Belitung Setelah UNESCO Geopark: Slow Traveling di Pulau yang Baru Ditemukan Dunia
Pulau yang Baru Saja Ditemukan Dunia
Sebuah pita tipis aspal berkelok melalui desa-desa rindang yang memeluk garis pantai Belitung. Sesekali, sebuah skuter—penuh penumpang—melintas. Rasanya seperti memiliki pulau Indonesia ini hampir untuk diri sendiri. Pulau berbentuk sepatu bot di lepas pantai Sumatra ini sering dijuluki “Maldives-nya Indonesia” berkat terumbu perawannya, laut turquoise, formasi granit Triasik, dan pengakuan status UNESCO Global Geopark yang dikonfirmasi tahun lalu—sebuah penetapan yang bertujuan melindungi lingkungan alam dan mendorong pembangunan holistik dan berkelanjutan.
Hingga kini, Belitung masih berada di luar jalur wisata arus utama. Namun, berkat pengakuan UNESCO, penerbangan langsung baru dari Singapura, dan hotel-hotel ramah lingkungan yang mulai beroperasi, kondisi ini tidak akan bertahan lama. Warga lokal sama antusiasnya menyambut tamu baru, namun mereka juga bertekad menciptakan cetak biru untuk pariwisata berkelanjutan.
Bukit Peramun: Gerbang ke 17 Geosite
Ada 17 geosite yang tersebar di seluruh pulau. Yang pertama dikunjungi adalah Bukit Peramun, sebuah taman berjarak 30 menit berkendara dari pantai. Pemandu lokal, Jimie Afrian, memandu melalui hutan kayu besi dan pohon ara liar, menuju puncak saat matahari terbenam. Sepanjang jalur yang dipenuhi dedaunan, ia menunjukkan akar ginseng yang diubah menjadi obat herbal dan Batu Kember (Batu Kembar), yang dahulu digunakan untuk mengonfirmasi apakah seseorang siap menikah. Remaja dari lima desa sekitar akan mendaki hutan dan berdiri di antara batu granit raksasa, merentangkan tangan. Jika mereka bisa menyentuh kedua batu dengan kedua tangan, mereka dianggap telah mencapai kedewasaan.
Ada masa ketika pengunjung bisa menjelajahi jalur ini sendirian; kini semua orang memerlukan pemandu untuk menemani mereka melalui hutan yang dikelola komunitas ini, yang menjadi rumah bagi trenggiling, rangkong, dan kancil.
Tarsius Belitung: Bintang Sejati yang Terancam
Saat berdiri di platform pandang kayu yang menghadap lanskap tambal sulam yang dihiasi pertanian, perkebunan kelapa sawit, dan hutan, Afrian tampak sangat menyadari tanggung jawabnya. “Ini hanya 60 hektar, tapi kami akan melindunginya,” ujarnya, menatap ke kejauhan. Matahari akan terbenam, jadi kami melanjutkan ke titik tertinggi di taman, di mana warga lokal telah membuat restoran pop-up. Di sini, pengunjung menikmati pemandangan pedesaan yang panoramik sambil menyeruput teh dan mencelupkan potongan singkong segar ke madu lokal. Langit di atas taman mengalahkan filter ponsel mana pun. Warnanya berubah menjadi nuansa oker dan lilac saat matahari turun di balik perbukitan di cakrawala. Sungguh menakjubkan, tetapi matahari terbenam bukanlah acara utama. Untuk itu, kami perlu kembali ke hutan. Para penjaga sudah berjalan di depan kami dengan lampu inframerah untuk menemukan bintang sejati taman ini—tarsius Belitung yang terancam punah.
Sudut Pandang: Slow Traveling sebagai Bentuk Perlindungan
Pengakuan UNESCO bukan sekadar gelar, melainkan komitmen. Belitung menunjukkan bahwa pariwisata dapat menjadi alat konservasi jika dikelola dengan benar. Dengan 17 geosite yang tersebar, setiap kunjungan harus didampingi pemandu lokal—bukan untuk membatasi, melainkan untuk memastikan bahwa pengetahuan dan nilai ekologis tersampaikan dengan benar.
Bagi wisatawan yang lelah dengan destinasi yang penuh sesak, Belitung menawarkan ritme yang berbeda. Slow traveling bukan tentang mencapai sebanyak mungkin tempat dalam waktu sesingkat mungkin, melainkan tentang meresapi setiap momen—menyaksikan tarsius melompat dari satu dahan ke dahan lain, mendengarkan cerita rakyat dari pemandu, dan menyadari bahwa keindahan sejati Belitung terletak pada keseimbangan antara alam dan manusia.
