Ekspor Harusnya Tidak Serumit Ini, Dua Anak Muda Indonesia Coba Sederhanakan Prosesnya

Jakarta, September 2026 — Bagi banyak pelaku usaha Indonesia, keinginan untuk mulai ekspor sering kali berhenti bukan karena tidak memiliki produk, tetapi karena tidak tahu harus mulai dari mana.

Bagaimana menentukan negara tujuan? Dokumen apa yang dibutuhkan? Bagaimana mengetahui HS Code? Di mana mencari buyer? Bagaimana menghitung harga ekspor? Hingga bagaimana memastikan barang benar-benar dapat dikirim ke luar negeri?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tetapi jawabannya sering tersebar di banyak tempat.

Kondisi inilah yang mendorong dua anak muda, Steven Magnus dan Demas Pratama, membangun FUTRA Export, sebuah ekosistem yang mencoba membuat perjalanan ekspor lebih terstruktur dan mudah dipahami oleh masyarakat Indonesia.

Alih-alih hanya mengajarkan cara mencari buyer, keduanya melihat ekspor sebagai rangkaian proses yang saling terhubung.

Mulai dari memahami produk dan pasar, memeriksa kesiapan serta regulasi, menghitung harga jual, menemukan dan berkomunikasi dengan calon buyer, melakukan negosiasi, hingga akhirnya menjalankan shipment.

“Kami melihat banyak orang sebenarnya punya produk yang potensial, tapi bingung karena informasi ekspor ada di mana-mana. Satu informasi ada di website pemerintah, yang lain dari forwarder, buyer, komunitas, atau pengalaman eksportir. Masalahnya bukan tidak ada informasi, tapi bagaimana menghubungkan semuanya menjadi langkah yang bisa dijalankan,” ujar Steven Magnus.

Namun setelah bertahun-tahun berada di lapangan, Steven melihat ada persoalan lain yang menurutnya mulai menjadi semakin penting.

Menurutnya, tantangan eksportir Indonesia ke depan bukan lagi sekadar memahami cara melakukan ekspor atau cara mencari buyer.

Masalah berikutnya adalah bagaimana ketika pembeli dari luar negeri datang mencari supplier Indonesia, pelaku usaha Indonesia tersebut bisa ditemukan, dikenal, dan dipercaya.

“Kita terlalu sering bertanya bagaimana cara mencari buyer. Tapi kita jarang bertanya, ketika buyer mencari supplier Indonesia, apakah mereka bisa menemukan kita? Dan kalau mereka menemukan kita, apakah mereka cukup percaya untuk menghubungi dan bertransaksi dengan kita?” ujar Steven.

Hal tersebut membuat FUTRA mulai mendorong UMKM dan calon eksportir untuk tidak hanya mempersiapkan produk, tetapi juga mulai berani naik ke permukaan.

Salah satu caranya adalah melalui digital presence dan personal branding.

Menurut Steven, banyak pelaku usaha Indonesia sebenarnya memiliki produk, pengalaman, kapasitas produksi, bahkan kualitas yang mampu bersaing di pasar internasional. Namun informasi mengenai siapa mereka, apa yang mereka kerjakan, dan mengapa buyer harus mempercayai mereka sering kali sulit ditemukan secara online.

“Personal branding yang kami maksud bukan berarti semua pengusaha harus menjadi influencer. Yang kami dorong sederhana: jangan sampai bisnis yang sebenarnya bagus justru tidak terlihat. Buyer hari ini bisa mengecek siapa kita, melihat website, LinkedIn, media sosial, aktivitas perusahaan, sampai jejak digital sebelum mereka memutuskan untuk percaya,” jelas Steven.

Karena itu, menurutnya edukasi ekspor tidak cukup berhenti pada dokumen dan transaksi.

Eksportir Indonesia juga perlu belajar bagaimana membangun kredibilitas dan menunjukkan kompetensinya kepada pasar internasional.

Steven sendiri telah menjalankan bisnis ekspor sejak usia muda dan aktif membagikan pengalaman mengenai perdagangan internasional kepada mahasiswa, UMKM, dan calon eksportir.

Dalam perjalanannya, ia kemudian bersama Demas Pratama mengembangkan FUTRA bukan sekadar sebagai tempat belajar, melainkan sebagai sebuah ekosistem yang mencoba menghubungkan edukasi dengan praktik di lapangan.

Menurut Demas, salah satu kesalahan yang sering terjadi pada eksportir pemula adalah terlalu cepat berfokus pada buyer.

“Semua orang ingin tahu cara mendapatkan buyer. Padahal ketika buyer datang, pertanyaan berikutnya justru lebih berat: produknya siap atau tidak, harganya sudah benar atau belum, dokumennya bagaimana, kapasitas produksinya cukup atau tidak, dan barangnya bisa masuk ke negara tujuan atau tidak. Itu yang ingin kami bantu rapikan,” jelas Demas.

Dari pemikiran tersebut, FUTRA mulai mengembangkan futraexport.com sebagai platform yang menggabungkan informasi, tools, pembelajaran, hingga sistem pendampingan perjalanan ekspor.

Ekosistem tersebut diarahkan untuk membantu pengguna memahami perjalanan ekspor mulai dari validasi produk, kesiapan regulasi dan compliance, pengembangan pasar, komunikasi dengan buyer, hingga shipment.

Namun bagi Steven dan Demas, teknologi bukan tujuan akhirnya.

Mereka ingin mengubah persepsi bahwa ekspor hanya dapat dilakukan perusahaan besar atau orang dengan koneksi internasional.

“Kami ingin suatu hari orang yang baru punya ide untuk ekspor tidak harus membuka puluhan sumber dan bertanya ke mana-mana hanya untuk mengetahui langkah pertamanya. Harapannya, dia bisa memahami posisi bisnisnya, apa yang kurang, lalu tahu harus bergerak ke mana,” kata Steven.

Perjalanan tersebut juga mulai membawa FUTRA berinteraksi dengan berbagai institusi dan pemangku kepentingan dalam ekosistem perdagangan Indonesia.

FUTRA juga berkesempatan melakukan audiensi dengan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, membahas pengembangan ekspor, pendampingan UMKM, business matching, serta peningkatan kapasitas pelaku usaha agar lebih siap memasuki pasar global. 

Bagi keduanya, pertemuan-pertemuan tersebut bukan menjadi tujuan akhir.

Tantangan yang lebih besar justru terletak pada bagaimana membuat pengetahuan ekspor yang kompleks menjadi sesuatu yang dapat dipahami, digunakan, dan akhirnya membantu lebih banyak pelaku usaha Indonesia berani tampil ke pasar internasional.

Karena pada akhirnya, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan produk untuk dijual ke dunia.

Indonesia juga tidak kekurangan orang yang ingin belajar ekspor.

Yang masih perlu diperbanyak adalah pelaku usaha yang siap, terlihat, dikenal, dan dipercaya oleh pasar internasional.

Dan mungkin, Steven Magnus dan Demas Pratama memang layak menjadi “terduga” yang membuat ekspor sedikit lebih mudah bagi generasi berikutnya.

Informasi mengenai ekosistem dan tools FUTRA dapat diakses melalui futraexport.com.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

100 Chat WhatsApp per Hari Bisa Tambah Biaya hingga Rp5 Juta per Bulan?

Barantum adalah solusi aplikasi all in one CRM terbaik untuk bisnis yang menyediakan WhatsApp CRM, broadcast, chatbot, AI Agent, omnichannel, dan call center dalam satu platform terintegrasi. Kelola dan optimalkan seluruh perjalanan customer, mulai dari customer masuk, closing, dan repeat order.

Seratus percakapan pelanggan per hari terdengar seperti angka yang masih mudah dikelola. Namun, ketika setiap chat membutuhkan beberapa balasan dari bisnis, volumenya dapat berubah menjadi puluhan ribu pesan keluar dalam satu bulan. Mulai 1 Oktober 2026, pola tersebut perlu dihitung lebih serius.

Simulasi berikut bukan tagihan pasti untuk setiap perusahaan. Angkanya digunakan untuk menunjukkan bagaimana jumlah percakapan, panjang alur, dan kuota gratis memengaruhi biaya.

Dari 100 Percakapan Menjadi 14.000 Pesan Berbayar

Asumsinya sederhana: 100 percakapan per hari, 30 hari, dan rata-rata lima balasan bisnis untuk setiap percakapan. Perhitungannya adalah 100 × 30 × 5, sehingga menghasilkan 15.000 pesan keluar per bulan.

Setelah kuota 1.000 pesan service gratis dikurangi, tersisa sekitar 14.000 pesan yang perlu diperhitungkan. Dengan biaya publik di kisaran Rp350-an per pesan, estimasinya sekitar Rp4,9 juta. Karena kategori dan ketentuan dapat berbeda, angka yang aman adalah tambahan biaya dapat mendekati Rp5 juta per bulan.

Setiap bisnis dapat mengganti tiga asumsi tadi dengan data aktual: jumlah chat per hari, rata-rata balasan per chat, dan jumlah hari operasional. Rumus yang sama membuat proyeksi lebih relevan untuk tim kecil maupun operasi layanan berjumlah besar.

Mengapa Lima Balasan Mudah Membengkak

Lima balasan bukan angka yang sulit terlampaui. Agent sering memulai dengan salam, meminta identitas, menanyakan nomor transaksi, meminta penjelasan masalah, lalu mengirim solusi. Jika pelanggan berpindah agent atau mengulang informasi, satu kasus membutuhkan jauh lebih banyak pesan.

Pola lain muncul ketika jawaban dasar belum tersedia di FAQ, data awal dikumpulkan satu per satu, atau kasus kompleks tetap dipaksakan melalui chat. Pesan pendek belum tentu efisien apabila jumlahnya banyak dan tidak segera membawa pelanggan ke penyelesaian.

Karena pesan masuk pelanggan tidak berbayar, pusat pengendalian berada pada respons bisnis. Mengurangi rata-rata dari lima menjadi empat balasan pada skenario yang sama berarti 3.000 pesan keluar lebih sedikit sebelum kuota diperhitungkan.

Sensitivitasnya cukup besar. Dengan 100 percakapan per hari, rata-rata tiga balasan menghasilkan 9.000 pesan keluar per bulan, sedangkan delapan balasan menghasilkan 24.000. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa desain percakapan sering lebih menentukan daripada pertumbuhan jumlah pelanggan semata.

Turunkan Volume Tanpa Mengurangi Akses

Langkah pertama adalah memisahkan kebutuhan yang dapat selesai tanpa chat, kebutuhan yang perlu data terstruktur, dan kasus yang memang membutuhkan percakapan manusia. Dari sana, bisnis dapat memilih FAQ, Form, Live Chat, atau panggilan berdasarkan jenis masalah.

Untuk percakapan yang tetap ditangani melalui WhatsApp, WhatsApp Business API Barantum dapat digunakan untuk mengelola pesan pelanggan. Dari alur tersebut, tim dapat meninjau tahapan yang membutuhkan terlalu banyak balasan sebelum satu kasus selesai.

FAQ dan Form dapat mengurangi pertanyaan bertahap, sedangkan Live Chat atau panggilan dipakai hanya ketika jenis kasusnya memang lebih cocok dipindahkan. Pilihan ini harus mengikuti data, bukan sekadar keinginan menekan jumlah pesan.

Pisahkan laporan berdasarkan tujuan percakapan, seperti informasi, komplain, penjualan, atau dukungan teknis. Masing-masing memiliki rata-rata balasan dan nilai akhir berbeda, sehingga target pengurangan yang sama tidak selalu cocok untuk seluruh kategori.

Ketika layanan melibatkan beberapa kanal, Omnichannel Barantum membantu tim mengelola percakapan dalam satu inbox. Histori yang tersedia menjadi acuan saat melanjutkan penanganan, sehingga pelanggan tidak perlu mengulang informasi yang sudah tercatat.

Pantau juga waktu agent, penyelesaian, dan kualitas jawaban. Pengurangan pesan yang tetap menghasilkan solusi menunjukkan alur yang sehat; pesan yang turun karena pelanggan berhenti merespons bukan efisiensi.

Perbarui simulasi menggunakan volume aktual setiap bulan dan sesuaikan kategori pesan dengan dokumentasi resmi Meta. Dengan data itu, bisnis dapat menilai bagian mana dari alur yang paling mahal dan paling layak diperbaiki lebih dulu.

Selain efisiensi layanan, evaluasi juga hasil percakapan penjualan. Melalui CRM Barantum, tim dapat menelusuri perkembangan lead, pipeline, dan deal hingga closing. Dengan begitu, berkurangnya pesan dapat dinilai bersama hasil bisnis, bukan dijadikan satu-satunya tolok ukur keberhasilan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

PT ASA Serahkan Beasiswa Pendidikan bagi 14 Mahasiswa di Bolaang Mongondow Timur

PT
Arafura Surya Alam (ASA) menyerahkan beasiswa pendidikan kepada 14 mahasiswa
yang berasal dari Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Penyerahan beasiswa
berlangsung di Kantor Bupati Bolaang Mongondow Timur, Selasa (8/9), mencakup
penerima dari jenjang Sarjana (S1), Magister (S2), hingga Doktor (S3).

Program
beasiswa ini merupakan bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan
Masyarakat (PPM) PT ASA pada pilar pendidikan yang ditujukan untuk mendukung
peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur,
khususnya bagi masyarakat di wilayah lingkar tambang.

External
Relations Manager PT ASA Reginald Pontoh mengatakan bahwa pendidikan merupakan
investasi jangka panjang yang menjadi fondasi penting bagi kemajuan daerah.

“Program
beasiswa ini adalah komitmen kami dalam menjalankan Program PPM pada pilar
pendidikan. Kami percaya bahwa pendidikan adalah fondasi penting untuk
membangun daerah. Kami berharap adik-adik mahasiswa yang mendapat beasiswa
dapat menjadi agen perubahan yang membawa Kabupaten Bolaang Mongondow Timur
menjadi semakin maju,” ujarnya.

Senada
dengan hal tersebut, Bupati Bolaang Mongondow Timur Oskar Manoppo dalam
sambutannya mengapresiasi kontribusi PT ASA yang secara konsisten mendukung
pengembangan sumber daya manusia melalui program pendidikan.

Menurutnya,
kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat merupakan
faktor penting dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Ia menilai
program beasiswa memiliki nilai strategis karena menjadi investasi jangka
panjang dalam menciptakan generasi yang unggul dan berdaya saing.

“Pemberian
beasiswa bagi jenjang Sarjana, S2, maupun Doktor merupakan investasi jangka
panjang untuk menciptakan sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing, dan
mampu menjadi motor penggerak pembangunan masyarakat,” kata Bupati.

Ketua
DPRD Bolaang Mongondow Timur Samsudin Dama juga menyampaikan apresiasi atas
sinergi antara pemerintah daerah dan PT ASA dalam menghadirkan program yang
memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, khususnya di tengah kebutuhan
dukungan pendidikan bagi generasi muda daerah.

Salah
satu penerima beasiswa jenjang S1, Siti Sarah Modeong dari Desa Bulawan Satu,
Kecamatan Kotabunan, menyampaikan rasa syukur atas bantuan pendidikan yang
diterimanya.

Menurut
Siti, program beasiswa tersebut turut membantu meringankan beban ekonomi
keluarga sekaligus membuka kesempatan yang lebih besar bagi generasi muda untuk
mengakses pendidikan tinggi.

Apresiasi
serupa disampaikan oleh penerima beasiswa jenjang S2, Hanif Paputungan dari
Kotabunan. Menurutnya, beasiswa ini sangat berarti karena membantu meringankan
beban biaya pendidikan sekaligus menjadi motivasi untuk belajar lebih giat,
menyelesaikan perkuliahan dengan baik, dan meraih cita-cita. Hanif berharap
program beasiswa PT ASA dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak
mahasiswa yang membutuhkan di wilayah lingkar tambang.

Sebelumnya,
PT ASA juga telah memberikan beasiswa kepada 4 mahasiswa kedokteran asal
Kabupaten Bolaang Mongondow Timur.

Melalui
program ini, PT ASA menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam
peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia sebagai
bagian dari upaya mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan di
Kabupaten Bolaang Mongondow Timur.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Sanct, Sosial Media yang Pertemanannya Dimulai dari Bertemu Langsung, Rilis Film Pendek tentang Perantau yang Belum Bisa Pulang

Sanct, sosial media untuk sahabat dekat dan keluarga yang didirikan founder asal Indonesia, merilis episode ketiga dari seri film pendeknya di YouTube. Film ini bercerita tentang Keisha, perantau yang bekerja di Singapura, yang harus mengabari keluarganya di Jakarta bahwa ia belum bisa pulang, dan tentang cara keluarga itu tetap menghabiskan malam bersama. Film ini membuka pekan peluncuran Sanct: pada 15–16 September Sanct membuka booth di Tech in Asia Conference 2026 di Singapura, dan pada 15 September meluncur di Product Hunt.

Jakarta, 14 September 2026 — Di banyak keluarga Indonesia, ada satu kursi di meja makan yang lebih sering kosong: kursi milik anggota keluarga yang merantau. Film pendek terbaru Sanct, yang kini tayang di YouTube, bercerita tentang keluarga seperti itu.

Keisha bekerja di Singapura. Di film sebelumnya, ia berjanji kepada adiknya, Clarissa, akan segera pulang. Film ketiga dibuka pada malam hari. Sebelum tidur, Clarissa menulis kepada kakaknya: “Nggak sabar nunggu kamu pulang.” Keesokan paginya, lewat grup keluarga di Sanct, Keisha harus menyampaikan kabar yang berat: “Maaf, aku belum bisa pulang. Aku dapat proyek baru dari bos.” Clarissa membacanya di bus menuju kantor dan menangis.

Clarissa membalas, “Kapan pulang? Kami kangen.” Keisha belum bisa memberi tanggal. Tetapi ia tidak berhenti di kata maaf. Ia menawarkan janji yang lebih kecil, janji yang bisa ia tepati hari itu juga: “Belum pasti, tapi kita tetap bisa ketemu, kan? Malam ini, di Sanctum?”

Clarissa langsung setuju dan meminta Mama dan Papa ikut juga. Pukul enam sore, Mama dan Papa di rumah, Clarissa di kantornya di Jakarta, dan Keisha di Singapura membuka Sanctum di ponsel masing-masing. Keisha memang belum pulang, tetapi malam itu keluarganya tetap berkumpul.

Ketiga film Sanct mengikuti keluarga yang sama. Film pertama lahir dari kisah nyata seorang pengguna beta yang dibagikan dengan izinnya: Clarissa tidak bercerita kepada siapa pun tentang harinya yang berat, tetapi teman-temannya menyadarinya dan membalas. Di film kedua, pertanyaan soal makan malam berubah menjadi janji Keisha untuk segera pulang. Film ketiga bercerita tentang apa yang dilakukan sebuah keluarga ketika janji itu harus menunggu.

Berteman dimulai dari bertemu langsung

Yang membuat Sanct berbeda adalah cara pertemanannya dimulai. Teman pertama di Sanct ditambahkan dengan bertemu langsung dan saling memindai kode QR. Setelah pengguna punya lima teman, fitur pencarian dan saran pertemanan terbuka, tetapi hanya menjangkau teman dari teman. Pengguna juga memilih siapa yang bisa melihat setiap momen yang dibagikan: semua orang di lingkarannya, teman tertentu yang ia pilih, atau hanya dirinya sendiri.

Fitur yang tampil di film sudah ada di aplikasi: grup obrolan keluarga dengan reaksi, check-in tidur yang memberi tahu teman bahwa seseorang sedang tidur, serta Sanctum, pantai kecil di dalam aplikasi yang buka setiap hari pukul 18.00, tempat pengguna bisa menghabiskan waktu bersama siapa pun yang datang.

Bagaimana data pengguna diperlakukan

Sanct tidak memiliki iklan maupun linimasa publik, dan tidak menjual data pengguna ke pihak ketiga. Momen, check-in, dan obrolan hanya bisa dilihat oleh orang yang dipilih penggunanya. Sancty, teman kecil di dalam aplikasi, memproses data hanya di dalam akun pengguna itu sendiri untuk merespons, dan data tersebut tidak digunakan untuk melatih model AI publik. Kebijakan privasi Sanct dapat dibaca di https://sanctsocial.app/privacy

“Banyak keluarga di Indonesia punya anggota keluarga yang merantau, ke kota lain atau ke luar negeri,” ujar Sion Abednego, pendiri Sanct. “Kami tidak bisa memperpendek jarak itu. Sanct hanya jembatannya, supaya yang jauh di mata tetap dekat di hati. Saat belum bisa pulang, keluarga tetap bisa menghabiskan malam bersama.”

Traction dan rencana

Sanct membuka closed beta pada 23 Agustus di Car Free Day kawasan Senayan; 147 orang mendaftar di hari pertama. Sepekan kemudian, Sanct memiliki lebih dari 150 pengguna aktif dan lebih dari 1.600 orang di daftar tunggu. Kini masa beta berakhir. Sanct meluncur di Product Hunt pada Selasa (15/9) pukul 14.01 WIB, membuka booth di Tech in Asia Conference 2026 di Sands Expo and Convention Centre, Singapura, pada 15–16 September, dan akan hadir pertama kali di Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Sanct berjalan dengan model freemium: fitur inti tetap gratis, sementara fitur premium yang bersifat opsional menyusul kemudian, tanpa iklan di kedua versi.

Detail booth Sanct di Tech in Asia Conference 2026, termasuk swag yang bisa dibawa pulang pengunjung, akan diumumkan dalam rilis terpisah. Sion Abednego bisa diwawancarai di booth Sanct selama konferensi berlangsung.

Pendaftaran Sanct terbuka di https://sanct.social

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

68% Pencarian Kini Berakhir Tanpa Klik, Merek yang Tak Disebut AI Otomatis Tersingkir

Cara orang menemukan sebuah merek sedang berubah secara mendasar. Menurut analisis SparkToro terhadap data Similarweb, sekitar 68% pencarian Google di Amerika Serikat pada 2026 berakhir tanpa satu klik pun ke situs mana pun, naik dari sekitar 58,5% pada 2024. Artinya, kurang dari satu dari tiga pencarian masih membawa pengguna keluar dari halaman hasil pencarian menuju situs web yang terbuka.

Riset Bain & Company terhadap konsumen turut mencatat bahwa 80% responden kini mengandalkan hasil yang dihasilkan AI untuk setidaknya 40% dari aktivitas pencarian mereka, dan 60% pencarian berakhir tanpa klik karena jawabannya sudah dianggap cukup di halaman hasil. Pola ini bukan sekadar perubahan minor pada perilaku digital, melainkan pergeseran struktural: jawaban yang dulunya berupa daftar tautan untuk dipilih sendiri, kini semakin sering langsung disajikan sebagai satu jawaban ringkas, lengkap dengan merek yang direkomendasikan di dalamnya, atau tanpa merek sama sekali.

Bagi konsumen, perubahan ini terasa seperti kemudahan. Bagi merek, ini menciptakan risiko baru: jika sebuah merek tidak disebut dalam jawaban yang dihasilkan AI, pengguna yang tidak pernah melihat daftar hasil pencarian juga tidak akan pernah menemukan merek tersebut, meski merek itu sebenarnya relevan dan berkualitas.

“Dulu, orang mencari lalu memilih sendiri dari daftar hasil. Sekarang, jawabannya sudah muncul lebih dulu, dan kalau merek tidak disebut di jawaban itu, merek tersebut otomatis tidak pernah masuk pertimbangan pelanggan,” ujar Alexandro Wibowo, Partner of Avonetiq.

Menjawab pergeseran ini, Avonetiq, Digital Authority Firm yang mengoperasionalkan pendekatannya lewat AVO by Avonetiq, mengembangkan metodologi untuk mengukur bagaimana sebuah merek benar-benar tampil dalam jawaban yang dihasilkan AI, bukan hanya pada posisi peringkat hasil pencarian tradisional.

Nama AVO sendiri sengaja dipakai ganda: sebagai singkatan dari disiplin Authority & Visibility Optimization yang menjadi kategori baru dalam pengukuran merek, sekaligus sebagai nama alat yang dikembangkan Avonetiq untuk menjalankan pengukuran tersebut.

“Kami melihat kebutuhan untuk memisahkan dua pertanyaan yang sering dianggap sama: apakah merek ini disebut oleh AI, dan kenapa AI mempercayainya untuk direkomendasikan. Dua pertanyaan itu butuh cara ukur yang berbeda,” tambah Alexandro.

Perubahan ini relevan bagi dua kelompok berbeda: pemilik merek yang ingin memastikan pelanggan mereka masih bisa menemukan mereka, dan agensi yang mengelola reputasi banyak klien sekaligus, di mana risiko kehilangan visibilitas terjadi bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali lipat dari jumlah klien yang mereka tangani.

Pergeseran ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring makin banyaknya pengguna yang beralih ke platform tanya jawab berbasis AI untuk aktivitas yang sebelumnya dilakukan melalui pencarian tradisional. Bagi pemilik merek maupun agensi, kemampuan mengukur keterlihatan di jawaban AI kemungkinan besar akan menjadi bagian standar dalam mengukur performa digital, alih-alih sekadar fitur tambahan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Spicelab.ai Resmi Hadir: Platform Marketing AI yang Bisa Diatur Sendiri oleh Pemilik Bisnis

Satu platform untuk auto-reply chatbot, konten visual tanpa prompt, dan edit video dengan AI Editor.

JAKARTA, September 2026. PT Spicelab Technology Intelligence resmi meluncurkan Spicelab.ai, satu aplikasi untuk mengurus banyak kebutuhan marketing sekaligus. Di dalamnya ada chatbot pembalas chat, alat pembuat konten, dan laporan hasil, semua dalam satu tempat. Dengan begitu, bisnis tidak perlu lagi berlangganan banyak aplikasi terpisah yang mahal. Spicelab dibuat khusus untuk usaha kecil dan menengah di Indonesia.

Yang membuatnya beda: pemilik bisnis bisa menyalakan dan mengatur semua fitur sendiri, hanya dalam hitungan jam. Tidak perlu tim IT. Tidak perlu bayar konsultan.

Auto-Reply yang Bisa Diatur Sendiri

Chatbot Spicelab membalas pesan pelanggan di WhatsApp dan Instagram selama 24 jam. Ia bisa menjawab pertanyaan sampai mengirim penawaran, semuanya otomatis. Biasanya sistem seperti ini butuh berminggu-minggu untuk disiapkan. Di Spicelab, pemilik bisnis mengaturnya sendiri lewat menu Latih AI. Caranya sederhana: masukkan info produk, gaya bahasa brand, dan aturan kapan chat harus dioper ke staf. Setelah itu chatbot langsung jalan. Kalau ada pertanyaan yang rumit, percakapan bisa diambil alih tim manusia kapan saja.

Bikin Konten Tanpa Perlu Menulis Prompt, plus AI Editor

Spicelab juga membantu membuat konten, tanpa perlu menulis perintah rumit ke AI. Untuk foto, ada fitur Foto Produk. Pemilik bisnis cukup mengisi form singkat, lalu foto produk siap posting langsung jadi. Tidak perlu sewa studio atau fotografer. Untuk video, ada AI Editor. Cukup jelaskan idenya, atau unggah bahan mentah. AI akan merangkainya menjadi video pendek yang rapi, lengkap dengan potongan adegan, teks, dan perpindahan yang halus. Hasilnya langsung siap diunggah. Pekerjaan yang biasanya butuh editor ahli dan berjam-jam kini selesai dalam hitungan menit. Semua konten dibuat dengan gaya brand yang sama. Setelah jadi, konten bisa langsung diposting ke Instagram dari satu layar. Media sosial lain akan menyusul secara bertahap.

Terbukti di Lapangan

Mada, pemilik bakery: “Order yang masuk dari WA sekarang kerekam rapi, nggak ada yang lupa di-follow up. Di tanggal-tanggal ramai pun pelanggan tetap ngerasa diurus. Itu yang bikin mereka balik lagi.”

Haekal, pemilik restoran dengan sistem reservasi: “Yang paling kerasa buat kami kecepatannya. Pelanggan nanya jam buka atau ketersediaan meja, langsung dibales saat itu juga, nggak perlu nunggu staf senggang dulu. Tim jadi bisa fokus ngurus tamu yang lagi makan di tempat.”

Terjangkau dan Indonesia-First

Spicelab dibuat dengan memahami cara pelanggan Indonesia berbelanja dan berkomunikasi. Salah satunya, Spicelab terhubung langsung dengan WhatsApp Business. Harganya diklaim 5 sampai 10 kali lebih murah dibanding layanan sejenis dari luar negeri. AI-nya dibuat untuk mengerti bahasa dan kebiasaan orang Indonesia. Keamanan dan privasi data pengguna tetap dijaga.

Coba Gratis 7 Hari

Spicelab.ai bisa dicoba gratis selama 7 hari tanpa kartu kredit. Cukup registrasi di spicelab.ai untuk mulai mencoba fitur inti Spicelab. Platform ini cocok untuk berbagai sektor, mulai dari F&B, retail, e-commerce, properti, pendidikan, hingga jasa profesional.

Informasi lengkap tentang fitur, harga, dan uji coba gratis tersedia di situs resmi Spicelab di https://spicelab.ai.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Peringatan Bos AI Guncang Pasar, Investor Mulai Waspadai Saham Teknologi

Perkembangan industri kecerdasan buatan (AI) kembali menjadi perhatian pasar setelah sejumlah pemimpin perusahaan AI terbesar di dunia mulai menyerukan agar laju pengembangan teknologi tersebut tidak dilakukan tanpa batas. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran investor dan menekan saham-saham yang selama beberapa tahun terakhir menjadi pendorong utama reli sektor teknologi.

CEO Anthropic Dario Amodei menjadi salah satu tokoh yang paling vokal. Ia menyerukan agar industri AI memperlambat pengembangan teknologi frontier untuk memberikan lebih banyak waktu bagi perusahaan, pemerintah, dan peneliti untuk memastikan sistem AI dapat dikembangkan dengan lebih aman. Seruan tersebut kemudian mendapat dukungan dari CEO OpenAI Sam Altman serta Elon Musk.

Situasi ini menjadi perhatian pasar karena Anthropic dan OpenAI merupakan bagian penting dari ekosistem AI yang selama ini mendorong investasi besar-besaran pada chip, pusat data, cloud computing, dan infrastruktur teknologi.

Kekhawatiran Terhadap Perkembangan AI

Dalam pernyataannya, Amodei memperingatkan bahwa kemampuan model AI berkembang sangat cepat dan dapat menimbulkan risiko yang semakin sulit dikendalikan. Ia bahkan memperingatkan bahwa sistem AI dapat memperoleh kemampuan untuk mengambil alih aktivitas internet dalam waktu relatif singkat apabila perkembangannya tidak dikelola dengan baik.

Anthropic kemudian mendorong pendekatan yang lebih terkoordinasi untuk mengembangkan teknologi AI. Salah satu gagasannya adalah meningkatkan pengawasan independen dan evaluasi keamanan terhadap model AI sebelum teknologi tersebut dikembangkan lebih jauh.

Sam Altman juga menyatakan dukungan terhadap gagasan tersebut. CEO OpenAI itu mengatakan bahwa pengembangan AI perlu dilakukan dengan ritme yang lebih terukur dan menyambut ide penggunaan evaluator independen yang memiliki akses cukup untuk menilai keamanan model.

Pernyataan dari dua perusahaan AI terkemuka ini menjadi penting karena selama beberapa tahun terakhir industri teknologi justru berlomba meningkatkan kemampuan model AI secepat mungkin.

Saham AI Mulai Tertekan

Kekhawatiran mengenai kemungkinan perlambatan perkembangan AI langsung berdampak terhadap sentimen pasar. Saham perusahaan yang memiliki keterkaitan erat dengan AI dan infrastruktur pusat data mengalami tekanan di sejumlah pasar global.

Di Asia, SoftBank menjadi salah satu saham yang mengalami penurunan tajam dengan koreksi sekitar 13,2%. Saham perusahaan semikonduktor seperti Kioxia dan SK Hynix juga ikut tertekan. Di Eropa, ASML turun sekitar 4%, sementara saham teknologi global secara umum mengalami pelemahan.

Tekanan tersebut menunjukkan bahwa investor tidak hanya memperhatikan perusahaan pembuat model AI, tetapi juga seluruh rantai pasok yang mendapatkan manfaat dari meningkatnya investasi AI.

Selama ini, perkembangan AI telah menjadi salah satu alasan perusahaan teknologi dan cloud meningkatkan belanja modal untuk membeli chip, membangun pusat data, serta memperluas kapasitas komputasi. Jika perkembangan AI melambat, investor mulai mempertanyakan apakah tingkat investasi tersebut masih dapat menghasilkan keuntungan sesuai ekspektasi.

Ancaman bagi “AI Trade”

Fenomena tersebut berpotensi mengubah apa yang selama ini dikenal sebagai AI trade di pasar saham.

Investor sebelumnya banyak membeli saham perusahaan yang dianggap akan menjadi penerima manfaat dari ledakan AI. Nvidia menjadi salah satu contoh utama karena chip GPU perusahaan digunakan secara luas untuk menjalankan dan melatih model AI. Perusahaan cloud, pusat data, produsen memori, hingga pemasok energi juga ikut mendapatkan sentimen positif dari meningkatnya kebutuhan komputasi.

Namun, apabila pengembangan AI mulai diperlambat karena alasan keamanan, regulasi, atau keterbatasan infrastruktur, asumsi pertumbuhan yang sangat agresif dapat kembali dipertanyakan.

Investor kini perlu melihat apakah investasi AI yang sangat besar benar-benar dapat menghasilkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang sebanding. Kekhawatiran tersebut semakin relevan karena pembangunan infrastruktur AI membutuhkan modal dalam jumlah sangat besar.

Bukan Berarti AI Akan Berhenti

Meski demikian, seruan untuk memperlambat pengembangan AI tidak berarti industri tersebut akan berhenti berkembang. Justru, pendekatan yang lebih hati-hati dapat menjadi upaya untuk membuat pertumbuhan AI lebih berkelanjutan dalam jangka panjang.

Anthropic sendiri masih memiliki prospek bisnis yang kuat dan tengah mempersiapkan rencana penawaran umum perdana atau IPO di Nasdaq. Perusahaan tersebut juga telah mencatat beberapa kuartal dengan profitabilitas yang meningkat.

Di sisi lain, OpenAI terus mengembangkan berbagai produk dan layanan AI untuk konsumen maupun perusahaan. Dengan demikian, fokus pasar kemungkinan akan bergeser dari sekadar seberapa cepat kemampuan AI berkembang menjadi seberapa aman, efisien, dan menguntungkan teknologi tersebut dapat diterapkan.

Apa Artinya bagi Investor?

Perubahan sentimen ini menjadi pengingat bahwa tren besar di pasar saham tetap memiliki risiko. Perusahaan yang berada di pusat perkembangan AI memang memiliki potensi pertumbuhan besar, tetapi valuasi saham juga sangat bergantung pada ekspektasi investor terhadap pertumbuhan tersebut.

Jika ekspektasi berubah, harga saham dapat ikut bergerak meskipun fundamental perusahaan belum mengalami perubahan besar.

Karena itu, investor perlu memperhatikan tidak hanya perkembangan teknologi, tetapi juga regulasi, belanja modal perusahaan, permintaan chip, pembangunan data center, serta kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari investasi AI.

Pergerakan Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, dan Emas Digital saat ini bisa kamu cek di aplikasi Nanovest. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Saham AS, Nanovest dapat menjadi pilihan untuk mulai berinvestasi sekaligus mengeksplorasi berbagai koin kripto lainnya.

Nanovest merupakan aplikasi investasi saham dan kripto yang dapat menjadi pilihan bagi investor di Indonesia. Bagi investor yang baru ingin memulai berinvestasi, kamu juga tidak perlu khawatir karena Nanovest memiliki perlindungan dari risiko cybercrime dengan Asuransi Sinarmas.

Nanovest berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Informasi lebih lanjut dapat kamu kunjungi melalui website Nanovest. Aplikasi Nanovest juga sudah tersedia di Play Store maupun App Store.

Dengan munculnya peringatan dari para pemimpin industri AI, investor kini memiliki alasan baru untuk melihat kembali prospek saham teknologi. Perlombaan AI kemungkinan masih akan berlanjut, tetapi pertanyaannya bukan lagi hanya siapa yang dapat mengembangkan AI paling cepat, melainkan siapa yang mampu melakukannya secara aman, efisien, dan menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Cara Mengelola Tagihan Kartu Kredit agar Keuangan Tetap Terkontrol

Menggunakan kartu kredit bisa membantu saat kamu membutuhkan metode pembayaran yang praktis. Namun, kemudahan transaksi juga perlu diikuti dengan pengelolaan tagihan yang baik.

Kalau tidak diperhatikan, tagihan kartu kredit bisa menumpuk dan membuat pengeluaran bulanan sulit dikendalikan. Karena itu, penting untuk memahami cara mengatur penggunaan kartu kredit, mengecek tagihan secara rutin, dan membayar sesuai ketentuan yang berlaku.

Berikut beberapa cara mengelola tagihan kartu kredit yang bisa kamu terapkan.

1. Cek Tagihan Kartu Kredit Secara Rutin

Langkah pertama adalah mengetahui berapa tagihan yang harus dibayarkan. Jangan hanya mengandalkan ingatan setelah melakukan transaksi.

Periksa rincian transaksi, total tagihan, tanggal cetak tagihan, serta tanggal jatuh tempo. Dengan begitu, kamu bisa mengetahui kewajiban pembayaran dan menyiapkan dana lebih awal.

Mengecek tagihan secara rutin juga membantu kamu menemukan transaksi yang tidak dikenali atau kesalahan pencatatan lebih cepat.

2. Ketahui Tanggal Jatuh Tempo

Setiap kartu kredit memiliki tanggal jatuh tempo pembayaran. Pastikan kamu mengetahui tanggal tersebut dan memberikan jeda waktu yang cukup sebelum melakukan pembayaran.

Membayar sebelum jatuh tempo dapat membantu menghindari konsekuensi yang mungkin timbul akibat keterlambatan sesuai ketentuan penerbit kartu kredit.

Kamu juga bisa membuat pengingat pembayaran melalui kalender atau aplikasi agar tidak melewatkan tanggal yang sudah ditentukan.

3. Bayar Tagihan Sesuai Kemampuan

Sebelum menggunakan kartu kredit, pastikan transaksi yang dilakukan sesuai dengan kemampuan keuangan.

Saat tagihan diterbitkan, prioritaskan pembayaran sesuai ketentuan kartu kredit yang kamu gunakan. Jika memungkinkan, lunasi tagihan sesuai jumlah yang tercantum agar kewajiban tidak terus terbawa ke periode berikutnya.

Perhatikan juga bunga, biaya, atau ketentuan lain yang dapat berlaku apabila pembayaran tidak dilakukan sesuai ketentuan.

4. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan

Kartu kredit membuat transaksi menjadi lebih mudah, tetapi kemudahan tersebut tidak berarti tambahan kemampuan untuk berbelanja.

Sebelum melakukan transaksi, tanyakan kembali apakah pengeluaran tersebut memang dibutuhkan dan apakah kamu sudah menyiapkan dana untuk membayar tagihannya.

Kamu juga bisa menetapkan batas pengeluaran kartu kredit setiap bulan. Cara ini membantu menjaga penggunaan kartu tetap sesuai dengan anggaran yang sudah dibuat.

5. Catat Semua Transaksi Kartu Kredit

Mencatat transaksi dapat membantu kamu mengetahui ke mana uang digunakan. Tidak perlu menunggu tagihan keluar untuk melihat total pengeluaran.

Buat kategori sederhana seperti kebutuhan rumah tangga, transportasi, makan, hiburan, dan kebutuhan lainnya. Dari catatan tersebut, kamu bisa melihat pola pengeluaran dan menentukan bagian mana yang perlu dikurangi.

Cara ini juga membantu menghindari kondisi ketika jumlah transaksi kecil yang dilakukan berkali-kali akhirnya menghasilkan tagihan yang besar.

6. Jangan Mengabaikan Tagihan yang Belum Terbayar

Jika masih ada tagihan dari periode sebelumnya, perhatikan jumlah kewajiban yang harus diselesaikan dan ketentuan yang berlaku pada kartu kredit tersebut.

Hindari menambah transaksi tanpa memperhitungkan kemampuan membayar seluruh kewajiban. Semakin besar saldo tagihan yang dibawa ke periode berikutnya, semakin penting untuk membuat perencanaan pembayaran yang realistis.

Bayar Tagihan Kartu Kredit Lebih Praktis di neobank

Setelah mengetahui jumlah dan tanggal jatuh tempo, kamu bisa memilih metode pembayaran yang praktis. Saat ini, tagihan kartu kredit juga dapat dibayar secara online melalui layanan perbankan digital, sehingga kamu tidak harus datang langsung ke lokasi pembayaran.

Melalui Fitur Tagihan dan Isi Ulang pembayaran kartu kredit di aplikasi neobank dari Bank Neo Commerce, kamu dapat melakukan pembayaran tagihan kartu kredit secara digital sesuai fitur dan ketentuan yang tersedia.

Sebelum melakukan pembayaran, pastikan nomor kartu atau data yang diperlukan sudah benar. Periksa kembali nama, nominal tagihan, dan detail transaksi sebelum melakukan konfirmasi pembayaran.

Dengan membiasakan diri mengecek tagihan, mencatat transaksi, memperhatikan tanggal jatuh tempo, dan menyesuaikan penggunaan kartu dengan kemampuan keuangan, pengelolaan kartu kredit dapat menjadi lebih teratur.

***

Jika ingin membayar tagihan dan isi ulang unduh aplikasi neobank melalui PlayStore atau App Store. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi halaman Tagihan dan Isi Ulang di website resmi Bank Neo Commerce. 

PT Bank Neo Commerce Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), serta merupakan peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Tindak Tegas Pelanggaran Etika di Maros, Elnusa Petrofin Pastikan Distribusi BBM Tetap Aman

PT Elnusa Petrofin mengambil langkah cepat dan tegas menyikapi beredarnya pemberitaan serta video di media sosial terkait tindakan indisipliner Awak Mobil Tangki (AMT) di wilayah Maros, Sulawesi Selatan. Perusahaan menegaskan bahwa oknum berinisial RE tersebut bukan merupakan karyawan langsung, melainkan tenaga kerja alih daya (outsourcing) dari mitra penyedia jasa, PT Alam Insan Fortuna. Oknum terkait kini telah dikembalikan kepada pihak penyedia jasa dan dijatuhi sanksi tegas berupa Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) guna menjamin profesionalisme dan keandalan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) kepada masyarakat.

MAKASSAR, 14 September 2026 — PT Elnusa Petrofin mengambil langkah cepat
dan tegas menyikapi beredarnya pemberitaan serta video di media sosial terkait
tindakan indisipliner Awak Mobil Tangki (AMT) di wilayah Maros, Sulawesi
Selatan. Perusahaan menegaskan bahwa oknum berinisial RE tersebut bukan
merupakan karyawan langsung, melainkan tenaga kerja alih daya (outsourcing)
dari mitra penyedia jasa, PT Alam Insan Fortuna. Oknum terkait kini telah
dikembalikan kepada pihak penyedia jasa dan dijatuhi sanksi tegas berupa
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) guna menjamin profesionalisme dan keandalan
distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) kepada masyarakat.

Manager Corporate Communication &
Relation PT Elnusa Petrofin, Putiarsa Bagus Wibowo, mewakili manajemen
menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat dan mitra kerja atas
ketidaknyamanan yang timbul akibat peristiwa tersebut.

“Kami memastikan bahwa insiden ini telah
ditangani dengan cepat. Fokus utama kami adalah pelayanan publik, dan kami
menjamin seluruh proses distribusi pasokan energi di wilayah terkait tetap
dalam kondisi aman, terkendali, dan berjalan lancar,” ujarnya melalui
keterangan tertulis, Senin (14/9/2026).

Lebih lanjut mengenai status ketenagakerjaan
oknum AMT tersebut, proses sanksi telah dijalankan secara prosedural oleh PT
Alam Insan Fortuna selaku instansi yang menaungi yang bersangkutan. Sanksi PHK
tersebut resmi diberlakukan pada 14 September 2026. Dalam hal ini, Elnusa
Petrofin juga memastikan mitra kerjanya telah menuntaskan seluruh kewajiban dan
hak ketenagakerjaan oknum bersangkutan sejalan dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

Kasus ini menjadi catatan penting bagi
perusahaan dalam menjaga standar operasional di lapangan. Putiarsa menegaskan
komitmen perusahaan terhadap integritas dan profesionalisme kerja.

“Elnusa Petrofin tidak menoleransi
segala bentuk pelanggaran operasional maupun etika dari seluruh personel.
Sebagai langkah antisipatif, kami terus melakukan evaluasi dan memperketat
pengawasan terhadap seluruh mitra penyedia jasa tenaga kerja. Hal ini mutlak
dilakukan guna memastikan profesionalisme layanan dan kelancaran distribusi
energi nasional senantiasa terjaga,” tutupnya.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Hampir 23 Juta Investor Kripto, Indonesia Siap Jadi Pemain Global?

Jakarta, 14 September 2026 — Indonesia telah memiliki hampir 23 juta akun konsumen aset kripto, dua bursa berizin, hingga puluhan pelaku industri resmi. Namun, besarnya pasar domestik dinilai belum otomatis membuat Indonesia mampu menjadi pusat industri kripto di tingkat global.

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai tantangan Indonesia kini mulai bergeser. Setelah fondasi regulasi semakin terbentuk, pekerjaan berikutnya adalah membangun pasar yang lebih dalam, kompetitif, inovatif, serta mampu menarik likuiditas dan pelaku dari luar negeri.

“Indonesia sudah punya modal yang sangat besar dari sisi jumlah pengguna dan kerangka regulasi. Tetapi menjadi pasar besar berbeda dengan menjadi pusat kripto global. Tahap berikutnya adalah bagaimana kita menciptakan produk yang kompetitif, likuiditas yang kuat, dan ekosistem yang membuat pemain global ingin beraktivitas dari Indonesia,” kata Yudho.

Pernyataan tersebut muncul di tengah diskusi mengenai daya saing industri kripto nasional. Sebelumnya, para pelaku usaha di industri menyoroti struktur perpajakan serta keterbatasan akses pengguna asing sebagai dua tantangan bagi exchange Indonesia untuk bersaing secara global.

Saat ini, transaksi melalui Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) domestik dikenakan PPh Pasal 22 final sebesar 0,21% dari nilai transaksi. Sementara transaksi melalui penyelenggara yang bukan PAKD dalam negeri dikenakan tarif 1%, sesuai PMK Nomor 50 Tahun 2025.

Punya 22,93 Juta Konsumen Belum Cukup

Secara skala, pasar Indonesia memiliki modal besar. Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan jumlah akun konsumen pada Pedagang Aset Keuangan Digital mencapai 22,93 juta akun per Juli 2026, naik 1,03% dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 22,69 juta akun.

Namun, pertumbuhan pengguna belum sepenuhnya diikuti peningkatan aktivitas transaksi. Nilai transaksi kripto, seperti BItcoin (BTC) pada Juli tercatat Rp20,52 triliun, turun 28,2% dari Rp28,58 triliun pada Juni. Transaksi derivatif aset keuangan digital juga turun 18,53% menjadi Rp3,41 triliun dari Rp4,19 triliun.

Menurut Yudho, data tersebut menunjukkan ukuran basis pengguna memang penting, tetapi kualitas dan kedalaman aktivitas pasar menjadi indikator berikutnya yang perlu diperhatikan.

“Kalau hanya melihat jumlah akun, Indonesia jelas merupakan pasar yang sangat menarik. Tetapi untuk menjadi hub, kita juga perlu melihat seberapa aktif pengguna bertransaksi, seberapa dalam likuiditasnya, seberapa beragam produknya, dan apakah ekosistem kita mampu menarik aktivitas dari luar Indonesia,” jelasnya.

Ia menilai Indonesia perlu menghindari kondisi di mana memiliki jutaan investor, tetapi sebagian besar likuiditas dan inovasi produk justru berkembang di yurisdiksi lain.

Regulasi Masuk Babak Baru

Dari sisi infrastruktur, perkembangan industri menunjukkan kemajuan signifikan. Hingga Juli 2026, Indonesia telah memiliki dua bursa kripto, yakni CFX dan ICEx. OJK juga telah memberikan izin kepada 33 entitas dalam ekosistem perdagangan aset kripto, terdiri dari dua bursa, dua lembaga kliring, dua kustodian, dan 27 Pedagang Aset Keuangan Digital.

Perkembangan berikutnya bahkan mulai bergerak melampaui aktivitas jual-beli kripto konvensional.

Hingga Agustus 2026, tujuh peserta regulatory sandbox OJK telah dinyatakan lulus dengan model bisnis yang mencakup tokenisasi emas, tokenisasi surat berharga, tokenisasi manfaat kepemilikan properti, penerbitan stablecoin Rupiah, kustodian aset keuangan digital non-perdagangan hingga manajer dana kripto.

Yudho menilai perkembangan tersebut menjadi sinyal bahwa fase selanjutnya industri aset digital Indonesia berpotensi bergeser dari sekadar perdagangan kripto menuju ekosistem keuangan berbasis blockchain yang lebih luas.

“Ini justru peluang besarnya. Kalau lima atau enam tahun lalu pembahasannya masih soal Bitcoin dan exchange, sekarang kita sudah bicara tokenisasi aset, stablecoin, kustodian sampai pengelolaan dana kripto. Indonesia punya kesempatan untuk ikut menentukan bentuk industri aset digital generasi berikutnya, bukan hanya menjadi konsumen produk dari luar,” ujarnya Yudho.

Persaingan Bukan Lagi Hanya Antar-Exchange

Menurut Yudho, persaingan ke depan juga tidak lagi sebatas antar platform kripto lokal. Indonesia akan berhadapan dengan yurisdiksi lain yang sama-sama berupaya menarik perusahaan, pengembang, investor institusi, hingga likuiditas global.

Karena itu, regulasi yang kuat perlu berjalan beriringan dengan kemudahan inovasi dan daya saing biaya.

“Regulasi dan perlindungan konsumen tetap harus menjadi fondasi. Tetapi setelah fondasinya kuat, pertanyaannya adalah apakah perusahaan Indonesia punya ruang yang cukup untuk berinovasi dan menawarkan produk yang bisa bersaing dengan platform global,” ucapnya.

Ia menambahkan, akses terhadap investor internasional juga menjadi elemen penting jika Indonesia ingin bergerak dari pasar domestik besar menjadi pusat aktivitas aset digital regional.

Menurut Yudho, ukuran keberhasilan industri ke depan tidak cukup hanya dilihat dari pertumbuhan jumlah investor dalam negeri, tetapi juga dari kemampuan Indonesia menciptakan produk, teknologi, dan likuiditas yang digunakan oleh pasar yang lebih luas.

“Indonesia tidak kekurangan pengguna. Yang perlu kita bangun berikutnya adalah alasan mengapa modal, talenta, perusahaan, dan likuiditas global memilih masuk dan tetap berada di Indonesia. Kalau itu bisa diwujudkan, peluang Indonesia menjadi salah satu pusat aset digital di kawasan sangat terbuka,” pungkasnya.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES