungan kerja yang adaptif dan berorientasi pada karyawan 

Pengakuan atas Komitmen Human Capital

Komitmen tersebut turut mendapat pengakuan melalui TOP HUMAN CAPITAL Awards 2026, di mana PT Pintar Inovasi Digital (AsetKu) meraih penghargaan TOP HUMAN CAPITAL Awards 2026 #4 Stars. Pada ajang yang sama, Bapak Kokko Vira Cattaka, Chief Executive Officer PT Pintar Inovasi Digital (AsetKu), menerima penghargaan The Most Committed Human Capital Leader 2026. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas komitmen perusahaan dan kepemimpinan dalam penguatan human capital.

Dalam implementasinya, AsetKu memfokuskan pengembangan human capital pada tiga pilar utama, yakni digitalisasi proses HR, pengembangan kompetensi karyawan berbasis kebutuhan, serta penciptaan lingkungan kerja yang adaptif dan berorientasi pada karyawan.

Digitalisasi HR untuk Proses Kerja yang Efisien dan Terintegrasi

Salah satu langkah yang ditempuh AsetKu adalah memperkuat pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan SDM melalui sistem HRIS (Human Resources Information System) dan sistem alur kerja digital (digital workflow).

Pemanfaatan teknologi ini mencakup berbagai aktivitas operasional mulai dari pengelolaan data karyawan, pencatatan kehadiran, proses persetujuan internal, hingga administrasi penggantian biaya (reimbursement) dan berbagai administrasi lainnya.

Melalui integrasi tersebut, AsetKu berupaya menyederhanakan proses administratif sekaligus meningkatkan konsistensi dan keterlacakan informasi dalam pengelolaan SDM. Digitalisasi juga diharapkan dapat membantu tim human capital mengalokasikan lebih banyak perhatian pada inisiatif strategis terkait pengembangan karyawan.

Di sisi lain, transformasi digital HR turut diimbangi dengan penguatan tata kelola internal. AsetKu menerapkan mekanisme persetujuan berjenjang untuk perubahan data dan transaksi terkait human capital, serta prosedur operasional standar (SOP) yang menjadi acuan dalam menjalankan proses administrasi kepegawaian.

Pendekatan ini mencerminkan upaya perusahaan untuk memastikan bahwa pemanfaatan teknologi tidak hanya berorientasi pada efisiensi, tetapi juga didukung oleh proses kerja yang terstruktur dan akuntabel.

Pengembangan Talenta yang Selaras dengan Kebutuhan Bisnis

Selain digitalisasi sistem, AsetKu menempatkan pengembangan kompetensi karyawan sebagai bagian penting dari strategi transformasi human capital. Melalui pendekatan Need-Based Learning & Capability Development, perusahaan berupaya menyelaraskan program pengembangan karyawan dengan kebutuhan aktual organisasi maupun kompetensi individu.

Pendekatan tersebut diarahkan agar kegiatan pembelajaran tidak sekadar menjadi agenda pelatihan rutin, melainkan dapat mendukung peningkatan kemampuan yang relevan dengan pekerjaan dan perkembangan industri fintech.

Di tengah perubahan teknologi dan dinamika industri jasa keuangan digital, kemampuan karyawan untuk terus belajar dan beradaptasi menjadi semakin penting. Karena itu, pengembangan talenta perlu berjalan seiring dengan perubahan kebutuhan bisnis agar organisasi dapat mempertahankan kesiapan sumber daya manusianya dalam jangka panjang.

Bagi AsetKu, investasi dalam pengembangan karyawan merupakan bagian dari upaya membangun fondasi organisasi yang mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus mendukung kualitas operasional perusahaan.

Membangun Pengalaman Karyawan yang Lebih Adaptif

Pilar berikutnya berfokus pada penciptaan lingkungan kerja yang menempatkan kebutuhan dan pengalaman karyawan sebagai salah satu pertimbangan dalam pengelolaan organisasi. Melalui pendekatan Employee-Centered & Adaptive Workplace, AsetKu berupaya membangun lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan, komunikasi internal, fleksibilitas, serta produktivitas karyawan.

Fokus ini mencerminkan pentingnya pengalaman karyawan (employee experience) dalam strategi pengelolaan SDM modern. Di tengah perubahan pola kerja dan meningkatnya kebutuhan akan keterampilan digital, perusahaan perlu memperhatikan tidak hanya bagaimana karyawan bekerja, tetapi juga bagaimana mereka memperoleh dukungan untuk berkembang.

Dengan mengintegrasikan aspek teknologi, pengembangan kompetensi, dan pengalaman karyawan, AsetKu berupaya menciptakan pengelolaan human capital yang lebih menyeluruh dan relevan dengan kebutuhan organisasi.

Transformasi Human Capital sebagai Fondasi Pertumbuhan Berkelanjutan

Bagi perusahaan fintech, transformasi digital membutuhkan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan kesiapan sumber daya manusia. Sistem yang semakin terintegrasi perlu didukung oleh karyawan dengan kompetensi yang relevan, proses kerja yang terstruktur, serta lingkungan organisasi yang mampu beradaptasi terhadap perubahan.

Melalui tiga pilar transformasi human capital tersebut, AsetKu terus memperkuat fondasi internal perusahaan untuk mendukung pengembangan bisnis secara berkelanjutan.

Langkah ini sekaligus mencerminkan komitmen PT Pintar Inovasi Digital dalam mengembangkan kapabilitas organisasi dan kualitas sumber daya manusia sebagai bagian dari ekosistem Akulaku Group di Indonesia.

Dengan menempatkan karyawan sebagai bagian penting dari transformasi bisnis, AsetKu berupaya memastikan bahwa perkembangan teknologi dapat berjalan beriringan dengan penguatan talenta, tata kelola, dan pengalaman kerja di lingkungan perusahaan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES