Lebih dari Sekadar Sebuah Ruang: CURATED LIVING Hadir di ASHTA District 8

ASHTA District 8 menghadirkan CURATED LIVING, sebuah karya yang mengeksplorasi bagaimana seni, desain, dan gaya hidup dapat saling terhubung dalam menciptakan pengalaman ruang yang lebih bermakna

Sebuah ruang tidak hanya dibentuk oleh dinding dan furnitur, tetapi juga oleh cerita, perasaan, dan pengalaman yang hadir di dalamnya. Berangkat dari pemikiran tersebut, ASHTA District 8 menghadirkan CURATED LIVING, sebuah karya yang mengeksplorasi bagaimana seni, desain, dan gaya hidup dapat saling terhubung dalam menciptakan pengalaman ruang yang lebih bermakna. Berlangsung pada 3–26 Juli 2026, CURATED LIVING mengajak pengunjung menemukan perspektif baru tentang cara melihat, merasakan, dan menjalani keseharian melalui pengalaman yang dikurasi secara menyeluruh.

Dengan membawa tema Where Design Meets Lifestyle, CURATED LIVING menghadirkan rangkaian pengalaman yang memperlihatkan bahwa seni tidak hanya hadir di dalam galeri, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ruang hidup dan aktivitas sehari-hari. Melalui kolaborasi bersama praktisi seni, desain, dan interior, ruang ini menghubungkan karya artistik dengan fungsi ruang itu sendiri, menghadirkan pengalaman yang menginspirasi sekaligus relevan dengan kehidupan urban masa kini.

Alaya Kala: Seni, Desain, dan Cara Baru Melihat Ruang 

Sebagai bagian utama dari CURATED LIVING, Alaya Kala hadir di Melting Pot, Ground Floor sebagai sebuah pameran imersif yang mempertemukan karya-karya pematung Indonesia Adi Gunawan dengan pendekatan interior yang dikurasi secara harmonis. Dipersembahkan oleh SANKHARA bersama POLA Studio EST. 2016, Theory of Living, dan Quatro Design Studio, Alaya Kala menghadirkan sebuah living space di mana karya seni dan desain interior berpadu secara harmonis, memperlihatkan bagaimana keduanya mampu membangun koneksi berkesinambungan dan sekaligus menghadirkan makna baru dalam sebuah ruang.Diambil dari bahasa Sanskerta, Alaya berarti tempat bernaung dan Kala berarti waktu, yang bersama-sama merepresentasikan sebuah ruang yang menyimpan perjalanan, jejak, dan ingatan. Gagasan tersebut berangkat dari akar budaya yang melekat dalam perjalanan berkarya Adi Gunawan di Yogyakarta, kemudian diterjemahkan ke dalam pengalaman ruang yang lebih kontemporer melalui interpretasi elemen-elemen arsitektur rumah Jawa, khususnya Joglo. Alaya Kala mengangkat esensi nilai, memori, dan warisan budaya ke dalam sebuah ruang yang relevan dengan kehidupan masa kini.

Melalui kolaborasi lintas disiplin tersebut, Alaya Kala menjadi ruang pertemuan antara seni, desain, dan warisan budaya, menghadirkan interpretasi kontemporer tentang bagaimana memori kolektif dapat diterjemahkan menjadi pengalaman yang menginspirasi. Pengunjung diajak mengeksplorasi bagaimana ruang yang dikurasi dengan penuh perhatian mampu mempengaruhi cara kita melihat, merasakan, dan berinteraksi dengan lingkungan di sekitar. Setiap elemen dihadirkan sebagai bagian dari sebuah komposisi yang menghubungkan estetika, fungsi, dan pengalaman hidup dalam satu kesatuan.

Beyond The Walls: Seni di Antara Setiap Ruang

Melengkapi rangkaian CURATED LIVING, Beyond The Walls memperluas pengalaman seni hingga ke area Connecting Langham. Mengusung gagasan bahwa seni tidak berhenti di dalam ruang pamer, instalasi ini menghadirkan lima karya patung kontemporer yang ditempatkan di berbagai titik untuk menciptakan perjumpaan-perjumpaan yang tidak terduga. Di sela perjalanan pengunjung, karya-karya tersebut menjadi ruang untuk berhenti sejenak, mengamati, refleksi, dan menemukan koneksi baru dengan seni dalam konteks keseharian.

Melalui CURATED LIVING, ASHTA District 8 kembali memperkuat komitmennya sebagai destinasi gaya hidup yang menghadirkan pengalaman terkurasi melalui seni, desain, dan komunitas. Lebih dari sekadar menghadirkan pameran, kampanye ini menjadi sebuah undangan untuk melihat bagaimana ruang yang dirancang dengan penuh perhatian mampu mengubah momen-momen sederhana menjadi pengalaman yang lebih bermakna, sekaligus menginspirasi cara baru dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

CURATED LIVING berlangsung di ASHTA District 8 pada 3–26 Juli 2026 dan terbuka untuk publik.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Memperkuat Kualitas Layanan, IPCC Lakukan Management Walkthrough Terminal Satelit Banjarmasin

Banjarmasin, Juli 2026 – Dalam rangka mengevaluasi kinerja operasional dan keuangan secara menyeluruh, Manajemen PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IDX:IPCC) melaksanakan kunjungan kerja ke Terminal Satelit Banjarmasin pada Kamis (2/7) . Melalui kunjungan ini, Manajemen menggali langsung berbagai tantangan dan hambatan yang dihadapi di lapangan untuk kemudian merumuskan solusi serta strategi pengembangan sebagai langkah konkret peningkatan kinerja perusahaan ke depan. Hadir dalam kesempatan tersebut jajaran Dewan Komisaris, M. Said Bakhri selaku Komisaris Utama, Tri Hidayat dan Herry Ardianto selaku Komisaris Independen, Bagus Dwipoyono selaku Direktur Operasi dan Teknik merangkap Plt. Direktur Utama, beserta jajaran manajemen IPCC.

M. Said Bakhri selaku Komisaris Utama IPCC menegaskan pentingnya pengawasan aktif Dewan Komisaris terhadap kinerja perusahaan khususnya pada Terminal Satelit di Banjarmasin. “Kunjungan ini menjadi momentum bagi kami untuk melakukan evaluasi secara langsung, tidak hanya dari sisi laporan, tetapi juga kondisi secara langsung di lapangan. Kami mendorong Manajemen untuk terus memperkuat sinergi antar unit kerja, mempercepat penyelesaian hambatan operasional, serta menyusun langkah strategis yang terukur agar Terminal Satelit Banjarmasin dapat tumbuh lebih baik dan memberikan kontribusi optimal bagi perusahaan,” ujar Said Bakhri.

Sebagai bentuk komitmen IPCC kepada para pengguna jasa dalam mengimplementasikan nilai Danantara yaitu melayani sepenuh hati, IPCC terus berupaya untuk meningkatkan kualitas SDM dengan melakukan sharing session, workshop sehingga akan terbentuk budaya excellent services yang diiimbangi dengan penguatan dari sisi fasilitas serta produktivitas kinerja operasional. Melengkapi evaluasi kinerja operasional dan keuangan secara data, Dewan Komisaris, Direksi dan Manajemen IPCC melakukan kunjungan lapangan guna mengevaluasi secara menyeluruh. Hingga Mei 2026, Satelit Banjarmasin berhasil melayani bongkar muat kargo dengan rincian arus mobil (CBU) sebanyak 28.436 unit, truk/bus sejumlah 34.760 unit, alat berat tercatat 2.663 unit, dan 349 kunjungan kapal.

Pada Manajemen Walkthrough kali ini, Bagus Dwipoyono selaku Direktur Operasi dan Teknik merangkap Plt. Direktur Utama IPCC menyampaikan bahwa kunjungan kerja ini merupakan bagian dari upaya evaluasi menyeluruh terhadap kinerja operasional dan keuangan Terminal Satelit Banjarmasin.

“Kami ingin memastikan setiap proses bongkar muat kargo dari para pengguna jasa berjalan optimal dan dapat memberikan nilai tambah bagi seluruh pihak. Melalui kunjungan ini, kami dapat melihat langsung kondisi di lapangan, mengidentifikasi kendala yang dihadapi tim operasional, sekaligus merumuskan langkah perbaikan agar target kinerja ke depan dapat tercapai dengan lebih baik,” ucap Bagus.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Daya Saing Global, Tembakau Premium PTPN I Jadi Andalan Industri Cerutu Dunia

JAKARTA – Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) terus memperkuat daya saing komoditas tembakau nasional melalui PTPN I (Persero). Berbekal pengalaman panjang dalam pengelolaan perkebunan tembakau premium, dua produk unggulan perusahaan, yakni Tembakau Besuki Bawah Naungan (TBBN) dan Tembakau Deli, semakin diminati pasar internasional sebagai bahan baku pembungkus (wrapper) cerutu premium.

Karakter daun yang elastis, bertekstur halus, memiliki stabilitas pembakaran yang baik, warna premium, serta cita rasa dan aroma khas menjadi keunggulan yang menarik minat pembeli dari Eropa, Amerika Latin, dan berbagai kawasan lainnya.

Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, menyampaikan bahwa prospek pasar tembakau premium terus menunjukkan perkembangan positif. Dalam rapat gabungan di Jakarta, Kamis (25/6/2026), ia menegaskan komitmen perusahaan untuk meningkatkan produksi melalui perluasan areal tanam sekaligus menjaga kualitas produk yang selama ini menjadi keunggulan utama PTPN I.

“Kami yakin bisa mengembalikan kejayaan produk tembakau premium yang punya sejarah keemasan sejak lama. Optimisme kami lebih yakin karena progres permintaan pasar ekspor, terutama dari Eropa dan negara-negara makmur lainnya meningkat signifikan. Lebih dari itu, tembakau kita adalah produk eksklusif yang tak kenal krisis. Artinya, tingkat influence-nya sangat rendah,” kata Teddy.

Menurut Teddy, Tembakau Besuki Bawah Naungan (TBBN) dan Tembakau Deli telah lama diakui secara global sebagai bahan baku pembungkus (wrapper) cerutu premium terbaik di dunia. Perkembangan transaksi ekspor kedua varietas tersebut dalam beberapa tahun terakhir semakin memperkuat reputasi Indonesia sebagai salah satu produsen tembakau premium dunia.

“Tembakau premium kita memiliki karakteristik khas yang berbeda dengan produk Kuba maupun Amerika Latin. Keunggulan kami terletak pada tingkat elastisitas daun yang baik, struktur daun yang halus, kemampuan pembakaran yang stabil, serta warna yang menarik,” ujarnya.

Ia menambahkan, konsistensi kualitas tersebut menjadikan produk PTPN I sebagai pilihan utama industri cerutu premium dunia. Kinerja operasional komoditas tembakau PTPN I juga menunjukkan tren yang positif. Berdasarkan data perusahaan, volume produksi tembakau premium meningkat secara konsisten dalam lima tahun terakhir. Produksi tercatat sebesar 748.638 kilogram pada 2021, kemudian mencapai 729.544 kilogram pada 2022, meningkat menjadi 932.837 kilogram pada 2023, naik lagi menjadi 974.489 kilogram pada 2024, dan tetap terjaga pada level 972.243 kilogram sepanjang 2025.

Sejalan dengan pertumbuhan produksi, produktivitas lahan juga terus mengalami peningkatan. Produktivitas tercatat sebesar 1.238 kilogram per hektare pada 2021, 1.090 kilogram per hektare pada 2022, meningkat menjadi 1.372 kilogram per hektare pada 2023, mencapai 1.382 kilogram per hektare pada 2024, dan mencatatkan capaian tertinggi sebesar 1.397 kilogram per hektare pada 2025.

Untuk menjawab meningkatnya permintaan pasar global, PTPN I melalui Divisi Komoditi Kopi dan Aneka Tanaman melakukan langkah strategis dengan memperluas areal tanam tembakau hingga 500 hektare pada musim tanam 2026. Langkah tersebut dilakukan guna memastikan keberlanjutan pasokan dalam memenuhi berbagai kontrak ekspor.

Menurut Teddy, segmen cerutu premium tetap memiliki prospek yang menjanjikan meskipun industri tembakau global menghadapi berbagai regulasi yang semakin ketat. Permintaan terhadap produk premium terus tumbuh, terutama dari pasar luxury products, premium lifestyle, kolektor, hingga sektor high-end hospitality. Selain itu, meningkatnya tren produk berbasis asal-usul (origin-based products) semakin membuka peluang bagi Tembakau Besuki dan Deli untuk memperkuat posisinya di pasar internasional.

Meski demikian, PTPN I tetap mewaspadai tantangan perubahan iklim yang berpotensi memengaruhi produktivitas komoditas tembakau. Untuk menjaga konsistensi mutu, perusahaan menerapkan strategi mitigasi secara menyeluruh mulai dari penyesuaian kalender tanam, penguatan pemantauan kondisi cuaca secara real-time, penggunaan varietas yang adaptif, penerapan praktik budidaya berkelanjutan (sustainable farming), hingga penguatan sistem pengendalian mutu dan traceability sejak proses pembibitan hingga pascapanen.

Melalui pengelolaan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN I optimistis tembakau premium Indonesia akan terus mempertahankan reputasinya sebagai salah satu standar mutu utama dalam industri cerutu premium dunia, sekaligus memperkuat daya saing komoditas perkebunan nasional di pasar global.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Kesalahan Menyimpan Dana Darurat yang Sering Dilakukan

Dana darurat sebaiknya mudah diakses saat dibutuhkan. Sayangnya, masih banyak orang yang fokus mengumpulkan dana darurat, tetapi lupa memastikan penempatannya sudah sesuai dengan kebutuhan.

Pertanyaan seperti “dana darurat berapa?”, “dana darurat berapa persen dari gaji?”, atau “dana darurat berapa kali gaji?” memang sering muncul. Namun, jumlah dana bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Cara menyimpan dana darurat juga berpengaruh terhadap kemudahan menggunakannya saat kondisi mendesak.

Lalu, kesalahan apa saja yang masih sering dilakukan?

Dana Darurat Berapa yang Ideal?

Tidak ada angka yang berlaku untuk semua orang karena kebutuhan setiap orang berbeda.

Meski begitu, banyak panduan perencanaan keuangan menggunakan kisaran berikut sebagai acuan:

Lajang: sekitar 3–6 kali pengeluaran bulanan.

Sudah menikah: sekitar 6–9 kali pengeluaran bulanan.

Memiliki tanggungan: sekitar 9–12 kali pengeluaran bulanan.

Angka tersebut bukan aturan baku. Besarnya dana darurat tetap perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan, pekerjaan, jumlah tanggungan, dan kebutuhan masing-masing.

Dana Darurat Berapa Persen dari Gaji?

Banyak orang juga bertanya, dana darurat berapa persen dari gaji yang sebaiknya disisihkan setiap bulan?

Tidak ada persentase yang wajib diikuti. Sebagian orang memilih menyisihkan sekitar 10–20% dari penghasilan hingga target dana darurat tercapai.

Kalau nominal tersebut terasa berat, tidak masalah memulai dari jumlah yang lebih kecil. Konsistensi biasanya lebih penting daripada mengejar nominal besar di awal.

Kesalahan Menyimpan Dana Darurat

1. Mencampur Dana Darurat dengan Uang Belanja

Kesalahan yang paling sering terjadi adalah menyimpan semua uang dalam satu rekening.

Akibatnya, dana darurat ikut terpakai untuk kebutuhan sehari-hari tanpa disadari.

Memisahkan dana sesuai tujuan dapat membantu menjaga disiplin sekaligus memudahkan memantau perkembangannya.

2. Menggunakan Dana Darurat untuk Keinginan Sesaat

Dana darurat seharusnya digunakan untuk kondisi yang benar-benar mendesak, misalnya:

– Kehilangan pekerjaan.

– Biaya pengobatan.

– Perbaikan kendaraan yang digunakan untuk bekerja.

– Kebutuhan mendesak lainnya.

Belanja diskon atau liburan dadakan sebaiknya tidak diambil dari dana darurat.

3. Menargetkan Nominal Terlalu Besar

Sebagian orang menunda membangun dana darurat karena merasa harus langsung mengumpulkan puluhan juta rupiah.

Padahal, dana darurat bisa dibangun secara bertahap sesuai kemampuan.

Mulai dari nominal kecil tetap lebih baik dibanding terus menunda.

4. Tidak Menambah Dana Darurat Saat Penghasilan Naik

Kenaikan penghasilan sering diikuti kenaikan gaya hidup.

Padahal, kebutuhan dana darurat juga bisa berubah seiring bertambahnya tanggungan atau pengeluaran bulanan.

Luangkan waktu untuk mengevaluasi target dana darurat secara berkala agar tetap sesuai dengan kondisi keuangan saat ini.

Bolehkah Dana Darurat Disimpan di Deposito?

Pada umumnya, dana darurat sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang mudah diakses ketika dibutuhkan.

Namun, apabila dana darurat sudah terbentuk dalam jumlah yang memadai, sebagian orang memilih membagi penyimpanannya sesuai kebutuhan likuiditas. Misalnya, sebagian tetap disimpan di tabungan untuk kebutuhan mendesak, sementara sebagian lainnya dipertimbangkan pada produk simpanan berjangka sesuai tujuan dan karakteristik produknya.

Pilihan ini tentu perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan serta kebutuhan masing-masing.

Kelola Dana Lebih Terencana dengan Deposito FLEXI neobank

Kalau kamu memiliki dana yang belum akan digunakan dalam waktu dekat, Deposito FLEXI di neobank dari Bank Neo Commerce dapat menjadi salah satu pilihan yang bisa dipertimbangkan.

Melalui aplikasi neobank, pembukaan deposito dapat dilakukan secara digital tanpa perlu datang ke kantor cabang. Tersedia pilihan tenor mulai dari 1 hingga 12 bulan, sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan perencanaan keuangan.

Deposito FLEXI memberikan fleksibilitas apabila dana dicairkan sebelum jatuh tempo. Nasabah tetap memperoleh bunga kompetitif*. Jika dicairkan sebelum jatuh tempo, nasabah bisa mendapatkan bunga sebesar 2% per tahun sesuai ketentuan produk, sehingga dapat menjadi pilihan bagi yang menginginkan fleksibilitas lebih dalam mengelola dana.

Sebelum membuka deposito, pastikan kamu memahami fitur produk, tingkat bunga, biaya, risiko, serta syarat dan ketentuan yang berlaku.

***

Fitur, biaya, dan ketentuan produk dapat berubah sesuai kebijakan masing-masing penyedia layanan. Nasabah disarankan membaca Ringkasan Informasi Produk dan Layanan (RIPLAY) sebelum membuka deposito. 

*Perhatikan tingkat bunga penjaminan yang ditetapkan LPS. Simpanan dengan bunga melebihi tingkat bunga penjaminan tidak dijamin oleh LPS. Tingkat bunga penjaminan LPS sampai 30 September 2026 adalah 3,50% per tahun.

Jika ingin mulai menggunakan Deposito FLEXI, unduh aplikasi neobank melalui PlayStore atau App Store. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi halaman Deposito FLEXI di website resmi Bank Neo Commerce.  

PT Bank Neo Commerce Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), serta merupakan peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Akses Air Bersih, PTPN IV PalmCo dan Polres Langkat Bangun Sumur Bor bagi Masyarakat

LANGKAT – Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui Subholding PTPN IV PalmCo bersama Kepolisian Resor (Polres) Langkat membangun sumur bor bagi masyarakat Dusun Bukit Barat, Desa Tanjung Putus, Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Program yang dilakukan dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80 ini merupakan wujud sinergi antara BUMN Perkebunan dan Polri dalam menghadirkan akses air bersih sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Sumur bor dengan kedalaman sekitar 70 meter tersebut dibangun untuk menyediakan sumber air bersih yang lebih aman dari potensi pencemaran serta dapat dimanfaatkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kapolres Langkat, AKBP David Triyo Prasojo, mengatakan pembangunan sumur bor merupakan bagian dari pengabdian Polri kepada masyarakat sekaligus bentuk kepedulian terhadap pemenuhan kebutuhan dasar warga.

“Melalui pembangunan sumur bor ini kami berharap masyarakat Dusun Bukit Barat memperoleh akses air bersih yang lebih baik dan fasilitas ini dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang,” kata David.

Menurutnya, peringatan Hari Bhayangkara tidak hanya dimaknai sebagai momentum memperkuat tugas kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menjawab berbagai kebutuhan sosial masyarakat, termasuk penyediaan infrastruktur dasar di wilayah pedesaan. “Untuk itu kami sangat berterimakasih dengan perusahaan yang memfasilitasi sehingga kegiatan pembangunan sumur bor bagi warga ini dapat terwujud,” tukasnya.

Program penyediaan sarana air bersih tersebut mendapat dukungan penuh melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PTPN IV PalmCo sebagai bagian dari komitmen Holding Perkebunan Nusantara dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di wilayah operasional perusahaan.

Selain di Kabupaten Langkat, pada tahun 2026 perusahaan juga menargetkan pembangunan fasilitas serupa di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, dan Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Ketiga lokasi tersebut diproyeksikan dapat melayani kebutuhan air bersih sedikitnya 90 kepala keluarga.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan penyediaan sarana air bersih merupakan program berkelanjutan yang terus dijalankan perusahaan di berbagai daerah.

“Hingga saat ini, program penyediaan sarana air bersih maupun sumur bor telah terealisasi di 131 titik lokasi. Angka ini akan terus kami upayakan bertambah karena air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Menurut Jatmiko, akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak memiliki pengaruh langsung terhadap kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, perusahaan terus memperluas pembangunan sumur bor dan perbaikan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK), terutama di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses air bersih maupun saat musim kemarau.

Ia juga menilai kolaborasi dengan kepolisian dan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam mempercepat pelaksanaan program di lapangan sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan masyarakat.

Sepanjang 2024–2025, PTPN IV PalmCo mencatat program penyediaan air bersih dan sanitasi telah menjangkau 3.811 kepala keluarga di berbagai wilayah operasional perusahaan, mulai dari Sumatera hingga Kalimantan.

Manfaat program tersebut turut dirasakan masyarakat di berbagai daerah. Di Dusun Menanti, Desa Sungai Jaman, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, misalnya, pembangunan sumur bor membantu masyarakat memperoleh air bersih ketika debit Sungai Stengko menurun pada musim kemarau. “Kami bersyukur atas bantuan sumur bor ini. Fasilitas tersebut sangat membantu warga memperoleh air bersih dan kami akan menjaganya agar dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang,” kata Ketua RT 03 Dusun Menanti, Abil.

Apresiasi juga disampaikan Kepala Desa Pondok Meja, Kecamatan Mestong, Jambi, Martoyo. Menurutnya, pembangunan sumur bor dan tangki air sangat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan air bersih, terutama pada musim kemarau.

Sementara itu, perwakilan masyarakat Desa Alue Gadeng Dua, Kabupaten Aceh Timur, Handoko Apri, mengatakan bantuan sarana sanitasi dan sumur bor telah meringankan beban masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.

Melalui sinergi bersama Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat, Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN IV PalmCo terus memperkuat implementasi Program TJSL yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya dalam penyediaan akses air bersih dan sanitasi yang layak.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Belajar dari ONDC India: Membangun Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia

Ketika Perdana Menteri India Narendra Modi berkunjung ke Indonesia pada Juli 2026, perhatian publik tentu akan tertuju pada penguatan kerja sama di bidang perdagangan, investasi, pertahanan, energi, dan kemitraan geopolitik. Seluruh agenda tersebut penting dan mencerminkan semakin eratnya hubungan strategis antara dua negara demokrasi terbesar di Asia.

Namun, di luar berbagai isu tersebut, terdapat peluang lain yang tidak kalah penting, bahkan mungkin lebih strategis bagi masa depan kedua negara.

Peluang tersebut adalah kerja sama dalam membangun generasi berikutnya dari Public Digital Infrastructure (PDI).

Berbeda dengan berbagai inisiatif digital konvensional, Public Digital Infrastructure bukanlah platform pemerintah baru, bukan marketplace baru, dan bukan pula aplikasi digital baru. PDI adalah infrastruktur ekonomi. Sebagaimana jalan raya mendorong perdagangan pada era industrialisasi dan internet mempercepat ekonomi informasi, PDI menciptakan fondasi yang memungkinkan pelaku usaha, lembaga keuangan, pemerintah, dan masyarakat berpartisipasi dalam ekosistem digital yang terbuka, interoperabel, dan terpercaya.

Makna strategisnya melampaui teknologi semata. Tahap berikutnya dari transformasi digital tidak akan ditentukan hanya oleh siapa yang memiliki kecerdasan buatan terbaik, pusat data terbesar, atau teknologi paling mutakhir. Keunggulan kompetitif ke depan akan ditentukan oleh siapa yang mampu membangun ekosistem digital yang paling efektif.

Indonesia Tidak Membutuhkan Marketplace Baru

Indonesia saat ini telah memiliki salah satu ekosistem digital paling dinamis di Asia Tenggara. Platform e-commerce bersaing secara agresif. Perbankan terus memperluas layanan digital. Perusahaan telekomunikasi berinvestasi besar dalam layanan digital. Sektor ritel memperkuat kanal daring, sementara perusahaan rintisan terus menghadirkan inovasi baru.

Dari luar, Indonesia tampak telah memiliki seluruh elemen yang dibutuhkan untuk menjadi ekonomi digital yang sukses.

Namun, di balik kemajuan tersebut terdapat tantangan struktural yang penting, yakni fragmentasi. Setiap organisasi membangun platformnya sendiri, mengembangkan ekosistem mitranya sendiri, melakukan integrasi teknologinya sendiri, serta menciptakan tata kelola dan model bisnisnya sendiri.

Akibatnya, banyak organisasi harus mengeluarkan sumber daya yang besar hanya untuk dapat terhubung satu sama lain sebelum benar-benar menciptakan nilai bagi pelanggan.

Masalah Indonesia bukanlah kurangnya platform digital. Yang belum tersedia adalah infrastruktur bersama yang memungkinkan seluruh platform tersebut bekerja sama secara efisien.

Di sinilah Public Digital Infrastructure menjadi penting.

PDI tidak menggantikan platform yang sudah ada. PDI justru menghubungkannya. PDI tidak menghambat inovasi, tetapi mempercepat inovasi. PDI juga tidak menciptakan satu marketplace baru, melainkan memungkinkan ribuan marketplace, aplikasi pembeli, aplikasi penjual, lembaga keuangan, dan ekosistem digital berkembang secara bersamaan.

Tujuannya bukan menciptakan satu pemain dominan, melainkan membangun lingkungan yang memungkinkan banyak pelaku tumbuh bersama.

Kontribusi Terbesar India Adalah Pengalaman

Diskusi mengenai kerja sama dengan India sering kali berfokus pada transfer teknologi. Padahal, nilai terbesar dari pengalaman India melalui Open Network for Digital Commerce (ONDC) justru bukan terletak pada teknologinya.

Teknologi dapat dikembangkan. Perangkat lunak dapat diperbarui. Platform dapat didesain ulang.

Yang jauh lebih berharga adalah pengalaman.

Membangun infrastruktur digital berskala nasional selalu menghadirkan pertanyaan yang tidak dapat dijawab sepenuhnya pada tahap perancangan. Bagaimana tata kelola dibangun? Bagaimana insentif dirancang? Bagaimana penyelesaian sengketa dilakukan? Bagaimana data dikelola? Bagaimana kepercayaan antar pelaku dipertahankan?

Tantangan-tantangan tersebut bukan tanda kegagalan. Sebaliknya, hal tersebut merupakan karakter alami dari setiap inovasi besar.

Sejarah menunjukkan bahwa seluruh revolusi infrastruktur lahir melalui proses pembelajaran. Kereta api berkembang melalui berbagai penyempurnaan operasional. Industri penerbangan lahir melalui evolusi regulasi dan standar keselamatan. Internet pun berkembang melalui kolaborasi antara pemerintah, universitas, dan sektor swasta.

Hal yang sama berlaku pada Public Digital Infrastructure.

ONDC merupakan salah satu eksperimen terbesar di dunia dalam membangun ekosistem perdagangan digital terbuka yang melibatkan pemerintah, perbankan, perusahaan teknologi, penyedia logistik, pelaku usaha, dan konsumen.

Selama bertahun-tahun, India telah mengumpulkan pengalaman mengenai tata kelola, interoperabilitas, koordinasi regulasi, pengembangan ekosistem, dan manajemen pemangku kepentingan.

Pengalaman tersebut mungkin jauh lebih bernilai daripada teknologinya sendiri.

Belajar, Bukan Meniru

Kesempatan Indonesia bukanlah menyalin ONDC.

Setiap infrastruktur digital yang sukses selalu mencerminkan kondisi ekonomi, lingkungan regulasi, kapasitas kelembagaan, dan perilaku konsumennya masing-masing. Struktur ekonomi India sangat berbeda dengan Indonesia.

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Tantangan logistiknya berbeda. Perilaku konsumennya juga berbeda. Interaksi sosial, komunitas, dan ekonomi kreator memiliki pengaruh yang besar terhadap perdagangan digital.

Indonesia juga memiliki keunggulan tersendiri.

QRIS telah menjadi salah satu sistem pembayaran QR interoperabel yang paling berhasil di dunia. BI-FAST memodernisasi pembayaran real-time. Industri perbankan Indonesia berinvestasi besar dalam digital onboarding, kecerdasan buatan, deteksi fraud, dan integrasi berbasis API.

Semua ini merupakan modal yang sangat kuat.

Karena itu, prinsip yang perlu dipegang sangat sederhana: mengadopsi prinsip, tetapi menyesuaikan implementasi.

Indonesia tidak perlu menjadi India kedua.

Indonesia justru memiliki peluang untuk menjadi referensi global kedua dalam implementasi Public Digital Infrastructure.

Perbedaan ini penting. Implementasi pertama membuktikan bahwa suatu konsep dapat berhasil. Implementasi kedua membuktikan bahwa konsep tersebut dapat diterapkan pada struktur ekonomi, lingkungan regulasi, dan karakter pasar yang berbeda.

Jika India membuktikan bahwa perdagangan digital terbuka dapat berjalan di salah satu ekonomi terbesar di dunia, Indonesia dapat membuktikan bahwa prinsip yang sama dapat berhasil dalam sistem perbankan digital yang matang, infrastruktur pembayaran yang interoperabel, dan salah satu ekonomi digital dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara.

Membuka Model Bisnis Baru

Selama lebih dari satu dekade, transformasi digital terutama diarahkan untuk meningkatkan pengalaman pelanggan dan efisiensi operasional.

Perbankan membangun mobile banking. Perusahaan telekomunikasi mengembangkan aplikasi digital. Peritel memperkuat kanal omnichannel. Pemerintah mendigitalisasi layanan publik.

Semua investasi tersebut menghasilkan manfaat yang nyata.

Namun, sebagian besar hanya memperbaiki bisnis yang sudah ada.

Sementara itu, teknologi seperti kecerdasan buatan, cloud computing, dan otomatisasi semakin mudah diakses. Akibatnya, teknologi tidak lagi menjadi pembeda utama. Keunggulan kompetitif kini bergeser ke arah model bisnis baru.

Public Digital Infrastructure membuka peluang tersebut.

Bank dapat berkembang melampaui layanan keuangan. Perusahaan telekomunikasi dapat melampaui layanan konektivitas. Universitas dapat menjadi platform pembelajaran sepanjang hayat. Rumah sakit dapat mengintegrasikan pembiayaan, asuransi, dan layanan kesehatan digital. Koperasi pertanian dapat terhubung langsung dengan peritel, eksportir, dan industri pengolahan.

Transformasi ini menandai pergeseran dari ekonomi platform menuju ekonomi jaringan.

Platform bersaing dengan membangun ekosistem tertutup. Jaringan menciptakan nilai melalui interoperabilitas dan kolaborasi.

Ke depan, nilai ekonomi terbesar akan muncul dari kemampuan berbagai organisasi untuk berinteraksi melalui infrastruktur bersama.

Membuka Potensi UMKM Indonesia

Transformasi ini memiliki dampak yang sangat besar bagi UMKM Indonesia.

Selama bertahun-tahun, tantangan utama UMKM bukan hanya menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga menemukan pelanggan dalam skala besar.

Pemasaran, logistik, pembayaran, dan akuisisi pelanggan membutuhkan investasi yang tidak sedikit.

Public Digital Infrastructure mengubah kondisi tersebut.

Alih-alih meminta setiap UMKM membangun marketplace sendiri, PDI memungkinkan mereka menjadi bagian dari ekosistem digital nasional yang sudah tersedia.

Produk mereka dapat ditemukan melalui aplikasi perbankan, platform telekomunikasi, sistem pengadaan pemerintah, koperasi, platform korporasi, institusi pendidikan, layanan kesehatan, dan berbagai aplikasi baru yang akan muncul di masa depan.

Biaya akuisisi pelanggan menjadi lebih rendah. Jangkauan pasar menjadi lebih luas. Inovasi menjadi lebih mudah dilakukan.

Persaingan pun bergeser dari besarnya anggaran pemasaran menuju kualitas produk dan layanan.

Hal serupa juga berlaku bagi sektor pertanian. Petani, koperasi, perusahaan logistik, bank, perusahaan asuransi, dan industri makanan dapat berada dalam satu ekosistem yang saling terhubung. Perbankan dapat memberikan pembiayaan berdasarkan riwayat transaksi, sementara rantai pasok menjadi lebih efisien.

Manfaatnya melampaui perdagangan digital. Ia berkontribusi terhadap ketahanan pangan, pembangunan pedesaan, dan inklusi keuangan.

Dari Indonesia untuk ASEAN

Peluang Indonesia tidak berhenti pada tingkat nasional.

ASEAN merupakan salah satu kawasan digital dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Meskipun tingkat kematangan digital setiap negara berbeda, seluruh anggota memiliki aspirasi yang sama, yaitu membangun ekonomi digital regional yang lebih terhubung.

Sebagai ekonomi terbesar di ASEAN, Indonesia berada pada posisi yang unik.

Keberhasilan implementasi Public Digital Infrastructure di Indonesia dapat menjadi referensi penting bagi kerja sama regional.

Kolaborasi di masa depan dapat mencakup pembayaran lintas batas, pembiayaan perdagangan, logistik, pendidikan, kesehatan, pariwisata, hingga layanan pemerintah.

Alih-alih mengimpor arsitektur digital dari luar kawasan, ASEAN memiliki kesempatan untuk mengembangkan inovasi yang lahir dari kawasan itu sendiri.

Implikasinya bahkan meluas ke negara-negara Global South.

Banyak negara berkembang menghadapi tantangan yang serupa, mulai dari populasi yang besar, urbanisasi yang cepat, infrastruktur yang tidak merata, hingga ekosistem digital yang terfragmentasi.

Yang mereka butuhkan bukanlah platform digital global baru, melainkan infrastruktur digital bersama yang memungkinkan pelaku usaha lokal untuk berinovasi.

Dalam konteks ini, kerja sama Indonesia dan India menawarkan model baru bagi negara-negara berkembang, yaitu model yang dibangun atas dasar pembelajaran bersama, pertukaran pengetahuan, dan penciptaan solusi secara kolaboratif.

Nilai Sesungguhnya dari Kemitraan Indonesia dan India

Nilai jangka panjang kerja sama Indonesia dan India tidak seharusnya diukur hanya dari jumlah perjanjian yang ditandatangani atau proyek teknologi yang diluncurkan.

Makna yang sesungguhnya terletak pada kemampuan kedua negara mempercepat transformasi ekonomi digital.

India menghadirkan pengalaman implementasi yang diperoleh melalui bertahun-tahun eksperimen. Indonesia menghadirkan sektor keuangan yang dinamis, sistem pembayaran digital yang berhasil, semangat kewirausahaan, serta salah satu pasar konsumen terbesar di Asia.

Kedua kekuatan tersebut saling melengkapi.

Yang paling penting, kemitraan ini menunjukkan bahwa dalam ekonomi digital, aset paling berharga yang dapat dipertukarkan antar negara bukan lagi teknologi.

Melainkan pengalaman.

Teknologi pada akhirnya akan usang. Pengetahuan terus bertambah. Setiap pelajaran mengurangi ketidakpastian. Setiap pengalaman implementasi menurunkan biaya masa depan.

Karena itulah kolaborasi menjadi sangat penting.

Penutup

Masa depan ekonomi digital Indonesia tidak akan ditentukan semata-mata oleh jumlah aplikasi yang dikembangkan, seberapa besar investasi kecerdasan buatan, atau seberapa banyak layanan digital yang tersedia.

Semua hal tersebut penting, tetapi hanya merupakan lapisan yang terlihat dari transformasi.

Transformasi yang lebih mendasar terletak pada infrastruktur yang tidak terlihat, yakni infrastruktur yang memungkinkan organisasi berkolaborasi, berinovasi, dan menciptakan model bisnis baru.

Public Digital Infrastructure adalah fondasi tersebut.

Ia memungkinkan bank berkembang melampaui layanan keuangan. Ia memungkinkan perusahaan telekomunikasi menjadi ekosistem digital. Ia memungkinkan UMKM menjangkau pasar nasional. Ia memungkinkan pemerintah mendorong inovasi tanpa harus mengendalikannya.

Pada akhirnya, PDI memungkinkan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh kolaborasi, bukan fragmentasi.

Karena itu, kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia pada Juli 2026 lebih dari sekadar agenda diplomatik. Kunjungan tersebut menghadirkan peluang strategis yang dapat membantu membentuk arsitektur ekonomi digital Indonesia untuk beberapa dekade ke depan.

Sejarah jarang mengingat perusahaan yang pertama kali menggunakan jalan raya. Sejarah mengingat negara yang membangunnya.

Demikian pula dengan Public Digital Infrastructure. Ia mungkin tidak akan dikenang sebagai sekadar inisiatif teknologi, melainkan sebagai infrastruktur dasar ekonomi digital, setara dengan jalan raya, pelabuhan, listrik, dan internet.

Indonesia kini berada pada momen yang sangat penting dalam perjalanan digitalnya.

Indonesia tidak perlu mengulang apa yang telah dipelajari negara lain. Indonesia juga tidak perlu sekadar menyalin apa yang telah dibangun.

Peluangnya jauh lebih besar.

Belajar.

Beradaptasi.

Menyempurnakan.

Dan pada akhirnya menjadi referensi global mengenai bagaimana Public Digital Infrastructure dapat membuka model bisnis baru, memperkuat daya saing nasional, dan membentuk generasi berikutnya dari ekonomi digital.

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES.

KAI Logistik Catat Pertumbuhan Angkutan Reefer Lebih dari 30%, Perkuat Rantai Pasok Cold Chain Nasional

PT Kereta Api Logistik (KAI Logistik) terus memperkuat perannya dalam mendukung rantai pasok berpendingin (cold chain) nasional melalui layanan angkutan reefer berbasis kereta api. Hingga Mei 2026, KAI Logistik berhasil mengangkut sekitar 9.352 teus komoditas berpendingin, meningkat 39% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pencapaian tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan industri terhadap sistem logistik yang mampu menjaga kualitas, keamanan, dan kesegaran produk selama proses distribusi. Melalui layanan reefer container, KAI Logistik mendukung distribusi berbagai komoditas yang memerlukan pengendalian suhu, mulai dari produk pangan segar dan olahan, hasil perikanan, hingga produk farmasi yang sensitif terhadap perubahan temperatur.

VP of Commercial KAI Logistik, Ferdian Pardosi menyampaikan bahwa pertumbuhan volume angkutan reefer menunjukkan semakin tingginya kepercayaan pelanggan terhadap moda kereta api sebagai solusi logistik cold chain yang andal, efisien, dan berkelanjutan. “Cold chain merupakan salah satu elemen penting dalam menjaga kualitas produk hingga sampai ke tangan konsumen. Pertumbuhan angkutan reefer yang kami catat hingga Mei 2026 menjadi indikator bahwa kebutuhan akan layanan logistik berpendingin terus meningkat seiring berkembangnya industri pangan, perikanan, hingga farmasi di Indonesia,” ujar Ferdian.

Sejalan dengan pertumbuhan kinerja angkutan reefer KAI Logistik, prospek industri cold chain nasional juga menunjukkan potensi yang menjanjikan. Indonesia Cold Chain Logistics Market diperkirakan tumbuh dari USD 7,19 miliar pada 2025 menjadi USD 7,51 miliar pada 2026, dan mencapai USD 9,24 miliar pada 2031, dengan CAGR 4,23% sepanjang periode 2026–2031 . Proyeksi tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan rantai pasok berpendingin di berbagai sektor strategis, mulai dari pangan, perikanan, agribisnis, hingga farmasi. Kondisi ini membuka peluang bagi pengembangan layanan logistik berbasis kereta api yang mampu menghadirkan distribusi berpendingin yang lebih andal, efisien, dan berkelanjutan.

Di sisi lain, pengembangan cold chain masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan infrastruktur cold storage di berbagai wilayah, biaya operasional yang relatif tinggi, kebutuhan pasokan energi yang stabil, hingga kompleksitas pengelolaan suhu selama proses distribusi. Sebagai negara tropis dan kepulauan, menjaga integritas suhu produk dari titik produksi hingga konsumen menjadi tantangan tersendiri yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak dalam rantai pasok.

Dalam konteks tersebut, moda kereta api menawarkan keunggulan berupa kapasitas angkut yang besar, jadwal operasional yang terukur, serta efisiensi distribusi jarak menengah hingga jauh. Pemanfaatan reefer container pada jaringan kereta api juga membantu menjaga stabilitas suhu produk selama perjalanan sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi dibandingkan distribusi berbasis jalan raya.

KAI Logistik tidak hanya menghadirkan layanan transportasi berpendingin, tetapi juga membangun ekosistem pendukung yang memastikan keberlangsungan rantai dingin secara menyeluruh. Melalui penyediaan fasilitas plug in reefer container di terminal-terminal operasional, KAI Logistik memastikan unit kontainer berpendingin tetap memperoleh suplai daya listrik selama berada di area terminal. Dukungan infrastruktur tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas, kesegaran, dan keamanan komoditas yang diangkut, sekaligus memberikan keandalan layanan bagi pelanggan yang bergerak di sektor pangan, perikanan, maupun produk sensitif suhu lainnya.

“Ke depan, KAI Logistik akan terus mengembangkan layanan cold chain terintegrasi guna menjawab kebutuhan industri yang semakin berkembang. Perusahaan optimistis bahwa penguatan ekosistem logistik berpendingin tidak hanya mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar domestik maupun global,” tutup Ferdian.

Tentang KAI Logistik

PT Kereta Api Logistik (KAI Logistik) dibentuk dengan tujuan melayani distribusi logistik berbasis kereta api, dengan kemasan bisnis hingga layanan door to door service untuk memberikan pelayanan yang excellent bagi Pelanggan. KAI Logistik fokus pada orientasi bisnis sebagai jasa layanan distribusi logistik terpadu (total logistics solution) melalui “End-to-End Services”. Mengusung tagline KAI Logistik, ispossible! yaitu semuanya menjadi mungkin, KAI Logistik menyediakan ragam layanan logistik melalui 3 segmentasi yaitu KALOG Express, KALOG Plus dan KALOG Pro.

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES.

Tantangan Rantai Pasok Industri Makanan Indonesia: Bahan Baku, Logistik, dan Harga yang Mudah Berubah

Harga Bahan Baku Menjadi Ujian Utama

Di balik pertumbuhan industri makanan dan minuman Indonesia, ada tantangan besar yang sering tidak terlihat konsumen: rantai pasok. Produsen makanan harus menghadapi perubahan harga bahan baku, keterlambatan distribusi, kualitas bahan yang tidak seragam, dan biaya logistik yang dapat berubah sewaktu-waktu.

Bahan seperti gandum, gula, kedelai, susu, minyak nabati, kakao, dan bahan kemasan sangat memengaruhi biaya produksi. Sebagian bahan masih bergantung pada pasar global, sehingga perubahan nilai tukar, cuaca ekstrem, konflik dagang, atau gangguan pelayaran dapat berdampak pada harga di tingkat produsen.

Untuk memantau indikator harga dan inflasi, pelaku usaha dapat merujuk data resmi Bank Indonesia melalui https://www.bi.go.id/id/statistik/indikator/data-inflasi.aspx. Data inflasi membantu produsen membaca tekanan harga dan menyesuaikan strategi penjualan secara lebih rasional.

Logistik Indonesia Punya Tantangan Geografis

Negara Kepulauan, Biaya Distribusi Lebih Kompleks

Indonesia adalah negara kepulauan. Kondisi ini membuat distribusi bahan baku dan produk jadi lebih kompleks dibandingkan negara dengan wilayah daratan yang menyatu. Produsen di Jawa mungkin lebih mudah mendapatkan bahan, kemasan, dan akses transportasi. Sebaliknya, pelaku usaha di wilayah timur sering menghadapi biaya kirim lebih tinggi dan waktu distribusi lebih panjang.

Masalah logistik berdampak langsung pada harga jual. Produk yang sama bisa memiliki harga berbeda antarwilayah karena biaya distribusi, ketersediaan stok, dan efisiensi gudang. Bagi industri F&B, selisih kecil pada ongkos kirim dapat memengaruhi margin, terutama untuk produk bernilai rendah tetapi bervolume besar.

Cold Chain Masih Menjadi Kebutuhan Penting

Produk seperti daging, susu, seafood, makanan beku, dan minuman tertentu membutuhkan rantai dingin. Tanpa cold chain yang baik, risiko kerusakan produk meningkat. Ini bukan hanya soal kerugian finansial, tetapi juga keamanan pangan dan reputasi merek.

Kasus nyata terlihat pada meningkatnya bisnis frozen food rumahan dan makanan siap masak. Banyak produk berpotensi laku, tetapi sulit memperluas pasar karena keterbatasan pengiriman suhu rendah dan biaya kemasan insulasi yang mahal.

Efisiensi Produksi Jadi Penentu Daya Saing

Tantangan rantai pasok tidak selalu bisa diselesaikan dengan menaikkan harga. Konsumen Indonesia sensitif terhadap perubahan harga, terutama untuk produk konsumsi harian. Karena itu, produsen perlu mencari efisiensi dari sisi proses, bahan alternatif, ukuran kemasan, dan perencanaan stok.

Strategi yang dapat dilakukan antara lain menjalin kontrak jangka panjang dengan pemasok, menggunakan bahan lokal, membuat proyeksi permintaan, dan mengurangi produk gagal produksi. Teknologi sederhana seperti pencatatan stok digital juga dapat membantu UMKM menghindari pemborosan.

Peluang dari Bahan Lokal

Di tengah tantangan bahan impor, Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan bahan lokal. Singkong, sorgum, kelapa, rempah, ikan, buah tropis, dan komoditas perkebunan dapat menjadi dasar inovasi produk. Selain menekan risiko ketergantungan, bahan lokal juga memberi identitas kuat bagi merek.

Industri makanan Indonesia akan semakin kompetitif bila rantai pasoknya kuat. Produk enak penting, tetapi produk yang bisa diproduksi konsisten, dikirim tepat waktu, dan dijual dengan harga sehat akan lebih siap bertahan.

Advance Your Career with CMRP Training by PetroSync

In today’s competitive maintenance and reliability environment, professionals are expected to do more than respond to equipment failures. Organizations increasingly value individuals who can improve asset performance, optimize maintenance strategies, and contribute to long-term operational reliability.

CMRP Training provides a structured pathway to develop these capabilities while preparing professionals for industry-recognized certification. Through PetroSync’s practical learning approach, participants can strengthen their expertise and position themselves for greater career growth.

Key Skills You Gain from CMRP Training

As professionals pursue the Certified Maintenance & Reliability Professional designation, they gain a broader understanding of the principles that support effective maintenance and reliability programs.

CMRP Training focuses on competencies that help professionals improve decision-making, support operational excellence, and align maintenance activities with business objectives.

Key competencies developed through CMRP Training include:

• Asset reliability and performance improvement

• Maintenance strategy development and optimization

• Work management and planning practices

• Performance measurement and continuous improvement

• Leadership and organizational readiness

These skills are valuable for maintenance engineers, reliability engineers, supervisors, and asset integrity professionals seeking to strengthen their professional capabilities.

Why Choose PetroSync for CMRP Training?

Selecting the right training provider is an important step in achieving certification goals. PetroSync delivers Certified Maintenance & Reliability Professional Training designed to help participants understand key concepts while preparing for certification success.

The training emphasizes practical application, enabling professionals to connect industry best practices with real-world maintenance and reliability challenges. This approach helps participants gain knowledge that can be applied immediately in their organizations.

With a focus on professional development, PetroSync supports learners in building confidence and expanding their expertise in maintenance and reliability management.

How CMRP Training Advances Your Career

Earning a Maintenance and Reliability Professional Certification demonstrates a commitment to continuous improvement and professional excellence.

CMRP Certification Training can help professionals strengthen their qualifications and stand out in a competitive job market while contributing greater value to their organizations.

Career benefits of completing CMRP Training include:

1. Professional recognition within the maintenance and reliability field

2. Stronger technical credibility and industry confidence

3. Broader career opportunities and advancement potential

4. Improved operational impact through enhanced reliability practices

As organizations continue to prioritize asset performance and reliability, certified professionals are increasingly positioned to take on greater responsibilities and leadership opportunities.

Build Your Future with PetroSync

Investing in CMRP Training is an investment in long-term professional growth. Whether you are looking to strengthen your technical expertise or pursue certification, PetroSync provides a practical pathway to help you move forward with confidence.

Learn more about training opportunities through PetroSync and take the next step toward advancing your maintenance and reliability career.

This press release is also published on VRITIMES

Tantangan Ekowisata Indonesia: Sampah, Overtourism, dan Dilema Menjaga Alam yang Makin Populer

Popularitas Bisa Menjadi Ancaman Baru

Ekowisata sering dipandang sebagai solusi ideal bagi pariwisata Indonesia. Namun, semakin populer sebuah destinasi alam, semakin besar pula tekanannya. Pantai yang dulu sepi bisa berubah padat. Jalur trekking yang semula alami bisa penuh sampah. Desa yang tenang bisa kehilangan ruang privat karena diburu konten media sosial.

Inilah paradoks ekowisata: destinasi dipromosikan karena keasliannya, tetapi promosi berlebihan dapat mengikis keaslian itu sendiri. Untuk melihat arah kebijakan dan informasi kawasan konservasi, pembaca dapat merujuk sumber resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan: https://www.menlhk.go.id.

Peluang Ekonomi Tetap Besar

Warga Lokal Mendapat Sumber Pendapatan Baru

Di banyak daerah, ekowisata memberi alternatif ekonomi selain pertanian, perikanan, atau ekstraksi sumber daya alam. Warga dapat menjadi pemandu, membuka homestay, menjual makanan lokal, menyediakan transportasi, atau mengelola paket wisata edukasi.

Dampak ini penting, terutama di wilayah yang selama ini jauh dari pusat ekonomi. Ketika wisatawan datang untuk menikmati hutan, laut, sawah, atau budaya lokal, masyarakat memiliki insentif untuk menjaga aset alam tersebut.

Destinasi Kecil Bisa Tumbuh Lewat Digital

Media sosial dan platform perjalanan membuat destinasi kecil lebih mudah dikenal. Air terjun tersembunyi, kebun kopi di lereng gunung, kawasan mangrove, dan desa adat dapat menjangkau wisatawan tanpa biaya promosi besar. Jika dikelola baik, digitalisasi bisa membantu distribusi kunjungan agar tidak hanya terkonsentrasi di Bali atau destinasi besar.

Masalah Lapangan: Sampah dan Daya Dukung

Tantangan paling terlihat adalah sampah. Banyak destinasi alam belum memiliki sistem pengelolaan limbah yang memadai. Tempat sampah tersedia, tetapi pengangkutan tidak rutin. Wisatawan diminta membawa pulang sampah, tetapi tidak semua patuh. Pelaku usaha menjual makanan dan minuman kemasan, sementara fasilitas daur ulang terbatas.

Masalah lain adalah daya dukung. Tidak semua lokasi mampu menerima kunjungan besar. Pulau kecil, gua, jalur pendakian, dan area snorkeling memiliki batas ekologis. Jika jumlah pengunjung melebihi kapasitas, kerusakan terjadi perlahan: tanah tererosi, karang patah, satwa terganggu, dan kualitas air menurun.

Kasus Nyata: Destinasi Viral dan Beban Warga

Fenomena destinasi viral menjadi konteks penting. Sebuah lokasi bisa mendadak ramai setelah muncul di TikTok, Instagram, atau YouTube. Dalam waktu singkat, pedagang berdatangan, lahan parkir dibuka, dan harga naik. Warga mendapat peluang ekonomi, tetapi juga menghadapi kemacetan, kebisingan, dan tekanan sosial.

Situasi ini menunjukkan bahwa ekowisata tidak boleh hanya mengandalkan viralitas. Dibutuhkan perencanaan sebelum promosi besar dilakukan. Pemerintah daerah dan pengelola lokal perlu menyiapkan jalur kunjungan, toilet, pengolahan sampah, standar keamanan, dan aturan perilaku wisatawan.

Solusi: Aturan Tegas dan Edukasi Wisatawan

Ekowisata yang sehat membutuhkan kombinasi aturan dan edukasi. Pembatasan jumlah pengunjung perlu diterapkan di kawasan sensitif. Biaya masuk dapat diarahkan untuk konservasi, bukan hanya pendapatan daerah. Pemandu lokal harus dibekali kemampuan menjelaskan nilai ekologis destinasi.

Wisatawan juga punya peran penting. Membawa botol minum sendiri, tidak memberi makan satwa, tidak mengambil karang, memakai operator lokal, dan menghormati adat setempat adalah tindakan kecil yang berdampak besar.

Ekowisata Indonesia punya masa depan cerah, tetapi hanya jika popularitas tidak dibiarkan berjalan tanpa kendali. Alam yang menjadi daya tarik utama harus ditempatkan sebagai batas, bukan sekadar latar foto.