Lima Tahun Merger Pelindo, Standardisasi Jadi Kunci Efisiensi

Lima tahun pascamerger PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, transformasi pengelolaan terminal peti kemas terus diarahkan pada standardisasi layanan, peningkatan efisiensi, serta penguatan kapasitas dan kualitas pelayanan. Transformasi tersebut telah mendorong peningkatan produktivitas sekaligus memangkas waktu singgah kapal dan barang di pelabuhan.

JAKARTA – Lima tahun pascamerger PT Pelabuhan
Indonesia (Persero) atau Pelindo, transformasi pengelolaan terminal peti kemas
terus diarahkan pada standardisasi layanan, peningkatan efisiensi, serta
penguatan kapasitas dan kualitas pelayanan. PT Pelindo Terminal Petikemas
menyebut transformasi tersebut telah mendorong peningkatan produktivitas
sekaligus memangkas waktu singgah kapal dan barang berada di pelabuhan.

Corporate
Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengatakan transformasi
sejak merger pada 2021 telah mendorong produktivitas terminal lebih dari 70
persen.

“Alhamdulillah,
produktivitas meningkat lebih dari 70 persen. Dengan meningkatnya
produktivitas, dampaknya pelanggan mendapatkan value yang lebih baik. Port stay
juga jauh berkurang sehingga mereka menjadi lebih efisien,” kata Widyaswendra
saat dihubungi Rabu (30/9/2026).

Menurut dia,
transformasi dilakukan melalui standardisasi, sistematisasi, serta peningkatan
kompetensi sumber daya manusia. Dari 32 terminal yang dikelola, hampir
seluruhnya mulai menunjukkan perbaikan.

“Karena merger
sudah dilakukan sejak 2021, peningkatan kompetensi dan knowledge secara
otomatis distandardisasi. Dari total 32 terminal, hampir semua perbaikannya
sudah terlihat secara nyata,” katanya.

Transformasi juga
mencakup optimalisasi peralatan. Merger memungkinkan peralatan dari
terminal yang memiliki kecukupan alat dialihkan ke terminal lain yang lebih
membutuhkan.

“Beberapa terminal sebelumnya punya masalah terkait alat.
Dengan merger, ada terminal yang kami modernisasi. Alat yang ada sebelumnya
bisa diberikan kepada terminal yang membutuhkan,” jelasnya.

Langkah tersebut turut berdampak terhadap port stay
dan cargo stay. “Dampaknya, port stay dan cargo stay
menjadi lebih baik,” katanya.

Peningkatan produktivitas juga membuka peluang kerja sama
dan pengembangan rute baru. “Dari situ kami melihat banyak peluang, mulai dari
pengembangan bisnis dengan kerja sama antarkorporasi sampai pembukaan rute-rute
atau service baru. Banyak rute baru yang diperoleh karena produktivitas
masing-masing terminal sudah tinggi,” ujar Wendra.

Wendra mengatakan transformasi tersebut diarahkan untuk
memperkuat ekosistem maritim sekaligus mendukung efisiensi biaya logistik
nasional.

“Pada akhirnya ketika terjadi peningkatan produktivitas dan
kinerja operasional diharapkan juga memberikan dampak pada biaya operasional
kapal. Fokus kami adalah bagaimana ekosistem maritim bisa berkontribusi
terhadap penurunan biaya logistik, sekaligus konektivitas yang semakin baik,”
katanya.

 

INSA Dorong Perbaikan Berkelanjutan

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian
National Shipowners’ Association (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan perbaikan
layanan Pelindo selama lima tahun merger telah dirasakan perusahaan pelayaran
di berbagai wilayah.

“Sejauh ini Pelindo selama lima tahun merger telah melakukan
banyak improvement layanan secara terus-menerus dan sudah kami rasakan
perbaikannya di semua area Pelindo,” kata Carmelita saat dihubungi Rabu
(30/9/2026).

Menurut dia, pembenahan masih perlu dilanjutkan untuk
menciptakan layanan yang semakin terintegrasi di seluruh Indonesia. “Sampai
sekarang Pelindo terus berbenah mengembangkan layanannya untuk lebih
terintegrasi di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Carmelita mengatakan peningkatan kualitas layanan terminal
penting bagi perusahaan pelayaran karena berkaitan langsung dengan
produktivitas kapal. Layanan terminal tidak hanya menyangkut bongkar muat,
tetapi juga efisiensi operasional dan waktu kapal berada di pelabuhan.

“Harapan kami agar perbaikan dan atau penggantian peralatan
bongkar muat dapat segera dilakukan agar port stay lebih baik,” ujarnya.

Ia menilai kesiapan peralatan menjadi salah satu faktor
penting dalam meningkatkan produktivitas terminal dan mendukung kepastian
jadwal pelayaran.

“Yang kami harapkan tentu layanan semakin baik, semakin
terintegrasi, dan bisa memberikan kepastian bagi pelaku usaha,” kata Carmelita.

INSA juga
mendorong keberlanjutan standardisasi layanan di berbagai terminal. Menurut
Carmelita, pola layanan yang semakin seragam dibutuhkan perusahaan pelayaran
agar operasional kapal dapat direncanakan dengan lebih baik.

“Bagi perusahaan pelayaran, kepastian layanan itu penting.
Kami membutuhkan pelayanan yang bisa mendukung produktivitas dan kepastian
operasional kapal,” ujarnya.

Di sisi lain,
tekanan biaya akibat pelemahan rupiah membuat efisiensi semakin penting bagi
industri pelayaran. Biaya perawatan dan operasional kapal, termasuk suku
cadang yang masih harus diimpor, turut terdampak.

 

“Pelemahan rupiah akan berdampak terhadap sejumlah biaya
yang masih menggunakan dolar atau sangat dipengaruhi oleh nilai tukar,” kata
Carmelita.

“Jadi bukan hanya biaya operasional sehari-hari, tetapi juga
perencanaan investasi perusahaan ikut terdampak,” ujarnya.

Menurut Carmelita, efisiensi tidak cukup hanya dilakukan
pengusaha. Pemerintah juga perlu
menjaga struktur biaya industri agar tetap kompetitif.

“Efisiensi dari
sisi pengusaha saja tidak cukup. Pemerintah juga perlu membantu menjaga agar
struktur biaya industri tetap kompetitif,” katanya.

 

Layanan yang
Konsisten

Lima tahun
setelah merger Pelindo, standardisasi layanan terminal petikemas dinilai
menunjukkan perkembangan positif. Namun, penyamaan sistem dan proses
bisnis belum sepenuhnya membuat kualitas layanan seluruh terminal Pelindo
menjadi seragam.

Pengamat supply chain dari Institut Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS), Raja Oloan Saut Gurning, mengatakan merger Pelindo telah
mendorong standardisasi pengelolaan terminal secara lebih terpusat. Hal itu
terlihat dari penyelarasan proses bisnis, penggunaan Terminal Operating System
(TOS), hingga indikator kinerja terminal.

“Standardisasi
layanan petikemas Indonesia lima tahun terakhir berada pada jalur yang tepat.
Arsitektur proses bisnis, sistem operasi atau TOS, dan indikator kinerja telah
terstandarisasi secara terpusat,” kata Saut.

Menurut dia,
langkah tersebut menjadi bagian penting dari pembenahan pengelolaan terminal
setelah integrasi Pelindo. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan
standardisasi tersebut menghasilkan kualitas layanan yang konsisten di
lapangan.

“Namun,
konsistensi layanan riil antarterminal belum sepenuhnya tercapai. Yang terjadi
saat ini adalah segmented consistency, konsisten di dalam tier masing-masing,
tetapi belum homogen secara nasional,” ujarnya.

Kondisi tersebut
perlu dilihat dari karakteristik masing-masing terminal yang dikelola Pelindo.
Tidak semua terminal memiliki kondisi geografis, peralatan, karakteristik
kapal, dan dukungan hinterland yang sama.

“Terminal di
wilayah sungai pasang-surut seperti Musi, Barito, atau Kapuas memiliki tidal
window yang membatasi konsistensi kedatangan dan keberangkatan kapal. Ini
berbeda dengan pelabuhan laut dalam,” jelasnya.

Menurut Saut,
kondisi geografis tersebut membuat kinerja terminal tidak bisa semata-mata
dibandingkan berdasarkan satu indikator produktivitas.Faktor lainnya adalah
kesenjangan spesifikasi suprastruktur. Standardisasi TOS, menurut dia, tidak
otomatis membuat produktivitas terminal sama apabila peralatan bongkar muat
yang digunakan berbeda.

“TOS yang sama
jika dijalankan di terminal dengan STS berkecepatan tinggi akan menghasilkan
output berbeda dibanding terminal yang hanya mengandalkan HMC tua atau derek
kapal,” katanya.

Karena itu, Saut menilai Pelindo perlu memastikan
standardisasi juga diikuti dengan peningkatan equipment availability dan
keandalan peralatan. “Tingkat
kesiapan alat atau equipment availability dan mean time between failures di
terminal luar Jawa masih belum merata,” ujarnya.***

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Adopsi Kripto Indonesia Terus Tumbuh, Bittime Hadirkan Program Trade or Treat dengan Bonus Rp 1,5 Juta

Bittime menghadirkan program “Trade or Treat” bagi pengguna baru pada 1-31 Oktober 2026. Melalui program ini, pengguna baru berkesempatan memperoleh bonus Bitcoin hingga Rp1,5 juta berdasarkan volume perdagangan dan tier yang dicapai selama periode program.

Bittime, Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menghadirkan program “Trade or Treat” bagi pengguna baru pada 1-31 Oktober 2026. Melalui program ini, pengguna baru berkesempatan memperoleh bonus Bitcoin hingga Rp1,5 juta berdasarkan volume perdagangan dan tier yang dicapai selama periode program.

Di sisi lain, perkembangan ekosistem aset digital di Indonesia menunjukkan semakin luasnya partisipasi masyarakat. Data OJK yang dikutip Kontan,  mencatat jumlah akun konsumen pada Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) mencapai 22,93 juta akun pada Juli 2026. Sementara itu, nilai transaksi aset kripto sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai Rp171,12 triliun, menunjukkan tingginya aktivitas masyarakat dalam ekosistem aset digital.

Tren tersebut juga tercermin dalam perkembangan adopsi kripto di tingkat global. Berdasarkan 2026 Global Crypto Adoption Index yang dirilis Chainalysis pada September 2026, Indonesia menempati peringkat ke-14 secara global dalam grassroots crypto adoption. Pemeringkatan tersebut mempertimbangkan sejumlah indikator, termasuk service flows, aktivitas peer-to-peer domestik, cross-border flows, dan on-chain balances.

Di tengah perkembangan tersebut, Bittime menghadirkan Trade or Treat untuk memberikan kesempatan kepada pengguna baru mengenal aktivitas perdagangan aset kripto melalui pengalaman transaksi secara langsung. Program ini menggunakan skema bonus bertingkat berdasarkan volume perdagangan, sehingga pengguna dapat memperoleh bonus Bitcoin sesuai dengan tier yang berhasil dicapai selama periode program.

“Pertumbuhan jumlah pengguna dan perkembangan adopsi aset digital menunjukkan semakin banyak masyarakat yang mulai berinteraksi dengan aset kripto. Melalui Trade or Treat, kami ingin memberikan pengalaman bagi pengguna baru untuk mengenal aktivitas perdagangan aset digital sekaligus memahami mekanisme transaksi secara lebih langsung,” ujar Ryan Lymn, Direktur Operasional Bittime.

Mekanisme Program Trade or Treat

Program Trade or Treat secara khusus ditujukan bagi pengguna yang belum pernah melakukan transaksi pertama di Bittime. Untuk mengikuti program, pengguna perlu menyelesaikan proses KYC dan melakukan registrasi pada halaman event sebelum melakukan transaksi pertama dengan nilai lebih dari Rp500.000.

Setelah transaksi pertama dilakukan, volume trading pengguna akan diakumulasikan selama 14 hari untuk menentukan tier bonus yang dicapai. Pengguna yang mencapai volume lebih dari Rp500.000 akan memperoleh bonus awal sebesar Rp25.000. Selanjutnya, volume trading Rp5 juta mendapatkan bonus Rp50.000, Rp20 juta mendapatkan Rp125.000, Rp150 juta mendapatkan Rp300.000, dan volume Rp750 juta mendapatkan bonus Rp1 juta. Dengan memenuhi seluruh ketentuan program, total bonus yang dapat diperoleh pengguna mencapai Rp1,5 juta dalam bentuk Bitcoin.

Setelah tier pengguna ditentukan, aset kripto yang dibeli perlu dipertahankan selama 7 hari. Penarikan aset sebelum periode tersebut berakhir dapat menyebabkan bonus pada tier terkait tidak dapat diklaim. Bonus akan diberikan dalam bentuk Bitcoin dan dikreditkan ke wallet Bittime maksimal 14 hari kerja setelah program berakhir, setelah proses verifikasi dan validasi peserta selesai.

Sebagai bagian dari upaya memperkenalkan aktivitas perdagangan aset digital kepada pengguna baru, Bittime merancang Trade or Treat dengan mekanisme yang transparan dan informasi program yang dapat diakses pengguna sebelum mengikuti kampanye.

“Ke depan, kami akan terus melihat bagaimana kebutuhan pengguna berkembang seiring dengan semakin luasnya adopsi aset digital di Indonesia. Bittime ingin terus menghadirkan berbagai inisiatif yang relevan dengan perkembangan tersebut, baik melalui program, edukasi, maupun pengalaman produk, sehingga masyarakat memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengenal ekosistem aset digital melalui platform yang berada dalam koridor regulasi,” tambah Ryan.

Informasi lengkap mengenai mekanisme, syarat dan ketentuan, serta cara mengikuti program Trade or Treat dapat dilihat melalui artikel resmi Bittime.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Di Era AI, Generasi Muda Perlu Lebih dari Sekadar Kemampuan Teknis

Melalui BINUS Crypto Week, BTSE Indonesia menyoroti pentingnya literasi AI, kemampuan berpikir kritis, dan kecakapan finansial dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan dunia kerja.

Jakarta, 02 Oktober 2026 – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin mengubah cara generasi muda belajar, bekerja, menyelesaikan masalah, dan mempersiapkan karier. Kemampuan menggunakan teknologi kini menjadi semakin penting, tetapi kecakapan teknis saja tidak cukup untuk menghadapi perubahan dunia kerja. Ketika akses terhadap AI semakin terbuka, kemampuan memahami konteks, memeriksa kualitas informasi, dan mengambil keputusan secara mandiri akan menjadi pembeda. Perubahan kebutuhan tersebut tercermin dalam Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum. Laporan itu menempatkan AI dan big data, jaringan dan keamanan siber, serta literasi teknologi sebagai keterampilan dengan pertumbuhan kebutuhan tercepat menuju 2030. 

AI dan Masa Depan Karier Generasi Muda, menjadi salah satu pembahasan dalam panel “Impact of AI on Your Future Career” pada BINUS Crypto Week yang diselenggarakan pada 26 September 2026. Panel tersebut menghadirkan Muhammad Wendy Taufiq Hidayah, Chief Technology Officer BTSE Indonesia, bersama sejumlah pelaku industri teknologi, AI, blockchain, dan aset digital. Diskusi mengeksplorasi bagaimana AI membentuk ulang cara profesional muda belajar, bekerja, membangun keterampilan, dan mengembangkan karier. “Di BTSE Indonesia, kami meyakini bahwa generasi talenta berikutnya tidak hanya perlu memahami teknologi, tetapi juga mengetahui cara menggunakannya secara bertanggung jawab dan mengubahnya menjadi dampak nyata. AI dapat membantu manusia bekerja lebih efektif, tetapi kemampuan untuk menilai informasi, memahami konteks, dan mengambil keputusan tetap menjadi tanggung jawab manusia,” ujar Muhammad Wendy Taufiq Hidayah, Chief Technology Officer BTSE Indonesia.

Prinsip yang sama berlaku ketika generasi muda berinteraksi dengan layanan keuangan digital, Web3, dan aset kripto. Kemampuan menggunakan aplikasi dan mengakses teknologi tidak selalu sama dengan kemampuan mengambil keputusan finansial secara tepat. Perkembangan industri aset digital di Indonesia menunjukkan semakin luasnya partisipasi masyarakat, terutama generasi muda. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan hingga Mei 2026, jumlah akun konsumen aset kripto di Indonesia telah mencapai 22,4 juta. Nilai transaksi aset kripto juga mendekati Rp122 triliun selama lima bulan pertama 2026. OJK menyebut mayoritas pengguna aset kripto merupakan generasi muda. “Literasi teknologi dan literasi finansial memiliki prinsip dasar yang sama. Keduanya menuntut kita untuk tidak langsung menerima informasi atau mengikuti tren, tetapi memahami manfaat, keterbatasan, dan risikonya terlebih dahulu” lanjut Wendy.

Sebagai bagian dari upaya memperkenalkan pengalaman perdagangan aset digital secara lebih terukur, BTSE Indonesia juga menyelenggarakan kampanye “Trade Dapet Cashback Batch 2” pada 24 September–10 Oktober 2026. Pengguna yang telah menyelesaikan KYC Level 1 dan melakukan transaksi pertama dengan nilai minimum Rp1 juta berkesempatan mengikuti lucky draw cashback sebesar 25 persen. Kampanye tidak berlaku untuk pasangan IDR/USDT dan mengikuti seluruh syarat serta ketentuan yang berlaku. Kampanye tersebut menegaskan bahwa dana yang digunakan harus merupakan dana pribadi dan bukan berasal dari utang atau pinjaman. Peserta juga perlu memahami risiko yang berkaitan dengan aktivitas perdagangan aset kripto sebelum mengambil keputusan. Informasi selengkapnya mengenai kampanye dapat diakses melalui : https://activity.btse.id/en  

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Native Grup Perkuat Jejak di Industri F&B Lewat Inovasi dan Ekspansi Bisnis

Industri food and beverage (F&B) di Indonesia terus berkembang seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin mengutamakan pengalaman dalam menikmati makanan dan minuman. Di tengah persaingan yang semakin kompetitif, pelaku usaha dituntut untuk terus berinovasi, tidak hanya melalui produk, tetapi juga konsep, pelayanan, serta strategi pengembangan bisnis yang berkelanjutan.

Industri food and beverage (F&B) di Indonesia terus berkembang seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin mengutamakan pengalaman dalam menikmati makanan dan minuman. Di tengah persaingan yang semakin kompetitif, pelaku usaha dituntut untuk terus berinovasi, tidak hanya melalui produk, tetapi juga konsep, pelayanan, serta strategi pengembangan bisnis yang berkelanjutan.

Menjawab dinamika tersebut, Native Grup terus memperkuat posisinya sebagai perusahaan F&B yang menghadirkan berbagai konsep kuliner dengan mengedepankan kualitas, inovasi, dan pengalaman pelanggan. Melalui pengembangan bisnis yang terukur, Native Grup berkomitmen menghadirkan destinasi kuliner yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

Bagi banyak masyarakat, nama Native Tribe telah lebih dahulu dikenal sebagai café dengan pilihan specialty coffee, comfort food, hingga hidangan utama yang dapat dinikmati sepanjang hari. Di balik brand tersebut, Native Grup berperan sebagai perusahaan yang mengembangkan strategi bisnis, operasional, serta inovasi untuk menghadirkan pengalaman bersantap yang konsisten di setiap outlet.

Saat ini, Native Tribe telah hadir melalui lima cabang di Jakarta. Perjalanan tersebut kemudian membawa Native Grup melangkah ke pasar internasional melalui pembukaan Native Tribe Fukuoka, Jepang, pada 28 Oktober 2025. Langkah ini menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan perusahaan untuk memperkenalkan kualitas produk, pelayanan, dan pengalaman bersantap yang dikembangkan oleh brand Indonesia kepada pasar global.

Bagi Native Grup, ekspansi bukan hanya tentang membuka cabang baru, tetapi juga membangun hubungan yang lebih dekat dengan pelanggan melalui pengalaman yang konsisten di setiap lokasi. Mulai dari kualitas menu, pelayanan yang hangat, hingga suasana yang nyaman menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menghadirkan standar yang sama di setiap outlet.

Ke depan, Native Grup akan terus menghadirkan inovasi melalui pengembangan konsep, menu, serta ekspansi bisnis yang berkelanjutan. Dengan mengedepankan kualitas dan pengalaman pelanggan, perusahaan optimistis dapat terus berkontribusi terhadap perkembangan industri F&B Indonesia sekaligus membawa karya anak bangsa ke pasar internasional.

Lebih dari Sekadar Café, Native Grup Hadirkan Pengalaman WFC yang Nyaman dan Produktif

Seiring berkembangnya tren Work From Café (WFC), kebutuhan masyarakat terhadap sebuah tempat untuk bekerja kini telah berubah. Tak hanya mencari akses internet yang stabil, pelanggan juga mempertimbangkan kenyamanan ruang, kualitas makanan dan minuman, hingga suasana yang mendukung produktivitas. Menjawab kebutuhan tersebut, Native Grup menghadirkan pengalaman bersantap yang dirancang untuk menemani berbagai aktivitas, mulai dari bekerja, meeting, hingga berkumpul bersama keluarga dan teman.

Bagi banyak masyarakat Jakarta, Native Tribe dikenal sebagai salah satu destinasi yang menawarkan lebih dari sekadar tempat menikmati kopi. Sebagai salah satu brand di bawah naungan Native Grup, Native Tribe menghadirkan konsep café dengan pilihan menu yang lengkap, mulai dari specialty coffee, aneka minuman, comfort food, hingga hidangan utama yang dapat dinikmati sepanjang hari. Perpaduan tersebut menjadikan Native Tribe sebagai ruang yang nyaman untuk berbagai kebutuhan, baik bekerja, bersantai, maupun menikmati waktu bersama orang-orang terdekat.

Konsep Work From Café sendiri terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan akan ruang kerja yang lebih fleksibel. Banyak profesional, pelaku bisnis, mahasiswa, hingga pekerja kreatif kini memilih café sebagai alternatif tempat bekerja karena menawarkan suasana yang lebih santai namun tetap kondusif untuk beraktivitas.

Melihat perubahan tersebut, Native Grup merancang setiap outlet Native Tribe dengan mengutamakan kenyamanan pelanggan. Tata ruang yang lapang, area duduk yang beragam, koneksi Wi-Fi, serta suasana yang hangat menjadi bagian dari pengalaman yang ingin dihadirkan. Tak hanya menjadi tempat untuk bekerja, Native Tribe juga menjadi pilihan untuk meeting informal, mengerjakan tugas, hingga menikmati quality time bersama keluarga maupun sahabat.

Pengalaman tersebut semakin lengkap dengan beragam pilihan menu yang dapat dinikmati kapan saja. Mulai dari menu sarapan, makan siang, makan malam, hingga pilihan dessert dan minuman, seluruh hidangan disiapkan untuk melengkapi berbagai momen pelanggan tanpa perlu berpindah tempat.

Bagi Native Grup, sebuah café bukan hanya tempat untuk menikmati makanan dan minuman, tetapi juga menjadi ruang yang mempertemukan ide, percakapan, dan berbagai cerita. Melalui konsep yang mengedepankan kenyamanan, kualitas, dan pelayanan, Native Grup terus berkomitmen menghadirkan pengalaman yang relevan dengan gaya hidup masyarakat modern.

Lebih dari Sekadar Café, Native Grup Bangun Destinasi untuk Berkumpul dan Berkarya

Peran sebuah café kini telah berkembang jauh melampaui fungsi utamanya sebagai tempat menikmati makanan dan minuman. Di tengah gaya hidup masyarakat urban yang semakin dinamis, café menjadi ruang untuk bekerja, berdiskusi, bertemu klien, hingga menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga dan sahabat. Perubahan perilaku ini mendorong pelaku industri F&B untuk menghadirkan konsep yang tidak hanya berfokus pada menu, tetapi juga pengalaman yang menyeluruh.

Menjawab kebutuhan tersebut, Native Grup terus mengembangkan konsep café yang mengutamakan kenyamanan, kualitas, dan pengalaman pelanggan. Melalui berbagai inovasi, perusahaan berupaya menciptakan ruang yang mampu mengakomodasi beragam aktivitas, mulai dari meeting informal, Work From Café (WFC), hingga momen kebersamaan dengan orang-orang terdekat.

Bagi banyak masyarakat Jakarta, Native Tribe telah dikenal sebagai salah satu destinasi yang menawarkan lebih dari sekadar kopi. Sebagai salah satu brand di bawah naungan Native Grup, Native Tribe menghadirkan pilihan menu yang lengkap, mulai dari specialty coffee, aneka minuman, comfort food, hingga hidangan utama yang dapat dinikmati sepanjang hari. Dengan suasana yang hangat dan nyaman, setiap outlet dirancang untuk menjadi tempat di mana pelanggan dapat bekerja, bersantai, maupun menikmati waktu bersama.

Bagi Native Grup, pengalaman pelanggan dimulai sejak langkah pertama memasuki café. Karena itu, setiap detail dirancang dengan mempertimbangkan kenyamanan, mulai dari tata ruang yang lapang, pilihan area duduk yang fleksibel, koneksi Wi-Fi yang memadai, hingga pelayanan yang ramah. Seluruh elemen tersebut dihadirkan agar pelanggan dapat menikmati waktu mereka dengan lebih leluasa, apa pun tujuan kunjungannya.

Tak hanya menjadi tempat untuk menikmati hidangan, Native Tribe juga menjadi ruang bagi berbagai komunitas untuk berkumpul, berdiskusi, hingga berkolaborasi. Native Grup percaya bahwa sebuah café dapat menjadi wadah yang mempertemukan ide, mempererat hubungan, dan menciptakan pengalaman yang berkesan bagi setiap pelanggan.

Ke depan, Native Grup akan terus mengembangkan konsep yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. Dengan menggabungkan kualitas produk, pelayanan yang hangat, dan suasana yang mendukung berbagai aktivitas, perusahaan berkomitmen menghadirkan destinasi yang tidak hanya menjadi tempat makan, tetapi juga bagian dari gaya hidup masyarakat urban.

Native Grup Hadirkan Pengalaman Bersantap di Kawasan Menteng

Sebagai salah satu kawasan paling ikonik di Jakarta, Menteng telah lama dikenal sebagai pusat aktivitas yang memadukan sejarah, bisnis, pemerintahan, hingga gaya hidup modern. Karakter kawasan yang dinamis menjadikan Menteng sebagai destinasi bagi masyarakat yang mencari tempat untuk bekerja, bertemu rekan bisnis, maupun menikmati waktu santai bersama keluarga dan sahabat. Melihat kebutuhan tersebut, Native Grup menghadirkan pengalaman bersantap yang mengedepankan kenyamanan, kualitas, dan suasana yang hangat melalui kehadiran Native Tribe Menteng.

Bagi banyak masyarakat, Native Tribe telah dikenal sebagai café yang menawarkan lebih dari sekadar kopi. Sebagai salah satu brand di bawah naungan Native Grup, Native Tribe menghadirkan pilihan menu yang lengkap, mulai dari specialty coffee, aneka minuman, comfort food, hingga hidangan utama yang dapat dinikmati sepanjang hari. Kehadiran cabang di Menteng menjadi bagian dari komitmen Native Grup untuk semakin dekat dengan pelanggan melalui lokasi-lokasi strategis yang sesuai dengan gaya hidup masyarakat urban.

Mengusung konsep café yang nyaman dan fungsional, Native Tribe Menteng dirancang sebagai ruang yang dapat mengakomodasi berbagai kebutuhan. Baik untuk menikmati sarapan, makan siang bersama kolega, mengadakan pertemuan informal, bekerja dari café (Work From Café), maupun bersantai di penghujung hari, pelanggan dapat menikmati suasana yang mendukung setiap aktivitas.

Selain menghadirkan suasana yang nyaman, Native Tribe Menteng juga menawarkan beragam pilihan menu yang dirancang untuk berbagai waktu bersantap. Perpaduan antara kualitas bahan baku, cita rasa yang konsisten, dan pelayanan yang hangat menjadi bagian dari pengalaman yang ingin dihadirkan Native Grup di setiap outletnya.

Bagi Native Grup, setiap cabang bukan sekadar ekspansi bisnis, melainkan kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan pelanggan dan menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari mereka. Oleh karena itu, setiap lokasi dikembangkan dengan tetap mempertahankan identitas brand sekaligus menyesuaikan pengalaman yang relevan dengan karakter lingkungan di sekitarnya.

Ke depan, Native Grup akan terus menghadirkan inovasi melalui pengembangan konsep, menu, dan pengalaman pelanggan di setiap outlet. Dengan kehadiran Native Tribe Menteng, perusahaan berharap dapat menjadi salah satu destinasi pilihan bagi masyarakat yang mencari tempat bersantap dengan suasana nyaman di tengah dinamika ibu kota.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Hilirisasi Nikel Perkuat Transformasi Ekonomi di Sulawesi

JAKARTA — Perkembangan industri pengolahan mineral turut membentuk lanskap ekonomi baru di sejumlah wilayah Sulawesi. Ekspansi aktivitas pengolahan nikel memperpanjang rantai nilai mineral di dalam negeri dan membuka ruang bagi berkembangnya aktivitas industri, investasi, tenaga kerja, serta kegiatan ekonomi pendukung di daerah.

Di Sulawesi Selatan, misalnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian pada triwulan II 2026 tumbuh 5,59% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. PDRB Sulawesi Selatan pada periode tersebut mencapai Rp206,70 triliun atas dasar harga berlaku atau Rp110,41 triliun atas dasar harga konstan 2010.

Perkembangan tersebut berlangsung di tengah semakin besarnya perhatian terhadap penguatan industri pengolahan mineral di Sulawesi. Nikel menjadi salah satu komoditas penting dalam proses ini seiring berkembangnya fasilitas pengolahan serta rantai pasok yang terkait dengan industri logam dan bahan baku baterai.

Ekonom CORE Indonesia Mohammad Faisal menilai pengembangan rantai nilai kendaraan listrik di Indonesia mulai menunjukkan integrasi dari aktivitas hulu hingga pengolahan.

“Kalau di upstream kita sudah high maturity, sementara di midstream dan downstream masih berkembang. Tapi ke depan ini bisa meningkat cepat, dan dampaknya terhadap perekonomian daerah juga akan semakin besar,” ujar Faisal.

Menurut Faisal, transformasi struktur ekonomi dapat terlihat antara lain di Morowali dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah, yang dalam satu dekade terakhir mengalami perkembangan aktivitas industri berbasis pengolahan mineral.

“Kalau dulu Morowali didominasi pertambangan dan pertanian, sekarang lebih dari 75% ekonominya ditopang sektor industri,” katanya.

Perubahan struktur ekonomi tersebut menunjukkan bagaimana keberadaan industri pengolahan dapat memperluas aktivitas ekonomi di wilayah yang sebelumnya lebih bertumpu pada sektor primer. Namun, besarnya manfaat hilirisasi tidak hanya ditentukan oleh peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga oleh kemampuan membangun keterkaitan dengan perekonomian lokal, pengembangan tenaga kerja, serta tata kelola industri yang berkelanjutan.

Investasi Pengolahan Terus Berkembang

Sejumlah pelaku industri terus mengembangkan investasi pengolahan nikel di Sulawesi. Salah satunya PT Vale Indonesia Tbk, bagian dari Grup MIND ID, yang mengembangkan proyek pertumbuhan di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako sebagai bagian dari ekspansi rantai nilai nikelnya.

Pengembangan tersebut mencakup fasilitas berbasis teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) yang dirancang untuk menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), produk antara yang dapat digunakan lebih lanjut dalam rantai pasok material baterai. Informasi perusahaan menunjukkan pengembangan HPAL terkait proyek Pomalaa, Bahodopi, dan Sorowako Limonite.

Perkembangan serupa di berbagai kawasan industri menunjukkan bahwa hilirisasi nikel di Sulawesi semakin membentuk ekosistem yang melibatkan perusahaan pertambangan, pengolahan mineral, penyedia teknologi, tenaga kerja, serta berbagai kegiatan ekonomi pendukung.

Bagi daerah penghasil sumber daya, tantangan berikutnya adalah memastikan ekspansi industri tersebut menghasilkan manfaat ekonomi yang semakin luas. Peningkatan nilai tambah perlu berjalan bersama pengembangan kapasitas tenaga kerja lokal, keterlibatan usaha daerah, pengelolaan dampak lingkungan, serta penciptaan kegiatan ekonomi yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

Dengan cadangan mineral dan berkembangnya kapasitas industri pengolahan, Sulawesi memiliki posisi penting dalam rantai nilai mineral Indonesia. Keberlanjutan transformasi tersebut akan ditentukan tidak hanya oleh besarnya investasi dan produksi, tetapi juga oleh sejauh mana industrialisasi mampu menghasilkan nilai tambah yang terhubung dengan pembangunan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Strayos: Software AI Pertambangan untuk Desain Peledakan dari Data Drone Survey

Strayos adalah platform analitik berbasis AI untuk pertambangan yang menganalisis data drone survey yang sudah diproses di DJI Terra. Satu platform ini mencakup desain pola bor, prediksi fragmentasi, volumetrik stockpile, stabilitas lereng, dan rekonsiliasi volume, sehingga keputusan peledakan berpijak pada kondisi lapangan yang akurat.

Di tambang terbuka, peledakan (blasting) adalah proses memecah batuan dengan bahan peledak agar mudah digali dan diangkut. Desain yang kurang tepat bisa menghasilkan batuan terlalu besar, boros bahan peledak, atau membahayakan lereng di sekitarnya. Masalahnya, banyak desain masih dibuat dari data permukaan yang tidak selalu terbaru. Strayos menutup celah itu dengan menghubungkan data drone survey langsung ke perencanaan peledakan.

Alurnya berjalan berurutan. Drone survey merekam permukaan tambang, misalnya dengan DJI Matrice 4E untuk photogrammetry atau DJI Matrice 400 dengan DJI Zenmuse L3 untuk LiDAR. Data itu diproses di DJI Terra menjadi orthomosaic (peta foto) dan DSM (model ketinggian permukaan). Setelah itu, Strayos menganalisisnya untuk merancang pola lubang bor dan muatan bahan peledak, lalu memprediksi hasilnya sebelum peledakan dilakukan.

Strayos memiliki beberapa modul utama: desain pola bor dan peledakan, analisis fragmentasi untuk mengukur ukuran batuan hasil ledakan, volumetrik dan rekonsiliasi untuk mencocokkan rencana dengan realisasi produksi, serta highwall dan slope stability untuk menilai kestabilan lereng. Platform ini juga mendukung analisis haul road, deteksi perubahan, dan dashboard pelaporan progres.

Contoh penerapannya ada di kontraktor batubara PT BUMA. DJI Dock 3 menjalankan pemetaan haul road secara otomatis, data diproses di DJI Terra, lalu Strayos mendeteksi lubang jalan dan kerusakan berbasis AI serta menilai kemiringan, crossfall, berm, dan lebar jalan dalam sekitar 4 jam, tanpa inspeksi manual.

Selengkapnya: https://halorobotics.com/strayos-platform-ai-software-pertambangan/

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Dukung Pembangunan Ekonomi dan Daya Saing Industri, SUCOFINDO Raih Prasasta Best BUMN Contribution to Central Java 2026

Semarang, (2/10) – PT SUCOFINDO (PERSERO) Cabang Semarang meraih penghargaan Prasasta Best BUMN Contribution to Central Java 2026 dalam ajang Prasasta Gala Awards 2026 yang diselenggarakan di Semarang. Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kontribusi PT SUCOFINDO (PERSERO) dalam mendukung peningkatan kualitas, daya saing, dan keberlanjutan dunia usaha di Provinsi Jawa Tengah.

Penghargaan diserahkan oleh Ketua Panitia Prasasta Gala Awards, Ferry Firmawan, didampingi Ketua Umum KADIN Provinsi Jawa Tengah, Harry Nuryanto kepada Kepala PT SUCOFINDO (PERSERO) Cabang Semarang, Habib Krisna Wijaya.

Menurut keterangan Ferry Firmawan, dalam proses penilaian, Dewan Juri Prasasta Gala Awards 2026 menghimpun berbagai informasi mengenai kiprah para kandidat dari beragam sumber, termasuk media massa dan media sosial. Penetapan penerima penghargaan dilakukan secara independen oleh Dewan Juri yang merupakan kolaborasi antara Universitas Semarang, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Jawa Tengah, serta Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah.

“Adapun aspek yang menjadi perhatian dewan juri, meliputi kontribusi perusahaan terhadap pembangunan ekonomi dan industri daerah, peran dalam menjaga mutu melalui layanan inspeksi, pengujian, dan sertifikasi, independensi serta kredibilitas layanan, dukungan terhadap peningkatan daya saing pelaku usaha, hingga kontribusi sebagai BUMN dalam mendukung pembangunan daerah. Berdasarkan berbagai aspek tersebut, PT SUCOFINDO (PERSERO) Cabang Semarang dinilai layak menerima penghargaan Prasasta Best BUMN Contribution to Central Java 2026,” jelasnya.

Sejalan dengan penilaian tersebut, Habib Krisna Wijaya, menyampaikan bahwa penghargaan ini menjadi motivasi bagi PT SUCOFINDO (PERSERO) untuk terus memberikan layanan terbaik serta berkontribusi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan di Jawa Tengah.

“Penghargaan ini merupakan apresiasi sekaligus motivasi bagi kami untuk terus memberikan layanan terbaik dan memperkuat kontribusi dalam mendukung daya saing dunia usaha di Jawa Tengah. Kami akan terus memperkuat peran sebagai perusahaan Testing, Inspection, and Certification (TIC) yang menghadirkan layanan profesional, terpercaya, dan memberikan nilai tambah bagi dunia usaha maupun masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Habib Krisna Wijaya menegaskankan, melalui semangat “Ensuring Quality Protecting Trust”, PT SUCOFINDO (PERSERO) berkomitmen untuk terus menghadirkan layanan yang unggul dan terpercaya guna mendukung pembangunan ekonomi nasional serta mewujudkan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

NFP September Jadi Fokus Market, Begini Dampaknya ke USD dan Harga Emas

Laporan Nonfarm
Payrolls (NFP) Amerika Serikat untuk September menjadi salah satu agenda
ekonomi utama yang menjadi perhatian pasar pada Jumat (2/10/2026). Data
ketenagakerjaan AS tersebut dinilai penting karena dapat memengaruhi ekspektasi
terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), sekaligus
pergerakan dolar AS dan harga emas.

Berdasarkan survei
ekonom Reuters, Nonfarm Payrolls AS diperkirakan bertambah sekitar 90.000
pekerjaan pada September, melambat dibandingkan kenaikan 162.000 pekerjaan pada
Agustus. Tingkat pengangguran diperkirakan bertahan di 4,1%.

Perhatian pasar
tidak hanya tertuju pada jumlah pekerjaan, tetapi juga pertumbuhan upah. Data
tersebut menjadi semakin penting karena The Fed masih berhadapan dengan tekanan
inflasi, sementara kondisi pasar tenaga kerja menjadi salah satu indikator yang
dipertimbangkan dalam menentukan kebijakan moneter.

Analis Dupoin
Futures
, Geraldo Kofit, mengatakan data NFP dapat memberikan gambaran mengenai
seberapa kuat perekonomian AS sekaligus memengaruhi ekspektasi pasar terhadap
suku bunga.

“Jika NFP dan
pertumbuhan upah berada di atas ekspektasi, pasar dapat melihat kondisi tenaga
kerja AS masih cukup kuat. Hal ini berpotensi menjaga ekspektasi suku bunga
tinggi lebih lama dan memberikan dukungan terhadap dolar AS,” ujar Geraldo.

Korelasi antara
NFP dan dolar AS terutama terjadi melalui ekspektasi suku bunga. Data tenaga
kerja yang lebih kuat dapat meningkatkan kemungkinan kebijakan moneter yang
lebih ketat, sehingga mendorong kenaikan imbal hasil Treasury dan memperkuat
daya tarik aset berbasis dolar.

Sebaliknya,
apabila pertumbuhan pekerjaan jauh di bawah ekspektasi dan disertai kenaikan
tingkat pengangguran, pasar dapat mulai memperhitungkan perlambatan ekonomi AS.
Kondisi tersebut berpotensi menekan yield dan dolar AS apabila ekspektasi
terhadap kenaikan suku bunga ikut berkurang.

Pergerakan dolar
dan yield tersebut kemudian memiliki korelasi penting terhadap emas atau
XAU/USD. Emas yang dihargai dalam dolar cenderung menghadapi tekanan ketika
greenback menguat. Selain itu, kenaikan suku bunga dan yield obligasi
meningkatkan opportunity cost memegang emas karena aset tersebut tidak
memberikan imbal hasil bunga.

“Untuk XAU/USD,
perhatian pasar akan tertuju pada kombinasi antara angka NFP, unemployment
rate, dan wage growth. Data yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi
memberikan tekanan terhadap emas melalui penguatan USD dan kenaikan yield.
Sebaliknya, data tenaga kerja yang lebih lemah dapat membuka ruang bagi USD dan
yield untuk terkoreksi sehingga emas berpeluang mendapatkan dukungan,” jelas
Geraldo.

Kondisi menjelang
rilis NFP juga menunjukkan hubungan tersebut sudah menjadi perhatian pasar.
Reuters mencatat harga emas turun 0,6% ke US$4.154,78 per troy ounce pada Jumat
pagi dan berada di jalur penurunan lebih dari 3% dalam sepekan. Penguatan dolar
AS dan tingginya Treasury yield menjadi faktor yang menekan harga emas.

Di pasar valuta
asing, indeks dolar AS berada di sekitar 102,09 dan sempat mencapai level
tertinggi sejak April 2025. Pada saat yang sama, yield Treasury 10 tahun sempat
menyentuh 5,344%, level tertinggi sejak 2002, sebelum turun ke sekitar 5,25%.

Selain NFP, pasar
juga mendapatkan sinyal dari sektor manufaktur AS. ISM Manufacturing PMI
September berada di 54,5, sedikit turun dari 54,6 pada Agustus, tetapi masih
menunjukkan ekspansi. New Orders naik menjadi 55,3 dan indeks employment
meningkat menjadi 52,7. Namun, Prices Index melonjak dari 71,1 menjadi 77,9,
menunjukkan tekanan biaya input yang kembali meningkat.

Kenaikan tekanan
harga tersebut membuat data upah dalam laporan NFP semakin relevan. Jika
pertumbuhan upah tetap tinggi di tengah pasar tenaga kerja yang relatif solid,
pasar dapat melihat tekanan inflasi masih berpotensi bertahan.

Karena itu, reaksi
USD dan XAU/USD setelah NFP dirilis kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh
angka payrolls. Investor juga akan mencermati tingkat pengangguran, pertumbuhan
upah, serta bagaimana keseluruhan data tersebut mengubah ekspektasi terhadap
kebijakan The Fed.

“Pasar kemungkinan
akan membaca NFP secara keseluruhan, bukan hanya headline payrolls. Kombinasi
employment, unemployment rate, dan wage growth akan menjadi kunci untuk melihat
arah ekspektasi suku bunga, yang kemudian tercermin pada USD, Treasury yield, dan
XAU/USD,” kata Geraldo.

Dengan demikian, NFP
September menjadi salah satu katalis penting bagi pasar global. Bagi USD,
fokusnya berada pada perubahan ekspektasi suku bunga, sementara bagi emas,
pergerakan dolar dan Treasury yield akan menjadi faktor utama yang perlu
diperhatikan setelah data dirilis.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

NFP Jadi Penentu Harga Emas, Dupoin Futures Pantau Level 4.236

Harga emas masih menghadapi tekanan menjelang perdagangan pekan depan setelah XAUUSD mengalami pelemahan dalam beberapa sesi terakhir. Berdasarkan analisis Dupoin Futures, tren bearish pada timeframe H4 masih cukup signifikan. Dupoin Futures melihat peluang pelemahan masih terbuka apabila harga gagal membentuk pemulihan yang kuat dan kembali mendapatkan rejection di area Fibonacci 61,8%.

Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan bahwa area Fibonacci 61,8% di level 4.236 dapat menjadi zona penting untuk mengamati potensi pergerakan harga emas pekan depan. Dalam analisis Dupoin Futures, level tersebut sekaligus merupakan area Golden Ratio yang berpotensi menjadi resistance dalam skenario koreksi. Apabila harga emas naik menuju 4.236 kemudian kembali mengalami rejection, Dupoin Futures melihat peluang XAUUSD melanjutkan tren bearish menuju support terdekat di 4.110.

Dengan struktur tersebut, Dupoin Futures menilai area 4.236 menjadi level yang perlu dicermati apabila terjadi rebound pada awal pekan. Rejection di area tersebut dapat menjadi konfirmasi tambahan bagi kelanjutan tekanan jual. Sebaliknya, apabila harga mampu menembus dan mempertahankan pergerakan di atas 4.236, skenario bearish yang disampaikan Dupoin Futures perlu dievaluasi kembali karena momentum pemulihan dapat menjadi lebih kuat.

Dari sisi fundamental, pasar emas pekan depan akan sangat dipengaruhi oleh data tenaga kerja Amerika Serikat, terutama Nonfarm Payrolls atau NFP. Data ketenagakerjaan menjadi penting karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve dan pergerakan dolar AS serta Treasury yield.

Menurut Dupoin Futures, NFP yang menunjukkan perlambatan pasar tenaga kerja berpotensi memberikan ruang bagi emas untuk mengalami recovery. Apabila pertumbuhan lapangan kerja berada di bawah ekspektasi dan disertai kenaikan unemployment rate atau perlambatan pertumbuhan upah, tekanan terhadap dolar AS dan yield Treasury berpotensi berkurang. Kondisi tersebut dapat menjadi katalis positif bagi XAUUSD.

Namun, Dupoin Futures juga mencermati bahwa kondisi pasar saat ini masih menjadi tantangan bagi emas. Reuters melaporkan harga emas turun sekitar 0,6% menjadi US$4.154,78 per troy ounce pada Jumat dan berada di jalur penurunan lebih dari 3% sepanjang pekan. Penguatan dolar AS dan kenaikan Treasury yield menjadi faktor utama yang menekan emas menjelang data payrolls.

Yield Treasury 10 tahun bahkan sempat mencapai 5,344%, level tertinggi sejak 2002, sebelum turun kembali ke sekitar 5,25%. Pada saat yang sama, indeks dolar AS berada di sekitar 102 dan mencapai level tertinggi dalam 17 bulan. Bagi Dupoin Futures, kombinasi yield tinggi dan dolar yang kuat menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena keduanya dapat membatasi ruang penguatan emas.

Karena itu, Dupoin Futures melihat data NFP sebagai salah satu katalis utama untuk menentukan apakah emas mampu melakukan recovery atau kembali melanjutkan tren bearish. NFP yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi memperkuat dolar dan yield sehingga menambah tekanan terhadap XAUUSD. Sebaliknya, data tenaga kerja yang lebih lemah dapat membuka ruang bagi penurunan yield dan rebound emas.

Geraldo Kofit dari Dupoin Futures menilai struktur H4 masih menunjukkan tren bearish yang dominan. Berdasarkan analisis Dupoin Futures, harga emas pekan depan berpotensi melakukan koreksi terlebih dahulu menuju area 4.236. Apabila terjadi rejection di level Fibonacci 61,8% tersebut, XAUUSD berpotensi kembali bergerak turun menuju support 4.110.

Dengan demikian, prediksi harga emas pekan depan menurut Dupoin Futures masih mengarah pada potensi pelemahan dengan area 4.236 sebagai zona penting untuk mengamati rejection dan 4.110 sebagai support yang perlu diperhatikan. Pergerakan dolar AS, Treasury yield, serta hasil NFP akan menjadi faktor utama yang dapat menentukan kelanjutan tren XAUUSD.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Sistem Pintu Sliding Tingkatkan Efisiensi Operasional Gudang dan Area Industri

Dalam fasilitas gudang dan area industri, sistem pintu perlu disesuaikan dengan karakteristik bukaan dan kebutuhan operasional di lapangan. Terlebih pada bukaan berukuran besar, pemilihan sistem sliding perlu mempertimbangkan dimensi serta beban pintu agar pengoperasiannya dapat berjalan secara optimal.

Kebutuhan tersebut menjadi pertimbangan PT Roda Bangun Mandiri (RBM) dalam menangani proyek di Cikupa. Pada proyek tersebut, RBM menerapkan sistem pintu yang disesuaikan dengan karakteristik bukaan dan kebutuhan operasional fasilitas.

Proyek ini menggunakan single door berukuran L8.000 x T4.000 mm. Dengan dimensi bukaan yang besar, sistem pintu membutuhkan perangkat sliding dengan kapasitas beban yang sesuai. Untuk kebutuhan tersebut, RBM menggunakan Henderson Straight Sliding 307, yang memiliki kapasitas hingga 2.000 kg per daun pintu.

Menurut Bernardus Rizky, COO RBM, pemilihan sistem pada proyek tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik pintu, bukan hanya jenis sistem yang digunakan.

“Pada bukaan dengan dimensi dan beban yang besar, pemilihan sistem sliding perlu disesuaikan dengan kebutuhan teknis pintunya. Dalam proyek Cikupa, kami mempertimbangkan dimensi bukaan serta beban pintu sebelum menentukan sistem yang digunakan agar pengoperasiannya dapat berjalan secara optimal,” ujar Bernardus.

Penggunaan Henderson Straight Sliding 307 pada proyek Cikupa menunjukkan bagaimana pemilihan sistem pintu dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik sebuah fasilitas. Kapasitas hingga 2.000 kg per daun pintu memberikan kemampuan untuk menangani beban pintu sesuai dengan kebutuhan proyek tersebut.

Bagi fasilitas dengan aktivitas operasional yang membutuhkan akses melalui bukaan berukuran besar, kesesuaian antara dimensi pintu, beban, dan kapasitas sistem menjadi salah satu aspek penting dalam perencanaan. Sistem sliding juga memungkinkan daun pintu bergerak secara horizontal, sehingga tidak membutuhkan ruang ayun seperti pada sistem pintu yang membuka ke dalam atau ke luar.

Bernardus menambahkan bahwa proses tersebut menjadi bagian penting dari pendekatan RBM dalam menangani kebutuhan proyek.

“Setiap proyek memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itu, kami melihat kebutuhan teknis dan operasionalnya terlebih dahulu sebelum menentukan sistem yang sesuai. Tujuannya bukan sekadar memasang pintu, tetapi memastikan sistem yang dipilih mampu bekerja sesuai dengan kebutuhan fasilitas,” katanya.

Pengalaman pada proyek Cikupa menjadi salah satu contoh penerapan pendekatan berbasis use case, di mana solusi sistem pintu ditentukan berdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan tersebut memungkinkan spesifikasi sistem diselaraskan dengan dimensi, beban, serta kebutuhan penggunaan pintu.

Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di bidang solusi sistem pintu, RBM terus mengembangkan pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan proyek. Bagi perusahaan, sistem pintu merupakan bagian dari fasilitas yang perlu dirancang berdasarkan fungsi dan kebutuhan operasional, bukan sekadar menjadi komponen pelengkap bangunan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES