Harga Emas Kembali di Atas US$4.000, Dupoin Futures Soroti Potensi Rebound

Harga emas dunia atau XAUUSD berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan hari Selasa (27/10/26) setelah kembali bergerak di atas level psikologis US$4.000. Berdasarkan analisis Dupoin Futures, harga emas pada timeframe H1 menunjukkan potensi pembalikan arah menuju bullish setelah mengalami rejection di level support US$3.988 dan membentuk pola Inverse Head and Shoulders. Jika momentum kenaikan berlanjut, XAUUSD berpeluang menguji zona resistance US$4.048–US$4.072.

Geraldo Kofit, analis Dupoin Futures, menilai bahwa level US$3.988 menjadi area penting untuk menentukan keberlanjutan momentum bullish dalam jangka pendek. Penolakan harga di sekitar support tersebut menunjukkan adanya respons beli yang berpotensi mendorong pemulihan. Selain itu, pola Inverse Head and Shoulders yang terbentuk pada grafik per jam dapat menjadi indikasi awal perubahan momentum dari bearish menuju bullish.

Dalam analisis teknikal Dupoin Futures, harga emas berpeluang melanjutkan kenaikan selama mampu bertahan di atas support US$3.988 dan tidak mencatatkan penutupan di bawah level tersebut. Resistance US$4.048 menjadi sasaran pertama yang perlu diperhatikan. Apabila tekanan beli tetap kuat, XAUUSD berpotensi melanjutkan penguatan menuju area US$4.072. Namun, pergerakan menuju kedua level tersebut tetap membutuhkan konfirmasi dari aksi harga selanjutnya.

Dari sisi fundamental, peluang penguatan emas turut didukung oleh penurunan harga minyak yang dapat meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Mengacu pada rangkuman Reuters, pelemahan harga energi berpotensi mengurangi kekhawatiran bahwa inflasi akan bertahan tinggi, sehingga dapat memberikan ruang bagi emas untuk melanjutkan pemulihan. Pergerakan tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan Dupoin Futures dalam menilai prospek XAUUSD.

Meski demikian, kenaikan harga emas masih berpotensi terbatas menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada 28 Oktober 2026. Investor akan mencermati keputusan serta pernyataan bank sentral AS untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan moneter berikutnya. Apabila The Fed memberikan sinyal kebijakan yang lebih ketat, dolar AS berpotensi menguat dan kembali memberikan tekanan terhadap harga emas.

Penguatan dolar AS umumnya membuat emas menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury dapat meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas yang tidak memberikan bunga. Karena itu, perubahan ekspektasi suku bunga dan pergerakan yield tetap menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi keberlanjutan rebound XAUUSD.

Dupoin Futures melihat bahwa kombinasi pola Inverse Head and Shoulders, pertahanan support US$3.988, dan pergerakan harga di atas US$4.000 membuka peluang kenaikan jangka pendek. Meski demikian, pasar perlu mencermati resistance US$4.048–US$4.072 serta risiko perubahan sentimen menjelang keputusan The Fed. Jika support US$3.988 ditembus dan harga ditutup di bawahnya, skenario bullish perlu dievaluasi kembali.

Dengan demikian, prediksi harga emas hari ini menurut analisis Dupoin Futures masih mengarah pada peluang penguatan selama support utama mampu dipertahankan. Namun, keputusan The Fed, arah dolar AS, dan perubahan yield Treasury dapat menentukan apakah kenaikan tersebut berlanjut atau kembali menghadapi tekanan jual.

Analisis ini merupakan skenario pasar, bukan kepastian arah harga maupun rekomendasi transaksi. Perdagangan berjangka memiliki risiko kerugian yang signifikan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

BRI Finance Perkuat Segmen Mobil Bekas untuk Menjangkau Kebutuhan Konsumen

Jakarta, 10 September 2026 – PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) melihat pembiayaan mobil bekas masih memiliki ruang pertumbuhan di tengah dinamika pasar otomotif nasional. Pilihan kendaraan dengan harga yang lebih terjangkau menjadi salah satu pertimbangan konsumen, terutama ketika masyarakat semakin selektif dalam menentukan kendaraan sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial.

Peluang tersebut berjalan di tengah perbaikan pasar otomotif nasional. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menunjukkan penjualan mobil baru secara wholesales pada Januari–Agustus 2026 mencapai 599.491 unit, tumbuh 20,1% secara tahunan. Sementara penjualan retail mencapai 594.984 unit atau meningkat 13,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Agustus 2026 saja, penjualan retail tercatat 83.442 unit, menjadi capaian bulanan tertinggi sepanjang tahun ini.

Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengatakan perkembangan tersebut memberikan gambaran bahwa aktivitas pasar otomotif mulai menunjukkan momentum yang lebih positif. Namun, perseroan melihat pasar mobil bekas memiliki karakteristik dan dinamika permintaan tersendiri.

“Mobil bekas tetap menjadi pilihan bagi konsumen yang mencari kendaraan dengan harga yang lebih terjangkau. Bagi kami, kebutuhan tersebut membuka ruang untuk memperkuat pembiayaan mobil bekas secara selektif, dengan tetap memperhatikan profil konsumen dan kualitas aset,” ujar Dhani.

Minat terhadap kendaraan bekas juga masih terlihat pada segmen kendaraan dengan harga yang relatif terjangkau. Sejumlah pelaku industri menilai mobil jenis multi purpose vehicle (MPV), khususnya dengan harga di bawah Rp200 juta, masih menjadi salah satu pilihan yang banyak dicari konsumen. Kondisi ini menunjukkan bahwa aspek keterjangkauan tetap menjadi pertimbangan penting dalam keputusan pembelian kendaraan.

Dari sisi BRI Finance, peluang tersebut turut tercermin dari kinerja pembiayaan. Hingga Mei 2026, pembiayaan mobil bekas BRI Finance tercatat tumbuh 77,64% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa kebutuhan pembiayaan kendaraan bekas masih memiliki ruang untuk dikembangkan.

Untuk memperkuat penetrasi di segmen tersebut, BRI Finance mengoptimalkan jaringan pembiayaan dan memperkuat kerja sama dengan dealer. Perseroan juga terus meningkatkan kualitas proses akuisisi serta layanan kepada konsumen, sehingga pertumbuhan pembiayaan dapat berjalan seiring dengan pengelolaan risiko yang terukur.

“Pertumbuhan pembiayaan tetap kami dorong dengan pendekatan yang selektif. Kami terus mencermati perkembangan pasar dan daya beli masyarakat, sekaligus memastikan kualitas aset dan penerapan manajemen risiko tetap menjadi bagian penting dalam setiap proses pembiayaan,” kata Dhani.

BRI Finance memandang mobil bekas memiliki peran dalam memberikan alternatif kepemilikan kendaraan bagi masyarakat dengan kebutuhan dan kemampuan finansial yang beragam. Dengan memperkuat jaringan, kemitraan dealer, serta kualitas proses pembiayaan, perseroan akan terus mengembangkan segmen tersebut secara terukur dan berkelanjutan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

BRI Finance Perkuat Portofolio Pembiayaan Hijau melalui Kendaraan ListrikB

Jakarta, 10 September 2026 – PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) terus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan pembiayaan berkelanjutan melalui penyaluran pembiayaan kendaraan ramah lingkungan, khususnya kendaraan listrik. Segmen ini dinilai memiliki prospek seiring berkembangnya ekosistem kendaraan rendah emisi di Indonesia.

Hingga saat ini, penyaluran pembiayaan kendaraan ramah lingkungan BRI Finance meningkat sekitar 14,8 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin terbukanya kebutuhan masyarakat terhadap akses pembiayaan untuk kendaraan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengatakan, “Pertumbuhan pembiayaan kendaraan ramah lingkungan menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap produk pembiayaan yang mendukung mobilitas berkelanjutan terus berkembang. BRI Finance melihat peluang ini tidak hanya dari sisi pertumbuhan bisnis, tetapi juga sebagai bagian dari kontribusi perusahaan dalam mendukung transisi menuju transportasi yang lebih rendah emisi.”

Dalam mengembangkan pembiayaan berkelanjutan, BRI Finance tetap mengacu pada kriteria dan ketentuan yang berlaku. Perusahaan memastikan objek pembiayaan memenuhi karakteristik kegiatan yang mendukung aspek lingkungan, termasuk melalui identifikasi jenis dan spesifikasi kendaraan sebelum pembiayaan disalurkan. Kendaraan listrik dan hybrid menjadi bagian dari objek pembiayaan yang mendukung pengembangan portofolio tersebut.

Proses verifikasi juga dilengkapi dengan dokumentasi, monitoring, dan pengawasan secara berkala untuk memastikan klasifikasi pembiayaan tetap sesuai dengan ketentuan. Langkah ini menjadi bagian dari penerapan tata kelola dan manajemen risiko BRI Finance dalam menjaga kualitas portofolio pembiayaan berkelanjutan.

Pengembangan pembiayaan tersebut sejalan dengan arah keuangan berkelanjutan di Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan yang diklasifikasikan dalam Kategori Usaha Keuangan Berkelanjutan (KUKB) pada industri multifinance mencapai Rp93,70 triliun per Juli 2026, atau 17,25% dari total penyaluran pembiayaan. OJK juga memasukkan pembiayaan kendaraan listrik sebagai salah satu contoh penerapan keuangan berkelanjutan dalam Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI).

“Pengembangan pembiayaan kendaraan ramah lingkungan merupakan bagian dari upaya BRI Finance untuk memperkuat portofolio pembiayaan berkelanjutan. Kami tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam setiap penyaluran pembiayaan, sekaligus memastikan penerapan tata kelola, manajemen risiko, dan perlindungan konsumen berjalan secara konsisten,” tutup Dhani.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Seiring Perkembangan Pasar Mobil Baru, BRI Finance Hadirkan Penawaran Pembiayaan

Jakarta, 9 September 2026 – Pasar otomotif nasional menunjukkan momentum positif memasuki paruh kedua 2026. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat penjualan mobil secara ritel pada Agustus 2026 mencapai 83.422 unit, meningkat 7,7% dibandingkan Juli 2026 dan tumbuh 25,5% secara tahunan. Capaian tersebut sekaligus menjadi penjualan ritel bulanan tertinggi sepanjang tahun berjalan.

Penguatan juga terlihat pada distribusi kendaraan dari pabrikan ke jaringan dealer. Penjualan wholesales pada Agustus mencapai 81.756 unit, naik 0,8% dibandingkan bulan sebelumnya dan tumbuh 32,4% dibandingkan Agustus 2025. Secara kumulatif, penjualan ritel sepanjang Januari–Agustus 2026 telah mencapai 594.984 unit, atau meningkat 13,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap kendaraan baru tetap memiliki ruang pertumbuhan di tengah pasar yang semakin beragam. Konsumen kini dihadapkan pada semakin banyak pilihan model dan teknologi kendaraan, mulai dari kendaraan konvensional hingga kendaraan elektrifikasi, sehingga keputusan pembelian semakin erat kaitannya dengan kebutuhan mobilitas sekaligus perencanaan keuangan.

Di tengah kondisi tersebut, aspek pembiayaan menjadi salah satu pertimbangan penting ketika konsumen hendak memiliki mobil baru. Pemilihan tenor, besaran cicilan, serta kemampuan memenuhi kewajiban secara berkelanjutan perlu menjadi bagian dari pertimbangan sebelum mengambil keputusan.

Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengatakan bahwa meningkatnya pilihan kendaraan di pasar memberikan lebih banyak alternatif bagi masyarakat untuk menyesuaikan kendaraan dengan kebutuhan masing-masing.

“Perkembangan pasar otomotif menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap mobil baru masih memiliki momentum yang positif. Namun, keputusan membeli kendaraan tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan finansial. Konsumen perlu melihat pembelian mobil secara menyeluruh, termasuk memiliki pilihan untuk mendapatkan skema pembiayaan yang sesuai dengan perencanaan keuangan,” ujar Dhani.

Sebagai bagian dari upaya memberikan pilihan pembiayaan yang relevan bagi masyarakat, BRI Finance menyediakan fasilitas pembiayaan mobil baru dengan bunga mulai dari 3,33% flat per tahun dan pilihan tenor hingga lima tahun.

Menurut Dhani, fleksibilitas tenor dapat membantu konsumen menyesuaikan rencana pembayaran dengan kondisi keuangan masing-masing. Meski demikian, konsumen tetap perlu memperhitungkan keseluruhan biaya kepemilikan kendaraan, termasuk uang muka, cicilan, biaya operasional, perawatan, hingga kebutuhan lainnya.

“Bagi kami, pembiayaan bukan sekadar bagaimana konsumen dapat memiliki kendaraan. Yang lebih penting adalah bagaimana pembiayaan tersebut dapat menjadi solusi yang terukur dan sesuai dengan kemampuan konsumen. Kami ingin memberikan pilihan pembiayaan yang kompetitif sekaligus mendorong konsumen mengambil keputusan secara bijak,” tutup Dhani.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Masuki Kuartal IV 2026, BRI Finance Siapkan Strategi Pendanaan melalui Obligasi

Jakarta, 8 September 2026 – PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) menyiapkan rencana penerbitan obligasi senilai Rp500 miliar pada kuartal IV 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat struktur pendanaan sekaligus mendukung kebutuhan ekspansi bisnis.

Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengatakan rencana penerbitan tersebut masih dalam tahap persiapan dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi pasar dan kebutuhan pendanaan perusahaan.

“BRI Finance terus melihat pasar obligasi sebagai salah satu alternatif pendanaan strategis. Untuk rencana penerbitan pada kuartal IV 2026, kami akan menyesuaikan waktu pelaksanaan dengan kebutuhan funding perusahaan serta kondisi pasar agar dapat dilakukan secara optimal dan prudent,” ujar Dhani.

Rencana tersebut melanjutkan pengalaman BRI Finance dalam memanfaatkan pasar modal sebagai salah satu sumber pendanaan. Sebelumnya, perusahaan telah melakukan tiga kali penerbitan surat utang, yakni Obligasi I BRI Finance Tahun 2022, Obligasi II BRI Finance Tahun 2023, dan Obligasi Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2025.

Menurut Dhani, keputusan untuk menerbitkan obligasi tidak hanya mempertimbangkan pergerakan suku bunga acuan, tetapi juga memperhatikan sejumlah indikator pasar, termasuk perkembangan yield, minat investor, kebutuhan likuiditas, serta kesesuaian antara tenor pendanaan dan profil aset perusahaan.

“Dalam menentukan penerbitan obligasi, kami mempertimbangkan kondisi pasar secara menyeluruh, termasuk yield dan appetite investor, serta kebutuhan likuiditas dan profil aset. Dengan pendekatan tersebut, kami dapat memastikan pendanaan tetap selaras dengan kebutuhan bisnis dan prinsip kehati-hatian,” jelasnya.

Di tengah BI Rate yang saat ini berada pada level 5,75%, BRI Finance menilai kondisi biaya pendanaan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan momentum penerbitan. Karena itu, perusahaan akan terus memonitor perkembangan suku bunga dan pricing di pasar sebelum mengeksekusi rencana tersebut.

“Diversifikasi sumber pendanaan tetap menjadi fokus perusahaan. Kami akan memastikan kecukupan likuiditas sekaligus menjaga efisiensi cost of fund. Apabila kondisi pasar dan pricing mendukung, kami akan memanfaatkan peluang penerbitan obligasi pada waktu yang tepat,” kata Dhani.

Strategi tersebut dijalankan di tengah pasar surat utang multifinance yang masih menghadapi dinamika. Berdasarkan data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), penerbitan surat utang multifinance hingga Juli 2026 mencapai Rp14,57 triliun, atau turun 41,8% secara tahunan dari Rp25,03 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan tersebut lebih dalam dibandingkan total penerbitan surat utang korporasi yang terkoreksi 16,2% secara tahunan menjadi Rp112,31 triliun. Dengan demikian, kontribusi multifinance terhadap total penerbitan surat utang korporasi turun menjadi sekitar 13% pada Juli 2026 dari 18,7% pada Juli 2025.

Di tengah dinamika tersebut, BRI Finance tetap membuka peluang pendanaan melalui pasar obligasi dengan mempertimbangkan kebutuhan bisnis dan kondisi pasar secara disiplin. Perusahaan akan mengedepankan keseimbangan antara dukungan terhadap pertumbuhan pembiayaan, kecukupan likuiditas, serta efisiensi biaya pendanaan dalam setiap keputusan pendanaan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Veritask Luncurkan AiYU Generasi Terbaru, Ungguli Model AI Generik dalam Pengujian Hukum Indonesia

Pengujian menunjukkan AI yang dibangun khusus untuk hukum Indonesia lebih andal menemukan dasar hukum yang tepat dan masih berlaku dibanding AI serbaguna.

Jakarta, 27 Oktober 2026 — Seberapa akurat AI menjawab pertanyaan hukum Indonesia? Untuk mengukurnya, Veritask menguji AiYU generasi terbaru, agentic AI hukum yang dikembangkannya, bersama tiga model AI serbaguna menggunakan 150 pertanyaan hukum Indonesia. Pengujian internal ini menilai ketepatan dasar hukum, relevansi sitasi dan pemahaman konteks regulasi Indonesia. Hasilnya, AiYU mencatat skor 82.1%. Angka ini lebih tinggi dari Chat GPT- Astra (73.6%), Claude Opus 5.5 (74.7%), dan Gemini 3.8 Flash (66.4%).

Pertanyaan ini penting karena masalah terbesar penggunaan AI di sektor hukum adalah jawaban yang terdengar meyakinkan, padahal pasalnya keliru atau aturannya sudah tidak berlaku. Veritask mempublikasikan metodologi dan hasil pengujian tersebut di https://veritask.link/report, sehingga publik dapat menilai sendiri seberapa akurat model AI dalam menjawab persoalan hukum Indonesia.

Berbeda dari AI serbaguna yang dirancang untuk berbagai topik, generasi terbaru AiYU dibangun khusus untuk sistem hukum Indonesia, termasuk memahami hierarki peraturan, status keberlakuan, dan perubahan ketentuan. Sumbernya adalah Indonesian Legal Corpus yang mencakup 99% regulasi Indonesia. Setiap jawaban disertai pasal, sumber, dan status keberlakuan yang bisa diperiksa langsung oleh pengguna. Saat ini AiYU telah digunakan oleh lebih dari 5.000 pengguna, mulai dari in-house counsel, advokat, dan konsultan hukum baik secara tim atau individu.

“Dalam membangun AI untuk sektor hukum, kualitas adalah prioritas utama yang tidak dapat dikompromikan, bahkan di atas faktor biaya dan waktu. Karena itu, kami menerapkan pendekatan quality-first dalam setiap tahap pengembangan AI. Sistem RAG (Retrieval-Augmented Generation) yang canggih tidak akan menghasilkan jawaban berkualitas tanpa didukung fondasi data yang kuat dan akurat. Melalui rilis terbaru ini, kami meningkatkan akurasi fondasi data hingga 98%, dengan cakupan yang meliputi 99% peraturan di Indonesia. Selain itu, setiap sumber yang digunakan dalam proses RAG dilengkapi dengan sitasi yang terhubung langsung ke naskah asli peraturan. Dengan demikian, pengguna AiYU dapat menelusuri dan memverifikasi dasar hukum di balik setiap jawaban yang dihasilkan AI,” ujar Eugenius Mario, Chief Product & Technology Veritask.

Teknologi Agentic di Balik Ekosistem Veritask

AiYU dibangun dengan teknologi agentic AI, yang memungkinkan AI merencanakan dan menjalankan serangkaian langkah secara mandiri melalui orkestrasi model AI, perangkat pencarian, dan mekanisme evaluasi. Dalam riset hukum, AiYU dapat menelusuri regulasi, memeriksa status keberlakuan, membandingkan ketentuan, lalu menyusun analisis berbasis sumber. Teknologi ini menjadi fondasi bagi tiga produk Veritask.

1. Core OS: basis peraturan terlengkap dengan pembaruan regulasi harian.

2. Legal OS: solusi untuk firma hukum dan tim legal in-house.

3. Compliance OS: pengelolaan kepatuhan perusahaan.

Manfaat bagi Industri Hukum Indonesia

Veritask melihat empat dampak utama bagi industri hukum. Pertama, risiko salah kutip dan penggunaan aturan yang sudah dicabut menjadi lebih kecil. Kedua, riset hukum yang biasanya memakan waktu berjam-jam bisa dilakukan dalam satu platform sehingga lebih cepat dan efisien. Ketiga, akses informasi hukum menjadi lebih merata, termasuk bagi firma kecil, UMKM, dan praktisi di luar kota besar. Keempat, budaya verifikasi semakin kuat: profesional hukum terbiasa memeriksa sumber primer,bukan sekadar menerima jawaban AI.

“Sebagai seorang pengacara atau advokat, penting bagi saya untuk mengetahui betul bahwa dokumen dan sumber informasi hukum yang saya gunakan akurat, benar, terkini, dan relevan. dan AiYU dibangun bukan untuk menggantikan keahlian praktisi hukum, tetapi untuk membantu mereka bekerja dengan akses informasi dan teknologi yang lebih baik,” ujar Dr. Sri Rahayu, Co-Founder Veritask

Generasi terbaru AiYU kini dapat dicoba melalui veritask.ai. Pengguna dapat langsung mengujinya dengan pertanyaan hukum mereka sendiri dan memeriksa dasar hukum di balik setiap jawaban.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Suntik Autoimun Rutin hingga Rp45 Juta per Dosis, Ardiansyah Terbantu dengan Asuransi Kesehatan Syariah

Bagi Muhammad Ardiansyah, istri dan anaknya adalah sumber kekuatan sekaligus orang-orang yang paling ingin ia lindungi. Karena itu, ia mempersiapkan perlindungan kesehatan sebagai bagian dari ikhtiar untuk tetap hadir sebagai suami, ayah, dan pencari nafkah.

Ardiansyah telah menjadi Peserta Prudential Syariah sejak 2020. Kesadarannya mengenai pentingnya perlindungan tumbuh ketika ia mendampingi orang tuanya menjalani pengobatan diabetes. Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa risiko kesehatan dapat datang kapan saja dan membutuhkan kesiapan finansial.

“Waktu itu saya mendampingi orang tua berobat dan melihat langsung biaya medis yang cukup mahal. Dari situ saya merasa perlu memiliki asuransi untuk berjaga-jaga,” ujar Ardiansyah.

Dua tahun setelah memiliki perlindungan, Ardiansyah didiagnosis menderita penyakit autoimun psoriasis. Kabar tersebut menjadi titik yang berat baginya karena kondisi itu membutuhkan waktu perawatan yang tidak singkat. Pada tahap awal, Ardiansyah menjalani suntikan setiap bulan sebanyak 15 hingga 18 kali, dengan biaya untuk satu kali suntikan dapat mencapai sekitar Rp45 juta. Kini, sesuai arahan dokter, jadwal suntik dilakukan setiap dua bulan dan efektivitas terapinya masih terus dipantau. Meski frekuensinya telah berkurang, besarnya biaya perawatan menunjukkan kebutuhan kesiapan finansial yang matang agar kestabilan ekonomi keluarga tetap terjaga.

“Perawatannya sudah berkali-kali dan biayanya cukup besar. Alhamdulillah, perlindungan Prudential Syariah membantu menanggung biaya perawatan yang saya jalani. Prosesnya juga mudah, mulai dari klaim, menjalani perawatan, hingga kepulangan dari rumah sakit,” katanya.

Di tengah proses yang panjang tersebut, kemudahan layanan membantu Ardiansyah dan keluarganya menjalani perawatan dengan lebih tenang. Menurutnya, tenaga pemasar turut memberikan pendampingan, sementara layanan digital membantunya memantau informasi polis dan nilai tunai.

Lili Yani Hasibuan, istri Ardiansyah, melihat perlindungan sebagai bentuk penjagaan bagi seluruh keluarga. Baginya, ketika pencari nafkah menghadapi risiko kesehatan, keluarga tidak hanya mengkhawatirkan kondisi orang yang dicintai, tetapi juga menghadapi risiko berkurangnya penghasilan serta kebutuhan biaya perawatan dalam waktu bersamaan.

“Kalau terjadi sesuatu pada suami sebagai pencari nafkah, setidaknya kami tidak perlu kembali memikirkan biaya kesehatannya. Perlindungan sangat membantu, baik untuk diri sendiri, pasangan, maupun anak-anak,” ujar Lili.

Pengalaman ini membuat Ardiansyah makin yakin bahwa perlindungan kesehatan ikut menjaga fondasi finansial keluarga. Tanpa persiapan, biaya medis bisa menggerus tabungan dan rencana keuangan yang sudah dibangun. Ikhtiar ini juga membawa semangat ta’awun atau tolong-menolong antar sesama Peserta melalui dana tabarru’, sehingga perlindungan menjadi bagian dari kepedulian bersama.

Vivin Arbianti Gautama, Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah, mengatakan, “Perawatan jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan sekaligus kondisi finansial keluarga. Karena itu, kami berupaya memastikan Peserta tidak menghadapi proses tersebut sendirian. Ketika perlindungan dipersiapkan untuk orang yang nomor satu di hati, kami hadir untuk membantu menjaga yang paling berarti agar setiap janji bisa jadi nyata.”

Kini, Ardiansyah mengajak masyarakat mempersiapkan perlindungan selagi sehat, bukan setelah penyakit muncul. Baginya, itulah wujud nyata janji untuk menjaga yang nomor satu di hati dan tetap membersamai keluarga dalam berbagai keadaan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

BANGKITNYA MANUFAKTUR SEBAGAI MOTOR PERTUMBUHAN EKONOMI TERBESAR

BANGKITNYA MANUFAKTUR SEBAGAI MOTOR PERTUMBUHAN EKONOMI TERBESAR

JAKARTA — Industri manufaktur menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor ini tumbuh 5,32 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. Dengan kontribusi hampir seperlima terhadap perekonomian nasional, terbesar di antara semua sektor, manufaktur terus membaik sejak terkontraksi pada 2020 akibat pandemi covid-19. Kinerja ini sejalan dengan kenaikan investasi 169 persen pada 2020–2025, porsi ekspor 80 persen dari total ekspor nasional pada 2025, dan penyerapan 20,26 juta tenaga kerja pada 2025.

Menjaga Industri Tetap Produktif di Tengah Pandemi

Fondasi pemulihan dibangun saat pandemi menekan aktivitas ekonomi. Tiga kebijakan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK) berhasil menyelamatkan industri manufaktur sehingga pulih paling cepat dibandingkan negara-negara lain di ASEAN, yaitu IOMKI, PPnBM DTP, dan konsolidasi industri dalam negeri melalui penguatan kebijakan TKDN.

 Saat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) berlaku pada 2020, AGK menerbitkan Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) agar pabrik tetap beroperasi dengan protokol kesehatan ketat. Hingga pertengahan Juni 2020, 17.466 IOMKI telah diterbitkan dan, menurut Kemenperin, membantu melindungi sekitar 4,9 juta pekerja dari risiko PHK. Izin perusahaan yang melanggar protokol dicabut. “Indonesia adalah salah satu negara pertama yang membuat instrumen kebijakan untuk menjaga keberlangsungan industri manufaktur dari dampak pandemi,” ujar AGK. Menjaga pabrik tetap berjalan berarti menjaga penghidupan masyarakat banyak, menghidupkan rantai pasok, dan membuka jalan bagi pemulihan ekonomi.

Untuk memulihkan permintaan, Kemenperin bersama Kementerian Keuangan menghadirkan insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) bagi sektor otomotif. Sektor ini dipilih karena efek berganda (multiplier effects) dan keterkaitannya dengan industri baja, karet, kaca, plastik, hingga komponen elektronik, dengan sekitar 1,5 juta tenaga kerja di sepanjang rantai nilainya. Sebulan setelah insentif berlaku, penjualan mobil nasional naik 88 persen. Sepanjang Maret–November 2021, penjualan mencapai 487 ribu unit, tumbuh 71,02 persen secara tahunan.

Hasilnya, pada triwulan II 2021 industri manufaktur tumbuh 6,91 persen dan menjadi sumber pertumbuhan terbesar bagi ekonomi nasional yang tumbuh 7,07 persen. Capaian ini mengakhiri empat triwulan kontraksi beruntun dan membawa Indonesia keluar dari resesi. Kepala BPS saat itu, Margo Yuwono, mengaitkan lonjakan penjualan mobil dengan relaksasi PPnBM, seraya menyebut bahwa “alat angkutan tumbuhnya cukup tinggi.”

AGK juga mengonsolidasikan industri dalam negeri, khususnya alat kesehatan seperti ventilator, alat pelindung diri (APD), obat-obatan, oksigen, dan masker. Kebutuhan penanganan pandemi pun dapat dipenuhi secara mandiri sehingga utilisasi dan penyerapan tenaga kerja manufaktur kembali meningkat.

Penyerapan Tenaga Kerja

Tenaga kerja manufaktur terus bertambah, dari 17,44 juta orang pada 2020 menjadi 18,65 juta (2021), 19,11 juta (2022), 19,29 juta (2023), 19,96 juta (2024), dan 20,26 juta (2025). Tambahan sekitar 2,82 juta pekerja ini menunjukkan semakin besarnya peran industri manufaktur dalam menyediakan lapangan kerja. Pada Februari 2026, sektor ini menyerap 13,57 persen dari 147,67 juta penduduk bekerja. Survei PMI September 2026 juga mencatat penambahan tenaga kerja pabrik berlangsung dengan laju tercepat sejak Februari 2025.

“Peningkatan jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur disebabkan oleh utilisasi dan investasi yang terus meningkat,” ujar AGK, menegaskan manufaktur tetap menjadi penyerap utama tenaga kerja.

Investasi dan Posisi Manufaktur Indonesia

Menurut BPS, investasi manufaktur terus naik: Rp259 triliun (2020), Rp307 triliun (2021), Rp457 triliun (2022), Rp565 triliun (2023), dan Rp697 triliun (2024). Kemenperin mencatat realisasi investasi baru manufaktur pada 2024–2026 sebesar Rp1.002 triliun, didukung hampir 3.500 fasilitas produksi baru. Tren ini menunjukkan kebijakan selama 7 tahun kepemimpinan Agus Gumiwang di Kemenperin (2020–2026) efektif menarik investasi ke industri manufaktur.

Di tingkat global, menurut data Bank Dunia, nilai tambah manufaktur (MVA) Indonesia naik dari US$210,4 miliar pada 2020 menjadi US$265,07 miliar pada 2025. Indonesia menempati peringkat ke-13 dunia dan teratas di ASEAN, melampaui Thailand (US$128,04 miliar) dan Vietnam (US$116,38 miliar). Capaian ini membuktikan AGK berhasil meningkatkan nilai tambah ekonomi dari ekosistem rantai pasok manufaktur Indonesia hingga melampaui gabungan Thailand dan Vietnam.

Kontribusi terhadap Ekonomi Nasional

Pada 2025, industri manufaktur tumbuh 5,15 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional 5,11 persen—pertama kalinya dalam 13 tahun. Capaian ini menunjukkan pengaruh manufaktur yang meningkat signifikan dalam perekonomian nasional. “Bukan ekonomi yang menarik manufaktur, tapi manufaktur yang harus menarik ekonomi,” ujar AGK dalam paparan kinerja akhir tahun 2025.

PDB nominal manufaktur naik dari Rp2.761 triliun pada 2020 menjadi Rp2.947 triliun (2021), Rp3.228 triliun (2022), Rp3.499 triliun (2023), Rp3.799 triliun (2024), dan Rp4.117 triliun (2025), dengan kenaikan tahunan tertinggi Rp318 triliun pada 2025. Dalam lima tahun, manufaktur menambah lebih dari Rp1.350 triliun nilai ekonomi nominal, mempertegas skala dan perannya dalam perekonomian Indonesia.

Sumbangan manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada 2021–2025 konsisten di kisaran 18–20 persen, dengan puncak 20,94 persen pada 2025. Artinya, sekitar seperlima pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 bersumber dari industri manufaktur, menegaskan perannya sebagai salah satu motor utama ekonomi.

Manufaktur juga menjadi tulang punggung ekspor dengan porsi 80,27 persen dari total ekspor nasional pada 2025, dan rata-rata 76 persen pada 2020–2025. Tiga penyumbang terbesar adalah produk turunan CPO, besi dan baja, serta mesin dan perlengkapan elektrik. Ini mempertegas peran manufaktur dalam menopang perdagangan luar negeri dan menghasilkan devisa.

Mengukur Optimisme Pelaku Industri Berbasis Data

Sebelum hadirnya Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada November 2022, Purchasing Managers’ Index (PMI) S&P Global menjadi acuan utama memantau kepercayaan pelaku industri. Kemenperin menilai perlu instrumen yang lebih rinci per subsektor, sehingga atas prakarsa AGK, IKI dikembangkan untuk memantau 23 subsektor manufaktur. Industri yang beragam membutuhkan pembacaan yang terperinci agar setiap tekanan mendapat respons yang tepat.

IKI disusun dari laporan sekitar 3.000 perusahaan skala kecil, menengah, dan besar melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas). Metodologinya dirumuskan pakar statistik IPB dan divalidasi ekonom Universitas Indonesia. Dirilis setiap akhir bulan berjalan, lebih awal dari PMI, IKI membantu pemerintah membaca perubahan pesanan, produksi, dan persediaan tiap subsektor untuk mendeteksi tekanan sejak dini dan menyusun kebijakan tepat sasaran. Bersama PMI S&P Global dan Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia, IKI melengkapi gambaran kondisi industri nasional. Semakin dini tekanan terbaca, semakin cepat pemerintah dapat menyiapkan langkah penanganan.

Sejak November 2022, IKI konsisten berada di zona ekspansi (di atas 50) dan mencapai rekor 54,12 pada Januari 2026. Pada September 2026, IKI tetap ekspansif di level 51,93, dengan komponen pesanan naik menjadi 53,40 dan 15 dari 23 subsektor dalam fase ekspansi. Kepercayaan pelaku industri tetap terjaga, meski kondisi antarsubsektor belum sepenuhnya merata.

PMI manufaktur Indonesia juga naik dari 49,8 pada Agustus menjadi 52,4 pada September 2026, kembali ke zona ekspansi. Pesanan baru dan produksi domestik tumbuh tercepat sejak Februari, sementara pesanan ekspor naik dengan laju terkuat sejak Mei 2022. Direktur Ekonomi S&P Global Market Intelligence, Trevor Balchin, menyebut kinerja September “didukung oleh kenaikan ekspor” dan merupakan yang terkuat sejak Februari. Ketika kepercayaan terjaga dan pesanan meningkat, industri memiliki pijakan lebih kuat untuk melanjutkan pertumbuhan.

Fondasi untuk Babak Berikutnya

Pemulihan sejak 2020 membawa manufaktur kembali menjadi sumber pertumbuhan terbesar, melalui kebijakan menjaga operasional pabrik, memulihkan permintaan, dan memantau kondisi industri. Capaian ini memperlihatkan besarnya peran manufaktur dalam menghubungkan pertumbuhan ekonomi dengan kegiatan produksi dan penghidupan jutaan pekerja. Keberlanjutan investasi, permintaan, dan respons kebijakan akan menentukan kemampuan manufaktur mempertahankan perannya sebagai penggerak pertumbuhan sekaligus memperluas kesempatan kerja.

Menurut ekonom INDEF, Esther Sri Astuti, Indonesia terbilang berhasil menyelamatkan kinerja industri manufaktur. “Meski belum sepenuhnya pulih, tergambar dari PMI yang mayoritas bertahan di zona ekspansif pascapandemi,” ujarnya.

“Manufaktur memang merupakan tulang punggung ekspor nasional,” ujar Ketua Umum APINDO Shinta Kamdani, menanggapi porsi ekspor manufaktur yang mencapai lebih dari 80 persen.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

PR Ambassador 2026/2027 Jadi Ajang Pengembangan Talenta Public Relations BINUS @Malang

Malang, Oktober 26 2026 – Kemampuan membangun kepercayaan, menyampaikan gagasan, dan menjaga reputasi menjadi bekal penting bagi calon professional Public Relations (PR). Untuk mengembangkan kompetensi tersebut, Program Studi Public Relations BINUS University @Malang bersama United Student of Public Relations (USPR) menyelenggarakan Final PR Ambassador 2026/2027 pada Sabtu, 24 Oktober 2026, di Ballroom Atria Hotel Malang, Kota Malang, Jawa Timur.

Kegiatan Final PR Ambassador 2026/2027 diikuti oleh enam finalis mahasiswa Program Studi Public Relations BINUS @Malang dan dihadiri oleh mahasiswa Program Studi Public Relations BINUS @Malang lainnya, perwakilan program studi, serta tamu undangan. Rangkaian acara meliputi presentasi video profil, sesi tanya jawab dan studi kasus, penilaian oleh dewan juri termasuk praktisi industri Public Relations, serta pemilihan PR Ambassador Favorite. Acara juga dilengkapi dengan sesi Table Manner untuk mengenalkan etika jamuan bisnis dan profesionalisme dan penampilan home band program studi. 

Sebagai Kampus Digital Technopreneur, BINUS @Malang terus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri. Melalui kegiatan ini, mahasiswa mendapatkan ruang untuk mengasah kemampuan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tantangan dunia profesional.

Head of Department Public Relations BINUS University, Nisrin Husna, S.I.Kom., M.I.Kom., menjelaskan bahwa kompetensi Public Relations mencakup kemampuan strategis yang dibutuhkan untuk menghadapi beragam situasi komunikasi. “Public Relations bukan sekadar kemampuan berbicara di depan publik, tetapi tentang bagaimana seseorang mampu membangun kepercayaan, mengelola reputasi, dan menghadirkan solusi komunikasi yang strategis. Melalui PR Ambassador, kami ingin memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kompetensi tersebut secara nyata, mulai dari kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kepemimpinan, hingga profesionalisme dalam berkomunikasi. Kami berharap para PR Ambassador terpilih tidak hanya menjadi wajah Program Studi Public Relations BINUS @Malang, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat profesi Public Relations dan peran pentingnya di berbagai industri.”

Melalui PR Ambassador 2026/2027, BINUS @Malang berharap mahasiswa dapat semakin percaya diri dalam mengembangkan kemampuan komunikasi dan menerapkan pengetahuan secara nyata. Inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen BINUS @Malang sebagai Kampus Digital Technopreneur dalam mempersiapkan generasi muda yang kompeten, adaptif, dan mampu memberikan dampak positif bagi industri maupun masyarakat.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

AI Bukan Pengganti Musisi: Kolaborasi Kreatif di Balik Karakter Virtual Indonesia

Narasi “AI Menggantikan Musisi” Terlalu Sederhana

Ketika karakter virtual mulai masuk industri musik Indonesia, kekhawatiran tentang AI yang menggantikan manusia langsung mencuat. Namun, praktik produksi di lapangan menunjukkan gambaran yang lebih nuansa. Proyek-proyek penyanyi virtual di Indonesia tidak sepenuhnya dikerjakan mesin. Penulisan lagu, penggarapan musik, dan pengambilan keputusan artistik tetap melibatkan manusia . AI lebih banyak berperan sebagai alat kolaborasi kreatif: membantu eksplorasi melodi, menghasilkan variasi vokal, atau mempercepat proses mixing dan mastering. Posisi ini penting untuk dipahami agar diskursus publik tidak terjebak pada dikotomi “manusia versus mesin.”

Motion Capture dan Vokal: Pekerjaan yang Tetap Manusiawi

Di balik avatar yang tampil di panggung, ada motion capture yang merekam gerak tubuh manusia, animator yang membangun ekspresi, serta produser yang menyusun aransemen. Bahkan ketika vokal dihasilkan melalui voice synthesizer, karakter suara dan emosi tetap dirancang oleh tim kreatif. Fenomena Hatsune Miku di Jepang telah lama menunjukkan bahwa karakter virtual dapat menggelar konser hologram dengan ribuan penonton, tetapi ekosistem di baliknya melibatkan komposer, ilustrator, dan komunitas penggemar yang sangat manusiawi . Di Indonesia, pola serupa mulai terbentuk: teknologi menjadi kanal, bukan sumber tunggal kreativitas.

Nirmala dan Batas Baru Interaksi Real-Time

Contoh menarik datang dari Nirmala, metahuman AI yang dikembangkan Ruang Waktu. Nirmala mampu berinteraksi secara real-time tanpa operator, merespons komentar publik di TikTok dan YouTube, serta berdialog menggunakan Large Language Model . Pada 2026, pengembangnya berencana memperluas akses publik dan mengembangkan IP Nirmala lebih jauh . Kehadiran Nirmala menunjukkan bahwa AI tidak hanya digunakan untuk produksi musik, tetapi juga untuk membangun persona yang dapat berinteraksi dengan audiens secara otonom. Namun, tetap ada tim manusia di balik persona memory, latency optimizer, dan AI routing pipeline yang menjaga konsistensi karakter .

Tantangan Orisinalitas dan Hak Cipta

Meski kolaborasi manusia-AI membuka peluang, isu orisinalitas dan hak cipta tetap menjadi pekerjaan rumah. Sejumlah musisi global mengkhawatirkan potensi AI meniru suara penyanyi asli tanpa izin, sementara di Indonesia diskusi tentang batas penggunaan AI dalam karya seni belum menemukan titik terang . Regulasi dan etika perlu dibangun bukan untuk menghambat teknologi, melainkan untuk memastikan bahwa nilai karya manusia tetap diakui. Dalam konteks virtual idol, tantangan ini menjadi lebih kompleks karena identitas, suara, dan visual karakter merupakan hasil kolaborasi banyak pihak.

Membaca Arah Industri Musik Indonesia

Kehadiran karakter virtual di industri musik Indonesia adalah pintu masuk menuju ekosistem hiburan digital yang lebih modern dan kompetitif . Namun, masa depannya bergantung pada kemampuan pelaku industri menempatkan AI sebagai alat, bukan tujuan. Ketika manusia tetap memegang kendali artistik, virtual idol dapat menjadi medium baru untuk berekspresi tanpa menghapus peran musisi, penulis lagu, dan produser. Referensi tentang era baru musik berbasis AI di Indonesia dapat dibaca di artikel TV One.