Bittime Sambut Aturan OJK Terbaru: Dorong Penguatan Tata Kelola Industri Aset Digital

Bittime menyambut berlakunya PADK OJK No. 3 Tahun 2026 sebagai langkah penguatan tata kelola industri aset digital. Regulasi ini mengatur mekanisme pelaporan bagi penyelenggara, yang dinilai dapat mendorong industri yang lebih transparan, akuntabel, dan bertanggung jawab.

Bittime, sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menyambut baik berlakunya Peraturan Anggota Dewan Komisioner OJK (PADK OJK) Nomor 3 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Perdagangan Aset Keuangan Digital termasuk Aset Kripto sejak 1 September 2026. 

Bittime menilai penguatan mekanisme pelaporan dapat mendukung terciptanya industri aset digital yang semakin transparan, akuntabel, dan memiliki tata kelola yang baik.

Melansir situs OJK, PADK No. 3 Tahun 2026 menetapkan pedoman terkait mekanisme dan format pelaporan bagi penyelenggara perdagangan aset keuangan digital dan aset kripto. Ketentuan tersebut mencakup sejumlah bentuk pelaporan, antara lain laporan bulanan, penilaian mandiri manajemen risiko, laporan kegiatan tahunan, dan laporan insidental.

Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, mengatakan penguatan regulasi dan mekanisme pelaporan menjadi langkah positif dalam membangun industri aset digital yang semakin terstruktur.

“Sebagai PAKD yang terdaftar dan diawasi OJK, kami menyambut baik penguatan regulasi dan mekanisme pelaporan ini. Kami melihatnya sebagai langkah positif untuk membangun industri aset digital yang semakin transparan dan memiliki tata kelola yang baik. Kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku juga menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan konsumen dan memastikan perkembangan industri berjalan secara bertanggung jawab,” ujar Ryan.

Perkembangan Aset Digital di Pasar Global

Perkembangan industri aset digital juga terus berlangsung di tingkat global, seiring semakin beragamnya instrumen yang tersedia bagi pelaku pasar. Salah satunya adalah perdagangan derivatives, yang menjadi bagian signifikan dari aktivitas perdagangan aset kripto.

Berdasarkan laporan CoinMarketCap Research, 11 bursa yang dipantau mencatat total volume perdagangan spot dan derivatives sebesar US$4,74 triliun pada Juni 2026. Dari jumlah tersebut, derivatives mencapai sekitar US$4,00 triliun atau 84,5% dari total volume perdagangan.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu konteks bagi Bittime dalam mengembangkan Bittime Futures, yang melengkapi ekosistem Spot dan Staking. 

Pentingnya Memahami Risiko Futures

Di tengah perkembangan perdagangan derivatives, futures memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan perdagangan spot sehingga pemahaman terhadap mekanisme dan risikonya menjadi penting.

“Futures memiliki karakteristik dan risiko yang berbeda dibandingkan perdagangan spot sehingga pemahaman terhadap mekanisme, manajemen risiko, dan kondisi pasar menjadi hal yang penting. Karena itu, inovasi produk perlu berjalan seiring dengan edukasi dan perlindungan konsumen,” jelas Ryan.

Penggunaan leverage dapat meningkatkan eksposur terhadap pergerakan harga. Perubahan harga yang berlawanan dengan posisi juga dapat memperbesar potensi kerugian dan dalam kondisi tertentu menyebabkan likuidasi. Karena itu, futures tidak sesuai untuk semua investor dan calon pengguna perlu memahami karakteristik serta risiko produk sebelum melakukan transaksi.

Sebagai bagian dari pengembangan ekosistem aset digital, Bittime menyediakan sejumlah produk 3 in 1 di dalam satu aplikasi yaitu Spot, Staking, dan Futures. Pengembangan produk tersebut dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek edukasi, perlindungan konsumen, manajemen risiko, serta ketentuan yang berlaku.

“Bittime akan terus berkomitmen memenuhi ketentuan OJK, memperkuat perlindungan konsumen, dan menghadirkan inovasi secara bertanggung jawab. Kami melihat Bittime Futures sebagai bagian dari inovasi produk yang perlu dikembangkan dengan tetap memperhatikan aspek kepatuhan, edukasi, dan manajemen risiko,” tutup Ryan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Sejumlah Komoditas Tumbuh Positif, Pelindo Multi Terminal Branch Lembar Catat kenaikan Produksi Semester I 2026

Lombok Barat, September 2026 — PT Pelindo Multi Terminal Branch Lembar mencatat pertumbuhan positif pada sejumlah komoditas arus nonpetikemas dan kendaraan/RoRo Semester I 2026 atau periode Januari hingga Juni 2026. Pertumbuhan tersebut terlihat pada arus curah cair, bag cargo, curah kering, serta kendaraan/RO-RO dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tertinggi tercatat pada arus curah cair yang meningkat 82,8 persen, dari 6.393 Ton pada Semester I 2025 menjadi 11.687 Ton pada Semester I 2026. Peningkatan juga terjadi pada arus bag cargo sebesar 28,1 persen, dari 69.906 Ton menjadi 89.550 Ton pada periode yang sama.

Selain itu, arus curah kering turut mengalami pertumbuhan sebesar 7,7 persen, dari 315.478 Ton pada Semester I 2025 menjadi 339.628 Ton pada Semester I 2026. Sementara itu, arus kendaraan/RO-RO mencatat pertumbuhan sebesar 4,3 persen, dari 134.446 unit menjadi 140.235 unit.

Branch Manager Pelindo Multi Terminal Lembar, Kunto Wibisono, mengatakan pertumbuhan pada sejumlah komoditas tersebut menunjukkan bahwa aktivitas arus barang melalui Pelabuhan Lembar tetap bergerak positif sepanjang Semester I 2026. Peningkatan produksi pada beberapa jenis komoditas juga menjadi bagian dari dinamika kegiatan logistik yang berlangsung di pelabuhan.

“Pertumbuhan pada sejumlah komoditas ini menjadi bagian dari dinamika aktivitas logistik yang berlangsung di Pelabuhan Lembar. Kami terus menjaga keandalan operasional dan kualitas pelayanan agar arus barang dapat berjalan dengan aman, lancar, dan efektif,” terang Kunto Wibisono.

Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, Pelindo Multi Terminal Branch Lembar akan terus melakukan evaluasi terhadap perkembangan arus barang serta memastikan kesiapan fasilitas dan operasional kepelabuhanan. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga kelancaran pelayanan dan memberikan pengalaman layanan yang optimal bagi pengguna jasa.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Makan Bergizi Gratis dan Masa Depan Gizi Anak Indonesia: Antara Target Ambisius dan Realita Lapangan

Target Ambisius 82,9 Juta Penerima Manfaat

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu inisiatif paling ambisius dalam sejarah kebijakan gizi Indonesia. Pada 2026, program ini ditargetkan menjangkau hingga 82,9 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Penerima manfaat mencakup ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta peserta didik dari tingkat dasar hingga menengah.

Namun, angka besar bukan jaminan dampak besar. Pertanyaan fundamentalnya: apakah program ini mampu mengubah pola makan anak secara berkelanjutan, atau hanya menjadi distribusi makanan rutin tanpa efek jangka panjang?

Mindset yang Mulai Berubah

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sony Sanjaya, dalam talkshow “Gizi Anak untuk Masa Depan” di CNN Indonesia Wellnest Festival 2026, menyoroti perubahan cara pandang yang mulai terjadi. “Dulu kita makan, ya, makan saja. Karbohidrat ditumpuk dengan karbohidrat. Sekarang mindset-nya sudah berubah, makan itu harus ada karbohidrat, protein, serat, dan vitamin,” ujarnya.

Perubahan ini penting karena pola makan berperan besar dalam menentukan kualitas generasi mendatang. Pemerintah kini memberi perhatian serius pada pemenuhan gizi kelompok rentan, dengan fokus utama mengatasi stunting.

Pendekatan Berbasis Pangan Lokal

Salah satu keunggulan program MBG adalah pendekatannya yang tidak menerapkan menu nasional seragam. Setiap daerah diberi keleluasaan menyesuaikan menu dengan bahan pangan lokal dan kebiasaan makan setempat. Pendekatan ini dinilai lebih realistis dan mudah diterima anak-anak.

BGN juga menerapkan sistem evaluasi dari sisa makanan di sekolah. Menu yang kurang diminati akan dicatat dan menjadi bahan perbaikan untuk penyusunan menu berikutnya, tanpa memaksakan makanan tertentu kepada anak. Sisa makanan dari dapur penyedia gizi pun dimanfaatkan kembali, mulai dari pakan ternak hingga pupuk organik.

Stunting dan Anemia: Dua Musuh Besar

Kementerian Kesehatan menargetkan prevalensi stunting nasional turun menjadi 17,5 persen pada 2026. Strategi utamanya adalah pemenuhan gizi anak, terutama konsumsi protein hewani seperti telur, ikan, ayam, daging, dan susu.

Namun, tantangan tetap besar. Pakar dari Universitas Indonesia mengungkap fenomena yang terjadi di Indonesia: banyak anak cukup makan, namun kurang gizi. Mereka mengonsumsi makanan yang dominan karbohidrat seperti nasi, mi, atau makanan murah tinggi kalori. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab munculnya berbagai masalah gizi, mulai dari stunting, anemia, hingga obesitas pada anak.

Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), Doddy Izwardy, menegaskan bahwa pola makan anak usia sekolah memengaruhi risiko stunting antargenerasi. Ia menambahkan bahwa pola makan anak yang tidak teredukasi dapat memperbesar risiko stunting akibat faktor ekonomi dan lingkungan.

Gizi Ibu Hamil sebagai Fondasi

Program MBG juga menyasar ibu hamil dan balita pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Kementerian Kesehatan menggandeng Jerman untuk mengamankan pasokan suplemen Multiple Micronutrient Supplement (MMS)—suplemen khusus ibu hamil berstandar global yang mengandung 15 jenis vitamin dan mineral esensial. Suplemen ini dinilai lebih efektif dibandingkan tablet tambah darah biasa dalam mencegah stunting.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menegaskan bahwa sekitar 75 persen otak manusia terbentuk di dalam kandungan. “Ketika gizi tidak terpenuhi, maka perkembangan otak anak bisa terhambat,” ujarnya.

Efisiensi Tanpa Mengurangi Manfaat

Di tengah tekanan anggaran, BGN mendukung kebijakan efisiensi dengan mengubah pola distribusi MBG dari enam hari menjadi lima hari dalam sepekan, tanpa mengurangi nilai manfaat yang diterima. Biaya per porsi tetap Rp10 ribu di Pulau Jawa dan sekitarnya.

Program MBG juga difokuskan pada daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), serta kelompok prioritas seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan anak di bawah lima tahun.

MediaMIND Buka Ruang Angkat Cerita Pertambangan dari Daerah

PANGKALPINANG — MediaMIND 2026 membuka ruang bagi jurnalis Bangka Belitung untuk membawa pengalaman dan realitas pertambangan timah ke audiens yang lebih luas.
Kompetisi karya jurnalistik yang digagas Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID ini menjadi ajang bagi wartawan daerah untuk menghadirkan perspektif yang lebih utuh, berangkat dari kedekatan mereka dengan aktivitas pertambangan dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
“Ini pertama kali saya mengikuti MediaMIND. Menurut saya kegiatan seperti ini penting karena teman-teman wartawan di Bangka Belitung memiliki banyak pengalaman dan cerita mengenai pertambangan timah yang bisa dibawa tidak hanya ke tingkat nasional, tetapi juga lebih luas lagi,” ujar jurnalis Jurnal Indonesia, Alza Munzi, usai sosialisasi MediaMIND 2026 di PT Timah Tbk, Rabu (9/9/2026).
Ia menambahkan, peliputan sektor pertambangan memiliki tantangan tersendiri, mulai dari akses narasumber hingga dinamika lapangan. Namun dari pengalaman tersebut, lahir berbagai cerita yang mampu menghadirkan sudut pandang yang lebih dekat dan humanis.
Alza berencana mengangkat isu kelompok rentan seperti perempuan dan anak yang terdampak aktivitas pertambangan. Menurutnya, isu tersebut masih jarang diangkat, padahal memiliki keterkaitan dengan perubahan sosial dan program pemberdayaan yang berjalan di masyarakat.
Division Head CSR PT Timah Tbk Rahmat Taufik mengatakan MediaMIND menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi antara perusahaan, media, dan akademisi, sehingga pemahaman publik terhadap industri pertambangan dapat terbentuk secara lebih utuh.
“Harapannya melalui MediaMIND muncul perspektif-perspektif baru mengenai PT Timah. Perusahaan bukan hanya melakukan kegiatan penambangan, tetapi juga berupaya memberikan manfaat kepada masyarakat, baik melalui pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan maupun program-program keberlanjutan,” kata Rahmat.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Mulai 1 Oktober 2026, Balasan WhatsApp Bisnis Jadi Berbayar

Barantum adalah solusi aplikasi all in one CRM terbaik untuk bisnis yang menyediakan WhatsApp CRM, broadcast, chatbot, AI Agent, omnichannel, dan call center dalam satu platform terintegrasi. Kelola dan optimalkan seluruh perjalanan customer, mulai dari customer masuk, closing, dan repeat order.

Mulai 1 Oktober 2026, cara bisnis membalas pelanggan melalui WhatsApp Business API akan berubah. Balasan kategori service atau non-template di dalam customer service window tidak lagi gratis tanpa batas. Pesan yang dikirim agent manusia, chatbot, maupun AI tetap dihitung sebagai pesan keluar bisnis.

Perubahan ini penting karena biaya komunikasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah pelanggan yang menghubungi, tetapi juga oleh panjang alur dan banyaknya respons. Bisnis yang masih menanyakan data satu per satu atau mengulang jawaban dasar akan merasakan dampaknya lebih besar.

Apa yang Berubah pada Biaya Balasan WhatsApp

Pesan yang dikirim pelanggan ke bisnis tetap tidak berbayar. Biaya muncul ketika bisnis mengirim balasan service atau non-template. Karena itu, pembeda utamanya bukan siapa yang mengetik, melainkan apakah ada pesan keluar dari sisi bisnis. Balasan otomatis tetap perlu dihitung bersama balasan agent.

Perubahan tersebut perlu diterjemahkan menjadi aturan operasional. Tim harus mengetahui kapan percakapan dimulai, jenis pesan yang dikirim, dan bagian mana dari alur yang menghasilkan respons berulang tanpa membantu pelanggan maju menuju penyelesaian.

Perubahan juga perlu dibahas lintas fungsi. Marketing memahami sumber percakapan, customer service mengetahui pertanyaan yang paling sering berulang, sales melihat kualitas lead, dan finance membutuhkan proyeksi biaya. Tanpa koordinasi, satu tim dapat mengurangi pesan sementara tim lain menambah follow-up yang tidak terukur.

Tujuannya bukan mengurangi akses layanan. Satu respons yang langsung menjawab kebutuhan lebih efisien daripada beberapa pesan pendek yang memecah informasi dan membuat pelanggan menunggu lebih lama.

Keringanan yang Masih Bisa Dimanfaatkan

Meta tetap menyediakan kuota 1.000 pesan service gratis setiap bulan untuk setiap akun bisnis. Kuota ini dapat menahan sebagian biaya, terutama bagi bisnis dengan volume rendah. Namun, perusahaan dengan ribuan percakapan tetap perlu mengendalikan jumlah respons setelah kuota habis.

Keringanan lain berlaku pada percakapan yang berasal dari iklan Click-to-WhatsApp. Ketika pelanggan memulai chat dari iklan dan bisnis memberikan respons dalam 24 jam, window gratis 72 jam dapat terbuka sejak balasan pertama bisnis terkirim. Periode tersebut dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan, melakukan kualifikasi, dan menyiapkan tindak lanjut.

Kuota dan window gratis tetap bukan pengganti desain alur. Jika agent masih meminta informasi secara bertahap atau pelanggan harus mengulang konteks, volume pesan akan kembali meningkat setelah masa gratis berakhir.

Siapkan Alur Layanan Sebelum Aturan Berlaku

Sebelum menambah anggaran, bisnis perlu memetakan pertanyaan berulang, jenis kasus yang membutuhkan manusia, serta kanal yang paling sesuai untuk setiap kebutuhan. Langkah ini membentuk kebutuhan terhadap sistem yang menjaga konteks ketika pelanggan berpindah dari satu jalur layanan ke jalur lain.

Untuk kebutuhan tersebut, bisnis dapat menggunakan WhatsApp Business API Barantum agar percakapan pelanggan dikelola dalam alur yang lebih terukur. Penggunaannya tetap perlu disertai pemetaan jenis pertanyaan, aturan eskalasi, dan pilihan kanal agar setiap respons memiliki fungsi yang jelas.

FAQ atau portal self-service dapat digunakan untuk jawaban yang stabil, Form untuk mengumpulkan data sekaligus, AI untuk pertanyaan umum, dan panggilan untuk kasus yang memerlukan banyak klarifikasi. Ketika pelanggan perlu berpindah kanal, Omnichannel Barantum dapat menyatukan chat dari WhatsApp, Live Chat, media sosial, dan kanal lain dalam satu inbox sehingga konteks tidak terputus.

Tetapkan pula metrik awal seperti rata-rata balasan per percakapan, persentase kasus yang selesai pada kontak pertama, jumlah eskalasi, dan percakapan yang dibuka ulang. Data tersebut dapat ditinjau melalui CRM Barantum agar histori, lead, pipeline, dan tindak lanjut tetap berada dalam satu alur, sekaligus membantu tim menilai apakah efisiensi berasal dari alur yang lebih baik atau sekadar penurunan aktivitas pelanggan.

Penutupnya, persiapan terbaik bukan sekadar mengirim pesan sesedikit mungkin. Tetapkan baseline jumlah percakapan, rata-rata balasan, dan waktu penyelesaian, lalu tinjau hasil setelah satu siklus tagihan. Detail kebijakan tetap perlu dicek melalui dokumentasi resmi Meta sebelum SOP dan proyeksi biaya ditetapkan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Mengapa September Menjadi Waktu yang Tepat untuk Menikmati Canggu

Canggu, Bali – September 2026 – September menawarkan waktu yang menarik untuk menikmati Canggu, Bali, dengan suasana yang tetap hidup namun lebih santai setelah periode liburan puncak di bulan Agustus.

Canggu tetap menjadi salah satu kawasan pesisir yang populer dengan pantai, kafe, restoran, beach club, wellness, dan budaya selancarnya. Namun, setelah Agustus, ritme perjalanan mulai melandai. Bali mencatat 682.866 kunjungan wisatawan mancanegara pada Agustus 2025, sebelum turun menjadi 635.149 pada September, atau 6,99% lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

Penurunan ini tidak berarti Bali menjadi sepi. Sebaliknya, September memberikan keseimbangan antara energi kawasan yang tetap aktif dan suasana yang lebih nyaman, terutama bagi wisatawan yang ingin tinggal lebih lama.

Canggu untuk Tinggal, Bekerja, dan Menikmati Bali

Dalam beberapa tahun terakhir, Canggu telah berkembang menjadi lebih dari sekadar destinasi untuk liburan singkat. Kehadiran kafe, coworking space, restoran, tempat wellness, serta berbagai aktivitas di sekitar pantai menjadikannya pilihan bagi digital nomad, pekerja remote, dan wisatawan yang ingin tinggal selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.

September menjadi waktu yang sesuai untuk menikmati gaya perjalanan tersebut. Wisatawan dapat menjalani rutinitas yang lebih santai, mulai dari bekerja sambil menikmati kopi, menghabiskan waktu di pantai, hingga menjelajahi restoran dan kawasan sekitar tanpa harus mengikuti itinerary yang padat.

Bagi wisatawan yang ingin menjadikan Canggu sebagai bagian dari keseharian, Swarga Suites Bali Berawa menawarkan pilihan long-stay yang memberikan kenyamanan dan kemudahan selama masa tinggal.

[Klik di sini untuk melihat penawaran long-stay Swarga Suites Bali Berawa.]

Dengan suasana yang tetap sosial dan dinamis, namun tidak sepadat periode puncak bulan Agustus, September memberikan kesempatan untuk menikmati Canggu dengan ritme yang lebih nyaman.

Bagi wisatawan yang mempertimbangkan Bali pada September 2026, bulan ini dapat menjadi waktu yang tepat untuk tidak hanya mengunjungi Canggu, tetapi juga tinggal lebih lama, bekerja, terhubung dengan lingkungan sekitar, dan menikmati gaya hidup pesisir Bali dengan lebih santai.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Kesehatan Prostat Pria Sering Terabaikan, Padahal Bisa Berawal dari Keluhan Sepele

Bagi banyak pria, membicarakan kesehatan prostat mungkin bukan hal yang menjadi prioritas. Padahal, prostat merupakan bagian penting dari sistem reproduksi pria dan berbagai gangguan pada organ ini dapat muncul seiring bertambahnya usia. Salah satu yang paling umum adalah pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic Hyperplasia (BPH). Kondisi ini bukan kanker, tetapi ketika prostat membesar, aliran urine dapat terganggu dan menimbulkan berbagai keluhan.

Menariknya, gangguan prostat kerap berawal dari hal yang dianggap sepele. Lebih sering buang air kecil, terutama di malam hari, sulit memulai buang air kecil, pancaran urine melemah, urine menetes di akhir, atau merasa belum tuntas setelah buang air kecil adalah beberapa keluhan yang perlu diperhatikan. Berdasarkan data GLOBOCAN 2022, kanker prostat mencatat sekitar 13.130 kasus baru di Indonesia dan menjadi salah satu kanker dengan kasus terbanyak pada pria. Sementara itu, data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa dalam salah satu kajian terhadap pasien di tiga rumah sakit pusat pendidikan, 59,3% kasus kanker prostat terdeteksi/ ditemukan saat sudah memasuki stadium lanjut. Gejala tersebut memang tidak selalu berarti seseorang mengalami penyakit prostat, tetapi perubahan pola buang air kecil yang menetap sebaiknya tidak diabaikan dan perlu dikonsultasikan kepada tenaga medis.

Selain pembesaran prostat jinak, pria juga perlu mewaspadai kanker prostat. Salah satu tantangan terbesar adalah kanker prostat pada tahap awal dapat tidak menimbulkan gejala yang jelas. Karena itu, menunggu sampai muncul keluhan bukanlah cara yang bisa diandalkan untuk mengetahui kondisi prostat. Risiko juga meningkat seiring bertambahnya usia dan riwayat keluarga, sehingga pria dengan faktor risiko tertentu perlu lebih proaktif mendiskusikan pemeriksaan dengan dokter. Pemeriksaan Prostate-Specific Antigen (PSA) dapat menjadi salah satu bagian dari evaluasi, meskipun hasil PSA tidak dapat digunakan sendirian untuk memastikan adanya kanker prostat.

Momentum World Prostate Awareness menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan prostat sebaiknya dimulai sebelum muncul masalah yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Mengenali perubahan pada tubuh, menerapkan gaya hidup sehat, serta melakukan pemeriksaan secara berkala sesuai faktor risiko masing-masing dapat menjadi langkah untuk lebih memahami kondisi kesehatan diri sendiri. Terlebih bagi pria yang sudah memasuki usia dengan risiko lebih tinggi atau memiliki riwayat keluarga, skrining dan konsultasi kesehatan dapat membantu menentukan pemeriksaan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

Untuk mendukung langkah tersebut, Prodia menghadirkan promo spesial World Prostate Awareness selama September 2026. Manfaatkan hemat 20%* untuk pemeriksaan terkait prostat di Prodia Lab dan Klinik. Jangan menunggu keluhan menjadi semakin mengganggu untuk mulai peduli. Kunjungi Prodia terdekat atau lakukan reservasi dengan mudah melalui WhatsApp Kontak Prodia 0855 1500 830 maupun aplikasi U by Prodia. Yuk, lebih aware terhadap kesehatan prostat dan jadwalkan pemeriksaan sekarang. #TenangKarenaTau

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Transformasi Organisasi, Bank Mandiri Taspen Perkuat Kepemimpinan Regional melalui Implementasi RCEO

JAKARTA, 9 September 2026 — PT Bank Mandiri Taspen terus memperkuat komitmennya dalam transformasi organisasi, untuk mendorong pertumbuhan bisnis yang adaptif dan berkelanjutan. Langkah tersebut ditandai dengan dibukanya 10 Kantor Wilayah di bawah kepemimpinan Regional Chief Executive Officer (RCEO).

Seluruh Kantor Wilayah ini diresmikan dalam acara Go-Live Regional Chief Executive Officer (RCEO) bertema ‘Empowering Region, Accelerating Growth’, yang diselenggarakan di Kantor Cabang Pembantu (KCP) Jakarta Rawamangun, Jakarta Timur, dan diikuti oleh seluruh pegawai Bank Mandiri Taspen secara hybrid, pada Rabu, 9 September 2026.

Direktur Utama PT Bank Mandiri Taspen, Panji Irawan, mengatakan, implementasi RCEO ini adalah salah satu upaya Bank Mandiri Taspen membangun organisasi yang lebih responsif terhadap kebutuhan bisnis dan perkembangan di masing-masing wilayah.

“Melalui RCEO ini, kita memperkuat kepemimpinan regional dan mendelegasikan kewenangan secara terukur, agar keputusan lebih cepat, kolaborasi lebih kuat, dan pertumbuhan lebih merata di seluruh Indonesia. Semua ini membawa kita menuju aspirasi besar ‘The Undisputed Leader’ in Indonesia’s Senior Citizen Financial Ecosystem,” ucap Panji dalam sambutannya.

Panji juga menegaskan bahwa implementasi RCEO ini bukan memperpanjang birokrasi dalam perusahaan, namun penguatan kepemimpinan yang berkedudukan di wilayah, agar arah koordinasi dan akuntabilitas menjadi lebih dekat. Transformasi ini, sambung Panji, diharapkan dapat berjalan sempurna hingga masing-masing regional, bergerak dalam satu arah strategis perusahaan.

“Ini juga bukan sekedar perubahan nama jabatan dari distribution office, dari distribution head menjadi kantor regional. RCEO menjadi pemimpin bisnis wilayah yang bertanggung jawab atas profit dan loss, kualitas,

portfolio, layanan, pengembangan ekosistem, dan sumber daya manusia,” tegasnya.

Dalam Go-Live RCEO ini, ditayangkan juga perjalanan transformasi perusahaan melalui pemutaran Video Highlight Company Transformation. Momen ini sekaligus menegaskan bahwa transformasi yang dijalankan Bank Mandiri Taspen mencakup penguatan organisasi dan cara kerja perusahaan secara menyeluruh, dengan regional sebagai ujung tombak percepatan pencapaian sasaran bisnis.

“Kami ingin transformasi ini pada akhirnya memberikan dampak nyata, baik bagi organisasi, insan Bank Mandiri Taspen, maupun nasabah. Karena itu, implementasi RCEO harus diterjemahkan menjadi tindakan dan kinerja yang nyata di setiap regional,” tutup Panji.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

ProviderSMM Rilis Request Layanan, Reseller Bisa Ajukan Kebutuhan dari Database Lebih dari 1 Juta Layanan SMM

ProviderSMM menghadirkan fitur baru bernama Request Layanan untuk reseller yang belum menemukan layanan Social Media Marketing (SMM) yang mereka butuhkan di katalog. Permintaan tersebut nantinya masuk ke proses pengecekan dan pengujian sebelum diputuskan bisa tersedia untuk pengguna atau tidak.

Fitur ini lahir dari database layanan yang selama ini dikumpulkan ProviderSMM dari berbagai panel dan provider di sejumlah negara. Jumlahnya saat ini sudah mencapai lebih dari 1 juta entri layanan. Sebelum Request Layanan tersedia, katalog ProviderSMM sendiri berisi 531 layanan aktif yang telah melalui proses kurasi dan dapat langsung diorder.

Selama ini database tersebut lebih banyak digunakan tim internal untuk mencari kandidat layanan baru. Sekarang, reseller juga mendapat jalur untuk menyampaikan layanan yang sedang mereka cari, sehingga kebutuhan pasar bisa ikut menjadi bahan pertimbangan dalam proses penambahan katalog.

Reseller Kini Punya Jalur Request yang Lebih Jelas

Sebagai SMM panel Indonesia untuk reseller, ProviderSMM merancang Request Layanan untuk kebutuhan yang cukup sederhana: reseller menemukan jenis layanan yang dibutuhkan, tetapi layanan tersebut belum tersedia di katalog. Sebelumnya, permintaan seperti ini umumnya disampaikan melalui customer service. Masalahnya, reseller tidak memiliki alur khusus untuk mengetahui sejauh mana permintaan tersebut diproses.

Sistem baru membuat prosesnya lebih tertata. Reseller terlebih dahulu mencari layanan berdasarkan database yang sudah dihimpun ProviderSMM. Jika layanan yang dibutuhkan belum tersedia di katalog, reseller akan diarahkan ke sistem pengajuan resmi ProviderSMM, tempat request tersebut diproses sekaligus kapasitas pengajuan ditentukan berdasarkan level akun.

Namun, request bukan berarti layanan akan langsung ditambahkan. Tim ProviderSMM tetap melakukan evaluasi dan pengujian sebelum layanan dinyatakan layak masuk katalog. Standarnya sama dengan kandidat layanan yang ditemukan oleh tim internal.

Lebih dari 1 Juta Entri Belum Tentu Layak Dijual

Besarnya database bukan berarti ProviderSMM memiliki lebih dari satu juta layanan siap order. Angka tersebut merupakan kumpulan entri layanan dari berbagai SMM panel dan provider di seluruh dunia yang digunakan sebagai sumber pencarian serta pemantauan.

Dari sana, tim menyaring kandidat berdasarkan berbagai pertimbangan, mulai dari kategori dan platform hingga karakter layanan yang sedang dibutuhkan pasar. Kandidat yang dianggap relevan kemudian dapat masuk ke tahap pengujian.

Sebelum fitur Request Layanan diperkenalkan, terdapat 531 layanan aktif yang sudah tersedia di katalog. Angka ini merupakan layanan yang telah melalui kurasi sebelumnya, bukan hasil dari fitur request yang baru dirilis.

Perbedaannya sekarang ada pada sumber kebutuhan. Jika sebelumnya kandidat baru terutama ditemukan lewat pemantauan tim ProviderSMM, reseller kini bisa ikut memberi masukan secara langsung tentang layanan apa yang sedang mereka cari.

114 Layanan Baru Sudah Lolos Quality Control

Proses penyaringan tetap menjadi bagian penting sebelum sebuah layanan diaktifkan. Dari database yang sudah dikumpulkan, 680 layanan telah masuk ke tahap pengujian internal. Sebanyak 114 layanan dinyatakan lolos quality control, tetapi belum diaktifkan ke katalog, sedangkan 217 layanan ditolak karena hasil pengujiannya tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan.

Kandidat lainnya masih berada dalam tahapan pengujian dan evaluasi. Artinya, status sebuah layanan tidak ditentukan hanya dari nama, harga, atau klaim yang tercantum pada sumber awalnya.

Tim quality control melihat beberapa aspek seperti kecepatan proses, kestabilan, tingkat penurunan atau drop rate, serta konsistensi hasil dalam periode tertentu. Layanan yang terlihat bagus pada percobaan pertama belum tentu memiliki performa yang sama ketika diuji kembali.

Itu pula yang menjelaskan kenapa jumlah layanan aktif jauh lebih sedikit dibandingkan database yang tersedia. Database digunakan untuk memperluas pilihan kandidat, sementara katalog berisi layanan yang sudah melewati tahapan seleksi.

Kuota Request Bisa Dipakai Kembali

Setiap akun memiliki batas request aktif yang berbeda sesuai level member yang terdaftar. Pada level awal, reseller dapat memiliki satu request aktif, sementara akun pada level tertinggi bisa mengajukan hingga 20 request secara bersamaan.

Batas tersebut bukan kuota sekali pakai. Saat sebuah request selesai dinilai, baik hasilnya diterima maupun ditolak, slot akan kembali tersedia dan bisa digunakan untuk pengajuan berikutnya.

Sistem seperti ini dipakai agar antrean pengujian tetap terkendali. Di sisi lain, reseller dengan aktivitas lebih tinggi tetap memiliki ruang untuk mengajukan beberapa layanan sekaligus tanpa harus menunggu satu permintaan selesai sebelum mengirim permintaan berikutnya.

Permintaan Pasar Berubah Lebih Cepat

Jenis layanan yang dicari reseller tidak selalu sama dari waktu ke waktu. Perubahan fitur di platform media sosial, munculnya format konten baru, sampai permintaan dari klien bisa membuat kebutuhan bergeser dalam waktu relatif singkat.

Di sisi lain, penambahan layanan tidak bisa dilakukan hanya karena sedang banyak dicari. ProviderSMM masih harus memastikan kandidat tersebut memenuhi standar yang sudah ditetapkan sebelum dibuka ke pengguna.

“Kebutuhan reseller terhadap jenis layanan baru berubah cukup cepat, sementara proses kurasi kami tetap harus menjaga standar kualitas,” kata Sukmawan, QC Specialist ProviderSMM, yang menangani pengembangan fitur Request Layanan.

“Fitur ini memberi jalur yang lebih terstruktur bagi reseller untuk menyampaikan kebutuhan tersebut, tanpa menghilangkan proses evaluasi yang selama ini kami jalankan. Kami tidak ingin request terasa seperti formulir yang dikirim lalu dilupakan, karena itu proses dan hasil pengajuannya dibuat agar bisa dipantau oleh reseller.”

Request yang masuk juga memberi gambaran tambahan kepada tim mengenai kategori layanan yang sedang banyak dicari. Meski begitu, tingginya permintaan tidak otomatis membuat suatu layanan lolos. Hasil pengujian tetap menjadi dasar keputusan.

Melengkapi Sistem Monitoring yang Sudah Ada

Request Layanan menjadi lanjutan dari sistem monitoring layanan yang sebelumnya sudah dikembangkan ProviderSMM. Bedanya, monitoring lebih banyak digunakan untuk melihat performa layanan yang sudah tersedia atau sedang diamati, sedangkan Request Layanan bekerja dari tahap sebelumnya.

Reseller bisa menyampaikan kebutuhan sebelum layanan tersebut tersedia di katalog. Dari sana, tim menentukan apakah kandidat layak masuk pengujian dan, jika hasilnya memenuhi standar, apakah akhirnya dapat diaktifkan.

Dengan pola ini, pengembangan katalog tidak hanya bergantung pada pencarian internal. Kebutuhan reseller ikut menjadi salah satu sumber informasi, sementara keputusan akhir tetap berada pada proses evaluasi dan quality control.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

ION Ajak Startup Bandung Melihat Celah Infrastruktur Digital sebagai Peluang Bisnis

Bandung (India News Desk) — Peluang bisnis baru tidak selalu datang dari menciptakan platform baru. Dalam ekosistem digital yang semakin terhubung, peluang juga bisa muncul dari hal-hal yang belum terhubung: antara bisnis dan pelanggan, layanan pembayaran dan merchant, logistik dan penjual, atau teknologi dan berbagai penyedia layanan.

Gagasan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam “Digital Public Infrastructure: Mini Seminar & Networking” yang digelar Indonesia Open Network (ION) di Garuda Spark Innovation Hub, BLOCK71 Bandung, Rabu (9/9/2026).

Mengusung tema “What’s Your Next Big Move? Discover New Business Opportunities Through the Power of Open Networks,” kegiatan tersebut memperkenalkan konsep Digital Public Infrastructure (DPI), interoperabilitas dan open network kepada startup serta pelaku ekosistem digital di Bandung.

Yang membuat kegiatan ini berbeda adalah peserta tidak hanya duduk mendengarkan presentasi. Mereka kemudian diajak melihat bisnis masing-masing, mengidentifikasi persoalan yang dihadapi, mencari celah dalam ekosistem dan memikirkan koneksi apa yang dibutuhkan untuk membuka peluang baru.

Format tersebut memang dirancang sebagai proses dua arah. Selain memperkenalkan ION kepada startup, kegiatan ini juga digunakan untuk menemukan use cases, kebutuhan dan missing connections yang belum tercermin dalam pemetaan ekosistem ION.

Ketika Sistem Digital Tidak Saling Terhubung

Bisnis saat ini semakin bergantung pada berbagai platform, sistem pembayaran, layanan logistik, data dan perangkat digital lainnya. Masalahnya, sistem-sistem tersebut tidak selalu dapat terhubung dengan mudah.

Fragmentasi ini dapat menciptakan hambatan bagi bisnis yang ingin berkembang, mulai dari kesulitan integrasi hingga keterbatasan dalam menjangkau pasar dan bekerja sama dengan partner baru. Karena itu, interoperabilitas menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai Digital Public Infrastructure.

ION memperkenalkan dirinya sebagai open digital commerce network yang menghubungkan buyers, sellers, logistics providers, developers dan penyedia layanan lainnya melalui partisipasi terbuka dan standar bersama. Pendekatan ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap platform tertentu sekaligus memperluas akses pasar.

Namun, bagi Dr. Uruqul Nadhif Dzakiy, Assistant Professor di Telkom University, membangun koneksi saja belum cukup.

Dalam sesi “Ecosystem Opportunity Mapping”, Uruqul mengajak peserta melihat ekosistem bisnis dari sisi hubungan antaraktor dan manfaat yang dapat mereka peroleh.

“Masalahnya adalah ketika masuk di platform itu tidak adanya mutual benefit. Nah di open network ini menganut prinsip yaitu ada mutual benefit.”

Menurut Uruqul, sebuah ekosistem memiliki berbagai peran, mulai dari buyer dan vendor hingga pihak yang mengoordinasikan hubungan di antara para aktor tersebut. Yang penting bukan sekadar membuat mereka terhubung, tetapi memastikan hubungan tersebut memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terlibat.

Bukan Sekedar “Connectivity”

Pembahasan Uruqul kemudian bergerak pada satu hal yang menurutnya menjadi pembeda antara konektivitas biasa dan ekosistem yang benar-benar berjalan: transaksi dan kepercayaan.

“Melalui di sini tidak hanya sekedar connectivity. Tapi di situ ada namanya transaksi. Kalau connectivity saja itu sudah bisa dengan teknologi. Tapi kalau sampai kemudian ada transaksi di dalamnya itu sudah ada trust.”

Menurutnya, teknologi dapat membuat berbagai pihak saling terhubung. Tetapi hubungan tersebut belum tentu menciptakan ekosistem yang hidup jika tidak ada kolaborasi nyata dan manfaat bagi setiap aktor.

Hal itu juga menjadi tantangan yang ia lihat dalam ekosistem startup Bandung. Kota tersebut memiliki banyak startup dan institusi pendukung inovasi, tetapi tantangannya adalah bagaimana kolaborasi dapat bergerak dari sekadar koneksi menuju kerja sama yang menghasilkan transaksi dan kepercayaan.

“Kolaborasinya itu dalam bentuknya yang real tidak hanya sekedar … tapi ada sampai kemudian transaksi karena dengan transaksi itu ada trust.”

Uruqul menilai sebuah ekosistem dapat disebut aktif ketika para aktornya memahami peran masing-masing dan mendapatkan manfaat dari keberadaannya di dalam ekosistem.

“Parameter aktif adalah entiti di dalam ekosistem itu saling mendapatkan benefit dan dia tahu peran masing-masingnya.”

Mulai dari Masalah, Bukan Teknologi

Dari konsep tersebut, peserta kemudian diarahkan untuk melihat bisnis mereka sendiri.

Materi ION menggunakan Ecosystem Opportunity Mapping untuk membantu peserta memetakan platform, partner, pelanggan, layanan dan sistem digital yang mereka gunakan, kemudian melihat koneksi mana yang sudah ada dan mana yang masih hilang.

Uruqul meminta peserta memulai dari persoalan yang benar-benar mereka hadapi dalam menjalankan bisnis.

“Bisa nanti mengidentifikasi apa sih jadi pain point yang dirasakan, khususnya yang running business, masalahnya di mana.”

Setelah menemukan pain point, peserta kemudian diminta mencari gap antara kondisi yang ada dan kondisi yang mereka butuhkan.

“Pertama apa sih pain point, apa sih yang jadi problem … kemudian setelah itu gap-nya apa … dari situlah kemudian kira-kira apa sih yang perlu diakomodasi oleh Open Network.”

Menurut Uruqul, masukan tersebut penting karena ION juga masih mengembangkan ekosistemnya. Apa yang dibutuhkan oleh pelaku bisnis dapat menjadi insight untuk menentukan koneksi dan fungsi apa yang perlu dikembangkan ke depan.

Melihat Peluang dari Berbagai Sektor

Pembahasan kemudian dilanjutkan oleh Haryo Kusuma Wibawa, Head of Operations ION, yang memimpin sesi Mini Group Discussion. Dalam sesi tersebut, Haryo membawa konsep open network ke contoh peluang bisnis yang lebih konkret.

Ia menunjukkan bahwa peluang dapat muncul di berbagai sisi ekosistem, termasuk finance, logistik, teknologi dan mobility.

Salah satu ilustrasi yang disampaikan Haryo adalah bagaimana bisnis dapat memanfaatkan koneksi dengan pemilik basis pengguna yang sudah memiliki ekosistem sendiri.

Dalam contoh yang ia berikan, perusahaan telekomunikasi dan bank dapat memiliki basis pengguna serta informasi transaksi yang, dengan persetujuan dan mekanisme yang tepat, dapat membuka kemungkinan koneksi dengan bisnis atau produk lain di dalam open network.

Bagi startup, kemungkinan seperti itu berarti akses terhadap partner dan pelanggan tidak harus selalu dibangun dari nol.

Haryo juga menyoroti kemungkinan model bisnis dengan biaya administrasi yang lebih rendah dibandingkan marketplace konvensional.

“Kalau teman-teman punya marketplace dengan ION itu bisa men-charge administrasi yang jauh lebih rendah daripada yang saat ini terjadi. Nah itu yang kita harapkan.”

Enam Kelompok Mencari Peluang

Setelah sesi pemaparan, peserta dibagi menjadi enam kelompok untuk mengerjakan pemetaan mereka masing-masing. Haryo memimpin proses pembentukan kelompok tersebut dan mengarahkan peserta masuk ke sesi diskusi.

Dalam kelompok, peserta diminta memilih bisnis atau kasus tertentu kemudian mengidentifikasi kebutuhan utama, persoalan yang muncul, aktor yang terlibat, koneksi yang sudah tersedia dan koneksi yang masih hilang.

Mereka kemudian mencari kemungkinan peluang yang dapat muncul jika koneksi tersebut tersedia melalui interoperabilitas atau open network. Tujuannya bukan menghasilkan solusi teknologi yang sudah final, melainkan menemukan kebutuhan, peluang dan kemungkinan use case.

Pendekatan ini membuat diskusi menjadi lebih dekat dengan persoalan yang dihadapi startup sehari-hari. Alih-alih bertanya, “Teknologi apa yang bisa kita bangun?”, peserta diajak mulai dari pertanyaan yang lebih sederhana: masalah apa yang sebenarnya ingin diselesaikan?

Dari sana, mereka dapat melihat siapa saja yang dibutuhkan, apa yang belum tersedia dan apakah koneksi baru dapat menciptakan nilai.

Peserta Menguji Model Bisnisnya

Salah satu peserta, Fajar dari Bandung, mengatakan bahwa framework yang digunakan dalam workshop membantunya melihat sebuah ide bisnis secara lebih terstruktur.

“Itu bisa membantu kami dalam membuat sebuah business model, apa yang jadi tantangan dan juga bisa melihat opportunities apa yang bisa kita lakukan.”

Kelompok Fajar mengembangkan ide layanan untuk tenaga kerja di Indonesia, dengan fokus pada pengembangan pekerja untuk berbagai jenis pekerjaan seperti pengemudi, pekerja rumah tangga dan koki.

Melalui framework yang diperkenalkan ION, kelompok tersebut melihat kembali model bisnis, target pasar dan peluang yang mungkin dikembangkan.

“Kita bisa membantu bagaimana bisa melihat business modelnya, target marketnya gimana, dan juga peluang apa yang bisa didapatkan dari business model yang dibuat tadi dengan dibantu framework yang diajarkan oleh ION.”

Bagi ION, contoh tersebut menunjukkan fungsi lain dari kegiatan di Bandung. Startup tidak hanya diperkenalkan dengan konsep open network, tetapi juga diajak memberikan gambaran mengenai persoalan dan kebutuhan yang mereka hadapi sendiri.

Membangun Open Network dari Kebutuhan Nyata

Kegiatan di Bandung merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem Bandung ION Lab, dengan menghubungkan startup, inkubator, bisnis, komunitas teknologi dan stakeholder inovasi lokal dengan kebutuhan pasar yang lebih luas.

Karena itu, hasil workshop tidak hanya berhenti pada enam kelompok yang selesai berdiskusi. ION juga menggunakan kegiatan tersebut untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas mengenai kebutuhan, kapabilitas dan kemungkinan partisipasi para pelaku ekosistem.

Setiap kelompok diharapkan menghasilkan setidaknya satu peluang bisnis, kebutuhan infrastruktur digital atau tantangan konektivitas, sekaligus memahami posisi bisnis mereka dalam ekosistem ION.

Bagi startup Bandung, pertanyaan yang diberikan ION menjadi cukup praktis: apa yang seharusnya bisa dilakukan oleh ekosistem mereka hari ini, tetapi belum bisa dilakukan?

Jawaban atas pertanyaan itu bisa saja menjadi peluang bisnis berikutnya.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES