Tujuh Perempuan Penjaga Hutan Bawa Cerita Kepemimpinan dan Penghidupan dari Hutan Indonesia ke Bangkok Climate Action Week 2026

Tujuh perempuan penjaga hutan dari Sumatera Selatan, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Barat memperkenalkan kerja mereka memimpin pengelolaan hutan, memantau kawasan, dan mengembangkan usaha dari hasil hutan dalam Jamuan Puan Rimba di JAVARA Culture Jakarta, Rabu (30/9/2026). Jamuan ini digelar The Asia Foundation (TAF) melalui program Women Forest Defenders (WFD), bersama JAVARA dan Perkumpulan Seniman Pangan Indonesia, dengan menu dari bahan pangan hutan ketiga provinsi. Mereka merupakan bagian dari 171 perempuan yang aktif menjaga hutan melalui WFD, dan 42 di antaranya kini duduk di posisi pengambil keputusan. Di empat provinsi, program ini mencatat 24.292 hektare hutan dikelola dengan perempuan ikut memimpin, 16 usaha perempuan berbasis hutan, dan 11 kelompok pemantau hutan dipimpin perempuan. Pendampingan dilakukan bersama mitra lokal Yayasan PIONIR Bulungan, PINUS, dan KONSEPSI. Pada 3–4 Oktober 2026, ketujuh perempuan ini membawa cerita dan cita rasa hutan Indonesia ke Bangkok Climate Action Week 2026 di Glass House Pavilion, Taman Lumpini, dan Restoran Bo.lan, Bangkok.

Jakarta, 30 September 2026 – Tujuh perempuan penjaga hutan dari Sumatera Selatan, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Barat memperkenalkan kerja mereka dalam memimpin pengelolaan hutan, memantau kawasan, dan mengembangkan usaha dari hasil hutan di Jamuan Puan Rimba, JAVARA Culture Jakarta, Rabu (30/9).  Ketujuhnya merupakan bagian dari 171 perempuan yang kini aktif menjaga hutan di 4 provinsi (sumatera barat, kalimantan utara, nusa tenggara barat dan sumatera selatan) dan level nasional melalui program Women Forest Defenders (WFD) dari The Asia Foundation (TAF). Sebanyak 42 di antaranya duduk di posisi pengambil keputusan. Pekan ini, mereka membawa cerita yang sama ke Bangkok Climate Action Week (BKKCAW) 2026.

Jamuan ini digelar TAF bersama Perkumpulan Seniman Pangan Indonesia sebagai pintu masuk untuk melihat model ekonomi regeneratif yang memberi ruang bagi perempuan untuk terlibat secara bermakna. Menu jamuan meja panjang siang ini disusun dari bahan pangan hutan ketiga provinsi dan dinarasikan oleh Founder JAVARA dan Sekolah Seniman Pangan, Helianti Hilman. Hutan di sekitar Long Sam, Kalimantan Utara, misalnya, menyimpan buah payang yang diolah menjadi sambal, daun bekai sebagai penyedap alami, dan beras subut. 

Noviana Liling dari Desa Long Sam, Kabupaten Bulungan, mulai terlibat dalam pengelolaan hasil hutan sejak desanya mendapat izin mengelola hutan desa selama 35 tahun pada 2017, didampingi Yayasan PIONIR Bulungan dan TAF. Pada April 2025, ia ikut mendirikan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) perempuan pertama di Kalimantan Utara, dengan modal awal lima butir kelapa dari setiap anggota. Kini KUPS Femung Himet yang dipimpinnya memproduksi minyak kelapa murni, tenun, dan topi anyaman, dan sebagian produknya sudah bersertifikat halal. Lewat pelatihan, para anggotanya juga belajar mengolah buah kuini yang dulu dibiarkan jatuh dan membusuk menjadi selai.

“Dari tidak tahu menjadi tahu. Dengan adanya pelatihan ini, kami bisa menambah pengetahuan untuk membuat selai,” ujar Ketua KUPS Femung Himet, Noviana Liling.

Masih di Kabupaten Bulungan, Raberti dari Desa Antutan menganyam rotan, bambu, dan pandan menjadi tas untuk membantu biaya sekolah anak. Kini anyaman kelompoknya dijual sampai ke luar Kalimantan Utara.

Di lapangan, pendampingan dilakukan oleh mitra lokal, yaitu Yayasan PIONIR Bulungan di Kalimantan Utara, Perkumpulan Pilar Nusantara (PINUS) di Sumatera Selatan, dan Konsorsium untuk Studi dan Pengembangan Partisipasi (KONSEPSI) di Nusa Tenggara Barat. Pendampingan mencakup penguatan organisasi, kepemimpinan, pemantauan hutan, dan pengolahan hasil hutan bukan kayu. Perkumpulan Seniman Pangan Indonesia membantu pengembangan produk dan akses pasar, sementara Forum Perempuan Penjaga dan Pengelola Hutan Indonesia (FP3HI) membawa pengalaman dari desa ke ruang advokasi yang lebih luas.

Di Semende, Sumatera Selatan, menjaga hutan terkait erat dengan adat. Tessa Pranisti adalah seorang Tunggu Tubang, sebutan dalam adat Semende bagi anak perempuan tertua yang akan mewarisi rumah, tanah, dan sawah keluarga. Kini ia mengajak perempuan dan anak muda desanya melakukan pemantauan hutan.

Di Desa Penyandingan, Kabupaten Muara Enim, Ani Tasriah, yang dulu tidak pernah berorganisasi, kini menjadi Sekretaris Lembaga Pengelola Hutan Adat (LPHA) Ghimbe Peramunan. Ia mendirikan KUPS Perempuan Anak Belai, kelompok perhutanan sosial perempuan pertama di Sumatera Selatan, dan mengajak delapan perempuan masuk kepengurusan LPHA. Kopi kelompoknya, Ghimbe Coffee, sudah mengantongi izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), sertifikat halal, dan Standar Nasional Indonesia (SNI). Di Desa Tanjung Agung, Fitri memimpin KUPS Perempuan Muara Jaya yang menjual Kopi Gwatu, minuman rempah, dan kain ecoprint. Anggotanya kini memiliki penghasilan dan tabungan sendiri.

Di Desa Karang Sidemen, Nusa Tenggara Barat, salak dan nangka hutan dulu tidak dilirik warga. Kelompok yang dipimpin Lilik Ernawati justru melihatnya sebagai peluang, di samping mengelola kopi, madu, dan ekowisata. Pemerintah desa pun menerbitkan surat keputusan yang mengakui peran perempuan dalam pengelolaan kawasan hutan.

Perubahan juga terjadi di ruang keputusan. Di Desa Aik Berik, Kabupaten Lombok Tengah, Marwita membesarkan anaknya seorang diri dari kebun kopi di kaki Gunung Rinjani. Kini ia memimpin KUPS Benang Stokel yang beranggota 15 orang dan mengolah kopi, keripik, minuman, serta selai. Pada 28 Juni 2026, warga memilihnya sebagai anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Aik Berik periode 2026 sampai 2034.

“Perubahan yang paling luar biasa adalah tumbuhnya rasa percaya diri saya. Dari yang dulu hanya seorang ibu kepala keluarga yang tidak berani berpendapat, kini saya berani berbicara di depan umum, aktif memimpin kegiatan, dan ikut mengambil keputusan penting dalam kelompok,” ujar Ketua KUPS Benang Stokel dan Anggota BPD Aik Berik, Kabupaten Lombok Tengah, Marwita.

Cerita ini penting karena hutan yang menyimpan ragam pangan terus berkurang. Indonesia kehilangan 433.751 hektare hutan alam pada 2025, naik 66 persen dari tahun sebelumnya (Auriga Nusantara, 2026). Sebagian dibuka untuk kebun kayu, tambang, dan sawit. Padahal Indonesia memiliki lebih dari 77 jenis sumber karbohidrat, 228 jenis sayuran, dan 389 jenis buah (Badan Pangan Nasional, 2024). Di tingkat global, hampir sepertiga emisi gas rumah kaca berasal dari sistem pangan dan lebih dari 40 persennya berasal dari Asia (FAO, 2025). Hampir seperlima emisi sistem pangan itu datang dari pembukaan hutan, kebakaran, dan kerusakan gambut untuk lahan pertanian (FAO, 2024).

Di tingkat desa, tantangan masih ada. Alat produksi masih manual, ongkos kirim ke kota mahal, dan perempuan masih jarang diundang dalam rapat soal hutan. Secara nasional, dari 15.769 KUPS yang ada, baru 120 yang masuk kategori tertinggi (Kementerian Kehutanan, 2025).

“Perempuan di komunitas punya pengetahuan yang unik tentang hutan. Persoalannya, akses ke informasi, ruang pengambilan keputusan, dan sumber daya untuk menjalankan usaha belum setara. Karena itu, bersama mitra lokal kami bekerja di tiga hal yang saling terhubung: posisi perempuan dalam kelembagaan, pemantauan kawasan, dan kelola usaha yang adil dan memberi manfaat tidak hanya sekedar menambah beban kerja mereka,” ujar Program Officer Tata Kelola Lingkungan The Asia Foundation, Dorta Pardede.

Di Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Barat, program WFD mencatat 24.292 hektare hutan dikelola dengan perempuan ikut memimpin, 16 usaha berbasis hutan yang dipimpin perempuan sudah menghasilkan pendapatan, 11 kelompok pemantau hutan dipimpin perempuan, dan 21 izin usaha yang membuka akses perempuan ke pasar (The Asia Foundation, 2026).

“Perempuan di desa hutan sudah lama menjaga hutan dan dapur keluarganya. Yang mereka butuhkan adalah ruang untuk ikut memutuskan. Peran kami adalah mempertemukan mereka dengan mitra lokal, pemerintah, dan pasar, supaya perubahan di desa terus berjalan,” ujar Direktur Tata Kelola Lingkungan The Asia Foundation, Frans Siahaan.

Menurutnya, konsumen di kota juga memiliki peran. “Jamuan ini cara sederhana untuk menunjukkan hubungan antara piring kita dan hutan. Setiap orang yang memilih pangan dari hutan yang dijaga ikut menjaga hutannya,” tambah Frans.

Para perempuan sudah mulai menjual produk mereka di pasar lokal dan melalui media sosial dengan sistem pesanan. Sebagian produk juga dijual lewat JAVARA.

“Kalau bicara gastronomi Indonesia, kita harus mulai dari bentang alam. Dari sanalah lahir keragaman pangan dan budaya kuliner kita. Pangan dari hutan dan berbagai ekosistem lainnya relevan bagi konsumen kota yang membutuhkan pilihan pangan lebih beragam untuk pola konsumsi yang lebih sehat. Kuncinya adalah menghadirkan produk asal hutan secara berkualitas, dengan cita rasa yang punya daya pembeda dan relevan bagi konsumen, sehingga nilai yang tercipta di pasar dapat kembali ke komunitas dan desa asalnya,” ujar Helianti.

Pada 3 dan 4 Oktober, ketujuh perempuan ini akan menghadirkan cerita tentang kepemimpinan perempuan, pemantauan hutan, advokasi, dan usaha dari hasil hutan, bersama cita rasa hutan Indonesia. Semuanya hadir dalam program Women Forest Defenders bertajuk Watching the Forest, Growing the Future di Glass House Pavilion, Taman Lumpini, dan Restoran Bo.lan, Bangkok. Di Bo.lan, Chef Bo Songvisava akan memadukan bahan pangan hutan Indonesia dengan bahan dan teknik masak Thailand.

Di Bangkok Climate Action Week, ketujuh perempuan ini akan berbagi pengetahuan dari kerja mereka di komunitas: memantau hutan, memimpin kelompok, ikut menentukan pengelolaan kawasan, dan mengembangkan penghidupan. Melalui diskusi, pameran, pengalaman virtual, dan Jamuan Puan Rimba, pengalaman perempuan penjaga hutan di Indonesia menjadi bagian dari percakapan regional tentang pengelolaan hutan dan aksi iklim.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

FINNS Beach Club Buka Early Bird Sale Diskon 50%, Perayaan Tahun Baru Ikonik di Bali Kini Hadir sebagai Festival Dua Hari

Major Lazer, CYRIL, dan DJ set The Temper Trap jadi deretan artis pertama yang diumumkan untuk FINNS NYE Festival 2026 — dan masih banyak lagi yang akan menyusul!

BALI, 14 Agustus 2026 – FINNS Beach Club resmi membuka early bird sale untuk perayaan Malam Tahun Baru 2026, memberikan kesempatan pertama bagi para pencinta pesta untuk mengamankan tiket menuju perayaan akhir tahun terbesarnya sejauh ini.

Tiket diskon 50% untuk FINNS NYE Festival kini sudah bisa didapatkan secara online. Tahun ini, perayaannya tak lagi sebatas hitung mundur satu malam, melainkan berkembang menjadi festival dua hari yang berlangsung pada 30 dan 31 Desember 2026.

Gelombang pertama artis pun telah diumumkan. Major Lazer, DJ sekaligus produser asal Australia CYRIL, serta DJ set dari The Temper Trap menjadi bagian dari line-up yang telah dikonfirmasi, dengan pengumuman artis berikutnya yang akan segera menyusu

Setelah satu dekade menggelar perayaan Malam Tahun Baru yang selalu sold out, FINNS meningkatkan skala acaranya di tahun 2026 untuk menghadirkan pengalaman festival yang memadukan musik internasional, hiburan tepi pantai, dan salah satu panorama matahari terbenam paling ikonik di Bali.

Sebelumnya, perayaan Malam Tahun Baru FINNS telah menghadirkan deretan artis internasional seperti Flume, Duke Dumont, PNAU, MK, Khalid, Lost Frequencies, dan CamelPhat — dengan tiket perayaan beberapa tahun terakhir yang ludes jauh sebelum malam pergantian tahun tiba.

Perluasan menjadi dua hari ini mencerminkan semakin banyaknya wisatawan mancanegara yang memilih Bali sebagai destinasi untuk merayakan momen spesial dan menghabiskan liburan akhir tahun, seiring dengan Canggu yang terus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu kawasan hiburan utama di pulau ini.

Berlokasi langsung di tepi Pantai Berawa, FINNS akan menyulap kawasan pantainya menjadi arena festival, menghadirkan pertunjukan live, DJ, dan produksi berskala besar sepanjang periode Tahun Baru.

Early Bird Sale diskon 50% ini menjadi kesempatan emas bagi siapa pun yang sudah merencanakan liburan Tahun Baru di Bali untuk mengamankan tempat lebih awal dengan harga terbaik.

Mengingat tiket perayaan NYE FINNS sebelumnya selalu habis terjual jauh-jauh hari, para tamu disarankan untuk segera melakukan pemesanan.

FINNS NYE FESTIVAL 2026

Tanggal: 30–31 Desember 2026

Lokasi: FINNS Beach Club, Pantai Berawa, Bali

Artis pertama yang diumumkan: Major Lazer, CYRIL, dan DJ set The Temper Trap

Presale: Presale eksklusif 24 jam dengan diskon 50%

Tiket dan informasi: nye2026.finnsbeachclub.com

Artis tambahan dan detail acara lainnya akan diumumkan menjelang festival berlangsung

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Lima Buku Cerita Anak Bawa Kisah Perempuan Penjaga Hutan ke Indonesia International Book Fair 2026

Lima buku cerita anak seri Women Forest Defenders diluncurkan di Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026, Rabu (30/9/2026), di Panggung Children’s Book Festival, Jakarta International Convention Center (JICC). Peluncuran ini diselenggarakan IIBF 2026, Let’s Read, dan The Asia Foundation lewat talk show Women Forest Defenders: Watching the Forest, Growing the Future. Tiga perempuan penjaga hutan, Ani Tasriah dan Tessa Pranisti dari Sumatera Selatan serta Lilik Ernawati dari Nusa Tenggara Barat, hadir dan berbagi pengalaman mereka menjaga hutan. Kelima buku, yaitu Perempuan Penjaga Rimba, Berebut Jambu Hutan, Komang dan Benih Harapan, Ke Mana Burung-Burung Pergi?, dan Menanti Rayeuk Pulang, ditulis dan diilustrasikan oleh penulis dan ilustrator Indonesia. Buku-buku ini mengajak anak mengenal hutan dan peran perempuan dalam merawatnya. Seri ini terbit melalui Let’s Read, perpustakaan digital buku cerita anak gratis dari The Asia Foundation. Program Women Forest Defenders sendiri mencatat 171 perempuan aktif menjaga hutan dan 42 perempuan di posisi pengambil keputusan di empat provinsi. Kelima buku bisa dibaca gratis di letsreadasia.org.

Jakarta, 30 September 2026 – Seekor kijang tiba-tiba masuk ke kebun, Kero berulah saat Diah memetik jambu hutan, burung-burung menghilang dari kebun, dan Inong menanam hutan agar sahabat gajahnya pulang. Cerita-cerita ini kini hadir dalam lima buku cerita anak seri Women Forest Defenders yang diluncurkan di Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026. Tiga perempuan penjaga hutan, Ani Tasriah dan Tessa Pranisti dari Sumatera Selatan serta Lilik Ernawati dari Nusa Tenggara Barat, hadir langsung dan bercerita tentang pengalaman mereka menjaga hutan dalam talk show Women Forest Defenders: Watching the Forest, Growing the Future. Acara ini diselenggarakan IIBF 2026, Let’s Read, dan The Asia Foundation di Panggung Children’s Book Festival, Jakarta International Convention Center (JICC).

Kelima buku mengajak anak mengenal hutan dari sudut pandang yang dekat dengan keseharian mereka. Perempuan Penjaga Rimba karya Shahfira Alif dengan ilustrasi Ayesha Sophie bercerita tentang Amina yang belajar merawat kebun bersama Nining dan bertanya-tanya mengapa seekor kijang masuk ke kebun mereka. Berebut Jambu Hutan karya Lina Nurdiana dengan ilustrasi Dinda Ayu mengikuti Diah yang memetik jambu hutan di hutan adat untuk dibuat selai, sambil menghadapi ulah Kero.

Komang dan Benih Harapan karya Nurma Anita dengan ilustrasi Tiara Wulandari mengangkat nilai inklusi melalui Komang yang belajar merawat bibit bersama Bibi Santhi di Rumah Bibit. Dua buku karya Maya Lestari GF melengkapi seri ini. Ke Mana Burung-Burung Pergi? dengan ilustrasi Eri Patmasari mengajak anak mencari tahu mengapa burung menghilang dari kebun. Menanti Rayeuk Pulang dengan ilustrasi Felia Febriany G bercerita tentang Inong yang ikut menanam pohon di hutan agar sahabat gajahnya kembali.

Ani Tasriah berasal dari Desa Penyandingan dan Tessa Pranisti dari Desa Kota Padang, keduanya di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, dengan pendampingan Pilar Nusantara (PINUS) Sumatera Selatan. Desa Kota Padang berada di kawasan Semende, yang memiliki adat tunggu tubang, yaitu tradisi yang menitipkan rumah dan kebun keluarga kepada anak perempuan tertua. Lilik Ernawati berasal dari Desa Karang Sidemen, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, dengan pendampingan KONSEPSI NTB.

Ketiganya adalah bagian dari Women Forest Defenders, program The Asia Foundation di 4 provinsi (Sumatera  Barat, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Utara) dan level Nasional yang menghubungkan kelompok perempuan, lembaga adat, organisasi lokal, wirausaha sosial, dan pemerintah. Di empat provinsi, yaitu Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Barat, program ini mencatat 24.292 hektare hutan yang pengelolaannya melibatkan kelompok perempuan secara aktif. Sebanyak 171 perempuan aktif menjaga hutan, 42 perempuan duduk di posisi pengambil keputusan, dan 16 usaha yang dipimpin perempuan telah menghasilkan pendapatan (The Asia Foundation, 2026).

“Hutan memberi kita banyak buah dan makanan yang lezat. Kalau ingin terus bisa menikmatinya, kita harus belajar menjadi anak yang bertanggung jawab: mengambil secukupnya, merawat pohonnya, dan tidak merusak rumah satwa yang tinggal di hutan,” ujar Women Forest Defenders dari Desa Penyandingan, Sumatera Selatan, Ani Tasriah.

“Untuk anak-anak kami, ingatlah bahwa menjaga hutan bukan hanya tugas laki-laki. Perempuan juga bisa turun ke hutan, bersuara, mengambil keputusan, dan memimpin,” ujar Women Forest Defenders dari Desa Kota Padang, Sumatera Selatan, Tessa Pranisti.

Tessa berharap buku-buku ini bisa menumbuhkan keberanian anak perempuan sejak kecil. “Jangan pernah merasa kecil karena kamu perempuan. Dari tangan dan keberanianmu, hutan dan kehidupan bisa tetap terjaga. Tumbuhlah menjadi generasi yang berani memimpin, tetapi tetap rendah hati menjaga bumi tempat kita hidup,” katanya.

Hal serupa dijalani Lilik Ernawati di Karang Sidemen. Lewat KUPS Cempaka Empat yang ia pimpin, kelompok perempuan di desanya mengelola kopi, madu, dan ekowisata dari hutan desa, termasuk mengolah salak dan nangka hutan yang dulu tidak dilirik orang. Bagi Lilik, hutan yang dijaga hari ini adalah warisan untuk anak-anak kelak.

“Di tangan perempuan, hutan dijaga, dilindungi, dan diwariskan. Mari rawat hutan dengan cinta, agar hijaunya tetap menjadi cerita bagi anak cucu kita,” ujar Ketua KUPS Cempaka Empat, Desa Karang Sidemen, Nusa Tenggara Barat, Lilik Ernawati.

Seri ini diterbitkan bersama Let’s Read, inisiatif The Asia Foundation yang membangun perpustakaan digital buku cerita anak gratis untuk kawasan Asia dan Pasifik. Let’s Read melanjutkan Books for Asia, program terlama The Asia Foundation yang berjalan sejak 1954. Buku di Let’s Read dibuat bersama penulis dan ilustrator lokal, bisa dibaca di situs dan aplikasi, disimpan untuk dibaca tanpa internet, atau dicetak untuk sekolah dan komunitas.

“Selama ini, cerita perempuan penjaga hutan lebih banyak kami sampaikan kepada pembuat kebijakan dan mitra. Lewat seri buku ini, kami ingin anak-anak juga mengenalnya sejak dini. Kalau anak tahu siapa yang menjaga hutan di sekitar mereka, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang ikut menjaganya,” ujar Country Representative The Asia Foundation Indonesia, Hana Satriyo.

“Seri buku ini kami persembahkan untuk para perempuan penjaga hutan, atas kepemimpinan dan pengetahuan yang mereka wariskan kepada generasi berikutnya. Kami berharap anak-anak dapat mengenal kerja perawatan hutan yang dilakukan perempuan di komunitas dan memahami bahwa hutan adalah rumah bagi banyak kehidupan,” tambah Program Officer The Asia Foundation, Dorta Pardede.

Peluncuran ini menjadi bagian dari Children’s Book Festival di IIBF 2026, pameran buku yang diselenggarakan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) sejak 1980. Tahun ini IIBF berlangsung 30 September sampai 4 Oktober 2026 di JICC dengan semangat “Read Today, Lead Tomorrow”.

Peluncuran buku ini menutup hari yang panjang bagi Ani, Tessa, dan Lilik. Siang harinya, mereka hadir di Jamuan Puan Rimba di Jakarta bersama empat perempuan penjaga hutan lain dari Sumatera Selatan, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Barat. Pada 3 sampai 4 Oktober 2026, mereka akan membawa cerita yang sama ke Bangkok Climate Action Week 2026.

Kelima buku ini bisa dibaca gratis di letsreadasia.org. Orang tua dan guru bisa membacakannya di rumah atau di kelas, sambil mengenalkan anak pada hutan dan para perempuan yang setia menjaganya.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

PT Akarsa Garment Indonesia Hadapi Dinamika Industri Garmen Nasional

Industri fesyen dan kebutuhan garmen korporasi di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Namun, seiring dengan tingginya permintaan, tantangan produksi bagi para pemilik jenama (brand) dan instansi juga semakin kompleks. Menjawab kebutuhan akan ekosistem manufaktur yang terpadu, Akarsa Garment hadir dengan solusi komprehensif yang mendisrupsi cara kerja konveksi tradisional.

Menjawab Kebutuhan Pasar dengan Layanan Terintegrasi 

Bagi para pelaku usaha pemula maupun korporasi berskala besar, pertanyaan mendasar seperti pabrik garmen bisa produksi apa aja? sering kali menjadi tahap awal dalam menyeleksi vendor. Menyadari kebingungan pasar tersebut, Akarsa Garment Pemalang: Pabrik Garmen One Stop Factory hadir menawarkan fasilitas produksi dari hulu ke hilir, mulai dari konsultasi desain, penyediaan bahan baku, hingga proses finishing dan packaging.

Pemahaman klien mengenai proses di dalam pabrik garmen terdekat juga difasilitasi melalui sistem kerja yang transparan, sehingga quality control di setiap lini jahitan dapat dipantau dengan jelas. Menariknya, infrastruktur digital dan manajemen logistik yang andal membuat jangkauan layanan mereka sangat luas. Oleh karena itu, bagi para pebisnis di ibu kota yang sedang menyeleksi rekomendasi tempat jahit baju terdekat sekitar Jabodetabek, Akarsa Garment menjadi alternatif yang sangat strategis dengan kapasitas pabrik besar namun memiliki aksesibilitas komunikasi layaknya konveksi lokal.

Strategi Efisiensi di Tengah Fluktuasi Harga 

Dinamika makro ekonomi sering kali membawa tantangan tersendiri bagi sektor padat karya. Ketika isu mengenai harga bahan baku tekstil naik? menjadi sorotan utama di kalangan pengusaha, Akarsa Garment meresponsnya dengan langkah taktis. Pabrik ini mengimplementasikan sistem marker making digital yang mampu meminimalisasi limbah pemotongan kain (zero waste). Optimalisasi rantai pasok ini memastikan klien tetap mendapatkan penawaran harga yang kompetitif tanpa harus menurunkan grade material tekstil yang digunakan.

Kapasitas Massal: Dari Kaos Polos hingga Seragam Kustom 

Keunggulan infrastruktur pabrik ini paling terlihat pada kemampuannya menangani pesanan dalam jumlah masif. Akarsa Garment telah diakui luas sebagai konveksi kaos polos berkualitas untuk produksi skala besar. Pabrik ini secara konsisten mampu memproduksi kaos polos berkualitas untuk berbagai kebutuhan, baik untuk suplai clothing line, basic wear distro, maupun kebutuhan kampanye massal dengan jaminan stabilitas warna dan keawetan jahitan.

Tidak hanya berjaya di lini kasual, sektor B2B (Business to Business) juga digarap dengan sangat profesional. Mengukuhkan reputasinya sebagai pabrik garmen Indonesia terpercaya, Akarsa memahami bahwa seragam adalah cerminan profesionalisme sebuah institusi. Hal ini terbukti dari tingginya kepercayaan klien terhadap layanan konveksi kaos custom untuk event perusahaan di Pemalang dan berbagai kota lainnya. Setiap detail kustomisasi, mulai dari aplikasi bordir komputer presisi tinggi hingga teknik sablon mutakhir, dieksekusi dengan sempurna sesuai identitas brand klien.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

BRIDS Salurkan Bantuan untuk Dukung Pemulihan Pascagempa di Nusa Tenggara Timur

Jakarta,
01 Oktober 2026 –
Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7
yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus
2026 masih memberikan dampak bagi masyarakat terdampak. Selain kerusakan rumah
dan fasilitas publik, aktivitas gempa susulan juga membuat sebagian masyarakat
memilih bertahan di tempat pengungsian dan belum beraktivitas secara normal di
dalam rumah.

 

Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 5.000 jiwa mengungsi pada
fase awal bencana dan 47 orang meninggal dunia. Hingga 7 September 2026,
sebanyak 51.591 unit rumah telah melalui proses verifikasi dan validasi, atau
50,39% dari 102.384 unit rumah yang menjadi data awal sasaran pendataan di
tujuh kabupaten terdampak. Dari hasil verifikasi sementara tersebut, 2.382
rumah masuk kategori rusak berat, 7.276 rusak sedang, dan 14.177 rusak ringan.
Data tersebut masih dinamis seiring proses verifikasi di lapangan.

                                                                                                                

Kondisi pascagempa
juga masih diwarnai aktivitas gempa susulan. BNPB mencatat sebanyak 3.002 gempa
susulan hingga 19 Agustus 2026, dengan gempa susulan terbesar mencapai
magnitudo 6,2. BNPB juga melaporkan bahwa sebagian masyarakat di Pulau Flores
masih memilih bertahan di tenda karena rasa takut dan kekhawatiran terhadap
guncangan susulan. Kondisi tersebut turut memperpanjang kebutuhan akan dukungan
dasar selama masa tanggap darurat dan proses pemulihan.

 

Merespons kondisi
tersebut, PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) bersinergi dengan Yayasan Baitul
Maal BRILiaN (YBM BRILiaN) untuk menyalurkan bantuan tanggap darurat
berdasarkan hasil asesmen lapangan di Kabupaten Nagekeo. Hasil asesmen
mengidentifikasi kebutuhan mendesak masyarakat terdampak, khususnya dukungan
pangan, pengembangan dapur darurat, serta peralatan yang dibutuhkan untuk
mendukung penyediaan makanan selama masa tanggap darurat.

 

Atas kebutuhan
tersebut, BRIDS melalui YBM BRILiaN menyalurkan bantuan sebesar Rp50 juta yang
dialokasikan untuk pengadaan 100 paket sembako, dukungan dapur darurat, serta
kebutuhan distribusi dan operasional bantuan. Dukungan ini diproyeksikan
memberikan manfaat bagi lebih dari 200 jiwa, termasuk siswa, masyarakat
terdampak, penghuni pengungsian, serta pihak lain yang membutuhkan dukungan
selama masa tanggap darurat.

 

Plt.
Direktur Utama BRIDS, Fifi Virgantria
, mengatakan bahwa penyaluran
bantuan melalui YBM BRILiaN merupakan bagian dari komitmen BRIDS untuk
menghadirkan kontribusi sosial yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di
lapangan.

 

“Melalui BRIDS
Peduli, kami berupaya memastikan dukungan yang diberikan dapat menjawab
kebutuhan nyata masyarakat terdampak. Dalam kondisi pascabencana, pemenuhan
kebutuhan dasar menjadi salah satu hal penting untuk mendukung masyarakat
melewati masa tanggap darurat dan memulai proses pemulihan. Ke depan, BRIDS
akan terus melihat ruang kontribusi yang dapat diberikan melalui program TJSL
agar manfaatnya dapat dirasakan secara relevan dan berkelanjutan oleh
masyarakat,” ujar Fifi.

 

Dukungan tersebut menjadi bagian dari
pelaksanaan program TJSL BRIDS melalui BRIDS Peduli, yang diarahkan untuk
memberikan kontribusi sosial berdasarkan kebutuhan masyarakat serta kondisi di
lapangan. Melalui sinergi dengan berbagai pihak, BRIDS terus mendorong
pelaksanaan program yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Zentara Percepat Deteksi Kerentanan Siber dari Hitungan Hari Menjadi Menit dengan AVAS

JAKARTA, INDONESIA – September 2026. Zentara Technologies memperkenalkan pendekatan baru dalam vulnerability assessment melalui AVAS, sistem assessment berbasis AI yang dirancang untuk mempercepat identifikasi dan prioritisasi kerentanan pada lingkungan enterprise.

Bagi banyak perusahaan, vulnerability assessment masih dilakukan secara berkala. Siklus pengujian yang panjang dapat membuat tim keamanan menerima gambaran risiko yang sudah tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi infrastruktur terbaru.

AVAS dirancang untuk mempersingkat proses tersebut dengan melakukan pemindaian secara paralel dan menggunakan AI untuk membantu menentukan area yang membutuhkan analisis lebih dalam.

Menurut Zentara, AVAS dapat menyelesaikan full enterprise assessment dalam waktu kurang dari 15 menit. Sistem tersebut memproses kerentanan pada aplikasi, sistem operasi, API, jaringan, dan firmware, kemudian menggunakan natural language processing untuk membaca advisory keamanan dan menghubungkan temuan dengan CVE yang relevan.Pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan pengujian manual.

Automated assessment digunakan untuk menemukan dan memprioritaskan risiko, sementara operator keamanan melakukan validasi dan eksploitasi manual untuk membuktikan dampak kerentanan.

Dalam praktiknya, pendekatan tersebut menggabungkan vulnerability assessment and penetration testing dengan kemampuan AI-powered vulnerability assessment. Setiap temuan divalidasi sebelum dimasukkan ke laporan sehingga tim keamanan dapat memusatkan sumber daya pada risiko yang paling relevan.

AVAS juga dirancang untuk menghasilkan laporan teknis dan eksekutif setelah assessment selesai. Temuan dapat dihubungkan melalui API ke lingkungan SOC, SIEM, dan DevSecOps yang sudah digunakan perusahaan.

Dengan memperpendek waktu antara perubahan infrastruktur dan pengujian keamanan, perusahaan dapat melakukan assessment setelah peluncuran aplikasi, perubahan konfigurasi, maupun munculnya kerentanan kritis baru, tanpa harus selalu menunggu siklus assessment berikutnya.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

ICPAPS 2026, SUCOFINDO Tegaskan Pentingnya Jaminan Mutu dalam Ekosistem Kesehatan

Yogyakarta, (1/10) – PT SUCOFINDO (PERSERO) menegaskan komitmennya dalam mendukung penguatan ekosistem farmasi dan teknologi kesehatan nasional melalui partisipasinya sebagai pembicara pada The 9th International Conference on Pharmacy and Advanced Pharmaceutical Sciences (ICPAPS) 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta. Konferensi internasional yang mengusung tema “Enhancing Pharmaceutical Care and Sovereignty through Digital Transformation” tersebut menjadi wadah kolaborasi antara akademisi, regulator, industri, dan praktisi kesehatan dalam mendorong inovasi serta kemandirian sektor farmasi Indonesia melalui transformasi digital.

Pada kesempatan tersebut, Vice President Research and Business Development PT SUCOFINDO (PERSERO), Dian Indrawaty, hadir sebagai pembicara dalam sesi Industrial Symposium dengan membawakan materi bertajuk “From Research to Market: The Strategic Role of Testing, Inspection and Certification in Advancing Pharmaceutical and Healthcare Innovation”.

Menurut Dian Indrawaty, keberhasilan inovasi farmasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas riset, tetapi juga oleh kemampuan membangun kepercayaan di sepanjang rantai nilai industri kesehatan. Mulai dari penelitian dan pengembangan, evaluasi klinis, manufaktur, distribusi, hingga pelayanan kesehatan, seluruh proses memerlukan sistem jaminan mutu dan kepatuhan yang terintegrasi.

“Kepercayaan tidak dibangun pada satu titik, melainkan di seluruh rantai nilai. Di sinilah peran strategis layanan Testing, Inspection, and Certification (TIC) hadir untuk memastikan setiap tahapan pengembangan produk berjalan sesuai standar yang berlaku sehingga inovasi dapat bertransformasi menjadi produk yang siap dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, PT SUCOFINDO (PERSERO) menghadirkan layanan TIC terintegrasi yang mencakup layanan pengujian produk farmasi, kosmetik, dan alat kesehatan, inspeksi dan verifikasi rantai pasok, sertifikasi sistem manajemen, kalibrasi, konsultansi kepatuhan regulasi, hingga pendampingan akreditasi fasilitas kesehatan.

Dian Indrawaty juga menyoroti bahwa perjalanan inovasi dari laboratorium menuju pasar sering kali menghadapi berbagai tantangan. Tidak sedikit hasil penelitian yang memiliki potensi besar, namun memerlukan dukungan lebih lanjut dalam aspek pengujian, validasi, pemenuhan standar, hingga pengakuan regulator agar dapat dikembangkan menjadi produk yang siap dimanfaatkan masyarakat.

“Agar inovasi dapat memberikan dampak yang lebih luas, diperlukan dukungan ekosistem yang mampu memastikan hasil riset memenuhi aspek mutu, keamanan, dan kepatuhan sejak tahap pengembangan. Dengan demikian, proses hilirisasi dapat berjalan lebih efektif dan menghasilkan produk yang memiliki daya saing di pasar,” jelasnya.

Melalui layanan TIC, PT SUCOFINDO (PERSERO) berperan mendukung proses tersebut dengan menjembatani kebutuhan akademisi, industri, dan regulator. Sinergi ini diharapkan dapat mempercepat transformasi hasil penelitian menjadi produk yang memenuhi standar mutu, keamanan, dan kepatuhan, sekaligus memperkuat daya saing industri farmasi dan teknologi kesehatan nasional.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Badan Usaha Pemilik Aset Kripto di Indonesia Melonjak 92,8% dalam Setahun

Jakarta, 1 Oktober 2026 – Jumlah badan usaha dalam negeri yang memiliki aset kripto naik 92,8% secara tahunan (year-on-year). Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlahnya mencapai 943 badan usaha per Juni 2026, naik dari 489 badan usaha pada Juni 2025.

Lonjakan ini menunjukkan adopsi aset keuangan digital di Indonesia tidak lagi hanya digerakkan investor individu. Sektor bisnis kini ikut masuk dan menjadikan aset kripto bagian dari strategi pengelolaan aset perusahaan.

Naik Konsisten dalam Tiga Periode

Pertumbuhan terjadi bertahap dan konsisten. Pada Juni 2025 tercatat 489 badan usaha pemilik aset kripto, seperti USDT, Bitcoin dan lainnya. Angka ini naik menjadi 712 pada Desember 2025, lalu mencapai 943 pada Juni 2026.

Dalam setahun, terdapat tambahan 454 badan usaha baru. Pada semester kedua 2025, jumlahnya naik 45,6%. Pada semester pertama 2026, jumlahnya kembali naik 32,4%.

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai data ini sebagai penanda pergeseran penting di pasar aset digital Indonesia. Menurutnya, pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya partisipasi masyarakat sekaligus meningkatnya peran aset digital dalam ekosistem keuangan nasional.

“Ketika jumlah perusahaan pemilik aset kripto hampir dua kali lipat dalam setahun, artinya keputusan ini sudah melewati meja direksi dan bagian keuangan. Perusahaan tidak masuk karena ikut tren. Mereka masuk karena ekosistemnya kini diawasi OJK, infrastrukturnya lengkap, dan tata kelolanya bisa dipertanggungjawabkan,” kata Yudho.

Menurut Yudho, fase industri kini bergeser dari adopsi menuju integrasi. Aset kripto mulai diposisikan sebagai bagian dari pengelolaan kas, diversifikasi aset, hingga persiapan menghadapi tokenisasi dan stablecoin.

“Badan usaha punya standar yang jauh lebih ketat dibanding investor ritel, mulai dari kepatuhan, kustodian, sampai pelaporan. Karena itu, kenaikan 92,8% ini kami baca sebagai mosi kepercayaan terhadap ekosistem yang dibangun bersama regulator dan pelaku industri,” tambahnya.

Basis Konsumen Terus Bertambah di Tengah Fluktuasi Pasar

Tren di sektor bisnis sejalan dengan pertumbuhan basis konsumen secara keseluruhan. OJK mencatat jumlah akun konsumen aset keuangan digital mencapai 22,93 juta per Juli 2026, naik 1,03% dari 22,69 juta pada Juni 2026.

Nilai transaksi bulanan memang berfluktuasi. Transaksi aset kripto Juli 2026 tercatat Rp20,52 triliun, turun 28,2% dari Rp28,58 triliun pada Juni. Meski begitu, OJK menilai kepercayaan konsumen tetap terjaga. Secara kumulatif, transaksi Januari–Juli 2026 mencapai Rp171,12 triliun.

Infrastruktur pasar juga makin lengkap. OJK mencatat 33 entitas berizin, terdiri dari dua bursa, dua lembaga kliring, dua kustodian, dan 27 pedagang aset keuangan digital. Bursa CFX mencatat 1.214 aset dan 49 derivatif yang dapat diperdagangkan per Juli 2026.

Regulatory sandbox OJK pun telah meluluskan tujuh model bisnis baru. Di antaranya tokenisasi emas, tokenisasi properti, stablecoin rupiah, kustodian nonperdagangan, dan manajer dana kripto.

Di tingkat global, tren serupa terlihat pada perusahaan publik. Per Agustus 2026, perusahaan tercatat yang dipantau CoinGecko memegang sekitar 1,28 juta BTC, setara 6,11% dari total pasokan maksimum Bitcoin.

“Indonesia sedang mengikuti arah yang sama dengan pasar global, tetapi dengan fondasi regulasi yang lebih jelas. Kami melihat semakin banyak pelaku usaha, dari UMKM digital hingga korporasi, mulai bertanya soal kustodian dan pelaporan, bukan lagi soal harga,” terang Yudho.

Edukasi dan Tata Kelola Jadi Kunci

Yudho menegaskan, pertumbuhan adopsi oleh badan usaha perlu diimbangi edukasi dan perlindungan konsumen. FLOQ berkomitmen mendukung ekosistem yang aman, transparan, dan patuh pada ketentuan OJK.

“Tugas kami sebagai pelaku industri adalah memastikan setiap pengguna, baik individu maupun perusahaan, mendapatkan akses yang aman, likuid, dan teregulasi. Kepercayaan yang sudah terbangun ini harus kita jaga bersama,” tutup Yudho.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Spillify, YHKMI, dan Dinas Sosial Depok Buka Akses Ekonomi Digital bagi Penyandang Disabilitas dan UMKM

Spillify, YHKMI, dan Dinsos Depok meluncurkan program inklusi digital di Balai Kota Depok pada 30 September 2026 untuk 50 penyandang disabilitas, UMKM, dan warga pra-sejahtera. Tanpa syarat followers atau modal, peserta diajak menghasilkan uang dari media sosial dengan menjalankan Quest dari brand. Program ini berlanjut ke Bogor dan Jakarta sepanjang Oktober, disertai pelatihan lanjutan seperti pemasaran digital dan pengelolaan keuangan usaha.

DEPOK, 30 September 2026 – Platform aktivasi konsumen Spillify bersama Yayasan Harapan Karya Muda Indonesia (YHKMI) dan Dinas Sosial Kota Depok menggelar sosialisasi program inklusi digital di Ruang Teratai, Balai Kota Depok, Rabu (30/9/2026). Program ini mengajak warga menjadikan aktivitas media sosial sehari-hari sebagai sumber penghasilan, tanpa syarat jumlah pengikut maupun modal besar.

Sebanyak 50 warga hadir, terdiri atas 10 penyandang disabilitas, 25 pelaku UMKM, dan 15 warga pra-sejahtera. Pada hari yang sama, peserta langsung terdaftar sebagai Spillers dan ikut kampanye brand yang sedang berjalan.

Di Spillify, brand merancang Quest berupa kunjungan toko, ulasan produk, pembuatan konten, atau referral. Spillers yang menjalankan Quest tersebut mendapat Spiller Points dan reward lainnya.

“Kami tidak mencari influencer. Kami mencari konsumen nyata,” kata Firman Natayudha, Founder & CEO Spillify. “Dan konsumen nyata ada di mana-mana, termasuk di antara mereka yang selama ini merasa tidak punya tempat di ekosistem digital.”

Di akhir sesi, seorang peserta penyandang disabilitas menyampaikan kesannya. “Akhirnya ada tempat tanpa diskriminasi. Saya bisa dipandang tanpa melihat atau menilai bahwa saya memiliki disabilitas,” ujarnya.

Muhammad Ihsan, Ketua YHKMI sekaligus perwakilan Dinas Sosial Kota Depok, membuka kegiatan tersebut. “Ini adalah kesempatan bagi kita semua untuk membangun keterampilan di bidang pemasaran digital,” katanya.

Program berlanjut ke SMK IBG 2 Bogor pada Kamis (1/10/2026), lalu ke sejumlah SMK lain di wilayah Bogor sepanjang Oktober, dan ke Jakarta pada akhir Oktober 2026. Peserta di Depok juga akan mendapat program lanjutan berupa workshop pemasaran digital untuk UMKM, sesi pengelolaan keuangan usaha, dan pelatihan pembuatan konten.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Ponsel Penanda Tangan Hilang, Seberapa Aman Dokumen Perusahaan

Ponsel penanda tangan yang hilang dapat menimbulkan risiko keamanan bagi dokumen perusahaan. Tim perlu mengetahui langkah pengamanan yang tepat agar akses dan proses tanda tangan digital tetap terkendali.

Direktur menelepon pagi-pagi, kabarnya ponselnya tertinggal di taksi semalam. Di ponsel itu terpasang aplikasi yang dipakai menandatangani dokumen perusahaan. Kejadian ponsel penanda tangan hilang seperti ini membuat banyak tim langsung panik.

Kekhawatirannya wajar. Bayangan yang muncul biasanya berupa kontrak palsu yang diteken orang lain. Tambahan lagi, tidak ada yang tahu persis dokumen apa saja yang sedang menunggu tanda tangan. Kepanikan itu justru membuat langkah penanganannya jadi berantakan.

Kabar baiknya, risikonya biasanya lebih kecil dari yang dibayangkan. Memahami Fungsi Sertifikat Elektronik membantu Anda menilai situasi dengan lebih tenang. Dari sana langkah penanganannya bisa disusun secara berurutan.

Yang Sebenarnya Berisiko Saat Ponsel Penanda Tangan Hilang

Anggapan paling umum adalah tanda tangan tersimpan di dalam ponsel. Kenyataannya tidak demikian pada layanan yang diselenggarakan secara terpusat. Kunci kriptografinya berada di perangkat pengaman milik penyelenggara sertifikasi elektronik.

Artinya, orang yang memegang ponsel Anda tidak otomatis bisa menandatangani. Ia masih harus melewati lapisan otorisasi yang dipasang di akun tersebut. Di sinilah kekuatan atau kelemahan pengamanan Anda benar-benar diuji.

Perbedaan ini juga menjelaskan satu hal yang sering ditanyakan. Mengganti perangkat tidak membuat sertifikat Anda hilang atau harus diterbitkan ulang. Akunnya cukup diakses kembali dari ponsel baru setelah verifikasi.

Titik lemah yang sebenarnya

Ancaman terbesar bukan pada berkas di ponsel, melainkan pada akses ke akun. Email dan nomor telepon menjadi pintu masuk kode verifikasi sekali pakai. Bila keduanya ikut terbuka, barulah situasinya menjadi serius.

Langkah yang Perlu Dilakukan pada Jam-Jam Pertama

Urutan penanganan lebih menentukan daripada kecepatan bertindak tanpa arah. Berikut rangkaian yang umumnya dipakai tim keamanan informasi.

1. Blokir kartu SIM melalui operator agar kode verifikasi tidak bisa diterima.

2. Ubah kata sandi email yang terdaftar pada akun penandatanganan.

3. Hubungi penyelenggara untuk menindaklanjuti status akun dan sertifikat.

4. Periksa riwayat aktivitas untuk melihat dokumen yang diproses terakhir.

5. Beri tahu mitra bila ada dokumen penting yang sedang berjalan.

6. Catat kronologinya sebagai bahan laporan internal.

Langkah keempat paling sering dilewati. Padahal catatan aktivitas memperlihatkan waktu, dokumen, dan status prosesnya. Dari situ Anda bisa menilai apakah benar terjadi penyalahgunaan atau tidak.

Peran Admin Perusahaan dan Mekanisme Pencabutan Sertifikat

Pada akun korporat, penanganannya tidak bergantung pada satu orang. Admin perusahaan dapat meninjau dan menyesuaikan akses pengguna yang bermasalah. Kendali ini membuat respons berjalan lebih cepat dibanding akun perorangan.

Penyelenggara sertifikasi elektronik juga mengenal mekanisme pencabutan sertifikat. Sertifikat yang dicabut akan terbaca statusnya saat dokumen diverifikasi. Pemeriksa dokumen dapat melihat keterangan itu melalui portal verifikasi resmi.

Bagaimana nasib dokumen yang telanjur diteken

Pertanyaan ini hampir selalu muncul dan jawabannya melegakan. Dokumen yang ditandatangani sebelum insiden umumnya tetap dapat diverifikasi. Stempel waktu pada dokumen menunjukkan kapan tanda tangan itu dibubuhkan.

Karena itu pencabutan sertifikat tidak membatalkan kontrak yang sudah berjalan. Yang dihentikan adalah kemampuan sertifikat tersebut untuk dipakai selanjutnya.

Meski begitu, keputusan mencabut sebaiknya tidak diambil sendiri. Pertimbangkan lebih dulu dokumen apa saja yang sedang dalam proses. Diskusi singkat dengan penyelenggara biasanya menghasilkan jalan tengah yang lebih aman.

Mengurangi Dampak Sebelum Ponsel Penanda Tangan Hilang

Pencegahan jauh lebih murah daripada penanganan. Beberapa kebiasaan berikut sudah menutup sebagian besar celahnya.

● Aktifkan kunci layar dan verifikasi biometrik pada perangkat kerja.

● Pisahkan akun email pribadi dari email yang dipakai menandatangani dokumen.

● Jangan pernah membagikan PIN penandatanganan kepada siapa pun, termasuk staf.

● Gunakan alur peninjau dan penyetuju agar dokumen tidak langsung diteken.

Alur persetujuan sering diremehkan padahal fungsinya berlapis. Selain merapikan proses, alur itu memberi kesempatan orang lain memeriksa dokumen. Satu dokumen mencurigakan lebih mudah tertangkap sebelum sempat diteken.

Bagi tim yang baru mempelajari cara buat tanda tangan digital, kebiasaan ini layak dibentuk sejak awal. Mengubahnya belakangan biasanya jauh lebih sulit.

Menyiapkan Prosedur Sebelum Keadaan Darurat Datang

Kehilangan perangkat bukan bencana selama akunnya dirancang berlapis. Kuncinya ada pada pemisahan akses, otorisasi bertingkat, dan riwayat yang tercatat rapi. Prosedur singkat yang disepakati bersama membuat tim tahu harus berbuat apa.

ezSign merupakan layanan PT Solusi Identitas Global Net, penyelenggara sertifikasi elektronik yang diakui Kementerian Komunikasi dan Digital. Layanannya mencakup sertifikat elektronik, tanda tangan, e-Meterai, verifikasi biometrik, serta pencatatan aktivitas dokumen. Perusahaan yang ingin memahami fungsi sertifikat elektronik sekaligus cara buat tanda tangan digital yang aman dapat menjadikannya rujukan diskusi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Apakah orang lain bisa menandatangani dokumen memakai ponsel yang hilang?

Sulit, karena masih diperlukan kode verifikasi, PIN, atau biometrik yang tidak tersimpan di perangkat.

2. Apakah sertifikat perlu langsung dicabut setelah perangkat hilang?

Sebaiknya dikonsultasikan dengan penyelenggara, karena pencabutan menghentikan pemakaian sertifikat tersebut untuk seterusnya.

3. Apakah dokumen lama ikut batal bila sertifikatnya dicabut?

Tidak, dokumen yang ditandatangani sebelumnya umumnya tetap dapat diverifikasi lewat stempel waktunya.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES