Saham Alphabet Anjlok 12,6%, Kapitalisasi Pasar Terpangkas US$482 Miliar dalam Sehari

Saham Alphabet (GOOGL), perusahaan induk Google, mengalami penurunan tajam pada perdagangan Kamis (29/10/2026). Harga sahamnya merosot sekitar 12,6% setelah perusahaan merilis laporan keuangan kuartal III 2026 yang memicu kekhawatiran investor terhadap besarnya pengeluaran untuk pengembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Mengutip laporan Yahoo Finance, penurunan tersebut menghapus sekitar US$482 miliar dari kapitalisasi pasar Alphabet dalam satu hari. Angka ini menjadi kerugian nilai pasar harian terbesar sepanjang sejarah perusahaan sejak melantai di bursa pada 2004.

Berdasarkan perhitungan Yahoo Finance menggunakan data Bloomberg, kerugian tersebut juga menjadi penurunan kapitalisasi pasar harian terbesar kedua bagi perusahaan yang tercatat di bursa Amerika Serikat. Rekor pertama masih dipegang Nvidia (NVDA), yang kehilangan sekitar US$593 miliar pada Januari 2025 setelah kekhawatiran investor terhadap perkembangan AI DeepSeek di China.

Penurunan saham Alphabet menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis AI belum tentu langsung diterjemahkan menjadi respons positif dari pasar. Investor kini semakin memperhatikan kemampuan perusahaan teknologi dalam mengubah investasi besar di sektor AI menjadi pendapatan dan keuntungan yang berkelanjutan.

Pendapatan Google Cloud Tumbuh, tetapi Bisnis Search Melambat

Dalam laporan keuangan kuartal III 2026, Alphabet mencatatkan perkembangan positif pada sejumlah segmen bisnisnya. Google Cloud membukukan pendapatan sekitar US$31 miliar, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan meningkatnya permintaan terhadap layanan komputasi awan, terutama dari perusahaan yang membutuhkan infrastruktur untuk mengembangkan dan menjalankan teknologi AI.

Selain itu, aplikasi Gemini juga mencatatkan perkembangan dengan jumlah pengguna yang telah melampaui 1 miliar. Pencapaian ini memperlihatkan semakin luasnya penggunaan layanan AI generatif dalam ekosistem Google.

Namun, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi pasar. Pendapatan Google Search tercatat meningkat 12% menjadi sekitar US$63 miliar, tetapi masih berada di bawah perkiraan analis Wall Street yang mencapai sekitar US$65 miliar.

Kondisi ini menjadi perhatian investor karena bisnis pencarian dan periklanan digital masih menjadi salah satu sumber pendapatan utama Alphabet. Munculnya fitur pencarian berbasis AI juga menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana perubahan perilaku pengguna akan memengaruhi model bisnis iklan tradisional Google.

Pengeluaran AI Tekan Arus Kas Alphabet

Salah satu faktor utama yang memicu tekanan terhadap saham Alphabet adalah meningkatnya pengeluaran untuk pengembangan infrastruktur AI. Perusahaan membutuhkan investasi besar untuk membangun pusat data, menyediakan kapasitas komputasi, serta mengembangkan teknologi yang mampu mendukung layanan AI dalam skala besar.

Dampaknya terlihat pada arus kas bebas atau free cash flow Alphabet yang berbalik negatif sekitar US$9 miliar. Arus kas bebas merupakan dana yang tersisa setelah perusahaan membiayai kebutuhan operasional dan belanja modal.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa besarnya investasi infrastruktur AI mulai memberikan tekanan terhadap kemampuan perusahaan menghasilkan kas dalam jangka pendek.

Selain investasi pusat data dan infrastruktur, pengembangan teknologi serta kepentingan Alphabet pada sejumlah perusahaan AI juga membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit.

Situasi ini menciptakan tantangan bagi investor. Di satu sisi, AI berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru bagi perusahaan teknologi. Namun, di sisi lain, besarnya biaya pengembangan membuat pasar semakin selektif dalam menilai apakah investasi tersebut dapat menghasilkan keuntungan sesuai harapan.

CEO Pivotal Research, Jeffrey Wlodarczak, menilai bahwa investor yang bersikap pesimistis dapat melihat hasil kuartal ini sebagai indikasi awal bahwa AI mulai memberikan tekanan serius terhadap bisnis pencarian Google.

Sebaliknya, Angelo Zino dari CFRA memandang koreksi harga saham tersebut berpotensi menjadi peluang pembelian bagi investor. Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa pasar masih memperdebatkan dampak jangka panjang investasi AI terhadap bisnis Alphabet.

Penurunan Saham Big Tech Meluas ke Perusahaan Teknologi Lain

Tekanan terhadap Alphabet juga terjadi di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap pengeluaran AI oleh perusahaan teknologi besar lainnya. Amazon, salah satu penyedia layanan cloud terbesar di dunia, turut menjadi sorotan setelah merilis laporan keuangan kuartal III.

Amazon Web Services (AWS) mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 39%, menjadi laju pertumbuhan tercepat dalam hampir lima tahun. Namun, arus kas bebas Amazon selama 12 bulan terakhir justru turun hingga mencatatkan arus keluar lebih dari US$42 miliar.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa investasi besar pada infrastruktur AI menjadi tantangan bagi sejumlah perusahaan teknologi, bukan hanya Alphabet.

Tekanan pasar juga semakin terlihat dari meningkatnya frekuensi penurunan kapitalisasi pasar perusahaan besar di Amerika Serikat. Berdasarkan perhitungan Yahoo Finance menggunakan data Bloomberg, terdapat 18 kejadian ketika saham perusahaan AS kehilangan nilai pasar setidaknya US$200 miliar dalam satu sesi sepanjang 2026 hingga Rabu, dibandingkan 13 kejadian sepanjang 2025.

Sementara itu, Alphabet sendiri telah kehilangan sekitar US$1,4 triliun nilai kapitalisasi pasar sejak mencapai rekor tertingginya pada Mei 2026.

Prospek Saham Alphabet di Tengah Persaingan AI

Ke depan, investor akan mencermati kemampuan Alphabet dalam menjaga pertumbuhan bisnis utamanya sekaligus mengembangkan teknologi AI. Pertumbuhan Google Cloud dan peningkatan jumlah pengguna Gemini menjadi indikator positif, tetapi perusahaan juga perlu membuktikan bahwa investasi besar tersebut dapat menghasilkan pendapatan dan arus kas yang sepadan.

Persaingan di sektor AI juga semakin ketat. Perusahaan teknologi dituntut untuk terus mengembangkan model AI, memperluas kapasitas komputasi, dan menghadirkan layanan yang mampu mempertahankan pengguna.

Bagi investor saham Amerika Serikat, pergerakan Alphabet dapat menjadi gambaran bahwa pertumbuhan industri AI tidak selalu berjalan searah dengan kenaikan harga saham. Kinerja keuangan, efisiensi investasi, dan prospek keuntungan tetap menjadi faktor penting dalam menentukan valuasi perusahaan.

Karena itu, investor perlu memperhatikan perkembangan fundamental perusahaan serta kondisi pasar sebelum mengambil keputusan investasi.

Pantau Saham Alphabet dan Aset Investasi Global di Nanovest

Perkembangan industri AI dan pergerakan saham perusahaan teknologi seperti Alphabet menjadi salah satu hal yang menarik untuk dicermati oleh investor global. Pergerakan Saham Amerika Serikat, aset kripto, dan emas digital saat ini dapat dipantau melalui aplikasi Nanovest.

Bagi investor Indonesia yang tertarik mulai berinvestasi di saham AS maupun mengeksplorasi berbagai aset kripto, Nanovest menyediakan akses ke beragam instrumen investasi dalam satu aplikasi dengan nominal awal mulai dari Rp5.000.

Nanovest merupakan aplikasi investasi yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta memiliki perlindungan terhadap risiko kejahatan siber dengan Asuransi Sinarmas sesuai ketentuan yang berlaku. Investor pemula juga disarankan untuk memahami karakteristik dan risiko setiap aset sebelum memulai investasi.

Informasi lebih lanjut mengenai layanan Nanovest dapat diakses melalui situs resmi www.nanovest.io. Aplikasi Nanovest juga tersedia untuk diunduh melalui Google Play Store dan Apple App Store.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES