Tes BRCA di Indonesia: Antusiasme 90 Persen, tetapi Harga dan Daya Beli Masih Berjarak
Ketika Risiko Kanker Bisa Dibaca, tetapi Tidak Semua Bisa Membacanya
Kanker payudara herediter disebabkan oleh mutasi gen BRCA1 dan BRCA2. Perempuan yang membawa mutasi ini memiliki risiko hingga 70% untuk mengidap kanker payudara sepanjang hidupnya. Informasi ini seharusnya menjadi dasar pengambilan keputusan klinis yang lebih presisi: skrining lebih intensif, opsi pengurangan risiko, dan dalam beberapa kasus, terapi yang ditargetkan.
Namun, sebuah studi eksploratif pertama di Indonesia mengungkap paradoks yang tajam. Dari 400 perempuan di Daerah Istimewa Yogyakarta—provinsi dengan prevalensi kanker tertinggi—sebanyak 90,75% menyatakan berminat menjalani tes genetik BRCA1/2. Minat tinggi. Tetapi biaya riil tes tersebut berkisar Rp5.500.000, sementara rata-rata kemampuan bayar maksimum dari kantong pribadi hanya Rp1.345.638. Rasio kontribusi atau co-payment rate berada di angka 0,24, mencerminkan jurang yang lebar antara harga layanan dan daya beli masyarakat.
Literasi Genetik yang Belum Menopang Keputusan
Tingginya minat tidak selalu diiringi pemahaman yang memadai. Sebanyak 54% responden masuk dalam kategori pengetahuan rendah tentang risiko genetik kanker. Banyak yang belum memahami bahwa mutasi BRCA dapat diwariskan dari garis keturunan ayah maupun ibu. Ini penting karena keputusan menjalani tes genetik bukan sekadar keputusan finansial, melainkan keputusan kesehatan yang membutuhkan konseling sebelum dan sesudah pemeriksaan.
Temuan lain dari studi yang sama menunjukkan efek positif: ketika responden diberi skenario hasil tes positif, niat mereka untuk menjalani mammografi dan pemeriksaan payudara sendiri meningkat secara signifikan. Artinya, diagnosis genetik tidak berhenti pada angka risiko; ia dapat mendorong perilaku sehat. Namun, efek ini hanya muncul jika pasien memahami hasil tes dan tahu langkah berikutnya.
Jalan Tengah Pembiayaan
Survei tersebut juga mencatat bahwa 62,43% peserta yang menerima tes BRCA1/2 lebih memilih cakupan penuh oleh pemerintah, dan opsi pembayaran penuh oleh pemerintah mendapat persetujuan tertinggi sebesar 45,4%. Ini memberi sinyal bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan harga yang lebih murah, tetapi juga mekanisme pembiayaan yang jelas.
Diskusi tentang genomik di Indonesia sering berfokus pada kapasitas laboratorium dan jumlah sekuens. Studi BRCA ini mengingatkan bahwa adopsi genomik di layanan klinis sangat bergantung pada tiga hal yang saling terkait: harga yang terjangkau, literasi genetik yang memadai, dan jalur pembiayaan yang adil. Tanpa ketiganya, tes genetik berisiko tetap menjadi layanan elitis, bahkan ketika teknologinya sudah tersedia. Data valid yang menopang artikel ini tersedia dalam rilis Universitas Airlangga per 28 Oktober 2026 yang mengutip biaya riil Rp5.500.000 dan maximum WTP Rp1.345.638.
