Bitcoin Diprediksi Ungguli Saham dan Emas, CEO FLOQ Ungkap Alasannya

Jakarta, 27 Oktober 2026 — Bitcoin (BTC) diproyeksikan memberikan imbal hasil tahunan sebesar 10% dalam 10 tahun ke depan, melampaui saham Amerika Serikat (AS) dan emas. Proyeksi tersebut tercantum dalam laporan 2027 Long-Term Capital Market Assumptions yang dirilis JPMorgan Asset Management pada Oktober 2026.

Dalam laporan tersebut, JPMorgan memperkirakan imbal hasil tahunan Bitcoin mencapai 10%, dibandingkan saham AS berkapitalisasi besar sebesar 7,5% dan emas sebesar 5,5%. Saham AS berkapitalisasi kecil diproyeksikan menghasilkan imbal hasil 7,7% per tahun.

Sementara itu, obligasi AS diproyeksikan memberikan imbal hasil tahunan sebesar 5,6%, sedangkan uang tunai dalam dolar AS sebesar 3,2%.

Proyeksi ini menandai meningkatnya perhatian institusi keuangan terhadap Bitcoin sebagai salah satu aset yang diperhitungkan dalam perencanaan investasi jangka panjang. Meski demikian, JPMorgan menegaskan bahwa potensi imbal hasil yang lebih tinggi juga disertai risiko yang lebih besar.

Volatilitas Bitcoin Masih Menjadi Tantangan

JPMorgan memperkirakan volatilitas tahunan Bitcoin mencapai 55%, jauh di atas saham AS berkapitalisasi besar sebesar 18% dan emas sebesar 17,2%.

Tingkat volatilitas tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga Bitcoin berpotensi mengalami perubahan yang lebih tajam dibandingkan aset tradisional. Dengan demikian, proyeksi imbal hasil yang lebih tinggi tidak serta-merta menjamin hasil investasi yang lebih baik bagi setiap investor.

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai proyeksi tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari perkembangan cara investor institusional mengevaluasi aset kripto, bukan sebagai kepastian bahwa Bitcoin akan selalu mengungguli instrumen investasi lainnya.

“Ketika institusi keuangan seperti JPMorgan mulai memasukkan Bitcoin ke dalam proyeksi imbal hasil jangka panjang, ini menunjukkan bahwa aset kripto semakin diperhitungkan dalam analisis investasi. Namun, proyeksi imbal hasil harus dibaca bersama dengan profil risikonya. Bitcoin memiliki karakteristik dan volatilitas yang berbeda dari saham maupun emas, sehingga investor perlu memahami potensi keuntungan sekaligus risiko yang menyertainya,” kata Yudho.

Menurut Yudho, keputusan investasi sebaiknya tidak hanya didasarkan pada perbandingan angka imbal hasil. Investor juga perlu mempertimbangkan tujuan keuangan, jangka waktu investasi, kemampuan menghadapi risiko, serta kondisi pasar yang dapat berubah sewaktu-waktu.

Infrastruktur dan Regulasi Mendukung Perhatian Institusional

JPMorgan menyoroti sejumlah faktor yang mendorong meningkatnya perhatian terhadap pasar kripto, termasuk perkembangan regulasi, infrastruktur perdagangan, produk investasi, dan layanan kustodian aset digital.

Kehadiran produk seperti ETF Bitcoin dan perdagangan futures turut memperluas akses investor terhadap aset kripto melalui instrumen pasar yang lebih terstruktur.

Bitcoin juga memiliki rekam jejak operasional yang panjang serta likuiditas pasar yang terus berkembang. Meski demikian, JPMorgan belum sepenuhnya memasukkan Bitcoin ke dalam model utama analisis risiko dan hubungan antar-aset dalam portofolio investasinya.

Pendekatan tersebut mencerminkan bahwa integrasi Bitcoin ke dalam kerangka investasi institusional masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait volatilitas dan hubungan pergerakan harganya dengan aset lain.

Yudho menambahkan bahwa perkembangan infrastruktur dan regulasi dapat menjadi faktor penting bagi pertumbuhan pasar aset kripto dalam jangka panjang.

“Adopsi institusional tidak hanya ditentukan oleh potensi kenaikan harga, tetapi juga oleh kualitas infrastruktur pasar, transparansi, likuiditas, dan kepastian regulasi. Semakin matang ekosistemnya, semakin terbuka ruang bagi investor untuk mengevaluasi aset digital secara lebih terukur. Namun, kematangan pasar tidak menghilangkan risiko investasi,” tambahnya.

Proyeksi Bukan Jaminan Keuntungan

Proyeksi imbal hasil JPMorgan menggambarkan estimasi jangka panjang berdasarkan asumsi tertentu, bukan prediksi harga Bitcoin pada periode tertentu atau jaminan bahwa target tersebut akan tercapai.

Pergerakan harga aktual tetap dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi global, kebijakan moneter, arus investasi institusional, likuiditas pasar, dan perkembangan regulasi.

Karena itu, investor perlu menempatkan proyeksi imbal hasil dalam konteks pengelolaan risiko dan diversifikasi portofolio. Memahami karakteristik masing-masing aset menjadi langkah penting sebelum mengambil keputusan investasi.

Sebagai platform perdagangan aset kripto yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), FLOQ mendukung penguatan literasi aset digital agar masyarakat dapat memahami peluang dan risiko pasar kripto secara lebih komprehensif.

Investasi aset kripto memiliki risiko tinggi dan volatilitas yang dapat menyebabkan kerugian. Informasi dalam artikel ini bukan merupakan saran atau rekomendasi investasi.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

BRI Finance Gandeng RS PON, Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Mitra Dealer

Jakarta, 16 September 2026 – PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) terus memperkuat hubungan dengan mitra dealer melalui berbagai kegiatan yang memberikan nilai tambah bagi ekosistem bisnis. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan edukasi kesehatan bagi Owner, Direksi, dan Pimpinan Group Dealer Rekanan BRI Finance yang digelar pada Selasa (8/9).

Mengangkat tema “Rahasia Terhindar dari Stroke dan Alzheimer: Kenali, Cegah, dan Tangani dengan Tepat”, kegiatan tersebut menghadirkan tim dari RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta untuk memberikan pemahaman mengenai faktor risiko, gejala, serta langkah pencegahan dan penanganan stroke dan Alzheimer. Para peserta juga mendapatkan kesempatan mengikuti tes risiko Alzheimer sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan awal.

Direktur Bisnis BRI Finance, Primartono Ginawan, mengatakan, “Dealer merupakan bagian penting dari ekosistem bisnis BRI Finance. Kami ingin hubungan yang telah terjalin tidak hanya menghasilkan kolaborasi bisnis yang baik, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi para mitra. Kegiatan edukasi kesehatan ini menjadi salah satu bentuk apresiasi sekaligus perhatian kami kepada para mitra selama ini mendukung perjalanan bisnis BRI Finance.”

Menurut Primartono, pemilihan topik stroke dan Alzheimer juga mempertimbangkan pentingnya meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan, khususnya terkait faktor risiko yang dapat dikenali dan dikendalikan.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stroke berdasarkan diagnosis dokter mencapai 8,3 per 1.000 penduduk berusia 15 tahun ke atas di Indonesia. Secara global, WHO juga menempatkan stroke sebagai salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas, dengan sejumlah faktor risiko yang berkaitan dengan gaya hidup maupun kondisi kesehatan, seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, kurang aktivitas fisik, dan merokok.

Sementara pada isu demensia, WHO pada Juli 2026 menyampaikan bahwa hingga 45% risiko demensia secara global berkaitan dengan faktor yang dapat dimodifikasi atau dicegah. Alzheimer merupakan bentuk demensia yang paling umum. Di Indonesia, perhatian terhadap isu tersebut turut diperkuat melalui penerbitan Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Demensia oleh Kementerian Kesehatan pada Agustus 2026.

“Melalui edukasi seperti ini, kami berharap para mitra dapat memperoleh informasi yang tepat mengenai kesehatan dan lebih memahami pentingnya mengenali faktor risiko sejak dini. Bagi kami, menjaga kualitas hubungan dengan mitra juga berarti memahami kebutuhan mereka di luar aktivitas bisnis,” kata Primartono.

Kegiatan ini menjadi salah satu bagian dari upaya BRI Finance untuk terus membangun hubungan yang berkelanjutan dengan jaringan dealer rekanan. Dengan hubungan yang semakin erat dan kolaborasi yang kuat, perusahaan berharap dapat terus menciptakan ekosistem pembiayaan yang memberikan manfaat bagi seluruh pihak yang terlibat.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

BRI Finance Dukung Kepemilikan Mobil Baru melalui Penawaran Pembiayaan Kompetitif

Jakarta, 15 September 2026 – Kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berkembang mendorong semakin banyak konsumen untuk mempertimbangkan kendaraan yang dapat memberikan kenyamanan dan mendukung aktivitas sehari-hari. Seiring perubahan kebutuhan tersebut, keputusan membeli mobil baru kini tidak hanya berkaitan dengan pilihan model dan fitur, tetapi juga perencanaan finansial yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Perkembangan pasar otomotif nasional turut menunjukkan masih kuatnya kebutuhan masyarakat terhadap kendaraan pribadi. Di tengah semakin beragamnya pilihan mobil, termasuk kendaraan dengan teknologi elektrifikasi, konsumen memiliki lebih banyak alternatif untuk menyesuaikan kendaraan dengan kebutuhan mobilitas dan gaya hidupnya.

Melihat kebutuhan tersebut, PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) terus menghadirkan solusi pembiayaan yang kompetitif bagi masyarakat yang ingin memiliki mobil baru. Melalui pembiayaan mobil baru dengan bunga mulai dari 3,33% flat per tahun dan pilihan tenor hingga lima tahun, BRI Finance memberikan fleksibilitas bagi konsumen untuk merencanakan kepemilikan kendaraan sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial.

Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengatakan bahwa mobil baru dapat menjadi bagian dari upaya masyarakat untuk meningkatkan kenyamanan dalam menjalankan berbagai aktivitas, mulai dari perjalanan ke tempat kerja, kebutuhan keluarga, hingga perjalanan bersama orang-orang terdekat.

“Setiap konsumen memiliki kebutuhan mobilitas yang berbeda. Ketika kebutuhan tersebut berkembang, memiliki mobil baru dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendapatkan kenyamanan yang lebih baik. Namun, keputusan pembelian juga perlu diimbangi dengan perencanaan finansial yang matang,” ujar Dhani.

Menurut Dhani, konsumen perlu mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menentukan kendaraan, mulai dari kebutuhan penggunaan sehari-hari, kapasitas dan kenyamanan, fitur keselamatan, hingga biaya kepemilikan. Di sisi lain, pemilihan skema pembiayaan juga perlu disesuaikan agar kewajiban pembayaran tetap terukur dan tidak mengganggu kebutuhan finansial lainnya.

“BRI Finance ingin menjadi bagian dari proses tersebut. Kami tidak hanya menyediakan akses pembiayaan, tetapi juga memberikan pilihan yang kompetitif agar konsumen dapat merencanakan kepemilikan mobil baru dengan lebih nyaman dan sesuai dengan kemampuan finansialnya,” tambah Dhani.

Dengan pilihan pembiayaan yang fleksibel dan kompetitif, BRI Finance terus memperkuat perannya dalam mendukung kebutuhan mobilitas masyarakat. Kehadiran solusi pembiayaan mobil baru diharapkan dapat membantu konsumen mewujudkan rencana memiliki kendaraan yang lebih sesuai dengan kebutuhan, sekaligus menghadirkan pengalaman berkendara yang lebih nyaman dalam setiap perjalanan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Harga Bitcoin Terancam Turun di Bawah US$80.000, Investor Pantau Keputusan The Fed

Harga Bitcoin (BTC) menghadapi tekanan menjelang pekan terakhir Oktober 2026. Aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar ini berupaya mempertahankan level psikologis US$80.000 di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed), data inflasi Amerika Serikat, serta laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi besar.

Mengutip laporan Cointelegraph pada 26 Oktober 2026, Bitcoin berisiko menutup Oktober dengan penurunan sekitar 4% apabila harga bertahan di sekitar US$80.000 hingga akhir bulan. Kondisi tersebut berlawanan dengan reputasi Oktober sebagai periode yang secara historis kerap mencatatkan kenaikan harga Bitcoin, sehingga dikenal dengan istilah “Uptober”.

Tekanan pasar terlihat ketika Bitcoin sempat turun ke US$79.145 pada akhir pekan. Penurunan tersebut memicu likuidasi posisi long senilai hampir US$150 juta dalam kurun waktu sekitar dua jam. Posisi long merupakan strategi perdagangan yang memperoleh keuntungan ketika harga aset naik, tetapi dapat mengalami kerugian ketika harga bergerak berlawanan.

Level US$80.000 Jadi Penentu Pergerakan Bitcoin

Level US$80.000 menjadi perhatian karena merupakan batas psikologis penting bagi pelaku pasar. Ketika harga bergerak di bawah level tersebut, kekhawatiran terhadap kelanjutan tren pelemahan dapat meningkat, terutama jika tekanan jual terus mendominasi perdagangan.

Data CoinGlass yang dikutip Cointelegraph menunjukkan adanya kumpulan pesanan beli di sekitar US$79.300 dengan nilai sekitar US$73 juta. Sementara itu, pesanan jual terlihat terkonsentrasi di sekitar US$81.000. Konsentrasi pesanan tersebut dapat menjadi salah satu petunjuk mengenai area yang sedang diperhatikan oleh trader, meskipun tidak menjamin harga akan bergerak ke arah tertentu.

Dari sisi historis, Bitcoin biasanya mencatatkan kenaikan rata-rata sekitar 26,1% selama Oktober sejak 2010. Namun, Oktober 2025 dan Oktober 2026 menunjukkan pola yang berbeda. Pada Oktober 2025, Bitcoin turun sekitar 3,9%, kemudian melanjutkan pelemahan pada November dengan penurunan sekitar 17,5%.

Analis Benjamin Cowen dari Into the Cryptoverse juga menilai bahwa kenaikan Bitcoin menuju US$87.000 pada akhir September dan awal Oktober belum menunjukkan pemulihan yang meyakinkan. Area US$87.000 menjadi zona resistensi penting karena berdekatan dengan harga pembukaan tahunan Bitcoin pada US$87.490 dan rata-rata pergerakan 20 bulan di US$87.165.

Meski demikian, pergerakan harga selanjutnya tetap bergantung pada kondisi pasar, permintaan investor, dan perkembangan ekonomi global. Level support maupun resistensi merupakan acuan analisis, bukan jaminan arah pergerakan harga.

Keputusan Suku Bunga The Fed Jadi Katalis Pasar

Selain faktor teknikal, perhatian investor tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan pada Rabu, 28 Oktober 2026. Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75%–4%, dengan probabilitas lebih dari 90% berdasarkan data yang dikutip Cointelegraph.

Walaupun keputusan mempertahankan suku bunga diperkirakan menjadi skenario utama, investor akan mencermati pernyataan bank sentral dan konferensi pers ketuanya untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya. Pasar juga memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 0,25 poin persentase pada Desember.

Harga minyak turut menjadi faktor yang memengaruhi ekspektasi tersebut. Minyak mentah Brent sempat menyentuh US$117 per barel pada Jumat, sebelum turun ke sekitar US$110 pada Senin. Kenaikan harga energi berpotensi memperbesar tekanan inflasi, sehingga dapat mempersulit langkah The Fed dalam melonggarkan kebijakan moneter.

Pada Kamis, 29 Oktober 2026, investor juga akan memantau indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), salah satu indikator inflasi yang menjadi perhatian utama The Fed. Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga dan sentimen terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.

Laporan Keuangan Big Tech Ikut Memengaruhi Sentimen

Faktor lain yang perlu dicermati adalah laporan keuangan perusahaan teknologi Amerika Serikat. Microsoft dan Alphabet dijadwalkan merilis hasil kuartal III setelah penutupan pasar pada Rabu, sedangkan Amazon dan Intel menyusul pada Kamis.

Menurut Cointelegraph, sekitar 20% perusahaan dalam indeks S&P 500 dijadwalkan melaporkan kinerja keuangan selama pekan tersebut. Investor akan menilai apakah pertumbuhan pendapatan perusahaan teknologi mampu mengimbangi besarnya belanja modal, khususnya untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur pusat data.

Pergerakan saham teknologi dapat memengaruhi sentimen pasar secara lebih luas. Ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, Bitcoin juga berpotensi menghadapi tekanan. Sebaliknya, hasil keuangan yang kuat dan prospek bisnis yang positif dapat membantu memperbaiki sentimen, meskipun dampaknya terhadap harga kripto tidak selalu searah.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Omzet Tinggi Tak Selalu Berarti Bisnis Sehat, Harsha Advisory Soroti Tantangan Keuangan Industri F&B

Besarnya biaya bahan baku, margin keuntungan yang tertekan, dan lemahnya pengendalian arus kas menjadi sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian pemilik restoran dan kafe di Indonesia.

SIARAN PERS

Untuk Segera Diterbitkan

DENPASAR, 27 Oktober 2026 — Bisnis makanan dan minuman (food and beverage/F&B) terus menjadi bagian penting dari perekonomian Indonesia. Namun, di balik tingginya aktivitas penjualan, terdapat tantangan yang perlu diwaspadai pelaku usaha, terutama dalam menjaga profitabilitas, efisiensi operasional, dan kesehatan arus kas.

Berdasarkan publikasi Statistik Penyediaan Makanan Minuman 2024 dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memiliki sekitar 5,28 juta usaha penyediaan makanan dan minuman pada 2024. Dari sisi struktur pengeluaran industri, pembelian bahan baku serta makanan dan minuman untuk diolah atau dijual kembali menyumbang sekitar 63,81% dari total pengeluaran, sementara kompensasi tenaga kerja mencapai 19,49%.

Data tersebut memperlihatkan betapa pentingnya pengendalian biaya pembelian bahan, persediaan, dan produktivitas tenaga kerja dalam operasional usaha F&B.

Anak Agung Ngurah Mustakawarman, CFP®, Founder & CEO Harsha Advisory, menilai bahwa salah satu kesalahan dalam mengevaluasi kinerja bisnis adalah terlalu berfokus pada pertumbuhan penjualan, tanpa diimbangi pemahaman mengenai keuntungan dan arus kas yang dihasilkan.

“Restoran yang ramai belum tentu memiliki kondisi keuangan yang sehat. Penjualan bisa meningkat setiap bulan, tetapi jika biaya bahan baku, tenaga kerja, dan operasional tumbuh lebih cepat, keuntungan yang tersisa justru bisa semakin kecil. Karena itu, pertumbuhan bisnis perlu dilihat bersamaan dengan kualitas profitabilitas dan arus kasnya,” jelas Mustakawarman.

Riset Menunjukkan Tantangan Tidak Hanya Berasal dari Penjualan

Penelitian berjudul From Farm to HORECA: Advancing Sustainable Value Chains for Tourism-Driven Agribusiness in Indonesia yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Sustainable Food Systems pada 2025 turut menyoroti tantangan pasokan dan volatilitas harga bahan pangan.

Dalam survei terhadap 132 responden dari sektor hotel, restoran, dan katering di Bali, Nusa Tenggara Barat, serta Sulawesi Utara, hanya 11% responden yang menyatakan keyakinan terhadap stabilitas atau transparansi harga bahan pertanian yang mereka peroleh.

Temuan ini menunjukkan bahwa ketersediaan bahan baku saja belum cukup. Ketidakpastian harga pembelian juga dapat memengaruhi kemampuan perusahaan mempertahankan margin keuntungan.

Persoalan lain muncul dari komposisi menu yang dijual.

Studi berjudul Menu Engineering for Restaurant Performance: Evidence from a Tourism-Oriented Café in Indonesia, yang diterbitkan pada Agustus 2026, menemukan bahwa 16 dari 39 menu yang dianalisis dalam sebuah kafe memiliki tingkat popularitas tinggi, tetapi margin kontribusinya relatif rendah.

Meskipun penelitian tersebut merupakan studi kasus pada satu usaha, temuannya menggambarkan pentingnya memahami bahwa produk yang paling banyak terjual belum tentu menjadi penyumbang keuntungan terbesar.

Selain itu, penelitian pada sebuah usaha kafe dan pastry di Makassar yang diterbitkan dalam Performance: Jurnal Bisnis & Akuntansi pada 2026 mengidentifikasi estimasi biaya sumber daya yang terbuang sebesar Rp2,35 juta per bulan, setara sekitar 9,4% dari biaya operasional bulanan usaha tersebut.

Kerugian yang sebelumnya tidak terlihat dalam pencatatan konvensional itu menunjukkan bagaimana pengelolaan persediaan dan limbah operasional dapat memengaruhi efisiensi bisnis.

Harsha Advisory: Pengelolaan Keuangan F&B Perlu Beralih dari Pencatatan ke Analisis

Menanggapi tantangan tersebut, Harsha Advisory menekankan pentingnya pendekatan pengelolaan keuangan yang lebih terstruktur, khususnya bagi restoran, kafe, dan usaha kuliner yang sedang berkembang.

Langkah awal yang dinilai penting adalah mengukur profitabilitas pada tingkat produk atau menu, bukan hanya menghitung total penjualan harian.

Pemilik usaha perlu mengetahui biaya bahan baku setiap resep, biaya kemasan, biaya transaksi melalui platform digital, hingga margin kontribusi yang dihasilkan oleh masing-masing produk.

Dengan informasi tersebut, perusahaan dapat mengevaluasi harga jual, menyusun strategi promosi, serta menentukan menu yang layak dipertahankan atau diperbaiki.

Langkah berikutnya adalah memperkuat pengendalian pembelian dan persediaan. Pencatatan stok secara berkala, standardisasi porsi, evaluasi pemasok, dan pemantauan bahan yang terbuang dapat membantu mengidentifikasi sumber pemborosan yang sebelumnya sulit terlihat.

Dari sisi pengelolaan keuangan, perusahaan juga perlu memisahkan evaluasi keuntungan dari pergerakan kas.

Bisnis yang mencatat laba secara akuntansi belum tentu memiliki kas yang cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan operasionalnya. Hal tersebut dapat terjadi akibat pembelian persediaan, pembayaran kewajiban, investasi aset, maupun perbedaan waktu penerimaan dan pengeluaran kas.

Karena itu, Harsha Advisory mendorong penggunaan laporan laba rugi yang disusun secara konsisten, pemantauan arus kas mingguan, serta proyeksi kebutuhan kas untuk membantu manajemen mengantisipasi kewajiban yang akan jatuh tempo.

“Pemilik bisnis seharusnya dapat menjawab beberapa pertanyaan mendasar: menu mana yang paling menguntungkan, berapa biaya operasional yang benar-benar diperlukan, dan seberapa besar kas yang tersedia untuk membiayai pertumbuhan. Kalau pertanyaan ini belum bisa dijawab, keputusan ekspansi berisiko hanya didasarkan pada optimisme penjualan,” tambah Ngurah Mustakawarman.

Ekspansi Perlu Didukung Perhitungan yang Terukur

Harsha Advisory juga menyoroti pentingnya melakukan evaluasi kelayakan finansial sebelum perusahaan membuka cabang baru atau menambah kapasitas usaha.

Tingginya penjualan di satu lokasi tidak secara otomatis menjamin keberhasilan cabang berikutnya. Perbedaan biaya sewa, kebutuhan tenaga kerja, karakteristik pelanggan, hingga besarnya investasi awal dapat menghasilkan tingkat keuntungan yang berbeda.

Oleh karena itu, keputusan ekspansi perlu mempertimbangkan titik impas (break-even point), kebutuhan modal kerja, estimasi waktu pengembalian investasi, dan simulasi kondisi ketika realisasi penjualan berada di bawah target.

Melalui pendekatan tersebut, perusahaan diharapkan dapat membedakan antara peluang pertumbuhan yang layak secara finansial dan ekspansi yang berpotensi menambah tekanan terhadap keuangan bisnis.

Mendorong Keputusan Bisnis yang Lebih Terukur

Sebagai firma konsultasi keuangan yang berbasis di Bali, Harsha Advisory menyediakan layanan pembukuan dan evaluasi keuangan bisnis, Business Financial Evaluation, serta pendampingan strategis melalui layanan Fractional CFO.

Pendekatan tersebut membantu pemilik usaha dan manajemen memahami kondisi finansial perusahaan, mengidentifikasi sumber inefisiensi, menyusun proyeksi, serta mengevaluasi keputusan bisnis berdasarkan data yang tersedia.

Menurut Mustakawarman, laporan keuangan seharusnya tidak hanya digunakan untuk mengetahui hasil usaha pada akhir periode, tetapi menjadi instrumen yang membantu manajemen menentukan langkah berikutnya.

“Tujuan akhirnya bukan semata-mata membuat bisnis terlihat berkembang, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut benar-benar menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan bagi pemilik usaha. Untuk itu, keputusan bisnis perlu memiliki dasar perhitungan keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan,” tutupnya.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Mengintip Keseruan Pesta Halloween Anak Anak “Día de los Muertos” di Oakwood Surabaya

SURABAYA, 26 Oktober 2026 – Akhir pekan lalu, tepatnya pada Sabtu, 24 Oktober, suasana di Oakwood Hotel & Residence Surabaya dipenuhi dengan gelak tawa dan keceriaan. Berbeda dengan perayaan Halloween yang biasanya sarat akan nuansa menyeramkan, tahun ini Oakwood Surabaya mengajak anak-anak dan orang tua merayakan momen spesial ini lewat tema Día de los Muertos. Tema yang diadaptasi dari kebudayaan Meksiko ini justru menonjolkan kehangatan, warna-warni yang indah, dan kegembiraan keluarga.

Begitu melangkah masuk ke area acara, para tamu kecil langsung disambut oleh dekorasi cerah yang jauh dari kesan menakutkan. Ornamen tengkorak yang dilukis cantik (sugar skull), hiasan bunga-bunga bernuansa jingga dan kuning, serta juntaian balon sukses menciptakan suasana pesta yang meriah dan sangat ramah anak.

“Namun, bintang sesungguhnya pada hari itu adalah anak-anak yang tampil penuh gaya dengan kostum lucu mereka. Sangat menggemaskan melihat mereka bermain dan tertawa; ada yang berdandan gagah bak bajak laut dan penyihir, tampil imut dengan kostum labu yang bulat, hingga karakter populer seperti Jessie dari Toy Story, Kaonashi, boneka dari Squid Game, dan badut Pennywise cilik dengan riasan wajah pucat dan rambut merahnya yang justru terlihat sangat lucu’ jelas Aditya Kurniawan, Marketing Brand Manager Oakwood Surabaya. 

Keseruan semakin terasa saat anak-anak diajak bermain dan berinteraksi. Salah satu sudut yang paling ramai adalah area permainan melempar bola ke papan target berhias motif sugar skull. Sorak-sorai terdengar riuh setiap kali anak-anak berhasil melempar bola warna-warni ke dalam corong bernilai 100 hingga 500 poin, didampingi senyum bangga dari para orang tua yang melihat ketangkasan mereka. Setelah bermain dengan berbagai permainan ketangkasan, anak anak diajak untuk berpetualang mencari permen permen dan cokelat yang disembunyikan di beberapa tempat. Beberapa anak juga tampak asyik memunguti bingkisan dan permen yang bertaburan, menyempurnakan kegembiraan pesta hari itu.

Setelah asyik bermain, anak anak dan orang tua dimanjakan dengan sajian kuliner yang tak kalah unik. Tim Oakwood Surabaya menyajikan hidangan spesial yang disesuaikan dengan imajinasi anak-anak, seperti mini burger lezat yang diberi hiasan mata sehingga menyerupai monster kecil yang menggemaskan. Tak ketinggalan, chocolate fountain (air mancur cokelat) yang menjulang menjadi sudut favorit, di mana anak-anak matanya berbinar-binar saat mencelupkan berbagai camilan ke dalam aliran cokelat yang manis.

Rangkaian acara “Kids Halloween Party” ini pada akhirnya bukan sekadar ajang unjuk kostum. Momen ini menjadi ruang yang hangat bagi keluarga untuk sejenak lepas dari rutinitas, tertawa bersama, dan merangkai kenangan masa kecil yang indah bagi si buah hati. Oakwood Hotel & Residence Surabaya berharap dapat terus hadir dan menjadi bagian dari momen-momen berharga keluarga Anda di masa mendatang.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Dari Pertemuan Bisnis Menuju Nilai Ekonomi

Sebagai penutup rangkaian lima hari kegiatan teknologi di Indonesia, ratusan pertemuan startup, kemitraan internasional di industri gim, dan peluang investasi AI bernilai miliaran dolar menunjukkan tantangan berikutnya: mengubah koneksi menjadi nilai ekonomi jangka panjang.

Oleh Sachin V Gopalan Founder & CEO, Indonesia Economic Forum

BALI, 23 Oktober, 2026 — Bali Tech Week 2026 berakhir pada Jumat (23/10/2026) dengan menunjukkan perkembangan koneksi teknologi Indonesia di tingkat internasional. Ratusan pertemuan penjajakan bisnis startup dan lebih dari seribu interaksi bisnis di industri gim menyoroti peluang komersial yang muncul dari ekonomi digital Indonesia.

Setelah lima hari diisi pengumuman pemerintah, diskusi industri, demonstrasi teknologi, dan jejaring investasi, laporan penutupan mengalihkan perhatian dari apa yang ingin dicapai Indonesia menuju hasil nyata yang dihasilkan oleh kegiatan tersebut.

Hasil yang dilaporkan menunjukkan momentum yang cukup besar. Startup Indonesia memperoleh kesempatan untuk menjalin hubungan dengan investor dan perusahaan internasional, pengembang gim lokal terhubung dengan penerbit global, dan pejabat pemerintah memaparkan besarnya potensi investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia.

Namun, terdapat perbedaan penting antara pertemuan bisnis dan transaksi yang telah diselesaikan. Bali Tech Week menunjukkan kemampuan Indonesia untuk menarik minat komersial internasional, tetapi nilai ekonomi dari koneksi tersebut akan bergantung pada tindak lanjut setelah para peserta meninggalkan Bali.

Ratusan Pertemuan, Ribuan Peluang

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Edwin Hidayat Abdullah, menyoroti investasi, konektivitas, dan kepastian regulasi dalam penilaian pemerintah terhadap hasil kegiatan tersebut.

Menurut laporan pada hari penutupan, program penjajakan bisnis HUB.ID menghasilkan 813 pertemuan yang melibatkan 85 startup terpilih, 40 perusahaan modal ventura, dan 35 perusahaan internasional. Angka tersebut merupakan akumulasi kegiatan yang berlangsung sepanjang pekan dan menjadi salah satu indikator paling jelas dari aktivitas komersial selama Bali Tech Week.

Bagi startup Indonesia, nilai pertemuan ini tidak hanya terletak pada peluang memperoleh modal ventura. Perusahaan internasional dapat membuka akses ke pelanggan, jaringan distribusi, keahlian teknis, dan pasar luar negeri, sementara investor dapat membantu membiayai ekspansi bisnis.

Pertemuan dengan perusahaan besar dapat berkembang menjadi proyek percontohan yang kemudian berpotensi menghasilkan kontrak komersial. Bagi perusahaan teknologi yang sedang berkembang, memperoleh pelanggan korporasi pertama dalam skala besar dapat sama pentingnya dengan mendapatkan putaran pendanaan baru.

Meski demikian, jumlah pertemuan tidak boleh disamakan dengan jumlah investasi yang berhasil diperoleh. Laporan penutupan yang tersedia belum menunjukkan nilai keseluruhan komitmen keuangan yang mengikat ataupun perjanjian komersial yang telah diselesaikan melalui HUB.ID.

Indikator yang lebih menentukan adalah berapa banyak pertemuan tersebut yang berlanjut ke proses uji tuntas, kemitraan komersial, transaksi investasi, dan pertumbuhan bisnis berkelanjutan dalam beberapa bulan mendatang.

Pengembang Gim Indonesia Menembus Panggung Global

Salah satu hasil komersial paling signifikan muncul melalui Indonesia Game Developer Exchange (IGDX), yang mengakhiri rangkaian kegiatannya pada 23 Oktober setelah tiga hari mempertemukan pengembang gim Indonesia dengan penerbit internasional dan mitra industri.

Laporan penutupan menyebutkan bahwa 244 studio gim Indonesia dan 66 penerbit internasional berpartisipasi dalam program tersebut, dengan lebih dari 1.200 pertemuan bisnis terlaksana. Namun, laporan industri berikutnya menyebutkan 339 studio peserta. Perbedaan angka yang dipublikasikan ini masih memerlukan klarifikasi.

Indonesia memiliki basis konsumen gim yang besar dan komunitas pengembang yang terus berkembang. Namun, membangun studio gim yang sukses membutuhkan lebih dari sekadar kreativitas. Pengembang memerlukan pembiayaan, kemampuan teknis, hubungan dengan penerbit internasional, keahlian pemasaran, serta jaringan distribusi yang mampu menjangkau audiens global.

Interaksi langsung dengan penerbit internasional dapat membantu menjembatani berbagai kebutuhan tersebut. Gim buatan Indonesia yang sukses dapat menghasilkan pendapatan ekspor dan pendapatan dari kekayaan intelektual, sekaligus menciptakan lapangan kerja terampil di bidang rekayasa perangkat lunak, animasi, desain, penceritaan, dan produksi digital.

Manfaat ekonomi industri ini juga dapat meluas ke luar sektor gim. Keterampilan yang dikembangkan dalam produksi hiburan interaktif semakin relevan bagi teknologi pendidikan, simulasi, produksi film, periklanan, dan industri kreatif lainnya.

Bagi ekonomi digital Indonesia, peluangnya bukan sekadar menghasilkan gim yang sukses. Hal yang lebih penting adalah mengembangkan kekayaan intelektual dalam negeri dan membangun perusahaan yang mampu bersaing di pasar internasional.

Peluang Investasi AI hingga US$12 Miliar

Edwin juga memaparkan perkiraan pemerintah bahwa Indonesia berpotensi menarik investasi terkait AI senilai sekitar US8miliarhinggaUS12 miliar selama periode 2026–2030.

Angka tersebut merupakan proyeksi potensi investasi selama beberapa tahun, bukan pendanaan yang telah dikomitmenkan atau berhasil diperoleh selama Bali Tech Week. Meski demikian, proyeksi ini menggambarkan besarnya ambisi Indonesia seiring meningkatnya kebutuhan terhadap infrastruktur komputasi, layanan cloud, aplikasi AI, dan kapabilitas teknologi khusus.

Prioritas pemerintah, yaitu Terhubung, Tumbuh, Terjaga, memberikan kerangka bagi pengembangan tersebut. Konektivitas memungkinkan partisipasi, pertumbuhan ekonomi menciptakan peluang komersial, sedangkan perlindungan digital membangun kepercayaan yang diperlukan untuk memperluas adopsi teknologi.

Kualitas investasi akan sama pentingnya dengan jumlahnya. Pusat data dan infrastruktur komputasi dapat menarik modal dalam jumlah besar, tetapi kontribusinya terhadap perekonomian secara luas akan bergantung pada bisnis yang didukung, keterampilan yang dikembangkan, dan aplikasi yang dihasilkan.

Indonesia perlu memastikan bahwa investasi baru memperkuat kapabilitas teknologi domestik, bukan sekadar meningkatkan permintaan terhadap perangkat keras, perangkat lunak, dan layanan impor.

Tantangan Setelah Bali Tech Week

Hasil komersial pada hari terakhir memberikan gambaran nyata mengenai pencapaian dan tantangan dalam agenda Bali Tech Week. Indonesia telah menunjukkan kemampuannya mempertemukan perusahaan teknologi, investor, instansi pemerintah, dan mitra internasional untuk menjajaki peluang di salah satu pasar digital terbesar di Asia Tenggara.

Tantangan berikutnya adalah mengubah hubungan tersebut menjadi hasil ekonomi yang terukur.

Bagi startup, hal ini berarti mengubah perkenalan dengan investor menjadi investasi dan pendapatan. Bagi pengembang gim, tantangannya adalah mengubah pembicaraan dengan penerbit menjadi peluncuran produk di pasar internasional. Sementara itu, pemerintah perlu memastikan bahwa investasi infrastruktur, pengembangan talenta, dan kebijakan regulasi menciptakan lingkungan yang kompetitif bagi pertumbuhan perusahaan Indonesia.

Keberhasilan Bali Tech Week pada akhirnya tidak ditentukan oleh jumlah pertemuan yang berlangsung atau besarnya proyeksi investasi yang diumumkan, melainkan oleh perusahaan yang terbentuk, kontrak yang diperoleh, produk yang diekspor, dan lapangan kerja yang tercipta.

Bali Tech Week 2026 menunjukkan bahwa Indonesia mampu menghadirkan ekosistem teknologi dunia ke dalam negeri. Tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi Indonesia dapat memanfaatkan peluang tersebut dan bersaing secara kompetitif di pasar global.

Tentang Bali Tech Week 2026

Bali Tech Week 2026 (BTW 2026) merupakan inisiatif Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi), yang dikelola bersama DS Group sebagai platform payung bagi berbagai acara teknologi. Platform ini menghubungkan pemerintah, industri, pendiri perusahaan, investor, serta komunitas teknologi Indonesia dan internasional untuk membangun kolaborasi dan membuka peluang bisnis maupun kemitraan.

Edisi perdana BTW 2026 diselenggarakan pada 19–23 Oktober 2026 di Bali Beach Convention Center, Sanur, Bali, dengan tema “Archipelago Ascending — Maju Bersama, Berinovasi Lebih Jauh.” Dengan menyatukan 13 acara utama dalam satu agenda selama sepekan, BTW 2026 mencakup perusahaan rintisan, gim, kecerdasan buatan (AI), keamanan siber, aset digital, infrastruktur, kebijakan, dan investasi. BTW 2026 menargetkan lebih dari 4.000 peserta, termasuk 1.000 delegasi internasional, dengan perwakilan dari lebih dari 30 negara.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Empat Tahun UU Pelindungan Data Pribadi: Menghitung Hari Menuju Efektivitas Peraturan Teknis (PP PDP)

EBP Integra bersama Asosiasi Data Protection Officer (DPO) Indonesia menggelar webinar “4 Tahun UU PDP” pada Selasa, 27 Oktober 2026, pukul 09.00-11.00 WIB melalui Zoom. Acara ini sekaligus menjadi pre-soft launching dua buku karya Eryk Budi Pratama, Ketua Umum Asosiasi DPO Indonesia, berjudul “Kerangka Kepatuhan Pelindungan Data Pribadi: Regulasi, Kontrol, dan Praktik” (Buku 1 dan Buku 2).

Webinar digelar karena UU PDP genap berusia empat tahun sejak diundangkan pada 17 Oktober 2022, sementara aturan pelaksananya, PP 33/2026 (225 pasal, diundangkan 16 Juli 2026), mulai berlaku pada 16 Januari 2027, kurang dari tiga bulan lagi. Sebanyak 36 pasal dikaitkan dengan sanksi administratif, dengan denda hingga 2% dari pendapatan tahunan, dan ada 43 dokumen wajib yang perlu disiapkan organisasi.

Menuju PP 33/2026: Webinar 4 Tahun UU PDP Soroti Kesiapan Kepatuhan Pelindungan Data Pribadi

JAKARTA – Memperingati empat tahun diundangkannya Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP), EBP Integra bersama Asosiasi Data Protection Officer (DPO) Indonesia menggelar webinar “4 Tahun UU PDP” pada Selasa (27/10/2026) pukul 09.00–11.00 WIB melalui Zoom, yang sekaligus menjadi pre-soft launching dua buku karya Eryk Budi Pratama, Ketua Umum Asosiasi DPO Indonesia, berjudul Kerangka Kepatuhan Pelindungan Data Pribadi: Regulasi, Kontrol, dan Praktik.

Webinar yang terbuka bagi praktisi hukum, teknologi informasi, keamanan siber, tata kelola-risiko-kepatuhan (GRC), manajemen risiko, dan pelindungan data pribadi ini mengangkat tema kesiapan organisasi menghadapi Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2026 (PP 33/2026) yang mulai berlaku pada 16 Januari 2027. Pembahasan mencakup pembaruan regulasi, tantangan penerapan, dan langkah persiapan sebelum peraturan tersebut berlaku.

UU PDP diundangkan pada 17 Oktober 2022, dan masa penyesuaian dua tahun bagi pengendali dan prosesor berakhir pada 17 Oktober 2024. PP 33/2026 sebagai aturan pelaksananya diundangkan pada 16 Juli 2026. Dari tanggal webinar, waktu yang tersisa sebelum PP berlaku kurang dari tiga bulan.

Eryk Budi Pratama selaku Ketua Umum Asosiasi DPO Indonesia menyampaikan bahwa PP 33/2026, yang terdiri atas 225 pasal dalam 12 BAB, mengubah banyak prinsip umum menjadi muatan minimal yang dapat diperiksa. Muatan tersebut antara lain mengatur catatan kegiatan pemrosesan data pribadi (RoPA), perjanjian dengan Prosesor Data Pribadi, penilaian dampak pelindungan data pribadi, serta tenggat pemberitahuan kegagalan pelindungan data pribadi selama 3 × 24 jam.

Ia menambahkan bahwa 36 pasal dikaitkan dengan sanksi administratif, dengan denda administratif paling tinggi 2 persen dari pendapatan tahunan. Sebanyak 34 pasal masih menunggu Peraturan Lembaga untuk rincian tata caranya, tetapi menurutnya kewajiban dalam PP tetap berlaku tanpa menunggu peraturan tersebut.

Dalam paparannya, Eryk juga menguraikan sejumlah tantangan menuju 16 Januari 2027, di antaranya waktu yang terbatas karena periodenya mencakup libur Natal dan Tahun Baru, kebutuhan perubahan kontrol teknis seperti pengelolaan persetujuan dan portal permintaan hak Subjek Data Pribadi, penyesuaian perjanjian dengan Prosesor, serta aturan turunan yang belum terbit.

Untuk menjembatani tantangan tersebut, ia menyarankan langkah cepat (quick win) selama sekitar 12 minggu dengan prioritas pada dokumen yang wajib ada. Dari 43 dokumen wajib yang dipetakan, 15 berlaku umum dan 28 bersyarat sesuai profil pemrosesan organisasi. Ia mengingatkan bahwa keberadaan dokumen belum menjamin kepatuhan, karena pemeriksa menilai bukti pelaksanaannya.

Pada kesempatan yang sama diperkenalkan dua buku yang ditulis Eryk Budi Pratama. Buku pertama membahas ketentuan UU PDP dan PP 33/2026 serta cara menerjemahkannya menjadi kontrol organisasi, sedangkan buku kedua membahas konsekuensi hukum bila kewajiban tidak dipenuhi, studi skenario, dan peta jalan implementasi.

Eryk menyampaikan bahwa kedua buku disusun untuk menutup lima celah yang kerap dihadapi praktisi pelindungan data pribadi:

1. Teks pasal dibaca lewat ringkasan. Rincian penting ada di ayat, frasa, dan Penjelasan yang tidak selalu muncul dalam ringkasan. Buku membahas seluruh 76 pasal UU PDP dan 225 pasal PP 33/2026 pasal demi pasal, beserta Penjelasannya.

2. Kebijakan ada, praktiknya tidak terbukti. Kebijakan sudah ditulis, tetapi tidak dijalankan atau tidak dapat dibuktikan, misalnya kebijakan retensi ada namun data lama tidak pernah dihapus dan tidak ada berita acaranya. Buku menurunkan setiap kewajiban menjadi kontrol beserta pemilik dan bukti pelaksanaannya.

3. Sanksi dipahami sebagai satu angka. Denda 2 persen saja tidak menjelaskan variabel penghitungan, jalur perdata, pidana, dan PTUN. Buku menganalisis keempat jalur sanksi tersebut lengkap dengan contoh hitungan.

4. Dokumen wajib tidak punya daftar tunggal. Kewajiban dokumen tersebar di banyak pasal sehingga tidak jelas mana yang wajib, bersyarat, dan bersanksi. Buku memetakan 43 dokumen wajib ke pasal dan bab yang membahasnya.

5. Urutan pengerjaan tidak jelas. Tanpa urutan dan dependensi, tim dapat memulai dari dokumen yang salah dan mengulang pekerjaan, sementara waktu menuju 16 Januari 2027 terbatas. Buku menyusun roadmap 12 bulan beserta dependensinya.

Menurut Eryk, 50 skenario beserta latihan keputusan dalam buku kedua mengikat kelima jawaban tersebut menjadi praktik yang dapat dilatih.

Eryk menyampaikan bahwa kedua buku memisahkan kutipan ketentuan dari analisis penulis serta menghubungkan setiap kewajiban dengan kontrol dan bukti pelaksanaannya. Ia menegaskan bahwa buku bukan kumpulan templat, dan pembahasan implementasi teknis direncanakan dalam buku berikutnya yang masih dikembangkan.

Selain buku, penyelenggara menyediakan dua sumber terbuka bagi publik. Navigator PDP Indonesia di privasidata.id memuat naskah UU PDP dan PP 33/2026 yang dapat ditelusuri pasal demi pasal beserta analisis kontrolnya, sedangkan Awareness PDP di awareness.privasidata.id berisi simulasi video interaktif dan skenario per sektor untuk membangun kesadaran pelindungan data pribadi di organisasi.

Bagi pembaca yang ingin memesan buku lebih awal, penyelenggara membuka formulir Expression of Interest (EOI) pre-order di bit.ly/4zPXIrt.

Penyelenggara berharap webinar ini membantu organisasi memahami pembaruan pelindungan data pribadi dan menyiapkan kepatuhan secara bertahap sebelum PP 33/2026 berlaku. EBP Integra dan Asosiasi DPO Indonesia menyatakan komitmen untuk terus mendukung penguatan pelindungan data pribadi di Indonesia.

Penyelenggara juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah bergabung dalam webinar ini.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Bikin Rencana Lebih Nyata, Manfaatkan Fasilitas Dana Tunai BRI Finance

Jakarta, 14 September 2026 – September kerap menjadi momentum untuk kembali melihat rencana yang telah berjalan sepanjang tahun. Setelah melewati paruh pertama tahun, masyarakat mulai menata kembali berbagai kebutuhan, mulai dari aktivitas keluarga, pengembangan usaha, hingga rencana yang sempat ditunda dan ingin diwujudkan sebelum akhir tahun.

Sejalan dengan kebutuhan tersebut, kendaraan tetap menjadi bagian penting dari aktivitas masyarakat. Hal ini tercermin dari kinerja pasar otomotif nasional yang menunjukkan pertumbuhan pada Juli 2026. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), penjualan mobil secara wholesales pada Juli 2026 mencapai 81.115 unit, tumbuh 33,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, penjualan secara retail mencapai 77.412 unit atau tumbuh 12,1% secara tahunan. Secara kumulatif, penjualan Januari–Juli 2026 tercatat sebanyak 517.742 unit secara wholesales dan 511.514 unit secara retail.

Di tengah tingginya kebutuhan terhadap kendaraan sebagai sarana mobilitas, kendaraan juga dapat memiliki fungsi lain bagi pemiliknya, yaitu sebagai aset yang dapat dimanfaatkan ketika terdapat kebutuhan dana. Kondisi ini membuka ruang bagi masyarakat untuk mengelola nilai aset yang dimiliki tanpa harus menghentikan fungsi kendaraan dalam menunjang aktivitas sehari-hari.

Memahami kebutuhan tersebut, PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) menghadirkan BRI Flash, fasilitas pembiayaan dengan jaminan BPKB kendaraan yang memberikan akses terhadap dana tunai, sementara kendaraan tetap dapat digunakan oleh pemiliknya.

Melalui BRI Flash, nasabah dapat memperoleh pencairan dana hingga 90% dari harga kendaraan, dengan bunga mulai dari 0,73% per bulan dan pilihan tenor hingga 4 tahun, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengatakan, “September bisa menjadi momen untuk melihat kembali rencana yang sudah dibuat sejak awal tahun dan menentukan mana yang ingin segera diwujudkan. Kebutuhan setiap orang tentu berbeda, baik untuk mendukung usaha, keluarga, maupun kebutuhan produktif lainnya. Dalam kondisi tersebut, memiliki pilihan dalam mengelola aset dan kebutuhan keuangan dapat memberikan ruang yang lebih fleksibel bagi masyarakat.”

Menurut Aditia, keberadaan fasilitas pembiayaan dengan jaminan BPKB memberikan alternatif bagi pemilik kendaraan yang membutuhkan tambahan dana namun tetap memerlukan kendaraan untuk mendukung aktivitas sehari-hari.

“Melalui BRI Flash, kami ingin memberikan alternatif bagi masyarakat untuk memanfaatkan nilai kendaraan yang dimiliki ketika membutuhkan dana, tanpa harus kehilangan akses terhadap kendaraan tersebut. Dengan begitu, kendaraan tetap dapat digunakan untuk mobilitas, sementara kebutuhan dana dapat dikelola melalui skema pembiayaan yang tersedia,” tutup Dhani.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Harga Emas Kembali di Atas US$4.000, Dupoin Futures Soroti Potensi Rebound

Harga emas dunia atau XAUUSD berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan hari Selasa (27/10/26) setelah kembali bergerak di atas level psikologis US$4.000. Berdasarkan analisis Dupoin Futures, harga emas pada timeframe H1 menunjukkan potensi pembalikan arah menuju bullish setelah mengalami rejection di level support US$3.988 dan membentuk pola Inverse Head and Shoulders. Jika momentum kenaikan berlanjut, XAUUSD berpeluang menguji zona resistance US$4.048–US$4.072.

Geraldo Kofit, analis Dupoin Futures, menilai bahwa level US$3.988 menjadi area penting untuk menentukan keberlanjutan momentum bullish dalam jangka pendek. Penolakan harga di sekitar support tersebut menunjukkan adanya respons beli yang berpotensi mendorong pemulihan. Selain itu, pola Inverse Head and Shoulders yang terbentuk pada grafik per jam dapat menjadi indikasi awal perubahan momentum dari bearish menuju bullish.

Dalam analisis teknikal Dupoin Futures, harga emas berpeluang melanjutkan kenaikan selama mampu bertahan di atas support US$3.988 dan tidak mencatatkan penutupan di bawah level tersebut. Resistance US$4.048 menjadi sasaran pertama yang perlu diperhatikan. Apabila tekanan beli tetap kuat, XAUUSD berpotensi melanjutkan penguatan menuju area US$4.072. Namun, pergerakan menuju kedua level tersebut tetap membutuhkan konfirmasi dari aksi harga selanjutnya.

Dari sisi fundamental, peluang penguatan emas turut didukung oleh penurunan harga minyak yang dapat meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Mengacu pada rangkuman Reuters, pelemahan harga energi berpotensi mengurangi kekhawatiran bahwa inflasi akan bertahan tinggi, sehingga dapat memberikan ruang bagi emas untuk melanjutkan pemulihan. Pergerakan tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan Dupoin Futures dalam menilai prospek XAUUSD.

Meski demikian, kenaikan harga emas masih berpotensi terbatas menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada 28 Oktober 2026. Investor akan mencermati keputusan serta pernyataan bank sentral AS untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan moneter berikutnya. Apabila The Fed memberikan sinyal kebijakan yang lebih ketat, dolar AS berpotensi menguat dan kembali memberikan tekanan terhadap harga emas.

Penguatan dolar AS umumnya membuat emas menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury dapat meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas yang tidak memberikan bunga. Karena itu, perubahan ekspektasi suku bunga dan pergerakan yield tetap menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi keberlanjutan rebound XAUUSD.

Dupoin Futures melihat bahwa kombinasi pola Inverse Head and Shoulders, pertahanan support US$3.988, dan pergerakan harga di atas US$4.000 membuka peluang kenaikan jangka pendek. Meski demikian, pasar perlu mencermati resistance US$4.048–US$4.072 serta risiko perubahan sentimen menjelang keputusan The Fed. Jika support US$3.988 ditembus dan harga ditutup di bawahnya, skenario bullish perlu dievaluasi kembali.

Dengan demikian, prediksi harga emas hari ini menurut analisis Dupoin Futures masih mengarah pada peluang penguatan selama support utama mampu dipertahankan. Namun, keputusan The Fed, arah dolar AS, dan perubahan yield Treasury dapat menentukan apakah kenaikan tersebut berlanjut atau kembali menghadapi tekanan jual.

Analisis ini merupakan skenario pasar, bukan kepastian arah harga maupun rekomendasi transaksi. Perdagangan berjangka memiliki risiko kerugian yang signifikan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES