Raih Gelar Champion di Brands for Good Award, BINUS SCHOOL Simprug Jadi yang Terbaik untuk Kategori Pendidikan Berdampak

Jakarta — Keunggulan akademik bukan lagi satu-satunya tolok ukur dalam menentukan
prestasi sebuah sekolah. Lembaga pendidikan kini juga semakin diakui atas dampak positif
yang mampu mereka hadirkan bagi masyarakat dan lingkungan. Perhatian yang semakin
besar terhadap pendidikan yang berlandaskan tujuan dan dampak tersebut tercermin dalam
Brands For Good Awards 2026, sebuah ajang yang mengapresiasi organisasi yang mampu
menciptakan dampak sosial dan lingkungan secara nyata, sejalan dengan keunggulan
organisasi.

Perubahan cara pandang tersebut turut melatarbelakangi penyelenggaraan Brands For
Good Awards 2026 yang bekerjasama dengan Singapore International Mastery Contests
Center (SIMCC) dan Singapore University of Social Sciences (SUSS). Ajang tersebut kini
memperkenalkan kategori baru, yaitu EDU FOR GOOD, yang memberikan pengakuan
kepada sekolah dengan komitmen kuat dalam menghadirkan pendidikan berkualitas yang
melampaui pencapaian akademik serta menciptakan dampak langsung dan berkelanjutan
bagi masyarakat dan lingkungan.

Penilaian dalam Brands For Good Awards mencakup sejumlah aspek, antara lain
kepemimpinan, keunggulan organisasi, dampak dari merek, serta kontribusi sosial dan
lingkungan. Tahun ini, ajang ini diikuti oleh sekitar 110 merek dari lebih 25 negara dan
berpuncak pada malam penganugerahan bertajuk “Together For Good” di D’Marquee @
Downtown East, Singapura.

Bagi BINUS SCHOOL Simprug, gelar Champion dalam kategori EDU FOR GOOD bukan
sekadar sebuah penghargaan. Pengakuan ini menegaskan komitmen BINUS SCHOOL
Simprug dalam membina siswa agar tidak hanya berprestasi, tetapi juga mampu
memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.

Komitmen ini ditanamkan sejak jenjang Primary Years Programme (PYP), ketika siswa belajar
menghubungkan proses pencarian (inquiry) dengan tindakan yang bertanggung jawab
(responsible action). Nilai tersebut terus berkembang melalui berbagai inisiatif yang
dipimpin siswa, dibawa oleh para alumni dalam kehidupan profesional maupun pengabdian
kepada masyarakat, serta diperkuat oleh komunitas orang tua yang berbagi pengetahuan
dan keahlian untuk memperkaya pembelajaran di luar kelas.

Melalui pendekatan ini, BINUS SCHOOL Simprug memandang pendidikan berdampak bukan
dari besarnya donasi atau banyaknya kegiatan yang dilakukan, melainkan dari
kemampuannya membentuk individu yang mampu mengubah empati menjadi aksi nyata
serta menciptakan perubahan positif yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Sambut Kemerdekaan dengan Touring, BRI Finance Bagikan Tips Berkendara Aman

Jakarta, 12 Agustus 2026 – Momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia kerap dimanfaatkan masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas bersama, mulai dari berkumpul dengan keluarga, mengunjungi destinasi wisata, hingga touring bersama komunitas. Bagi pengguna sepeda motor, perjalanan menjadi salah satu cara untuk menikmati momen kemerdekaan sekaligus mengeksplorasi berbagai destinasi.

Corporate Secretary PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”), Aditia Fakhri Ramadhani, mengatakan bahwa persiapan menjadi bagian penting sebelum melakukan perjalanan, terutama untuk touring dengan jarak tempuh yang lebih jauh.

“Touring bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk mengisi momen kemerdekaan. Namun, sebelum berangkat, pastikan kendaraan dalam kondisi baik, tubuh dalam kondisi prima, dan rute perjalanan sudah dipersiapkan,” ujar Dhani.

Berikut lima hal yang perlu diperhatikan sebelum touring menggunakan sepeda motor:

1. Cek kondisi motor

Pastikan kondisi ban, rem, oli, lampu, aki, dan sistem kelistrikan dalam keadaan baik. Untuk perjalanan jauh, pemeriksaan kendaraan di bengkel sebelum keberangkatan juga disarankan.

2. Gunakan perlengkapan keselamatan

Gunakan helm berstandar SNI dan pastikan terpasang dengan benar. Lengkapi dengan jaket, celana panjang, dan sepatu yang sesuai untuk berkendara.

3. Siapkan rute perjalanan

Kenali rute yang akan dilalui dan perkirakan waktu perjalanan. Pastikan juga mengetahui lokasi pengisian bahan bakar dan tempat beristirahat, terutama jika menempuh perjalanan jauh.

4. Istirahat ketika lelah

Jangan memaksakan diri ketika mulai mengantuk atau kelelahan. Beristirahat secara berkala membantu menjaga konsentrasi selama berkendara.

5. Patuhi aturan lalu lintas

Patuhi rambu dan marka jalan, jaga jarak aman, serta sesuaikan kecepatan dengan kondisi lalu lintas dan medan. Pastikan pula dokumen kendaraan dan surat izin mengemudi telah lengkap.

Selain memastikan kendaraan siap digunakan, masyarakat yang sedang mempertimbangkan pembelian motor baru juga dapat memilih skema pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial.

BRI Finance menawarkan pembiayaan motor baru dengan bunga mulai dari 0,7% per bulan dan pilihan tenor hingga 5 tahun. Penawaran tersebut dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang membutuhkan kendaraan roda dua untuk mendukung mobilitas sehari-hari maupun aktivitas lainnya. 

“Memiliki kendaraan baru tentu perlu disertai perencanaan finansial yang baik. Kami menghadirkan pilihan pembiayaan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, sehingga masyarakat dapat merencanakan kepemilikan motor baru dengan lebih nyaman,” ujar Dhani.

Melalui persiapan kendaraan, kondisi fisik yang prima, serta kepatuhan terhadap aturan lalu lintas, masyarakat dapat menikmati perjalanan di momen kemerdekaan dengan lebih aman dan nyaman.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Tambak Indonesia Merdeka dari Produk Impor, FisTx Hadirkan Alat Uji Nawasena Test Kit dan Nano Disinfektan Buatan Lokal

Tambak Indonesia merdeka dari produk impor: FisTx hadirkan Nawasena Test Kit, Nano Disinfektan, dan Nano Silver buatan lokal untuk petambak Indonesia.

Yogyakarta, Agustus 2026 — FisTx, perusahaan teknologi akuakultur asal Sleman, Yogyakarta, terus memperluas lini produk yang dirancang dan diproduksi secara mandiri di dalam negeri, sebagai bagian dari seruan Tambak Merdeka dari Produk Impor dalam gerakan #Merdeka Bersama FisTx dalam rangka memeriahkan HUT NKRI ke 81 Tahun. Tiga produk yang menjadi sorotan dalam sub-campaign ini adalah Nawasena Test Kit, Nano Disinfektan, dan Nano Silver.

Selama ini, sebagian kebutuhan alat uji kualitas air maupun bahan desinfeksi tambak di Indonesia masih bergantung pada produk impor, yang umumnya datang dengan harga lebih tinggi dan waktu tunggu distribusi yang lebih lama, terutama bagi petambak di wilayah yang jauh dari pusat distribusi. FisTx menjawab kebutuhan itu dengan mengembangkan dan memproduksi alternatif lokal yang dirancang khusus untuk kondisi perairan tambak di Indonesia.

Sekilas tentang ketiga produk:

– Nawasena Test Kit adalah alat uji kualitas air yang dapat digunakan langsung di tepi kolam untuk mendeteksi parameter seperti amonia, nitrit, total alkalinitas, dan kadar oksigen terlarut secara realtime, tanpa perlu mengirim sampel ke laboratorium eksternal. Salah fitur menarik dari Nawasena Test Kit, dilengkapi dengan fitur Smart Virtual Assistant selama 7*24 Jam Non Stop. Fitur ini gratis untuk setiap customer yang sudah melakukan pembelian Nawasena test kit. Fitur Smart Virtual Assistant memastikan pengguna mendapatkan panduan instan kapan saja tanpa kendala waktu.

– Nano Disinfektan adalah larutan disinfektan berbasis ion tembaga dengan kandungan 150.000 ppm yang bekerja menekan populasi patogen penyebab penyakit pada air budidaya, digunakan sebagai bagian dari rutinitas sterilisasi air tambak. Dosis pencegahan Nano Disinfektan (nano copper) FisTx adalah 0,05 ppm setiap 7–14 hari, dan dosis pengobatan 0,1 ppm setiap 3 hari hingga mortalitas menurun signifikan, disesuaikan dengan volume air kolam aktual.

– Nano Silver adalah produk desinfektan berbasis ion perak dengan kandungan Mulai Dari 1.000 ppm s/d 10.000 ppm ion nano silver yang bekerja melengkapi perlindungan terhadap patogen memiliki pH netral (8) dan dirancang khusus untuk dicampur pakan dengan dosis pencegahan 0,05 ppt, sehingga aman dikonsumsi udang secara rutin tanpa mengganggu proses hidupnya.

Ketiganya dikembangkan melalui riset internal FisTx dan diproduksi di fasilitas dalam negeri.

Rico Wisnu Wibisono, Founder dan CEO FisTx, mengatakan pengembangan produk lokal ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan untuk memperkuat kemandirian teknologi akuakultur nasional. “Petambak Indonesia berhak mendapatkan teknologi yang dirancang khusus untuk kondisi perairan Indonesia, dengan harga yang lebih terjangkau dan distribusi yang lebih cepat, tanpa harus bergantung pada produk dari luar negeri,” kata Rico. 

Di Kulon Progo, seorang petambak binaan FisTx sempat mengalami lonjakan kematian udang sejak hari ke-30 budidaya (DOC 30). Setelah rutin menerapkan Nano Disinfektan, kondisi kolam berangsur pulih. “Alhamdulillah sudah membaik, yang bermasalah kemarin kolam 8 dan kolam 6, sudah mau makan dan kematian menurun,” tulis petambak tersebut kepada tim FisTx. Tambak ini akhirnya berhasil dipanen tuntas pada DOC 120 dengan size 28, total hasil panen 9,5 ton dari tiga kolam.

Berdasarkan data internal perusahaan, adopsi teknologi FisTx secara keseluruhan selama lebih dari lima tahun terakhir berkontribusi pada peningkatan success rate budidaya hingga 83,6%, dan penurunan biaya produksi hingga 27%. FisTx tercatat telah menjangkau lebih dari 1.500 petambak dan pembudidaya di 25 provinsi di Indonesia.

Seruan Tambak Merdeka dari Produk Impor merupakan salah satu tema dan seruan dalam “Merdeka Bersama FisTx”, yang secara keseluruhan menyasar lima masalah klasik budidaya, mulai dari sterilisasi air, penyakit, efisiensi pakan, kualitas air, hingga ketergantungan produk impor.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Winds of Wonders Ajak Keluarga Eksplorasi Imajinasi di Hublife

Melalui Winds of Wonders, Hublife menghadirkan rangkaian aktivitas yang mengajak pengunjung untuk bermain, berimajinasi, sekaligus menemukan berbagai pengalaman baru.

Mengisi waktu bersama keluarga kini bisa menjadi pengalaman yang lebih seru melalui aktivitas yang menggabungkan permainan, kreativitas, dan eksplorasi. Melalui Winds of Wonders, Hublife menghadirkan rangkaian aktivitas yang mengajak pengunjung untuk bermain, berimajinasi, sekaligus menemukan berbagai pengalaman baru. Mengusung tema “Celebrating Wonders, Shaping Tomorrow”, rangkaian ini hadir mulai 6 Agustus hingga 6 September 2026.

Eksplorasi Imajinasi Lewat Beragam Aktivitas

Keseruan untuk si kecil hadir melalui Little Star Stage, area yang menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengeksplorasi kreativitas melalui berbagai aktivitas menarik. Mulai dari robotics, coloring, painting, hingga pinwheel making, setiap kegiatan dirancang untuk mengajak anak belajar sambil bermain dan memberikan ruang bagi mereka untuk mengekspresikan imajinasi dengan cara yang menyenangkan.

Tidak hanya itu, Little Maker Zone juga menghadirkan berbagai school activities dan competition yang dapat menjadi pengalaman seru bagi anak-anak. Area ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk berpartisipasi, mencoba hal baru, sekaligus mengasah kreativitas dan rasa percaya diri melalui aktivitas bersama.

Sementara bagi pengunjung yang ingin menemukan berbagai pilihan untuk melengkapi momen dining dan berkumpul di rumah, Table Top Market menghadirkan kurasi dining, table top dan accent decor, hingga berbagai pilihan food-related lifestyle. Kehadiran area ini melengkapi pengalaman Winds of Wonders dengan pilihan yang tidak hanya menarik, tetapi juga dekat dengan keseharian dan gaya hidup pengunjung.

Belanja Seru, Kesempatan Menang Hadiah

Pengalaman berkunjung ke Hublife semakin lengkap dengan program Spin and Win!. Pengunjung bisa mendapatkan satu kali kesempatan spin dengan minimum transaksi Rp170.000 di tenant yang berpartisipasi dan berkesempatan memenangkan berbagai hadiah menarik. Khusus transaksi di Ranch Market, minimum transaksi yang berlaku adalah Rp810.000, dengan maksimal dua struk gabungan dan program berlaku untuk 500 pelanggan pertama. Syarat dan ketentuan berlaku.

Melalui Winds of Wonders, Hublife menghadirkan pengalaman yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan ruang bagi keluarga untuk bermain, berkreasi, dan menghabiskan waktu bersama. Mulai dari aktivitas kreatif untuk si kecil hingga pilihan lifestyle dan program belanja yang memberikan kejutan, setiap kunjungan dapat menghadirkan pengalaman yang berbeda.

Dengan rangkaian aktivitas tersebut, Hublife terus menghadirkan program yang relevan untuk berbagai kebutuhan pengunjung, sekaligus menciptakan ruang yang mendorong kreativitas, kebersamaan, dan quality time bersama keluarga.

Nikmati keseruan Winds of Wonders dan temukan berbagai pengalaman penuh keajaiban, kreativitas, dan keseruan bersama keluarga di Hublife.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Keberanian Membangun Indonesia Emas 2045: Mengapa reformasi besar harus dinilai dari dampak jangka panjangnya, bukan dari tantangan di tahap awal

Oleh *Sachin V. Gopalan

Jakarta, 12 Agustus 2026 — Setelah kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada 6–8 Juli 2026, hubungan Indonesia dan India memasuki momentum baru yang semakin menegaskan eratnya Kemitraan Strategis Komprehensif kedua negara. Pertemuan PM Modi dengan Presiden Prabowo Subianto di Jakarta membahas berbagai bidang, mulai dari perdagangan dan investasi, pertahanan dan keamanan, teknologi digital, energi, kesehatan, hingga kerja sama maritim dan budaya. Momentum tersebut juga memperlihatkan bagaimana kedua negara terus melihat pembangunan nasional dan transformasi ekonomi sebagai bagian penting dari kerja sama jangka panjang.

Dalam konteks itulah, perjalanan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045 perlu dilihat bukan hanya melalui kebijakan yang menghasilkan dampak langsung, tetapi juga melalui keberanian untuk membangun institusi dan sistem yang manfaatnya mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian.

Sejarah memiliki kebiasaan yang menarik dalam menulis ulang kesan pertama.

Program-program nasional yang kini kita rayakan sebagai tonggak pembangunan jarang mendapatkan sambutan yang sepenuhnya positif ketika pertama kali dimulai. Lebih sering, program-program tersebut hadir di tengah skeptisisme, oposisi politik, dan sorotan yang tidak henti-hentinya. Surat kabar memberitakan kegagalan-kegagalan awal. Birokrasi kesulitan beradaptasi. Anggaran melampaui perkiraan. Masyarakat mempertanyakan apakah janji yang ditawarkan sepadan dengan gangguan yang ditimbulkan. Bagi mereka yang hidup di tengah proses tersebut, keberhasilan sering kali terlihat masih jauh dan penuh ketidakpastian.

Baru setelah melihatnya dari perspektif sejarah, berbagai inisiatif tersebut kemudian dipandang sebagai titik balik.

Program perumahan publik Singapura merupakan salah satu contohnya. Program tersebut mengubah sebuah negara yang sebelumnya didominasi permukiman padat menjadi negara dengan salah satu sistem perumahan publik paling sukses di dunia. Saat ini, Housing and Development Board Singapura dipandang sebagai salah satu institusi perumahan publik paling berhasil di dunia. Namun pada tahun-tahun awalnya, pembebasan lahan secara wajib, pembangunan kembali kawasan perkotaan secara cepat, serta komitmen finansial yang sangat besar menuai kritik dari pihak-pihak yang mempertanyakan skala dan kecepatan ambisi pemerintah.

India menawarkan contoh lain yang menarik. Program seperti Aadhaar, Unified Payments Interface atau UPI, Goods and Services Tax, Jan Dhan untuk inklusi keuangan, dan Mid-Day Meal Scheme semuanya menghadapi berbagai kekhawatiran, mulai dari kompleksitas administratif dan kegagalan implementasi hingga persoalan biaya dan tata kelola. Saat ini, Aadhaar telah menjadi platform identitas digital terbesar di dunia, UPI menjadi salah satu rujukan global dalam sistem pembayaran instan, dan Digital Public Infrastructure India semakin banyak dipelajari sebagai model pembangunan digital yang inklusif.

Tidak satu pun dari program tersebut berhasil karena semuanya sempurna sejak awal. Mereka berhasil karena pemerintah terus memperbaikinya sembari tetap berkomitmen pada tujuan yang lebih besar.

Pengalaman Indonesia sendiri menunjukkan pola yang serupa. BPJS Kesehatan menghadapi berbagai persoalan operasional dan kekhawatiran terkait pendanaan pada masa awalnya. QRIS mengharuskan bank, pelaku usaha, dan konsumen beradaptasi dengan ekosistem pembayaran baru. Pembangunan jalan tol berskala besar juga sempat memunculkan pertanyaan mengenai biaya dan prioritas. Bahkan desentralisasi setelah Reformasi pernah dipandang sebagai eksperimen yang ambisius dan penuh ketidakpastian.

Kini, tidak banyak yang berpendapat bahwa inisiatif-inisiatif tersebut seharusnya tidak pernah dicoba. Program-program tersebut menjadi bagian dari lanskap kelembagaan Indonesia karena disempurnakan melalui bertahun-tahun implementasi, investasi, dan pembelajaran.

Dengan latar belakang sejarah tersebut, program-program unggulan Presiden Prabowo Subianto perlu dinilai dalam perspektif yang sama. Program Makan Bergizi Gratis atau MBG, Koperasi Merah Putih, Danantara, serta berbagai inisiatif nasional lainnya merupakan upaya yang sangat ambisius untuk mengubah arah pembangunan Indonesia.

Nutrisi, ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi berbasis desa, investasi strategis, industrialisasi, dan infrastruktur bukanlah proyek politik jangka pendek. Semuanya merupakan investasi antargenerasi yang ditujukan untuk memperkuat fondasi Indonesia Emas 2045.

Skala agenda pemecahan masalah ini mudah terlewatkan di tengah perdebatan politik sehari-hari. Buku Problem Solver, yang baru diterbitkan dan ditulis oleh Dirgayuza Setiawan, Muhammad Qodari, dan Agung Gumilar Saputra, mengidentifikasi 108 tantangan nasional yang menurut para penulis telah ditangani selama 18 bulan pertama pemerintahan Presiden Prabowo. Tantangan tersebut mencakup pangan, energi, kesehatan, pendidikan, infrastruktur, pengentasan kemiskinan, industrialisasi, tata kelola pemerintahan, digitalisasi, pertahanan, dan diplomasi.

Setiap kebijakan dapat dan memang seharusnya diperdebatkan. Tidak semua intervensi akan berjalan persis seperti yang direncanakan, dan beberapa di antaranya tentu akan membutuhkan koreksi yang signifikan. Namun jika dilihat secara keseluruhan, berbagai kebijakan tersebut menunjukkan sebuah pemerintahan yang berupaya melakukan intervensi struktural terhadap rentang tantangan nasional yang sangat luas. Ambisi sebesar itu secara alami akan menarik perhatian publik yang sangat besar.

Ketika sebuah program berjalan dalam skala nasional, bahkan kegagalan implementasi yang relatif kecil dapat terlihat sangat jelas. Gangguan logistik di satu wilayah, keterlambatan pengadaan, ketidakkonsistenan pelaksanaan di daerah, atau persoalan tata kelola dapat dengan cepat mendominasi pemberitaan dan membentuk persepsi publik. Dalam lingkungan media digital saat ini, kegagalan pada tahap awal sering mendapatkan perhatian yang jauh lebih besar dibandingkan jutaan makanan, transaksi, atau layanan yang berhasil diberikan setiap hari.

Hal tersebut seharusnya tidak mengejutkan. Reformasi berskala besar selalu menghadapi kompleksitas dalam mengelola negara dengan lebih dari 280 juta penduduk yang tersebar di ribuan pulau. Tidak ada proyek percontohan yang sepenuhnya mampu mensimulasikan implementasi secara nasional.

Karena itu, ujian kepemimpinan yang sebenarnya bukanlah menghindari setiap tantangan operasional, melainkan bagaimana merespons tantangan tersebut secara cepat, transparan, dan dengan kemauan untuk terus melakukan perbaikan.

Perbedaan ini penting.

Kritik memainkan peran penting dalam demokrasi yang sehat. Pengawasan publik memperkuat institusi, mengidentifikasi kelemahan, dan memastikan pemerintah tetap dapat dimintai pertanggungjawaban. Kritik yang konstruktif karena itu harus diterima, bukan ditolak.

Namun kritik akan memberikan manfaat terbaik bagi bangsa apabila mampu membedakan antara kelemahan dalam implementasi dan kelemahan dalam visi. Memperbaiki pelaksanaan sangat berbeda dengan meninggalkan tujuan secara keseluruhan.

MBG dan Investasi pada Modal Manusia

Pertimbangkan MBG. Hampir tidak ada yang akan menyangkal pentingnya meningkatkan nutrisi anak, mengurangi stunting, dan berinvestasi pada generasi masa depan yang lebih sehat. Nutrisi selama masa kanak-kanak memengaruhi hasil pendidikan, produktivitas tenaga kerja, dan potensi ekonomi dalam jangka panjang. Negara-negara yang sejak dini berinvestasi pada nutrisi anak tidak hanya meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi juga memperkuat modal manusia mereka di masa depan.

Indonesia sedang mencoba melakukan hal serupa dalam skala yang luar biasa besar. Karena itu, tantangannya bukan apakah tujuan tersebut layak diperjuangkan, melainkan apakah implementasinya dapat terus diperbaiki seiring dengan perluasan program.

Logistik yang lebih baik, jaminan kualitas yang lebih kuat, pemantauan yang lebih efektif, serta koordinasi yang lebih erat antara pemerintah pusat dan daerah bukanlah argumen untuk menolak MBG. Justru faktor-faktor tersebut akan menentukan apakah program tersebut berhasil.

Pada saat yang sama, MBG tidak seharusnya hanya dipandang sebagai program kesejahteraan sosial. Dalam skala yang memadai, penyediaan makanan bagi jutaan masyarakat Indonesia dapat menciptakan permintaan di sektor pertanian, susu, peternakan, perikanan, pengolahan makanan, logistik, dan usaha desa.

Indonesia saat ini masih mengimpor sekitar 80 persen kebutuhan susu nasional, sementara pemerintah telah menetapkan target untuk meningkatkan produksi susu domestik sebesar 900.000 ton pada 2029 melalui impor bibit ternak dan dukungan investasi.

Jika hubungan antara nutrisi dan produksi domestik tersebut dikelola dengan baik, MBG dapat menciptakan sebuah lingkaran yang saling memperkuat: meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mendorong investasi, lapangan kerja di pedesaan, dan rantai pasok lokal.

Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Inklusif

Prinsip yang sama berlaku bagi Koperasi Merah Putih. Gerakan koperasi di berbagai belahan dunia telah memainkan peran penting dalam membangun ekonomi yang inklusif.

Amul di India mengubah jutaan peternak sapi perah skala kecil menjadi bagian dari salah satu koperasi susu terbesar di dunia. Fonterra di Selandia Baru berkembang menjadi kekuatan besar dalam sektor pertanian global melalui kepemilikan koperasi. Mondragón di Spanyol menunjukkan bahwa perusahaan yang dimiliki pekerja dapat bersaing secara internasional sekaligus mempertahankan akar komunitas yang kuat.

Ambisi Indonesia sangat besar. Pembentukan 83.371 Koperasi Desa Merah Putih menunjukkan skala tersebut. Hingga April 2026, sebanyak 5.000 gerai telah dibangun, dengan target mencapai 30.000 gerai pada Agustus.

Angka sebesar itu sendiri seharusnya membantu kita memahami tantangan implementasinya. Membangun beberapa ratus koperasi yang berhasil merupakan satu hal. Mencoba membangun institusi ekonomi yang menjangkau puluhan ribu komunitas di seluruh nusantara merupakan hal yang sama sekali berbeda.

Signifikansi Koperasi Merah Putih pada akhirnya mungkin tidak hanya terletak pada jumlah koperasi yang berhasil dibentuk, tetapi pada hambatan ekonomi yang dapat mereka bantu atasi.

Distribusi pupuk menjadi salah satu contoh. Sistem yang sebelumnya diatur oleh 145 regulasi, termasuk 23 Peraturan Pemerintah dan enam Peraturan Presiden, telah disederhanakan menjadi satu Peraturan Presiden yang ditujukan untuk memungkinkan distribusi yang lebih langsung dari Pupuk Indonesia kepada pengecer dan petani.

Hal ini menunjukkan sebuah poin penting mengenai reformasi. Pemerintahan yang berani tidak selalu berarti menciptakan pemerintahan yang lebih besar. Terkadang transformasi justru muncul dari hal sebaliknya: menyederhanakan birokrasi, menghapus regulasi yang menghambat pelaksanaan, memaksa berbagai institusi untuk berkoordinasi, dan akhirnya mengambil keputusan yang selama bertahun-tahun ditunda.

Beberapa indikator awal di sektor pertanian juga patut diperhatikan. Kombinasi kenaikan harga pembelian pemerintah untuk beras, dukungan irigasi, dan reformasi pupuk dikaitkan dengan Indeks Kesejahteraan Petani yang mencapai sekitar 125 pada 2026, yang dalam buku tersebut disebut sebagai level tertinggi dalam 34 tahun.

Cadangan beras pemerintah juga dilaporkan mencapai 5 juta ton pada April 2026, level tertinggi dalam sejarah Indonesia.

Inilah jenis hasil yang pada akhirnya harus menjadi ukuran keberhasilan program-program ambisius, bukan sekadar pengumuman yang menyertai peluncurannya, tetapi apakah program tersebut secara terukur meningkatkan ketahanan nasional dan kehidupan masyarakat.

Prinsip yang sama juga berlaku di sektor perikanan. Rencana pemerintah untuk menyediakan 4.582 kapal penangkap ikan modern menargetkan produksi sekitar 2,3 juta ton ikan per tahun, dapat melibatkan sekitar 30 galangan kapal dalam negeri, dan berpotensi menciptakan 600.000 lapangan kerja.

Apakah seluruh target tersebut pada akhirnya dapat tercapai masih harus dilihat. Namun inilah tepatnya skala pemikiran yang dimaksud dengan pembangunan bangsa: menyelesaikan persoalan perikanan sekaligus memperkuat industri galangan kapal, lapangan kerja, ketahanan pangan, ekspor, dan perekonomian pesisir.

Danantara dan Perspektif Jangka Panjang

Danantara juga seharusnya dilihat melalui perspektif jangka panjang yang sama.

Hampir setiap lembaga investasi berdaulat yang berhasil, mulai dari Temasek dan GIC di Singapura hingga Khazanah Nasional di Malaysia dan Mubadala di Abu Dhabi, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun kerangka tata kelola, kepercayaan publik, dan disiplin investasi.

Tidak ada satu pun yang muncul dalam semalam sebagai institusi yang dihormati secara global. Kredibilitas mereka diperoleh melalui pengelolaan profesional, transparansi, dan kinerja yang konsisten dari waktu ke waktu.

Ambisi Indonesia dalam membangun lembaga investasi berdaulat harus dinilai dengan standar yang sama. Tujuannya bukanlah mencapai kesempurnaan pada tahun pertama, melainkan membangun kematangan institusi secara bertahap melalui tata kelola yang kuat, pengawasan independen, dan akuntabilitas jangka panjang.

Lebih penting lagi, relevansi Danantara pada akhirnya harus diukur bukan hanya dari besarnya aset yang dikelola, tetapi dari apakah aset tersebut dapat membantu menyelesaikan persoalan ekonomi strategis.

Rencana untuk meningkatkan produksi susu domestik dan memodernisasi sektor peternakan menunjukkan potensi peran modal investasi nasional dalam mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat kapasitas produksi dalam negeri.

Perbedaan tersebut penting.

Pembangunan bangsa bukan sekadar tentang mengeluarkan lebih banyak uang. Pembangunan bangsa adalah tentang menyelesaikan masalah.

Terkadang hal tersebut membutuhkan penciptaan sebuah institusi. Terkadang membutuhkan infrastruktur. Terkadang membutuhkan pengerahan modal dalam skala yang sangat besar. Namun terkadang, yang dibutuhkan justru sesuatu yang jauh lebih sederhana: mengubah sebuah regulasi, menghilangkan hambatan, menghubungkan institusi yang sebelumnya bekerja dalam silo, atau memberikan kewenangan kepada seseorang untuk akhirnya mengambil keputusan.

Keberanian untuk Membangun Harus Disertai Keberanian untuk Mengoreksi

Pada akhirnya, percakapan mengenai reformasi tidak seharusnya berpusat pada apakah kebijakan ambisius akan menghadapi kesulitan. Sejarah menunjukkan bahwa hampir semua reformasi besar memang mengalaminya.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah pemerintah memiliki disiplin untuk belajar, beradaptasi, dan memperbaiki diri tanpa kehilangan fokus terhadap tujuan yang lebih besar.

Di sinilah para pendukung program-program ambisius juga harus menerima prinsip yang sama pentingnya: waktu tidak boleh menjadi alasan untuk membenarkan kinerja yang buruk.

Memberikan waktu bagi program transformatif untuk berkembang bukan berarti memberikan kekebalan terhadap pengawasan. Justru sebaliknya. Semakin besar ambisinya dan semakin besar sumber daya publik yang digunakan, semakin tinggi pula tuntutan terhadap transparansi, hasil yang terukur, pengelolaan profesional, dan akuntabilitas.

Karena itu, respons yang tepat terhadap kegagalan implementasi bukanlah kecaman secara refleks maupun pembelaan tanpa pertanyaan. Respons yang tepat adalah koreksi.

Jika sistem keamanan pangan dalam MBG tidak memadai, perkuat. Jika sebuah koperasi dikelola dengan buruk, perbaiki tata kelolanya. Jika sebuah institusi investasi belum memiliki transparansi yang cukup, tuntut transparansi yang lebih besar. Jika birokrasi menghambat petani mendapatkan pupuk, sederhanakan birokrasi tersebut. Jika sebuah kebijakan menimbulkan dampak yang tidak diinginkan, ubah kebijakan tersebut.

Keberanian untuk membangun harus disertai dengan keberanian untuk mengoreksi.

Saat Indonesia bergerak menuju Indonesia Emas 2045, negara ini membutuhkan lebih dari sekadar perbaikan bertahap. Indonesia membutuhkan investasi besar pada sumber daya manusia, institusi yang lebih kuat, infrastruktur modern, kemampuan teknologi, ketahanan pangan dan energi, kapasitas industri, serta inklusi ekonomi.

Transformasi tersebut secara alami membutuhkan keberanian politik karena manfaat terbesarnya sering kali baru dirasakan bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, setelah pertama kali dirancang.

Mungkin di situlah letak paradoks pembangunan bangsa.

Para pemimpin yang berpikir paling jauh ke masa depan sering kali menerima kritik paling keras pada masa kini. Program-program mereka dinilai sebelum memiliki waktu yang cukup untuk berkembang, sementara keberhasilannya baru terlihat setelah institusi berevolusi, sistem membaik, dan generasi berikutnya menikmati manfaat dari keputusan yang dibuat bertahun-tahun sebelumnya.

Namun sejarah jarang memberikan penghargaan kepada pemerintah hanya karena mereka mengumumkan gagasan-gagasan ambisius.

Sejarah memberikan penghargaan kepada mereka yang mampu mengubah ambisi menjadi institusi, institusi menjadi pelaksanaan, dan pelaksanaan menjadi peningkatan yang terukur dalam kehidupan masyarakat.

Sejarah juga memberikan penghargaan kepada pemerintah yang tetap berkomitmen terhadap reformasi sulit sambil menerima kritik konstruktif dengan kerendahan hati, memperbaiki kesalahan secara cepat, dan menyempurnakan kebijakan dengan disiplin.

Pada akhirnya, itulah standar yang seharusnya digunakan untuk menilai reformasi ambisius saat ini.

Bukan apakah setiap solusi sudah sempurna ketika pertama kali dimulai. Bukan pula apakah setiap target dapat dicapai secara langsung.

Melainkan apakah Indonesia menjadi lebih kuat karena ada seseorang yang memiliki keberanian untuk menghadapi persoalan-persoalan yang selama ini dianggap terlalu sulit untuk diselesaikan.

Indonesia Emas 2045 tidak akan dibangun melalui program-program yang sempurna. Indonesia Emas 2045 akan dibangun melalui keberanian untuk mengejar gagasan-gagasan ambisius, disiplin untuk mengukur hasilnya, kerendahan hati untuk memperbaiki kelemahannya, dan kesabaran kolektif untuk memahami bahwa pembangunan bangsa tidak diukur melalui siklus pemberitaan politik, melainkan melalui generasi.

*Sachin V. Gopalan adalah Founder dan CEO Indonesia Economic Forum (IEF), sebuah platform yang dikelola oleh PT Chairos International Ventures yang mempertemukan para pemimpin bisnis, pembuat kebijakan, investor, dan pemikir untuk terlibat dalam pembangunan ekonomi Indonesia dan pertumbuhan jangka panjang. Ia menulis mengenai kebijakan ekonomi, transformasi digital, kewirausahaan, serta peran Indonesia yang terus berkembang dalam perekonomian regional dan global.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Akses Pendidikan Berkualitas dari Industri Pertambangan Dukung Penguatan Talenta Unggul Nasional

JAKARTA — Kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan sebuah bangsa dalam membangun peradaban masa depan. Namun, hingga kini masih banyak daerah di Indonesia yang menghadapi keterbatasan akses terhadap pendidikan berkualitas, mulai dari fasilitas pembelajaran, pendampingan akademik, hingga pengembangan potensi diri generasi muda.

Kondisi tersebut menjadikan peningkatan kualitas pendidikan sebagai kebutuhan yang semakin krusial, guna memastikan generasi penerus bangsa memiliki kemampuan dan daya saing yang memadai untuk menghadapi tantangan masa depan.

Sebagai bagian dari komitmen tersebut, MIND ID terus memperkuat investasi sosial di bidang pendidikan melalui program #MINDucation. Berkolaborasi dengan PT TIMAH (Persero) Tbk dan Ruangguru di Pemali Boarding School,l sejakntahun 2024, dan program ini memberikan pendampingan akademik dan pengembangan diri bagi siswa-siswa terpilih dari Bangka Belitung dan sekitarnya.

Corporate Secretary MIND ID, Pria Utama, mengatakan bahwa pembangunan masa depan Indonesia tidak hanya membutuhkan investasi pada infrastruktur dan teknologi, tetapi juga penguatan kualitas sumber daya manusia yang akan menjadi penggerak pembangunan nasional.

“Melalui program ini, MIND ID terus konsisten mendukung peningkatan akses dan kualitas pendidikan sebagai bagian dari investasi jangka panjang. Kami ingin memastikan lebih banyak generasi muda Indonesia memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensinya serta siap menjawab kebutuhan pembangunan di masa depan,” ujarnya.

Program #MINDucation menghadirkan berbagai bentuk pendampingan, mulai dari pembelajaran akademik, try out Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), hingga kegiatan pengembangan karakter seperti mentorship, expo jurusan, kelas inspirasi, dan project challenge.

Dalam kegiatan bertajuk Pass It Forward: One Step Closes, One Step Begins, MIND ID bersama TIMAH dan Ruangguru menggelar wisuda bagi 72 siswa angkatan 2025/2026 sekaligus menyambut 71 siswa angkatan 2026/2027 yang akan mengikuti program pendampingan belajar secara luring.

Program tersebut menunjukkan hasil yang positif. Pada tahun ajaran 2025/2026, sebanyak 31 dari 33 siswa peserta program berhasil diterima di perguruan tinggi negeri pilihan atau setara 94 persen. Sementara itu, dua siswa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi swasta dan tiga siswa memilih mengambil gap year untuk mempersiapkan studi lanjutan.

Capaian ini akan ikut memperkuat prestasi Pemali Boarding School dalam mencetak generasi unggul yang sejak berdiri hingga 2025 telah meluluskan 922 alumni yang kini berkiprah sebagai guru, dokter, dosen, anggota kepolisian, hingga karyawan BUMN maupun sektor swasta.

Lebih lanjut, Pria menyampaikan MIND ID memastikan program #MINDucation akan terus dilanjutkan sebagai bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam mendukung lahirnya talenta-talenta unggul yang mampu berkontribusi bagi pembangunan nasional.

“Keberhasilan pendidikan hari ini akan menjadi modal penting dalam memperkuat daya saing bangsa. Karena itu, kami akan terus mendorong terciptanya akses pendidikan yang lebih baik agar semakin banyak generasi muda Indonesia memiliki kesempatan untuk berkembang dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa,” tutup Pria.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Dari Ide ke Solusi, Enam Inovasi AI Tampil di Demo Day AI Connect Innovation Lab

AI Connect Makassar menggelar Demo Day dengan menampilkan enam inovasi AI, mulai dari layanan publik, pertanian, bisnis, ekspor UMKM, hingga fashion.

Makassar, 6 Agustus 2026 – Setelah melalui rangkaian pengembangan dan pembekalan, enam tim peserta AI Connect Innovation Lab mempresentasikan solusi berbasis kecerdasan buatan yang mereka kembangkan dalam kegiatan “AI Connect Innovation Lab: Showcasing the Future of AI Solutions”, Kamis (6/8).

Bertempat di Telkom AI Center of Excellence Makassar, kegiatan ini menjadi ruang bagi peserta untuk membawa proyek yang telah dikembangkan selama program ke tahap presentasi dan demonstrasi. Tidak hanya menjelaskan ide, setiap tim memaparkan permasalahan yang ingin diselesaikan, solusi yang ditawarkan, demonstrasi produk, hingga potensi implementasi dan model bisnisnya.

Dari rangkaian program tersebut, peserta menghasilkan enam inovasi berbasis AI, yaitu ASPIRA AI, T-Save, AgriVision AI, GrowMate AI, EksporIn, dan Fitcheck AI. Keenam inovasi tersebut mengangkat beragam kebutuhan, mulai dari pelayanan publik, keamanan obat, pertanian, pengembangan bisnis, ekspor UMKM, hingga kebutuhan personal di bidang fashion. Profil dan informasi selengkapnya mengenai keenam proyek tersebut dapat diakses melalui laman AI Connect Innovation Lab.

Berbeda dari sesi pembelajaran sebelumnya yang berfokus pada pengembangan proyek, Demo Day memberikan kesempatan kepada peserta untuk mendapatkan perspektif langsung dari pihak di luar tim pengembang. Setiap presentasi dilengkapi dengan sesi tanya jawab dan masukan dari dewan juri yang melihat proyek dari sisi teknologi sekaligus pengembangan bisnis. Dua juri yang hadir dalam kegiatan ini adalah Andi Nur Bau Massepe, Co-founder ANBM Venture, serta Khairul Umam, Manager Inkubator Bisnis Kota Makassar di bawah Dinas Koperasi dan UKM Kota Makassar.

Masukan dari kedua juri menjadi bagian dari proses validasi bagi peserta untuk melihat kembali solusi yang telah dibangun. Tidak hanya mengenai apakah teknologi dapat berjalan, peserta juga diajak melihat bagaimana produk tersebut menjawab kebutuhan pengguna, memiliki potensi untuk dikembangkan, serta dapat diterapkan dalam konteks yang lebih nyata.

Business and Community Lead Telkom AI Connect Makassar, Sunarti M.R., mengatakan bahwa AI Connect Innovation Lab dirancang untuk memberikan pengalaman pengembangan produk yang lebih utuh kepada peserta, dari membangun solusi hingga memahami bagaimana solusi tersebut dapat memberikan nilai bagi pengguna. “Kami ingin peserta tidak berhenti pada tahap membuat produk berbasis AI. Melalui Innovation Lab, mereka belajar melihat permasalahan secara lebih dekat, memahami kebutuhan pengguna, mendapatkan feedback, dan mulai memikirkan bagaimana solusi tersebut dapat dikembangkan serta memberikan dampak yang lebih luas,” ujar Sunarti.

Rangkaian Demo Day turut diisi dengan sesi pengenalan produk AI Telkom dan keynote session mengenai perkembangan ekosistem AI di Indonesia, khususnya di Makassar. Sesi tersebut memberikan konteks yang lebih luas bagi peserta mengenai perkembangan teknologi AI sekaligus peluang pengembangannya di tingkat lokal.

Bagi peserta, Demo Day menjadi kesempatan untuk melihat kembali proses pengembangan yang telah mereka jalani sekaligus menguji solusi di hadapan pihak eksternal. Mustamin, salah satu pengembang ASPIRA AI mengatakan bahwa proses selama program memberikan perspektif baru dalam mengembangkan produk, terutama dalam menghubungkan aspek teknologi dengan kebutuhan pengguna dan bisnis. “Selama mengikuti program, kami tidak hanya belajar bagaimana membangun solusi AI, tetapi juga bagaimana menjelaskan value dari produk, memahami target pengguna, dan menerima masukan untuk pengembangan selanjutnya. Demo Day menjadi kesempatan bagi kami untuk melihat apakah solusi yang kami bangun sudah cukup relevan dan apa yang masih perlu diperbaiki,” ungkapnya.

Kegiatan ditutup dengan sesi apresiasi dan networking yang mempertemukan peserta dengan mentor, mitra universitas, AI enthusiast, serta stakeholder yang hadir. Enam tim membawa pulang tidak hanya hasil pengembangan selama program, tetapi juga masukan dan perspektif baru yang dapat menjadi bahan untuk menyempurnakan proyek mereka pada tahap berikutnya.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Menyiapkan Kuota e-Meterai Perusahaan Sebelum Musim Kontrak Menumpuk

Persiapan kuota e-Meterai sejak awal membantu perusahaan menghindari kekurangan saat volume kontrak meningkat. Dengan perencanaan yang tepat, proses legalisasi dokumen tetap lancar dan tidak menghambat operasional.

Menjelang tutup kuartal, meja legal biasanya penuh perjanjian yang menunggu pengesahan. Tim baru sadar stok meterai menipis saat dokumen sudah antre. Kuota e-Meterai Perusahaan sering dianggap urusan teknis kecil, padahal menahan laju kontrak.

Dampaknya menjalar ke banyak divisi. Penagihan tertunda karena berita acara belum lengkap pengesahannya. Vendor menunggu kepastian, sementara jadwal proyek terus berjalan. Dokumen yang belum bermeterai juga berisiko dikenai pemeteraian kemudian beserta sanksi administratif.

Perencanaan kuota menutup risiko tersebut sejak awal. Perusahaan dapat beli meterai elektronik dalam jumlah terukur sebelum musim kontrak tiba. Langkahnya sederhana, asalkan pemetaan dokumennya dilakukan lebih dulu.

Memetakan Dokumen yang Wajib Bermeterai Sebelum Menghitung Kebutuhan

Tidak semua berkas perusahaan menjadi objek bea meterai. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2020 tentang Bea Meterai menetapkan tarif tunggal sepuluh ribu rupiah. Aturan itu berlaku sejak 1 Januari 2021, termasuk untuk dokumen dalam bentuk elektronik.

Jenis Dokumen yang Umum Ditemui

Beberapa dokumen berikut termasuk objek bea meterai:

● Surat perjanjian, surat keterangan, surat pernyataan, dan surat sejenis beserta rangkapnya

● Akta notaris serta akta pejabat pembuat akta tanah beserta salinannya

● Surat berharga dan dokumen transaksi surat berharga

● Dokumen bernilai lebih dari lima juta rupiah yang menyebutkan penerimaan uang

● Dokumen yang digunakan sebagai alat bukti di pengadilan

Menghitung Kebutuhan e-Meterai Perusahaan dalam Satu Periode

Perhitungan paling akurat berangkat dari data tahun sebelumnya. Hitung jumlah perjanjian, kuitansi, dan berita acara yang terbit tiap bulan. Tambahkan margin untuk dokumen revisi yang harus diterbitkan ulang. Angka itu menjadi dasar pengisian kuota ematerai untuk satu periode.

Pola Musiman yang Perlu Diantisipasi

Volume dokumen jarang merata sepanjang tahun. Penutupan tahun buku dan awal tahun anggaran biasanya menjadi puncaknya. Perusahaan konstruksi dan pengadaan sering mengalami lonjakan menjelang tenggat tender.

Alur Pengisian Kuota melalui Akun Korporat

Pengisian kuota di ezSign dikelola melalui akun sysadmin korporat. Prosesnya dilakukan tanpa perlu mengurus berkas fisik ke mana pun. Untuk pembelian meterai elektronik, koordinasinya melalui admin korporat atau tim sales.

Tahapan Top Up Kuota

Alur pengisian saldo pada akun korporat berjalan seperti ini:

1. Masuk ke akun sysadmin, lalu buka menu Services.

2. Pilih opsi Top Up pada menu tersebut.

3. Tentukan jumlah kuota yang dibutuhkan.

4. Pilih metode pembayaran, kemudian klik Create Order.

5. Selesaikan pembayaran dalam waktu maksimal 1×24 jam.

Metode pembayaran yang tersedia mencakup transfer bank dan QRIS. Sysadmin sebaiknya menyimpan bukti transaksi untuk keperluan rekonsiliasi internal.

Kesalahan Pengelolaan e-Meterai Perusahaan yang Sering Terjadi

Kendala terbesar biasanya bukan pada teknologinya. Kesalahan justru muncul dari kebiasaan administrasi yang belum tertata rapi. Beberapa pola berikut paling sering ditemui di lapangan:

● Menempatkan tanda tangan hingga menimpa kode QR pada meterai

● Membeli kuota mendadak saat dokumen sudah menunggu pengesahan

● Membubuhkan meterai pada dokumen yang sebenarnya tidak wajib bermeterai

● Tidak menunjuk pengganti sysadmin ketika pemegang akun sedang cuti

Penempatan dan Kondisi Dokumen

Satu hal teknis layak digarisbawahi oleh tim legal. Posisi ematerai dan tanda tangan sebaiknya berdampingan agar kode QR tetap terbaca. Pastikan isi dokumen sudah final sebelum pembubuhan dilakukan. Pengeditan atau kompresi setelahnya berisiko menggugurkan hasil verifikasi.

Kesiapan Administrasi yang Menentukan Kelancaran Kontrak

Pengelolaan meterai digital menuntut perencanaan, bukan reaksi mendadak. Pemetaan dokumen, perhitungan volume, dan penunjukan pengelola akun perlu disiapkan bersamaan. Perusahaan yang rutin meninjau kuotanya jarang kehilangan momentum saat kontrak menumpuk.

ezSign menyediakan fitur pembubuhan meterai elektronik terbitan Peruri pada dokumen digital. Fitur ini tersedia untuk pengguna akun bisnis dan berjalan dalam satu aplikasi dengan tanda tangan elektronik. Perusahaan yang sedang menata alur dokumennya dapat berdiskusi lebih dulu melalui kanal resmi ezSign.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Siapa pihak yang menerbitkan meterai elektronik?

Meterai elektronik diterbitkan oleh Peruri, sedangkan penyedia layanan menyediakan fasilitas pembubuhannya pada dokumen digital.

2. Berapa tarif bea meterai yang berlaku saat ini?

Tarifnya tunggal sebesar sepuluh ribu rupiah sesuai Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2020 tentang Bea Meterai.

3. Apakah kuota e-Meterai Perusahaan bisa ditambah sewaktu-waktu?

Bisa, penambahan dilakukan melalui akun sysadmin korporat atau dengan menghubungi tim sales penyedia layanan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Kemitraan Indonesia–India: Saatnya Mengubah Komitmen Menjadi Hasil Nyata

Jakarta — Kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia menjadi kesempatan penting untuk mengangkat salah satu kemitraan strategis yang paling besar potensinya di Asia, namun hingga kini masih belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagai dua negara demokrasi besar, kekuatan maritim, anggota G20, serta suara penting bagi negara-negara Global South, Indonesia dan India sesungguhnya memiliki modal yang sangat kuat untuk membangun hubungan yang jauh lebih erat. Namun, berbagai capaian kerja sama selama ini masih belum sepenuhnya mencerminkan potensi yang dimiliki kedua negara. Karena itu, kunjungan ini dapat menjadi titik balik yang penting—apabila Indonesia dan India mampu melampaui simbolisme diplomatik dan mulai melembagakan kerja sama di bidang perdagangan, teknologi, konektivitas, keamanan maritim, serta hubungan antarmasyarakat secara lebih konkret dan berkelanjutan.

Dari Kemitraan Strategis Menuju Konvergensi Strategis

Hubungan kedua negara memperoleh momentum yang sangat kuat ketika Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kenegaraan ke India pada Januari 2025, bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–India. Dalam kunjungan tersebut, kedua negara menandatangani lima kesepakatan yang mencakup kerja sama di bidang kesehatan, pengobatan tradisional, transformasi digital, keamanan maritim, serta pertukaran budaya. Kehadiran Presiden Prabowo sebagai Tamu Kehormatan pada peringatan Hari Republik India semakin menegaskan pentingnya posisi Indonesia dalam strategi Indo-Pasifik India.

Namun demikian, pertanyaan yang lebih besar adalah apakah berbagai capaian tersebut mampu menghasilkan lompatan besar (quantum leap) dalam hubungan bilateral. Jawabannya bergantung pada kemampuan kedua negara mengubah hubungan yang selama ini banyak ditopang oleh kedekatan diplomatik menjadi kemitraan yang berakar pada saling ketergantungan ekonomi, teknologi, dan inovasi.

Secara historis, Indonesia dan India memiliki hubungan peradaban yang sangat kuat serta saling memahami dalam berbagai isu politik internasional. Kerja sama selama masa perjuangan antikolonial, keterlibatan dalam semangat Konferensi Asia-Afrika Bandung, serta dukungan terhadap terciptanya tatanan dunia yang lebih multipolar telah membangun fondasi yang kokoh bagi hubungan kedua negara. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan tersebut terus berkembang melalui peningkatan kerja sama maritim dan pertahanan, bertambahnya minat terhadap produk pertahanan India, perluasan pertukaran budaya dan pendidikan, dukungan India terhadap konservasi Candi Prambanan, meningkatnya investasi India di Indonesia, penjajakan mekanisme perdagangan menggunakan mata uang lokal, hingga kerja sama antara Indian Coast Guard dan Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (BAKAMLA).

Meski demikian, berbagai tantangan masih membatasi perkembangan hubungan bilateral. Nilai perdagangan kedua negara masih jauh di bawah potensi yang sebenarnya, sementara investasi India di Indonesia masih tertinggal dibandingkan investasi dari Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, maupun Singapura. Karena itu, hubungan Indonesia–India selama ini sering dipandang memiliki arti strategis yang besar, tetapi belum berkembang secara optimal dari sisi ekonomi.

Mengapa Momentum Saat Ini Berbeda?

Terdapat sejumlah perkembangan global yang membuat situasi saat ini jauh lebih menguntungkan dibandingkan sebelumnya.

Salah satunya adalah semakin kuatnya peran Indonesia dan India sebagai pemimpin negara-negara Global South. Sebagai dua negara berkembang dengan perekonomian besar, keduanya memiliki kepentingan yang sama dalam mendorong reformasi tata kelola global, memperjuangkan pembiayaan iklim yang lebih adil, meningkatkan akses terhadap pendanaan pembangunan, memperkuat ketahanan pangan, serta memperluas akses terhadap teknologi. Ketika globalisasi menghadapi tekanan akibat rivalitas geopolitik, fragmentasi rantai pasok, dan meningkatnya proteksionisme, Indonesia dan India memiliki peluang untuk bersama-sama memperjuangkan tatanan ekonomi global yang lebih inklusif. Berbeda dengan banyak kemitraan Global South lainnya yang sering berhenti pada tataran retorika, Indonesia dan India memiliki skala ekonomi serta pengaruh diplomatik yang cukup besar untuk benar-benar memengaruhi arah berbagai forum internasional seperti G20BRICS, maupun ASEAN.

Bidang lain yang memiliki prospek besar adalah ketahanan pangan dan energi. Kedua negara sama-sama menghadapi tantangan berupa inflasi pangan, fluktuasi harga energi, serta dampak perubahan iklim. Indonesia merupakan produsen utama minyak sawit, nikel, batu bara, dan berbagai komoditas strategis lainnya, sementara India merupakan salah satu pasar konsumen terbesar di dunia. Investasi bersama di bidang pengolahan pangan, pupuk, energi terbarukan, biofuel, hingga pembangunan cadangan strategis akan memperkuat ketahanan kedua negara terhadap berbagai guncangan global. Justru karena didorong oleh kepentingan jangka panjang, sektor pangan dan energi berpotensi menjadi salah satu pilar kerja sama yang paling kokoh dalam hubungan Indonesia–India di masa depan.

Baik, berikut Bagian 2 dengan gaya yang tetap mengalir seperti artikel asli, tanpa memecah paragraf menjadi banyak bagian pendek.

Keamanan Maritim dan Industri Pertahanan

Dimensi maritim menawarkan salah satu peluang paling strategis dalam hubungan Indonesia dan India. Berada di jalur masuk Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok, Indonesia menempati posisi yang sangat penting dalam geopolitik Indo-Pasifik. Di sisi lain, India terus memperluas keterlibatan maritimnya ke arah timur melalui kebijakan Act East Policy dan strategi Indo-Pasifiknya. Kedua negara memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga kebebasan bernavigasi, meningkatkan kesadaran situasional maritim (maritime domain awareness), memberantas penangkapan ikan ilegal, memerangi pembajakan dan kejahatan lintas negara, memperkuat ketahanan rantai pasok, serta meningkatkan kemampuan penanggulangan bencana. Tahap berikutnya dari kerja sama ini seharusnya tidak lagi terbatas pada latihan militer bersama, tetapi berkembang menuju kolaborasi industri pertahanan, pembangunan fasilitas pemeliharaan bersama, produksi bersama, serta alih teknologi. Keinginan Indonesia untuk mendiversifikasi sumber pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) juga membuka peluang baru bagi berbagai platform dan teknologi pertahanan dari India.

Kemitraan Digital yang Berpotensi Mengubah Permainan

Bidang yang mungkin paling menjanjikan dalam hubungan Indonesia–India saat ini adalah kerja sama digital. Peluncuran Indonesia Open Network (ION) yang terinspirasi dari Open Network for Digital Commerce (ONDC) di India merupakan salah satu contoh nyata transfer pengetahuan mengenai Digital Public Infrastructure (DPI). Keberhasilan India membangun berbagai layanan publik digital, mulai dari sistem identitas hingga infrastruktur pembayaran, telah menarik perhatian banyak negara. Dengan ekonomi digital yang terus berkembang pesat, Indonesia menjadi mitra yang sangat tepat untuk mengadaptasi berbagai inovasi tersebut sesuai kebutuhan nasional. Agenda kerja sama ke depan dapat diperluas mencakup pengembangan Digital Public Infrastructure, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), keamanan siber, teknologi finansial (fintech), digitalisasi UMKM, hingga pengembangan keterampilan digital. Di tengah semakin ketatnya persaingan teknologi global, keberhasilan kemitraan digital Indonesia–India bahkan berpotensi menjadi model kolaborasi bagi negara-negara Global South.

Tantangan yang Masih Harus Diatasi

Meski prospeknya sangat besar, terdapat sejumlah hambatan yang masih membatasi perkembangan hubungan kedua negara.

Tantangan pertama adalah masih rendahnya pemahaman masyarakat dan dunia usaha mengenai satu sama lain. Banyak pelaku bisnis India yang justru lebih mengenal pasar Eropa, Amerika Utara, atau kawasan Teluk dibandingkan Indonesia. Sebaliknya, tidak sedikit masyarakat Indonesia yang masih memandang India hanya melalui perspektif sejarah dan budaya, tanpa memahami perkembangan ekonomi, teknologi, dan industrinya saat ini. Oleh karena itu, kedua negara memerlukan lebih banyak lembaga yang mampu menjembatani pertukaran gagasan secara berkelanjutan, seperti think tank, pusat kajian, maupun kemitraan akademik.

Tantangan berikutnya berkaitan dengan persepsi. Sejumlah pemangku kepentingan di Indonesia masih memandang bahwa sebagian pihak di India terkadang melihat hubungan bilateral melalui perspektif “keunggulan peradaban”, dengan terlalu menonjolkan pengaruh sejarah India terhadap budaya Indonesia. Narasi semacam ini, meskipun tidak selalu disengaja, dapat menimbulkan kesan yang kurang setara. Indonesia modern adalah negara yang berdaulat dengan identitas dan pencapaiannya sendiri. Karena itu, hubungan Indonesia–India di masa depan harus dibangun sebagai kemitraan antara dua negara yang setara, bukan berdasarkan hubungan pewaris dan penerima warisan budaya.

Dari sisi dunia usaha, perusahaan-perusahaan India juga masih menghadapi berbagai kendala dalam memahami dinamika regulasi dan lingkungan bisnis di Indonesia. Dibandingkan perusahaan dari Jepang maupun Tiongkok, jaringan bisnis India di Indonesia dinilai masih relatif terbatas. Berbagai tantangan yang sering disampaikan antara lain proses administrasi yang lambat, dukungan fasilitasi bisnis yang belum optimal, hambatan dalam pengadaan pemerintah, ketentuan tender tertentu yang berkaitan dengan standar OECD, hingga masih terbatasnya informasi pasar yang tersedia. Selain itu, terdapat pula pandangan bahwa kapasitas diplomasi ekonomi dan promosi bisnis India masih memerlukan penguatan agar mampu bersaing dengan negara-negara lain yang telah lebih dahulu aktif di Indonesia.

Mobilitas manusia juga masih menjadi pekerjaan rumah. Interaksi bisnis selama ini masih didominasi oleh jajaran eksekutif senior. Padahal, hubungan jangka panjang akan jauh lebih kuat apabila diikuti oleh semakin banyak perpindahan mahasiswa, peneliti, profesional muda, pendiri startup, serta tenaga kerja terampil antara kedua negara. Interaksi yang lebih luas akan membangun pemahaman yang lebih mendalam sekaligus menciptakan kelompok masyarakat yang memiliki kepentingan langsung terhadap keberhasilan hubungan Indonesia–India.

Selain itu, hubungan bilateral masih membutuhkan lebih banyak proyek unggulan (flagship projects) yang mampu menunjukkan manfaat nyata bagi masyarakat. Tiongkok dikenal melalui pembangunan infrastrukturnya, Jepang melalui kawasan industri, dan Korea Selatan melalui ekosistem manufakturnya. India juga memerlukan proyek-proyek berskala besar yang mudah dikenali publik, seperti taman teknologi, pusat layanan kesehatan unggulan, laboratorium kecerdasan buatan bersama, kemitraan universitas bergaya Indian Institutes of Technology (IIT), maupun pusat manufaktur farmasi. Tanpa proyek-proyek yang nyata dan mudah terlihat, persepsi publik akan selalu tertinggal dibandingkan kemajuan diplomasi yang sebenarnya telah dicapai.

Dapatkah Kunjungan Modi Menghasilkan Lompatan Besar?

Lompatan besar (quantum leap) dalam hubungan Indonesia–India sangat mungkin terjadi, tetapi tidak akan terwujud secara otomatis. Keberhasilannya bergantung pada kemampuan kedua negara mengubah hubungan yang selama ini bertumpu pada niat baik diplomatik menjadi kemitraan yang menghasilkan capaian nyata. Setidaknya terdapat tiga prioritas utama yang perlu diwujudkan. Pertama, membangun kemitraan komprehensif di bidang teknologi dan ekonomi digital yang berfokus pada kecerdasan buatan, Digital Public Infrastructure, dan inovasi. Kedua, menghadirkan proyek-proyek unggulan di bidang kesehatan, pendidikan, dan teknologi yang mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus menunjukkan komitmen India terhadap Indonesia. Ketiga, memperdalam kerja sama maritim dan industri pertahanan sehingga hubungan kedua negara menjadi salah satu pilar utama stabilitas kawasan Indo-Pasifik.

Indonesia dan India saat ini memiliki konvergensi kepentingan yang sangat kuat, mulai dari kepemimpinan di Global South, kepentingan menjaga keamanan maritim, kebutuhan memperkuat ketahanan pangan dan energi, hingga ambisi menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi masa depan. Kunjungan Presiden Prabowo ke India pada 2025 telah menciptakan momentum yang positif. Kini, kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi memberikan kesempatan untuk mengubah momentum tersebut menjadi transformasi strategis yang nyata. Keberhasilan hubungan kedua negara pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh banyaknya deklarasi yang dibuat, melainkan oleh kemampuan mengatasi kesenjjangan pengetahuan, hambatan birokrasi, dan berbagai kesalahpahaman, sambil menghadirkan proyek-proyek nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Apabila hal tersebut dapat diwujudkan, kemitraan Indonesia–India berpotensi berkembang menjadi salah satu hubungan bilateral paling penting di kawasan Indo-Pasifik sekaligus menjadi contoh nyata kerja sama praktis antarnegara Global South pada dekade mendatang.

*Gurjit Singh adalah mantan Duta Besar India untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN. Sebagai diplomat karier dan penulis, ia dikenal sebagai salah satu pengamat terkemuka mengenai kawasan Indo-Pasifik, kebijakan luar negeri India, serta kerja sama strategis regional. Ia juga merupakan penulis buku The Mango Flavour: India, ASEAN and the Act East Policy.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Bandhan Melampaui Batas: Apa yang Harus Indonesia dan India Bangun Bersama Selanjutnya?

Jakarta — Jauh sebelum rantai pasok menghubungkan pabrik-pabrik kita dan investasi mempererat hubungan ekonomi kedua negara, Samudra Hindia telah membawa sesuatu yang jauh lebih berharga antara Indonesia dan India, yaitu kepercayaan. Kapal-kapal dagang yang memanfaatkan angin muson memang mengangkut rempah-rempah, tekstil, dan berbagai kisah peradaban, tetapi pada saat yang sama juga membawa sebuah gagasan yang mampu bertahan melampaui pergantian zaman: bahwa kemakmuran akan tumbuh jauh lebih kuat apabila dibangun bersama melintasi batas negara, bukan ketika dinikmati secara eksklusif oleh masing-masing pihak.

Semangat tersebut kemudian memperoleh makna politik ketika India menjadi salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia dan memberikan dukungan kepada republik muda yang tengah mencari tempatnya di tengah masyarakat internasional. Sejarah mengenang peristiwa tersebut sebagai diplomasi. Namun bagi dunia usaha, momen itu memiliki arti yang berbeda: sebuah investasi awal dalam membangun kepercayaan, aset paling penting yang selalu menjadi fondasi setiap kemitraan ekonomi yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

Kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia, setelah lawatan bersejarah Presiden Prabowo Subianto ke India pada awal tahun ini, memberikan kesempatan untuk memperbarui kepercayaan tersebut agar tetap relevan dengan tantangan zaman yang baru. Perdagangan, investasi, dan arus modal tentu akan selalu menjadi bagian penting dari hubungan kedua negara. Namun, kemitraan ekonomi yang paling kuat pada akhirnya tidak dibangun hanya melalui transaksi, melainkan melalui aturan yang disepakati bersama, infrastruktur yang dipercaya, serta ekosistem yang memungkinkan seluruh pelaku usaha—bukan hanya perusahaan-perusahaan besar—untuk berinovasi, bersaing, dan berkembang secara bersama-sama. Menurut saya, inilah visi yang seharusnya menjadi arah utama hubungan Indonesia–India pada masa mendatang.

Kisah yang Jauh Lebih Besar dari Angka Statistik

Jika pasar merupakan cerminan paling nyata dari tingkat kepercayaan, maka Indonesia dan India sesungguhnya telah memiliki fondasi yang sangat kuat. India kini menjadi tujuan ekspor terbesar ketiga bagi Indonesia. Sepanjang 2025, nilai ekspor Indonesia ke India mencapai sekitar US$18,3 miliar, sementara impor dari India mencapai US$4,7 miliar, menjadikan India sebagai salah satu dari sepuluh sumber impor terbesar bagi Indonesia. Hubungan dagang kedua negara terus berkembang seiring semakin saling melengkapinya struktur ekonomi masing-masing, didukung pula oleh keberadaan ASEAN–India Free Trade Area yang telah berlaku sejak 2010.

Namun, terdapat satu angka yang justru lebih menarik untuk diperhatikan. Pada 2025, total perdagangan Indonesia–India masih menyumbang kurang dari 5 persen terhadap keseluruhan perdagangan internasional Indonesia. Angka tersebut bukan menunjukkan lemahnya hubungan ekonomi kedua negara. Sebaliknya, angka itu memperlihatkan betapa besarnya ruang yang masih tersedia untuk memperdalam integrasi ekonomi di masa depan.

Karakter ekonomi kedua negara juga semakin menunjukkan sifat yang saling melengkapi. Indonesia memasok berbagai komoditas strategis yang menopang ekspansi industri India, mulai dari bahan bakar mineral, minyak nabati, besi dan baja, bahan kimia anorganik, hingga berbagai bahan baku industri lainnya. Sebaliknya, India memasok mesin industri, komponen otomotif, peralatan listrik, bahan kimia organik, serta berbagai teknologi manufaktur yang mendukung transformasi industri Indonesia. Hubungan tersebut tidak lagi sekadar berupa pertukaran barang, melainkan mulai membentuk rantai pasok dan rantai nilai yang saling menguntungkan bagi kedua negara.

Pola yang sama juga terlihat pada sektor investasi. Investasi langsung asing (FDI) dari India ke Indonesia mencapai sekitar US$3,8 miliar pada 2025, meningkat lebih dari 358 persen dalam lima tahun terakhir. Perusahaan-perusahaan India kini semakin aktif berinvestasi di berbagai sektor seperti pertambangan, mineral kritis, pembangkit energi, industri logam, manufaktur otomotif, rekayasa teknik, industri kimia, jasa keuangan, hingga barang konsumsi. Ragam sektor tersebut menunjukkan bahwa hubungan Indonesia–India tidak hanya semakin luas, tetapi juga semakin dalam dan berorientasi pada kolaborasi industri jangka panjang.

Meningkatkan nilai perdagangan tentu tetap penting. Namun, tantangan yang jauh lebih besar adalah membangun arsitektur yang memungkinkan perdagangan, investasi, inovasi, dan berbagai peluang ekonomi berkembang jauh melampaui capaian yang tercermin dalam statistik saat ini.

Bagaimana Jika Terobosan Berikutnya Bukan Berasal dari Perjanjian Dagang?

Ketika Presiden Prabowo Subianto berkunjung ke New Delhi pada Januari 2025, Indonesia dan India menandatangani Nota Kesepahaman tentang Kerja Sama Pengembangan Digital. Cakupan kerja sama tersebut jauh melampaui aspek teknologi semata, meliputi Digital Public Infrastructure (DPI), kemitraan bisnis digital, keamanan siber, pengembangan kapasitas digital, hingga berbagai teknologi baru yang sedang berkembang. Di balik kesepakatan tersebut terdapat sebuah pemikiran yang sederhana namun sangat penting: bahwa fase berikutnya dari kerja sama ekonomi akan semakin ditentukan oleh kualitas infrastruktur digital yang menghubungkan pelaku usaha, masyarakat, dan pasar di era ekonomi digital.

Gagasan tersebut kini mulai diwujudkan melalui Indonesia Open Network (ION). Terinspirasi oleh keberhasilan Open Network for Digital Commerce (ONDC) di India, ION dikembangkan sebagai Digital Public Infrastructure (DPI) yang terbuka dan interoperabel untuk perdagangan digital di Indonesia. Alih-alih membangun sebuah marketplace baru, ION menghadirkan sebuah jaringan terbuka yang memungkinkan UMKM, koperasi, pedagang, perusahaan teknologi, lembaga keuangan, penyedia logistik, dan berbagai platform digital saling terhubung melalui standar bersama, bukan lagi bekerja di dalam ekosistem yang terpisah-pisah.

Makna dari inisiatif ini jauh melampaui persoalan teknologi. Bagi jutaan pelaku UMKM di Indonesia, partisipasi dalam ekonomi digital selama ini masih sangat bergantung pada batasan-batasan yang ditetapkan oleh masing-masing platform digital. ION menawarkan pendekatan yang berbeda, yaitu sebuah jaringan terbuka yang memberikan kebebasan lebih besar bagi pelaku usaha dalam memilih cara mereka menjangkau pelanggan, menggunakan layanan logistik, maupun mengakses pembiayaan dan layanan keuangan. Dengan pendekatan seperti ini, koperasi kopi di Aceh, pelaku usaha perikanan di Maluku, atau pengrajin mebel di Jepara dapat berpartisipasi dalam ekonomi digital tanpa harus bergantung pada satu ekosistem komersial tertentu. Inilah bentuk inklusi digital yang menurut saya perlu menjadi arah transformasi ekonomi digital Indonesia.

Atas dasar pemikiran tersebut, APINDO memutuskan untuk ikut menjadi bagian dari perjalanan ION. Indonesia tidak dapat menjadi negara yang semakin kompetitif hanya dengan mendorong pertumbuhan perusahaan-perusahaan besar. Daya saing nasional juga sangat ditentukan oleh kemampuan jutaan UMKM memperoleh kesempatan digital yang sama seperti yang telah dinikmati perusahaan besar. Keyakinan inilah yang selama ini menjadi dasar berbagai program APINDO, termasuk UMKM Merdeka, sebuah inisiatif unggulan yang berfokus pada peningkatan kapasitas, daya saing, serta akses pasar bagi pelaku UMKM Indonesia. Melalui ION, semangat tersebut diperluas ke dalam ekonomi digital dengan menciptakan jaringan terbuka yang memungkinkan lebih banyak pelaku usaha kecil untuk berpartisipasi, terhubung, dan berkembang.

Sejak akhir 2025, APINDO bekerja sama dengan Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan MenengahKementerian Komunikasi dan Digital, serta berbagai mitra teknologi dari Indonesia dan India untuk mempersiapkan peluncuran ION. Inisiatif ini menunjukkan apa yang dapat dicapai ketika kebijakan publik, inovasi sektor swasta, dan kolaborasi lintas negara berjalan ke arah yang sama. Sebagai anggota Dewan Penasihat ION, saya semakin meyakini bahwa nilai terbesar ION bukan terletak pada teknologinya semata. Nilai sesungguhnya berada pada apa yang sedang dibangun bersama oleh Indonesia dan India, yaitu mengadaptasi pengalaman India dalam mengembangkan jaringan digital terbuka ke dalam sebuah ekosistem Indonesia yang disesuaikan dengan kebutuhan, institusi, dan struktur ekonomi nasional kita sendiri. Di sinilah, menurut saya, hubungan Indonesia dan India diam-diam memasuki babak baru yang jauh lebih strategis.

Melampaui Bandhan

Dalam bahasa Sanskerta, Bandhan berarti ikatan yang dipelihara oleh rasa saling percaya, bukan sekadar oleh kepentingan sesaat. Makna tersebut sangat tepat menggambarkan hubungan Indonesia dan India, yang telah berkembang dari solidaritas diplomatik menjadi kemitraan ekonomi, dan kini bergerak menuju kolaborasi inovasi. Setiap generasi memiliki tanggung jawab yang berbeda. Tanggung jawab generasi kita bukan hanya menjaga hubungan baik yang telah diwariskan, tetapi juga menjadikannya semakin relevan bagi masa depan. Perdagangan akan terus tumbuh. Investasi akan tetap penting. Namun, kemitraan yang benar-benar bertahan adalah kemitraan yang meninggalkan institusi dan sistem yang mampu menciptakan peluang jauh setelah transaksi hari ini selesai.

Inilah alasan mengapa inisiatif seperti ION memiliki arti yang sangat penting. ION memperluas partisipasi, memperkuat ketahanan ekonomi, dan menempatkan UMKM sebagai bagian utama dari pertumbuhan ekonomi digital. Bagi APINDO, mendukung inisiatif ini sepenuhnya sejalan dengan keyakinan bahwa daya saing Indonesia pada akhirnya akan diukur bukan dari seberapa banyak perusahaan besar yang berkembang, melainkan dari seberapa banyak pelaku usaha—terutama UMKM—yang mampu menikmati manfaat kemakmuran nasional.

Kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi berlangsung pada saat yang sangat penting bagi kedua negara. Hubungan Indonesia dan India telah mencapai tahap ketika peluang terbesarnya mungkin tidak lagi terletak pada apa yang diperdagangkan satu sama lain, melainkan pada apa yang dapat dibangun bersama. Lebih dari tujuh puluh tahun lalu, Samudra Hindia membawa semangat solidaritas yang membantu Indonesia menemukan tempatnya di dunia. Kini, lautan yang sama menghubungkan dua negara yang siap meninggalkan warisan baru: sebuah kemitraan yang dibangun atas dasar kepercayaan, inovasi, dan kemakmuran bersama.

*Shinta Kamdani adalah Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) sekaligus CEO Sintesa Group. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh terkemuka dunia usaha Indonesia yang aktif mendorong peningkatan daya saing nasional, pengembangan UMKM, keberlanjutan, serta penguatan kerja sama ekonomi internasional, termasuk kemitraan strategis antara Indonesia dan India.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES