Hunian Semakin Dinamis, BRI Finance Hadirkan Solusi Dana Tunai untuk Kebutuhan Renovasi Rumah

Jakarta, 4 Juni 2026 – Peran rumah dalam kehidupan masyarakat terus berkembang seiring perubahan pola aktivitas dan gaya hidup. Tidak lagi sekadar menjadi tempat tinggal, rumah kini juga berfungsi sebagai ruang kerja, area belajar, hingga pusat aktivitas keluarga. Kondisi tersebut mendorong banyak masyarakat untuk melakukan penyesuaian dan peningkatan kualitas hunian agar tetap nyaman dan sesuai dengan kebutuhan yang terus berubah.

Di tengah kenaikan harga properti dan tingginya biaya kepemilikan rumah baru, renovasi menjadi alternatif yang semakin diminati. Selain lebih efisien dari sisi biaya, renovasi memungkinkan pemilik rumah mengoptimalkan fungsi ruang yang sudah dimiliki tanpa harus berpindah lokasi. Kebutuhan akan ruang kerja yang lebih nyaman, penambahan area keluarga, maupun perbaikan fasilitas rumah menjadi beberapa faktor yang mendorong meningkatnya aktivitas renovasi.

Meski demikian, renovasi rumah memerlukan dukungan perencanaan keuangan yang matang. Biaya renovasi dapat bervariasi, mulai dari puluhan juta hingga ratusan juta rupiah, tergantung pada skala pekerjaan dan spesifikasi yang diinginkan. Karena itu, akses terhadap pembiayaan yang fleksibel menjadi salah satu pertimbangan penting bagi masyarakat dalam merealisasikan rencana renovasi.

Melihat kebutuhan tersebut, PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) menghadirkan BRI Flash, produk dana tunai dengan jaminan BPKB kendaraan yang dirancang untuk memberikan kemudahan akses pembiayaan bagi berbagai kebutuhan produktif maupun konsumtif, termasuk renovasi rumah.

Melalui BRI Flash, masyarakat dapat memperoleh fasilitas pembiayaan dengan suku bunga mulai dari 0,7% per bulan, tenor hingga 4 tahun, serta plafon pembiayaan hingga 90% dari nilai kendaraan yang dijaminkan. Proses pengajuan yang cepat dan fleksibel diharapkan dapat membantu masyarakat merealisasikan kebutuhan renovasi tanpa harus mengganggu arus kas maupun perencanaan keuangan jangka panjang.

Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengatakan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap hunian yang nyaman dan fungsional terus meningkat seiring perubahan gaya hidup dan aktivitas sehari-hari.

“Rumah saat ini memiliki fungsi yang semakin beragam. Karena itu, kebutuhan renovasi menjadi semakin relevan bagi banyak keluarga. BRI Finance berupaya menghadirkan akses pembiayaan yang mudah, cepat, dan fleksibel agar masyarakat dapat mewujudkan rencana renovasi dengan tetap menjaga kondisi keuangan yang sehat dan terukur,” ujar Dhani.

Sejalan dengan komitmennya dalam menjalankan bisnis yang berkelanjutan, BRI Finance senantiasa menerapkan prinsip kehati-hatian serta pengelolaan risiko yang disiplin dalam setiap penyaluran pembiayaan. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas aset perusahaan sekaligus memastikan pertumbuhan bisnis yang sehat dalam jangka panjang.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Perjalanan Keluarga Jadi Lebih Nyaman, BRI Finance Hadirkan Pembiayaan Mobil Baru dengan Bunga Mulai 3,97%

Jakarta, 3 Juni 2026 – Di tengah mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, kendaraan pribadi masih menjadi pilihan utama untuk mendukung kenyamanan perjalanan bersama keluarga. Mulai dari aktivitas sehari-hari, perjalanan akhir pekan, hingga momen liburan, kebutuhan akan kendaraan yang nyaman dan fleksibel tetap menjadi bagian penting dalam menunjang kualitas waktu bersama keluarga.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat penjualan mobil nasional mencapai 374.740 unit sampai pada semester I 2025. Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap kendaraan roda empat masih terjaga di tengah berbagai dinamika ekonomi yang berlangsung sepanjang tahun ini.

Melihat kebutuhan tersebut, PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) menghadirkan program pembiayaan mobil baru dengan penawaran bunga kompetitif mulai dari 3,97% flat per tahun dan tenor hingga 5 tahun, sehingga masyarakat dapat lebih mudah mewujudkan kendaraan impian untuk mendukung mobilitas keluarga.

Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengatakan bahwa kendaraan pribadi saat ini tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup dan kebutuhan keluarga modern yang mengutamakan kenyamanan, keamanan, serta fleksibilitas dalam beraktivitas.

“Kami melihat kebutuhan masyarakat terhadap kendaraan pribadi masih cukup kuat karena mobil menjadi salah satu sarana penting dalam mendukung mobilitas sehari-hari maupun perjalanan bersama keluarga. BRI Finance ingin memberikan solusi pembiayaan yang kompetitif dan terjangkau agar masyarakat dapat memiliki kendaraan sesuai kebutuhan dan kemampuan finansialnya,” ujar Dhani.

Melalui program KKB ini, nasabah dapat mengajukan pembiayaan untuk berbagai merek dan tipe mobil baru dengan proses yang mudah dan cepat. Penawaran bunga kompetitif tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh skema pembiayaan yang lebih ringan dan terencana.

Sebagai perusahaan pembiayaan yang terus berfokus pada kebutuhan nasabah, BRI Finance juga menghadirkan kemudahan pengajuan secara digital melalui BRIFlash, sehingga proses pengajuan pembiayaan dapat dilakukan dengan lebih praktis dan efisien. Masyarakat yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai program pembiayaan mobil baru BRI Finance dapat mengunjungi briflash.brifinance.co.id atau menghubungi Official WhatsApp BRI Finance di (+62) 811-1937-0838.

Melalui berbagai solusi pembiayaan yang inovatif dan kompetitif, BRI Finance berkomitmen untuk terus mendukung kebutuhan mobilitas masyarakat Indonesia sekaligus membantu mewujudkan perjalanan keluarga yang lebih nyaman dan berkesan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

PalmCo, Subholding Perkebunan Nusantara Siapkan Proyek Percontohan Kedelai untuk Dukung Target Swasembada Pangan

Jakarta — Upaya pemerintah mempercepat swasembada pangan nasional terus mendapat dukungan dari sektor perkebunan. Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui PTPN IV PalmCo menyiapkan proyek percontohan pengembangan kedelai di sejumlah wilayah potensial sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan nasional.

Rencana tersebut disampaikan Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K Santosa saat mengunjungi sentra produksi kedelai di Desa Ngudikan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Kamis (15/5/2026). Kunjungan berlangsung di tengah panen raya kedelai nasional yang turut dihadiri Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dan Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto.

Di hamparan lahan kedelai yang mulai dipanen petani tersebut, Jatmiko mengatakan perusahaan mulai memetakan peluang pengembangan kedelai secara lebih serius. Menurut dia, kedelai memiliki posisi strategis karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pangan masyarakat sehari-hari.

“Kedelai bukan sekadar komoditas pertanian, tetapi bagian dari stabilitas pangan masyarakat karena menjadi bahan baku utama tahu dan tempe. Karena itu kami mulai melihat peluang pengembangannya secara jangka panjang,” ujar Jatmiko.

Ia menilai langkah diversifikasi ke sektor pangan juga sejalan dengan agenda pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah tingginya ketergantungan impor kedelai.

Kebutuhan kedelai nasional saat ini diperkirakan mencapai 2,6 juta hingga 2,7 juta ton per tahun. Namun, produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut sehingga sebagian besar pasokan masih berasal dari impor. Dalam beberapa tahun terakhir, luas panen kedelai nasional juga terus menyusut akibat peralihan lahan dan rendahnya minat petani.

Pemerintah kini mulai mendorong peningkatan produksi melalui perluasan areal tanam, penyediaan benih unggul, hingga kolaborasi lintas sektor bersama pemerintah daerah dan TNI.

Kabupaten Nganjuk menjadi salah satu daerah yang dinilai potensial dalam pengembangan kedelai nasional. Berdasarkan hasil peninjauan PalmCo, pola tanam petani di Desa Ngudikan tergolong produktif dengan kombinasi satu musim padi, satu musim kedelai, dan dua musim bawang merah dalam setahun.

Dukungan irigasi, kondisi lahan yang relatif datar, serta kelembagaan petani yang kuat membuat produktivitas kedelai di wilayah tersebut mampu mencapai 1,7 hingga 2,1 ton per hektare. Bahkan, melalui penerapan teknologi organik dan prebiotik, hasil panen disebut berpotensi meningkat hingga 3,5 ton per hektare.

Menurut Jatmiko, pengalaman budidaya di Nganjuk menjadi referensi penting bagi PalmCo sebelum menjalankan proyek percontohan di wilayah perkebunan perusahaan.

Saat ini perusahaan mulai melakukan kajian kesesuaian areal untuk memastikan lahan yang akan digunakan memenuhi aspek agronomis, mulai dari kondisi tanah, ketersediaan air, topografi, hingga faktor iklim. “Kami ingin memastikan pengembangannya berjalan optimal dan berkelanjutan. Karena itu seluruh aspek teknis harus dipetakan terlebih dahulu,” katanya.

Tahap awal proyek akan dilakukan di sejumlah areal terpilih sebelum diperluas secara bertahap. Beberapa wilayah di Sumatera seperti Langkat, Deli Serdang, Pasaman, dan Banyuasin mulai masuk dalam pemetaan awal karena dinilai memiliki karakter agroklimat yang sesuai untuk pengembangan kedelai.

PalmCo berharap pengembangan kedelai tidak hanya berkontribusi memperkuat pasokan pangan nasional, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di sekitar kawasan perkebunan melalui pola kemitraan dan kolaborasi bersama petani.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Sentuhan Premium dalam Material Finishing Interior

Dalam desain interior modern, detail kecil sering kali menjadi elemen yang paling menentukan karakter sebuah ruang. Tidak hanya soal tata letak furniture atau pemilihan warna dinding, material finishing juga memegang peranan penting dalam membangun suasana yang diinginkan. Permukaan pada dinding, kabinet, meja, hingga panel dekoratif bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari pengalaman visual dan sentuhan yang dirasakan setiap hari dan harus diperhatikan secara seksama pemilihannya.

Saat ini, tren interior bergerak ke arah desain yang lebih personal, hangat, dan berkelas. Banyak orang mulai mencari material yang tidak hanya terlihat indah, tetapi juga mampu menghadirkan kenyamanan serta nilai estetika yang bertahan lama. Inilah alasan mengapa pemilihan material finishing menjadi keputusan yang semakin penting dalam sebuah proyek interior.

Material finishing premium umumnya dipilih karena mampu menghadirkan kesan elegan tanpa terlihat berlebihan. Tekstur yang tepat dapat menciptakan kedalaman visual, sementara kualitas permukaan yang baik akan memberikan pengalaman sentuhan yang lebih menyenangkan. Ketika keduanya berpadu, sebuah ruang dapat terasa jauh lebih hidup dan berkarakter.

Selain tampilan, aspek fungsional juga menjadi perhatian utama. Dalam penggunaan sehari-hari, permukaan interior sering bersentuhan langsung dengan aktivitas penghuni—mulai dari pintu kabinet yang dibuka-tutup, meja kerja yang digunakan setiap hari, hingga panel dinding yang menjadi titik fokus ruangan. Karena itu, material yang ideal adalah material yang mampu menjaga tampilannya tetap prima, mudah dirawat, dan tetap relevan dalam jangka panjang.

Salah satu elemen yang kini banyak dicari dalam material finishing adalah kemampuan menjaga kebersihan permukaan. Pada interior modern, khususnya dengan dominasi warna netral atau gelap, bekas sidik jari sering kali menjadi masalah kecil yang cukup mengganggu estetika. Material dengan perlindungan permukaan yang baik tentu memberikan nilai tambah karena membantu menjaga tampilan ruang tetap rapi dan elegan lebih lama.

 

Di sisi lain, tren desain juga menunjukkan meningkatnya minat terhadap material yang menghadirkan nuansa alami. Motif kayu, batu, atau tekstur organik lainnya tetap menjadi favorit karena mampu menciptakan suasana hangat dan timeless. Namun, kini kebutuhan tidak berhenti pada tampilan visual saja. Banyak desainer dan pemilik ruang mulai menginginkan pengalaman yang lebih autentik—ketika tekstur yang disentuh benar-benar terasa selaras dengan motif yang dilihat.

“Pengguna sering kali dihadapkan pada pilihan yang mengharuskan untuk memilih keunggulan produk, entah itu keunggulan visual dan estetika, rasa premium dalam sentuhan maupun pertimbangan harga produk itu sendiri. Sulit mendapatkan yang seimbang antara ketiganya.” Ujar Kevin Octavius, Sales and Marketing Manager AICA Indonesia.

Inovasi seperti inilah yang harus mengubah cara kita memandang material finishing. Bukan lagi sekadar lapisan pelindung atau elemen dekoratif, tetapi bagian penting dari pengalaman ruang secara menyeluruh. Material yang baik mampu menghadirkan keseimbangan antara estetika, kenyamanan, dan fungsi, sehingga setiap detail terasa lebih bermakna.

Pada akhirnya, memilih material finishing premium adalah tentang menciptakan ruang yang dapat dinikmati dalam jangka panjang—ruang yang tidak hanya indah hari ini, tetapi tetap relevan dan nyaman bertahun-tahun ke depan.

“Dunia desain interior terus bergerak, seiring dengan itu produk-produk finishing pendukungnya pun terus menghadirkan inovasi. AICA menghadirkan inovasi terbaru untuk memperkaya pengalaman visual dan sentuhan dalam finishing interior anda melalui HPL Celsus LUX.” Tutup Kevin.

Bagi Anda yang sedang mencari material finishing interior dengan sentuhan premium, inovasi seperti AICA Celsus LUX dari AICA Indonesia dapat menjadi salah satu pilihan menarik. Dengan teknologi anti-fingerprint untuk menjaga permukaan tetap bersih serta synchronize pattern yang menghadirkan tekstur selaras dengan motifnya, material ini dirancang untuk memberikan pengalaman interior yang lebih elegan, autentik, dan modern.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Apakah Bayi Perlu Sunscreen? Ini Penjelasan untuk Orang Tua

Sebagai orang tua, kita sering fokus melindungi bayi dari udara dingin, nyamuk, atau makanan yang belum boleh dikonsumsi. Tapi bagaimana dengan sinar matahari? Apakah bayi pakai sunscreen itu perlu? Atau justru belum boleh?

Pertanyaan ini sering muncul, terutama saat mom and dad ingin mengajak si kecil jalan pagi, liburan, atau sekadar bermain di teras rumah. Faktanya, kulit bayi jauh lebih sensitif dibandingkan kulit orang dewasa.

Paparan sinar matahari yang berlebihan bisa membuat kulit bayi lebih mudah kemerahan, kering, bahkan iritasi. Karena itu, memahami penggunaan sunscreen bayi menjadi hal penting dalam rutinitas perawatan si kecil.

Bayi Pakai Sunscreen Usia Berapa?

Menurut rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sunscreen aman diberikan pada bayi usia di atas 6 bulan. Namun, ada catatan penting: jenis yang digunakan sebaiknya adalah physical sunscreen yang mengandung titanium dioxide atau zinc oxide, dengan minimal SPF 30, berlabel broad spectrum, dan waterproof.

Kenapa harus physical sunscreen? Karena jenis ini bekerja dengan cara memantulkan sinar matahari (UVA & UVB) dari permukaan kulit, bukan menyerapnya seperti chemical sunscreen. Untuk kulit bayi yang masih berkembang, perlindungan jenis ini dinilai lebih aman dan minim risiko iritasi.

Untuk bayi di bawah 6 bulan, perlindungan utama tetap berupa:

1. Menghindari paparan sinar matahari langsung

2. Menggunakan topi atau pakaian tertutup

3. Berteduh saat matahari sedang terik.

Jadi, kalau si kecil sudah lewat 6 bulan dan mulai aktif diajak keluar rumah, penggunaan sunscreen untuk bayi bisa menjadi bagian penting dari perlindungan hariannya.

Manfaat Sunscreen untuk Bayi

Masih banyak orang tua yang berpikir sunscreen hanya untuk liburan ke pantai. Padahal, paparan sinar UV tetap ada meskipun hanya bermain di halaman rumah atau duduk di stroller saat pagi hari.

Berikut beberapa manfaat sunscreen bayi yang perlu mom and dad ketahui:

1. Melindungi dari Sinar UVA & UVB

Sinar UV dapat merusak lapisan kulit dan memengaruhi skin barrier bayi. Sunscreen membantu memberikan perlindungan tambahan agar kulit tetap sehat.

2. Membantu Mencegah Kulit Kemerahan & Iritasi

Kulit bayi lebih tipis dan sensitif. Tanpa perlindungan, paparan matahari bisa membuat kulit lebih cepat merah atau terasa tidak nyaman.

3. Mendukung Kesehatan Skin Barrier

Sinar matahari berlebih dapat melemahkan lapisan pelindung kulit. Dengan sunscreen yang tepat, fungsi skin barrier bayi tetap terjaga.

4. Perlindungan dari Polusi

Selain UV, polusi udara juga bisa memengaruhi kesehatan kulit. Sunscreen dengan teknologi perlindungan tambahan dapat membantu meminimalkan dampak ini.

Memilih Sunscreen untuk Bayi yang Aman

Karena kulit bayi berbeda dengan orang dewasa, memilih sunscreen untuk bayi tidak bisa sembarangan. Perhatikan beberapa hal berikut:

Mengandung titanium dioxide atau zinc oxide

Minimal SPF 30

Berlabel broad spectrum (UVA & UVB)

Tekstur ringan dan tidak lengket

Bebas dari bahan keras seperti SLS, paraben, dan alkohol

Telah diuji dermatologis dan hypoallergenic

Yang tidak kalah penting, sunscreen bayi sebaiknya nyaman digunakan agar si kecil tidak rewel saat diaplikasikan.

Loluna Baby Sunscreen, Rekomendasi Sunscreen Bayi yang Aman

Sebagai brand skincare bayi pertama dengan 5X Ceramide yang aman untuk newborn, Loluna menghadirkan inovasi perlindungan kulit melalui Face and Body Sunscreen dengan konsep 5X Glowing Suncare.

Loluna memahami bahwa perlindungan bayi bukan hanya dari sinar matahari, tetapi juga dari polusi dan faktor eksternal lainnya. Karena itu, Loluna Baby Sunscreen dirancang dengan complete protection, yaitu:

1. Titanium Dioxide (Direkomendasikan IDAI)

Sebagai physical sunscreen, kandungan ini bekerja dengan memantulkan sinar matahari (UVA & UVB) dari permukaan kulit, membantu melindungi kulit bayi secara lembut.

2. SPF 50 PA++++

Memberikan perlindungan tinggi terhadap paparan sinar UVA dan UVB, terutama saat si kecil beraktivitas di luar ruangan.

3. Pollustop Technology

Membantu melindungi kulit dari paparan polusi udara yang dapat memengaruhi kesehatan skin barrier bayi.

4. 5X Ceramide untuk Skin Barrier Bayi

Tidak hanya melindungi dari luar, Loluna juga membantu mendukung dan menjaga kekuatan skin barrier bayi dengan kandungan 5X Ceramide, sehingga kulit tetap lembap dan nyaman.

5. Tekstur yang Nyaman untuk Bayi

Salah satu tantangan saat bayi pakai sunscreen adalah teksturnya yang kadang lengket atau terasa berat. Loluna Face and Body Sunscreen memiliki tekstur cepat menyerap, tidak lengket dan tidak terasa sumuk di kulit.

Kesimpulan

Jadi, apakah bayi perlu sunscreen? Jawabannya: ya, untuk bayi usia di atas 6 bulan, sesuai rekomendasi IDAI, dengan jenis physical sunscreen yang aman dan tepat.

Melindungi kulit bayi dari sinar matahari bukan hanya soal mencegah kulit gelap atau kemerahan, tetapi tentang menjaga kesehatan skin barrier bayi dalam jangka panjang. Dengan memilih sunscreen bayi yang aman, mom and dad bisa memberikan perlindungan ekstra saat si kecil mulai aktif menjelajahi dunia di luar rumah. Karena bagi Loluna Family, melindungi kulit bayi hari ini adalah bagian dari menjaga kesehatannya untuk masa depan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Rekomendasi IDAI tentang Perlindungan Kulit Bayi dari Sinar Matahari

Menjemur bayi baru lahir sepertinya sudah tidak asing lagi untuk mom yang baru melahirkan. Pasalnya, di Indonesia kegiatan ini dipercaya dapat membantu memenuhi kebutuhan vitamin D si kecil. Biasanya bayi dijemur di pagi hari, sekitar pukul 07.00–09.00, dengan harapan mendapat manfaat sinar matahari yang cukup.

Tapi di sisi lain, menjemur bayi artinya kulit bayi terpapar langsung oleh sinar matahari. Padahal, kulit bayi baru lahir masih sangat tipis dan sensitif. Lalu, bagaimana sebenarnya perlindungan kulit bayi yang tepat menurut medis? Dan bagaimana rekomendasi IDAI sunscreen bayi yang aman?

Kenapa Kulit Bayi Perlu Perlindungan Ekstra?

Kulit bayi berbeda dengan kulit orang dewasa. Lapisan pelindungnya (skin barrier) masih berkembang sehingga lebih rentan terhadap:
1. Kemerahan
2. Kulit kering
3. Iritasi ringan
4. Sensitivitas terhadap paparan sinar UV

Paparan sinar matahari memang membantu pembentukan vitamin D, tetapi sinar UV tetap bisa memberikan dampak pada kulit jika berlebihan. Terutama saat bayi sudah mulai aktif diajak keluar rumah seperti ke taman, ke posyandu, atau sekadar jalan pagi bersama mom and dad.

Karena itu, perlindungan kulit bayi dari sinar matahari perlu dilakukan dengan cara yang tepat dan sesuai usia.

Rekomendasi IDAI Sunscreen Bayi, Ini Penjelasannya

Dilansir dari laman IDAI, seorang bayi perlu terpapar radiasi ultraviolet B (UVB) tingkat rendah untuk dapat memproduksi vitamin D. Oleh sebab itu, paparan sinar matahari pada bayi masih menjadi pilihan dengan beberapa rekomendasi perlindungan seperti menggunakan pakaian dan tabir Surya (sunscreen).

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sunscreen boleh digunakan pada bayi usia di atas 6 bulan. Namun, ada beberapa kriteria penting yang harus diperhatikan. IDAI merekomendasikan penggunaan physical sunscreen yang mengandung Titanium dioxide atau Zinc oxide.

Kedua bahan ini bekerja dengan cara memantulkan sinar matahari (UVA & UVB) dari permukaan kulit, bukan menyerapnya. Jenis ini dinilai lebih aman untuk kulit bayi yang masih sensitif.

Selain itu, sunscreen bayi yang ideal sebaiknya memiliki minimal SPF 30, berlabel broad spectrum (melindungi dari UVA & UVB) dan bersifat waterproof. 

Untuk bayi di bawah 6 bulan, IDAI menyarankan perlindungan utama berupa menghindari paparan langsung sinar matahari, menggunakan pakaian tertutup, dan berteduh.

Cara Mudah Melindungi Kulit Bayi dari Sinar Matahari

Melindungi kulit bayi sebenarnya tidak sulit, mom and dad. Ini beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan sehari-hari:

1. Pilih Waktu Beraktivitas yang Tepat

Hindari paparan sinar matahari langsung pada pukul 10.00–15.00 karena intensitas UV sedang tinggi. Jika ingin jalan pagi, lakukan sebelum pukul 09.00.

2. Gunakan Pelindung Fisik

Topi lebar, pakaian lengan panjang berbahan lembut, dan stroller dengan penutup bisa membantu mengurangi paparan langsung.

3. Gunakan Sunscreen untuk Bayi (Usia 6 Bulan ke Atas)

Jika bayi sudah berusia lebih dari 6 bulan dan mulai sering diajak keluar, penggunaan sunscreen menjadi langkah tambahan yang penting.

4. Aplikasikan dengan Cara yang Benar

Oleskan sunscreen sekitar 15–20 menit sebelum keluar rumah, dan ulangi jika diperlukan terutama setelah berkeringat atau terkena air.

Perlindungan ini bukan berarti melarang anak bermain di luar, tetapi membantu kulitnya tetap sehat saat beraktivitas.

Loluna Baby Sunscreen sebagai Pilihan Perlindungan Kuli Bayi Harian

Sebagai brand skincare bayi pertama dengan 5X Ceramide yang aman untuk newborn, Loluna menghadirkan Loluna Baby Sunscreen Face and Body yang dirancang untuk membantu mendukung perlindungan kulit bayi saat beraktivitas di luar ruangan.

Loluna Baby Sunscreen mengandung Titanium Dioxide, salah satu bahan physical sunscreen yang direkomendasikan IDAI, bekerja dengan memantulkan sinar UVA dan UVB dari permukaan kulit. Dengan SPF 50 PA++++, sunscreen ini memberikan perlindungan menyeluruh terhadap paparan sinar matahari.

Tidak hanya itu, dilengkapi dengan Pollustop Technology, yang membantu melindungi kulit dari paparan polusi udararelevan untuk kondisi lingkungan perkotaan.

Keunggulan lainnya:

1. 5X Ceramide untuk membantu menjaga skin barrier bayi

2. Bersertifikat hypoallergenic dan telah diuji dermatologis

3. Bebas dari SLS, paraben, dan alkohol

4. Bersertifikat halal dan terdaftar BPOM

5. Tekstur cepat menyerap, tidak lengket, dan tidak terasa sumuk

Dengan formula yang gentle namun tetap efektif, Loluna Baby Sunscreen dapat menjadi bagian dari rutinitas perlindungan kulit bayi sehari-hari.

Kesimpulan

Menjemur bayi memang sudah menjadi kebiasaan banyak orang tua di Indonesia. Namun, seiring bertambahnya usia dan aktivitas si kecil, perlindungan kulit bayi dari sinar matahari perlu dilakukan dengan lebih terencana.

Berdasarkan rekomendasi IDAI sunscreen bayi, penggunaan physical sunscreen dengan kandungan titanium dioxide atau zinc oxide aman untuk bayi usia di atas 6 bulan, dengan SPF minimal 30 dan perlindungan broad spectrum.

Yang terpenting, mom and dad tidak perlu khawatir berlebihan. Dengan langkah sederhanamemilih waktu yang tepat, menggunakan pelindung fisik, dan sunscreen yang sesuaikulit bayi tetap bisa terlindungi saat ia mulai mengeksplorasi dunia di sekitarnya.

Karena bagi Loluna Family, melindungi kulit bayi hari ini adalah bentuk perhatian kecil yang berdampak besar untuk masa depannya.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Apa Itu SPF dan Berapa SPF yang Aman untuk Bayi dan Anak?

Kulit bayi itu unik, lembut, halus, dan masih dalam tahap berkembang. Tapi justru karena itulah, kulit si kecil jauh lebih rentan terhadap paparan sinar matahari dibandingkan kulit orang dewasa. Tanpa perlindungan yang tepat, paparan UV bisa membuat kulit lebih cepat kemerahan, kering, bahkan terasa tidak nyaman meski hanya terpapar sebentar.

Di titik ini banyak orang tua mulai bertanya, SPF sunscreen bayi itu apa? SPF untuk bayi dan anak berapa yang aman? Memahami hal ini penting agar kita tidak hanya memilih berdasarkan angka besar di kemasan, tetapi benar-benar sesuai dengan kebutuhan kulit si kecil.

Apa Itu SPF?

SPF adalah singkatan dari Sun Protection Factor. Sederhananya, SPF menunjukkan seberapa baik sunscreen melindungi kulit dari sinar UVB, yaitu sinar matahari yang bisa menyebabkan kulit kemerahan atau terbakar (sunburn).

Misalnya, jika tanpa perlindungan kulit mulai memerah dalam 10 menit, maka penggunaan sunscreen dengan SPF 30 secara teori bisa membantu melindungi hingga 30 kali lebih lama sebelum kulit terbakar. Meski begitu, angka ini bukan berarti bayi boleh berjemur selama itu, ya. SPF tetap perlu digunakan dengan bijak dan diulang sesuai kebutuhan.

Yang sering kurang dipahami, SPF hanya mengukur perlindungan terhadap UVB. Padahal, ada juga sinar UVA yang bisa menembus lebih dalam ke lapisan kulit dan menyebabkan kerusakan jangka panjang. Karena itu, penting memilih sunscreen dengan label broad spectrum atau dengan keterangan PA (misalnya PA++++) yang menandakan perlindungan terhadap UVA juga.

Kenapa SPF Penting untuk Bayi dan Anak?

Kulit bayi dan anak masih dalam tahap berkembang. Lapisan pelindungnya (skin barrier) belum sekuat orang dewasa, sehingga lebih rentan terhadap paparan sinar UV.

Dalam kehidupan sehari-hari, paparan ini sering tidak terasa. Contohnya:
1. Duduk di stroller saat Mom belanja
2. Main sepeda sore hari
3. Antar jemput sekolah
4. Liburan ke pantai atau kolam renang

Meski terlihat ringan, paparan yang terjadi terus-menerus bisa berdampak pada kesehatan kulit. Kulit bisa lebih mudah kering, kemerahan, atau terasa tidak nyaman. Dalam jangka panjang, paparan UV berulang tanpa perlindungan juga bisa meningkatkan risiko kerusakan kulit.

Karena itu, memilih SPF sunscreen bayi yang tepat adalah langkah penting dalam rutinitas harian.

Berapa SPF yang Aman untuk Bayi dan Anak?

Lalu, sebenarnya SPF untuk bayi berapa yang direkomendasikan? Menurut IDAI, untuk bayi di atas usia 6 bulan dan anak-anak, umumnya disarankan menggunakan sunscreen dengan minimal SPF 30. 

Namun, untuk kondisi iklim tropis seperti Indonesia dengan intensitas matahari cukup tinggi sepanjang tahun. Dilansir dari laman Alodokter, menurut penelitian, tabir surya dengan SPF 30 bisa menghambat sekitar 97% sinar UVB, sedangkan SPF 50 menghambat sekitar 98% sinar UVB.

Jadi, saat bertanya sunscreen anak SPF berapa yang ideal? Jawabannya adalah minimal SPF 30, dan lebih optimal lagi SPF 50 dengan perlindungan broad spectrum (UVA & UVB). Tentu saja, selain angka SPF, perhatikan juga:
1. Kandungan yang lembut untuk kulit sensitif
2. Hypoallergenic dan dermatologically tested
3. Bebas alkohol, paraben, dan SLS
4. Mengandung bahan yang mendukung skin barrier

Karena sunscreen bayi bukan hanya soal angka tinggi, tapi juga soal keamanan formula.

Rekomendasi Sunscreen dengan SPF Ideal untuk Si Kecil

Dalam memilih sunscreen untuk bayi dan anak, penting mencari produk yang tidak hanya melindungi dari sinar matahari, tetapi juga mendukung kesehatan kulit secara menyeluruh.

Salah satu pilihan dengan SPF sunscreen bayi yang ideal adalah Loluna Baby Sunscreen dengan SPF 50 PA++++. Angka ini menunjukkan perlindungan tinggi terhadap UVB sekaligus UVA, sehingga memberikan perlindungan broad spectrum yang lebih lengkap.

Yang membuatnya berbeda, produk ini juga dilengkapi Pollustop Technology, yaitu teknologi yang membantu melindungi kulit dari paparan polusi udara. Ini penting, karena di era sekarang kulit bayi tidak hanya terpapar sinar matahari, tetapi juga partikel polusi yang bisa memperparah iritasi.

Selain perlindungan UV dan polusi, Loluna Baby Sunscreen juga memiliki beberapa keunggulan lain yang relevan untuk kebutuhan kulit sensitif:

Terbukti secara klinis untuk kulit sensitif dan rentan eksim, sehingga lebih aman untuk bayi dengan kondisi kulit yang mudah iritasi.

Memberikan hidrasi tahan lama dan membantu mengunci kelembapan, sehingga kulit tidak terasa kering setelah terpapar matahari.

Mengandung bahan yang membantu memulihkan skin barrier dan memberikan kilau alami bayi, membuat kulit tetap sehat dan lembut.

Lembut untuk penggunaan harian, cukup diaplikasikan 1–2 kali sehari sesuai kebutuhan aktivitas.

Teksturnya ringan, cepat menyerap, dan tidak lengket. Jadi, bayi tetap nyaman meski digunakan sebelum jalan pagi atau bermain di luar.

Kesimpulan

Memahami SPF sunscreen bayi membantu orang tua memilih perlindungan yang tepat untuk kulit si kecil. Minimal SPF untuk bayi adalah 30, dan lebih optimal lagi SPF 50 dengan perlindungan broad spectrum agar mampu melindungi dari UVA dan UVB sekaligus. Dengan memilih sunscreen anak SPF berapa yang sesuai serta formulanya aman untuk kulit sensitif, Mom and Dad bisa menjaga kulit bayi tetap sehat, lembap, dan terlindungi dalam aktivitas sehari-hari.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Apakah SPF Tinggi Selalu Lebih Baik untuk Kulit Bayi?

Sebagai orang tua, wajar kalau kita ingin memberikan perlindungan terbaik untuk si kecil. Saat memilih sunscreen, banyak yang langsung berpikir: “Semakin tinggi SPF, pasti semakin bagus.” Tapi benarkah SPF tinggi bayi selalu jadi pilihan paling tepat? Atau justru ada hal lain yang perlu dipertimbangkan supaya tetap memilih sunscreen bayi aman untuk kulit sensitif?
Di tengah aktivitas harian seperti jalan pagi, ke posyandu, bermain di halaman, atau ikut Mom and Dad bepergian, paparan sinar matahari memang sulit dihindari. Karena itu, memahami cara kerja SPF dan memilih angka yang tepat menjadi penting agar perlindungan tidak berlebihan, tapi juga tidak kurang.

Manfaat SPF pada Sunscreen Anak

SPF atau Sun Protection Factor adalah angka yang menunjukkan kemampuan sunscreen dalam melindungi kulit dari sinar UVB, yaitu sinar yang bisa menyebabkan kulit kemerahan atau terbakar.

Untuk anak-anak dan bayi (di atas 6 bulan), SPF memiliki beberapa manfaat penting:

1. Mengurangi Risiko Kulit Terbakar

Kulit bayi lebih tipis dan sensitif, sehingga lebih cepat memerah saat terpapar matahari. SPF membantu memperlambat efek tersebut.

2. Menjaga Kesehatan Skin Barrier

Paparan sinar UV dapat melemahkan lapisan pelindung kulit. Dengan perlindungan yang cukup, skin barrier tetap terjaga dan tidak mudah kering atau iritasi.

3. Mendukung Aktivitas Luar Ruangan

Anak-anak aktif bergerak. SPF membantu mereka tetap nyaman saat bermain di luar tanpa risiko paparan berlebihan.

Namun, angka SPF bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah sebuah produk termasuk sunscreen bayi aman atau tidak.

Mitos: Semakin Tinggi SPF, Perlindungannya Jauh Lebih Baik

Ini pertanyaan yang sering muncul. Secara teori, semakin tinggi angka SPF, semakin besar perlindungan terhadap UVB. Tapi perbedaannya tidak selalu signifikan.

Sebagai gambaran sederhana:
1. SPF 30 menyaring sekitar 97% sinar UVB
2. SPF 50 menyaring sekitar 98% sinar UVB

Artinya, selisih perlindungannya hanya sekitar 1%. Jadi, memilih SPF tinggi bayi bukan berarti perlindungannya dua kali lipat dibanding SPF 30.

Yang lebih penting justru, apakah sunscreen tersebut memiliki perlindungan broad spectrum (UVA & UVB)? apakah formulanya aman untuk kulit sensitif? Dan apakah nyaman dipakai sehingga orang tua konsisten menggunakannya?

SPF terlalu tinggi juga belum tentu dibutuhkan untuk aktivitas ringan sehari-hari. Untuk iklim tropis seperti Indonesia, SPF 30 sudah cukup untuk aktivitas singkat, dan SPF 50 lebih ideal untuk paparan lebih lama.

Jadi, jawabannya SPF tinggi memang baik, tapi bukan satu-satunya penentu. Keseimbangan antara angka SPF dan keamanan formula jauh lebih penting.

Aturan Memakai Sunscreen pada Bayi dan Anak

Agar perlindungan maksimal, penggunaan sunscreen harus tepat. Berikut beberapa aturan sederhana yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:

1. Gunakan pada Bayi di Atas 6 Bulan

IDAI sangat menyarankan penggunaan sunscreen untuk bayi di atas enam bulan. Bagi si kecil di bawah 6 bulan, perlindungan utama tetap berupa pakaian tertutup dan menghindari paparan langsung.

2. Oleskan 15-20 Menit Sebelum Keluar Rumah

Gunakan suncreen bayi sebaiknya 15-20 menit sebelum keluar rumah atau beraktivitas di luar ruangan. Rentang tersebut dapat memberi waktu bagi sunscreen untuk bekerja dengan optimal.

3. Gunakan Secukupnya

Tidak perlu menggunakan sunscreen untuk mendapatkan perlindungan yang maksimal. Mom and dda cukup sastikan area yang terpapar seperti wajah, leher, tangan, dan kaki terlindungi.

4. Aplikasikan Ulang Jika Perlu

Mom and dad bisa mengulangi mengaplikasikan sunscreen pada bayi dan anak setelah beberapa waktu, terutama jika anak banyak berkeringat atau bermain air.

5. Kombinasikan dengan Perlindungan Fisik

Meski kulit si kecil sudah mendapatkan perlindungan dari sunscreen, ada baiknya mom and dad tetap menggunakan perlindungan fisik seperti memakai topi, payung stroller, dan pakaian nyaman tetap penting.

Dengan aturan ini, penggunaan sunscreen bayi aman tidak terasa ribet, justru menjadi bagian dari rutinitas harian seperti memakai lotion setelah mandi.

Loluna Baby Sunscreen dengan SPF Ideal Lindungi Kulit Bayi

Di tengah banyaknya pilihan di pasaran, memilih sunscreen dengan SPF ideal dan formula yang tepat menjadi kunci. Salah satu yang bisa dipertimbangkan adalah Loluna Baby Sunscreen dengan SPF 50 PA++++.

SPF 50 memberikan perlindungan optimal terhadap UVB, sementara PA++++ membantu melindungi dari UVA. Kombinasi ini membuatnya cocok untuk aktivitas luar ruangan di bawah matahari tropis.

Yang membuatnya berbeda bukan hanya angka SPF-nya, tetapi juga formulanya yang dirancang untuk kulit sensitif. Teksturnya ringan, cepat menyerap, dan tidak lengket sehingga nyaman digunakan sehari-hari.

Selain itu, kandungan yang mendukung kesehatan skin barrier membantu menjaga kelembapan kulit bayi. Jadi, perlindungan tidak hanya dari luar, tetapi juga membantu mempertahankan kondisi kulit tetap sehat dan lembut.

Bagi orang tua yang mencari SPF tinggi bayi namun tetap mengutamakan keamanan, memilih sunscreen dengan keseimbangan antara perlindungan UV dan kelembutan formula seperti ini bisa menjadi solusi yang lebih bijak.

Jadi, SPF Tinggi Pada Sunscreen Bayi Selalu Lebih Baik?

Jawabannya tidak selalu. SPF tinggi memang memberikan perlindungan lebih besar terhadap UVB, tetapi perbedaannya tidak terlalu jauh dibanding SPF 30. Yang jauh lebih penting adalah memilih sunscreen dengan perlindungan UVA dan UVB sekaligus, formula aman untuk kulit sensitif, dan nyaman dipakai sehingga digunakan secara konsisten.

Dalam kehidupan sehari-hari, konsistensi jauh lebih penting daripada angka tinggi semata. Sunscreen yang bagus tapi jarang dipakai tentu tidak efektif.

Kesimpulan

Memilih SPF tinggi bayi memang bisa menjadi opsi perlindungan optimal, tetapi bukan berarti semakin tinggi selalu semakin baik. Yang terpenting adalah memastikan produk tersebut termasuk sunscreen bayi aman, memiliki perlindungan broad spectrum, dan cocok untuk kulit sensitif. Dengan penggunaan yang tepat dan konsisten, kulit bayi tetap terlindungi, sehat, dan nyaman menjalani aktivitas hariannya di bawah sinar matahari.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Mengenal UVA & UVB dan Dampaknya pada Kulit Bayi

Saat cuaca cerah, banyak orang tua merasa itu waktu yang tepat untuk mengajak si kecil keluar rumah. Namun dibalik hangatnya sinar matahari, ada paparan sinar ultraviolet (UV) yang tidak terlihat oleh mata. Dua jenis sinar UV yang paling sering berdampak pada kulit adalah UVA dan UVB. Meski terdengar mirip, keduanya memiliki efek berbeda pada kulit bayi yang masih sensitif.
Memahami perbedaan UVA dan UVB membantu orang tua lebih bijak dalam melindungi kulit si kecil sejak dini.

Mengenal Perbedaan UVA & UVB

Sinar ultraviolet terbagi menjadi beberapa jenis, tetapi yang paling berpengaruh pada kulit adalah UVA dan UVB.

UVA adalah sinar yang mampu menembus lebih dalam ke lapisan kulit. Sinar ini ada sepanjang hari, bahkan saat cuaca mendung, dan bisa menembus kaca jendela. UVA sering dikaitkan dengan kerusakan kulit jangka panjang karena bekerja di lapisan kulit yang lebih dalam.

Sementara itu, UVB adalah sinar yang bekerja di lapisan kulit paling luar. Inilah sinar yang biasanya menyebabkan kulit kemerahan atau terbakar saat terlalu lama berada di bawah matahari.

Keduanya sama-sama perlu diwaspadai, terutama karena kulit bayi masih tipis dan lapisan pelindung alaminya belum terbentuk sempurna.

Dampak UVA & UVB pada Kulit Bayi

Karena struktur kulit bayi belum sekuat orang dewasa, paparan UVA dan UVB bisa memberikan efek yang lebih cepat terlihat.

Beberapa dampak yang bisa terjadi antara lain:
1. Kulit kemerahan atau iritasi ringan
2. Kulit terasa kering dan lebih sensitif
3. Skin barrier melemah sehingga mudah mengalami gangguan
4. Risiko kerusakan kulit jangka panjang akibat paparan berulang
5. Paparan ini sering terjadi tanpa disadari. Misalnya saat bayi duduk di stroller, bermain di halaman, atau ikut Mom and Dad bepergian di siang hari. Meski terlihat sebentar, paparan yang terjadi terus-menerus tetap bisa berdampak.

Cara Mencegah Efek UVA & UVB

Langkah pencegahan paling sederhana adalah membatasi paparan langsung di bawah sinar matahari, terutama pada jam 10 pagi hingga 3 sore. Selain itu, penggunaan topi, pakaian lengan panjang berbahan lembut, dan pelindung stroller juga membantu.

Namun, perlindungan fisik saja belum cukup. Kulit tetap membutuhkan perlindungan tambahan berupa sunscreen yang mampu melindungi dari UVA dan UVB sekaligus.

Sunscreen dengan kandungan Titanium Dioxide menjadi salah satu pilihan yang banyak direkomendasikan, termasuk oleh IDAI, karena bekerja sebagai physical sunscreen yang memantulkan sinar matahari dari permukaan kulit. Cara kerja ini cenderung lebih lembut dan cocok untuk kulit bayi yang sensitif.

Loluna Baby Sunscreen mengandung Titanium Dioxide yang membantu melindungi kulit dari paparan UVA dan UVB dengan cara memantulkan sinar matahari. Dengan perlindungan broad spectrum, sunscreen ini membantu mengurangi risiko iritasi akibat paparan sinar UV dalam aktivitas sehari-hari.

Cara Mengatasi Dampak UVA & UVB

Jika kulit bayi sudah terlanjur terpapar dan menunjukkan tanda kemerahan atau kering, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:

1. Segera pindahkan bayi ke tempat yang teduh.
2. Bersihkan kulit dengan lembut menggunakan air hangat.
3. Gunakan pelembap khusus bayi untuk membantu menenangkan dan menjaga kelembapan kulit.
4. Hindari paparan ulang hingga kondisi kulit membaik.
5. Jika muncul iritasi berat atau reaksi yang tidak biasa, sebaiknya konsultasikan dengan dokter anak.

Perawatan setelah paparan tetap penting, tetapi pencegahan jauh lebih efektif dibanding mengobati. Konsistensi dalam menggunakan sunscreen dan perlindungan fisik menjadi kunci utama menjaga kesehatan kulit si kecil.

Kesimpulan

UVA dan UVB memiliki dampak berbeda tetapi sama-sama berisiko bagi kulit bayi yang masih sensitif. Dengan mengetahui bagainaba cara kerja keduanya membantu orang tua lebih sadar pentingnya perlindungan sejak dini. Dengan kombinasi perlindungan fisik dan penggunaan sunscreen yang tepat, kulit bayi bisa tetap sehat, nyaman, dan terlindungi dalam berbagai aktivitas hariannya

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Mengapa Sunscreen Bayi Perlu Perlindungan UVA dan UVB?

Banyak Mom and Dad mungkin berpikir, “Kan cuma jalan pagi sebentar,” atau “Cuma duduk di teras rumah”. Cuaca cerah juga sering terasa menyenangkan, apalagi saat si kecil diajak keluar rumah untuk menghirup udara pagi atau sekadar ikut Mom and Dad beraktivitas.
Faktanya, paparan sinar matahari tetap terjadi meskipun hanya beberapa menit. Di balik hangatnya sinar matahari, ada paparan sinar UV yang tidak terlihat dan tetap bekerja mengenai kulit bayi.
Ditambah kulit bayi masih dalam tahap berkembang. Lapisannya lebih tipis dan kadar perlindungan alaminya belum optimal. Itulah sebabnya perlindungan tidak bisa setengah-setengah.
Memilih sunscreen bayi UVA UVB dengan perlindungan menyeluruh bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari rutinitas perawatan harian, terutama di negara tropis dengan paparan matahari tinggi sepanjang tahun seperti Indonesia.

Bahayanya Sinar UV untuk Kulit Bayi

Sinar ultraviolet (UV) terbagi menjadi beberapa jenis, tetapi yang paling berdampak pada kulit adalah UVA dan UVB. Kulit bayi yang masih berkembang belum memiliki sistem perlindungan alami sekuat orang dewasa. Akibatnya, paparan sinar UV bisa menimbulkan efek yang lebih cepat dan lebih signifikan.

Beberapa risiko paparan UV pada kulit bayi antara lain:
1. Kulit kemerahan atau terbakar ringan
2. Iritasi dan rasa tidak nyaman
3. Kulit menjadi lebih kering
4. Melemahnya skin barrier
5. Risiko kerusakan kulit jangka panjang

Yang sering tidak disadari, kerusakan akibat sinar matahari bersifat kumulatif. Artinya, paparan sedikit demi sedikit setiap hari bisa berdampak dalam jangka panjang. Itulah kenapa penggunaan broad spectrum bayi menjadi penting sejak dini.

Apa Itu UVA dan UVB?

Agar lebih paham kenapa sunscreen bayi harus melindungi dari keduanya, mom and dad perlu tahu perbedaannya.

UVA adalah sinar yang mampu menembus lebih dalam ke lapisan kulit. Sinar ini hadir sepanjang hari, bahkan saat cuaca mendung dan bisa menembus kaca jendela. UVA berperan dalam proses penuaan dini dan kerusakan struktur kulit dalam jangka panjang.

Sementara itu, UVB adalah sinar yang bertanggung jawab terhadap kulit terbakar (sunburn). Intensitasnya lebih kuat pada siang hari dan bisa langsung menyebabkan kemerahan atau iritasi pada kulit sensitif bayi.

Jadi, kalau sunscreen hanya melindungi dari salah satunya saja, perlindungannya belum lengkap. Inilah pentingnya label sunscreen bayi UVA UVB atau broad spectrum yang berarti produk tersebut mampu melindungi dari kedua jenis sinar tersebut sekaligus.

Ini Alasan Sunscreen Bayi Wajib Perlindungan UVA dan UVB

Menggunakan sunscreen bukan berarti membuat bayi “tidak boleh kena matahari sama sekali”. Justru sebaliknya, sunscreen membantu memastikan kulit si kecil tetap sehat dan terlindungi saat ia beraktivitas di luar ruangan. 

Sama seperti kita memakaikan jaket saat cuaca dingin atau topi saat hujan, sunscreen adalah bentuk perlindungan yang wajar saat cuaca cerah. Dengan perlindungan yang tepat terhadap UVA dan UVB, bayi tetap bisa menikmati waktu bermain atau jalan pagi tanpa risiko paparan sinar matahari yang berlebihan.

Ini alasan sunscreen bayi harus memiliki perlindungan UVA dan UVB:

Perlindungan Menyeluruh untuk Kulit Sensitif

Kulit bayi belum memiliki lapisan pelindung yang matang. Dengan perlindungan UVA dan UVB, risiko kerusakan dari lapisan luar hingga dalam kulit bisa diminimalkan.

Aktivitas Harian Tetap Aman

Mulai dari imunisasi ke klinik, jalan pagi, bermain di stroller, hingga traveling bersama keluarga—semua aktivitas ini membuat bayi terpapar sinar matahari. Sunscreen broad spectrum membantu menjaga kulit tetap terlindungi di berbagai situasi.

Mencegah Gangguan Skin Barrier

Paparan UV bisa melemahkan skin barrier, membuat kulit lebih mudah kering dan iritasi. Perlindungan ganda membantu menjaga keseimbangan dan kelembapan kulit.

Investasi Kesehatan Kulit Jangka Panjang

Kesehatan kulit bukan hanya soal hari ini. Perlindungan sejak bayi membantu mengurangi risiko masalah kulit di kemudian hari.

Di tengah kebutuhan tersebut, penting memilih sunscreen yang memang diformulasikan khusus untuk bayi. Salah satu yang bisa dipertimbangkan adalah Loluna Baby Sunscreen. Produk ini dirancang dengan perlindungan SPF 50 PA++++ yang melindungi dari UVA dan UVB secara optimal. Label broad spectrum memastikan perlindungan tidak setengah-setengah.

Selain itu, kandungan 5X Ceramide di dalamnya membantu memperkuat skin barrier, sehingga kulit tidak hanya terlindungi dari luar, tetapi juga diperkuat dari dalam. Teksturnya ringan, cepat menyerap, dan tidak lengket jadi tidak membuat bayi merasa gerah atau tidak nyaman saat beraktivitas.

Kapan Sunscreen Digunakan?

Sunscreen sebaiknya diaplikasikan sekitar 15–20 menit sebelum bayi terpapar sinar matahari. Gunakan secukupnya pada area yang terbuka seperti wajah, leher, tangan, dan kaki. Untuk aktivitas luar ruangan yang lebih lama, pengaplikasian ulang bisa dilakukan sesuai kebutuhan.

Yang terpenting, pilih produk yang memang diformulasikan untuk bayi, hypoallergenic, dan telah diuji dermatologis agar lebih aman untuk kulit sensitif.

Kesimpulan

Memilih sunscreen bayi UVA UVB dengan label broad spectrum bayi adalah langkah penting untuk melindungi kulit sensitif dari dampak sinar matahari. UVA dan UVB memiliki efek berbeda tetapi sama-sama berisiko bagi kulit bayi. 

Dengan perlindungan menyeluruh dan penggunaan yang konsisten, Mom and Dad bisa membantu menjaga kesehatan kulit si kecil sejak dini tanpa mengurangi keseruan aktivitas hariannya.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES