Memilih Pelembap Bayi untuk Cuaca Tropis: Kenapa Tekstur Menentukan Kenyamanan

Di cuaca panas dan lembap, pipi bayi mudah tampak kemerahan — terutama di area yang sering berkeringat. Naluri orang tua biasanya langsung mengoleskan pelembap. Tetapi jenis tekstur yang dipilih ternyata sangat menentukan kenyamanan bayi.

Mari bandingkan dua tekstur. Pelembap yang terlalu kaya dan berat cenderung terasa lengket di cuaca panas, lambat meresap, dan bisa membuat kulit terasa “tertutup” sehingga bayi makin gerah saat berkeringat. Sebaliknya, pelembap dengan tekstur ringan yang cepat meresap terasa lebih sejuk dan nyaman untuk pemakaian harian di iklim tropis.

CoveBaby Arctic Snow-Melt Face Cream dirancang untuk kebutuhan ini. Teksturnya smoothie-to-water: awalnya terasa seperti krim lembut, lalu “meleleh” menjadi ringan dan meresap tanpa rasa lengket. Sensasi sejuknya berasal dari tekstur itu sendiri (physical cooling), bukan dari bahan pendingin sintetis. Kandungan Centella Asiatica membantu menenangkan kemerahan dan mendukung skin barrier, dipadu Squalane, Sodium Hyaluronate, dan Panthenol (Vitamin B5) untuk menjaga kelembapan. Formulanya bebas alkohol, pewangi sintetis, mineral oil, silicone oil, dan paraben. Kemasannya airless pump, sehingga relatif lebih higienis karena isi produk tidak banyak terpapar udara dan tangan.

Untuk kulit bayi yang mudah memerah karena panas, kombinasi tekstur ringan + bahan menenangkan lebih masuk akal dibanding pelembap berat yang justru menahan panas.

Beberapa langkah sederhana di rumah: jaga suhu ruangan tetap sejuk, bersihkan kulit dengan lembut, dan oleskan pelembap tipis pada area yang mudah kemerahan. Hindari produk dengan pewangi kuat dan alkohol saat kulit sedang sensitif.

Perlu ditegaskan, pelembap membantu melembapkan dan menenangkan kulit, bukan mengobati kondisi medis. Jika kemerahan meluas, bertahan lama, atau disertai demam, sebaiknya periksakan ke dokter anak. CoveBaby Arctic Snow-Melt Face Cream (50 g, BPOM NA18260103424) ditujukan untuk bayi 0+ dan tersedia di situs resmi covebabycare.com.

Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES.

Promo Pembiayaan Kendaraan Bunga 0%, Penawaran Spesial BRI Finance Padang dan Payakumbuh

Padang, 12 Juni 2026 – Sumatera Barat dikenal sebagai salah satu daerah dengan tingkat mobilitas yang tinggi, didukung oleh aktivitas perdagangan, pariwisata, serta budaya merantau yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Kondisi tersebut mendorong kebutuhan akan sarana transportasi yang andal, baik untuk menunjang aktivitas usaha maupun kebutuhan keluarga sehari-hari.

Melihat potensi tersebut, PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) terus memperluas akses pembiayaan kendaraan di berbagai daerah melalui program-program yang memberikan kemudahan bagi masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggelar pameran otomotif di BRI Branch Office (BO) Padang dan BRI Branch Office (BO) Payakumbuh pada 8–12 Juni 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mendekatkan layanan pembiayaan kepada masyarakat sekaligus memperkuat sinergi dengan pelaku industri otomotif di daerah. Dalam pameran tersebut, BRI Finance bekerja sama dengan dealer Geely di Padang dan dealer Chery di Payakumbuh untuk menghadirkan berbagai pilihan kendaraan yang dapat diakses melalui skema pembiayaan yang kompetitif.

Selain menampilkan beragam model kendaraan terbaru, pengunjung juga dapat memanfaatkan fasilitas test drive guna memperoleh pengalaman langsung sebelum melakukan pembelian. Selama pameran berlangsung, BRI Finance menawarkan sejumlah program unggulan, termasuk promo pembiayaan dengan bunga 0% yang menjadi salah satu daya tarik utama bagi calon konsumen.

Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengatakan, “Mobilitas memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk di Sumatera Barat yang dikenal memiliki dinamika perdagangan dan kewirausahaan yang kuat. Melalui pameran ini, kami ingin memberikan akses yang lebih mudah kepada masyarakat untuk memperoleh kendaraan dengan berbagai pilihan skema pembiayaan yang kompetitif, termasuk program bunga 0%.”.

Selain promo bunga 0%, BRI Finance juga menghadirkan berbagai pilihan produk pembiayaan seperti KKB Prioritas, KKB Reguler, Captive, Non-Captive, serta BRIFlexy yang dirancang untuk memberikan fleksibilitas sesuai kebutuhan dan profil nasabah.

Kolaborasi dengan dealer dan jaringan BRI di daerah menjadi salah satu strategi penting dalam memperluas jangkauan layanan perusahaan. Sinergi tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan akses masyarakat terhadap pembiayaan kendaraan, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekosistem otomotif yang sehat dan berkelanjutan di daerah.

BRI Finance optimistis potensi pasar otomotif di Sumatera Barat masih terbuka lebar seiring meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat dan berkembangnya aktivitas ekonomi regional. Oleh karena itu, perusahaan akan terus menghadirkan berbagai program pembiayaan yang inovatif serta memperkuat kolaborasi dengan berbagai mitra strategis untuk memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“Sebagai bagian dari BRI Group, kami akan terus memperluas akses pembiayaan yang inklusif dan mudah dijangkau. Ke depan, BRI Finance akan terus memperkuat sinergi dengan jaringan BRI dan mitra otomotif guna menghadirkan solusi pembiayaan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” tutup Dhani.

Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES. 

PetroSync Supports Continuous Learning for Energy and Oil & Gas Professionals

PetroSync supports continuous learning for energy and oil & gas professionals through practical technical training programs that improve competency, operational performance, and industry adaptability.

Workforce Development Challenges Continue to Affect Energy Operations

Rapid Industry Changes Create New Competency Gaps

The energy sector continues to move through major operational and regulatory changes. New sustainability targets, digital monitoring systems, and carbon reduction initiatives now affect daily engineering decisions across many oil and gas projects.

Unfortunately, workforce competency does not always grow at the same pace. Many companies still rely on internal knowledge transfers that often vary between teams and locations. As experienced personnel retire or move into new roles, technical gaps become harder to close quickly.

For engineering teams, this situation creates real pressure in the field. Professionals are expected to understand new operational standards while still handling existing production responsibilities safely and efficiently.

Limited Technical Updates Reduce Operational Readiness

In many operations, engineers work under tight schedules with limited opportunities for structured learning. Training often becomes secondary when projects face deadlines, shutdown schedules, or operational disruptions.

Over time, this creates a visible gap between industry developments and workforce readiness. Teams may continue using outdated approaches simply because they rarely receive updated exposure from industry practitioners or external specialists.

This challenge becomes more noticeable during audits, project transitions, or implementation of newer technologies. Small misunderstandings in procedures or operational concepts can eventually slow decision-making and affect overall coordination between departments.

Companies Face Pressure to Build More Adaptive Engineering Teams

Today’s engineering workforce is expected to be more adaptive than ever before. Companies no longer look only for technical experience, but also for professionals who can quickly respond to operational changes and emerging industry trends.

HR and talent development teams now face growing pressure to prepare employees for long-term industry transformation. This is especially relevant as energy companies continue investing in sustainability-focused projects and operational improvements.

Without continuous competency development, organizations risk building teams that struggle to keep up with changing operational expectations. In highly competitive industries, delayed adaptation often affects both workforce confidence and long-term project readiness.

Continuous Learning Helps Strengthen Workforce Competency

Practical Training Supports Faster Adaptation to Industry Changes

Practical learning environments often help engineers understand industry changes faster compared to self-learning alone. Discussions with instructors and fellow professionals also provide broader perspectives from real operational cases.

Programs like Carbon Capture and Storage Training give professionals opportunities to understand emerging energy initiatives within practical industry contexts. Instead of learning only from reports or online summaries, participants can explore how these developments may affect operational planning and workforce requirements directly.

For many professionals, structured training also becomes a valuable space to reconnect technical knowledge with actual field situations.

Standardized Learning Helps Reduce Technical Knowledge Gaps

One of the common challenges inside engineering teams is inconsistent technical understanding between departments or locations. Different operational backgrounds often lead to varying interpretations of procedures and standards.

Standardized learning programs help reduce this gap by creating more aligned technical discussions among professionals. When teams receive updated information through structured training, communication during projects usually becomes more efficient and practical.

This alignment becomes especially important during cross-functional collaboration where operations, maintenance, inspection, and engineering departments must work closely together.

Continuous Development Supports Modern Carbon Capture and Storage Initiatives

Many companies have started discussing sustainability initiatives more seriously, especially in relation to emissions reduction and long-term operational transition. One topic receiving growing attention is Carbon Capture and Storage, particularly as global energy industries continue balancing operational performance with environmental responsibilities.

However, adopting newer initiatives requires more than infrastructure investment alone. Workforce understanding also plays a major role in supporting implementation readiness.

Professionals who regularly participate in industry learning programs often adapt faster when companies introduce newer operational frameworks or sustainability-focused projects.

Stronger Competency Helps Teams Respond to Evolving Operational Demands

Continuous learning does not only support technical understanding. It also improves confidence when professionals face operational changes, project discussions, or unfamiliar industry requirements.

Engineers who actively update their competencies usually contribute more effectively during problem-solving situations. They can connect industry trends with operational realities more clearly and communicate recommendations with stronger reasoning.

For companies, this creates a more adaptive workforce that is better prepared for long-term operational challenges and industry transitions.

PetroSync Supports Long-Term Learning for Energy Professionals

Training Programs Are Designed Around Current Industry Challenges

As industry requirements continue evolving, training providers also need to stay aligned with operational realities. Professionals today prefer learning environments that are practical, relevant, and connected to actual industry conditions.

Many training programs now focus on helping participants understand both technical updates and broader operational impacts. Real case discussions, industry examples, and collaborative learning environments often create stronger engagement compared to purely theoretical sessions.

This approach becomes increasingly valuable for professionals balancing operational responsibilities with continuous competency development.

Flexible Learning Solutions Help Professionals Improve Technical Readiness

One common obstacle for workforce development is scheduling flexibility. Engineering professionals often manage demanding workloads, making it difficult to attend long-term academic programs.

Flexible industry-focused training solutions help bridge this gap by providing shorter and more focused learning opportunities. Professionals can improve technical readiness without significantly disrupting operational responsibilities.

For many participants, these programs also become opportunities to exchange experiences with peers facing similar operational challenges across different energy sectors.

PetroSync Supports Sustainable Workforce Development Across Energy Industries

As energy industries continue adapting to operational and sustainability demands, workforce development remains one of the most important long-term investments. Companies increasingly recognize that strong operational performance depends heavily on how quickly teams can learn and adapt.

Through industry-focused training programs, PetroSync continues supporting professionals who want to strengthen their competency and stay relevant within evolving energy operations. Rather than focusing only on technical theory, the learning approach emphasizes practical industry relevance that professionals can connect directly to workplace situations.

For organizations and individuals alike, continuous learning is no longer optional. It has become part of maintaining operational readiness in an industry that continues changing year after year.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Kejutan di Tengah Perang: Bitcoin Kalahkan Emas, Ini Penyebabnya!

Dinamika pasar global kembali menunjukkan pergeseran signifikan dalam preferensi aset lindung nilai (safe haven), di mana Bitcoin (BTC) mulai mengungguli emas di tengah ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Data terbaru mencatat Bitcoin mengalami kenaikan sekitar 7% hingga 10% sejak akhir Februari, sementara emas justru terkoreksi hingga 19% dari level tertingginya.

Perubahan ini turut tercermin dari arus dana institusional. Produk exchange-traded fund (ETF) berbasis emas mencatat outflow hingga US$7,9 miliar, sedangkan Bitcoin menarik inflow lebih dari US$1,1 miliar hanya dalam dua pekan awal konflik. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kenaikan yield obligasi global dan lonjakan harga minyak, yang mengurangi daya tarik emas sebagai aset non-yielding.

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai bahwa pergeseran ini menandai evolusi peran Bitcoin dalam lanskap keuangan global.

“Bitcoin kini semakin dilihat sebagai alternatif safe haven modern. Di tengah ketidakpastian global, investor membutuhkan aset yang tidak hanya aman, tetapi juga likuid dan dapat diakses kapan saja. Karakteristik ini yang membuat Bitcoin semakin relevan dibandingkan instrumen tradisional seperti emas,” ujar Calvin.

Faktor Institusi dan Dinamika Permintaan Jangka Pendek

Dalam jangka pendek, pergerakan Bitcoin masih dipengaruhi tarik-menarik antara dorongan institusional dan ketidakpastian permintaan korporasi. Sejumlah institusi besar seperti BlackRock terus memperkuat ekspansi di sektor aset digital, mencerminkan meningkatnya komitmen terhadap kripto.

Namun, sinyal pasar menjadi lebih kompleks setelah Strategy, salah satu pembeli Bitcoin terbesar, diduga menghentikan sementara akumulasi rutinnya setelah 13 minggu berturut-turut membeli BTC. Hal ini berpotensi mengurangi salah satu sumber permintaan besar yang selama ini menopang harga.

“Masuknya institusi besar tetap menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan jangka panjang Bitcoin. Namun, pasar juga sensitif terhadap perubahan perilaku pemain besar. Ketika salah satu pembeli utama melambat, volatilitas jangka pendek bisa meningkat,” jelas Calvin.

Kelangkaan Pasokan Jadi Katalis Jangka Menengah-Panjang

Dari sisi fundamental, Bitcoin tetap didukung oleh mekanisme pasokan yang terbatas. Halving berikutnya yang dijadwalkan pada April 2028 akan kembali mengurangi laju suplai Bitcoin baru ke pasar.

Di saat yang sama, Tim Riset Tokocrypto melihat akumulasi oleh ETF dan perusahaan publik terus meningkat, yang secara struktural memperketat ketersediaan Bitcoin di pasar.

“Secara historis, siklus halving selalu menjadi katalis bullish dalam jangka menengah hingga panjang. Dengan permintaan yang tetap atau meningkat, kelangkaan pasokan akan menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga Bitcoin ke depan,” tambah Calvin.

Prospek Harga Bitcoin ke Depan

Meski demikian, sentimen pasar saat ini masih berada dalam tekanan. Indeks Crypto Fear & Greed menunjukkan level “Extreme Fear” di angka 8/100, yang secara historis sering menjadi sinyal pembalikan arah (contrarian signal).

Dengan kombinasi faktor tersebut, prospek Bitcoin ke depan diperkirakan akan tetap volatil dalam jangka pendek, namun konstruktif dalam jangka menengah hingga panjang.

Dalam skenario optimistis, jika arus masuk institusional berlanjut dan kondisi makro stabil, Bitcoin berpotensi kembali menguji level US$75.000 hingga US$80.000 dalam beberapa bulan ke depan. Sementara itu, dalam skenario konservatif, tekanan dari suku bunga tinggi dan volatilitas pasar dapat menahan Bitcoin di kisaran US$60.000–US$65.000.

Calvin menegaskan bahwa investor perlu memahami karakteristik Bitcoin yang unik dalam menghadapi kondisi pasar saat ini.

“Bitcoin sedang berada di fase transisi, dari aset spekulatif menjadi bagian penting dari sistem keuangan global. Volatilitas akan tetap ada, tetapi arah jangka panjangnya menunjukkan penguatan fundamental yang signifikan,” tutupnya.

Dengan demikian, pelaku pasar disarankan untuk tetap mencermati perkembangan geopolitik, kebijakan moneter, serta arus dana institusional dalam menentukan strategi investasi di aset kripto.

About Tokocrypto

Tokocrypto adalah pedagang aset kripto No.1 di Indonesia yang berdiri sejak 2018 dan terdaftar di OJK sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD), serta menjadi anggota Bursa dan Kliring Kripto. Dengan dukungan dari Binance, Tokocrypto menawarkan layanan investasi kripto yang aman, transparan, dan mudah digunakan. Platform ini mencatat rata-rata nilai transaksi harian sebesar US$30 juta, menyediakan lebih dari 480 token/koin dan 600 pasangan perdagangan, serta telah dipercaya oleh lebih dari 4,5 juta pengguna di Indonesia. Informasi lebih lanjut, kunjungi: www.tokocrypto.com.

Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Ekspansi ke NTB, BRI Finance Perluas Akses Pembiayaan dan Perkuat Dampak Sosial

PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) menegaskan komitmennya untuk menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat seiring dengan ekspansi jaringan dan penguatan layanan pembiayaan di berbagai wilayah. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang kali ini disalurkan kepada Panti Asuhan Muhammadiyah Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada Kamis (5/3).

Dalam kegiatan tersebut, BRI Finance menyalurkan bantuan sosial sebagai bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan anak-anak di lingkungan sekitar operasional perusahaan. Bantuan diserahkan oleh perwakilan BRI Finance, Ari Prayuwana, kepada Ketua Yayasan Panti Asuhan Muhammadiyah Mataram, Ir. H. Subandriyo.

Direktur Utama BRI Finance, Wahyudi Darmawan, menyampaikan bahwa perusahaan berkomitmen untuk tumbuh secara berkelanjutan bersama masyarakat. “Melalui program TJSL ini, kami ingin memberikan dukungan nyata kepada anak-anak di Panti Asuhan Muhammadiyah Mataram agar tetap memiliki motivasi dalam menempuh pendidikan dan meraih masa depan yang lebih baik. Kehadiran BRI Finance di Mataram diharapkan tidak hanya memperkuat layanan pembiayaan, tetapi juga memberikan kontribusi sosial yang berkelanjutan,” ujarnya.

Pelaksanaan kegiatan TJSL ini juga menjadi bagian dari rangkaian peresmian Kantor Cabang (KC) Mataram yang berlokasi di Jl. Brawijaya No.005A, Cakranegara Selatan, Kota Mataram. Pembukaan kantor cabang tersebut merupakan langkah strategis dalam memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat dan pelaku usaha di wilayah Nusa Tenggara Barat.

Dari sisi makro ekonomi, Kota Mataram menunjukkan prospek pertumbuhan yang positif. Pada tahun 2024, kota ini mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,12% dan menargetkan peningkatan hingga 8% pada tahun 2030, dengan fokus pada pengembangan ekonomi hijau serta pengurangan kesenjangan. Selain itu, Mataram juga tercatat sebagai kota paling maju kedua di luar Pulau Jawa pada tahun 2024 dengan indeks daya saing mencapai 4,29 poin.

Dinamika ekonomi daerah turut diperkuat oleh keberagaman sosial dan budaya masyarakat yang merupakan perpaduan suku Sasak, Bali, serta pengaruh Tionghoa dan Arab. Kondisi ini menciptakan ekosistem ekonomi yang adaptif dan resilien. Di sisi lain, potensi sektor kriya bernilai tambah seperti tenun ikat, songket Lombok, dan mutiara Lombok juga menjadi penggerak ekonomi lokal yang kompetitif.

Melalui kehadiran Kantor Cabang Mataram dan implementasi berbagai program sosial, BRI Finance optimistis dapat memperluas perannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat di Nusa Tenggara Barat.

Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Melampaui Keuntungan Jangka Pendek, Cara Investor Indonesia Menyusun Strategi Jangka Panjang di Market Volatile 2026

Tahun ini diawali dengan situasi geopolitik dan ekonomi dari dalam negeri dan luar negeri yang menyebabkan arah market tidak menentu, Nanovest menyelenggarakan “Golden Hours” dimana sesi pre-iftar ini dihadiri oleh  pakar finansial yang sudah mempunyai pengalaman di bidang investasi, berbagai komunitas melek finansial, serta rekan media dengan harapan acara ini dapat memberikan insight menarik terkait strategi investasi jangka panjang di 2026.

Diselenggarakan di Kyro, Pacific Place, acara ini menggabungkan suasana Ramadhan yang hangat dengan diskusi ekonomi ringan namun relevan. Pada sesi “Golden Hours” ini pembicara akan membahas mengenai kondisi market hingga investasi apa saja yang akan menjadi spotlight di tahun 2026 ini. Nanovest melihat Ramadhan sebagai momentum refleksi, tidak hanya secara spiritual tetapi juga finansial. Di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian, literasi investasi menjadi semakin penting agar masyarakat dapat membangun keputusan keuangan yang lebih bijak serta menyusun kembali strategi investasi yang tepat sesuai dengan profil masing-masing.

Sepanjang 2025, platform Nanovest mencatat pertumbuhan signifikan, baik dari sisi pengguna maupun aktivitas transaksi. Tercatat adanya kenaikan Trading Volume hingga ~70% (YoY) dengan total lebih dari 1,1 juta pengguna yang telah terverifikasi (KYC). Pertumbuhan ini didukung oleh peluncuran berbagai produk inovatif Nanovest yang berfokus ke Web 3 seperti IDDB, Crypto Staking, Gadai Digital, dan Web 3 Trading. Namun di saat yang sama, perilaku investor mulai berubah.

Menurut Jovita Widjaja, CMO Nanovest, tahun 2026 bukan lagi era mengejar keuntungan instan. “Kami melihat perubahan pola pikir investor, terutama generasi muda. Fokusnya bukan lagi sekadar mencari investasi yang cepat naik, tetapi bagaimana membangun portofolio yang sehat dan bertahan dalam berbagai kondisi pasar yang penuh ketidakpastian. Maka dari itu Golden Hours bisa memberikan insight menarik yang relevan sehingga investor dapat menyusun strategi yang tepat dari pakar-pakar financial yang hadir menemani para participant.”

Pandangan tersebut sejalan dengan kondisi industri yang mulai bergerak menuju pendekatan investasi lebih disiplin. Tjoe Ay, CMO Jarvis Asset Management, menambahkan, “Money Kalau untuk IHSG di tahun 2026 kita harus tetap melihat money flow di market. Kita expect Money flow dari institusi seperti dapen, insurance dan BPJS ditingkatkan, kalau institution flow meningkat maka saham fundamental akan mendapatkan more money flow. Jadi 2026, saham fundamental boleh di lirik.”

Diskusi panel bersama Tjoe Ay, CMO Jarvis Asset Management dan Jason Nathanael, Investment Expert menyoroti bahwa pasar mulai memasuki fase yang lebih selektif. Investor didorong untuk memahami fundamental, bukan sekadar mengikuti tren.

Dalam sesi Market Talks, para pembicara memaparkan bahwa tahun 2026 akan menjadi periode kedewasaan pasar:

Saham AS & Sektor Potensial: Sektor finansial (JPMorgan, Visa, Mastercard) dan teknologi (NVIDIA, Microsoft) diprediksi tetap menjadi motor pertumbuhan melalui monetisasi nyata AI dan normalisasi aktivitas ekonomi.

Kebangkitan Emas: Emas diproyeksikan tetap kuat (higher for longer) sebagai aset safe haven utama, didukung oleh kebijakan pelonggaran Federal Reserve dan inisiatif global seperti “Project Vault”. 

Lonjakan minat investasi masyarakat Indonesia semakin terlihat dari pertumbuhan jumlah investor saham domestik yang terus mencetak rekor baru. Di tengah volatilitas perdagangan IHSG yang tinggi, investor lokal mulai memperluas wawasan mereka dengan melirik saham Amerika Serikat sebagai alternatif investasi. Menjawab kebutuhan tersebut, Nanovest sebagai platform investasi aset digital dengan pilihan saham Amerika Serikat terlengkap menyediakan akses ke koleksi saham AS yang komprehensif sehingga pengguna dapat membangun portofolio saham AS dengan nyaman dalam satu aplikasi. 

Kombinasi antara aset pertumbuhan dan aset stabil dipandang sebagai strategi paling relevan, khususnya bagi Gen Z dan milenial yang mulai merencanakan keuangan jangka panjang.

Jason Nathanael, Investment Expert, menjelaskan, “Portofolio ideal ke depan bukan lagi soal memilih satu aset terbaik, melainkan mengkombinasikan beberapa peran aset. Aset pertumbuhan menangkap peluang ekonomi baru, sementara aset defensif menjaga daya beli. Investor muda justru punya keunggulan waktu, sehingga strategi seimbang sejak awal akan jauh lebih berdampak dalam jangka panjang.”

Melalui inisiatif Golden Hours, Nanovest menegaskan perannya bukan hanya sebagai platform investasi, tetapi sebagai partner finansial bagi semua generasi. Nanovest kedepannya akan fokus untuk menghadirkan edukasi investasi yang mudah dipahami, relevan, dan kontekstual dengan kehidupan sehari-hari—mulai dari generasi muda yang baru memulai perjalanan finansial hingga generasi yang lebih matang dalam membangun dan melindungi asetnya. Dengan pendekatan yang inklusif dan adaptif terhadap kebutuhan lintas generasi, Nanovest berkomitmen memperkuat literasi keuangan nasional serta dorongan masyarakat Indonesia untuk dapat berinvestasi secara bijak dan berkelanjutan.

Ramadhan menjadi momen yang tepat untuk memulai kebiasaan baru, tidak hanya menahan diri dalam konsumsi, tetapi juga mulai membangun masa depan finansial secara sadar. Karena waktu terbaik memulai investasi bukan saat pasar sempurna, melainkan saat kita memahami tujuan kita.

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES