Evakuasi Berhasil, Koops TNI Habema Perkuat Pengamanan dan Kejar Pelaku di Yahukimo

Yahukimo, Papua Pegunungan, 5 Juli 2026 – Koops TNI Habema bergerak cepat mengevakuasi jenazah pilot pesawat PT
AMA Air PK-RCY, Nicholas F. Goselin, yang menjadi korban penembakan di Bandara
Ipdeheik, Kampung Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Jumat (3/7).
Di waktu yang sama, tim patroli juga diterjunkan untuk melakukan penyisiran dan
pengejaran terhadap pelaku penembakan pilot serta pembakaran pesawat.

Operasi evakuasi dilaksanakan dengan mengedepankan
kecepatan, ketelitian, dan faktor keamanan mengingat lokasi kejadian berada di
wilayah pegunungan yang sulit dijangkau. Sebanyak 10 personel Koops TNI Habema
diterjunkan dengan dukungan dua helikopter Caracal sehingga proses evakuasi
dapat berjalan secara aman dan terkoordinasi.

Berkat operasi yang berjalan lancar, jenazah Nicholas F.
Goselin berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian dan diterbangkan menuju Timika
menggunakan dukungan udara Koops TNI Habema. Selanjutnya, jenazah diserahkan
kepada pihak yang berwenang untuk penanganan lebih lanjut sesuai prosedur yang
berlaku.

Kepala Penerangan Koops TNI Habema, M.Wirya Arthadiguna
, S.H, M.Si,
menyampaikan duka cita yang mendalam atas
meninggalnya pilot PT AMA Air sekaligus menegaskan komitmen Koops TNI Habema
dalam menjaga keamanan wilayah. “Kami menyampaikan duka cita yang mendalam
atas gugurnya pilot PT AMA Air. Koops TNI Habema berkomitmen mendukung proses
evakuasi, menjaga keamanan wilayah, serta membantu penegakan hukum. Tim patroli
juga terus melaksanakan penyisiran dan pengejaran terhadap para pelaku. Kami
akan terus bersinergi dengan seluruh unsur terkait agar keamanan masyarakat dan
pelayanan penerbangan perintis di Papua tetap terjaga.”

Sejalan dengan komitmen tersebut, tim patroli Koops TNI
Habema terus bergerak melakukan penyisiran dan pengejaran bersama unsur
terkait. Langkah ini dilakukan untuk mendukung proses penegakan hukum sekaligus
memastikan situasi keamanan di Kabupaten Yahukimo tetap kondusif.

Selain operasi
pengejaran, Koops TNI Habema bersama unsur terkait memperkuat pengamanan di
sekitar lokasi kejadian guna mendukung proses penyelidikan. Pengamanan juga
dilakukan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat serta menjaga kelancaran
penerbangan perintis yang menjadi jalur penting bagi wilayah pedalaman Papua.

Bagi masyarakat Papua
Pegunungan, penerbangan perintis memiliki peran yang sangat vital. Moda
transportasi ini menjadi penghubung distribusi logistik, pelayanan kesehatan,
pendidikan, hingga kebutuhan masyarakat di daerah yang sulit dijangkau melalui
jalur darat.

Koops TNI Habema
memastikan koordinasi dengan aparat penegak hukum dan instansi terkait akan
terus diperkuat. Pengamanan wilayah, pendalaman kronologi kejadian, hingga
operasi pengejaran terhadap para pelaku akan terus dilakukan untuk menjaga
stabilitas keamanan di Yahukimo dan wilayah sekitarnya.

Keberhasilan operasi
evakuasi ini menjadi bukti bahwa di tengah tantangan medan Papua yang berat,
keselamatan dan kemanusiaan tetap menjadi prioritas. Bersamaan dengan itu,
Koops TNI Habema akan terus hadir menjaga keamanan, mendukung penegakan hukum,
serta memastikan masyarakat Papua dapat beraktivitas dengan tenang dan
pelayanan penerbangan perintis tetap berjalan demi menghubungkan harapan di
setiap pelosok negeri.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Cara Memisahkan Uang Pribadi dan Uang Usaha agar Bisnis Lebih Tertata

Memisahkan uang pribadi dan uang usaha adalah salah satu langkah sederhana yang dapat membantu pelaku usaha mengelola keuangan dengan lebih rapi. Sayangnya, masih banyak UMKM dan pemilik bisnis yang menggunakan satu rekening untuk semua transaksi. Akibatnya, pemasukan usaha, belanja operasional, hingga kebutuhan pribadi bercampur menjadi satu.

Kondisi ini membuat keuntungan bisnis sulit dihitung. Bahkan, tidak sedikit pelaku usaha yang merasa omzet terus bertambah, tetapi saldo rekening tidak pernah benar-benar mencerminkan perkembangan usahanya.

Lalu, bagaimana cara memisahkan keuangan bisnis dengan lebih praktis?

Kenapa Uang Pribadi dan Uang Usaha Harus Dipisahkan?

Saat bisnis masih baru berjalan, menggunakan satu rekening memang terasa lebih praktis. Namun, seiring bertambahnya transaksi, cara ini justru bisa menyulitkan.

Beberapa dampaknya antara lain:

– Sulit mengetahui keuntungan usaha.

– Pengeluaran pribadi dan operasional tercampur.

– Arus kas menjadi kurang jelas.

– Pencatatan keuangan memakan waktu lebih lama.

– Evaluasi kondisi bisnis menjadi kurang akurat.

Memisahkan rekening membantu setiap transaksi memiliki tujuan yang lebih jelas.

Gunakan Rekening Khusus untuk Bisnis

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah memiliki rekening usaha yang digunakan khusus untuk aktivitas bisnis.

Misalnya untuk:

– Menerima pembayaran pelanggan.

– Membayar supplier.

– Membayar operasional usaha.

– Menyimpan hasil penjualan.

Sementara itu, kebutuhan pribadi tetap menggunakan rekening yang berbeda.

Kebiasaan sederhana ini membuat arus kas lebih mudah dipantau dari waktu ke waktu.

Tentukan Gaji untuk Diri Sendiri

Banyak pemilik usaha mengambil uang dari hasil penjualan kapan saja saat membutuhkan. Padahal, cara ini membuat keuntungan bisnis sulit dihitung.

Coba tentukan nominal tertentu sebagai “gaji” yang dipindahkan dari rekening usaha ke rekening pribadi setiap bulan. Dengan begitu, kebutuhan pribadi tidak lagi bercampur dengan uang operasional bisnis.

Catat Semua Transaksi

Sekecil apa pun nominalnya, biasakan mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran usaha.

Misalnya:

– Penjualan harian

– Pembelian stok

– Ongkos kirim

– Biaya operasional

– Pembayaran supplier

Pencatatan yang konsisten membantu melihat kondisi keuangan bisnis secara lebih menyeluruh.

Sisihkan Dana untuk Pengembangan Usaha

Tidak semua keuntungan perlu langsung digunakan.

Sebagian pelaku usaha memilih menyisihkan sebagian laba untuk kebutuhan seperti:

– Menambah stok barang

– Membeli peralatan baru

– Membuka cabang

– Dana operasional 

Cara ini membantu bisnis memiliki ruang untuk terus berkembang tanpa mengganggu kebutuhan pribadi.

Kapan Sebaiknya Buka Rekening Atas Nama Usaha?

Banyak orang mengira buka rekening atas nama usaha baru diperlukan ketika bisnis sudah memiliki omzet besar.

Padahal, rekening usaha sudah bisa dipertimbangkan sejak usaha mulai menerima transaksi secara rutin, baik toko online, usaha kuliner, jasa, maupun UMKM lainnya.

Semakin cepat keuangan dipisahkan, semakin mudah pula memantau perkembangan bisnis dari waktu ke waktu.

Kelola Transaksi Bisnis Lebih Praktis dengan Rekening Neo Bisnis

Kalau ingin memisahkan keuangan usaha dari rekening pribadi, Rekening Neo Bisnis dari Bank Neo Commerce dapat menjadi salah satu pilihan yang bisa dipertimbangkan.

Neo Bisnis dirancang untuk mendukung kebutuhan transaksi pelaku usaha melalui berbagai fitur yang memudahkan pengelolaan bisnis, antara lain:

– Pencatatan kas masuk dan kas keluar secara otomatis

– Bunga tabungan kompetitif*

– Gratis transfer antarbank hingga 90 kali per bulan

– Pembuatan QRIS merchant yang praktis dan mudah

Pencairan dana hasil transaksi QRIS hingga 3 kali sehari, termasuk saat akhir pekan dan hari libur nasional untuk transaksi yang diproses sebelum pukul 14.00 WIB

Semua fitur tersebut dapat diakses melalui satu aplikasi sehingga aktivitas transaksi bisnis menjadi lebih praktis.

Sebelum membuka rekening, pastikan kamu memahami fitur produk, manfaat, biaya, risiko, serta syarat dan ketentuan yang berlaku.

***

Jika ingin mulai menggunakan Neo Bisnis, unduh aplikasi neobank melalui PlayStore atau App Store. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi halaman Neo Bisnis di website resmi Bank Neo Commerce.

*Perhatikan tingkat bunga penjaminan yang ditetapkan LPS. Tabungan dengan bunga melebihi tingkat bunga penjaminan tidak dijamin oleh LPS. Tingkat bunga penjaminan LPS sampai 30 September 2026 adalah 3,50% per tahun

PT Bank Neo Commerce Tbk berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), serta merupakan bank peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). 

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

100 Santri Ikut Merasakan Kemeriahan Junior Miners Fun Fest 2026

JAKARTA — Di tengah kemeriahan Junior Miners Fun Fest (JMFF) 2026 yang digelar di Avenue of The Stars, Lippo Mall Kemang Village, Jakarta Selatan, Jumat (3/7/2026), ada momen yang menghangatkan.

Sebanyak 100 santri tingkat sekolah dasar dari Pondok Pesantren Darul Kirom hadir dan menjadi bagian dari pengalaman belajar yang tidak biasa, mengenal dunia pertambangan langsung melalui berbagai wahana edukatif interaktif.

Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menyerahkan langsung bantuan pendidikan kepada para santri sebagai bagian dari komitmen MIND ID bersama seluruh anggota Grup dalam mendukung pemerataan akses pendidikan yang berkualitas bagi generasi muda Indonesia.

MIND ID menyalurkan 100 paket perlengkapan sekolah, yang mencakup paket berisi tas, tempat pensil, buku tulis, buku cerita, pulpen, pensil, penghapus, penggaris, rautan, tumbler, krayon, dan buku gambar.

Selama mengikuti JMFF 2026, para santri menjelajahi berbagai wahana bertema operasional pertambangan yang mencerminkan kegiatan nyata Grup MIND ID dari Sumatra Utara hingga Papua Tengah.

Pengalaman ini memberikan gambaran langsung tentang dunia industri pertambangan sekaligus membuka wawasan baru tentang peluang dan profesi yang dapat mereka raih di masa depan.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Darul Kirom, KH Ahmad Kamaludin, menyampaikan apresiasi atas konsistensi MIND ID dalam mendukung pendidikan para santri.

“Anak-anak sangat antusias dan mendapatkan pengalaman baru. Mereka bisa melihat langsung hal-hal yang sebelumnya hanya mereka ketahui dari pembelajaran di kelas. Ini menjadi pengalaman yang berkesan bagi mereka,” ujarnya.

Ia menambahkan, dukungan MIND ID telah memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi pondok pesantren.

“MIND ID sudah lama membantu kami, baik melalui perlengkapan sekolah maupun dukungan lainnya. Harapan kami, kerja sama ini terus berlanjut dan semakin memberi manfaat,” katanya.

MIND ID konsisten menghadirkan pengalaman belajar yang inovatif, sekaligus juga menanamkan mimpi dan kepercayaan diri bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam pembangunan generasi emas Indonesia yang unggul secara akademis, sekaligus juga memiliki wawasan, keberanian, dan semangat untuk menjadi bagian pembangunan peradaban masa depan Indonesia.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Di Balik Perjalanan Nyaman, Begini Cara LRT Jabodebek Menjaga Kebersihan Stasiun dan Kereta Setiap Hari

Di balik kebersihan stasiun dan kereta LRT Jabodebek yang dinikmati pengguna setiap hari, terdapat sistem pengelolaan kebersihan yang berlangsung sejak sebelum operasional dimulai, selama perjalanan kereta berlangsung, hingga seluruh rangkaian kembali ke depo setelah layanan berakhir.

Untuk menjaga standar kebersihan tersebut, LRT Jabodebek menyiagakan sebanyak 524 petugas kebersihan yang bekerja di seluruh lintas pelayanan. Mereka bertugas secara bergantian untuk memastikan kebersihan area stasiun, rangkaian kereta, hingga fasilitas pendukung lainnya tetap terpelihara setiap hari.

Petugas kebersihan tersebut terdiri atas 3 kelompok utama, yaitu 60 petugas On Trip Cleaning yang menjaga kebersihan selama perjalanan kereta berlangsung, 48 petugas pencuci interior kereta di Depo LRT Jabodebek yang memastikan setiap rangkaian siap beroperasi dan dalam kondisi bersih, serta 416 petugas kebersihan yang tersebar di seluruh stasiun untuk merawat area publik, mulai dari hall, peron, ruang tunggu, toilet, lift, eskalator, hingga fasilitas pendukung lainnya agar tetap bersih, rapi, dan nyaman digunakan oleh seluruh pengguna.

Manager of Public Relation LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, mengatakan bahwa LRT Jabodebek terus berupaya menjaga pengelolaan kebersihan yang dilakukan secara menyeluruh, karena menjadi salah satu aspek layanan yang langsung dirasakan oleh masyarakat.

“Kebersihan di LRT Jabodebek tidak hanya dilakukan sebelum atau setelah operasional. Selama kereta melayani pengguna, petugas On Trip Cleaning terus memantau dan menjaga kebersihan interior agar perjalanan tetap nyaman & terjaga,” ujarnya.

Penguatan layanan kebersihan tersebut sejalan dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat untuk menggunakan LRT Jabodebek. Selama periode Januari – Mei 2026, LRT Jabodebek melayani 13.211.856 pengguna, meningkat sekitar 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang tercatat 10.727.798 pengguna.

Peningkatan tersebut juga tercermin dari rata-rata jumlah pengguna harian pada hari kerja yang naik dari sekitar 98 ribu pengguna pada periode Januari – Mei 2025 menjadi sekitar 120 ribu pengguna pada periode yang sama tahun 2026. Bertambahnya volume perjalanan masyarakat tersebut mendorong LRT Jabodebek untuk terus menjaga kualitas pelayanan, termasuk memastikan kebersihan stasiun dan kereta tetap terpelihara di tengah meningkatnya aktivitas pengguna.

Selain pembersihan rutin, petugas juga melakukan sanitasi fasilitas, pemantauan area dengan intensitas aktivitas tinggi, serta respons cepat terhadap kondisi yang memerlukan penanganan khusus. Penempatan petugas di setiap stasiun juga disesuaikan dengan karakteristik dan volume pengguna sehingga kebersihan fasilitas dan layanan dapat tetap terjaga sepanjang jam operasional.

“Kebersihan bukan sekadar menjaga tampilan fasilitas, namun bagian dari upaya menghadirkan pengalaman perjalanan yang nyaman bagi masyarakat. Melalui pengelolaan kebersihan yang dilakukan setiap hari, KAI ingin memastikan setiap pengguna LRT Jabodebek memperoleh layanan yang berkualitas dan semakin percaya untuk menjadikan transportasi publik sebagai pilihan mobilitas sehari-hari,” tutup Radhitya.

Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES

BRI Finance Bidik Pertumbuhan Pembiayaan EV untuk Perkuat Portofolio Berkelanjutan

Jakarta, 8 Juni 2026 – Upaya pemerintah dalam mempercepat transisi menuju transportasi berkelanjutan terus menunjukkan sinyal positif. Salah satunya melalui kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang memberikan pembebasan pajak kendaraan listrik, yang dinilai dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan ekosistem kendaraan ramah lingkungan di Indonesia.

PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) memandang kebijakan tersebut sebagai langkah strategis yang tidak hanya meningkatkan daya tarik kendaraan listrik di mata konsumen, tetapi juga membuka peluang lebih besar bagi pengembangan pembiayaan berkelanjutan (green financing) di sektor multifinance.

Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengatakan, “Kebijakan pembebasan pajak kendaraan listrik memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang sedang mempertimbangkan penggunaan kendaraan listrik sebagai sarana mobilitas sehari-hari. Di sisi lain, kebijakan ini juga menjadi pendorong bagi industri pembiayaan untuk semakin aktif mendukung pengembangan ekosistem kendaraan ramah lingkungan melalui penyaluran pembiayaan yang lebih luas.”

BRI Finance melihat kendaraan listrik sebagai salah satu segmen yang memiliki potensi pertumbuhan yang signifikan di masa depan. Oleh karena itu, Perseroan terus memperkuat strategi bisnis untuk menangkap peluang tersebut melalui perluasan kerja sama dengan berbagai Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM), dealer resmi, serta mitra strategis di industri otomotif nasional.

Selain memperkuat jaringan kemitraan, BRI Finance juga terus mengoptimalkan kanal pemasaran digital dan konvensional guna meningkatkan akses masyarakat terhadap berbagai solusi pembiayaan kendaraan. Seluruh upaya tersebut tetap dijalankan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang terukur untuk menjaga kualitas portofolio pembiayaan Perseroan.

Komitmen BRI Finance dalam mendukung pembiayaan kendaraan listrik tercermin dari kinerja yang berhasil dicatatkan sepanjang tahun berjalan. Hingga Maret 2026, pembiayaan kendaraan listrik Perseroan tumbuh sebesar 13,74 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin besarnya minat masyarakat terhadap kendaraan listrik, meskipun saat ini portofolio pembiayaan kendaraan konvensional masih mendominasi keseluruhan pembiayaan otomotif Perseroan.

Tren positif tersebut juga sejalan dengan perkembangan industri multifinance nasional. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran pembiayaan kendaraan listrik oleh perusahaan pembiayaan di Indonesia mencapai Rp22,5 triliun per Maret 2026 atau tumbuh 35,27% secara tahunan (year-on-year).

“BRI Finance akan terus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan melalui penguatan portofolio pembiayaan hijau yang sejalan dengan arah kebijakan pemerintah. Kami optimistis pertumbuhan kendaraan listrik akan terus berlanjut dan menjadi salah satu motor pertumbuhan industri pembiayaan pada masa mendatang,” tutup Dhani.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Bawa Pulang Mobil Baru Lebih Ringan Bersama KKB BRI Finance 3,97% Flat

Jakarta, 9 Juni 2026 – Di tengah perubahan pola mobilitas masyarakat dan meningkatnya kebutuhan akan kendaraan yang mendukung aktivitas sehari-hari, kepemilikan mobil baru masih menjadi aspirasi banyak keluarga Indonesia. Tidak hanya sebagai sarana transportasi, kendaraan kini dipandang sebagai aset penunjang produktivitas, kenyamanan, serta fleksibilitas dalam menjalani berbagai aktivitas. Kondisi tersebut turut mendorong kebutuhan akan solusi pembiayaan yang mampu memberikan kemudahan akses kepemilikan kendaraan dengan skema yang lebih terjangkau.

Menjawab kebutuhan tersebut, PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) menghadirkan program pembiayaan mobil baru dengan bunga mulai dari 3,97% flat per tahun dan tenor hingga lima tahun. Program ini dirancang untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat yang ingin memiliki kendaraan baru melalui skema pembiayaan yang kompetitif dan proses pengajuan yang praktis.

Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengatakan, “Bagi banyak masyarakat, memiliki mobil baru merupakan salah satu tujuan finansial yang membutuhkan perencanaan yang matang. Oleh karena itu BRI Finance berupaya menghadirkan solusi pembiayaan yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga memberikan kemudahan dan fleksibilitas sehingga rencana memiliki kendaraan dapat diwujudkan dengan lebih cepat dan terjangkau.”

Program pembiayaan mobil baru BRI Finance menawarkan berbagai keuntungan, mulai dari suku bunga yang kompetitif, pilihan tenor yang fleksibel hingga lima tahun, serta proses pengajuan yang mudah melalui berbagai kanal layanan yang tersedia.

Sebagai bagian dari BRI Group, BRI Finance terus berkomitmen menghadirkan solusi pembiayaan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Perseroan melihat bahwa kendaraan pribadi masih menjadi salah satu kebutuhan penting, baik untuk menunjang aktivitas pekerjaan, mendukung mobilitas keluarga, maupun meningkatkan produktivitas sehari-hari.

“Kami memahami bahwa kebutuhan setiap nasabah berbeda. Produk dan layanan BRI pun kami sesuaikan untuk memberikan nilai tambah serta membantu masyarakat memperoleh akses pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial mereka,” tambah Dhani.

Melalui program ini, BRI Finance berharap dapat mendukung semakin banyak masyarakat Indonesia dalam mewujudkan kepemilikan kendaraan baru dengan proses yang mudah, aman, dan terpercaya. Informasi lebih lanjut mengenai program pembiayaan mobil baru BRI Finance dapat diperoleh melalui situs resmi BRI Finance atau layanan WhatsApp resmi perusahaan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Perkuat Good Corporate Governance, BRI Finance Gandeng Kejaksaan Negeri Padang

Padang, 6 Juni 2026 – PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) terus memperkuat komitmennya dalam menerapkan tata kelola perusahaan yang baik serta pengelolaan risiko yang prudent melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Kejaksaan Negeri Padang. Penandatanganan kerja sama tersebut dilaksanakan di Kantor Kejaksaan Negeri Padang pada Jumat, 5 Juni 2026.

Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat sinergi antara BRI Finance dan Kejaksaan Negeri Padang, khususnya dalam penanganan permasalahan hukum di bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (TUN). Melalui kolaborasi ini, BRI Finance memperoleh dukungan pendampingan hukum yang diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penyelesaian berbagai permasalahan hukum secara profesional, akuntabel, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Kegiatan penandatanganan dihadiri oleh Kepala Kejaksaan Negeri Padang, Dr. Koswara, S.H., M.H., beserta jajaran, serta Kepala Cabang BRI Finance Padang, Basrial. Kehadiran kedua institusi tersebut mencerminkan komitmen bersama dalam membangun kerja sama yang berlandaskan prinsip kepastian hukum, integritas, dan profesionalisme.

Melalui perjanjian kerja sama ini, Kejaksaan Negeri Padang akan memberikan bantuan hukum, pertimbangan hukum, serta tindakan hukum lainnya dalam kapasitasnya sebagai Jaksa Pengacara Negara kepada BRI Finance sesuai dengan kewenangan yang dimiliki. Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya mitigasi risiko hukum sekaligus mendukung pengelolaan portofolio pembiayaan yang sehat dan berkelanjutan.

Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan Kejaksaan Negeri Padang merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam memperkuat fondasi hukum dan tata kelola bisnis di tengah dinamika industri pembiayaan yang terus berkembang.

“Kerja sama ini merupakan bentuk komitmen BRI Finance untuk selalu menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip kehati-hatian dan kepatuhan terhadap ketentuan hukum yang berlaku. Kami meyakini bahwa dukungan dari Kejaksaan Negeri Padang akan semakin memperkuat kemampuan perusahaan dalam melakukan mitigasi risiko hukum, menjaga kualitas aset, serta mendukung pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan,” ujar Dhani.

Kepastian hukum menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas operasional perusahaan dan meningkatkan kepercayaan para pemangku kepentingan terhadap industri pembiayaan. Melalui kerja sama ini, BRI Finance optimistis dapat terus memperkuat aspek tata kelola dan kepastian hukum dalam setiap aktivitas bisnisnya, sehingga mampu memberikan layanan pembiayaan yang aman, terpercaya, dan berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang.

“Sinergi yang terjalin melalui kerja sama ini tidak hanya memberikan manfaat bagi kedua institusi, tetapi juga menjadi wujud nyata kolaborasi antara sektor jasa keuangan dan aparat penegak hukum dalam menciptakan iklim usaha yang lebih sehat, profesional, dan berintegritas. Kami berharap kerja sama ini dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan sekaligus mendukung terciptanya ekosistem pembiayaan yang semakin kuat dan berkelanjutan,” tutup Dhani.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Belajar dari Indonesia: Ketika Sebuah Negeri Mengubah Cara Pandang Hidup

Oleh Gunjan Prasad*

Jakarta — Salah satu konsekuensi tak terduga ketika membangun kehidupan di negara lain adalah tanpa disadari kita berubah menjadi seorang antropolog. Selama hampir dua belas tahun Indonesia menjadi rumah bagi keluarga kami, saya merasa cukup hanya dengan mengamati.

Baru ketika diminta menulis refleksi ini saya mulai mencari kata-kata untuk menjelaskan apa yang selama ini saya rasakan. Saya bertanya kepada teman-teman Indonesia, mencarinya di Google, bahkan bertanya kepada ChatGPT apakah bahasa Indonesia memiliki istilah untuk menggambarkan berbagai nilai yang diam-diam saya kagumi selama tinggal di sini. Sebagian memang memiliki padanan kata. Namun sebagian lainnya, seperti martabat yang tenang dalam cara masyarakat Indonesia menjalani hidup, terasa sulit diterjemahkan ke dalam bahasa lain.

Tulisan ini lahir dari berbagai pengalaman yang paling dekat dengan kehidupan saya di Indonesia: rumah, keluarga, lingkungan sekitar, sekolah anak-anak, spiritualitas, makanan, hingga kebudayaan.

Pelajaran pertama yang saya dapatkan dari Indonesia datang jauh sebelum saya mengetahui bahwa nilai itu memiliki sebuah nama.

Pelajaran itu saya temukan di rumah.

Apabila salah satu anggota staf rumah tangga kami menyelesaikan pekerjaannya lebih dahulu, ia akan membantu rekan lainnya tanpa diminta. Ketika ada yang sedang sakit, pekerjaan berpindah tangan begitu saja, hampir tanpa terlihat. Tidak pernah terdengar pertanyaan, “Itu tugas siapa?” Mereka hanya melihat apa yang perlu dilakukan, lalu mengerjakannya bersama. Rumah kami terasa berjalan bukan sebagai tempat kerja dengan pembagian tugas yang kaku, melainkan sebagai sebuah komunitas kecil.

Awalnya saya mengira kami hanya beruntung memiliki orang-orang yang luar biasa.

Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari bahwa yang saya saksikan sebenarnya adalah salah satu naluri budaya paling mendasar di Indonesia.

Gotong royong.

Dalam bahasa Inggris istilah ini sering diterjemahkan sebagai mutual cooperation. Namun terjemahan itu terasa terlalu kaku. Gotong royong bukan sekadar bekerja sama karena seseorang meminta bantuan. Nilai itu lahir dari keyakinan bahwa kesejahteraan saya dan kesejahteraan Anda saling berkaitan.

Begitu saya mulai memahami maknanya, saya melihat gotong royong hadir hampir di mana-mana.

Saya menemukannya kembali di sekolah internasional tempat anak-anak kami belajar. Seperti banyak keluarga ekspatriat lainnya, kami datang dengan harapan yang tidak jauh berbeda. Kami ingin anak-anak berprestasi, menemukan bakat mereka, dan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.

Sekolah tentu mendorong mereka untuk meraih prestasi. Namun pada saat yang sama, sekolah juga mengajarkan sesuatu yang lebih penting, yaitu bahwa keberhasilan tidak boleh diraih dengan mengorbankan orang lain. Di ruang kelas, lapangan olahraga, kegiatan seni, maupun proyek pelayanan masyarakat, anak-anak terus menerima pesan yang sama. Jika kita memiliki kesempatan untuk berhasil, maka kita juga memiliki tanggung jawab membantu orang lain berkembang bersama kita. Prestasi memang penting, tetapi memberikan ruang bagi orang lain untuk berhasil sama pentingnya.

Ada lagi satu kata yang menurut saya hampir mustahil diterjemahkan dengan tepat, yaitu ramah.

Bahasa Inggris biasanya menerjemahkannya sebagai friendliness. Namun bagi saya, ramah lebih merupakan cara menyambut seseorang. Sebuah kemampuan sederhana untuk membuat orang lain merasa diterima bahkan sebelum mereka melakukan apa pun.

Saya menemukannya di tempat-tempat yang paling biasa.

Saat mewawancarai narasumber ketika masih menjadi jurnalis lepas, berbincang dengan pengemudi Grab, bermain bridge, duduk di salon langganan, berbelanja di pasar tradisional, hingga dalam percakapan-percakapan kecil yang diawali dengan bahasa Indonesia saya yang masih terbata-bata.

Lebih sering daripada yang saya bayangkan, kesalahan saya dalam berbahasa tidak disambut dengan koreksi, melainkan dengan senyum dan kegembiraan yang tulus. Sebagai seorang ekspatriat, saya tidak pernah merasa harus “membuktikan diri” agar diterima. Keramahan di Indonesia bukan sekadar membuat orang merasa disambut, melainkan membuat mereka hampir tidak pernah merasa sebagai orang asing.

Kemudian saya mengenal makna ikhlas.

Selama tinggal di Indonesia, kami berkesempatan bekerja bersama banyak orang Indonesia yang luar biasa. Etos kerja mereka sangat tinggi, loyalitasnya tidak pernah diragukan, standar kerjanya sangat baik, dan semangat belajar mereka selalu menginspirasi.

Namun, yang paling membekas justru bukan semua itu.

Yang paling saya ingat adalah betapa kecilnya keinginan mereka untuk mencari pengakuan atas apa yang telah mereka lakukan. Kini saya memahami bahwa mungkin itulah makna ikhlas: melakukan sesuatu sepenuh hati tanpa terus-menerus berharap dipuji atau diakui.

Bersamaan dengan itu saya juga belajar mengenai harga diri.

Di balik kesopanan masyarakat Indonesia tersimpan rasa hormat terhadap diri sendiri yang sangat kuat. Ketika kepercayaan rusak atau rasa hormat hilang, jarang sekali saya melihat kemarahan yang meledak-ledak. Yang lebih sering terjadi justru seseorang memilih menjaga jarak dengan tenang. Ada hal-hal yang tidak dapat diperbaiki hanya melalui penjelasan atau negosiasi.

Indonesia juga memiliki satu kata yang sangat saya sukai: adem.

Kata ini bukan hanya berarti sejuk. Adem adalah perasaan ketika segala sesuatu terasa tenang dan berada pada tempatnya. Itulah yang selalu saya rasakan setiap kali duduk bermain bridge di Jakarta.

Indonesia melahirkan banyak pemain bridge terbaik yang pernah saya temui. Kemampuan teknis mereka luar biasa dan mereka selalu mengikuti perkembangan strategi terbaru. Namun yang paling mengesankan bukanlah kecerdasannya, melainkan ketenangannya. Mereka tidak pernah merasa perlu memamerkan kemampuan. Di Indonesia, rasa percaya diri dan kerendahan hati ternyata dapat berjalan berdampingan.

Saya juga mengira selama ini telah memahami arti sabar.

Ternyata Indonesia mengajarkan makna yang jauh lebih dalam.

Sabar bukan sekadar kemampuan menunggu, tetapi keyakinan bahwa proses tidak harus selalu dipercepat. Saat membesarkan dua putra kami hingga beranjak dewasa, saya sering mengingat pelajaran tersebut. Ada hal-hal dalam hidup yang memang tidak bisa dipaksa. Kita hanya bisa merawatnya dengan penuh kasih dan percaya bahwa semuanya akan berkembang pada waktunya sendiri.

Dan mungkin sabar selalu berjalan berdampingan dengan sahabatnya yang paling setia: syukur.

Sabar mengajarkan kita untuk percaya pada sesuatu yang masih berproses. Syukur mengingatkan kita untuk menghargai apa yang telah kita miliki hari ini.

Setiap kali kami memulai perjalanan, sopir kami selalu mengucapkan doa singkat. Ketika kami tiba di tujuan, doa lain kembali dipanjatkan. Tidak ada seremoni. Tidak ada penonton. Hanya ungkapan syukur yang sederhana.

Lama-kelamaan saya menyadari bahwa rasa syukur tidak harus menunggu peristiwa besar dalam hidup. Tiba di tujuan dengan selamat pun sudah cukup menjadi alasan untuk bersyukur. Pelajaran sederhana itu kini menjadi salah satu yang paling saya hargai.

Ada satu bagian yang sengaja tidak saya ceritakan di sini.

Hubungan saya dengan makanan Indonesia rasanya layak mendapat tulisan tersendiri.

Cukuplah saya katakan bahwa isi dapur kami pun perlahan berubah. Ketumbar dan jintan kini berbagi tempat dengan kemiri, terasi, daun jeruk, dan kecap manis. Berbagai resep yang dahulu saya coba karena rasa penasaran kini justru menjadi hidangan favorit keluarga, bahkan lebih sering diminta dibanding makanan yang kami nikmati sejak kecil. Tanpa saya sadari, perubahan isi dapur itu ternyata sedang menceritakan kisah yang jauh lebih besar.

Baru ketika menulis refleksi ini saya menyadari betapa dalam Indonesia telah menjadi bagian dari kehidupan keluarga kami.

Kami kini sedikit lebih lambat menghakimi orang lain, sedikit lebih cepat merangkul mereka, sedikit lebih sabar, dan jauh lebih mudah bersyukur.

Mungkin memang begitulah hidup di negara lain dalam waktu yang cukup lama.

Suatu hari kita menyadari bahwa negeri itu tidak lagi sekadar tempat tinggal sementara. Ia telah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita, dan perlahan ikut membentuk siapa diri kita sebenarnya.

*Gunjan Prasad adalah penulis asal India yang telah tinggal di Indonesia selama hampir 12 tahun. Melalui pengalaman hidup bersama keluarganya di Indonesia, ia banyak menulis tentang budaya, masyarakat, pendidikan, serta pengalaman lintas budaya yang memperkaya hubungan antara Indonesia dan India.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Ikatan Indonesia–India yang Tak Terpisahkan

Oleh Ashish Bharadwaj* dan Manjeet Kripalani**

Jakarta — India dan Indonesia dipisahkan oleh Samudra Hindia, tetapi dipersatukan oleh sejarah, budaya, perdagangan, dan nilai-nilai yang sama. Hubungan kedua negara tidak pernah semata-mata dibangun melalui perdagangan atau perjanjian diplomatik, melainkan tumbuh dari penghormatan terhadap keberagaman, toleransi, dan persahabatan yang telah terjalin selama berabad-abad. Kini, ada satu dimensi baru yang perlu mendapat perhatian lebih besar, yakni pendidikan tinggi dan riset sebagai jembatan strategis yang akan memperkuat hubungan kedua negara di masa depan.

Hal ini menjadi semakin penting di tengah perubahan geopolitik dan pesatnya perkembangan teknologi. India dan Indonesia merupakan dua negara berkembang yang tengah bertransformasi menjadi kekuatan menengah (middle powers) dengan potensi besar untuk memainkan peran yang lebih menentukan dalam tatanan global. Agar mampu memanfaatkan momentum tersebut, keduanya perlu berinvestasi bukan hanya pada infrastruktur fisik dan ekonomi, tetapi juga pada ilmu pengetahuan, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia.

Perjalanan pembangunan India dan Indonesia memiliki banyak kesamaan. Rata-rata usia penduduk India sekitar 29 tahun, sementara Indonesia 31 tahun. Secara bersama-sama, kedua negara mewakili hampir seperlima populasi dunia. Keduanya juga termasuk masyarakat yang sangat terkoneksi secara digital. Kawasan Asia-Pasifik merupakan pengguna media sosial terbesar di dunia, dengan India dan Indonesia menjadi dua negara yang paling aktif memanfaatkan berbagai platform seperti Facebook, WhatsApp, X, dan YouTube, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun dalam situasi darurat. Bonus demografi yang besar ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan, yakni bagaimana memastikan generasi mudanya memperoleh pendidikan yang lebih baik, kesempatan ekonomi yang lebih luas, dan kualitas hidup yang semakin tinggi sebelum momentum tersebut berlalu.

Selama bertahun-tahun, kedua negara mengandalkan sistem pendidikan tinggi dan model penelitian yang banyak mengacu pada Barat. Namun, model tersebut kini menghadapi berbagai keterbatasan, baik dari sisi pendanaan maupun relevansinya terhadap tantangan masa depan. Seiring semakin memudarnya warisan kolonial dan hadirnya generasi baru yang tumbuh bersama teknologi, menjadi wajar apabila pemerintah India dan Indonesia mulai memberikan perhatian yang jauh lebih besar pada pembangunan kapasitas riset dan inovasi di bidang-bidang yang mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Indonesia telah mengambil langkah penting melalui pembentukan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pada 2010 dengan dana abadi sekitar 10 miliar dolar AS untuk mendukung pendidikan tinggi, penelitian, dan beasiswa. Pada 2023, lebih dari 35.500 penerima manfaat memperoleh dukungan dari program tersebut. Di sisi lain, India melalui National Education Policy 2020 membentuk National Research Foundation (Anusandhan) yang mulai beroperasi pada 2023 dengan dana sekitar 14,5 miliar dolar AS untuk memperkuat riset dan inovasi di berbagai perguruan tinggi.

Salah satu mekanisme kerja sama yang telah terbukti efektif sepanjang sejarah adalah kemitraan antar lembaga pendidikan dan riset. Ilmu pengetahuan berkembang melalui kolaborasi, bukan kompetisi. Karena itu, hubungan akademik antara India dan Indonesia seharusnya menjadi salah satu prioritas utama dalam memperkuat kemitraan strategis kedua negara.

Sayangnya, kondisi saat ini masih jauh dari ideal. India mengalokasikan sekitar 56 miliar dolar AS untuk pendidikan tinggi pada 2025, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Indonesia sendiri menganggarkan sekitar 43 miliar dolar AS untuk sektor pendidikan, dengan sekitar 11 persen dialokasikan bagi program beasiswa, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia.

Namun, keterhubungan kedua sistem pendidikan masih sangat terbatas. Australia, Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman masih menjadi tujuan utama mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi ke luar negeri. India bahkan belum menjadi salah satu destinasi pilihan. Pada 2022, hanya sekitar 115 mahasiswa Indonesia yang belajar di India, sementara jumlah mahasiswa India yang menempuh pendidikan tinggi maupun riset di Indonesia bahkan kurang dari sepuluh orang.

Padahal, dari sudut pandang ekonomi, kerja sama pendidikan memberikan manfaat jangka panjang yang sangat besar. Investasi di bidang pendidikan menghasilkan peningkatan produktivitas, mendorong pertumbuhan pendapatan, memperbaiki distribusi kesejahteraan, serta menciptakan lingkungan sosial ekonomi yang lebih baik bagi kedua negara.

Apabila abad ke-21 benar-benar akan menjadi Abad Asia, maka dua demokrasi terbesar di kawasan ini harus memperbanyak kemitraan akademik, membangun lebih banyak jembatan riset, dan membuka kesempatan yang lebih luas bagi mahasiswa serta peneliti untuk belajar dan berinovasi bersama.

India dan Indonesia pernah menjadi pelopor Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955. Pada masa itu, kedua negara berupaya mencari model pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter negara-negara yang baru merdeka. Saat itu, keduanya masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi, politik, dan sosial. Kini, kondisinya telah jauh berbeda. India dan Indonesia telah berkembang menjadi negara dengan pengaruh ekonomi dan politik yang jauh lebih besar serta mulai memainkan peran aktif dalam membentuk tatanan geopolitik dan ekonomi internasional yang baru.

Untuk menjalankan peran tersebut, kedua negara perlu memperkuat kerja sama antara perguruan tinggi, lembaga riset, serta sektor swasta. Pemerintah India dan Indonesia telah menempatkan banyak tokoh terbaiknya untuk memimpin transformasi di bidang pendidikan dan penelitian. Momentum tersebut perlu dimanfaatkan melalui berbagai bentuk kolaborasi yang lebih konkret.

Universitas-universitas swasta terkemuka di India seperti BITS Pilani, yang dikenal memiliki keunggulan di bidang teknik, riset mutakhir, inovasi teknologi, dan kewirausahaan, dapat menjadi pelopor berbagai proyek penelitian bersama dengan perguruan tinggi di Indonesia. Kerja sama tersebut dapat diwujudkan melalui pertukaran mahasiswa, penyelenggaraan konferensi ilmiah, pengembangan kurikulum baru, hingga penelitian bersama mengenai berbagai isu yang menjadi kepentingan kedua negara.

Peluang kerja sama riset juga sangat luas. Keberhasilan Indonesia dalam menurunkan angka kemiskinan secara drastis selama empat dekade terakhir dapat menjadi bahan pembelajaran penting bagi para ekonom pembangunan dan pembuat kebijakan di negara-negara Global South. Empat puluh tahun lalu, sekitar 74 persen penduduk Indonesia hidup dalam kemiskinan ekstrem. Kini angkanya telah turun menjadi kurang dari dua persen.

Sebaliknya, India memiliki berbagai pengalaman yang dapat dibagikan kepada Indonesia. Industri farmasi India menjadikannya dikenal sebagai “apotek dunia”, sementara infrastruktur digitalnya yang digunakan lebih dari satu miliar orang setiap hari menjadi salah satu sistem digital publik terbesar dan paling canggih yang pernah dibangun. India juga termasuk kelompok kecil negara yang berhasil mengembangkan program antariksa dengan berbagai pencapaian penting.

Karena itu, bidang-bidang seperti farmasi, kesehatan masyarakat, pengentasan kemiskinan, transfer teknologi berbasis kekayaan intelektual, riset antariksa, telekomunikasi, rekayasa semikonduktor, komputasi kuantum, oseanografi, deep technology, perusahaan rintisan berbasis teknologi, hingga kemaritiman seharusnya menjadi bagian dari agenda riset bersama antara India dan Indonesia.

Kerja sama di bidang pendidikan tinggi merupakan awal yang sangat baik untuk mempererat hubungan kedua negara. Ketika perguruan tinggi, mahasiswa, peneliti, dan ilmuwan bekerja bersama pada bidang-bidang yang menjadi kepentingan bersama, hubungan India dan Indonesia akan berkembang jauh melampaui diplomasi dan perdagangan.

Visi baru kerja sama pendidikan dan riset kedua negara dapat dirangkum dalam konsep IND, yaitu Integration, Nimbleness, and Decisiveness atau integrasi, kelincahan, dan ketegasan. IND bukan sekadar singkatan dari India dan Indonesia. Lebih dari itu, IND menandai dimulainya babak baru hubungan kedua negara, ketika pendidikan, penelitian, dan inovasi menjadi fondasi utama bagi kemitraan strategis Indonesia dan India pada masa depan.

*Ashish Bharadwaj adalah Distinguished Fellow for Law and Education di Gateway House.

**Manjeet Kripalani adalah Executive Director Gateway House.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

India–Indonesia: Dua Sahabat Sejiwa di Era Baru

JakartaIndia-Indonesia Track 1.5 Dialogue merupakan inisiatif kerja sama selama dua tahun yang digagas oleh Gateway House: Indian Council on Global Relations di Mumbai dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia di Jakarta. Forum ini mempertemukan para pakar dari lembaga pemikir, pejabat pemerintah, serta pelaku usaha dari kedua negara setiap dua tahun sekali untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, inovasi, dan penguatan hubungan strategis India dan Indonesia.

India dan Indonesia memiliki hubungan strategis komprehensif yang dibangun di atas ikatan sejarah panjang, baik pada masa kuno maupun modern. Hubungan tersebut terus berkembang melalui perdagangan, kerja sama ekonomi, serta interaksi antar masyarakat yang semakin erat. Seiring kedua negara terus tumbuh sebagai kekuatan penting di kawasan, terbuka pula berbagai peluang baru untuk memperluas kerja sama yang saling menguntungkan, khususnya di bidang pertahanan dan keamanan, energi, serta kawasan Indo-Pasifik.

Dalam konteks tersebut, Track 1.5 Dialogue menjadi wadah yang tepat untuk mempertemukan pemangku kepentingan dari berbagai sektor. Forum ini bertujuan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang mendorong inovasi sekaligus membantu kedua negara merespons berbagai tantangan tata kelola yang terus berkembang melalui kerja sama bilateral maupun multilateral.

Sebagai langkah awal, pada 23–24 September 2024, Gateway House bersama CSIS Indonesia menyelenggarakan India-Indonesia Track 1.5 Dialogue perdana di Mumbai. Kegiatan ini digelar bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri India, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia di New Delhi, serta didukung oleh Pemerintah Negara Bagian Maharashtra, India, bersama Indorama dan Sinarmas dari Indonesia.

Selama dua hari penyelenggaraan, forum ini mengangkat gagasan untuk mentransformasikan hubungan India dan Indonesia dari konsep “companion souls” atau sahabat sejiwa yang pernah diperkenalkan oleh Rabindranath Tagore saat kunjungannya ke Indonesia pada 1927, menjadi kemitraan geopolitik, geostrategis, dan geoekonomi yang relevan dengan tantangan abad ke-21.

Semangat tersebut mencerminkan posisi India dan Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar dan ketiga terbesar di dunia yang memiliki peluang untuk semakin memperkuat peran di panggung global. Berbagai sesi diskusi dirancang untuk menyoroti keunggulan masing-masing negara sekaligus mengidentifikasi bidang-bidang kerja sama teknis yang dapat dikembangkan secara bersama.

Forum dialog diselenggarakan secara tatap muka di Mumbai dengan menghadirkan pejabat pemerintah, pelaku usaha, wirausahawan, akademisi, serta para pakar terkemuka dari India dan Indonesia.

Acara pembukaan dihadiri oleh Ashish Kumar Sinha, Joint Secretary (South), Kementerian Luar Negeri India; Y. Jatmiko Heru Prasetyo, Direktur Asia Selatan dan Tengah, Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia; Sandeep Chakravorty, Duta Besar India untuk Indonesia; serta Ina H. Krisnamurthi, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk India.

Laporan lengkap mengenai penyelenggaraan India-Indonesia Track 1.5 Dialogue dapat diakses melalui situs resmi Gateway House.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES